31665 research outputs found
Sort by
Sifat Fisis Mekanis Papan Laminasi dari Limbah Batang Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dengan Perlakuan Variasi Pemadatan dan Susunan Lamina
Tanaman kelapa sawit yang sudah berumur lebih dari 25 tahun akan mengalami peremajaan. Tamanan kelapa sawit yang tidak produktif ini akan menghasilkan limbah batang kelapa sawit (BKS). Salah satu pemanfaatan limbah batang kelapa sawit adalah dengan membuat produk komposit seperti papan lamina. Penelitian mengenai papan lamina dari limbah BKS telah banyak dilakukan, akan tetapi hasil penelitian menunjukkan bahwa papan lamina dari limbah BKS belum dapat digunakan untuk penggunaan struktural. Persyaratan yang diperlukan agar kayu dapat digunakan untuk keperluan struktural adalah kekuatan dan keawetan kayu. Kayu untuk bangunan memiliki kelas kekuatan II-III dan mempunyai kelas awet II-III.
Berdasarkan hal tersebut maka penulis mencoba untuk memperbaiki sifat fisis dan mekanis produk papan lamina dari batang kelapa sawit dengan memberikan perlakuan pendahuluan berupa pemadatan pada lamina berkerapatan rendah-medium dengan tekanan panas 30 kg/cm2 dan 45 kg/cm2 yang dikempa panas pada suhu 1500C selama 60 menit dan membuat kombinasi susunan lamina pada produk papan lamina yang dihasilkan
Penelitian ini menggunakan bahan baku limbah batang kelapa sawit yang telah berumur lebih dari 30 tahun dan menggunakan perekat isosianat dengan perbandingan base dan hardener 100:15. Berat labur yang digunakan sebesar 300 g/m2 (double spread). Limbah batang kelapa sawit yang digunakan adalah 2/3 bagian terluar secara cross section. Dimana 1/3 bagian terluar merupakan lamina berkerapatan tinggi (T) tanpa pemadatan, dan 1/3 bagian sisanya merupakan lamina berkerapatan rendah-medium (R) yang mendapatkan perlakuan pre-treatment pemadatan. Ukuran lamina untuk pemadatan adalah 5 cm x 1,5 cm x 65 cm (lebar x tebal x panjang) akan dipadatkan menjadi 5 cm x 1 cm x 65 cm.
Papan lamina yang dibuat merupakan papan lamina 3 lapis dengan tebal akhir 5 cm x 3 cm x 65 cm, masing-masing lamina berukuran 65 cm x 1 cm x 5 cm. Lamina dengan kerapatan ≥ 0,6 g/cm3 dikategorikan sebagai lamina dengan kerapatan tinggi, sedangan lamina dengan kerapatan (0,2-<0,6) g/cm3 dikategorikan lamina dengan kerapatan rendah-medium yang merupakan lamina yang mendapatkan perlakuan pemadatan panas.
Penelitian ini terdiri dari 6 kombinasi perlakuan yaitu R0R0R0, R30R30R30, R45R45R45, TR0T, TR30T, TR45T. Masing-masing perlakuan teridiri 5 ulangan. Pengujian papan lamina sesuai standar JAS 234 (2003) untuk sifat fisis dan mekanis. Penelitian ini menggunakan desain penelitian rancangan acak lengkap faktorial 3 x 2. Jika hasil ANOVA menunjukkan adanya pengaruh nyata terhadap perlakuan, maka dilanjutkan dengan uji lanjut wilayah berganda Duncan (Duncan Multiple Range Test) p ≤ 0.05.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelakuan pre-treatment pemadatan panas terhadap lamina berkerapatan rendah-medium untuk bagian core pada papan lamina tidak berpengaruh nyata terhadap sifat fisis dan mekanis papan lamina yang dihasilkan. Akan tetapi, papan lamina dengan kombinasi TRT telah memenuhi standar JAS 234-2003 untuk nilai kadar air, MOE, dan MOR, sehingga papan lamina yang tersusun dari lamina berkerapatan tinggi (T) sebagai face dan back dapat digunakan untuk penggunaan struktural. Papan laminasi kombinasi TRT masuk ke kelas kuat III sedangkan untuk kombinasi RRR masuk ke kelas kuat V. Sehingga kombinasi TRT dapat digunakan untuk keperluan struktural. Nilai kuat geser secara keseluruhan belum memenuhi standar JAS 234 (2003), akan tetapi dapat dilihat pada hasil bahwa papan lamina yang tersusun dari lamina berkerapatan tinggi memiliki nilai kuat geser yang lebih tinggi dibandingkan yang tersusun dari lamina yang berkerapatan rendah-medium
Perbandingan Keanekaragaman Jenis Herpetofauna antara Areal Bekas Terbakar dan Tidak Terbakar di PT National Sago Prima, Riau.
Kebakaran di PT NSP lima tahun lalu dituding sebagai penyebab
menurunnya keanekaragam jenis satwaliar termasuk herpetofauna. Menggunakan
Visual Encounter Survey (VES) dengan jalur transek dilakukan pada lima
pasangan jalur pada areal bekas dan tidak terbakar pada bulan Februari 2019.
Ditemukan 44 individu dari 9 jenis herpetofauna pada areal bekas terbakar dan 56
individu dari 11 jenis herpetofauna pada areal tidak terbakar. Kemiripan
komposisi jenis vegetasi antara kedua tutupan lahan menunjukkan proses suksesi
alam telah terjadi. Kekayaan jenis herpetofauna pada areal tidak terbakar
(dmg=2.48) memiliki jumlah dan nilai yang lebih tinggi jika dibandingkan areal
bekas terbakar (dmg=2.11) namun dengan kemerataan jenis yang lebih rendah
(E.TT=0.58 dan E.BT=0.72). Ditemukannya 8 jenis herpetofauna yang sama dari
total 12 jenis herpetofauna pada kedua tutupan lahan mengindikasikan bahwa
kesamaan komunitas (IS=0.8) antara areal bekas dan tidak terbakar hampir sama
Pengaruh Jarak Tanam dan Jumlah Bibit per Lubang terhadap Produksi dan Mutu Benih Padi (Oryza sativa L.) Varietas IPB 3S.
Salah satu inovasi teknologi budidaya padi adalah pengaturan jarak tanam
dan jumlah bibit per lubang. Penggunaan jarak tanam yang lebih rapat
memberikan populasi tanaman lebih banyak. Penggunaan bibit per lubang yang
lebih sedikit akan mengurangi penggunaan benih dan lahan semai. Penelitian ini
bertujuan mendapatkan kombinasi jarak tanam dan jumlah bibit dalam satu
lubang terbaik terhadap hasil produksi dan mutu benih padi Varietas IPB 3S.
Penelitian ini menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan
2 faktor. Faktor pertama adalah jarak tanam dengan tiga taraf yaitu, 20 cm x 20
cm, 20 cm x 40 cm x 10 cm, 30 cm x 15 cm dan faktor kedua adalah jumlah bibit
per lubang dengan dua taraf, yaitu 3 bibit dan 5 bibit per lubang. Bibit yang
digunakan berumur 14 hari. Semua kombinasi perlakuan jarak tanam dan jumlah
bibit per lubang menghasilkan produksi dan mutu benih tinggi sesuai dengan
deskripsi varietas. Namun jika dinilai dari aspek ekonomi penggunaan tiga bibit
dengan jarak tanam 30 cm x 15 cm lebih efisien dibandingkan perlakuan jumlah
bibit dan jarak tanam lainnya
Modifikasi Manipulator Tipe Silinder untuk Robot Bioproduksi dalam Greenhouse.
Manipulator berfungsi untuk menjangkau target dalam koordinat tiga dimensi.
Tujuan dari penelitian ini yaitu memodifikasi mekanisme link horizontal pada
manipulator agar lebih fleksibel dalam menjangkau target dan merubah sistem
interface ke Arduino Mega 2650. Penelitian ini meliputi modifikasi prototipe,
pembuatan logika pemrograman, serta pengujian manipulator hasil modifikasi
dengan menggunakan variasi pembebanan dan kecepatan motor listrik. Hasil
pengujian menunjukkan dapat menjangkau target dalam koordinat tiga dimensi
dengan jangkauan maksimum 722,2 mm ke arah sumbu x positif, 800 mm ke arah
sumbu x negatif, 800 mm ke arah sumbu y positif dan 506 mm ke arah sumbu y
negatif. Sedangkan jangkauan maksimum dan minimum manipulator pada sumbu z
adalah 1104 mm dan 321 mm. Hasil penelitian terbaik terdapat pada kecepatan motor
130 pwm dan pembebanan 200 gram (118,4 derajat per detik pada motor DC joint 2,
dan 233,0 derajat per detik pada motor DC joint 3). Error yang didapatkan sebesar
11,40 mm pada sumbu x, 11,10 mm pada sumbu y, dan 9,80 mm pada sumbu z.
Error pada manipulator disebabkan karena tidak adanya sistem pengereman pada
motor listrik sehingga terjadi momen gaya yang mengakibatkan simpangan pada
sudut joint 2 dan joint 3
Perbandingan Daya Saing dan Determinan Ekspor Minyak Sawit dan Produk Turunannya dari Indonesia ke Asia Selatan, Timur Tengah, dan Asia Tengah.
Asia adalah kawasan potensial bagi ekspor minyak sawit dan produk turunan
Indonesia. Namun, distribusi ekspor komoditi terkait yang belum merata menjadi
salah satu masalah ekonomi nasional. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis daya saing serta determinan ekspor minyak sawit dan produk
turunan Indonesia ke Asia Selatan, Timur Tengah dan Asia Tengah. Hal ini
bertujuan untuk menentukan wilayah yang dapat dijadikan pasar non-tradisional.
Metode analisis yang digunakan yaitu Revealed Comparative Advantage (RCA),
dan gravity model. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Timur Tengah
memiliki daya saing yang paling kuat. Hasil gravity model menunjukan faktor
yang signifikan memengaruhi ekspor adalah populasi dan PDB Nominal negara
tujuan, jarak ekonomi, nilai tukar riil, dan ekspor harga CPO
Sintesis Nanopartikel ZnO dengan Stabilisator Nonilfenol Etoksilat dan Aplikasinya sebagai Pigmen Coating Antikorosif
Zink oksida (ZnO) merupakan material yang telah lama digunakan dalam
industri cat organik karena memiliki sifat yang ramah lingkungan. Nanopartikel
ZnO disintesis dengan metode presipitasi dengan tambahan surfaktan nonilfenol
etoksilat sebagai stabilisator. Pencirian dengan difraksi sinar X menunjukkan
keberadaan puncak-puncak khas yang serupa dengan partikel ZnO dalam keadaan
curah dengan ukuran dimensi 18-50 nm. Nanopartikel ZnO sebagai inhibitor korosi
mampu meningkatkan kinerja cat dalam menghambat terjadinya korosi. Efektivitas
inhibisi korosi cat dengan nanopartikel ZnO mencapai 99.13% pada komposisi
nanopartikel 3% dengan aplikasi cat 6 lapis. Peningkatan komposisi nanopartikel
ZnO dalam cat yang berlebih dapat memengaruhi sifat fisik cat dalam hal kekasaran
dan rendahnya elastisitas coating
Produksi Nanoselulosa dari Limbah Padat Pengolahan Agar melalui Metode Hidrolisis Asam dengan Akselerasi Gelombang Ultrasonik
Nanoselulosa merupakan nanomaterial multifungsi yang dapat diaplikasikan pada berbagai bidang. Salah satu sumber potensial nanoselulosa adalah limbah padat agar yang mengandung selulosa tinggi dan rendah lignin. Produksi nanoselulosa melalui hidrolisis asam dengan akselerasi gelombang ultrasonik menarik dilakukan karena dapat mereduksi durasi hidrolisis. Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi dan karakterisasi nanoselulosa dari limbah padat agar melalui hidrolisis asam dengan akselerasi gelombang ultrasonik berdasarkan durasi hidrolisis berbeda. Penelitian ini meliputi karakterisasi dan preparasi limbah agar, ekstraksi selulosa, dan hidrolisis nanoselulosa yang dilakukan pada durasi hidrolisis 30, 60, dan 120 menit. Karakteristik nanoselulosa memiliki mikrostruktur permukaan dengan bentuk beragam, ukuran partikel antara 24.91-28.87 nm, dan ukuran kristal 0.71-3.57 nm. Perlakuan durasi waktu hidrolisis 60 menit memberikan nilai derajat putih terbaik dengan nilai 87.26% serta menghasilkan rendemen 76.19% dan derajat kristalinitas 35.08%
Sebaran Nitrogen Inorganik Terlarut dan Model Eutrofikasi Dinamis di Perairan Teluk Jakarta
Meningkatnya jumlah penduduk di Jakarta hingga 15 328 jiwa/km2 dan laju
pertumbuhan 1,07% (BPS 2015), telah menyumbangkan beban DIN ke Teluk
Jakarta pada tahun 2016 kurang lebih 1 900 ton/bulan. Hal ini tentu saja akan
menyebabkan terjadinya pengkayaan nutrien di teluk. Pengkayaan nutrien di
lingkungan perairan memiliki dampak positif, namun pada tingkatan tertentu juga
dapat menimbulkan dampak negatif.
Eutrofikasi terjadi akibat pengkayaan nutrien baik secara natural maupun
artifisial ke dalam perairan. Laju eutrofikasi akan semakin cepat dengan adanya
aktivitas manusia. Menurut Koropitan et al. (2009), kawasan Teluk Jakarta
merupakan perairan yang paling subur di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis sebaran spasial-temporal beban nitrogen inorganik terlarut (DIN) dan
mengestimasi dinamika model eutrofikasi yang terjadi di Teluk Jakarta dalam
waktu tertentu yang akan dikaitkan dengan beban DIN di teluk. Pemodelan
dilakukan dengan menghitung beban nutrien yang diterima oleh sungai-sungai di
Jakarta dan beban total nutrien khususnya nitrogen inorganik terlarut (DIN) yang
diterima Teluk Jakarta. Penelitian dilakukan pada Juli hingga Oktober 2017 di
perairan Teluk Jakarta. Contoh air diambil pada 15 stasiun yang mewakili daerah
muara sungai, barat, tengah, dan timur teluk. Analisis sebaran nitrogen dilakukan
dengan ArcGIS 10.2.2. Pendugaan status kesuburan dilakukan dengan Indeks TRIX.
Model eutrofikasi dinamis dibentuk dengan perangkat lunak STELLA 9.02.
Pola sebaran amonium di perairan Teluk Jakarta cenderung tinggi pada
daerah muara dan mengalami penurunan menuju ke arah laut lepas pada setiap
waktu pengamatan. Secara temporal, sebaran konsentrasi amonium tertinggi berada
di bulan Juli dan September, sebaran terendah berada di bulan Agustus. Secara
temporal, pada bulan Juli dan Agustus penyebaran nitrit cenderung lebih tinggi
dibandingkan pada bulan September dan Oktober. Sedangkan secara spasial,
penyebaran nitrit tinggi pada wilayah timur menuju ke arah tengah Teluk Jakarta
dan semakin menurun ke stasiun-stasiun yang berada di wilayah laut lepas bagian
barat. Penyebaran nitrat cenderung lebih tinggi pada bulan September dan Oktober.
Sedangkan secara spasial, pola penyebaran nitrat menunjukkan bahwa pada
wilayah timur hingga tengah Teluk Jakarta menghasilkan kontur yang semakin
rapat.
Status kesuburan hipertrofik terjadi pada daerah pesisir, dilanjutkan ke level
eutrofik ke arah tengah teluk, dan mesotrofik pada wilayah laut lepas. Simulasi
model eutrofikasi di wilayah pesisir dan laut menunjukkan terjadinya peningkatan
selama kurun waktu 10 tahun mendatang. Sehingga skenario yang digunakan pada
model ini adalah dengan pengurangan nitrogen yang menghasilkan efisiensi sebesar
46% terhadap reduksi nitrogen
Analisis Risiko Usaha Selada Hidroponik pada Syaugi Lettuce Farm Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Indikasi adanya risiko pada suatu perusahaan dapat dilihat dari fluktuasi
produktivitas yang dihasilkan. Syaugi Lettuce Farm sebagai salah satu perkebunan
hidroponik selada juga mengalami fluktuasi yang mengindikasikan risiko. Oleh
karena itu sangat penting untuk dikaji sumber dan tingkat risiko yang dihadapi oleh
Syaugi Lettuce Farm serta strategi dalam menangani risiko tersebut. Tujuan
penelitian ini adalah mengetahui sumber-sumber risiko produksi, menganalisis
probabilitas sumber-sumber risiko dengan metode Z-score, menganalisis dampak
sumber-sumber risiko dengan metode Value at Risk, dan merumuskan alternatif
strategi sumber-sumber risiko di Syaugi Lettuce Farm. Sumber risiko yang
ditemukan pada penelitian ini adalah input, sumber daya manusia, pemasaran dan
penyakit. Hasil pemetaan risiko menunjukkan bahwa ada dua jenis strategi
manajemen risiko yaitu strategi preventif dan strategi mitigasi. Sumber risiko yang
sebaiknya diutamakan dalam melakukan majemen risiko adalah sumber daya
manusia dan pemasaran, dikarenakan faktor pemasaran dan sumber daya manusia
merupakan sumber risiko yang memiliki kemungkinan dan dampak paling besar
Pendugaan Parameter Model Regresi Terboboti Geografis Kekar pada Data Produk Domestik Regional Bruto di Jawa Timur
Regresi Terboboti Geografis (RTG) merupakan metode pendugaan parameter regresi yang dapat menangani adanya perbedaan karakteristik berdasarkan lokasi amatan. Perbedaan karakteristik ini mengakibatkan adanya keragaman antar lokasi amatan (spasial). Pendugaan parameter regresi dengan RTG menghasilkan model regresi yang bersifat lokal untuk setiap lokasi amatan, yang diakibatkan oleh adanya pembobot spasial dalam proses pendugaan parameternya. Beberapa kasus data, tidak terkecuali data spasial dimungkinkan memuat data yang sangat berbeda dari data pada umumnya atau disebut pencilan. Pencilan pada data yang diamati berdasarkan wilayah/lokasi dipengaruhi oleh jarak. Pencilan yang dimaksud adalah adanya lokasi amatan yang mempunyai karakteristik yang sangat berbeda dengan karakteristik dari lokasi pada umumnya.
Pencilan pada data spasial tidak dapat dihilangkan dari proses pendugaan. Hal ini dikarenakan setiap lokasi amatan, tidak terkecuali data yang teridentifikasi sebagai pencilan, mempunyai pengaruh terhadap lokasi sekitarnya. Metode lain dalam menangani pencilan adalah dengan pembobotan berulang. Regresi kekar (RK) merupakan metode regresi yang proses pendugaan parameternya menggunakan pembobotan berulang. Dua metode lain yang juga menggunakan pembobotan berulang adalah RTG kekar (RTGK) penduga-M dan RTGK penduga-S. Penelitian ini bertujuan menerapkan serta membandingkan beberapa model regresi. Model-model regresi yang digunakan dan dibandingkan adalah model regresi dengan metode kuadrat terkecil (MKT), RK penduga-M, RK penduga-S, RTG, RTGK penduga-M, dan RTGK penduga-S. Keenam model tersebut diterapkan pada data PDRB atas dasar harga konstan 2010 di Provinsi Jawa Timur tahun 2015 beserta peubah jumlah angkatan kerja (JAK), indeks pembangunan manusia (IPM), dan upah minimum regional kabupaten/kota (UMK).
Berdasarkan nilai korelasi Pearson, peubah penjelas IPM mempunyai nilai korelasi terkecil, sedangkan nilai korelasi dari peubah penjelas JAK dan UMK tidak jauh berbeda. Selain itu, hasil pengujian Breusch Pagan menunjukkan bahwa data PDRB beserta peubah-peubah penjelas mengindikasikan adanya keragaman spasial, sedangkan pendeteksian pencilan dilakukan dengan melihat plot nilai duga terhadap sisaan dari model RTG, yang memperlihatkan Kota Surabaya sebagai pencilan. Hasil pemodelan RTG, RTGK penduga-M, dan RTGK penduga-S memperlihatkan adanya kabupaten/kota yang mempunyai penduga parameter yang bernilai negatif.
Model-model regresi yang telah terbentuk dibandingkan berdasarkan keragaman sisaannya yang kemudian dipilih model terbaik berdasarkan nilai mean absolute deviation (MAD). Model RTGK baik penduga-M maupun penduga-S menghasilkan keragaman sisaan yang terkecil dibandingkan dari model lainnya. Nilai MAD menunjukkan bahwa model RTGK penduga-M adalah model terbaik untuk digunakan pada kasus ini.
Hasil pendugaan nilai PDRB dari model RTGK penduga-M menunjukkan ketidakbiasan, yang dapat dilihat dari sebagian kabupaten/kota mempunyai nilai dugaan yang melebihi nilai aktualnya dan sebagian kabupaten/kota yang lainnya
mempunyai nilai dugaan PDRB yang tidak melebihi nilai aktualnya. Pengujian parameter dari model RTGK penduga-M memperlihatkan adanya keragaman berdasarkan peubah penjelas yang berpengaruh nyata untuk tiap kabupaten/kota. Peubah penjelas yang berpengaruh nyata dikelompokkan menjadi tujuh kelompok, yaitu peubah JAK (X1); peubah UMK (X3); peubah JAK dan IPM (X1, X2); peubah JAK dan UMK (X1, X3); peubah IPM dan UMK (X2, X3); peubah JAK, IPM, dan UMK (X1, X2, X3), serta tidak ada peubah yang berpengaruh nyata. Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo merupakan dua daerah yang nilai PDRB dipengaruhi oleh ketiga peubah penjelas. Adanya kabupaten/kota yang tidak mempunyai peubah penjelas yang berpengaruh nyata terhadap nilai PDRB sangat dimungkinkan karena keterbatasan penggunaan peubah penjelas, atau dengan kata lain, terdapat peubah lain yang mempunyai pengaruh yang nyata. Kabupaten/kota yang terletak berdekatan dengan Kota Surabaya, cenderung mempunyai peubah penjelas yang berpengaruh nyata, sedangkan daerah-daerah yang terletak berjauhan dengan Kota Surabaya, sebagian besar tidak mempunyai peubah penjelas yang berpengaruh nyata. Dengan demikian, metode RTGK penduga-M menghasilkan model yang dapat mereprentasikan nilai PDRB di Provinsi Jawa Timur beserta peubah JAK, IPM, dan UMK yang terindikasi terdapat keragaman spasial dan terdapat pencilan