31665 research outputs found
Sort by
Dampak Kebijakan Impor Ternak dan Daging Sapi terhadap Populasi Sapi Potong Lokal di Indonesia
Subsektor peternakan merupakan salah satu subsektor dalam sektor pertanian yang memegang peranan penting dalam pemenuhan pangan hewani di Indonesia baik berupa daging, susu, dan telur. Daging sapi merupakan salah satu produk subsektor peternakan yang menjadi komoditas pangan strategis karena memilliki kualitas yang baik dalam pemenuhan protein untuk membentuk masyarakat yang berkualitas. Sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan pendapatan masyarakat serta adanya perubahan selera, kebutuhan daging sapi nasional juga mengalami peningkatan dengan pertumbuhan sebesar 6.35 persen per tahun pada periode 2010 - 2017. Pada sisi penawaran domestik, pertumbuhan populasi sapi potong sebagai sumber produksi daging sapi berfluktuatif dan cenderung meningkat dengan pertumbuhan sebesar 3.52 persen per tahun, peningkatan ini diikuti dengan meningkatnya produksi daging sapi lokal sebesar 2.93 persen per tahun. Kecilnya pertumbuhan produksi domestik dibandingkan dengan pertumbuhan konsumsi daging sapi nasional berdampak terhadap peningkatan harga daging sapi yang terus meningkat hingga pada tahun 2017 mencapai Rp 115 780 per kg. Mengatasi masalah tersebut maka pemerintah melakukan kebijakan jangka pendek berupa impor daging sapi untuk memenuhi permintaan dan penetrasi harga daging sapi di Indonesia. Namun yang terjadinya volume impor daging sapi Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang positif dan meningkat sepanjang tahun hingga mencapai 18.05 persen per tahun, ditunjukkan dengan meningkatnya defisit neraca perdagangan daging sapi sebesar 115.78 persen pada tahun 2017. Adanya dampak negatif akibat ketergantungan impor daging sapi, maka pemerintah melakukan beberapa upaya berupa program swasembada daging sapi dan penetapan hambatan perdagangan.
Penelitian bertujuan untuk: 1) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi impor ternak dan daging sapi Indonesia; 2) Menganalisis dampak kebijakan impor ternak dan daging sapi serta penghapusan tarif impor daging sapi terhadap populasi sapi potong lokal di Indonesia; 3) Menganalisis dampak kebijakan impor ternak dan daging sapi serta penghapusan tarif impor daging sapi terhadap penawaran dan permintaan daging sapi di Indonesia. Populasi sapi potong lokal yang dimaksud dalam penelitian adalah sapi potong lokal asli Indonesia maupun sapi potong lokal hasil perkawinan dengan sapi potong luar, sedangkan kebijakan impor ternak terdiri dari sapi bibit dan sapi bakalan. Analisis menggunakan data sekunder selama periode 1990 – 2017. Penelitian menggunakan model sistem persamaan simultan dengan metode estimasi Two Stages Least Square.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan peningkatan impor sapi bibit dan penghapusan tarif impor daging sapi berdampak meningkatkan populasi sapi potong lokal, sedangkan penurunan impor sapi bakalan dan daging sapi berdampak menurunkan populasi sapi potong lokal di Indonesia. Pada sisi penawaran, penurunan impor sapi bakalan dan daging sapi serta penghapusan tarif impor berdampak menurunkan penawaran daging sapi nasional, sedangkan
peningkatan impor sapi bibit mampu meningkatkan penawaran daging sapi nasional di Indonesia. Pada sisi permintaan, penurunan impor sapi bakalan dan impor daging sapi berdampak menurunkan permintaan daging sapi nasional, sedangkan peningkatan impor sapi bibit dan penghapusan tarif impor daging sapi berdampak meningkatkan permintaan daging sapi di Indonesia.
Berdasarkan hasil seknario simulasi kebijakan, untuk menurunkan volume impor sapi bakalan dan daging sapi melalui peningkatan produksi daging sapi lokal tanpa menguras populasi sapi potong lokal yang dikhawatirkan dapat mengganggu keberlanjutan usaha ternak sapi potong dapat dilakukan dengan upaya perbaikan atau peningkatan teknologi dalam negeri. Adapun upaya yang dapat dilakukan yaitu peningkatan impor sapi bibit dan inseminasi buatan, serta penurunan suku bunga kredit bagi pelaku atau peternak usaha peternakan. Selain itu, diperlukan adanya dukungan kebijakan yang mampu memberikan informasi perbandingan relatif antara pertumbuhan populasi sapi potong lokal dengan pertumbuhan produksi daging sapi lokal
Sifat Fisik dan Kandungan Serat Kasar Bungkil Kedelai Argentina dan Brazil Hasil Fraksinasi Berdasarkan Perbedaan Densitas
Bungkil kedelai digunakan sebagai komponen utama dan menjadi salah satu bahan dalam pakan unggas di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan sifat fisik (kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan, berat jenis, sudut tumpukan) dan kandungan serat kasar bungkil kedelai dari Argentina dan Brazil sebelum dan sesudah diolah dengan fraksinasi. Racangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial terdiri dari 2 faktor (bahan dan fraksi) dan 3 ulangan. Analisis data dilakukan dengan sidik ragam (ANOVA) dan jika terdapat perbedaan dilanjutkan dengan uji Duncan. Data kandungan serat kasar dianalisis secara deskriptif dan data sifat fisik dianalisis menggunakan analisis varian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi (P <0.05) antara bahan dan fraksi pada karakteristik fisik bungkil kedelai kedelai Argentina dan Brazil. Nilai tertinggi pada uji sifat fisik bungkil kedelai asal Argentina dan Brazil berada di fraksi bawah dengan nilai KT 593.80 g L-1 dan 555.96 g L-1, KPT 644.08 g L-1 dan 586.96 g L-1, BJ 1.29 kg L-1 dan 586.96 kg L-1, ST 17.22 ° dan 18.43 °. Kadar serat kasar (%) pada ketiga fraksi bungkil kedelai Argentina dan Brazil adalah 8.2, 6.72, 3.72 dan 8.44, 5.41, 4.96. Dapat disimpulkan bahwa fraksinasi dapat digunakan sebagai metode alternatif untuk mengetahui kualitas bungkil kedelai dilihat dari aspek sifat fisik dan kandungan serat kasar
Kinerja Produksi Pendederan Ikan Lele (Clarias sp.) pada Sistem Bioflok dengan Tingkat Pemberian Pakan yang Berbeda.
Salah satu alternatif yang dapat meningkatkan produksi dan mengatasi limbah sistem budidaya intensif ikan lele (Clarias sp.) adalah dengan menerapkan teknologi bioflok. Prinsip dasar teknologi bioflok adalah teknologi yang memanfaatkan bakteri heterotrof yang distimulasi dengan menambahkan sumber karbon secara berkelanjutan untuk proses daur ulang nutrien limbah nitrogen. Pemanfaatan bioflok sebagai pakan ikan dapat menurunkan penggunaan pakan buatan. Penelitian ini bertujuan menentukan tingkat pemberian pakan (Feeding rate, FR) yang menghasilkan kinerja produksi pendederan yang paling baik pada sistem bioflok. Perlakuan dalam penelitian ini adalah FR 5, 7, 9 dan 11% dengan ulangan tiga kali. Ikan lele dipelihara dalam wadah berukuran 1 x 1 x 0.5 m3 dengan padat tebar 1500 ekor m-3 selama 28 hari. Setiap hari lele diberi pakan berupa pelet berkadar protein 40% pada pukul 08.00, 12.00 dan pukul 16.00 WIB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FR berpengaruh terhadap laju pertumbuhan harian, pertumbuhan panjang dan rasio konversi pakan. Laju pertumbuhan harian ikan lele terendah terdapat pada perlakuan FR 5%, sedangkan peningkatan FR 7% hingga 11% tidak mempengaruhi laju pertumbuhan harian dan pertumbuhan panjang. Walaupun demikian rasio konversi pakan meningkat sejalan dengan peningkatan FCR. Selama pemeliharaan kualitas air berada dalam kisaran optimal. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa perlakuan FR 7% memiliki nilai penerimaan total dan keuntungan paling tinggi. Dengan demikian FR yang menunjukkan kinerja produksi terbaik didapatkan pada tingkat 7%
Pengetahuan, Sikap, Kelompok Acuan, dan Perilaku Pemberian Imunisasi Difteri di Perdesaan dan di Perkotaan
Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis perbedaan dan hubungan karakteristik ibu, karakteristik keluarga, pengetahuan, sikap, dan kelompok acuan dengan perilaku imunisasi difteri di perdesaan dan di perkotaan; dan 2) menganalisis pengaruh karakteristik ibu, karakteristik keluarga, pengetahuan, sikap, dan kelompok acuan terhadap perilaku imunisasi difteri. Contoh penelitian ini adalah 41 ibu dengan anak berusia 5-12 bulan dan dipilih secara purposive. Terdapat perbedaan antara pengetahuan, sikap, kelompok acuan, dan perilaku pemberian imunisasi difteri di perdesaan dengan di perkotaan. Faktor yang berhubungan dengan kelengkapan imunisasi difteri adalah media sosial untuk di perdesaan, sedangkan di perkotaan tidak ada. Faktor yang berhubungan dengan kesesuaian jadwal imunisasi adalah besar keluarga, sikap, interpersonal, dan ahli untuk di perdesaan serta lama pendidikan untuk di perkotaan. Faktor yang berpengaruh terhadap kelengkapan imunisasi adalah lama pendidikan, sikap, dan kelompok acuan interpersonal, sedangkan yang berpengaruh terhadap kesesuaian jadwal imunisasi difteri adalah lama pendidikan ibu dan pendapatan per kapita
Rancang Bangun Karburator Uap untuk Motor Bakar Bensin.
Bensin merupakan bahan bakar yang paling banyak digunakan saat ini dan merupakan salah satu bentuk olahan dari minyak bumi yang tak terbarukan. Cadangan minyak bumi semakin menipis dan suatu saat akan habis. Bensin paling banyak digunakan untuk motor bakar dan memerlukan peningkatan efisiensi dalam konsumsinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan efisiensi konsumsi bensin yang digunakan oleh motor bakar dengan merancang dan mengaplikasikan karburator uap. Rancangan karburator uap menggunakan ruang penguap bensin yang terhubung dengan pipa inlet, pipa outlet dan flange-nya, katup throttle, katup udara, dan sistem pelampung. Karburator uap ini bekerja dengan cara menguapkan bensin dan mencampurkannya dengan udara sebelum masuk ke dalam ruang bakar didalam motor bakar. Kinerja karburator uap diuji menggunakan motor bakar Honda GX120, yang terhubung dengan generator dan beban listrik. Kinerja karburator uap diuji dan dibandingkan dengan karburator standar menggunakan tiga beban berbeda, yaitu 1200 W, 850 W, dan 600 W. Pengujian sesuai urutan beban tersebut menghasilkan nilai konsumsi bensin karburator uap 55,5%, 46,7%, dan 69,3% lebih rendah daripada karburator standar. Nilai SFC karburator uap 54,1%, 46,9%, dan 68,7 % lebih rendah dan nilai efisiensi konversi bahan bakar 120,54% , 89,22%, dan 214,79% lebih tinggi daripada karburator standar
Karakterisasi Sinyal Kebakaran Hutan Indonesia Menggunakan Empirical Orthogonal Function Berbasis Multivariate Singular Value Decomposition.
Selama beberapa tahun terakhir, kebakaran hutan terus membakar hutan
Indonesia dengan banyak titik api dan kekuatan yang berbeda-beda setiap tahun.
Pada tahun 1997 terdapat 9,75 juta ha hutan terbakar dalam satu tahun yang
menyebabkan 206,6 juta ton emisi karbon, sedangkan pada tahun 2015 terdapat
2.089 juta ha hutan yang menyebabkan 805 juta ton emisi karbon. Kejadian tersebut
merupakan kejadian terbesar kebakaran hutan di Indonesia dalam 20 tahun terakhir.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pola hutan terbakar di
Indonesia dan menganalisis keterkaitan antara variabel yang memengaruhinya.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data bulanan dari tahun 1997
hingga 2016 Global Fires Emissions Database (GFED) dengan variabel area
terbakar, GFEDs dengan variabel emisi karbon, dan Climate Hazards Group
InfraRed Precipitation with Station data (CHIRPS). Penelitian ini menggunakan
empirical orthogonal function berbasis multivariate singular value decomposition
untuk memeroleh pola spasial dan temporal kebakaran hutan di Indonesia. Setelah
itu, perhitungan korelasi antarvariabel dilakukan menggunakan korelasi Spearman
(rank).
Berdasarkan analisis, terdapat 3 sinyal periodik dominan yang menjelaskan
72% kejadian kebakaran di Indonesia selama 1997-2016. Kebakaran hutan di
Indonesia terjadi setiap tahunnya di wilayah Riau (Sumatra Tengah), Palembang
(Sumatra Selatan), dan Kalimantan Selatan. Pola yang didapat dari analisis wilayah
Indonesia dapat dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu pola yang memiliki
periode enam bulan dan dua belas bulan. Secara umum, kebakaran hutan di
Indonesia terjadi dengan periode dua belas bulan dan terjadi ketika musim kemarau
berlangsung di beberapa wilayah tersebut.
Pola kebakaran hutan yang memiliki periode enam bulan merupakan pola
yang disebabkan oleh pola curah hujan enam bulan. Oleh karena itu, pola ini hanya
berpengaruh pada wilayah yang memiliki pola curah hujan enam bulan. Wilayah
tersebut merupakan wilayah yang berada di sekitar garis ekuator, misalnya Riau.
Terkait korelasi antarvariabel, variabel area terbakar dengan emisi karbon memiliki
korelasi positif, sedangkan variabel curah hujan memiliki korelasi negatif dengan
area terbakar dan emisi karbon. Korelasi terkuat dari ketiga variabel adalah area
terbakar dengan curah hujan dan korelasi terlemah adalah area terbakar dan emisi
karbon
Pengendalian Meloidogyne spp. pada Tanaman Tomat dengan Bakteri Endofit dan Pupuk Organik Cair.
Nematoda puru akar (Meloidogyne spp.) merupakan nematoda parasit
tumbuhan penting pada tanaman tomat. Pengendalian Meloidogyne spp. umumnya
dilakukan dengan aplikasi nematisida sintetis dan agen pengendali hayati.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keefektifan bakteri endofit dan pupuk
organik cair (POC) Bio-HaraPlus (P00200900766) untuk mengendalikan
Meloidogyne spp. pada tanaman tomat. Sebelas isolat bakteri endofit yang
digunakan dalam penelitian ini adalah APE35, APE33, APE22, APE15, BSK18,
BBT130, BBT110, BBT106, BBT102, BBT90, dan BBT25. Pengujian dilakukan
secara in vitro untuk mengetahui pengaruh bakteri endofit terhadap mortalitas larva
Meloidogyne spp. dan uji in vivo di rumah kaca untuk mengetahui pengaruh bakteri
endofit dan POC terhadap puru akar dan pertumbuhan tanaman. Berdasarkan uji in
vitro dan uji pemacu pertumbuhan tanaman diperoleh dua isolat terbaik yaitu
APE15 dan BBT90. Kedua isolat tersebut digunakan untuk pengujian di rumah
kaca. Aplikasi bakteri endofit dan POC di rumah kaca dilakukan dengan cara
perendaman dan penyiraman di sekitar akar tanaman. Hasil pengujian in vitro
menunjukkan semua isolat bakteri dapat meningkatkan persen mortalitas juvenil
Meloidogyne spp. hingga 59%. Hasil pengujian in vivo di rumah kaca menunjukkan
aplikasi bakteri dan POC mampu mengurangi jumlah puru akar 40-71%. Aplikasi
bakteri endofit dan POC mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman tomat hingga
17%, mampu menekan penetasan telur Meloidogyne spp. hingga 86% dan menekan
jumlah telur Meloidogyne spp. hingga 70%
Kinerja Keuangan Perusahaan Subsektor Pakan Ternak yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Industri pakan ternak Indonesia berpeluang untuk tumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan tingkat konsumsi ayam ras di Indonesia. Meski demikian pada tahun 2014 industri pakan ternak menghadapi situasi ekonomi Indonesia yang dinilai dapat menurunkan kinerja keuangan perusahaan dengan adanya pelemahan nilai rupiah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja keuangan perusahaan yang ada di subsektor pakan ternak BEI serta mengidentifikasi potensi kebangkrutan yang dimiliki perusahaan pakan ternak di BEI. Metode analisis yang digunakan adalah analisis rasio keuangan, analisis du pont serta analisis Altman’s Z-Score. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan PT Charoen Pokphand Tbk memiliki kinerja keuangan yang paling baik berdasarkan seluruh rasio keuangan yang dianalisis serta nilai Z yang berada pada area tidak potensi bangkrut. Kemudian pada PT Japfa Comfeed Tbk memiliki kinerja keuangan yang cukup baik dan nilai Z yang berada pada area tidak berpotensi bangkrut serta PT Malindo Comfeed Tbk dengan kinerja keuangan terburuk dan berada pada grey area pada dua periode
Kajian Deteksi dan Identifikasi Cheater pada Konstruksi Skema Ambang Shamir Berbasis Polinomial Bivariat Simetrik.
Masalah keamanan merupakan aspek penting dari sebuah sistem informasi.
Salah satu teknik untuk menjamin keamanan informasi adalah melakukan enkripsi
terhadap informasi menggunakan teknik kriptografi. Skema ambang Shamir
merupakan salah satu metode untuk melindungi kunci enkripsi agar tidak mudah
diakses oleh pihak lain. Skema ini terdiri atas dua tahap, yaitu tahap pembagian
dan tahap konstruksi ulang. Salah satu kelemahan skema ambang Shamir adalah
ketika terdapat cheater saat mengonstruksi ulang rahasia. Skema ambang Shamir
berbasis polinomial bivariat simetrik merupakan modifikasi skema ambang
Shamir. Skema ini memanfaatkan sifat simetrik polinomial bivariat simetrik untuk
memperbaiki kelemahan yang dimiliki skema ambang Shamir. Skema ambang
Shamir berbasis polinomial bivariat simetrik merupakan skema yang aman secara
komputasi serta mampu mendeteksi dan mengidentifikasi cheater
Aplikasi Persamaan Gelombang Navier-Stokes Incompressible Untuk Memprediksi Nilai Tukar Rupiah Dengan Metode Crank- Nicolson.
Pergerakan nilai tukar mata uang memiliki kemiripan dengan model fisika
yaitu pergerakan fluida pada aliran turbulensi. Pemberian informasi pada pasar
valuta asing mengakibatkan pergerakan kurs tidak stabil dan pemberian energi pada
aliran turbulensi mengakibatkan partikel fluida bergerak secara acak dengan
kecepatan fluktuatif. Penelitian ini untuk memprediksi nilai tukar rupiah terhadap
dollar menggunakan persamaan gelombang Navier-Stokes incompressible yang
telah termodifikasi dengan parameter-parameter ekonomi. Analogi parameter
ekonomi ke parameter fisika seperti produk domestik bruto (PDB) sebagai diameter
pipa fluida, neraca perdagangan 2 negara sebagai bilangan reynold dan kelajuan
aliran fluida sebagai perubahan nilai kurs. Solusi persamaan Navier-Stokes untuk
penelitian ini diselesaikan secara numerik menggunakan metode finite difference
Crank-Nicolson. Data hasil prediksi nilai kurs rupiah terhadap dollar dibandingkan
dengan data kurs aktual. Hasil prediksi kurs dari persamaan Navier-Stokes dengan
metode Crank-Nicolson selama 5 periode menghasilkan persentase error sebesar
0.0902%, 0.6389%, 0.3766%, 0.2721% dan 0.3146% terhadap data kurs aktual