31665 research outputs found
Sort by
Pengembangan Perikanan Bubu di Kali Adem, Muara Angke, Teluk Jakarta.
Perairan Teluk Jakarta merupakan salah satu sentra penangkapan rajungan yang cukup penting di perairan Laut Jawa sehingga rajungan menjadi target utama nelayan bubu di perairan Teluk Jakarta. Kegiatan perikanan bubu dapat menunjang usaha perikanan di Kali Adem, Muara Angke, namun, tingkat kesejahteraan nelayan bubu di Kali Adem masih tergolong rendah. Hal ini dikarenakan belum diketahui dengan pasti kondisi perikanan rajungan di Kali Adem serta tingkat keuntungan usaha perikanan bubu di Kali Adem sehingga dibutuhkan startegi pengembangan sebagai rekomendasi untuk meningkatkan usaha perikanan bubu di Kali Adem. Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung jenis dan jumlah hasil tangkapan bubu, menganalisis keuntungan usaha perikanan bubu serta menyusun strategi pengembangan perikanan bubu di Kali Adem, Muara Angke, Teluk Jakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode observasi dan survei. Jumlah unit penangkapan rajungan yang ada di Kali Adem sebanyak 28 perahu, alat tangkap yang digunakan yaitu bubu lipat sebanyak 450 unit per perahu dengan waktu operasi one day fishing. Keuntungan yang diperoleh oleh nelayan bubu di Kali Adem selama setahun sebesar Rp 47.021.000 dengan R/C ratio senilai 1.23 sehingga usaha perikanan bubu menguntungkan dan layak untuk dijalankan. Faktor internal dan eksternal usaha perikanan bubu di Kali Adem memiliki pengaruh nyata terhadap produksi hasil tangkapan sehingga strategi yang cocok untuk digunakan adalah strategi (S-O), yaitu mengoptimalkan sumberdaya rajungan untuk komoditas ekspor dan memanfaatkan jumlah alat tangkap bubu yang banyak untuk menangkap rajungan karena harga jual yang tinggi
Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Underpricing Saham pada Initial Public Offering di Bursa Efek Indonesia
Pasar modal merupakan salah satu alternatif yang digunakan perusahaan
dalam pemenuhan dana secara eksternal. Transaksi di pasar modal dengan
menjual saham perusahaan secara perdana disebut dengan istilah Initial Public
Offering (IPO). Dalam penawaran saham perdana, seringkali terjadi fenomena
underpricing, dimana harga saham di pasar perdana lebih rendah dibandingkan
dengan harga saham ketika ditawarkan di pasar sekunder. Selama periode tahun
2014 hingga 2018, fenomena terjadinya underpricing pada perusahaan yang
melakukan IPO mencapai persentase yang sangat tinggi, yakni sebesar 91.27%.
Underpricing bersifat tidak menguntungkan bagi perusahaan karena dana yang
diperoleh dari publik tidak maksimum. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis tingkat underpricing dan faktor-faktor yang memengaruhi
underpricing pada perusahaan non keuangan yang melakukan IPO tahun 2014-
2018. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ialah data kuantitatif dan
kualitatif yang bersumber dari data sekunder. Data sekunder diperoleh melalui
website IDX dan e-bursa, prospektus perusahaan serta berbagai literatur keuangan
lainnya. Teknik pengambilan sampel yang digunakan ialah purposive sampling
dengan metode analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa variabel earning per share dan current ratio berpengaruh dengan arah
positif terhadap underpricing, serta reputasi underwriter berpengaruh dengan arah
negatif terhadap underpricing. Sementara itu, variabel return on asset, return on
equity, dan nilai penawaran saham tidak berpengaruh terhadap underpricing pada
perusahaan non keuangan yang melakukan IPO tahun 2014 hingga 2018
Kualitas Konsumsi Pangan dan Kaitannya dengan Kegemukan pada Remaja di Kota Bogor
Beberapa penyebab terjadinya peningkatan prevalensi overweight dan obesitas pada remaja adalah perubahan kebiasaan makan terutama pada kuantitas dan kualitas konsumsi disertai dengan peningkatan konsumsi minuman berpemanis gula. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis keterkaitan antara kualitas konsumsi pangan dan konsumsi minuman berpemanis gula dengan kegemukan pada subjek remaja di kota Bogor. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional analytical study dan melibatkan sebanyak 88 sampel (44 subjek gemuk dan 44 subjek normal). Penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2019 di SMPN 5 Bogor. Data primer diperoleh melalui pengukuran antropometri (BB, TB, lingkar pinggang dan panggul serta persen lemak tubuh), 2 x 24 jam food recall, dan pengisian kuesioner (karakteristik subjek, karakteristik sosioekonomi keluarga, SQ-FFQ dari minuman berpemanis gula). Data dianalisis menggunakan WHO AnthroPlus, Microsoft Excel 2007 dan SPSS 16.0. Hasil penelitian menunjukkan kualitas konsumsi subjek yang menggunakan IGSK-60 memiliki perbedaan yang nyata (p<0.05) antara kedua kelompok subjek, dengan kelompok subjek gemuk memiliki skor IGSK-60 yang lebih buruk (26.1 ± 6.7). Status gizi pada kelompok subjek gemuk secara signifikan lebih besar pada pengukuran antropometri lingkar pinggang, rasio lingkar pinggang dan panggul serta persentase lemak tubuh. Total asupan gula serta konsumsi minuman berpemanis gula antar kedua kelompok subjek relatif sama. Kelompok subjek gemuk cenderung lebih banyak mengonsumsi total asupan gula (59.4 ± 82.4). Hubungan negatif secara signifikan ditemukan pada kualitas konsumsi dengan status gizi (z-score IMT/U, persen lemak tubuh dan lingkar pinggang). Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik kualitas konsumsi, maka semakin normal status gizi subjek. Hubungan positif secara signifikan ditemukan antara frekuensi minuman gula berpemanis dan rasio lingkar pinggang dan panggul subjek (p<0.05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin sering konsumsi minuman berpemanis gula, semakin besar rasio lingkar pinggang dan panggul subjek
Pengembangan Produksi Cascara dari Limbah Pengolahan Kopi Berbasis Produksi Bersih (Studi Kasus PT X, Pangalengan).
Cascara merupakan minuman yang berasal dari limbah kulit kering pengolahan kopi yang diseduh layaknya teh. Dalam upaya membangun produksi cascara yang berkelanjutan dapat diimplementasikan dengan metode kajian produksi bersih. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kegiatan produksi bersih, mengembangkan perancangan industri cascara, dan menganalisa kelayakan ekonomi pengembangan industri cascara berbasis produksi bersih. Identifikasi alternatif produksi bersih dilakukan dengan metode quick scan dan penentuannya dilakukan dengan dasar minimalisasi adanya limbah dan loss pada industri cascara. Alternatif yang diperoleh diterapkan dalam pengembangan rancangan industri cascara yang baik secara ekonomi dan ramah lingkungan sehingga dapat berkelanjutan. Kelayakan rancangan industri cascara dianalisa secara finansial dengan menghitung nilai Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) dan Payback Period (PBP). Hasil penelitian menunjukkan alternatif produksi bersih yang diperoleh dari metode quick scan meliputi perbaikan proses sortasi, penyimpanan, dan modifikasi produk cascara. Perbaikan proses sortasi memiliki nilai B/C ratio 1,5 dan mampu menghasilkan rendemen cascara yang lebih tinggi sebesar 7.2% dari rendemen proses sebelumnya yang berkisar 6%, sedangkan perbaikan proses penyimpanan dapat meningkatkan kulitas produk cascara dan memiliki B/C ratio 1,5 . Modifikasi produk menjadi cascara celup dilakukan untuk mempermudah proses pemasaran produk kepada konsumen dengan nilai B/C ratio 3,38. Analisis kelayakan finansial pengembangan produksi cascara di PT X menunjukkan nilai B/C ratio bernilai 3,58 dan PBP selama 0,4814 bulan. Dengan penerapan produksi bersih dan analisis kelayakan secara finansial menunjukkan bahwa pengembangan rancangan industri cascara mampu menjadi industri yang berkelanjutan
Model Deteksi Botnet pada Trafik Terenkripsi dalam Jaringan Software-Defined Network (SDN) menggunakan Deep Neural Network (DNN).
Konfigurasi perangkat jaringan baru yang dilakukan terpusat dan tanpa
bergantung kepada vendor perangkat merupakan salah satu konsep yang ditawarkan
jaringan Software-Defined Network (SDN). Konsep SDN sangat efektif diterapkan
pada jaringan yang memiliki perangkat sangat banyak atau jaringan dengan
infrastruktur besar dan luas. Kehadiran jaringan SDN membuat pengelola jaringan
perlahan-lahan mulai meninggalkan jaringan konvensional. Perbedaan jaringan
SDN dengan jaringan konvensional terletak pada arsitektur jaringannya. Arsitektur
jaringan SDN membagi perangkat jaringannya kedalam tiga bagian utama yaitu
data plane, control plane dan application plane, sedangkan didalam arsitektur
jaringan konvensioanl, tiga bagian utama dalam jaringan SDN digabung menjadi
satu dalam sebuah perangkat jaringan seperti router dan switch, yang dalam
arsitektur jaringan SDN dikenal sebagai data plane.
Di dalam jaringan SDN, aktivitas seperti konfigurasi perangkat jaringan
baru, controling dan monitoring jaringan dilakukan terpusat pada bagian yang
dikenal dengan control plane. Bagian control plane juga mengatur keluar masuk
semua aliran lalu lintas dalam jaringan SDN. Fungsi dan peran control plane dalam
jaringan SDN sangatlah penting. Untuk itu, perlu adanya sebuah sistem keamanan
yang kuat untuk melindungi control plane dalam jaringan SDN dari serangan. Jika
tidak, ketika terjadi serangan pada bagian control plane dalam jaringan SDN maka,
bisa dipastikan semua sumberdaya jaringan dengan cepat bisa diambil alih dan
dikuasasi seluruhnya oleh penyerang. Untuk mengatasi hal tersebut, jaringan SDN
menyediakan sistem keamanan yang dikenal dengan protocol OpenFlow. Protokol
keamanan tersebut berfungsi mengarahkan setiap aliran lalu lintas paket yang lewat
sesuai tujuannya. Protocol OpenFlow dalam jaringan SDN menghubungkan bagian
control palane dan data plane, sehingga setiap aliran yang dilewatkan protocol
OpenFlow sesuai tujuannya diatur pada bagian control plane. Beberapa penelitian
terdahulu menjelaskan bahwa sistem keamanan protocol OpenFlow belum mampu
melakukan identifikasi terhadap trafik terenkripsi dengan baik. Protocol
TLS/HTTP merupakan salah satu trafik terenkripsi yang mampu melewati sistem
keamanan protocol OpenFlow. Hal tersebut merupakan masalah yang perlu
diperbahrui oleh jaringan SDN. Sebab, jika ada serangan menggunakan trafik
terenkripsi dan berhasil menyerang maka, akibatnya penyerang akan dengan cepat
dan mudah menguasai jaringan SDN.
Dewasa ini banyak sekali serangan dalam jaringan yang memanfaatkan
trafik terenkripsi untuk menyerang sistem keamanan dari sebuah jaringan. Botnet
adalah salah satu serangan dalam dunia jaringan yang menggunakan trafik
terenkripsi sebagai celah untuk melancarkan serangannya. Serangan botnet
merupakan kumpulan aplikasi jahat seperti DDoS, fast-flux, click fraud, port scan,
dan spam. Kumpulan aplikasi tersebut didesain oleh pembuatnya (botmaster /
botheader) untuk menyerang jaringan, dengan tujuan melemahkan performa sebuah
jaringan atau mengambil informasi penting (userid dan password) dalam jaringan
secara illegal. Kurang lebih 16% sampai 25% komputer yang terhubung dengan
internet terinfeksi botnet. Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan bagi pengelola
jaringan, sehingga penelitian ini bertujuan membangun sebuah model sistem
kamanan yang baik, untuk membantu protocol OpenFlow melakukan pengamanan
terhadap lalu lintas trafik dalam jaringan SDN. Model yang dibangun diharapkan
mampu melakukan deteksi terhadap serangan dalam jaringan SDN, terutama pada
serangan botnet yang menggunakan trafik terenkripsi. Model keamanan yang
dibangun pada penelitian ini, menggunakan pendekatan Deep Neural Network
(DNN) dan function stochastic Adptive momentum (Adam) untuk optimasi model.
DNN merupakan metode Machine Learning (ML) yang dikenal dengan Deep
Learning (DL) dan merupakan pengembangan dari Neural Network (NN).
Penelitian ini memanfaatkan salah satu framework DNN yang cukup populer yaitu
Keras dan Tensorflow. Data yang digunakan pada penelitian adalah data traffic
network CTU-13, hasil tangkapan (capture) Lab. Networking Ceko Technical
University (CTU) tahun 2011 dan di-publish untuk umum, pada alamat URL
https://mcfp.weebly.com/the-ctu-13-dataset-a-labeled-dataset-with-botnet-normaland-
background-traffic.html, dari data tersebut dilakukan akuisis data paket botnet
dan normal pada trafik terenkripsi, setelah data botnet dan normal diakusisi, data
tersebut sebelum digunakan, terlebih dahulu perlu dilakukan praproses data dan
setelah itu, data bisa digunakan sebagai data model. Data model yang digunakan
mempunyai 2 class target berjenis factor atau kategorial yaitu botnet dan normal.
Model deteksi botnet pada trafik terenkripsi dibangun dengan pendekatan
DNN dan dievaluasi menggunakan metode confusion matrix. Hasil evaluasi model
menunjukan model mampu melakukan deteksi botnet, pada trafik terenkripsi dalam
jaringan SDN dengan tingkat akurasi 94.78%, presisi 93.28% dan recall 99.11%.
Model tersebut mampu melakukan identifikasi serangan botnet dengan cukup baik,
dari 3730 data paket botnet yang diberikan, model mampu mendeteksi dengan baik
3697 data peket sebagai botnet dan melakukan kelasahan yang cukup kecil yaitu 33
paket botnet diprediksi sebagai paket normal, sehingga kesimpulannya adalah
model dengan akurasi 94.78% dan data uji 20% merupakan model terbaik yang
dihasilkan pada penelitian ini, selain itu dengan melakukan optimasi model
menggunakan metode function stochastic adptive momentum (Adam), mampu
meningkatkan akurasi model cukup signifikan yaitu mencapai 94.78%
Kajian Stok Ikan Kuniran (Upeneus sulphureus, Cuvier 1829) di Perairan Selat Sunda, Banten
Ikan kuniran (Upeneus sulphureus) merupakan ikan demersal sebagai
komoditas tangkapan utama di Selat Sunda yang masih banyak dimanfaatkan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis stok ikan kuniran sebagai dasar
pengelolaan agar pemanfaatannya dapat dilakukan secara optimal dan
berkelanjutan. Pengambilan contoh dilakukan secara acak berlapis berdasarkan
panjang ikan pada bulan Mei-Oktober 2018 di PPP Labuan, Banten. Hasil
penelitian menunjukkan nisbah kelamin ikan kuniran adalah 1,00:1,09. Pola
pertumbuhan ikan kuniran adalah allometrik negatif dan isometrik untuk masingmasing
jantan dan betina. Distribusi frekuensi panjang berkisar antara 71-162
mm. Nilai dugaan L∞ ikan jantan 200,0 mm dengan nilai K sebesar 0,26,
sedangkan ikan betina memiliki nilai dugaan L∞ sebesar 172,5 mm dengan nilai K
sebesar 0,31. Pola rekrutmen ikan kuniran memiliki dua puncak. Laju mortalitas
total ikan jantan 1,95 dan betina 1,40. Laju eksploitasi ikan jantan sebesar 0,81,
sedangkan ikan betina sebesar 0,70. Ukuran pertama kali tertangkap kuniran lebih
kecil dibandingkan ukuran pertama kali matang gonad. Pemanfaatan ikan kuniran
di Selat Sunda mengalami growth overfishing
Faktor Risiko Hipertensi Terkait Pangan dan Gizi pada Penduduk Dewasa di Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko hipertensi terkait pangan dan gizi pada penduduk dewasa Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study. Penelitian ini melibatkan 82 subjek berusia 26-45 tahun yang merupakan penduduk di 6 Desa di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Subjek dipilih melalui multistage random sampling dari data Survei Keluarga Sehat yang dilakukan oleh Puskesmas Jenu. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2018. Data karakteristik subjek dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner, data pangan dikumpulkan menggunakan Semi Quantitatative Food Frequency Questionaire (SQ-FFQ) dan data aktifitas fisik diukur menggunakan Global Physical Activity Questionaire (GPAQ). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan (p>0.05) antara usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pendapatan, dan riwayat penyakit hipertensi keluarga dengan hipertensi. Tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan natrium, kalium, kalsium, dan magnesium dengan hipertensi. Konsumsi ikan air tawar (p=0.002, r=-0.330), tempe (p=0.039, r=-0.229), dan terung (p=0.049, r =-0.218) berhubungan negatif dengan hipertensi. Terdapat hubungan positif signifikan antara IMT (p=0.003, r=0.325) dan lingkar pinggang (p=0.001, r=0.349) terhadap hipertensi. Tidak terdapat hubungan signifikan antara aktivitas fisik subjek dengan hipertensi, namun durasi aktifitas sedenter berhubungan positif dengan hipertensi (p=0.047, r=0.220). Tidak terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan merokok dengan hipertensi. Subjek yang tergolong overweight dan obess cenderung memiliki risiko yang lebih besar menderita hipertensi dibandingkan dengan subjek kurus dan normal (OR=4.53; 95% CI 1.01-20.40). Selain itu, subjek yang memiliki durasi aktivitas sedenter lebih dari 4.79 jam/hari memiliki risiko hipertensi yang lebih tinggi (OR=3.12; 95% CI 1.06-9.19). Selanjutnya, konsumsi ikan air tawar kurang dari 15.6 gram/hari dapat meningkatkan risiko hipertensi (OR=5.13; 95% CI 1.76-14.92)
Analisis Variabilitas Tinggi Paras Laut dan Arus Geostropik di Perairan Selatan Jawa dari Data Satelit Altimetri dan Argo Float.
Satelit altimetri dan argo float telah digunakan secara luas untuk
mengungkap fenomena geofisik yang kompleks di laut, seperti di selatan Jawa.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabilitas spasial dan temporal dari
data Tinggi Paras Laut (TPL) dan arus geostropik di perairan selatan Jawa
menggunakan data altimeter dan data argo float. Data yang digunakan adalah data
Sea Level Anomaly (SLA) deret waktu harian dari 2004-2016 dan menghitung
komponen arus geostropik, sedangkan data argo float yang digunakan adalah data
salinitas dan suhu bulanan dengan rentang waktu 2004-2016. Data anomali Tinggi
Paras Laut (TPL) dan komponen zonal arus geostropik, yang dianalisis
menggunakan metode Empirical Orthogonal Function (EOF) untuk mengungkap
variabilitas spasial dan temporal.
Variabilitas TPL di perairan Selatan Jawa dipengaruhi oleh sirkulasi angin
musiman dan variasi iklim. Variabilitas TPL spasial dan temporal di perairan
Selatan Jawa dilihat dari empat mode dengan jumlah explained variance sebesar
79,68%. Pola spasial untuk mode pertama didominasi oleh anomali positif dengan
nilai tertinggi di sekitar pantai selatan Jawa, sedangkan mode kedua menunjukkan
anomali negatif di sekitar pantai selatan Jawa, dan anomali positif di sepanjang
wilayah lepas pantai. Variasi temporal yang dominan ditunjukkan dengan
periodisitas setengah tahunan, tahunan, dan antar tahunan. Berdasarkan variasi
spasial dan temporal dari data TPL, diketahui bahwa variabilitas setengah tahunan
di daerah penelitian memiliki asosiasi dengan gelombang Kelvin yang bergerak
di pantai barat Sumatera dan Selatan Jawa, variabilitas tahunan identik dengan
upwelling dan downwelling tahunan, dan variabilitas antar tahunan memiliki
asosiasi dengan IOD dan ENSO.
Variabilitas komponen zonal arus geostropik dijelaskan dari empat mode
utama dengan jumlah explained variance sebesar 35.65%. Pola spasial dalam
mode pertama menunjukkan anomali positif di sekitar pantai Sumatera dan Jawa,
sementara anomali negatif menyebar di sepanjang wilayah lepas pantai. Dalam
mode kedua, pola spasial menunjukkan nilai positif di dekat wilayah pantai, dan
nilai negatif menyebar sekitar 10°LS-13°LS, dengan periodisitas tahunan,
setengah tahunan, dan intra tahunan. Berdasarkan variasi spasial dan temporal dari
data, diduga variabilitas komponen zonal geostropik di perairan selatan Jawa
adalah indikasi upwelling tahunan, gelombang Kelvin, pergerakan South Java
Current (SJC) dan South Equatorial Current (SEC), dan upwelling dengan
periodisitas antar tahunan yang berpropagasi melalui Arlindo selama IOD dan
ENSO.
Variabilitas arus geostropik dari analisis data argo ditampilkan dalam empat
mode hasil analisis EOF dengan jumlah explained variance sebesar 50.47%.
Anomali yang terjadi di perairan dekat pantai selatan Jawa tidak dapat dideteksi
karena keterbatasan cakupan spasial dari distribusi argo float. Pola spasial pada
mode pertama menunjukkan anomali positif pada koordinat 110°BT-114°BT dan
7°LS-13°LS, sementara anomali negatif terlihat pada koordinat 13°LS-18°LS.
Perbedaan fase positif-negatif berosilasi dengan periodisitas tahunan, setengah
tahunan dan antar tahunan. Mode kedua menunjukkan pola spasial dengan
anomali negatif pada 10°LS-15°LS, selanjutnya pola spasial menunjukkan
anomali positif hingga koordinat 20°LS. Variabilitas spasial berosilasi dengan
periodisitas setengah tahunan, tahunan dan intra musiman. Pada mode ketiga dan
mode keempat menunjukkan variabilitas dengan periodisitas antar tahunan,
tahunan dan intra musiman.
Hasil perbandingan arus geostropik dari satelit altimetri dan argo float
menunjukkan pola yang sangat identik pada mode pertama, baik spasial maupun
temporal. Pada mode kedua hanya pola spasial yang identik, namun tidak diikuti
oleh variasi temporal. Data altimetri memiliki resolusi spasial dan temporal yang
lebih baik, namun hanya di lapisan permukaan. Sedangkan data argo float
memiliki resolusi spasial dan temporal yang kecil, namun menjangkau kolom
perairan. Berdasarkan hasil tersebut dapat dikatakan bahwa kedua data ini dapat
digunakan dan saling melengkapi dalam menganalisis variabilitas lautan baik di
level permukaan maupun di kedalaman.
Pola spasial TPL dan arus geostropik dari satelit altimetri dan argo float
menunjukkan karakteristik yang berbeda, terutama antara perairan dekat pantai
dengan lepas pantai, yang berosilasi dengan periodisitas setengah tahunan,
tahunan dan antar tahunan. Perbandingan variabilitas arus geostropik dari satelit
altimetri dan argo float menunjukkan pola spasial dan temporal yang identik pada
mode pertama. Mode kedua menunjukkan pola spasial yang identik, namun
berbeda pada variasi temporal, sedangkan pada mode ketiga dan keempat tidak
menunjukkan kesamaan baik variasi spasial maupun temporal
Aktivitas antioksidan dan inhibisi α-glukosidase dari sereh wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle).
Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit gangguan metabolik menahun akibat pankreas tidak memproduksi cukup insulin atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif sehingga terjadi peningkatan kadar glukosa darah dalam tubuh (hiperglikemia). Penanganan dilakukan untuk menjaga kadar glukosa darah penderita tetap normal dengan menerapkan terapi nutrisi (pola makan) dan terapi aktivitas fisik (olahraga) bersamaan dengan terapi obat secara oral dan atau dengan suntikan insulin. Namun, terapi obat sintetik memiliki efek samping sehingga untuk meminimalisir efek samping tersebut, pengobatan bahan herbal dapat menjadi alternatif pilihan untuk penderita DM. Salah satu tanaman yang berpotensi untuk penderita DM ialah sereh wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan proses ekstraksi dan fraksinasi sereh wangi, mempelajari fitokimia dari ekstrak, aktivitas antioksidan, inhibisi α-glukosidase dan identifikasi komponen bioaktif yang memiliki aktivitas antioksidan dan inhibisi α-glukosidase terbaik dari sereh wangi menggunakan Liquid chromatograph-Mass Spectrometry (LC-MS/MS).
Hasil skrining fitokimia yang menunjukkan ekstrak etanol 96% dari sereh wangi mengandung tanin, alkaloid, triterpenoid/steroid, saponin, fenolik dan flavonoid. Hasil maserasi kemudian difraksinasi menggunakan pelarut n-heksan, air dan etil asetat. Total fenolik dan flavonoid tertinggi pada fraksi n-heksan sebesar 466.67 mg GAE/g sampel dan 239.85 mg QE /g sampel. Antioksidan dan inhibisi α-glukosidase menunjukkan fraksi n-heksan memiliki nilai IC50 paling rendah yaitu 8.23 mg/mL dan 311.87 mg/mL. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan adanya korelasi signifikan antara total flavonoid terhadap aktivitas antioksidan (r=-0.904). Hasil identifikasi LC-MS/MS terhadap fraksi n-heksan menunjukkan adanya 17 senyawa, kemungkinan senyawa yang berperan sebagai antioksidan dan antidiabetes yaitu senyawa ar-turmeron, beesioside N dan notohamosin A
Citra Sentinel-1 untuk identifikasi fase pertumbuhan padi dengan analisa pola hamburan balik (studi kasus di Kecamatan Bojongpicung, Ciranjang, dan Haurwangi, Kabupaten Cianjur).
Sentinel-1 merupakan data Synthetic Aperture Radar (SAR) yang dapat
memberikan informasi spasial fase pertumbuhan padi untuk menghitung estimasi
produksi padi. Kelebihan Sentinel-1 adalah perekamannya bebas awan karena
panjang gelombang elektromagnetik yang digunakan mampu menembus atmosfer.
Perencanaan tersebut harus sesuai dengan ketetapan UU RI No.41 tahun 2009
mengenai perlindungan lahan pertanian berkelanjutan. Penelitian ini
menggunakan 12 akuisisi citra bertujuan merubah nilai digital number (DN)
menjadi nilai hamburan balik (backscatter), menganalisis pola hamburan balik
dan mengklasifikasikan fase pertumbuhan padi sesuai dengan umur tanaman padi
yang dikonversikan ke dalam hari setelah tanam (HST) di tiga kecamatan, yaitu
Bojongpicung, Ciranjang, dan Haurwangi, Kabupaten Cianjur. Melakukan
klasifikasi fase pertumbuhan menggunakan metode maximum likelihood dengan
mengkelaskan nilai hamburan balik melalui sampel Region of Interest (ROI)
untuk melihat persebaran fase pertumbuhan. Hasil penelitian menunjukkan pola
histogram yang berbeda antara nilai digital number dan hamburan balik, pada
digital number nilai piksel yang dihasilkan sangat besar sedangkan pada
hamburan balik hanya berkisar 0-1, perubahan tersebut terjadi karena telah
dilakukan koreksi radiometrik sehingga mengurangi kesalahan pada citra.
Kombinasi band yang digunakan adalah polarisasi VH, VV dan VH/VV. Nilai
hamburan balik pada VH/VV membentuk pola seperti parabola sehingga
digunakan sebagai acuan. Keragaman fase tumbuh pada setiap akuisisi citra
menghasilkan rentang nilai hamburan balik pada fase bera basah (0.204 – 0.253),
vegetatif (0.253 – 0.341), generatif (0.341 – 0.343), harvesting (0.343 – 0.230)
dan bera kering (<0.230). Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai
hamburan balik tertinggi terdapat pada fase generatif. Hasil klasifikasi maximum
likelihood menunjukan setiap akuisisi citra memiliki hasil uji akurasi yang rendah