31665 research outputs found
Sort by
Karakteristik Kayu Jati Biotrop Arah Aksial dan Radial
Kayu Jati (Tectona grandis Linn F) merupakan salah satu bahan baku
industri perkayuan yang sangat diminati. Peningkatan permintaan kayu jati
mencapai 13-17% per tahun. Oleh karena itu, saat ini sedang maraknya
perkembangan jati cepat tumbuh sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan
tersebut. Salah satu jenis jati cepat tumbuh adalah jati biotrop (Tectona grandis
variasi Biotrop). Karakteristik kayu jati biotrop hasil budidaya kultur jaringan
masih belum diketahui oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui karakteristik arah aksial dan radial terhadap sifat dasar kayu jati
biotropika umur 8 tahun.
Pengujian sifat fisis meliputi kadar air, kerapatan, dan berat jenis. Sifat
mekanis meliputi MOE, MOR, dan kekerasan. Pengujian keawetan kayu
menggunakan uji keawetan kayu terhadap rayap kayu kering dan graveyard.
Pengujian sifat kimia dengan menganalisis kadar ekstraktif dan komponen kimia.
Berdasarkan hasil penelitian, sifat dasar kayu baik sifat fisis, mekanis, keawetan
alami kayu, dan kimia menunjukkan adanya variasi pada arah aksial dan radial
Analisis Pengelolaan Pengetahuan Menggunakan APO Assessment Tools pada PT Perkebunan Nusantara VII Lampung.
Adanya berbagai perubahan pada dunia usaha menuntut suatu perusahaan
untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di lingkungan usaha. Adaptasi
yang dimaksud dalam hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti inovasi
produk, memperluas pasar, meningkatkan kualitas layanan, proses produksi,
meningkatkan sistem organisasi, dan menghemat biaya, dengan tujuan
menciptakan keunggulan kompetitif. Salah satu sumber penting keunggulan
kompetitif adalah knowledge management (KM). Ini penting dan perlu dikelola
oleh perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan karena sumber daya ini
tidak mudah ditiru dan dimiliki oleh pesaing usaha. KM yang dijelaskan dalam
penelitian ini menggunakan kerangka APO Assessment Tools yang menilai tingkat
kematangan manajemen pengetahuan perusahaan melalui tujuh kategori, yaitu
Kepemimpinan, Proses, Orang, Teknologi, Proses Pengetahuan, Pembelajaran dan
Inovasi, dan Hasil KM.
PT Perkebunan Nusantara VII (PTPN VII) Lampung yang bergerak di
bidang perkebunan karet, kelapa sawit, tebu, dan teh, harus dapat mengukur
tingkat pengelolaan pengetahuan yang dimilikinya agar sebagai sebuah BUMN,
PTPN VII Lampung dapat melaksanakan pembangunan dan pengembangan
agribisnis sektor perkebunan sesuai prinsip perusahaan yang sehat, kuat, dan
tumbuh berkesinambungan dalam skala usaha yang ekonomis, serta menjadi
perusahaan yang memperoleh laba (profitable), makmur (wealthy) dan
berkelanjutan (sustainable), sehingga dapat berperan lebih jauh dalam akselerasi
pembangunan nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan
menganalisis tingkat kematangan pengelolaan pengetahuan pada PTPN VII
Lampung menggunakan APO Assesment tools dan memberikan rekomendasi
untuk perbaikan dan peningkatan tingkat kematangan pengelolaan pengetahuan
kedepannya.
Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa tingkat kematangan
pengetahuan pada perusahaan berada pada pada tingkat yang mendekati
refinement. Hal ini berarti bahwa pengelolaan pengetahuan yang ada selama ini
terus menerus dilakukan evaluasi dalam hal perbaikan maupun peningkatan di
area yang dirasa kurang kinerjanya untuk mendukung kegiatan perusahaan.
Kemudian rekomendasi yang bisa diberikan antara lain sosialisasi menyeluruh
terkait pengembangan sistem teknologi informasi untuk mendukung kegiatan
perusahaan
Kajian Ekonomi Transportasi Ternak Domba dengan Sistem Triple Deck
Transportasi merupakan salah satu faktor penyebab stres dan kerugian pada ternak. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi ternak domba dan harga pokok produk ternak domba akibat transportasi dengan perlakuan tingkatan deck yang berbeda. Penelitian ini menggunakan 18 ekor domba ekor gemuk jantan dengan umur ±1 tahun dan bobot rata-rata 21.03±3.24 kg yang ditransportasikan selama 17 jam 30 menit dengan sistem triple deck. Peubah yang diamati meliputi penyusutan bobot badan, laju respirasi, denyut nadi, suhu rektal, serta lama rekondisi ternak. Data dianalisis dengan menggunakan analysis of covariance (ANCOVA). Hasil penelitian menunjukan bahwa laju respon fisiologis mengalami penurunan pada saat domba ditransportasikan. Penurunan bobot badan yang terjadi setelah transportasi tidak berbeda nyata (P>0.05). Lama rekondisi yang diperlukan dari setiap perlakuan berbeda dengan deck paling bawah membutuhkan waktu paling lama. Harga Pokok Produksi (HPP) ternak domba setiap deck berbeda-beda tergantung dari kerugian susut bobot badan dan lama waktu rekondisi
Pertumbuhan Sengon Solomon F1 (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen) dan Produktivitas Padi Gogo (Oryza sativa L.) dalam Sistem Agroforestri.
Upaya efisiensi lahan dalam penanaman dengan agroforestri perlu
dilakukan untuk mengoptimalkan hasil dari komoditas tanaman kehutanan dan
tanaman pertanian. Sengon merupakan jenis fast growing species yang dapat
dikombinasikan dengan tanaman padi gogo dalam penerapan sistem agroforestri.
Tujuan penelitian ini adalah mengukur pertumbuhan sengon solomon F1 dan
mengetahui produktivitas padi gogo varietas 9G dan LIPI Go1 dalam sistem
agroforestri. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dua
faktorial. Jenis sengon yang digunakan adalah sengon solomon F1 dan varietas padi
yang digunakan yaitu 9G dan LIPI Go1. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan
teknik penanaman dan jarak tanam tidak berpengaruh nyata terhadap parameter
diameter, tinggi, dan luas tajuk sengon sedangkan panjang akar berpengaruh
terhadap jarak tanam pada selang kepercayaan 95%. Pertumbuhan sengon (6 bulan
setelah ditanam di lapang) pada jarak tanam 1.5 m x 1.5 m memiliki nilai
pertumbuhan diameter, tinggi, dan luas tajuk yang besar. Produktivitas padi gogo
tertinggi adalah varietas 9G dengan jarak tanam 1.5 m x 3 m
Analisis Pendapatan Usahaternak Sapi Perah di Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Kecamatan Pamijahan dan Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor
Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Sapi Perah Kecamatan Pamijahan dan
Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah yang
sudah melaksanakan pengembangan usaha peternakan sapi perah. Pada tahun
2016 KUNAK Kabupaten Bogor ditunjuk sebagai Sentra Peternakan Rakyat
(SPR). Beberapa peternak disana sudah melakukan upaya pengolahan limbah
ternak. Tujuan dari penelitian ini yaitu 1) Mengidentifikasi persepsi peternak
terhadap SPR dan pengelolaan limbah ternak, serta persepsi masyarakat terhadap
keberadaan KUNAK Kabupaten Bogor, 2) Menganalisis perbandingan
pendapatan usahaternak sapi perah tanpa pengolahan limbah dengan yang
melakukan pengolahan limbah, 3) Mengestimasi kontribusi usahaternak terhadap
pengeluaran rumah tangga peternak. Metode yang digunakan adalah analisis
persepsi (skala likert), analisis pendapatan, analisis R/C rasio, dan analisis
deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa program SPR cukup
memberikan dampak positif bagi mayoritas peternak, terutama dalam
meningkatkan produksi susu ternak dan akses modal. Peternak juga berpersepsi
bahwa dampak sosial lebih dirasakan dibandingkan dampak ekonomi dan
lingkungan. Masyarakat berpersepsi bahwa KUNAK memberikan dampak
terhadap lingkungan. Pada semua skala usaha, usahaternak yang mengolah limbah
menjadi pupuk menghasilkan pendapatan yang lebih besar dibandingkan dengan
usahaternak yang tidak mengolah limbah. Semakin besar skala usaha, pendapatan
usahaternak juga semakin besar. Pendapatan dari usahaternak mampu memenuhi
pengeluaran rumah tangga baik pada skala usaha kecil maupun skala usaha besar
Durasi Antibodi Asal Induk terhadap Avian Influenza dan Respon Antibodi Hasil Vaksinasi terhadap Infectious Bursal Disease pada Ayam Layer.
Program vaksinasi pada peternakan ayam layer dilakukan dengan
memonitoring titer antibodi dan durasi imunitas pada ayam. Penelitian ini bertujuan
untuk mengevaluasi titer antibodi asal induk terhadap Avian Influenza dan evaluasi
respon pembentukan antibodi Infectious Bursal Disease (IBD) pada ayam layer
yang divaksinasi pada umur satu hari dengan vaksin Aktif Infectious Bursal Disease
(IBD), Newcastle Disease (ND) dan Avian Rhinotracheitis (AR). Penelitian ini
menggunakan 30 ayam layer yang divaksinasi dengan vaksin IBD dan ND aktif
pada umur satu hari dan AR aktif pada umur empat hari. Sampel serum ayam layer
diambil pada umur 7, 10, 14, 17, 22, 24, 29 dan 35 hari. Antibodi asal induk
terhadap virus AI ditentukan dengan uji Hemaglutinasi Inhibisi (HI), sedangkan
antibodi IBD ditentukan dengan uji Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA).
Antibodi asal induk terhadap virus AI terdeteksi dari umur 7 sampai umur 17 hari
dan GMT dari uji HI mencapai level protektif 24 sampai umur 14 hari. Antibodi
terhadap IBD terdeteksi dari umur 7 hari sampai umur 35 hari dan meningkat dari
22 sampai 35 hari. Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang durasi
antibodi AI asal induk dan respon pembentukan antibodi setelah vaksinasi IBD
pada ayam layer
Pembentukan 5-Hidroksimetilfurfural dari Senyawa Gula dengan Katalis Zeolit Alam yang Terimpregnasi Logam Kromium
5-Hidroksimetilfurfural (HMF) merupakan senyawa intermediet yang dimanfaatkan untuk pembuatan sel bahan bakar, polimer dan plastik, dan untuk senyawa serbaguna lainnya. Zeolit alam Ende-NTT, yang digunakan untuk transformasi senyawa gula menjadi HMF, diimpregnasi dengan ion logam Cr(III) dan Cr(VI) melalui metode pertukaran ion. Kemampuan impregnasi zeolit alam Ende-NTT terhadap ion logam Cr(III) dan Cr(VI) berturut-turut 62% dan 16% pada pemanasan 70 °C. Zeolit teraktivasi basa menghasilkan konversi glukosa dan fruktosa menjadi HMF lebih baik daripada zeolit terimpregnasi yaitu sebesar 21% dan 45%. Zeolit yang terimpregnasi logam Cr(III) dan Cr(VI) pada suhu 70 °C menghasilkan konversi HMF lebih besar daripada suhu 90 °C, yaitu masing-masing 17% dan 3.4%. Secara umum, zeolit alam Ende-NTT tanpa dan dengan impregnasi dapat digunakan sebagai katalis untuk pengonversian senyawa gula menjadi HMF
Dampak Integrasi Ekonomi Indian Ocean Rim Association (IORA) terhadap Ekonomi Makro dan Sektoral Indonesia
Diversifikasi pasar merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kinerja ekspor dengan strategi mengubah fokus pasar tujuan ekspor. Sebagai langkah diversifikasi, Indonesia bergabung ke dalam Indian Ocean Rim Association (IORA) yang merupakan asosiasi 21 negara yang terletak di pesisir Samudera Hindia. Kerangka kerja sama IORA dapat menjadi salah satu gerbang Indonesia dalam diversifikasi ekspor, sehingga Indonesia dapat memperbaiki kinerja ekspor yang belum maksimal ke negara-negara Afrika yang juga bergabung dalam IORA. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dampak integrasi ekonomi IORA terhadap ekonomi makro dan sektoral Indonesia. Metode yang digunakan adalah metode Revealed Comparative Advantage (RCA) dan model Global Trade Analysis Project. Penelitian ini menggunakan data dari data dasar GTAP versi 9.0.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi ekonomi IORA pada semua simulasi berpengaruh positif terhadap kesejahteraan dan GDP riil, di mana simulasi penurunan tarif sebesar 95% pada semua sektor memberikan dampak kesejahteraan dan peningkatan GDP riil terbesar dibandingkan simulasi lainnya. Di sisi lain, integrasi ekonomi IORA memberikan dampak negatif terhadap neraca perdagangan. Kerangka kerja sama ekonomi dalam bentuk penurunan tarif menyebabkan defisit neraca perdagangan, surplus neraca perdagangan terjadi pada simulasi penurunan tarif sebesar 95% yaitu penurunan tarif hanya pada sektor request offer. Analisis pada ekonomi sektoral menunjukkan hal yang sama, di mana di bawah kerangka kerja sama IORA mayoritas output Indonesia mengalami penurunan, kecuali pada sektor vegetable oils and fats, oil seeds, motor vehicles and parts, construction, sea transport, sektor jasa, dan dwellings. Sejalan dengan output, kesempatan kerja mayoritas sektor pun mengalami penurunan, kecuali sektor-sektor yang mengalami peningkatan output.
Analisis terhadap ekspor menunjukkan hanya sektor vegetable oils and fats, crops, motor vehicles and parts dan dwellings yang konsisten mengalami peningkatan di semua simulasi. Berbeda dengan ekspor, pada semua simulasi mayoritas sektor mengalami peningkatan impor. Angka impor yang melebihi ekspor terbesar ditemui pada simulasi penurunan tarif sebesar 95% pada semua sektor. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa Indonesia dapat bergabung dengan kerjasama IORA dalam bentuk PTA, di mana penurunan tarif hanya pada sektor-sektor yang memiliki keunggulan di IORA. Untuk persiapan kerjasama integrasi yang lebih tinggi seperti FTA, peningkatan daya saing mutlak harus dilakukan
Pemodelan Harmonik Generasi Kedua Pada Struktur Kristal Perovskite (MAPbI3) Menggunakan Metode Ikat Hiperpolarisabilitas Sederhana Nonlinier.
Metilamonium timbal iodida (MAPbI3) dikenal memiliki struktur fase transisi
yang bergantung suhu. MAPbI3 memiliki bulk point group dan surface point
group pada kristal sentrosimetrik berupa 4/mmm (simetri D4h) dan mm2 (simetri
C2v). Bulk point group pada kristal non-sentrosimerik adalah 4mm (simetri C4v).
Penelitian ini meninjau second harmonic generation (SHG) pada MAPbI3 simetri
C2v dan D4h dengan simplified bond hyperpolarizability model (SBHM). Pada
kristal sentrosimetrik simeri D4h terdapat inversi simetri yang menyebabkan
elektrik dipol terinduksi SHG menjadi terlarang, namun tidak berlaku pada
permukaan simetri C2v karena inversi simetri hampir tidak ada. Hasil SBHM
menunjukkan terdapat intensitas SHG pada simetri C2v dan tidak ada intesitas
SHG pada simetri D4h
Pengembangan Perancangan Model Kawasan/Sentra IKM Pangan Halal dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing IKM Indonesia
Industri Kecil Menengah (IKM) sebagai salah satu penggerak perekonomian
Indonesia harus mempunyai daya saing kuat. Salah satu cara meningkatkan
pangsa pasar dan daya saing adalah dengan pengadaan kawasan/sentra IKM Halal,
dimana di dalamnya terdapat komponen untuk menunjang IKM penghuninya
(tenant) konsisten dalam memproduksi produk Halal.
Tujuan dari penelitian ini (1) melakukan identifikasi kendala dan
menetapkan strategi yang diperlukan untuk menunjang IKM dalam proses
sertifikasi Halal MUI; (2) menganalisis regulasi kawasan/sentra IKM halal yang
di Indonesia dibandingkan dengan Malaysia; (3) melakukan identifikasi kendala
dan menetapkan strategi yang diperlukan untuk memperkuat kawasan/sentra IKM
yang telah berdiri selama ini di Indonesia; (4) membuat alternatif model
kawasan/sentra IKM Halal yang dapat diterapkan di Indonesia.
Penelitian ini dilakukan dengan metode (1) wawancara kepada dua pakar
dari LPPOM MUI dan kepada pengelola kawasan/sentra IKM pangan di Kota
Bogor, (2) survei kepada 30 IKM pangan di Kota Bogor dan Sukabumi dengan
teknik pengambilan contoh purposive sampling, (3) studi pustaka untuk
mendapatkan data selain sampel di Kota Bogor dan Sukabumi dan (4) studi
pustaka untuk mendapatkan regulasi kawasan/sentra IKM pangan halal di
Indonesia dan Malaysia. Analisis data dilakukan dengan menggunakan matriks
Internal Factor Evaluation (IFE), matriks External Factor Evaluation (EFE),
matriks Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT) dan Quantitative
Strategic Planning Matrix (QSPM).
Berdasarkan hasil analisis, urutan kepentingan strategi untuk memperkuat
IKM dalam proses sertifikasi halal yaitu (1) melengkapi regulasi yang
memperkuat IKM dalam menyediakan produk halal dan sertifikasi halal; (2)
embuat program sertifikasi halal produk IKM secara bertahap dengan tujuan
semua IKM tersertifikasi halal; (3) pemanfaatan hasil pengelolaan keuangan
syariah untuk sertifikasi halal gratis IKM atau subsidi silang; (4) kerjasama antar
instansi pemerintah maupun swasta untuk membuat program pembinaan guna
memperlancar sertifikasi halal IKM; (5) memaksimalkan peranan komunitas IKM
untuk media komunikasi terkait persyaratan sertifikasi halal; (6) mengikuti ajang
pameran bergengsi internasional untuk meningkatkan permintaan ekspor produk
halal Indonesia khusunya IKM; (7) sosialisasi secara gencar melalui seluruh
media yang ada terkait persiapan wajib Halal 2019; (8) pengadaan program
pembentukan komunitas IKM yang dapat menjangkau pelosok negeri; dan (9)
penyediaan pusat toko halal di berbagai wilayah yang menjangkau seluruh
pelosok negeri.
Saat ini Indonesia belum memiliki regulasi khusus terkait kawasan/sentra
IKM halal. Malaysia telah lebih dahulu menetapkan konsep kawasan IKM halal
(halal park) dan telah didukung oleh regulasi terkait. Berdasarkan analisis regulasi
kawasan/sentra IKM di Malaysia, ada beberapa kebijakan Malaysia yang dapat
dipakai dalam pengembangan regulasi mengenai kawasan/sentra IKM halal di
Indonesia antara lain (1) adanya pengelola yang menjembatani komunikasi dan
kebutuhan anggota dengan pihak pemerintah maupun pihak terkait lain seperti
lembaga sertifikasi halal; (2) pemberian insentif bagi pengelola, anggota maupun
jasa yang ada untuk mendukung kawasan/sentra IKM halal; (3) penetapan skema
pembinaan serta bantuan pemasaran yang terkoordinir; dan (4) Mengerahkan
seluruh kementerian teknis dan pemerintah daerah untuk pembuatan program
terintegrasi dalam rangka pengembangan kawasan/sentra IKM halal di Indonesia.
Berdasarkan hasil analisis SWOT, didapatkan strategi yang dapat
memperkuat kawasan/sentra IKM yang telah ada yaitu (1) memanfaatkan fungsi
pengelola atau pengurus untuk berkoordinasi dengan kementerian, universitas,
swasta dan pihak terkait lain untuk mendapatkan dukungan pelatihan, pendanaan
dan penyediaan sarana produksi untuk IKM yang berada dalam kawasan/sentra
IKM; (2) memerkuat regulasi tentang pendirian dan pengembangan
sentra/kawasan IKM; (3) memanfaatkan fungsi pengelola atau pengurus untuk
memerkuat pemasaran produk-produk yang dihasilkan IKM yang berada di
kawasan/sentra IKM bekerjasama dengan pemerintah/swasta; (4) membuat
pengaturan tentang pemberian insentif dan dukungan pendanaan dari pemerintah
kepada pengelola/pengurus kawasan/sentra IKM; (5) memberikan pelatihan
manajemen pengelolaan dan pengembangan sentra/kawasan IKM kepada
pengelola/pengurus; (6) pembuatan program, target dan monitoringnya agar IKM
yang berada di sentra mandiri dan mampu menjalankan usahanya tanpa bantuan
setelah kurun waktu tertentu (Pengelola sentra/kawasan); (7) pengelolaan dan
pembuatan jadwal mantainance untuk sarana dan prasarana (Pengelola
sentra/kawasan); (8) memanfaatkan bahan lokal sebagai bahan untuk pembuatan
produk dalam sentra/kawasan IKM sehingga harga bahan tidak berpengaruh
terhadap kurs dollar dan harga produk bersaing dengan produk impor.
Dari hasil perancangan model kawasan/sentra IKM, maka kawasan/sentra
IKM harus: dekat dengan pusat diklat, tersedia insentif bagi stakeholder, tersedia
subsidi biaya pengurusan izin edar dan sertifikasi halal dari pemerintah, tersedia
bantuan pemasaran di tingkat nasional/ekspor dan terdapat pengelola/koordinator
kawasan/sentra IKM halal. Selain itu, perlu ada hal lain yang harus ada di
kawasan/sentra disesuaikan dengan proses bisnis kawasan/sentra tersebut. Hasil
penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan bagi pengelola kawasan IKM ataupun
pemerintah dalam mengembangkan kawasan/sentra IKM yang sesuai dengan
kondisi IKM di Indonesia