Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Aktivitas Antioksidan dan Kandungan Total Fenolik serta Flavonoid Ekstrak Etanol Tanaman Krokot (Portulaca grandiflora Hook.)

    No full text
    Antioksidan diperlukan untuk menangkal radikal bebas dalam tubuh serta stress oksidatif yang mendorong proses penuaan dan berbagai penyakit degeneratif. Portulaca grandiflora Hook. diketahui memiliki potensi sebagai antioksidan. Perbedaan fungsi organ tanaman menyebabkan perbedaan jalur biosintesis kandungan fitokimia yang terdapat pada tiap organ tanaman. Hal ini dapat mempengaruhi aktivitas antioksidannya. Penelitian ini bertujuan mengukur kandungan total fenolik dan flavonoid pada organ daun, batang tua, batang muda, dan bunga dari tanaman krokot (Portulaca grandiflora Hook.) yang diekstrak menggunakan etanol 96% dan menentukan aktivitas antioksidan dari ekstrak tersebut dengan uji DPPH (2,2-difenil-1-pikrihidrazil). Ekstrak etanol krokot mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang berbeda tiap organ tanaman. Kandungan total fenolik dan flavonoid paling tinggi terdapat pada ekstrak etanol daun krokot yaitu, sebesar 113.26 ± 3.85 mg GAE/g dan 97.99 ± 1.28 mg QE/g. Ekstrak etanol batang tua krokot tergolong antioksidan sedang dengan nilai IC50 122.15 ± 1.30 ppm

    Model Perilaku Wisatawan pada Desa Wisata

    No full text
    Pertumbuhan industri pariwisata telah mempengaruhi berkembangnya destinasi wisata baru dengan beragam aktivitasnya, dan mendorong inisiatif masyarakat untuk mengembangkan daerahnya hingga ke pelosok desa. Kegiatan ekowisata dapat mendorong kegiatan konservasi alam dan budaya, serta mendorong pemenuhan kebutuhan berwisata. Pola perilaku wisatawan perlu dianalisis untuk dapat mengelola dengan baik kunjungan wisatawan ke destinasi dan untuk mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan. Pengembangan desa wisata sebagai destinasi berbasis ekowisata yang berkelanjutan perlu adanya perhatian terhadap beberapa aspek psikologis yang mengiringi kebutuhan untuk berwisata dan pemilihan destinasinya, antara lain persepsi, motivasi dan preferensi wisatawan. Selanjutnya, aspek-aspek tersebut dielaborasikan dengan tujuh pilar pengembangan ekowisata, yang kemudian dapat dipetakan pola perilaku (behavior patterns) wisatawan. Permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang model perilaku wisatawan pada destinasi desa wisata untuk memperoleh pengalaman, kepuasan, kenangan dan pendidikan, serta memberikan manfaat ekologi, sosial-budaya, dan ekonomi kepada masyarakat. Penelitian ini menganalisis perilaku wisatawan di desa wisata dengan mengacu pada proses perilaku 3 tahap berwisata yaitu sebelum aktivitas berwisata (pre-activity), aktivitas selama berwisata (on-going activity), dan aktifitas setelah berwisata (post-activity). Kegiatan sebelum berwisata terdiri dari aspek persepsi awal, motivasi, dan preferensi terhadap desa wisata sebagai pilihan tujuan. Aktivitas selama berwisata dianalisis dengan mengamati perilaku wisatawan di desa wisata selama berwisata, dan kegiatan setelah berwisata dianalisis dengan menyelidiki persepsi akhir, kepuasan, dan keinginan untuk kembali mengunjungi desa wisata. Instrumen penelitian ini adalah kuesioner tertutup dengan metode One Score- One Indicator Scoring System. Kuesioner berisi 7 kriteria seputar pariwisata pedesaan seperti budaya material, budaya immaterial, kondisi alam pedesaan, kegiatan masyarakat pedesaan, karakteristik warga desa, atmosfir suasana desa, dan ekonomi masyarakat. Analisis data dilakukan dengan metode statistik korelasi dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahapan Pre-Activity variabel Persepsi awal memiliki skor yang paling tinggi yaitu 5,22 diikuti oleh skor Motivasi sebesar 4,99 dan skor Preferensi 4,84. Secara umum penilaian sikap pengunjung pada tahap Pre-Activity ini memiliki skor yang positif dengan nilai > 4 (dengan rentang nilai 1 – 7 point). Para pengunjung yang rata – rata adalah kaum terpelajar diduga sudah memiliki pengetahuan yang cukup baik tentang bagaimana perilaku berwawaskan lingkungan di desa wisata. Pada tahap On-Going Activity skor perilaku pengunjung di desa wisata menunjukkan skor yang cukup tinggi yaitu > 6 dengan trend yang positif dari perilaku pada kondisi 1 (on going 1) sampai dengan pada kondisi 3 (on going 3). Skor On-Going Activity berturut – turut adalah 6,45 pada kondisi I, 6,47 pada kondisi II, dan 6,49 pada kondisi III. Berdasarkan skor On-Going Activity dapat disampaikan bahwa secara umum para pengunjung di desa wisata sudah menunjukkan perilaku yang berwawaskan lingkungan. Selanjutnya pada tahap Post-Activity skor perilaku pengunjung yang terdiri dari persepsi akhir, kepuasan dan keinginan untuk berkunjung kembali juga menunjukkan skor yang positif. Pada variabel persepsi akhir diperoleh skor 5,26 dimana terdapat penambahan 0,04 point dari persepsi awal. Nilai kepuasan pengunjung adalah 5,00 atau dapat dikatakan cukup tinggi. Sedangkan skor keinginan untuk kembali juga bernilai cukup tinggi yaitu 4,98. Pada hasil pendugaan persamaan kepuasan pengunjung di desa wisata dan keinginan untuk kembali (willingness to repeat ) diperoleh persamaan regresi sebagai berikut : Kepuasan wisatawan = 1.564 -0.0740 persepsi + 0.324 motivasi + 0.215 preferensi - 0.429 on-going 1 - 0.249 on-going 2 + 0.476 on-going 3 + 0.4660 persepsi akhir. Variabel yang memberikan pengaruh signifikan terhadap kepuasan pengunjung adalah motivasi, preferensi dan persepsi akhir. Selanjutnya hasil analisis regresi terhadap keinginan untuk kembali (willingness to repeat) adalah Willingness to repeat = -1.896 - 0.076 persepsi + 0.037 motivasi + 0.328 preferensi + 0.057 post perception + 0.07 on going 1 + 0.302 on going 2 + 0.044 on going 3 + 0.502 kepuasan. Variabel preferensi dan kepuasan merupakan variabel yang signifikan mempengaruhi keinginan untuk kembali Hasil analisis korelasi terhadap variabel pre-activity, on-going activity dan post-activity, menunjukkan bahawa variabel pada tahap pre-activity, berkorelasi positif terhadap variabel post-activity, sedangkan pada tahap on-going activity, tidak menunjukkan korelasi yang signifikan. Ditinjau dari aspek gender, nampak bahwa wisatawan perempuan menunjukkan aktivitas yang lebih ramah lingkungan dan mematuhi tata nilai desa wisata. Dari 512 potensi perilaku yang telah terpola dalam penelitian ini, menghasilkan 46 pola perilaku yang terobservasi. Selanjutnya perlu adanya upaya untuk membangun persepsi wisatawan tentang desa wisata, mengembangkan sumber daya dan mengelola perilaku wisatawan untuk mengembangkan pariwisata pedesaan sebagai tujuan ekowisata

    Pemetaan Perubahan Garis Pantai Menggunakan Citra Landsat di Pesisir Kabupaten Jepara.

    No full text
    Garis pantai mengalami perubahan secara terus menerus yang diakibatkan oleh fenomena alami maupun aktivitas manusia. Teknologi penginderaan jauh secara efektif dapat digunakan untuk mengukur dan memetakan perubahan garis pantai. Tujuan penelitian ini adalah memetakan perubahan garis pantai menggunakan citra satelit dengan metode Digital Shoreline Analysis System (DSAS) di Kabupaten Jepara. Ekstraksi garis pantai dilakukan dengan menggunakan metode NDVI dan Tasseled Cap. Metode NDVI menggunakan komposit band merah dan near infrared (NIR). Sementara itu, proses Tasseled Cap menggunakan komposit band biru, hijau, merah, near infrared (NIR), short wave infrared-1 (SWIR-1), dan short wave infrared-2 (SWIR-2). Laju perubahan garis pantai dianalisis menggunakan DSAS dengan metode End Point Rate (EPR). Hasil analisis menunjukkan bahwa perubahan garis pantai di pesisir Kabupaten Jepara disebabkan oleh proses abrasi. Abrasi terbesar pada periode 2008-2018 terjadi di Kecamatan Kedung, yaitu sebesar 1380.12 m dengan laju perubahan 144.667 m/tahun

    Tingkat Kepuasan Nelayan Terhadap Pelayanan Fasilitas Kebutuhan Melaut di Pelabuhan Perikanan Pantai Ciparage Karawang

    No full text
    Langkanya ketersediaan barang kebutuhan pokok untuk melaut seperti Bahan Bakar Minyak (BBM), air bersih, dan es menjadi permasalahan yang kerap ditemukan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Ciparage. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan jenis dan kondisi aktual serta menilai tingkat kepuasan nelayan terhadap fasilitas kebutuhan melaut di PPP Ciparage. Data yang dikumpulkan terhadap kepuasan nelayan mencakup 3 dimensi keandalan yang memuat 23 atribut pertanyaan. Metode yang digunakan meliputi analisis deskriptif kualitatif, uji validitas dan reliabilitas, analisis Customer Satisfaction Index (CSI), Importance Performance Analisis (IPA), dan analisis kesenjangan (GAP). Hasil uji validitas menunjukkan bahwa terdapat 17 pertanyaan valid untuk elemen es, 21 pertanyaan valid untuk elemen BBM, dan 21 pertanyaan valid untuk elemen air. Berdasarkan hasil analisis Customer Satisfaction Indeks (CSI) didapatkan nilai 74% dan 79% untuk elemen es dan BBM yang berarti nelayan puas, nilai CSI air sebesar 85% yang berarti nelayan sangat puas. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa kualitas kinerja PPP Ciparage belum memenuhi kebutuhan dan keinginan nelayan

    Pemberdayaan Masyarakat Melalui Penyadapan Getah Pinus Di Resort Gunung Koneng Taman Nasional Gunung Halimun Salak

    No full text
    Zona tradisional pada Resort Gunung Koneng Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dapat diakses masyarakat setempat melalui penyadapan getah pinus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis produktivitas, pendapatan dan kontribusi penyadapan getah pinus bagi masyarakat. Penelitian ini menggunakan dua metode sadap yaitu metode bor dan metode quarre. Terdapat empat perlakuan yang diberikan yaitu kontrol, H2SO4 14%, Etrat, dan campuran Etrat + H2SO4 10%. Produktivitas tertinggi pada metode bor dengan penggunaan stimulansia campuran Etrat + H2SO4 10% sebesar 3.06 g/lubang/hari, sedangkan pada metode quarre dengan penggunaan stimulansia campuran Etrat + H2SO4 10% sebesar 7.64 g/quarre/hari. Saat ini status penyadap masih sebagai buruh. Pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk menjadikan masyarakat dapat berperan sebagai buruh dan pengelola areal sadapan sendiri. Berdasarkan penelitian yang dilakukan penyadapan getah pinus belum dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga penyadap baik sebagai buruh, pengelola dan buruh sekaligus pengelola

    Pengaruh Keputusan Investasi terhadap Kinerja Perusahaan Sektor Pertanian dalam Mekanisme Agency Problem dan Corporate Governance

    No full text
    Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang memiliki peran penting dalam memasok kebutuhan pangan masyarakat, menyerap tenaga kerja, meningkatkan perekonomian nasional, dan penerimaan devisa negara. Dalam delapan tahun terakhir, perusahaan sektor pertanian mengalami peningkatan aset tetap yang mencerminkan meningkatnya keputusan investasi. Namun, peningkatan keputusan investasi yang terdapat pada emiten sektor pertanian tidak diikuti oleh peningkatan kinerja perusahaan. Tidak efisiennya keputusan investasi diduga disebabkan oleh gejala agency problem, yaitu konflik antara manajer dan pemegang saham yang mendorong manajer melakukan investasi pada proyek yang hanya meningkatkan kesejahteraan pribadinya. Beberapa penelitian terdahulu mengaitkan agency problem dengan nilai FCF. FCF merupakan arus kas lebih yang kerap disalahgunakan oleh manajer pada proyek investasi yang tidak memberikan keuntungan bagi perusahaan. Oleh karena itu diperlukanlah penguatan CG sebagai sebagai mekanisme yang dapat memantau tindakan para manajer dan mengurangi adanya agency problem. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh keputusan investasi, FCF dan CG terhadap kinerja perusahaan pada emiten sektor pertanian yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2010-2017. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan keuangan tahunan perusahaan sektor pertanian. Jumlah sampel penelitian adalah 146 perusahaan yang dipilih berdasarkan teknik pengambilan sampel purposive sampling dengan pertimbangan tertentu. Teknik pengolahan data dilakukan dengan Structural Equation Modelling (SEM), dengan bantuan perangkat lunak AMOS. Hasil penelitian menunjukkan yaitu investasi berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan, belum optimalnya keputusan investasi yang dibuat oleh perusahaan. FCF berpengaruh secara positif terhadap kinerja perusahaan, membuktikan ketersediaan FCF dimanfaatkan pada aktivitas yang selaras dengan tujuan perusahaan yang kemudian berdampak pada peningkatan kinerja perusahaan. Selain itu, FCF diketahui tidak berpengaruh secara nyata terhadap kinerja perusahaan melalui keputusan investasi, sehingga penurunan kinerja perusahaan tidak disebabkan oleh penggunaan FCF untuk keputusan investasi perusahaan. Mekanisme CG diketahui masih belum efektif memengaruhi kinerja perusahaan, terdapat indikasi penerapan CG hanya dilakukan untuk memenuhi ketentuan regulasi yang ditetapkan oleh lembaga tertentu. CG memiliki pengaruh nyata terhadap kinerja perusahaan melalui mediasi keputusan investasi, yaitu menunjukkan penurunan kinerja perusahaan disebabkan rendahnya peranan CG dalam memonitoring keputusan investasi perusahaan, sehingga menyebabkan menurunnya kinerja perusahaan

    Pengaruh Gaya Pengasuhan dan Kontrol Diri terhadap Perilaku Mengakses Situs Pornografi pada Remaja di Perkotaan

    No full text
    Kemajuan teknologi membuat pornografi menjadi lebih mudah diakses. Perilaku mengakses pornografi banyak memiliki dampak negatif terutama jika diakses oleh anak dan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya pengasuhan dan kontrol diri terhadap perilaku mengakses situs pornografi pada remaja di perkotaan. Lokasi penelitian yakni SMK X di Kota Bogor dengan melibatkan 100 siswa yang terdiri dari 58 siswa laki-laki dan 42 siswa perempuan. Pemilihan sekolah dilakukan secara purposive sedangkan pemilihan contoh dilakukan secara random sampling. Kriteria contoh pada penelitian ini adalah remaja berusia 15-18 tahun. Data dikumpulkan dengan teknik self administered questionnaire menggunakan kuesioner. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan negatif signifikan antara jenis kelamin, pendidikan ibu, kontrol diri, dan perilaku mengakses situs pornografi pada remaja. Begitu pula dengan hasil uji regresi yang menunjukkan bahwa jenis kelamin, pendidikan ibu, dan kontrol diri berpengaruh negatif signifikan terhadap perilaku mengakses situs pornografi pada remaja

    Suplementasi Vitamin E dalam Pakan yang Mengandung Minyak Ikan Lemuru terhadap Persentase Karkas dan Non Karkas Ayam Broiler

    No full text
    Vitamin E dalam pakan yang mengandung minyak ikan lemuru berfungsi sebagai antioksidan untuk mencegah terjadinya peroksida lipid sehingga dapat memaksimalkan pertumbuhan dan meningkatkan persentase karkas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi suplementasi vitamin E dalam pakan yang mengandung minyak ikan lemuru terhadap persentase karkas dan non karkas ayam broiler. Ternak yang digunakan yaitu ayam broiler strain Lohman sebanyak 400 ekor dan dibagi kedalam lima perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan terdiri dari T0 (pakan kontrol), T1 (pakan dengan 3% minyak ikan lemuru), T2 (pakan dengan 3% minyak ikan lemuru+80 IU vitamin E), T3 (pakan dengan 3% minyak ikan lemuru+100 IU vitamin E) dan T4 (pakan dengan 3% minyak ikan lemuru+120 IU vitamin E). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi vitamin E dalam pakan yang mengandung minyak ikan lemuru tidak berpengaruh nyata terhadap persentase potongan komersial, persentase non karkas, dan rasio daging tulang. Suplementasi vitamin E 80 IU dalam pakan yang mengandung 3% minyak ikan lemuru paling efektif bekerja sebagai antioksidan dan menghasilkan persentase bobot karkas sama dengan pemberian minyak CPO 3%

    Pengembangan Guideline Literasi Digital Menuju Smart City Berdasarkan Bc’s Digital Literacy Framework

    No full text
    Smart city atau kota pintar adalah konsep pemanfaatan teknologi informasi untuk mendorong pemerintah menciptakan layanan yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. Di Indonesia sendiri penerapan smart city telah banyak diimplementasikan oleh berbagai kota besar seperti Jakarta, Bogor, Surabaya dan Bandung. Namun berdasarkan laporan IESE cities in Motion index pada tahun 2016, Indonesia yang diwakilkan Jakarta hanya berada pada posisi 156 dari 180 negara yang berhasil menerapkan konsep smart city. Menurut Kominfo (2016) masih terdapat kesenjangan teknologi mengenai cara pandang masyarakat terhadap pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian yang menunjukan rendahnya tingkat literasi teknologi informasi dan komunikasi masyarakat juga telah banyak dilkakukan. Kondisi ini perlu menjadi perhatian bagi pemerintah dan salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan masyarakat pembekalan mengenai digital literacy. Digital literacy merupakan kemampuan penggunakan teknologi dan informasi dalam berbagai format maupun berbagai sumber yang berasal dari piranti digital. National Library New Zeland (2016) menjelaskan bahwa untuk menciptakan masyarakat yang memiliki kemampuan digital literacy dibutuhkan pendekatan yang terkoordinasi dan menyeluruh. Kelompok yang terampil diperlukan untuk melakukan hal ini dan perpustakaan adalah salah satu solusi terbaik untuk menjawab permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan guideline pelatihan digital literasi di perpustakaan untuk membentuk masyarakat yang melek terhadap teknologi, sehingga konsep smart city yang telah dicanangkan oleh pemeritah dapat berjalan dengan maksimal. Penelitian ini juga diharapkan menjadi strategi pemerintah dalam mengurangi kesenjangan penggunaan teknologi digital antara masyarakat kota dengan masyarakat kabupaten. Pelatihan didesain dengan metode blended learning yaitu menggabungkan pembelajaran tatap muka dan memanfaatkan jaringan internet sebagai sarana penyampaian bahan ajar (modul) yang telah diubah ke format digital. Pelatihan ini ditunjukkan untuk masyarakat dengan kelompok usia 26-35 tahun dan kelompok usia 36-45 tahun. Penyelenggara pelatihan adalah perpustakaan pemerintah, perpustakaan swasta atau organisasi masyarakat yang bergerak dalam bidang literasi. Topik pelatihan mengacu pada BC’s Digital literacy framework (2015) yaitu Research and Information Literacy, Critical Thinking, Digital Literacy, Creativity and Innovation, Communication and Collaboration, dan Technology Operation and Concepts. Terdapat 3 tahapan utama dalam penelitian ini yaitu, merumuskan guideline, membuat prototype e-learning dan evaluasi produk kepada pengguna. Pada tahapan pertama yaitu perumusan guideline, terdiri dari pembuatan Garis-garis Besar Pelatihan (GGBP) dan modul digital literacy. GGBP telah disusun dengan sistematik yakni mencakup deskripsi materi, tujuan, pokok bahasan, metode dan media, serta sumber bahan yang diperlukan untuk pelatihan. Proses pembelajaran pada GGBP membutuhkan 7 sesi atau 840 menit pembelajaran tatap muka. Metode pembelajaran yang digunakan adalah ceramah, diskusi, praktek dan tugas. Indikator keberhasilan yang diharapkan adalah peserta pelatihan memiliki kemampuan untuk menemukan informasi, mengakses informasi, mengevaluasi informasi, berfikir kritis, kreatif dan inovatif, paham konsep teknologi serta menggunakan informasi sesuai etika dan isu yang berlaku di dunia digital (Digital Citizenship). Modul pada guideline disusun dengan studi literatur. Terdapat 6 modul dengan topik : literasi informasi (5 halaman), berpikir kritis, pemecahan masalah dan membuat keputusan (4 halaman), warga digital (10 halaman), kreativitas dan inovasi (4 halaman), komunikasi dan kolaborasi (3 halaman) dan konsep pengoperasian teknologi (6 halaman). Setiap modul berisi pembahasan materi, contoh-contoh soal dan referensi. Penulis juga menyusun contoh materi ajar dalam bentuk PDF dan PPT untuk modul Warga Digital dengan topik Cyberbullying. Selanjutnya, penyusunan guideline dan modul menunjukan alur pelatihan yang terdiri dari (1) Mengadakan pre-test online sebagai evaluasi awal untuk mengetahui kemampuan peserta sebelum mengikuti pelatihan, (2) Melaksanakan pelatihan yang terdiri dari penyampaian teori sebagai pengantar pembelajaran, praktek penggunaan teknologi, menganalisa kasus-kasus dalam lingkungan digital, dan menciptakan sebuah produk dari media digital. dan (3) Pada akhir setiap sesi peserta melaksanakan kuis akhir menggunakan platform elearning digital literacy. Pada tahapan kedua yakni membangun prototype e-learning dengan aplikasi Moodle. Terdapat 4 menu yang disediakan untuk pengguna yaitu log-in, course, lesson dan quiz. Akses e-learning difokuskan pada tiga pengguna yaitu admin, peserta dan pengajar. Perbedaan akses terletak pada tools registrasi pengguna yang hanya bisa lakukan oleh admin, menu upload dan membuat kuis untuk pengajar, serta menu unduh materi dan mengerjakan kuis untuk peserta pelatihan. Tahapan terakhir yaitu mengevaluasi guideline dan e-learning. Evaluasi dilakukan dengan analisis diskriptif. Pengguna yang dipilih sebanyak 10 responden diminta uji coba fitur e-learning dan mengisi kuesioner yang berisi pertanyaan mengenai efektifitas pelatihan. Selanjutnya data kuesioner diolah secara manual menggunakan skala likert untuk melihat reaksi pengguna. Pertanyaan pada kuesioner disusun berdasarkan model CIPP yaitu konteks (Context), masukan(Input), proses(Process) dan hasil (Product). Hasilnya, secara keseluruhan tanggapan responden adalah positif atau indikator pelatihan dianggap memuaskan. Hasil evaluasi juga menunjukkan jika masih terdapat beberapa kekurangan yaitu, masih sedikitnya format materi ajar pada aplikasi seperti gambar, video, dan audio serta kurangnya waktu penyelenggaraan pelatihan

    Pengembangan Model Learning Vector Quantization (LVQ) dengan Optimasi Hierarchical Clustering pada Pengenalan Bacaan Al-Quran per Suku Kata

    No full text
    Keterbatasan sumberdaya dalam mempelajari Al-Quran dengan benar dari seorang ahli tidak seimbang dengan banyaknya jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia. Membaca dan memahami Al-Quran menempati posisi yang sangat penting bagi umat Islam. Umat Islam juga dituntut untuk dapat membaca Al-Quran dengan benar sesuai hukum-hukum bacaannya, karena kesalahan membaca bisa saja merubah makna bacaannya. Untuk menghindari kesalahan dalam membaca Al-Quran maka pembelajaran harian Al-Quran sangat diperlukan. Benar salahnya bacaan Al-Quran dikoreksi oleh seorang pengajar Al-Quran. Bacaan Al-Quran diverifikasi berdasarkan hukum tajwid yang dituliskan oleh para cendikiawan muslim dari bagaimana Nabi Muhammad SAW mengajarkan Al-Quran. Penelitian ini melakukan pembuatan model klasifikasi pengucapan bacaan Al-Quran per suku kata dengan metode codebook, Learning Vector Quantization (LVQ) dan optimasi LVQ. Model yang dibentuk oleh ketiga metode tersebut digunakan untuk memverifikasi bacaan Al-Quran per suku kata. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa baik dan benarnya bacaan Al-Quran dapat diukur dari pengucapan suku kata. Hal ini dapat dilihat dari nilai kemampuan akurasi verifikasi yang diperoleh dalam penelitian ini, yaitu sebanyak 75%. Artinya suku kata cukup mewakili pengukuran kemampuan membaca Al-Quran. Adapun dari tiga metode yang digunakan dalam penelitian ini, metode pembentukan model dengan optimasi LVQ memberikan akurasi verifikasi yang lebih tinggi dibandingkan kedua metode lainnya. Pada metode codebook akurasi verifikasi sangat fluktuatif namun tidak signifikan meningkatkan akurasi, meski jumlah cluster yang dicobakan dalam penelitian ini mulai dari 5 cluster sampai 40 cluster. Adapun akurasi model verifikasi menggunkan model LVQ dapat meningkat lebih baik dibandingkan menggunakan model codebook, namun tidak lebih bagus dibandingkan model optimasi LVQ

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇