31665 research outputs found
Sort by
Keefektifan Pemberian Asam Humat dan Pupuk Hayati terhadap Pertumbuhan, Produksi dan Status Water Footprint Kakao (Theobroma cacao L.).
Produksi kakao di Indonesia menunjukkan penurunan yang salah satunya
disebabkan oleh penurunan luas area tanam. Salah satu usaha untuk meningkatkan
produksi adalah program intensifikasi, yaitu pemupukan. Aplikasi asam humat dan
pupuk hayati dapat digunakan sebagai salah satu langkah alternatif budidaya ramah
lingkungan sehingga dapat menjaga kesuburan tanah dan sumber daya air. Water
footprint merupakan indikator untuk menghitung penggunaan air pada setiap satuan
produksi. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk memahami peran asam
humat dan pupuk hayati dalam meningkatkan pertumbuhan, produksi dan status
water footprint kakao. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) memperoleh konsentrasi
asam humat dan pupuk hayati terbaik pada fase bibit, (2) memperoleh konsentrasi
asam humat dan pupuk hayati terbaik yang meningkatkan produksi tanaman kakao
tertinggi, (3) menghitung nilai water footprint tanaman kakao pada perlakuan
kombinasi asam humat dan pupuk hayati.
Penelitian dilakukan di Kebun Kaliwining Pusat Penelitian Kopi dan Kakao
Indonesia (PPKKI) di Jember, Jawa Timur. Penelitian dimulai pada bulan Juni 2017
hingga Januari 2018. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL)
pada Percobaan 1 dan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pada Percobaan 2 dan 3
dengan dua faktor yang disusun secara faktorial. Faktor pertama adalah konsentrasi
asam humat yang terdiri atas 5 taraf, yaitu 0, 1 000, 2 000, 3 000 dan 4 000 ppm.
Faktor kedua adalah konsentrasi pupuk hayati yang terdiri atas 5 taraf, yaitu 0, 500,
1 000, 1 500 dan 2 000 ppm. Dengan demikian terdapat 25 kombinasi perlakuan.
setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak lima kali pada Percobaan 1 dan tiga
kali pada Percobaan 2 dan 3. Data dianalisis menggunakan Anova pada Percobaan
1 dan Anakova pada Percobaan 2 dan 3 dilanjutkan dengan uji berganda Duncan.
Pemberian asam humat 4 000 ppm meningkatkan pertumbuhan bibit kakao
dengan peningkatan bobot kering total sebesar 13.4%. Penyemprotan pupuk hayati
sebesar 1 500 ppm meningkatkan pertumbuhan bibit kakao dengan peningkatan
bobot kering total sebesar 30.6%. Kombinasi pemberian asam humat 3 000 ppm
dan pupuk hayati 2 000 ppm meningkatkan pertumbuhan bibit kakao. Pemberian
asam 1 000 ppm meningkatkan produksi pentil kecil sehat pada tanaman
menghasilkan sebanyak 40.8% dibandingkan kontrol. Penyemprotan pupuk hayati
1 500 ppm meningkatkan produksi pentil, buah, biji pada tanaman menghasilkan
dengan peningkatan produktivitas sebanyak 30.6% dibandingkan kontrol.
Kombinasi pemberian asam humat dan pupuk hayati masing-masing 1 000 ppm
meningkatkan jumlah biji panen pada tanaman menghasilkan. Pemberian asam
humat dan pupuk hayati menurunkan water footprint produksi kakao tetapi secara
statistik tidak berpengaruh nyata
Peranan Tanaman Indigofera zollingeriana dan Tandan Kosong Sawit untuk Memperbaiki Lingkungan Tumbuh Tanaman Kelapa Sawit
Tumbuhan Indigofera sp. merupakan tanaman leguminose berbentuk perdu dan berdaun rimbun. Keunggulan Indigofera sp. adalah pertumbuhan daun dan cabang cepat berkembang sehingga sangat baik sebagai tanaman sela, penutup tanah, sumber bahan organik, stok karbon serta sebagai hijauan pakan ternak ruminansia bernutrisi tinggi. Keuntungan lain dengan penanaman Indigofera sp. di gawangan tanaman kelapa sawit menghasilkan adalah terciptanya perbaikan lingkungan tumbuh.
Permasalahan mendasar akibat terus berkembangnya kegiatan areal pertanian adalah perubahan lingkungan tumbuh yang semakin sub-optimal, baik karena terjadinya penurunan kesuburan tanah, maupun perubahan iklim. Permasalahan lain adalah terjadinya perubahan lingkungan karena kehilangan hara dan cekaman kekeringan pada lahan perkebunan. Mengingat besarnya kehilangan unsur hara akibat erosi pada musim hujan dan kekeringan saat kemarau, maka perlu dilakukan konservasi tanah dan air, salah satu upayanya adalah dengan konservasi secara vegetatif.
Penelitian terdiri atas dua percobaan, percobaan pertama adalah Adaptasi tanaman Indigofera zollingeriana pada berbagai tingkat naungan. Lingkungan budidaya dimodifikasi menggunakan paranet dengan intensitas naungan berbeda (0, 40, 65 dan 80%). Percobaan dilakukan selama 7 bulan berlokasi di Kebun Percobaan Leuwikopo yang dikelola oleh Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor. Tujuan percobaan adalah mengkaji batas daya adaptasi tanaman Indigofera zollingeriana terhadap berbagai tingkat naungan. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakuan menunjukkan bahwa indeks sensitivitas tanaman Indigofera zollingeriana tergolong tanaman yang medium adaptif toleran terhadap intensitas naungan sebesar 40%.
Penelitian kedua terdiri atas 2 sub-percobaan yaitu percobaan 2a dan 2b. Kedua percobaan berlokasi di Kebun Pendidikan dan Penelitian IPB Jonggol. Percobaan 2a terdiri atas dua perlakuan yaitu: 1). Penanaman Indigofera zollingeriana yang diberikan tandan kosong sawit, 2). Penanaman Indigofera zollingeriana yang tidak diberi perlakuan tandan kosong sawit. Kondisi lingkungan budidaya Indigofera zollingeriana di bawah tegakan kelapa sawit pada kisaran intensitas naungan 33-50% dilakukan selama 6 bulan. Tujuan percobaan 2a adalah untuk mengkaji potensi pertumbuhan, produksi dan kadar nutrisi tanaman Indigofera zollingeriana sebagai tananam sela. Hasil pengamatan Sub-percoban-2a menunjukkan bahwa tanaman Indigofera zollingeriana yang tanam dan diberi perlakuan tandan kosong sawit pada peubah morfologi, produksi maupun kadar nutrisi lebih tinggi dibanding dengan yang tidak diberikan tankos sawit.
Sub percobaan-2b terdiri atas lima satuan percobaan yaitu: 1). Petak percobaan yang vegetasinya dibiarkan secara alami, 2). Petak percobaan yang vegetasinya dibersihkan, 3). Petak percobaan yang ditanami Indigofera zollingeriana, 4). Petak percobaan yang diberikan tandan kosong sawit, 5). Petak
percobaan yang ditanami Indigofera zollingeriana dan diberikan tandan kosong sawit.
Penelitian bertujuan mengkaji pengaruh perlakuan terhadap perbaikan lingkungan tumbuh sehingga mendukung pertumbuhan dan produksi kelapa sawit menghasilkan, dilakukan selama 12 bulan. Berdasarkan hasil penelitian terhadap semua peubah pengamatan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa: Hasil penelitian Sub-Percobaan 2b menunjukkan bahwa perlakuan tandan kosong sawit dan Indigofera zollingeriana berpengaruh nyata dalam memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman sawit dengan meningkatnya pertumbuhan dan produksi kelapa menghasilkan.
Dari seluruh tahapan penelitian yang terdiri atas percobaan 1, 2a dan 2b didapatkan kebaruan (novelty) antara lain: 1). Mendapatkan data dan informasi bahwa tanaman Indigofera zollingeriana mampu beradaptasi pada tingkat naungan 40% dengan klasifikasi toleransi sedang (medium) sehingga dapat dimanfaatkan sebagai tanaman sela di areal pertanaman kelapa sawit. 2). Membuktikan bahwa kombinasi Indigofera zollingeriana dan tandan kosong sawit dapat memperbaiki lingkungan tumbuh ditunjukkan dengan adanya peningkatan ketersediaan air, hara, aktivitas mikroorganisme tanah dan stok karbon sehingga dapat meningkatkan ukuran morfologi, aktivitas fisiologi tanaman, produktivitas kelapa sawit
Efektivitas Penggunaan Dana Desa dalam Menurunkan Kemiskinan di Kabupaten Bandung Barat
Dana Desa merupakan dana yang berasal dari APBN sebagai pemenuhan hak desa untuk melaksanakan otonomi agar tumbuh dan berkembang mengikuti pertumbuhan desa itu sendiri. Program ini adalah bagian dari Nawacita untuk mengurangi kesenjangan antara daerah perkotaan dan pedesaan, membangun kawasan-kawasan tertinggal dan mengentaskan kemiskinan di pedesaan. Dana ini digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah, pelaksanaan pembangunan perdesaan, pembinaan kemasyarakatan desa dan pemberdayaan masyarakat. Harapannya dengan adanya dana ini dapat menurunkan kemiskinan di pedesaan. Kabupaten Bandung Barat adalah kabupaten dengan indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan tertinggi di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis pola spasial penduduk miskin pada setiap desa di Kabupaten Bandung Barat; (2) Menganalisis pengaruh dana desa dan faktor lainnya terhadap penurunan tingkat kemiskinan desa di Kabupaten Bandung Barat; (3) Menganalisis efektivitas penggunaan dana desa di Kabupaten Bandung Barat; (4) Menyusun alternatif kebijakan untuk mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Bandung Barat. Penelitian ini menggunakan data cross-section tahun 2017 dari 165 desa di Kabupaten Bandung Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan Indeks Moran, local indicator of spasial autocorrelation (LISA), rasio efektivitas dan Geographically Weigthed Regression (GWR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat autokorelasi positif yang menunjukkan adanya keterkaitan kemiskinan di Kabupaten Bandung Barat dengan pola sebaran kemiskinan yang bersifat mengelompok (clustered). Hasil pola sebaran kemiskinan dipetakan ke dalam empat kategori wilayah yakni sebanyak 17 desa yang berada pada kategori desa dengan tingkat kemiskinan yang tinggi dan dikelilingi oleh desa dengan tingkat kemiskinan tinggi (high-high), 31 desa berada pada kriteria desa dengan tingkat kemiskinan rendah dikelilingi oleh desa dengan tingkat kemiskinan rendah (low-low), 5 desa pada kriteria desa dengan tingkat kemiskinan rendah dikelilingi oleh desa dengan tingkat kemiskinan tinggi (low-high) dan 1 desa berada pada kriteria desa dengan tingkat kemiskinan tinggi dikelilingi oleh desa dengan tingkat kemiskinan rendah (high-low). Hasil analisis GWR untuk pengaruh dana desa dan faktor lain terhadap kemiskinan menunjukkan bahwa dana desa memiliki pengaruh yang beragam di Kabupaten Bandung Barat. Dana desa pada bidang penyelenggaraan pemerintah tidak berpengaruh dalam menurunkan kemiskinan. Hal ini terjadi karena penggunaan dana desa bidang ini difokuskan untuk kegiatan-kegiatan desa yang bersifat pelayanan kantor, administrasi kependudukan dan kewilayahan. Dana desa bidang pelaksanaan pembangunan fisik desamemiliki pengaruh dalam menurunkan kemiskinan, kecuali di bagian selatan Kabupaten Bandung Barat yaitu Kecamatan Gununghalu, Rongga, Sindangkerta dan sebagian desa di Kecamatan Cipongkor. Dana bidang pemberdayaan masyarakat berpengaruh terhadap kemiskinan. Dana desa bidang pembinaan masyarakat juga memiliki pengaruh dalam menurunkan
kemiskinan hampir di seluruh desa di Kabupaten Bandung Barat. Faktor lain seperti kepadatan penduduk, jarak desa ke ibukota kabupaten memiliki pengaruh positif terhadap kemiskinan, sedangkan variabel tingkat pendidikan, indeks desa membangun, persentase toko kelontong, dan persentase rumah tangga pengguna listrik PLN berpengaruh negatif terhadap kemiskinan di Kabupaten Bandung Barat. Efektivitas penggunaan dana desa pada 165 desa di Kabupaten Bandung Barat yakni dana bidang penyelenggaraan pemerintah desa 92,73 persen efektif dan 6,67 sangat efektif. Bidang pelaksanaan pembangunan fisik desa 88,48 persen efektif, 4,24 sangat efektif dan 7,27 cukup efektif. Efektivitas penggunaan dana pada bidang pemberdayaan masyarakat sebesar 81,21 persen efektif, 6,06 cukup efektif dan 7,27 persen tidak efektif. Efektivitas penggunaan anggaran pada bidang pembinaan masyarakat sebesar 75,15 persen efektif, 9,09 persen cukup efektif, 4,85 persen kurang efektif dan 3,03 persen tidak efektif. Alternatif kebijakan yang dapat mengurangi kemiskinan adalah penerapan kebijakan dilakukan pada setiap desa, hal ini karena adanya perbedaan karakteristik setiap desa. Pemanfaatan dana desa sebaiknya memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh secara lokal terhadap kemiskinan
Analisis Penggunaan Reaktor Berpengaduk Statik Untuk Produksi Biodiesel
Proses transesterifikasi dengan metoda katalitik untuk produksi biodiesel membutuhkan katalis dan pengadukan yang kuat untuk meningkatkan kinetika reaksi yang terjadi. Penggunaan katalis membutuhkan proses pemisahan yang panjang di akhir proses, sedangkan pengaduk blade agitator yang umum digunakan membutuhkan asupan energi yang besar dan efektivitas pengadukan yang kurang homogen. Penggantian sistem pengadukan dari blade agitator ke pengaduk statik - Static Mixing Reactor (SMR) diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengadukan dan mengurangi penggunaan katalis. Meskipun demikian, perancangan alat maupun proses yang tidak tepat dapat menyebabkan tidak tercapainya mutu biodiesel yang dihasilkan. Hubungan antar parameter yang berpengaruh perlu dipelajari secara mendalam untuk mengetahui saling keterkaitannya dalam peningkatan konversi methyl ester dan menentukan pengaruh jumlah elemen pengaduk statik terhadap penurunan jumlah katalis. Penerapan kajian energi dalam pemecahan masalah ini diperlukan untuk memperoleh sistem rancangan dan proses yang paling efektif dalam rangka pemanfaatan energi.
Tujuan dari penelitian ini ialah melakukan kajian dan elaborasi lanjutan terhadap berbagai keunggulan reaktor berpengaduk statik untuk produksi biodiesel. Dalam penelitian ini alat SMR yang digunakan mempunyai elemen static mixer sebanyak 60 elemen yang terbagi dalam 5 modul reaktor, menggunakan 2 buah pompa dan tangki untuk masing-masing bahan. Dengan rancangan tersebut diharapkan nilai konversi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) bisa diperoleh dengan satu kali running eksperimen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan alat produksi biodiesel berpengaduk statik tipe kontinu ini mampu mengatasi kelemahan penggunaan blade agitator. Perbedaan utama reaktor ini dengan sebelumnya ialah sistem kontinu yang diterapkan sehingga reaktor berpengaduk statik ini dapat melakukan proses produksi secara terus menerus. Sistem kontinu ini didukung oleh tangki pemasukan bahan yang terpisah serta jumlah elemen pengaduk statik yang lebih banyak. Diharapkan dengan adanya bagian – bagian tersebut dapat mempersingkat waktu proses, mengurangi biaya produksi dan dapat menghasilkan biodiesel dengan kapasitas yang lebih besar.
Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan, biodiesel yang diproduksi dengan reaktor berpengaduk statik tipe kontinu menunjukkan bahwa jumlah modul yang digunakan dalam reaktor berpengaduk statik dapat meningkatkan homogenitas pencampuran dan mengurangi kebutuhan katalis untuk memperoleh konversi reaksi yang diperlukan. Hasil penelitian dengan katalis 0.3% (w/w) dan 0.5% (w/w) dapat mencapai konversi reaksi 84.91% (w/w) dan 93.05% (w/w). Peningkatan jumlah modul diharapkan dapat meningkatkan konversi ke tingkat yang diperlukan. Sedangkan reaksi transesterifikasi minyak sawit dengan menggunakan reaktor berpengaduk statik menghasilkan methyl oleate 36.01%, methyl palmitate 34.06%, methyl linoleate 9.49%, methyl stearate 3.58% pada
v
penggunaan KOH 0.3% dan 41.15% methyl oleate, 36.55% methyl palmitate, 9.45% methyl linoleate, dan 4.05% methyl stearate pada penggunaan KOH 0.5% sebagai produk utama. Viskositas dan densitas metil ester asam lemak campuran dari reaktor berpengaduk statik masing-masing adalah 4.99 mm2/s dan 851.66 kg/m3.
Sedangkan jika ditinjau dari rasio energi, nilai RE2 untuk produksi biodiesel menggunakan reaktor berpengaduk statik sistem kontinu dengan katalis 0.3% (w/w) dan 0.5% (w/w), masing-masing adalah 0.94 dan 1.03. Penambahan jumlah modul untuk mencapai tingkat konversi yang diperlukan sesuai SNI-7182 (2018) dapat meningkatkan nilai rasio energi menjadi sebesar 1.10 pada penggunaan katalis 0.3% (w/w) dan 1.09 dengan penggunaan katalis 0.5% (w/w). Nilai rasio energi dengan penambahan modul tersebut lebih tinggi sekitar 10% dibandingkan terhadap nilai rasio untuk metoda curah menggunakan katalis 1% dan metoda SMV tanpa katalis
Kloning Sekuens Parsial dan Analisis Ekspresi Gen Insulin-Like Growth Factor (IGF-I) pada Pertumbuhan Ikan Nilem Osteochilus hasselti.
Ikan nilem termasuk komoditas budidaya ikan air tawar di Indonesia. Pertumbuhan merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan budidaya ikan nilem. Salah satu gen yang berperan dalam regulasi pertumbuhan ialah insulin-like growth factors-I (IGF-I). Gen IGF-I diduga bertanggung jawab terhadap perbedaan pertumbuhan ikan dalam satu populasi dan dapat digunakan sebagai salah satu metode untuk seleksi ikan dengan pertumbuhan yang cepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan sekuenss parsial gen IGF-I dan menganalisis tingkat ekspresinya pada ikan nilem berukuran besar dan kecil. Ikan nilem yang telah berumur empat minggu dari pemijahan massal dipelihara selama empat bulan. Pemeliharaan ikan dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu yang berukuran panjang total 6,15±0,8 cm (kecil) dan 11,3±1,01 cm (besar) untuk analisis ekspresi gen. Sekuens gen IGF-I diisolasi menggunakan primer yang didesain berdasarkan pangkalan data bank gen. cDNA disintesis dari mRNA yang diekstraksi dari organ hati. Pada hari terakhir pemeliharaan, masing-masing sebanyak empat ekor ikan berukuran besar dan kecil dibedah, kemudian organ hatinya diambil pada jam ke-0, ke-3, ke-6, dan ke-12 setelah pemberian pakan untuk ekstraksi RNA total. Analisis tingkat ekspresi dilakukan menggunakan metode semi kuantitatif PCR. Hasil analisis sekuenssing menunjukkan bahwa susunan nukleotida parsial IGF-I ikan nilem berukuran 267 bp yang menyandikan 88 asam amino residu. Sekuens nukleotida dan asam amino residu IGF-I tersebut memiliki kesamaan 86,6-93,5% dengan ikan kelompok cyprinids. Tingkat ekspresi relatif mRNA IGF-I/β-aktin ikan kelompok besar lebih tinggi dibandingkan kelompok kecil. Peningkatan ekspresi gen terjadi pada jam ke-3 setelah pemberian pakan. Dengan demikian, gen IGF-I berpotensi digunakan sebagai marka molekuler dalam seleksi untuk menghasilkan ikan nilem yang tumbuh cepat
Pengaruh Sistem Pasar Modal terhadap Hubungan antara Kinerja Pasar Modal dengan Pertumbuhan Ekonomi (Studi Kasus di Vietnam dan Indonesia).
Hubungan antara perkembangan sektor keuangan dengan pertumbuhan
ekonomi menjadi isu yang sangat menarik dan menghasilkan banyak perdebatan
diantara para ekonom selama bertahun-tahun. Perdebatan apakah sektor keuangan
yang memberikan pengaruh untuk pertumbuhan ekonomi, ataukah sebaliknya,
sektor keuangan berkembang karena pertumbuhan ekonomi. Pertanyaan ini akan
dijawab menggunakan studi pada kasus pasar modal Vietnam dan Indonesia yang
mempunyai sistem berbeda. Lebih spesifik, penelitian ini mengkaji pengaruh
moderasi Capital Market System (CMS) pada hubungan antara kinerja pasar modal
dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan Vietnam. Data yang digunakan
adalah data sekunder laporan tahunan bursa efek, World Bank, OJK, BPS, dan The
GSO of Vietnam periode 2007-2016. Metode analisis yang digunakan adalah
Granger Causality, VECM, dan MRA menggunakan program Eviews 9. Hasil
penelitian menunjukkan hubungan antara pasar modal dan pertumbuhan ekonomi
bersifat timbal balik yaitu saling mempengaruhi, hubungan ini dikedua Negara
positif dan signifikan, dan penerapan sistem pasar modal terdesentralisasi
memperlemah hubungan positif tersebut
Keanekaragaman Simplisia Nabati dan Produk Obat Tradisional yang Diperdagangkan di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur
Tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai obat dan banyak dijual di pasar
tradisional Kabupaten Bojonegoro dalam bentuk simplisia atau produk obat
tradisional. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi simplisia
nabati, produk obat tradisional, harga jual, dan asal pasokan simplisia, serta
menidentifikasi status keterancaman tumbuhan obat. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu observasi langsung dan wawancara. Teridentifikasi
sebanyak 13 bentuk simplisia dengan 86 spesies dari 37 famili yang
didominasi famili Zingiberaceae (15.12%). Bentuk simplisia daun (folium)
paling banyak digunakan (22.09%) dan habitus terbanyak yaitu herba
(37.20%). Simplisia yang paling banyak digunakan sebagai obat penyakit
saluran pencernaan 53 spesies. Jenis produk obat tradisional yang
diperdagangkan sebanyak 79 dari 33 produsen. Kisaran harga simplisia yang
diperdagangkan yaitu Rp10 000 – Rp300 000. Asal pasokan simplisia dari
Ponorogo, Kediri, Kalimantan dan daerah sekitar pasar tradisional.
Teridentifikasi sebanyak 6 spesies tergolong langka LIPI
Performa Benih Hasil Persilangan antara Ikan Lele Sangkuriang dan Lele Mutiara yang Diberi Oodev dan Tepung Kunyit pada Pakan Induk.
Penyediaan benih yang berkualitas dalam jumlah yang memadai sangat
dibutuhkan bagi pengembangan industri budidaya lele. Penelitian yang dilakukan
kali ini yaitu persilangan antara lele sangkuriang dan lele mutiara yang diinduksi
pematangan gonadnya dengan Oodev dan tepung kunyit untuk mengevaluasi
performa benih keturunannya. Induk ikan lele dengan bobot 0.8-1.2 kg/induk
diinduksi pematangan gonadnya dengan hormon dan tepung kunyit melalui
suplementasi pakan. Penelitian dirancang dengan enam perlakuan persilangan dan
tiga ulangan (S: lele sangkuriang, M: lele mutiara, O: suplementasi Oodev dan
tepung kunyit) yang terdiri dari: S♀S♂, M♀M♂, S♀S♂O, M♀M♂O, M♀S♂O,
dan S♀M♂O. Induk lele dipelihara dalam bak beton dan diberi pakan sebanyak 2%
per hari. Induk ikan lele yang diberi suplementasi Oodev dan tepung kunyit
menunjukkan performa reproduksi induk dan performa benih yang tinggi
dibandingkan dengan kontrol pada parameter: keberhasilan pemijahan 100%,
fekunditas relatif 68.024-106.748 butir telur/kg induk, derajat pembuahan 74.73-
89.40%, derajat penetasan 76.37-83.21%, jumlah benih 34.896-58.546 ekor/kg
induk, tingkat kelangsungan hidup (TKH) 77.00-82.50%, panjang benih 3.66-3.96
cm, bobot benih 0.43-0.52 g, laju pertumbuhan spesifik (LPS) panjang 6.02-
6.29%/hari, LPS bobot 8.87-9.48%/hari (P < 0.05). Persilangan berbeda strain
S♀M♂O menunjukkan nilai heterosis positif pada parameter TKH sebesar 0.07%.
Persilangan M♀M♂O menunjukkan nilai tertinggi pada parameter fekunditas
relatif 106.748 ± 3.247 butir telur/kg induk, derajat pembuahan 89.40 ± 0.08%,
panjang benih 3.96 ± 0.08 cm, LPS panjang 6.29 ± 0.06%/hari, dan jumlah benih
58.546 ekor/kg induk (P < 0.05) dibandingkan perlakuan lainnya. Suplementasi
Oodev dan tepung kunyit dapat meningkatkan performa reproduksi ikan lele. Benih
hasil persilangan antar lele mutiara menunjukkan performa yang unggul
Produksi Filamen Komposit PVA-Alginat dengan Selulosa dari Tandan Kosong Kelapa Sawit
Selulosa merupakan polimer alami terbarukan yang ketersediaannya melimpah di bumi dan salah satu sumbernya tersedia pada tandan kosong kelapa sawit (TKKS). TKKS merupakan salah satu biomassa yang dihasilkan dari produksi minyak sawit (CPO). Selulosa diisolasi melalui tahap deliginifikasi dan bleaching. Selulosa TKKS dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan filamen dimana selulosa dicampur dengan polivinil alkohol (PVA) dan alginat. Dalam penelitian ini, filamen komposit selulosa-PVA-alginat diproduksi melalui metode wet spinning dengan CaCl2 sebagai larutan koagulan. Dilakukan observasi efek formulasi filamen dan konsentrasi CaCl2 terhadap sifat mekanik, morfologi, kristalinitas, dan termal filamen. Hasil yang didapatkan menunjukkan peningkatan konsentrasi selulosa menyebabkan stabililitas termal yang baik, kristalinitas tinggi, meskipun morfologi permukaan filamen menjadi lebih kasar. Filamen dengan penambahan selulosa (5, 10, dan 15%) memberikan hasil yang signifikan terhadap sifat mekanik filamen, khususnya kuat tarik. Peningkatan konsentrasi CaCl2 menghasilkan filamen dengan stabilitas termal yang baik, namun konsentrasi CaCl2 yang lebih rendah menghasilkan filamen dengan kuat tarik yang lebih baik
Prediksi Interaksi Protein-Protein Berbasis Sekuens pada Indonesia Jamu-Herbs Menggunakan Stacked-Autoencoder dan Conjoint Triad
Masyarakat Indonesia sudah mengenal obat herbal yang bernama jamu.
Umumnya, formula jamu diperoleh secara empiris dan diwariskan dari generasi ke
generasi. Interaksi protein-protein (protein-protein interaction, PPI) dari jamu
memiliki peran penting dalam mempengaruhi proses biologis untuk penyembuhan.
Analisis PPI perlu dilakukan untuk mempelajari bagaimana protein berinteraksi
dengan protein lainnya. Data tentang interaksi protein masih terbatas. Karenanya
menemukan interaksi protein menjadi lebih sulit. Sehingga metode prediksi masih
diperlukan untuk menghasilkan PPI. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan
model prediksi interaksi protein berbasis sekuens pada pangkalan data Indonesia
Jamu-Herbs dengan Stacked-Autoencoder sebagai arsitektur, Softmax sebagai
classifier, dan Conjoint Triad sebagai metode ekstraksi fitur. Model ini dengan satu,
dua, dan tiga autoencoder layer memperoleh akurasi masing-masing 95.58%,
95.56%, dan 95.60%. Studi ini menyimpulkan bahwa Stacked-Autoencoder yang
tergabung dengan Softmax classifier (termasuk autoencoder tunggal) memperoleh
hasil yang sangat baik. Walaupun begitu, penambahan jumlah layer tidak
mempengaruhi peningkatan akurasi