Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Keragaman Cendawan Endofit Mangrove (Rhizophora apiculata) dan Potensinya sebagai Sumber Herbisida

    No full text
    Mangrove merupakan tumbuhan yang mampu tumbuh dilingkungan ekstrim dan Rhizophora apiculata merupakan salah satu spesies mangrove yang dominan di Indonesia. Dalam mempertahankan hidupnya, mangrove membentuk simbiosis mutualisme dengan cendawan endofit. Cendawan endofit mampu memproduksi senyawa bioaktif yang berperan dalam membantu tumbuhan untuk beradaptasi terhadap berbagai cekaman biotik dan abiotik. Saat ini, senyawa bioaktif asal cendawan endofit dimanfaatkan salah satunya dalam bidang pertanian sebagai herbisida. Gomphrena globosa merupakan gulma dari famili Amaranthaceae yang bersifat kosmopolit serta mampu tumbuh di lahan kering dan salin. Selain itu, gulma ini juga merupakan inang dari hama polifag Liriomyza huidobrensis (Blanchard) yang berperan sebagai vektor virus penyakit mosaik tembakau (TMV) yang dapat menyerang tanaman pertanian seperti kubis, kacang hijau, kacang panjang dan buncis. Oleh karena itu, keberadaan gulma G. globosa penting untuk dikendalikan. Potensi senyawa bioaktif asal cendawan endofit yang telah dilaporkan diantaranya sebagai antifungi dan antibakteri, namun potensinya sebagai sumber herbisida belum pernah dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keragaman cendawan endofit pada mangrove (R. apiculata) dan potensinya sebagai sumber senyawa herbisida. Cendawan endofit diisolasi dari daun, bunga, ranting, batang dan akar mangrove (R. apiculata) menggunakan metode sterilisasi permukaan. Kemudian isolat yang diperoleh diidentifikasi berdasarkan karakteristik morfologi. Karakteristik pertumbuhan cendawan diuji dengan menumbuhkan cendawan pada media Potato Dextrosa Agar (PDA) yang mengandung konsentrasi air laut 0, 25, 50, 75 dan 100 % (v/v). Lima isolat dipilih berdasarkan karakteristik pertumbuhan dan kemampuan cendawan menghasilkan spora. Analisis molekuler menggunakan daerah ITS1-5.8S-ITS2 sekuen DNA dilakukan pada lima isolat cendawan terpilih untuk mengidentifikasi cendawan sampai tingkat genus atau spesies. Aktivitas herbisida pada ekstrak filtrat cendawan diuji pada perkecambahan dan pertumbuhan biji gulma G. globosa. Ekstrak cendawan yang memiliki aktivitas hambat terhadap gulma G. globosa dianalisis menggunakan Gas Chromatography Mass Spectrometry untuk mengetahui kandungan senyawa bioaktifnya. Data pertumbuhancendawan pada media PDA dengan berbagai konsentrasi air laut dan uji aktivitas ekstrak kasar cendawan sebagai herbisida dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) menggunakan SAS 9.4. Perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5% (p<0.05). Cendawan endofit yang berhasil diisolasi terdiri atas 10 isolat, dan semua isolat memproduksi hifa yang bersekat. Berdasarkan pengamatan morfologi, dua dari 10 isolat yang diperoleh memiliki konidia, sedangkan 8 isolat lainnya tidak bersporulasi. Semua isolat mampu tumbuh pada media PDA dengan berbagai konsentrasi air laut yang diuji namun kecepatan tumbuh cendawan bergantung pada jenis isolat dan konsentrasi air laut yang digunakan. Lima isolat terpilih yaitu Penicillium citrinum, Diaporthe eucalyptorum, Diaporthe musigena, Colletotrichum queenslandicum, Diaporthe tectonae. Semua isolat terpilih menunjukkan aktivitas herbisida melalui penundaan perkecambahan dan reduksi pertumbuhan akar dan tajuk, dengan pengaruh hambat ekstrak kasar cendawan lebih tinggi pada akar daripada tajuk gulma. Penundaan perkecambahan biji terjadi pada semua perlakuan cendawan, meskipun hampir semua biji gulma mampu berkecambah. Penicillium citrinum menunjukkan pengaruh paling tinggi terhadap penundaan perkecambahan dan reduksi panjangpada tajuk dan akar gulma G. globosa dibandingkan 4 isolat lainnya. Ekstrak kasar P. citrinum mengandung 7 senyawa utama, yaitu Beta-Asarone; Oxane, 4- (2-amino-1-hydroxyethyl) -4- (3,4- dimethoxyphe-nyl); Diisooctylphtalate; 3-Methoxy-2-methyl-cyclohex-2-enone; Cyclohexanecarbohexaldehyde, 6-methyl-3- (1-methylethyl) -2-oxo; 2-Hydroxy-4- isopropyl-7-methoxytropone; dan Cyclopropane-carboxylic acid, 1- (2-propenyl) - , 1,1-dimethylethyl ester

    Uji Teknik Ko-kultivasi Khamir Etanologenik Pichia kudriavzevii dengan Saccharomyces cerevisiae dalam Menggunakan Substrat Gula

    No full text
    Bioetanol merupakan salah satu energi alternatif yang terbarukan dan dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil. Bioetanol dihasilkan dari proses fermentasi yang dibantu oleh mikrob kelompok khamir (etanologenik). Pichia kudriavzevii mampu mengubah sumber karbon pentosa dan heksosa menjadi etanol. Pada penelitian sebelumnya, khamir P. kudriavzevii mutan T5 berhasil dikonstruksi melalui mutagenesis berpotensi sebagai agen fermentasi. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi etanol adalah dengan melakukan modifikasi pada tahap fermentasi dengan mengaplikasikan teknik ko-kultivasi. Penelitian ini bertujuan menguji kemampuan pemanfaatan substrat gula oleh khamir etanologenik S. cerevisiae dan P. kudriavzevii dengan modifikasi rasio inokulum. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya interaksi antagonis antara khamir S. cerevisiae dengan isolat P. kudriavzevii tipe liar T (wt) maupun tipe mutan T5. Berdasarkan analisis konsumsi substrat, kedua isolat khamir dapat digunakan dalam produksi etanol secara bersamaan untuk memaksimalkan penggunaan substrat campuran. Hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan susbstrat fermentasi terbaik ditunjukkan pada ko-kultivasi S. cerevisiae dengan P. kudriavzevii tipe liar T (wt) dengan rasio inokulum 1:1

    Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Impor Kedelai di Indonesia

    No full text
    Produksi kedelai dalam negeri yang belum mampu memenuhi kebutuhan kedelai nasional adalah implikasi dari penurunan luas areal panen kedelai di Indonesia. Kondisi sebaliknya terjadi pada tingkat permintaan kedelai yang setiap tahunnya mengalami peningkatan. Kebijakan impor kedelai menjadi langkah alternatif pemerintah guna mengatasi gap antara produksi dan konsumsi kedelai di Indonensia. Kedelai dalam penelitian ini tidak dipisahkan dari jenisnya yakni dengan kode HS 1201 (Soya beans, whether or not broken). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi impor kedelai di Indonesia dengan menggunakan data sekunder tahun 2002 hingga tahun 2017 berupa data panel dengan model gravitasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari UN Comtrade, World Bank, CEPII, FAOSTAT, Kemendag dan Kemenkeu. Hasil estimasi menunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap volume impor kedelai Indonesia yaitu variabel GDP per kapita Indonesia, GDP per kapita negara asal impor, harga kedelai domestik, harga jagung domestik, produksi kedelai domestik, jarak ekonomi, dan tarif impor kedelai

    Gaya Pengasuhan dan Tingkat Stres Ibu Terhadap Gangguan Emosi dan Perilaku Anak Usia Sekolah

    No full text
    Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Anak Indonesia saat ini sedang mengalami ancaman risiko gangguan emosi dan perilaku. Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (2015) kasus kekerasan pada anak setiap tahunnya mengalami peningkatan, di antaranya 6 006 kasus yang berhadapan dengan hukum, 3 160 kasus dalam bidang pengasuhan, 1 764 kasus dalam bidang pendidikan, 1 366 kasus dalam bidang kesehatan dan napza, dan 1 032 kasus bidang pornografi dan cybercrime. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi karakteristik keluarga, karakteristik anak, self efficacy ibu, gaya pengasuhan ibu, tingkat stres ibu, gangguan emosi dan perilaku anak usia sekolah dan menganalisis pengaruh self efficacy, gaya pengasuhan dan tingkat stres ibu terhadap gangguan emosi dan perilaku anak usia sekolah. Penelitian ini dilakukan di sekolah dasar (SD) Kota Bogor yang dipilih secara purposive karena berada di pusat Kota Bogor. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2018 sampai Agustus 2019. Populasi penelitian ini adalah anak usia sekolah dasar kelas I sampai kelas III yang bersekolah di SD terpilih. Pengambilan contoh dalam penelitian dilakukan secara quota sampling dan memenuhi kriteria usia 7 sampai 9 tahun dan memiliki ibu kandung, sehingga terpilih sebagai contoh sebanyak 100 anak yang terdiri dari 50 anak laki-laki dan 50 anak perempuan beserta ibunya. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer diperoleh melalui pengisian kuesioner meliputi karakteristik keluarga, karakteristik anak, self efficacy ibu, gaya pengasuhan ibu, tingkat stres ibu, dan gangguan emosi dan perilaku anak. Kuesioner self efficacy ibu dimodifikasi dari the child adjustment and parent efficacy scale (Morawska dan Sanders 2010). Kuesioner asli terdapat 30 item pertanyaan dan setelah dimodifikasi, penelitian ini menggunakan 20 item pertanyaan dengan nilai Cronbach’s Alpha 0.967. Skala yang digunakan adalah skala Likert 1 sampai 10, dimana: 1=sangat tidak yakin dengan kemampuannya, hingga skala 10=sangat yakin dengan kemampuannya. Kuesioner gaya pengasuhan ibu dimodifikasi dari parenting style questionnaire (Robinson et al. 1995). Kuesioner gaya pengasuhan ibu terdiri dari 30 item pertanyaan, dimana: 13 pertanyaan untuk menilai gaya pengasuhan authoritative dengan nilai Cronbach’s Alpha 0.947, 13 pertanyaan untuk menilai gaya pengasuhan authoritarian dengan nilai Cronbach’s Alpha 0.918, dan 4 pertanyaan untuk menilai gaya pengasuhan permissive dengan nilai Cronbach’s Alpha 0.873. Skala yang digunakan adalah skala Likert 1 sampai 5, dimana: 1=tidak pernah, 2=jarang, 3=kadang-kadang, 4=sering, dan 5=selalu. Kuesioner tingkat stres ibu dimodifikasi dari The Kessler-10 (Kessler et al. 2002). Kuesioner tingkat stres ibu terdiri dari 10 item pertanyaan, dengan nilai Cronbach’s Alpha 0.972. Skala yang digunakan adalah skala Likert 1 sampai 5, dimana: 1=tidak pernah, 2=jarang, 3=kadang-kadang, 4=sering, dan 5=selalu. Kuesioner gangguan emosi dan perilaku anak dimodifikasi dari the strengths and difficulties questionnaire a pilot study on the validity of the self-report version (Goodman et al. 1998). Kuesioner asli terdapat 25 item pertanyaan dan 5 dimensi dan setelah dimodifikasi, penelitian ini menggunakan 17 item pertanyaan untuk 4 dimensi dimana: 3 pertanyaan untuk menilai hyperactivity dengan nilai Cronbach’s Alpha 0.916, 5 pertanyaan untuk menilai emotional symptoms dengan nilai Cronbach’s Alpha 0.850, vi 5 pertanyaan untuk menilai conduct problems dengan nilai Cronbach’s Alpha 0.877, dan 4 pertanyaan untuk menilai peer problems dengan nilai Cronbach’s Alpha 0.798 yang menggambarkan emosi dan perilaku negatif yang dimiliki oleh anak. Skala yang digunakan adalah skala Likert 0 sampai 2, dimana: 0=tidak benar/tidak sesuai, 1=agak benar/agak sesuai, dan 2=pasti benar/sesuai. Hasil penelitian menunjukkan usia ibu berada pada rentang usia 25 sampai 50 tahun, dengan rata-rata usia ibu secara keseluruhan adalah 38.1 tahun. Usia anak dalam penelitian ini adalah usia 7 sampai 9 tahun dengan rata-rata usia anak secara keseluruhan adalah 7.8 tahun. Tingkat pendidikan ibu dengan proporsi terbesar adalah tamat SMA/sederajat sebesar 52.0 persen dan proporsi terkecil adalah pendidikan pascasarjana (S2) sebesar 1.0 persen. Berdasarkan status pekerjaan, sebagian besar ibu bekerja. Besar keluarga berada pada kategori kecil dengan jumlah anggota keluarga 3 sampai 4 orang. Pendapatan perkapita keluarga sebesar 89.0 persen berada diatas angka garis kemiskinan Kota Bogor tahun 2016 sebesar Rp416 779 perkapita perbulan. Pada penelitian ini, mayoritas ibu (95%) memiliki self efficacy yang terkategori rendah. Gaya pengasuhan ibu yang diterapkan mayoritas (61%) adalah gaya pengasuhan authoritative, di samping ibu juga menerapkan gaya pengasuhan authoritarian dan gaya pengasuhan permissive. Terdapat cukup banyak ibu (36%) yang mengalami stres terkategori tinggi. Gangguan emosi dan perilaku anak mayoritas (73%) termasuk kategori rendah, namun masih ditemukan gangguan emosi dan perilaku anak terkategori sedang yaitu 27 persen. Hasil uji pengaruh menunjukkan bahwa self efficacy ibu tidak berpengaruh terhadap gaya pengasuhan authoritarian ibu, self efficacy ibu juga tidak berpengaruh terhadap gangguan emosi dan perilaku anak. Gaya pengasuhan authoritative ibu tidak berpengaruh terhadap gangguan emosi dan perilaku anak. Gaya pengasuhan authoritarian dan permissive ibu berpengaruh signifikan positif terhadap gangguan emosi dan perilaku anak. Tingkat stres ibu berpengaruh signifikan positif terhadap gaya pengasuhan authoritarian ibu, tingkat stres ibu juga berpengaruh signifikan positif terhadap gangguan emosi dan perilaku anak. Saran yang diberikan melalui penelitian ini untuk mencegah risiko gangguan emosi dan perilaku anak, maka gaya pengasuhan authoritative ibu perlu ditingkatkan dan menghindari gaya pengasuhan authoritarian dan permissive, tingkat stres ibu perlu dikelola dengan baik, sehingga tidak berdampak pada kondisi anak dan mempengaruhi gaya pengasuhan ibu yang dapat menimbulkan gangguan emosi dan perilaku anak. Di samping itu, pentingnya peran dari semua pihak khususnya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk melakukan edukasi, sosialisasi dan melaksanakan program kepada anak dan orangtuanya, sehingga dapat mencegah anak terpapar dari gangguan emosi dan perilaku yang berisiko terhadap perilaku anak dimasa depan dan kualitas hidup manusia Indonesia pada umumnya

    Hubungan Karakteristik Kewirausahaan terhadap Keberhasilan Usaha Petani Organik Anggota Komunitas Petani Muda Indonesia Okiagaru Farm

    No full text
    Kewirausahaan menjadi atribut kunci keberhasilan pembangunan pertanian dan pertumbuhan ekonomi nasional. Subsektor agribisnis khususnya onfarm menjadi peluang untuk pengembangan usaha pertanian organik. Komunitas Petani Muda Indonesia (KPMI) Okiagaru Farm merupakan salah satu produsen produk organik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan mendeskripsikan karakteristik responden dan karakteristik usaha pada petani organik anggota KPMI, menganalisis hubungan karakteristik kewirausahaan terhadap keberhasilan usahanya, dan implikasi kebijakan yang dapat diterapkan. Penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik convenience. Karakteristik kewirausahaan pada petani responden diantaranya disiplin, percaya diri, kepemimpinan, kerja keras, berani mengambil risiko, inovatif dan mandiri. Atribut keberhasilan usaha terlihat dari pertumbuhan usaha, produksi dan omzet. Alat analisis yang digunakan adalah korelasi Rank Spearman. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh karakteristik kewirausahaan berkorelasi positif terhadap keberhasilan usaha

    Pengembangan Snack Bar Berbahan Dasar Produk Olahan Sorgum dengan Binder Rendah Gula.

    No full text
    Snack bar yang sekarang ini beredar di pasaran kebanyakan masih terbuat dari gandum atau kedelai yang adalah komoditi impor dan masih menggunakan gula dalam jumlah tinggi sebagai binder. Salah satu serealia yang dapat digunakan sebagai bahan baku snack bar adalah sorgum. Sorgum mengandung karbohidrat kompleks, kaya akan vitamin B dan sorgum yang telah diolah menjadi tepung dan produk olahan lain terbukti memiliki fungsi sebagai antioksidan, antimikroba dan dapat menurunkan kadar kolesterol darah. Maizena dan putih telur dapat dimanfaatkan sebagai binder dapat berperan sebagai binding agents dan menghasilkan kandungan zat gizi snack bar yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mencari formulasi terbaik snack bar menggunakan bahan dasar produk olahan sorgum dan menggunakan binder rendah gula yang disukai secara organoleptik. Terdapat 5 formulasi menggunakan perbandingan maizena dan putih telur yang berbeda. Snack bar yang terpilih adalah produk dengan hasil organoleptik uji rating hedonik yang paling disukai, yaitu produk dengan menggunakan binder 50% : 50% maizena : putih telur dan 100% maizena. Hasil analisis produk snack bar yang terpilih yaitu kadar air 5.42% dan 4.68% , kadar abu 1.43% dan 1.37%, kadar lemak 12.73% dan 12.07, kadar protein 9.83% dan 6.90% dan kadar karbohidrat 70.59 dan 74.98%. Produk memiliki kadar gula pereduksi 11.75% dan 11.03%, kadar serat 13.00% dan 12.65%, kadar pati 14.39 dan 17.21% serta kapasitas antioksidan sebesar 26.88 mg AEAC/ml dan 26.28 mg AEAC/ml. Produk dapat diklaim kaya akan serat dan memiliki kadar lemak yang lebih rendah dibandingkan dengan produk snack bar yang beredar di pasaran

    Rancangan Faktorial pecahan dan D-optimal untuk Discrete Choice Experiments (DCE).

    No full text
    Discrete choice experiments (DCE) merupakan alat baku yang berguna untuk mengukur preferensi konsumen atau responden di berbagai bidang penerapan terutama di bidang pemasaran. Menurut Louviere et al. (2008) DCE banyak digunakan untuk meneliti preferensi konsumen dalam bidang pemasaran, transportasi, dan penerapan ekonomi yang mana perilaku yang diperhatikan melibatkan respon diskret atau pilihan kualitatif. Rancangan DCE terdiri dari beberapa choice set dan setiap choice set terdiri dari beberapa profil. Profil dapat disebut juga sebagai alternatif merupakan kombinasi dari level atribut yang dibangkitkan dengan menggunakan rancangan percobaan. Oleh karena itu penelitian ini fokus pada penyusunan rancangan DCE. Atribut merupakan karakteristik dari produk atau jasa yang ditawarkan kepada responden dan level atribut merupakan level untuk setiap atribut. Kebaikan rancangan DCE dalam menduga pengaruh atribut terhadap produk atau jasa tergantung pada pemilihan profil mana yang digunakan dalam choice experiment dan pengelompokan profil tersebut ke dalam setiap choice set (Street et al. 2005). Oleh karena itu perlu suatu strategi pendekatan tertentu untuk memilih dan mengelompokkan profil ke dalam setiap choice set agar diperoleh kualitas rancangan DCE yang baik yaitu rancangan yang mempunyai susunan profil yang tepat untuk setiap choice set. Penelitian ini menggunakan dua pendekatan strategi yaitu rancangan faktorial pecahan dan rancangan D-optimal dengan algoritma point-exchange. Kedua strategi tersebut disimulasikan pada contoh kasus yang melibatkan 4 atribut dan masing-masing atribut mempunyai 2 level atribut sehingga keseluruhan kombinasi yang mungkin terbentuk adalah sebanyak 24 = 16 kombinasi. Strategi pertama menggunakan rancangan faktorial pecahan menghasilkan nilai D-optimality criterion sebesar 65536 dan rancangan DCE yang diperoleh terdiri dari 2 choice set yang mempunyai 8 profil untuk setiap choice set. Strategi kedua menggunakan rancangan D-optimal dengan algoritma point-exchange. Kasus pertama menyusun rancangan DCE yang terdiri dari 4 choice set dan 4 profil untuk setiap choice set. Kasus kedua menyusun rancangan DCE yang terdiri dari 8 choice set dan 2 profil untuk setiap choice set. Kedua rancangan DCE tersebut juga menghasilkan nilai D-optimality criterion yang sama dengan rancangan faktorial pecahan. Ketiga rancangan yang diperoleh dari rancangan faktorial pecahan dan rancangan D-optimal dengan algoritma point-exchange mempunyai struktur yang berbeda tetapi ketiga rancangan tersebut mempunyai D-optimality criterion yang sama. Hal tersebut mengindikasikan bahwa secara statistik ketiga rancangan tersebut mempunyai kualitas yang sama. Tetapi dalam bidang aplikasi, kedua rancangan terakhir yang disusun menggunakan rancangan D-optimal dengan algoritma point-exchange lebih sesuai strukturnya dibandingkan rancangan faktorial pecahan. Dengan demikian dalam bidang aplikasi rancangan D-optimal merupakan alternatif untuk menyusun profil pada rancangan DCE

    Kajian Literatur Metode Pengawetan Tahu

    No full text
    Tahu adalah salah satu produk pangan tradisional Indonesia berbahan dasar kedelai yang diolah berdasarkan prinsip penggumpalan protein. Tahu termasuk pangan yang cepat rusak. Umur simpan tahu yang relatif pendek menjadi permasalahan tersendiri dalam proses penyimpanannya. Hal ini disebabkan karena kadar air dan protein tahu yang relatif tinggi yaitu masing-masing 86% dan 8%- 12%. Dengan komposisi seperti itu tahu merupakan media yang cocok untuk pertumbuhan mikroorganisme terutama bakteri. Tujuan dari kajian literatur ini adalah mengidentifikasi, menganalisis, membandingkan sumber literatur berupa hasil penelitian yang mengemukakan berbagai cara untuk mengawetkan tahu. Data dan informasi pada penelitian ini diperoleh melalui data sekunder yang terdapat pada jurnal, skripsi, karya tulis PKM-Penelitian, dan literatur dari internet yang sumber informasinya dapat dipertanggungjawabkan. Terdapat 6 kategori metode pengawetan tahu pada kajian literatur ini yaitu pengawetan tahu dengan cara penyimpanan suhu 5°C pada kemasan polipropilen kedap udara, pengawetan tahu menggunakan larutan abu jerami, larutan asam asetat, penggunaan bahan kimia sebagai pengawet tahu (benzoat dan sorbat), aplikasi kitosan dalam pengawetan tahu dengan konsentrasi yang berbeda-beda, serta penggunaan rempah-rempah sebagai bahan pengawet alami pada tahu. Berdasarkan hasil literatur yang dikaji, metode pengawetan yang dapat memperpanjang umur simpan tahu terlama adalah penyimpanan pada suhu 5°C dengan hasil tahu dapat awet selama 5 hari

    Strategi Pengembangan Perikanan Telur Ikan Terbang yang Didaratkan Nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Tual

    No full text
    Pelabuhan perikanan di Kota Tual salah satunya adalah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Tual, dengan salah satu hasil tangkapan yang didaratkan adalah ikan dan telur ikan terbang (Cypselurus sp.). Ikan terbang termasuk ikan pelagis yang dapat ditemukan di perairan tropis dan sub tropis dengan kondisi perairan yang tidak keruh dan berlumpur (Hutomo et al. 1985). Ikan dan telur ikan terbang menjadi target penangkapan utama nelayan karena memiliki nilai ekonomis tinggi di pasaran domestik maupun ekspor. Berdasarkan KEPMEN-KP Nomor 69 Tahun 2016 tentang Rencana Pengelolaan Perikanan Ikan Terbang, beberapa isu prioritas yang menjadi permasalahan yaitu; (1) sumber daya ikan dan habitat; (2) sosial dan ekonomi; (3) tata kelola. Permasalahan tersebut secara umum juga menjadi permasalahan perikanan telur ikan terbang di Kota Tual saat ini. Tujuan penelitian ini adalah; 1) Menganalisis situasi permasalahan sistem perikanan terbang di PPN Tual; 2) Membangun model untuk sistem pengembangan perikanan terbang di PPN Tual; dan 3) Menyusun strategi kebijakan dalam pengembangan perikanan terbang di PPN Tual. Permasalahan perikanan ikan terbang di PPN Tual, merupakan permasalahan yang kompleks. Salah satu metode untuk mengatasi permasalahan yang kompleks serta bersifat dinamis adalah dengan menggunakan pendekatan sistem. Tahapan metode pendekatan sistem meliputi: 1) Analisis kebutuhan, 2) Formulasi masalah, 3) Identifikasi sistem, 4) Pemodelan sistem. Metode pengumpulan data dilakukan melalui survei dan wawancara terhadap nelayan telur ikan terbang, pengusaha, Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Tual, Kepala Dinas Perikanan Kota Tual beserta staf, Kepala Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kota Tual beserta staf, dan para Dosen Politeknik Perikanan Negeri Tual. Analisis yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian yaitu analisis deskriptif, analisis sistem dan Analisis Hirarki Proses (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2015 sampai 2017, produksi telur ikan terbang meningkat. Kondisi sebaliknya, terjadi pada jumlah kapal yang mengalami penurunan. Hal ini diantaranya disebabkan kapal-kapal tidak mendapatkan izin operasi dan adanya pengawasan yang ketat dari pihak PSDKP. Kapal penangkap telur ikan terbang rata-rata berukuran 5 GT-20 GT. Alat tangkap yang digunakan para nelayan adalah rumpon (bale-bale). Nelayan sebagian besar merupakan nelayan andon, yang berasal dari Kabupaten Takalar dan Galesong serta Buton. Lama trip dua minggu hingga satu bulan tergantung kondisi cuaca dan tinggi gelombang. Berdasarkan hasil kajian sistem, dapat digambarkan situasi permasalahan sistem yaitu dari aspek biologi; 1) Ancaman terhadap kondisi sumber daya telur ikan terbang karena pendataan ikan yang belum baik; 2) Musim penangkapan telur ikan terbang bersamaan dengan musim gelombang (Musim Timur) sehingga pihak Syahbandar tidak mengeluarkan Surat Persetujuan Berlayar (SPB). Aspek teknis yaitu; 1) Kapal tidak memilki dokumen perizinan seperti SIUP, SIPI, STKA dan SIKPI; 2) Penggunaan alat tangkap yang dianggap tidak ramah lingkungan. Aspek sosial yaitu; 1) Sumberdaya manusia yang masih rendah; 2) Nelayan rugi akibat kapal tidak memiliki izin penangkapan. Aspek ekonomi yaitu; 1) Biaya operasional kegiatan penangkapan yang semakin tinggi sehingga membatasi jangkauan operasi penangkapan; 2) Tidak adanya alokasi BBM bersubsidi dari SPBU dan APMS sehingga kalau membeli dengan harga industri, nelayan merasa terbeban; 3) Harga telur ikan yang tidak stabil; dan 4) Terbatasnya akses modal untuk usaha perikanan terbang. Untuk mengatasi masalah yang ada dibuat model untuk pengembangan perikanan telur ikan terbang. Model dibagi menjadi 2, yaitu; 1) sub model penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan, dan 2) sub model pengembangan bisnis perikanan telur ikan terbang. Alternatif strategi dalam pengembangan perikanan telur ikan terbang adalah pembatasan jumlah alat tangkap dan pembatasan jumlah hasil tangkapan. Pembatasan jumlah alat tangkap (bale-bale) dimaksudkan untuk menjaga sumberdaya ikan terbang dengan cara setiap kapal yang melakukan operasi penangkapan telur ikan diwajibkan untuk melepaskan 20% dari total bale-bale yang dipakai, sehingga pemulihan stok dapat dilakukan dan berkelanjutan

    Efek Ekstrak Daun Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus) Terhadap Gambaran Leukosit Tikus (Sprague Dawley) yang Diinduksi Etilen Glikol.

    No full text
    Leukosit adalah unit aktif dalam sistem pertahanan tubuh. Leukosit terdiri dari neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit, dan monosit. Peradangan merupakan salah satu faktor yang dapat mengakibatkan peningkatan leukosit. Etilen glikol merupakan senyawa kimia nefrotoksik dan menyebabkan peradangan. Ekstrak daun kumis kucing merupakan salah satu obat tradisional yang dipercaya dapat mengobati penyakit ginjal dan saluran kemih. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun kumis kucing terhadap profil leukosit tikus yang diinduksi oleh etilen glikol. Tiga puluh lima tikus umur 7 bulan dibagi menjadi kelompok kontrol, ekstrak kumis kucing, etilen glikol, kombinasi etilen glikol dan ekstrak kumis kucing, dan etilen glikol yang dilanjutkan dengan ekstrak kumis kucing. Dosisnya adalah 245 mg / kg BB untuk ekstrak daun kumis kucing dan 21,43 mg / kg BB untuk etilen glikol. Sampel darah dikumpulkan melalui rute intrakardial dan selanjutnya dibuat preparat ulas darah. Hasil yang diperoleh diproses dengan metode uji one way ANOVA dengan selang kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan ekstrak daun kumis kucing dapat menurunkan jumlah leukosit, neutrofil dan monosit akibat peradangan yang disebabkan oleh etilen glikol serta tidak menyebabkan hipersensitivitas yang ditunjukkan dengan tidak ditemukan peningkatan eosinofil dan basofil

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇