31665 research outputs found
Sort by
Optimisasi dan Pencirian Kertas Edibel Berbahan Dasar Biopolimer
Permintaan atas pengemas pangan untuk menyimpan dan mempertahankan mutu, daya awet, dan keamanan pangan meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini mendorong penelitian mengenai kemasan kertas edibel untuk meminimumkan limbah pengemas pangan agar kemasan tersebut dapat dikonsumsi. Dalam percobaan ini, kertas edibel dari biopolimer dioptimisasi dan dicirikan secara fisik. Kertas yang dihasilkan memiliki ketebalan 0.12–0.18 mm, gramatur 53–125 g/m2, kekuatan tarik 3.36–5.76 MPa, dan perpanjangan tarik 2.52–12.46%. Sampel dengan komposisi pati 12%, carboxymethylcellulose 0.4%, dan gelatin-konyaku 3% (sampel N4) sebagai hasil optimisasi terbaik. Sampel tersebut dicirikan secara biologis dengan metode angka lempeng total dan rerata koloni bakteri sebanyak 53 koloni/g sampel. Sementara itu, rerata kuantifikasi koloni bakteri Gram negatif yang diperoleh sebanyak 1 koloni/g sampel, yang berarti masih berada di bawah ambang batas yang telah ditentukan dalam SNI 7388:2009. Analisis termal differential scanning calorimetry pada sampel tersebut memperlihatkan puncak endoterm pada suhu 270 οC sehingga kurang dari suhu tersebut kertas edibel ini dapat dimanfaatkan sebagai pengemas pangan
Purifikasi Gliserol Kasar dari Limbah Pabrik Oleokimia Menggunakan Kombinasi Teknik Pengasaman-Adsorpsi-Distilasi
Gliserol dapat digunakan sebagai bahan dasar dari makanan, kosmetik, dan industri farmasi. Limbah oleokimia sebagai sumber gliserol telah dimanfaatkan dengan berbagai teknik, yaitu pengasaman dengan asam fosfat, adsorpsi dengan bentonit atau arang aktif, ekstraksi, dan distilasi sederhana. Pada penelitian ini, limbah dimurnikan menggunakan asam sulfat, tambahan adsorben bentonit-arang aktif, dan distilasi vakum. Gliserol kasar yang digunakan pada penelitian ini berwujud sol dan berwarna hitam memiliki kadar air, abu, matter organic non glycerol (MONG), dan gliserol berurut-turut 11%, 5%, 51.7%, dan 32%. Gliserol hasil memiliki kadar air, abu, MONG, dan gliserol berturut-turut sebesar 0.34-4.0%, 2.8-5.3%, 3.7-42%, dan 51-93%. Kombinasi teknik purifikasi ini selain dapat meningkatkan kadar gliserol juga dapat menurunkan kadar air, abu, dan MONG. Sifat fisiko-kimia yang terbaik diperoleh pada tambahan bentonit-arang aktif (25:75) dengan pemanasan karena kadar air, abu, dan gliserol sesuai dengan syarat mutu SNI 06-1564-1995, serta kadar MONG sesuai dengan EN ISO 9001:2009
Identifikasi Faktor Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan di Cagar Alam Kawah Kamojang (Komplek Guntur), Garut.
Kebakaran Hutan dan Lahan telah menimbulkan kerugian di bidang sosial, ekonomi dan ekologi di Indonesia. Kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang dilakukan tidak akan optimal tanpa diketahuinya faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan. Gunung Guntur termasuk dalam kawasan Cagar Alam (CA) Kawah Kamojang (Komplek Guntur) dan hampir setiap tahunnya mengalami kebakaran hutan dan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan di CA Kawah Kamojang (Komplek Guntur). Metode penelitian yang digunakan yaitu observasi lapang, wawancara mendalam dan penelusuran dokumen. Hasil dari wawancara, observasi lapang, pengumpulan dokumen serta data kebakaran hutan dan lahan menunjukkan bahwa faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan adalah faktor manusia berupa aktifitas penambangan pasir, persiapan lahan dan pemburuan burung. Kebiasaan masyarakat dalam menggunakan api untuk mempersiapkan lahannya dikombinasikan dengan kemarau panjang akibat fenomena meningkatnya nilai SST Anomalies dan menurunnya nilai SOI dapat memicu kebakaran hutan dan lahan terjadi pada Bulan Juli hingga Oktober setiap tahunnya
Pola Pelepasan P dari Pupuk Lepas lambat NPK dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan Tanaman Padi serta Beberapa Unsur Hara dalam Tanah.
Peningkatan efisiensi pemupukan unsur hara perlu diupayakan melalui
penggunaan formulasi Slow Release Fertilizer (SRF) atau pupuk lepas lambat.
Penelitian ini bertujuan mengetahui pola pelepasan P dari SRF NPK dan
pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman padi sawah serta jumlah Ca-, Mg-dd
dan ketersediaan hara mikro dalam tanah. Penelitian ini terbagi menjadi dua
bagian, yaitu (1) penanaman padi dengan metode rancangan acak lengkap satu
faktor, yaitu pupuk dengan 7 perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak 3
kali sehingga terdapat 21 satuan percobaan. (2) Analisis unsur hara di dalam tanah
dengan metode inkubasi tanah, terdiri dari 7 perlakuan. Pupuk yang digunakan
terdiri dari dua jenis SRF yaitu SRF 16-16-16 dan SRF 30-6-8 yang dibandingkan
dengan NPK Mutiara. Masing-masing pupuk diuji dengan dosis 150 dan 300
kg/ha di rumah kaca untuk penanaman padi, sedangkan dosis 600 dan 1200 kg/ha
untuk inkubasi tanah di laboratorium. Penelitian menunjukkan SRF memberikan
pengaruh terhadap pertumbuhan fase vegetatif pada tanaman padi. SRF 30-6-8
dosis 300 kg/ha berbeda nyata menghasilkan jumlah dan tinggi tanaman
dibandingkan dengan pupuk SRF 16-16-16 dan tidak berbeda nyata dengan pupuk
NPK Mutiara. Hasil uji pupuk menunjukkan pada minggu ke-1 pelepasan P dari
SRF mencapai 40-50%, minggu ke-7 meningkat 50-70%, dan pada minggu ke-14
mencapai 90%. Pupuk SRF mempunyai pola pelepasan P lebih lambat
dibandingkan dengan pupuk NPK Mutiara. Jumlah Ca-, Mg-dd dalam tanah tidak
kelihatan perbedaannya pada setiap perlakuan selama inkubasi. Ketersediaan
unsur hara mikro Fe pada setiap perlakuan menurun seiring berjalannya waktu
inkubasi dibandingkan dengan unsur hara Mn, Zn dan Cu yang cenderung stabil
Analisis Penambatan Molekul Senyawa Aktif Pare (Momordica charantia) pada Enzim Maltase Glucoamylase untuk Agen Anti- Diabetes.
Molecular Docking dengan reseptor adalah metode komputasi terkenal
yang digunakan untuk memprediksi interaksi antara dua molekul. Senyawa
fenolik pare (Momordica charantia) sudah terbukti memiliki khasiat dalam
pengobatan diabetes namun belum diketahui potensi dari masing-masing senyawa
tersebut. Kontrol yang digunakan untuk bahan pembanding bagi ligan uji yaitu
miglitol. Parameter yang di analisis yaitu energi ikat (ΔG), konstanta inhibisi (Ki),
dan binding site similarity (BSS). Senyawa fenolik yang diuji adalah glitazone,
pioglitazone, voglibose, ferulic acid, gallic acid, caffeic acid, p-coumaric, gentisic
acid, chlorogenic acid, cianidanol. Hasil simulasi menunjukkan senyawa
flavonoid antioksidan cianidanol yang dapat menghambat aktivitas enzim maltase
glucoamylase dengan nilai energi ikat sebesar -6.7 kkal mol-1 dibandingkan
dengan energi ikat miglitol bernilai -5.4 kkal mol-1. Persentase BSS senyawa
cianidanol dibandingkan dengan ligan kontrol miglitol yaitu 94.73% menandakan
posisi penambatan yang hampir mirip dan memiliki mekanisme yang serupa
seperti pada miglitol. Dapat disimpulkan pula bahwa senyawa flavonoid adalah
inhibitor maltase glucoamylase alami
Evaluasi Pengaruh Bajak Dalam dan Penambahan Bahan Organik terhadap Sifat Biologi Tanah dan Petumbuhan Akar Kelapa Sawit.
Budidaya kelapa sawit di Indonesia banyak dilakukan pada lahan dengan
kesuburan tanah yang relatif rendah seperti tanah Podsolik. Tanah Podsolik yang
memiliki horison penimbunan liat dan relatif bersifat padat menyebabkan
pertumbuhan akar menjadi terhambat. Hal tersebut menyebabkan penyerapan air
dan unsur hara menjadi kurang optimal. Untuk mengatasi permasalahan pemadatan
tanah tersebut, PT Sawit Asahan Indah pada tahun 2015 melakukan pengolahan
tanah secara mekanis yang bertujuan untuk menggemburkan tanah yang disebut
sebagai bajak dalam atau ‘Sub-soiling’. Kegiatan bajak dalam dilakukan pada
gawangan mati. Bajak dalam yang telah dilakukan disertai dengan penambahan
bahan organik berupa kotoran hewan, asam humat, dan tandan kosong kelapa sawit.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh bajak dalam dan pemberian
bahan organik terhadap sifat biologi tanah dan pertumbuhan akar kelapa sawit pada
tahun ketiga. Pengambilan contoh tanah komposit dan contoh akar kelapa sawit
dilakukan di Blok Timur PT Sawit Asahan Indah, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi
Riau. Analisis tanah yang dilakukan berupa pengukuran kadar C-organik, pH, kadar
air (% b/b), total mikrob, total fungi, dan respirasi tanah. Contoh akar yang diambil
kemudian dilakukan pengukuran kerapatan akar untuk mengetahui aktivitas
pertumbuhan akar kelapa sawit. Setelah tiga tahun perlakuan, hasil evaluasi
menunjukkan bahwa bajak dalam yang telah dilakukan berpengaruh terhadap
ketersediaan C-organik tanah. Rata-rata kadar C-organik tanah pada gawangan mati
yang dibajak dalam maupun tanpa bajak dalam tergolong tinggi, yaitu sebesar
4.06% dan 3.41%. Bajak dalam yang telah dilakukan tidak berpengaruh nyata
terhadap kadar air tanah (% b/b), pH tanah, sifat biologi tanah, dan pertumbuhan
akar kelapa sawit. Tanah pada lokasi penelitian umumnya memiliki pH tanah yang
tergolong masam (pH 4.03-5.47). Sementara itu, hasil evaluasi berdasarkan
pemberian bahan organik berupa kotoran hewan, asam humat, dan tandan kosong
kelapa sawit tidak berpengaruh nyata terhadap sifat biologi tanah dan pertumbuhan
akar kelapa sawit
Kandungan Pigmen Fikosianin dan Karotenoid Spirulina platensis yang Dikultivasi menggunakan Warna Lampu Berbeda.
Spirulina platensis merupakan salah satu mikroalga penghasil pigmen alami yang umum digunakan dalam industri. Pigmen terbesar dalam S. platensis yaitu fikosianin. Pigmen lain yang terkandung misalnya karotenoid. Tujuan penelitian ini untuk menentukan pengaruh penggunaan lampu terhadap kurva pertumbuhan, kandungan fikosianin dan karotenoid, serta aktivitas antioksidan dari S. platensis. Tahapan penelitian ini meliputi kultivasi S. platensis menggunakan warna lampu berbeda, pemanenan, ekstraksi fikosianin dan karotenoid, dan analisis antioksidan pigmen. Kurva pertumbuhan S. platensis menunjukan nilai Optical Density tertinggi terdapat pada perlakuan lampu putih. Kandungan fikosianin pada lampu biru sebesar 0.420 mg/mL, adapun kandungan karotenoid pada lampu putih sebesar 4.317 μg/mL. Nilai IC50 fikosianin lampu putih, merah dan biru masing-masing yaitu 502.60 ppm, 620.95 ppm dan 805 ppm. Nilai IC50 karotenoid lampu putih yaitu 1444.50 ppm, lampu merah yaitu 2004.70 ppm, dan lampu biru 1691.50 ppm
Korelasi Spektrum Inframerah dan Aktivitas Antioksidan dari Daun Tempuyung (Sonchus arvensis) menggunakan Kemometrik
Daun tempuyung (Sonchus arvensis) diketahui memiliki banyak khasiat, salah satunya sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah menetapkan gugus fungsi yang diduga aktif berperan dalam aktivitas antioksidan dan menentukan korelasinya. Sampel daun diekstraksi dengan pelarut air, etanol 10%, etanol 30%, etanol 50%, etanol 70%, dan etanol pa. Aktivitas antioksidan diuji dengan metode 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH) dan ditentukan gugus fungsi komponen ekstraknya menggunakan spektrofotometer inframerah Fourier. Aktivitas antioksidan dan kadar fenolik total tertinggi didapatkan pada ekstrak etanol 70%. Ekstrak dapat dikelompokkan berdasarkan ragam pelarut pengekstraksi menggunakan principal component analysis (PCA) dengan total PC 93%. Data serapan gugus fungsi dikorelasikan dengan aktivitas antioksidan menggunakan partial least square (PLS). Hasil analisis PLS menunjukkan bahwa gugus fungsi –OH dan C-O diduga merupakan gugus yang berkontribusi paling tinggi pada aktivitas antioksidan ekstrak daun tempuyung
Karakteristik Acoustic Ayam Pelung yang Berbeda Umur
Karakteristik acoustic ayam pelung diduga dipengaruhi oleh umur ayam pelung. Data tersebut masih terbatas ketersediaannya. Penelitian ini menganalisis karakteristik acoustic ayam pelung yang berbeda umurnya. Ayam pelung yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 16 ekor terdiri dari 5 ekor umur 7 bulan, 4 ekor umur 10 bulan, 5 ekor umur 12 bulan, dan 2 ekor umur lebih dari 15 bulan. Suara kokok ayam pelung direkam dengan menggunakan mikrofon Sennheiser ME66 dan disimpan dalam sound recorder Sony PCM D50, selanjutnya dianalisis menggunakan program acoustic Raven Pro 1.4. Ayam pelung umur 10 bulan memiliki durasi suara song yang lebih tinggi (7.62±1.52 s) daripada ayam pelung yang berumur 7, 12, dan lebih dari 15 bulan. Ayam pelung yang berumur 7 bulan memiliki peak frekuensi yang rendah yaitu sebesar 1 745.58±559.91 Hz. Ayam pelung umur 10 dan 12 bulan memiliki amplitudo yang lebih tinggi (80 648.00±19 786.88 u) dan (79 667.00±10 349.58 u) dibandingkan dengan ayam yang lain. Ayam pelung umur 10 dan 12 bulan memiliki tipe 1st waveform dengan durasi suara song yang panjang, amplitudo, dan frekuensi yang tinggi. Karakteristik 2nd waveform ayam pelung umur 10 dan 12 bulan memiliki durasi yang panjang, oscillogram rapat dan tebal, amplitudo tinggi, dan frekuensi rendah. Karakteristik 3rd waveform ayam pelung umur 10 dan 12 bulan memiliki durasi yang pendek, oscillogram rapat dan tebal, amplitudo menurun, dan frekuensi menurun. Ayam pelung umur 10 dan 12 bulan memiliki kualitas suara yang lebih baik dibanding umur yang lain (7 dan >15 bulan)
Sintesis Hidrogel Berbasis Selulosa Tongkol Jagung Menggunakan Akrilamida dengan Penaut Silang Metilen Bisakrilamida (MBA).
Tongkol jagung memiliki kandungan selulosa tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan utama pembuatan hidrogel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan selulosa tongkol jagung dan akrilamida terhadap kemampuan swelling atau mengembang dan sifat fisik hidrogel. Sintesis hidrogel dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi selulosa 5, 10, 15, 20 dan 25%, serta variasi penambahan Akrilamida yaitu 10, 12 dan 16%. Hasil penelitian menunjukkan hidrogel yang dihasilkan dengan penambahan selulosa daan Akrilamida memiliki karakteristik yang lebih baik dibandingkan hanya selulosa yang disintesis. Hidrogel dengan rasio selulosa sebesar 10% dan akrilamida 16% mempunyai rasio swelling terbaik yaitu sebesar 15152.3%. Berdasarkan uji tekstur diketahui bahwa penambahan selulosa membuat nilai hardness tinggi namun memiliki nilai springiness yang rendah. Analisis Morfologi Permukaan menunjukkan permukaan hidrogel yang berpori, memiliki gumpalan dan membentuk jaringan tiga dimensi