Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Kandungan Gizi, Daya Terima, dan Aktivitas Antioksidan Sup Krim Instan Galohgor.

    No full text
    Galohgor adalah nutrasetikal yang terbuat dari 56 jenis tanaman yang terdiri atas kacang-kacangan, daun-daunan dan rimpang. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formula, menilai daya terima, menganalisis kandungan gizi, dan aktivitas antioksidan serbuk sup krim instan galohgor. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan tiga taraf penambahan serbuk galohgor yaitu F0 (0 gram), F1 (4 gram), dan F2 (8 gram). Hasil analisis zat gizi pada sup krim instan galohgor terpilih (F1) adalah kadar air 2.5% (bb), kadar abu 2.8% (bk), kadar lemak 12.4% (bk), kadar protein 13.6% (bk), kadar karbohidrat 68.7% (bk) dan kadar serat pangan 44.5% (bk). Aktivitas antioksidan dari serbuk sup krim instan galohgor terpilih (F1) adalah 31.4% yang setara dengan 23.5 mgAA/100 gram produk. Takaran saji serbuk sup krim instan galohgor adalah 16 gram dengan kandungan energi sebesar 62 kkal, protein 2 gram, lemak 2 gram, karbohidrat 11 gram dan serat pangan 7 gram. Serbuk sup krim instan galohgor terpilih memiliki klaim gizi “tinggi serat” dengan kadar serat 44.5 gram/100 gram produk

    Mutu dan Potensi Inhibitor Enzim Alfa Glukosidase pada Produk Makanan berbasis Pati Sagu (Metroxylon sp.).

    No full text
    Diabetes mellitus tipe 2 (DM) merupakan kelainan metabolik yang rumit dengan komplikasi jangka pendek dan panjang yang tidak diinginkan. Pengaturan diet dan penggunaan pangan fungsional merupakan pendekatan lain dalam pengelolaan DM selain perawatan medis. Pangan fungsional adalah pangan yang dianggap memiliki manfaat fisiologis dan/atau berpotensi mengurangi risiko penyakit kronis disamping fungsi gizi dasar pangan tersebut dengan syarat mengandung/menambahkan komponen dengan efek kesehatan positif seperti serat dan pati resisten. Pati sagu (Metroxylon sp.) memiliki keunggulan kandungan serat dan pati resisten yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pati sagu dapat dikembangkan menjadi pangan fungsional bagi penderita diabetes mellitus. Penambahan sumber pangan fungsional lain dalam pembuatan produk makanan/minuman diabetes akan membantu dalam pengendalian glukosa darah. Oleh karena itu, penambahan pangan lain yang sudah terbukti dapat memperbaiki glukosa darah sangat diperlukan dalam pembuatan pangan fungsional seperti tempe. Ekstrak tempe, melalui penghambatan ezim alfa glukosidase, akan menyebabkan jumlah monosakarida yang diserap usus menjadi berkurang sehingga menghambat kenaikan glukosa darah. Ketersediaan pangan fungsional di pasaran khusus untuk penderita diabetes mellitus masih sangat terbatas. Makanan yang diolah dengan cara dipanggang, dikukus, disetup, direbus, dan dibakar merupakan salah satu syarat makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi oleh penderita diabetes mellitus dengan tujuan mengurangi asupan kalori. Oleh karena itu, puding, muffin kukus, dan cookies menjadi pilihan dalam pengembangan pangan fungsional. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) menentukan formula terbaik dalam pembuatan makanan fungsional (puding, muffin, dan cookies) berbasis pati sagu untuk penderita diabetes mellitus; (2) menganalisis karakteristik fisikokimia (kekerasan produk, kadar serat pangan, kadar pati resisten, dan daya cerna pati) makanan fungsional (puding, muffin, dan cookies) berbasis pati sagu secara in vitro; (3) menganalisis potensi penghambatan enzim alfa glukosidase secara in vitro pada ekstrak puding, muffin, dan cookies. Penelitian ini menggunakan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perbandingan komposisi pati sagu dan tempe yaitu F1 (2: 1) dan F2 (1: 1) dengan dua kali ulangan. Panelis semi-terlatih direkrut dari mahasiswa Departemen Gizi Masyarakat, FEMA, IPB untuk mengevaluasi atribut sensorik dari masing-masing produk. Analisis kekerasan produk menggunakan metode 74-09, kadar air menggunakan metode gravimetri, kadar abu menggunakan metode dry ashing, kadar protein menggunakan metode mikro-kjeldahl, kadar lemak menggunakan metode soxhlet, dan kadar karbohidrat dihitung by difference. Analisis serat makanan, pati resisten, kecernaan pati, dan potensi penghambatan enzim alfa glukosidase menggunakan metode enzimatik. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa F2 merupakan formula terpilih untuk puding dan muffin serta F1 merupakan formula terpilih untuk cookies. Puding terpilih dengan kekerasan 83.47 gf mengandung 92.28% air, 0.28% abu, 1.04% protein, 0.64% lemak, 5.76% karbohidrat, 3.95% serat pangan, dan 0.81% pati resisten. Muffin terpilih dengan kekerasan 3861.87 gf mengandung 56.18% air, 0.79% abu, 6.49% protein, 10.26% lemak, 26.28% karbohidrat, 7.13% serat pangan, dan 3.59% pati resisten. Cookies terpilih dengan kekerasan 1655.02 gf mengandung 5.05% air, 0.90% abu, 4.90% protein, 19.66% lemak, 69.49% karbohidrat, 9.57% serat pangan, dan 6.00% pati resisten. Puding dikategorikan sebagai pangan sumber serat dengan kadar pati resisten yang dapat diabaikan, muffin dikategorikan sebagai pangan tinggi serat dengan kadar pati resisten menengah, dan cookies sebagai pangan tinggi serat dengan kadar pati resisten tinggi. Ekstrak puding, muffin, dan cookies memiliki potensi inhibitor enzim α- glukosidase dengan nilai aktivitas yang rendah. Oleh karena itu, produk ini berpotensi menjadi makanan fungsional terutama untuk penderita diabetes mellitus karena mengandung serat dan pati resisten

    Usulan Perencanaan Struktur Atas Green Building Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor

    No full text
    Penelitian ini dilakukan berdasarkan kebutuhan gedung Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan (SIL), Institut Pertanian Bogor. Penelitian bertujuan untuk mendesain struktur atas gedung beton bertulang yang efisien, dan merencanakan dimensi struktur yang aman untuk menopang beban rencana. Penelitian ini menggunakan SAP2000, perencanaan gedung beton bertulang berdasarkan pada SNI 1727:2013, SNI 1726:2012, SNI 2847:2013 dan laporan basic design green building Departemen SIL. Dari hasil penelitian diperoleh dimensi kolom sebesar 80 x 60 cm, dengan tulangan pokok 18D19. Balok dibagi menjadi lima segmen dengan selimut beton 4 cm dan sengkang D10. Balok pada kantilever: 40 x 30 cm, tulangan D22. Balok membujur 9 m berukuran 35 x 25 cm D19. Balok membujur dibentang 13 m: 40 x 30 cm D22. Balok pada tangga: 30 x 20 cm D16. Balok arah melintang: 35 x 25 cm D22. Bracing kantilever 30x20 cm, tulangan utama 6D12, tulangan sengkang D10-100. Plat dan tangga menggunakan plat bondek, ketebalan 12 cm dan tulangan Ø8-250. Tangga memiliki kemiringan 18.4o

    Seleksi Substrat dan Jenis Ruang Microbial Fuel Cell dengan Menggunakan Dua Jenis Bakteri.

    No full text
    Penggunaan sumber energi alternatif menjadi salah satu peluang besar dalam menghasilkan energi, salah satunya pemanfaatan limbah cair organik. Microbial Fuel Cell (MFC) merupakan salah satu teknologi yang menjanjikan untuk menghasilkan energi listrik dengan memanfaatkan bahan organik dan limbah. Tujuan penelitian ini di antaranya mengetahui jenis substrat pada ruang anoda yang tepat sehingga mampu menghasilkan tegangan listrik tertinggi serta memperoleh permodelan MFC yang paling efektif dan memberikan potensi menghasilkan listrik yang terbaik. Permodelan MFC yang digunakan adalah single chamber, dual chamber dengan pemisah Nafion dan dual chamber dengan pemisah salt bridge. Isolat yang ditambahkan pada ruang anoda adalah Staphylococcus saprophyticus ICBB 9554 dan Aeromomas caviae ICBB 2813. Pengukuran kuat arus (I) dirangkai secara paralel dengan hambatan sebesar 1000 Ω, sedangkan tegangan (V) dirangkai secara seri. Pengukuran dilakukan pada tiga kali ulangan, setiap 12 jam selama 14 hari menggunakan Digital Multimeter seri DT-831B+. Kombinasi yang menghasilkan rata-rata nilai voltase tertinggi pada single chamber adalah limbah peternakan dengan isolat Aeromonas caviae ICBB 2813, yakni 221,25 mV. Kombinasi yang menghasilkan rata-rata nilai voltase tertinggi pada dual chamber dengan pemisah Nafion adalah limbah peternakan dengan isolat Aeromonas caviae ICBB 2813, yakni 725 mV mV. Kombinasi yang menghasilkan rata-rata nilai voltase tertinggi pada dual chamber dengan pemisah salt bridge adalah limbah tahu dengan isolat Aeromonas caviae ICBB 2813, yakni 289,5 mV. Limbah yang berpotensi sebagai substrat dalam ruang anoda untuk MFC adalah limbah tahu dan limbah kotoran sapi. Keduanya mampu menghasilkan rata-rata tegangan listrik yang tinggi dibandingkan substrat lainnya. Permodelan MFC yang dinilai paling efektif dan menghasilkan voltase tertinggi adalah sistem dual chamber dengan Nafion karena menghasilkan nilai voltase yang lebih stabil pada kedua isolat. Penggunaan isolat Staphylococcus saprophyticus ICBB 9554 optimal digunakan pada substrat glukosa, limbah tahu dan limbah tapioka. Isolat Aeromonas caviae ICBB 2813 menghasilkan nilai tegangan listrik yang tinggi apabila digunakan pada substrat limbah peternakan

    Pengaruh Plant Growth Promoting Rhizobacteria terhadap Produksi Stek Bibit Kentang (Solanum tuberosum L.) Kultivar Jala Ipam.

    No full text
    Kentang (Solanum tuberosum L.) sebagai komoditas hortikultura yang berpotensi dalam pemenuhan kebutuhan pangan alternatif masyarakat Indonesia, mengalami penurunan produksi dari tahun 2016 ke tahun 2017 sebesar 2.03%. Salah satu penyebab menurunnya produksi kentang adalah ketersediaan bibit unggul yang sedikit. Kentang kultivar Jala Ipam merupakan salah satu kultivar kentang yang cocok untuk industri kentang olahan. Produksi bibit tanaman kentang diharapkan dapat ditingkatkan dengan peningkatan jumlah stek pucuk. Produksi stek pucuk dapat ditingkatkan dengan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria). Bacillus sp. NTT3a yang diisolasi dari Nusa Tenggara Timur dan Bacillus thuringiensis SGT3g yang diisolasi dari Kabupaten Sragen dapat mendukung pertumbuhan tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh PGPR Bacillus spp. NTT3a dan Bacillus thuringiensis SGT3g terhadap produksi stek bibit tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) kultivar Jala Ipam. Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan satu faktor perlakuan yang terdiri dari empat taraf perlakuan dengan tiga pengulangan. Pengaruh jenis PGPR diamati hingga umur tanaman 100 hari setelah tanam (HST) pada tanaman induk dengan parameter berupa produksi stek bibit, persentase hidup, jumlah ruas per tanaman, jumlah daun tiap tanaman, panjang tunas lateral, jumlah tunas tiap tanaman, dan laju pertumbuhan tanaman, pada beberapa kurun waktu umur tanaman. Hasil analisis ragam menggunakan metode one-way ANOVA pada taraf uji 5% menunjukkan bahwa PGPR B. thuringiensis SGT3g, Bacillus sp. NTT3a, dan campuran antara B. thuringiensis SGT3g dan Bacillus sp. NTT3a tidak berpengaruh nyata terhadap produksi bibit stek pucuk dan sebagian besar parameter pertumbuhan tanaman kentang kultivar Jala Ipam. Walaupun demikian, pada umur tanaman tertentu, pemberian B. thuringiensis SGT3g mempunyai pengaruh yang baik seperti pada jumlah ruas tiap tanaman induk pada 51 HST dan panjang tunas lateral pada umur 59 HST

    Deteksi Gen Penyandi Resistensi Antibiotik pada Escherichia coli dan Salmonella sp. yang Diisolasi dari Beberapa Peternakan Unggas di Jawa Barat.

    No full text
    Industri perunggasan menggunakan antibiotik sebagai pencegahan, pemacu pertumbuhan dan pengobatan penyakit infeksi bakerial. Oleh karena itu banyak menimbulkan bakteri resisten. Escherichia coli dan Salmonella sp. adalah bakteri penting pada hewan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi E. coli dan Salmonella sp., menguji sensitivitas dan deteksi gen penyandi resistensi E. coli and Salmonella sp.. Seratus lima sampel swab kloaka unggas digunakan dalam penelitian ini. Isolasi dan identifikasi bakteri menggunakan kaldu tetrationat (khusus Salmonella sp.), kemudian dikultur pada media agar selektif (agar Mac Conkey dan eosin methylene blue untuk E.coli, Salmonella-Shigella untuk Salmonella sp.), pengujian biokimia dan pewarnaan Gram. Isolat bakteri dikonfirmasi dengan amplifikasi gen uspA E. coli dan invA Salmonella sp. menggunakan PCR. Tetrasiklin, oksitetrasiklin, ampisilin, gentamisin, asam nalidiksat, siprofloksasin, enrofloksasin, eritromisin dan kloramfenikol adalah antibiotik yang digunakan dalam penelitian ini. Metode difusi cakram Kirby-Bauer digunakan untuk mendeteksi resistensi bakteri terhadap antibiotik. Hasil uji sensitivitas menunjukkan bahwa E. coli resisten terhadap tetrasiklin (92.3%), oksitetrasiklin (92.3%), ampisilin (100%), gentamisin (61.6%), asam nalidiksat (94.3%), siprofloksasin (69.2%), enrofloksasin (65.4%), eritromisin (96.2%) dan kloramfenikol (0%). Salmonella sp. resisten terhadap tetrasiklin (75%), oksitetrasiklin (75%), ampisilin (75%), gentamisin (12.5%), asam nalidiksat (100%), siprofloksasin (12.5%), enrofloksasin (0%), eritromisin (100%) dan kloramfenikol (0%). Hasil deteksi gen penyandi resistensi antibiotik pada E. coli dan Salmonella sp. berturut-turut yaitu tetA (83.3% dan 33.3%) positif, blaTEM (100% dan 100%) positif, aac(3)-IV (3.1% dan 0%) positif, gyrA (100% dan 100%) positif ermB (6% dan 0%) positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa E. coli dan Salmonella sp. dapat diisolasi dari swab kloaka unggas. Semua isolat E. coli resisten terhadap ampisilin. Semua isolat Salmonella sp. resisten terhadap asam naidiksat dan eritromisin. Gen penyandi resistensi antibiotik yaitu tetA, blaTEM, aac(3)-IV, gyrA dan ermB genes terdeteksi pada isolat E. coli dan gen tetA, blaTEM dan gyrA terdeteksi pada isolat Salmonella sp.

    Rancangan Optimal pada Model Non-linier untuk Meningkatkan Kadar Kemurnian Silikon Oksida dan Konduktivitas Listrik

    No full text
    Silikon oksida (SiO2) memiliki potensi yang cukup besar untuk bidang industri dan bisnis. Berdasarkan daya jual oleh Sigma Aldrich, harga satu gram silikon oksida kemurnian 99.9 % sebesar Rp 4000. Bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan SiO2 relatif mudah. SiO2 dapat dihasilkan dari biomassa antara lain: jerami padi, sekam padi dan ampas tebus. SiO2 dengan tingkat kemurnian yang tinggi (>95%) juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri, solar sel, mikro chip komputer, elektronik dan semikonduktor. Silikon oksida yang memiliki kemurnian rendah dapat ditingkatkan melalui proses pemurnian dengan pengaturan suhu, kadar kemurnian SiO2 dan laju kenaikan suhu yang berbeda-beda. Kombinasi dari setiap faktor yang mempengaruhi proses pemurnian yang akan menghasilkan peningkatan kemurnian yang berbeda. Kombinasi yang akan dilakukan dapat diperoleh melalui serangkaian percobaan. Percobaan dirancang untuk mendapatkan kesimpulan dengan galat dugaan sekecil mungkin (rancangan optimal). Rancangan optimal merupakan suatu rancangan yang diperlukan dalam menentukan titik-titik dari faktor yang akan dicobakan untuk mengoptimalkan sejumlah informasi yang relevan sehingga terpenuhi kriteria yang diinginkan. Kriteria pemenuhan optimal didasarkan pada matriks informasi dari model yang dipilih. Faktor yang digunakan pada penelitian ini yaitu Suhu dengan responnya tingkat kadar kemurnian SiO2 dan konduktivitas listrik. Hubungan antara suhu dan tingkat kadar kemurnian SiO2 dan konduktivitas listrik mengikuti sebaran eksponensial yang merupakan model non-linier. Metode yang digunakan adalah kriteria G-optimal dan V-optimal pada model non-linier menggunakan algoritma exchange. G-optimal merupakan suatu kriteria optimal dengan tujuan meminimumkan maksimal ragam dugaan respon. Sedangkan V-optimal merupakan kriteria optimal dengan tujuan meminimumkan rataan ragam dugaan respon. Tujuan dari penelitian adalah memperoleh rancangan optimal untuk meningkatkan tingkat kadar kemurnian SiO2 dan konduktivitas listrik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rancangan terbaik untuk model non-linier terhadap respon tingkat kadar kemurnian SiO2 (Y1) dan konduktivitas listrik (Y2) adalah rancangan V-optimal. Titik rancangan terbaik diperoleh pada rancangan alternatif 3 dengan suhu 715oC, 720oC, 725oC, 730oC, 795oC, 860oC, 865oC, 870oC, 875oC, 880oC, 885oC dan 895oC dengan nilai ragam dugaan Y1 sebesar 0.3333���������2 dan nilai ragam dugaan Y2 sebesar 0.3333���������2

    Pengaruh Pemberian Nano Daun Kelor (Moringao leifera) terhadap Kadar Mineral Serum Darah danTulang pada Tikus Jantan Tumbuh dan Betina yang Diovariektomi

    No full text
    Daun kelor (Moringa oleifera) diketahui memiliki berbagai manfaat untuk mengatasi berbagai penyakit atau gangguan kesehatan. Daun kelor diketahui mengandung vitamin dan mineral, seperti vitamin C, vitamin D, vitamin K, mineral Ca, P, dan Mg. Berdasarkan studi pendahuluan, daun kelor kering memiliki kadar Ca sebesar 60225 ppm, kadar P sebesar 4558 ppm, dan kadar Mg sebesar 765 ppm. Bioavailabilitas mineral yang terdapat pada daun kelor dalam bentuk nano dilaporkan lebih baik dibandingkan dengan yang ukurannya lebih besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian nano daun kelor (Moringa oleifera) terhadap kadar mineral serum darah dan tulang pada tikus jantan tumbuh dan betina yang diovariektomi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan 3 tahapan penelitian. Penelitian tahap 1 dilakukan untuk menganalisis kandungan makronutrien, mineral, vitamin, sifat kelarutan serta bioavailabilitas kalsium secara in vitro dan invivo pada nano daun kelor dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Penelitian tahap 2 mengkaji pengaruh pemberian nano daun kelor (Moringa oleifera) terhadap kadar Ca, P, Mg serum darah dan tulang pada tikus jantan tumbuh dengan rancangan acak kelompok (RAK); sedangkan penelitian tahap 3 bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian nano daun kelor (Moringa oleifera) terhadap kadar Ca, P, Mg serum darah dan tulang pada tikus betina yang diovariektomi dengan rancangan acak kelompok (RAK). Penggunaan tikus jantan tumbuh dimaksudkan untuk mewakili periode dimana penyerapan Ca dalam tubuh sangat tinggi, sedangkan tikus betina yang diovariektomi digunakan untuk mewakili kelompok usia menopause yang penyerapan Ca turun sehingga kebutuhan kalsium menjadi lebih tinggi. Pada penelitian tahap 2 digunakan sebanyak 27 ekor tikus jantan tumbuh berumur 2 bulan dan pada tahap ke 3 digunakan sebanyak 27 ekor tikus betina yang diovariektomi berumur 2 bulan. Pada setiap tahapan penelitian tikus dibagi kedalam tiga kelompok perlakuan masing-masing berumur 2 bulan yaitu kelompok 1 adalah tikus yang diberi pakan yang mengandung 0.5%CaCO3 sebagai sumber Ca (K-standar); kelompok 2 adalah tikus yang diberi pakan mengandung serbuk daun kelor 1 % (23 g) ukuran 750 nm (K-750) dan kelompok 3 adalah tikus yang diberi pakan mengandung serbuk daun kelor 1 % (23 g) ukuran 450 nm (K-450). Tikus diadaptasi selama 7 hari, kemudian diintervensi dengan perlakuan selama 60 hari. Hasil penelitian pada tahap 1 menunjukkan bahwa nano daun kelor yang dihasilkan memiliki ukuran 750 nm dan 450 nm. Secara fisik ukuran 450 nm lebih larut dalam air dibandingkan dengan ukuran 750 nm. Hasil analisis beberapa makronutrien, mineral, dan vitamin menunjukkan adanya perbedaan yang sangat signifikan (p<0.05) antara nano daun kelor ukuran 750 nm dan ukuran 450 nm khususnya kandungan energi, protein, karbohidrat, serat kasar, Ca, Mg, P, Zn, K, Na dan vitamin C. Nilai bioavailabilitas kalsium in vitro dari daun berukuran 450 nm lebih tinggi (30.52%) secara signifikan dibandingkan yang berukuran 750 nm (18.29 %). Persentase bioavailabilitas Ca yang dihitung berdasarkan persentase terserap per tersimpan, tersimpan per total konsumsi dan persentase tersimpan per terserap pada tikus jantan tumbuh berada pada kisaran 96.07-99.53%. Perlakuan K-750 dan K-450 lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan K-standar, baik untuk persentase terserap per tersimpan maupun persentase tersimpan per total konsumsi. Meskipun demikian, apabila dihitung berdasarkan persentase tersimpan per terserap, perlakuan K-450 lebih rendah dibandingkan perlakuan K-750 dan K-standar. Persentase bioavailabilitas Ca berdasarkan persen terserap per tersimpan, persentase tersimpan per total konsumsi dan persentase tersimpan per terserap pada tikus betina yang diovariektomi berada pada kisaran 99.12-99.80%. Nilaibioaavailabilitas Ca pada perlakuan K-standar lebih besar dibandingkan dengan perlakuan K-750 dan K-450 untuk persentase terserap per tersimpan. Berdasarkan persentase tersimpan per total konsumsi maka nilai bioavailabilitas Ca pada perlakuan K-750 lebih tinggi dibandingkan K-standar dan K-450. Sementara itu, berdasarkan persentase tersimpan per terserap, perlakuan K-standar lebih tinggi dibandingkan K-750 dan K-450. Penelitian ini menyimpulkan bahwa persentase bioavailabilitas Ca untuk tikus jantan tumbuh di atas 96%, sementara untuk tikus betina yang diovariektomidiatas 99%. Hal ini menunjukkan bahwa bioavailabilitas Ca tikus betina yang diovariektomi lebih tinggi dibandingkan dengan tikus jantan tumbuh. Hasil penelitian tahap 2 untuk tikus jantan tumbuh menunjukkan bahwa tidak adanya pengaruh yang signifikan untuk perlakuan antar jenis kalsium pada kadar Ca, P, Mg serum antar kelompok. Namun, ada kecenderungan terjadinya peningkatan kadar Ca, P, Mg serum pada setiap kelompok setelah diberikan intervensi. Peningkatan yang signifikan terlihat pada P dan Mg serum dari K-standar dan Mg serum dari K-450. Perlakuan memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar Mg pada tulang tibia, namun belum mampu meningkatkan kadar mineral Ca, P dan Mg pada tulang femur serta Ca dan P pada tulang tibia. Secara umum seluruh perlakuan menunjukkan kecenderungan meningkatkan kadar mineral Ca, P, Mg pada tulang femur dan tibia tikus jantan tumbuh Hasil penelitian tahap 3 pada tikus betina yang diovariektomi menunjukkan ada pengaruh yang signifikan dari perlakuan jenis kalsium terhadap kadar Ca dan P dalam serum. Meskipun terjadi penurunan kadar Ca, P dan Mg serum setelah diintervensi dengan perlakuan jenis kalsium namun masih mampu mempertahankan pada kondisi batas yang normal. Penurunan kadar Ca, P dan Mg serum setelah diintervensi dengan perlakuan tidak memberikan pengaruh secara nyata. Perlakuan memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar P, dan Mg tulang femur dan Mg pada tulang tibia, namun belum mampu meningkatkan kadar mineral Ca pada tulang femur dan Ca dan P pada tulang tibia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perlakuan K-450 secara nyata meningkatkan deposisi mineral P dan Mg di tulang femur dan Mg di tulang tibia serta ada kecenderungan deposisi mineral Ca dan P di tulang tibia tikus betina yang diovariektomi

    Strategi Pengelolaan Daerah Penangkapan Ikan di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Lingga di Kabupaten Lingga

    No full text
    Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Lingga telah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati Kabupaten Lingga dengan No.280/KPTS/X/2014 seluas kurang lebih 385. 467,5 Ha diperuntukan perikanan berkelajutan, kegiatan wisata bahari, penelitian dan kegiatan lainnya secara lestari. KKPD Lingga ini diberi nama KKPD Datok Bandar. Mengetahui karakteristik daerah penangkapan ikan di KKPD Lingga sangatlah di perlukan, juga menentukan jenis teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan pada zona perikanan berkelanjutan di KKPD Lingga. Serta menyusun strategi pengelolaan daerah penangkapan ikan yang berkelanjutan di KKPD Lingga. Secara umum profil kondisi oseanografi dari KKPD Lingga yakni: salinitas, PH, kecepatan arus dan gelombang bervariasi dan menyebar tidak merata., Salinitas 30‰-34‰., PH8,0-8,3, dan kecepatan arus 1,2-2,8 cm/s, tinggi gelombang 0,3 – 0,45 m. Perbedaan kisaran nilai parameter oseanografi ini disebabkan karena perairan daerah penangkapan ikan di KKPD Lingga dominan pada rentang kedalaman 10 - 30 meter. Baiknya kondisi terumbu karang, ikan karang, mangrove dan lamun sebagai daya dukung ketersediakan sumberdaya ikan yang lestari pada KKPD Lingga. Jenis alat tangkap ikan yang beroperasi di KKPD Lingga adalah alat tangkap bubu, pancing, mini purse seine, jaring, bagan dan mini trawl. Skor tertinggi dari keseluruhan kriteria terdapat pada alat tangkap bubu dengan nilai 34 dan skor terendah adalah alat tangkap mini trawl dengan nilai 16. rekomendasi strategi pengelolaan daerah penagkapan ikan di KKPD Lingga; 1) Peningkatan kesadaran nelayan terhadap kelestarian sumberdaya ikan. 2) Optimalisasi produktivitas perikanan tangkap skala kecil melalui peningkatan kwalitas SDM nelayan. 3) Penegakkan hukum secara tegas dan peningkatan sistem pengawasan pemanfaatan sumberdaya ikan berbasis masyarakat, termasuk penambahan personil pengawas PSDKP. 4) Penggantian alat tangkap ke yang ramah lingkungan guna mendukung memaksimalkan pemanfaatan sumberdaya ikan di KKPD lingga. 5) Peningkatan teknologi peralatan penangkapan yang membantu memaksimalkan penangkapan sumberdaya ikan yang ada

    Evaluasi Teknologi Budidaya Padi Adaptif Terhadap Perubahan Iklim

    No full text
    Perubahan iklim memberikan dampak secara langsung pada sektor pertanian. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi dampak perubahan iklim terhadap pertanaman padi dan mendapatkan kombinasi teknologi budidaya padi yang adaptif terhadap perubahan iklim. Analisis dilakukan dengan menggunakan model DSSAT (Decision Support System fot Agrotechnology Transfer). Teknologi budidaya yang dievaluasi terdiri dari 10 opsi yang disusun berdasarkan hasil survey teknologi budidaya yang digunakan petani dan yang direkomendasikan oleh lembaga penelitian. Evaluasi dampak perubahan iklim dilakukan dengan mengunakan data proyeksi iklim tiga tahun dari skenario RCP 4.5 dan RCP 8.5 yang masing-masing merepresentasikan kondisi iklim normal, ekstrem kering, dan ekstrem basah. Hasil analisis menunjukkan bahwa Perubahan Iklim berpengaruh nyata terhadap hasil tanaman padi dan waktu tanam optimal. Secara umum, pada wilayah penelitian perubahan iklim diperkirakan akan memberikan dampak positif baik pada padi sawah tadah hujan maupun beririgasi untuk hampir semua opsi teknologi apabila waktu tanamnya tepat

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇