31665 research outputs found
Sort by
Kemandirian Pelaku Usaha Mikro Anggota Asosiasi Pengusaha Kerupuk Sanjai Bukittinggi
Kemandirian diperlukan bagi pelaku usaha untuk dapat mengembangkan usahanya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh karakteristik pelaku usaha mikro, karakteristik usaha, pelatihan, dan program bantuan terhadap tingkat kemandirian pelaku usaha tersebut. Lokasi penelitian di Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat dengan total jumlah responden sebanyak 30 orang. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan survei dengan instrumen kuesioner dan didukung oleh data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan kemandirian pelaku usaha mikro yang dilihat berdasarkan aspek intelektual, material, dan manajerial berada pada kategori tinggi. Faktor-faktor yang memengaruhi kemandirian pelaku usaha mikro adalah karakteristik usaha yang dicerminkan oleh besarnya omzet, keuntungan, dan aset usaha, serta intensifnya pelatihan yang dicerminkan oleh tingginya frekuensi pelatihan dan kesesuaian materi.
Kata Kunci: kemandirian, kerupuk sanjai, pelatihan, usaha mikr
Fraksionasi Bahan Organik Tanah Andisols Kebun Kopi Robusta pada Kelerengan yang Berbeda
Laju dekomposisi bahan organik pada tanah mineral di Indonesia tergolong tinggi dan sekitar 73% lahan pertanian memiliki kandungan bahan organik kurang dari 2%. Bahan organik diperoleh dari sisa-sisa hewan maupun residu tanaman. Salah satu tanaman sumber bahan organik adalah tanaman kopi robusta yang mendominasi produksi kopi di Indonesia mencapai 90%. Penelitian ini bertujuan mengetahui distribusi Bahan Organik Tanah (BOT) dan hubungan kadar klei dengan kadar BOT pada tanah Andisols dengan vegetasi kopi robusta pada kelerengan yang berbeda. Contoh tanah diambil dari dua profil tanah yang dibuat pada kelerengan 40% dan 3%. Hasil fraksionasi BOT menunjukkan bahwa kadar BOT total profil 2 (3%) lebih tinggi dibandingkan profil 1 (40%). Kadar tertinggi pada kedua profil adalah kadar BOT terikat klei, diikuti kadar BOT terikat seskuioksida dan BOT bebas. Hasil fraksionasi klei menunjukkan bahwa kadar klei total profil 2 lebih tinggi dibandingkan profil 1. Kadar tertinggi pada kedua profil adalah kadar klei terikat seskuioksida, diikuti klei terikat BOT dan kadar klei bebas. Kadar BOT terikat klei pada kedua profil lebih tinggi dibandingkan kadar klei terikat BOT. BOT terikat klei merupakan proporsi BOT terikat klei terhadap jumlah BOT total, sedangkan klei terikat BOT merupakan proporsi klei yang mengikat BOT terhadap jumlah klei total tanah
Analisis Ekonomi Dan Kebijakan Pengelolaan Bagan Tancap Di Perairan Makassar.
Perairan Makassar mendukung pesatnya pertumbuhan perikanan tangkap
khususnya perikanan ikan pelagis dimana perairan ini berada di Wilayah
Pengelolaan Perikanan (WPP) 713 Selat Makassar sehingga mayoritas hasil
tangkapan laut adalah ikan pelagis. Salah satu alat tangkap tradisional ikan pelagis
yang bertahan di Perairan Makassar adalah bagan tancap. Berdasarkan DKP
Sulawesi Selatan, jumlah unit bagan tancap terus menurun dimana pada tahun
2016, jumlah unit bagan tancap di Perairan Makassar mencapai 21 unit dengan
produksi 91,6 ton.
Bagan tancap merupakan alat tangkap tradisional Bugis–Makassar berupa
rangkaian bambu berbentuk persegi empat yang ditancapkan sehingga berdiri
kokoh di atas perairan, dimana pada tengah bangunan tersebut dipasang jaring dan
dioperasikan menggunakan cahaya (Sudirman dan Achmar Mallawa, 2012).
Ukuran mata jaring yang kecil menyebabkan rendahnya selektivitas jaring bagan
tancap sehingga ikan belum layak tangkap (immature fish) dan ikan non-target (by
catch) ikut tertangkap. Keberadaan perikanan bagan tancap dinilai kurang ramah
lingkungan karena alat tangkap jenis ini tidak selektif pada mata jaring. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk menghitung nilai optimum penangkapan bagan
tancap, menghitung nilai kehilangan ekonomi perikanan bagan tancap dan
membuat model dinamik pengelolaan bagan tancap di Perairan Makassar.
Penelitian ini dilakukan pada Maret – Juli 2018 dengan mengambil 2 kecamatan
yakni Kelurahan Untia Kecamatan Biringkanaya dan Kelurahan Tallo dan
Mangarabombang Kecamatan Tallo. Metode yang digunakan pada penelitian ini
adalah metode penelitian survei. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan
data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung di unit bagan
tancap dan wawancara terhadap nelayan bagan tancap di Perairan Makassar.
Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling terhadap 10
nelayan bagan tancap dengan total jumlah unit bagan tancap adalah 21 unit.
Nilai stok aktual pada bagan tancap adalah 513 ton dan 392 ton pada
kondisi MEY. Besar upaya aktual bagan tancap adalah 1609 dan upaya MEY
sebesar 2.484. Sumberdaya perikanan bagan tancap di Perairan Makassar belum
mencapai tingkat overfishing pada level MEY atau MSY untuk cumi, ikan
tembang dan ikan teri sehingga perlu ditingkatkan. Perlu adanya kebijakan
menaikkan upaya penangkapan aktual ke level MEY sebanyak 876 trip. Nilai
rata-rata potensi hilang atau kerugian lingkungan pada operasional bagan tancap
tahun 2010 – 2016 di Perairan Makassar adalah Rp 466.450.00. Besarnya nilai
potensi kehilangan bagan tancap sehingga perlu relokasi bagan tancap keluar
nursery ground. Pengelolaan bagan tancap yang tepat dari subsistem ekologi,
ekonomi dan sosial di Perairan Makassar adalah dengan mengubah rezim
pengelolaan perikanan saat ini ke rezim pengelolaan MEY
Peranan AgNPs dalam Penghambatan Pertumbuhan Fungi Penyebab Infeksi pada Buah Mangga, Pepaya, dan Stroberi.
Infeksi yang disebabkan fungi pada buah dapat menyebabkan kerugian yang besar.
Colletotrichum sp. merupakan fungi yang dapat menyebabkan penyakit busuk buah pada
buah mangga dan pepaya. Fusarium sp. juga merupakan jenis fungi yang bisa
menyebabkan kerusakan pada buah stoberi. Pertumbuhan fungi dapat dihambat dengan
menggunakan AgNPs (nanopartikel perak). Pembuatan AgNPs dilakukan dengan metode
green synthesis. Metode ini menggunakan ekstrak teh hitam sebagai pereduksi dan capping
agent. Analisis ukuran AgNPs dilakukan dengan menggunakan PSA. Uji aktivitas
antifungi dilakukan dengan metode peracunan agar. Metode ini dilakukan dengan
mencampurkan AgNPs pada media tumbuh isolat fungi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui konsentrasi AgNPs yang terbaik dalam menghambat petumbuhan
Colletotrichum gloeosporioides pada mangga, Colletotrichum sp. pada pepaya, dan
Fusarium sp. pada stroberi. Hasil analisis PSA menunjukkan AgNPs memiliki ukuran
dengan rataan 244.3 nm. Hasil pengujian aktifitas antifungi AgNPs terbaik adalah
konsentrasi 1500 ppm, pada Colletotrichum sp. yang menginfeksi buah mangga memiliki
nilai persen inhibisi sebesar 63%, pada Colletotrichum sp. yang menginfeksi pepaya
memiliki nilai persen inhibisi sebesar 83%, dan pada Fusarium sp. yang menginfeksi
stroberi memiliki nilai persen inhibisi sebesar 53%
Efektivitas Implementasi kebijakan Pengelolaan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim di Provinsi Riau
Taman Hutan Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH) merupakan kawasan
yang memiliki fungsi pokok sebagai koleksi flora dan fauna yang dimanfaatkan
untuk kepentingan penelitian, pendidikan dan ekowisata. Sejak ditetapkan pada
tahun 1999, pengelolaan Tahura SSH terus mengalami penurunan fungsi karena
meningkatnya penguasaan lahan yang telah menyebabkan deforestasi hutan
menjadi perkebunan kelapa sawit. Pengelolaan Tahura SSH diidentikkan dengan
kegiatan administratif bukan pada design aksi kebijakan. Kegagalan kebijakan
pengelolaan Tahura SSH belum berdampak (outcome) bagi masyarakat karena
stigma yang dibangun bahwa pengelolaan kawasan akan berhasil apabila
kebijakan yang dibuat mampu mempertahankan luasan kawasan buka berorientasi
pada fungsi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis isi (content analysis)
teks kebijakan pengelolaan Tahura SSH (2) menganalisis efektivitas implementasi
kebijakan pengelolaan kawasan Tahura SSH serta hambatan – hambatan yang
mempengaruhi pelaksanaan kebijakan tersebut dan (3) merumuskan strategi
kebijakan dalam peningkatan efektivitas pengelolaan Tahura SSH bersama
masyarakat.
Penelitian ini dilakukan di Tahura SSH Provinsi Riau. Pengumpulan data
dilakukan melalui wawancara mendalam (indepth interview), pengamatan terlibat,
dan review dokumen. Analisis data menggunakan desain penelitian deskriptif
kualitatif dengan pendekatan analisis Grindle (1980) yaitu isi kebijakan dan
konteks implementasi, policy process analysis oleh International of Development
Study (IDS) (2006) yang diukur dengan pendekatan narasi, aktor dan jaringan dan
Maser (1994) diukur dengan pertimbangan keinginan secara sosial-ekonomi dan
pertimbangan keinginan secara ekologi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya gap antara kebijakan dengan
implementasi di lapangan antara lain adanya ketidaksesuaian antara teks kebijakan
dengan kondisi faktual dilapangan. Hal ini dapat dilihat dari penguatan kapasitas
kelembagaan, kejelasan penguasaan lahan, pemberdayaan masyarakat, integrasi
blok/ zonasi serta sanksi dan penegakan hukum. Efektivitas implementasi
kebijakan pengelolaan Tahura SSH menunjukkan adanya penyimpangan, state
capture, manuver politik, tingginya transaksi jual beli lahan, weak law
enforcement. Untuk mengefektivkan efektivitas implementasi kebijakan
pengelolaan Tahura SSH maka pemerintah perlu mengefektivkan isi kebijakan
dan implementasi kebijakan sesuai dengan design aksi kebijakan sehingga
berdampak bagi masyarakat sebagai stakeholder utama pengelolaan hutan.
v
Selain itu, hal ini juga perlu didukung dengan inovasi dan transisi tata
kelola untuk memperkecil gap kebijakan dan implementasi di lapangan seperti
penguatan dan optimalisasi kelembagaan, pola kemitraan, integrasi zonasi,
peningkatan komunikasi kepada target groups dalam rangka meningkatkan
efektivitas implementasi kebijakan pengelolaan Tahura SSH
Analisis Tataniaga Susu Sapi Kelompok Tani Ternak Sapi Perah Mandiri Sejahtera Kabupaten Bogor.
Kelompok Ternak Mandiri Sejahtera adalah salah satu kelompok ternak dengan komoditi sapi perah di Kabupaten Bogor yang telah berdiri dari tahun 2011. Produksi susu dari kelompok ternak ini memiliki kualitas yang baik dibuktikan dari uji kualitas susu dan TPC. Kualitas susu yang baik ini tidak serta-merta membuat harga yang didapatkan peternak menjadi tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tataniaga susu sapi KTMS dengan menggunakan pendekatan SCP (Structure, Conduct, Performance). Berdasarkan hasil penelitian diketahui terdapat 4 saluran yang menjadi pilihan peternak dalam memasarkan susu yang dihasilkan. Setiap saluran memiliki fungsi yang berbeda-beda terdiri dari fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi fasilitas. Nilai farmer’s share tertinggi terdapat pada jalur tataniaga terpendek, peternak menjual langsung susu yang dihasilkan kepada konsumen. Nilai farmer’s share terendah didapat pada saluran 3 yaitu susu melewati jalur dari peternak, kelompok, kelompok wanita ternak, dan konsumen. Nilai marjin tataniaga berbanding terbalik dengan nilai farmer’s share
Penentuan Substrat Dasar untuk Peningkatan Sintasan dan Kinerja Pertumbuhan Benih Ikan Gabus Channa striata yang Dipelihara di Kolam.
Kurangnya produksi ikan gabus pada kegiatan budidaya ikan gabus salah satunya disebabkan oleh rendahnya sintasan dan pertumbuhan pada fase pemeliharaan benih. Penggunaan substrat dasar diduga mampu memberikan kondisi lingkungan yang nyaman dan tempat perlindungan bagi benih ikan gabus sehingga mampu untuk meningkatkan sintasan dan kinerja pertumbuhan benih ikan gabus. Penelitian bertujuan menentukan substrat dasar terbaik untuk meningkatkan sintasan dan kinerja pertumbuhan benih ikan gabus yang dipelihara di kolam. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap terdiri dari tiga perlakuan dan tiga ulangan. Substrat dasar yang digunakan yaitu pasir, lumpur, dan terpal (tanpa substrat). Benih ikan gabus dengan ukuran panjang 6.07±0.05 cm dan bobot 2.11±0.07 g dipelihara pada kolam berukuran 4 × 2 × 1 m3 dengan padat tebar 20 ekor per m3 selama 30 hari. Benih ikan gabus diberi pakan berupa pellet apung sebanyak empat kali sehari menggunakan feeding level 5% dari biomassa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substrat dasar terbaik untuk meningkatkan sintasan dan kinerja pertumbuhan benih ikan gabus yang dipelihara di kolam adalah pasir dengan sintasan mencapai 92.67±2.52%, biomassa akhir 201.09±2.39 g, efisiensi pakan 60.36±2.26%, dan glukosa darah 33.88±1.41 mg dL-1
Hubungan Pengetahuan Gizi, Kebiasaan Makan, dan Daya Terima dengan Status Gizi Siswa pada Penyelenggaraan Makanan di SMP Insan Cendekia Bogo
Penyelenggaraan makanan di SMP Insan Cendekia Bogor menyediakan sebanyak 210 – 225 porsi setiap harinya. Berdasarkan Kemenkes (2011), Penyelenggaraan makanan di SMP Insan Cendekia Bogor termasuk kategori jasaboga golongan B. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan pengetahuan gizi, kebiasaan makan, dan daya terima dengan status gizi siswa pada penyelenggaran makanan di SMP Insan Cendekia Bogor. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2019 dengan menggunakan desain penelitian cross-sectional study. Contoh diambil secara purposive sampling dengan total 49 siswa. Ketersediaan energi dan zat gizi dalam makanan belum memenuhi angka kebutuhan gizi siswa. Sebagian besar siswa dapat menghabiskan nasi, lauk hewani dan nabati, namun hanya sedikit siswa yang dapat menghabiskan buah dan sayur. Hasil menunjukan 79.6% siswa menyukai warna dari lauk hewani dan 83.7% siswa tidak menyukai warna buah. Rata-rata tingkat kecukupan zat gizi tergolong defisit. Sebanyak 55.1% siswa memiliki pengetahuan gizi cukup dan sebanyak 79.6% siswa memiliki kebiasaan makan 3-4 kali sehari. Hasil uji korelasi Spearman menunjukan adanya hubungan signifikan antara kebiasaan mengonsumsi buah dengan status gizi (p=0.039)
Efektivitas Indole-3-Butyric Acid terhadap Pertumbuhan Beberapa Jenis Lamtoro Melalui Kultur Jaringan
Lamtoro (Leucaena leucocephala) adalah leguminosa yang memiliki kandungan protein tinggi dengan serat kasar 10% - 38%. Pembentukan akar lamtoro dapat dirangsang lebih cepat oleh auksin sebagai zat pengatur tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh level optimal zat pengatur tumbuh tipe Indole-3 Butyric Acid (IBA) dalam pertumbuhan dari beberapa jenis lamtoro. Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan faktor A adalah perlakuan level IBA yaitu MS0 (P0), MS + IBA 0.5 ppm (P1), MS + IBA 1 ppm (P2), MS + IBA 1.5 ppm (P3), dan MS + IBA 2 ppm (P4) dan faktor B adalah jenis lamtoro yaitu L. leucocephala var Tarramba, L. leucocephala lokal Rinjani, dan L. leucocephala lokal Poso dengan 15 ulangan. Parameter yang diukur adalah jumlah tanaman berakar (%), pertambahan panjang akar (mm), pertambahan tinggi tanaman (mm), selisih jumlah ranting (buah), selisih jumlah daun majemuk (helai), kerontokan daun (%), persentase kematian (%), dan persentase kontaminasi (%). Berdasarkan hasil pengamatan parameter jumlah tanaman berakar pada jenis Tarramba dan Rinjani memberikan respon baik terhadap P1, pertambahan panjang akar pada jenis Rinjani memberikan respon baik terhadap P1, selisih jumlah ranting dan selisih jumlah daun majemuk pada jenis Tarramba memberikan respon baik terhadap P2. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Tarramba dapat dikembangkan dengan kombinasi P2 (MS + IBA 1 ppm), Rinjani dengan kombinasi P1 (MS + IBA 0.5 ppm), dan Poso tanpa kombinasi IBA
Penentuan Titik Transisi Kayu Juvenil ke Kayu Dewasa pada Jati Cepat Tumbuh Tectona grandis Linn F.
Jati cepat tumbuh (Tectona grandis Linn F.) merupakan salah satu jenis pohon cepat tumbuh yang banyak ditanam di hutan rakyat. Kayu ini memiliki keuntungan ekonomi karena masa panen yang lebih singkat dibandingkan kayu jati konvensional. Penelitian ini bertujuan mengetahui titik transisi kayu juvenil ke kayu dewasa pada kayu jati cepat tumbuh (Tectona grandis Linn F.) berdasarkan parameter sifat anatomi (panjang serat, tebal dinding, sudut mikrofibril (MFA)), parameter sifat fisis (kadar air, berat jenis, kerapatan, dan penyusutan), dan parameter sifat mekanis (modulus of elasticity (MOE), modulus of rupture (MOR), dan kekerasan). Penentuan titik transisi didasarkan pada nilai parameter sifat anatomi, fisis, dan sifat mekanis dari arah empulur ke kulit. Model regresi linier tersegmentasi menggunakan PROC NLIN pada SAS digunakan untuk menentukan titik transisi. Nilai panjang serat tebal dinding, kerapatan, berat jenis, penyusutan, MOE, MOR, dan kekerasan cenderung meningkat dari arah empulur ke kulit. Sedangkan MFA dan kadar air cenderung menurun dari arah empulur ke kulit. Panjang serat, tebal dinding, dan MFA rata-rata kayu jati cepat tumbuh umur 13 tahun adalah 847 μm, 5.42 μm, dan 43.7°. Hasil analisis PROC NLIN pada SAS terhadap nilai panjang serat menunjukan bahwa kayu dewasa jati cepat tumbuh umur 13 tahun mulai terbentuk pada segmen ke-8 (77% kayu juvenil). Sedangkan berdasarkan tebal dinding dan MFA kayu dewasa jati cepat tumbuh umur 13 tahun mulai terbentuk pada segmen ke-10 (100% juvenil). Panjang serat, tebal dinding, dan MFA dapat dijadikan indikator penentuan titik transisi kayu juvenil ke kayu dewasa pada kayu jati cepat tumbuh