Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Penting pada buah kakao di Kabupaten Nagekeo Propinsi Nusa Tenggara Timur

    No full text
    Kakao (Theobroma cacao L.) adalah salah satu komoditas strategis dalam mendukung perekonomian di Nagekeo. Masalah perkebunan kakao di Nagekeo adalah sebagian besar tanaman kakao sudah tua dan kurang produktif. Kurangnya pemeliharaan intensif yang menyebabkan sebagian besar tanaman kakao petani telah terserang hama dan penyakit seperti busuk buah, Helopeltis sp dan penggerek buah kakao. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hama dan penyakit penting serta intensitas serangan pada buah kakao, mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan petani dalam mengelola hama dan penyakit tanaman kakao serta mengetahui program pemerintah dalam upaya pengembangan dan perlindungan tanaman kakao di Kabupaten Nagekeo. Metode penelitian menggunakan purporsive sampling data, observasi dan studi literatur. Parameter yang diamati mencakup tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan petani kakao Nagekeo dengan mengisi kuesioner. Pengamatan langsung dilakukan terhadap jenis hama dan penyakit serta intensitas serangan pada buah kakao. Hama dan penyakit penting buah kakao yang ditemukan di Kabupaten Nagekeo adalah penggerek buah kakao, kepik pengisap kakao Helopeltis sp dan busuk buah kakao. Intensitas serangan hama penggerek buah kakao tertinggi di Kecamatan Boawae sebesar 6.11% yang tidak berbeda dengan Kecamatan Keo Tengah sebesar 4.76% sedangkan Kecamatan Mauponggo intensitasnya hanya mencapai 2.35%. Persentase buah kakao terserang hama Helopeltis sp yang terjadi di Kecamatan Boawae yaitu 23.95% yang tidak berbeda dengan Kecamatan Keo Tengah yaitu 20.95% dan Kecamatan Mauponggo sebesar 20.10%. Persentase tanaman terserang penyakit busuk buah Phytophthora palmivora paling tinggi terjadi di Kecamatan Keo Tengah yaitu 5.11% yang tidak berbeda dengan Kecamatan Boawae sebesar 1.28%. Petani kakao di Kecamatan Mauponggo memiliki pengetahuan baik jika dibandingkan dengan dua kecamatan lain karena pengetahuan yang diterima oleh petani di ketiga kecamatan tersebut beragam namun sikap dan tindakan sama dalam pengelolaan OPT. Hal ini diduga karena kegiatan budidaya masih mengikuti kebiasaan bertani orang tua terdahulu Pengelolaan tanaman kakao oleh petani dilakukan tidak sesuai dengan standar budidaya kakao. Mayoritas petani mengelola tanaman hanya berdasarkan kebiasaan petani setempat. Kegiatan penyuluhan, pendampingan pasca konseling, dan penyebaran informasi tentang perkembangan teknologi mengenai IPM harus dilanjutkan. Implementasi kebijakan program pengelolaan hama di Kabupaten Nagekeo belum efektif, terutama dalam hal penggunaan benih bersertifikat, pengendalian hama dan penggunaan pestisida di tingkat petani

    Peranan Modal Sosial Masyarakat Penambang Emas Dalam Mempertahankan Tambang Ilegal Di Taman Hutan Raya Sulawesi Tengah

    No full text
    Pengukuhan Tahura Sulteng, pemberian izin kontrak karya kepada PT. Citra Palu Mineral (CPM) untuk menambang di kawasan Tahura Sulteng serta munculnya tambang ilegal yang dikelola oleh masyarakat Poboya menyebabkan perbedaan perspektif antara pemerintah dan masyakat. Perbedaan perspektif ini memunculkan konflik. Perspektif tata kelola hutan oleh masyarakat sangat berhubungan dengan modal sosial yang dimiliki masyarakat. Modal sosial dipercaya mampu mencegah dan menyelesaikan konflik Tetapi modal sosial saja tidak cukup untuk menyelesaikan konflik yang terjadi dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengidentifikasi dan menilai karakteristik individu dan kondisi modal sosial masyarakat dalam mengelola kawasan terkait pertambangan emas di Tahura Sulteng (2) Menganalisis bentuk perlawanan, faktor pembentuk dan aksi perlawanan masyarakat dalam mempertahankan tambang emas (3) Menganalisis hubungan antara modal sosial dengan konflik dan perlawanan masyarakat dalam mempertahankan tambang (4) Merumuskan strategi yang paling sesuai dalam rangka pengelolaan kawasan terkait pertambangan di Tahura Sulteng. Penelitian ini dilakukan di tambang Poboya yang berada dalam kawasan Tahura Sulawesi Tengah melalui wawancara mendalam, pengamatan terlibat dan studi literatur. Data dianalisis secara deksriptif kualitatif Kajian modal sosial masyarakat di tambang Poboya menggunakan konsep modal sosial Uphoff (2000) yaitu unsur─unsur berupa jaringan, norma, kepercayaan dan kepedulian. Perlawanan penambang di analisis menggunakan teori perlawanan Scott (1993) yang dibagi menjadi tiga oleh Cahyono (2012) yaitu aksi perlawanan diam─diam, aksi perlawanan konfrontatif dan aksi perlawanan negosiatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun modal sosial yang dimiliki masyarakat penambang pada kategori sedang namun dapat mendorong perlawanan masyarakat terhadap upaya penutupan tambang oleh pemerintah. Hal tersebut dipengaruhi oleh adanya common knowledge bahwa tambang merupakan satu-satunya sumber penghasilan mereka dan dukungan tokoh adat dan tokoh desa yang menjadi symbollic power, sehingga dapat menggerakkan aksi kolektif masyarakat penambang

    Identifikasi Polen dari Madu dan Sarang Lebah Tanpa Sengat Asal Klaten (Jawa Tengah) dan Luwu Utara (Sulawesi Selatan)

    No full text
    Polen merupakan salah satu sumber nutrisi bagi lebah dengan demikian keanekaragaman polen penting diketahui sebagai informasi dasar untuk mendukung upaya konservasi berbagai jenis tumbuhan yang menjadi sumber polen bagi lebah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keanekaragaman tumbuhan yang menjadi sumber polen yang terdapat pada madu dan sarang lebah tanpa sengat asal Klaten, Jawa Tengah dan Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Metode yang dilakukan meliputi ekstraksi polen dari madu, asetolisis, dan identifikasi polen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumbuhan yang menjadi sumber nutrisi untuk Heterotrigona itama di Klaten, Jawa Tengah terdiri atas 10 spesies yang termasuk ke dalam 10 famili tumbuhan dan hasil identifikasi sampel madu dan sarang asal Luwu Utara, Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa polen yang dikoleksi oleh Tetragonula aff. biroi, Wallacetrigona incisa, dan Lepidotrigona terminata masing – masing berasal dari 10 spesies (9 famili) tumbuhan, 15 spesies (12 famili) tumbuhan, dan 10 spesies (10 famili) tumbuhan. Polen yang diperoleh dari madu dan sarang lebah dominan berasal dari tumbuhan habitus pohon. Bentuk aperture polen yang dominan ditemukan adalah tricolporate dan tricolpate serta ornamen eksin polen adalah reticulate. Polen yang dikumpulkan H. itama dan T. aff. biroi berukuran polen kategori sedang, sedangkan polen yang dikumpulkan oleh W. incisa dan L. terminata berukuran polen kategori kecil

    Penggerombolan Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh Berdasarkan Data Panel Komponen Indeks Pembangunan Manusia 2010-2017

    No full text
    Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan salah satu indikator untuk mengukur keberhasilan pembangunan di suatu wilayah. Perhitungan IPM mencakup tiga dimensi pokok pembangunan manusia yaitu kesehatan, pendidikan dan daya beli masyarakat. Penggerombolan kabupaten/kota yang mempunyai karakteristik yang sama akan memudahkan untuk mengetahui kondisi pembangunan di suatu provinsi. Data IPM dan komponennya yang diamati beberapa tahun di kabupaten/kota dalam suatu provinsi membentuk struktur data panel. Pada data panel memungkinkan untuk melihat pengaruh trend waktu terhadap peubah yang diamati, sehingga pada penggerombolan terhadap data panel, trend tersebut perlu dipertimbangkan. Penelitian ini bertujuan untuk menggerombolkan kabupaten/kota di Provinsi Aceh berdasarkan data panel komponen IPM tahun 2010-2017. Peringkasan trend komponen IPM terhadap waktu dilakukan melalui pemodelan, koefisien hasil pemodelan digunakan sebagai input bagi analisis gerombol. Metode gerombol yang digunakan adalah metode Ward dan solusi optimalnya menghasilkan 4 gerombol. Gerombol pertama merupakan gerombol yang terdiri dari 5 kabupaten/kota dengan karakteristik tingginya laju pertumbuhan umur harapan hidup pertahun. Gerombol dua terdiri dari 9 kabupaten/kota dengan karakteristik tingginya laju pertumbuhan rata-rata lama sekolah pertahun. Gerombol tiga terdiri dari 8 kabupaten/kota. Gerombol empat terdiri dari 1 kabupaten/kota yaitu Banda Aceh dengan karakteristik tinggi pada hampir semua peubah, kecuali laju pertumbuhan umur harapan hidup pertahun dan laju pertumbuhan rata-rata lama sekolah pertahun

    Pengaruh Rasio Kompresi terhadap Sifat Fisis dan Mekanis Oriented Strand Board Hibrida Bambu Betung dan Andong

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sifat fisis dan mekanis oriented strand board (OSB) hibrida bambu betung dan andong pada berbagai rasio kompresi. Bahan baku berupa strand bambu betung (Dendrocalamus asper) dan bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinaceae) diberi perlakuan steam dan dibilas menggunakan larutan NaOH 1%. Oriented strand board dibuat dengan Rasio kompresi 1.15:0.98(A), 1.25:1.07(B), 1.35:1.15(C), 1.44:1.23(D) dan 1.54:131(E). Tiga lapis OSB dibuat dengan komposisi betung:andong:betung dan shelling ratio 25:50:25 (face:core:back) yang direkat dengan perekat fenol formaldehida (PF) (SC=43%) dengan kadar perekat 8%. Parafin ditambahkan sebanyak 1% dari berat kering oven strand. Evaluasi sifat fisis dan mekanis OSB dilakukan berdasarkan standar CSA 0437.0 (Grade O-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio kompresi dapat meningkatkan sifat mekanis. Namun, peningkatan rasio kompresi menyebabkan penurunan stabilitas dimensi pada produk OSB hibrida

    Perencanaan Agroforestri Sebagai Strategi Penanganan Konversi Lahan Hutan di KPHP Unit VII Hulu Sarolangun

    No full text
    KPHP Unit VII Hulu Sarolangun merupakan unit pengelola Kawasan Hutan tingkat tapak yang berada di kawasan hulu Kabupaten Sarolangun. Seiring meningkatnya jumlah penduduk kebutuhan akan lahan meningkat sehingga konversi lahan hutan menjadi penggunaan lahan non hutan juga akan meningkat. Konversi lahan ini akan menghambat keberhasilan pengelolaan kawasan hutan. Penelitian ini bertujuan (1) Mengetahui pola konversi lahan hutan pada areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun (2) Mengetahui klasifikasi kelas kemampuan lahan pada areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun (3) Mengetahui Arahan pengelolaan areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun (4) Memprediksi konversi lahan di KPHP Unit VII Hulu Sarolangun pada Tahun 2025 dan (5) Merumuskan arahan strategi pengembangan program agroforestri yang direncanakan pada areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun. Data yang digunakan terdiri dari data primer yaitu hasil pengamatan lapangan dan wawancara dengan teknik purposive sampling, wawancara menggunakan kuesioner dengan responden para pakar serta data sekunder data tutupan lahan hutan tahun 1990, 1996, 2003, 2009, 2015, 2016 dan 2017, peta sistem lahan, data curah hujan, data jumlah penduduk dan tingkat perekonomian serta mata pencaharian dan tingkat bahaya erosi, data perizinan dalam kawasan hutan (IUPHHK HTI) dan data Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah overlay peta dengan menggunakan perangkat lunak Arch GIS 10.1, Metode CA Markov dengan menggunakan perangkat lunak Idrisi Selva, Analisis Kemampuan Lahan dan Analisis AWOT. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tujuh jenis penggunaan lahan eksisting tahun 2017,yaitu belukar (6,3%), hutan primer (72%), hutan sekunder (8,1%), permukiman (0,0%), perkebunan (3,0%), pertanian (10,3%) dan tanah terbuka (0,3%). Pola konversi lahan hutan rentang tahun 1990 - 2015 bersifat dinamis, perubahan paling besar terjadi pada periode tahun 1996 -2003 yaitu seluas 24.487 Ha (47,9 %). Kelas kemampuan lahan teridentifikasi menjadi lima kelas yaitu kelas II, III, IV, VI dan VII dengan faktor pembatas terberat adalah erosi (e4), dominan pada kelas IV dan VI. Arahan pengelolaan terdiri dari pola agroforestri seluas 11.361 Ha, reboisasi seluas 11.228 Ha, usulan TORA seluas 3.013 Ha, pengelolaan lainnya sesuai RKUPHHK dan RPHJP seluas 102.928 Ha. Prediksi penggunaan lahan skenario BAU tahun 2025 HS berkurang 3,6%, skenario penerapan RPHJP HS berkurang 0,5%, dan skenario penerapan strategi agroforestri HS bertambah 105,3%. Strategi terpenting dalam pengembangan pola agroforestri di KPHP Unit VII Hulu Sarolangun adalah pembentukan legalitas kelembagaan kerjasama masyarakat dan KPHP dalam pengelolaan Kawasan Huta

    Model Struktur Tegakan Hutan Tanaman Akasia (Acacia mangium) Studi Kasus di BKPH Parung Panjang, KPH Bogor.

    No full text
    Penelitian ini bertujuan adalah untuk memperoleh gambaran struktur tegakan horizontal berdasarkan jenis kelas umur yang berbeda dengan menggunakan beberapa model distribusi di BKPH Parung Panjang, KPH Bogor. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan pengukuran langsung di hutan A. mangium dengan metode purposive samping di masing-masing plot 1 hektar di tiga kelas umur berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh tegakan di berbagai kelas umur membentuk model lonceng terbalik dengan nilai rataan diameter yang tidak jauh berbeda antar plot pada kelas umur yang sama. Bentuk puncak lonceng dipengaruhi beberapa faktor yang berpengaruh terhadap jumlah tegakan per hektarnya. Uji kesesuian model dengan probability setiap model menunjukkan bahwa untuk kelas umur 9 terpilih model lognormal, kelas umur 7 terpilih model normal, dan kelas umur 5 terpilih model gamma. Model yang terpilih dapat dibuat persamaan yang dapat menduga potensi pada area tegakan tersebut

    Struktur Anatomi dan Stabilitas Dimensi Kayu Pelempang Putih (Adinandra sarosanthera Miq.).

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari struktur anatomi termasuk dimensi serat, serta stabilitas dimensi dan beberapa sifat fisis penting kayu pelempang putih asal Kabupaten Bangka Barat. Struktur anatomi diamati secara makro dan mikroskopis, dimensi serat melalui sediaan maserasi, sedangkan kadar air, kerapatan dan BJ kayu, serta T/R-rasio menggunakan metode standar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ciri makroskopis kayu tersebut adalah sebagai berikut: bagian gubal dan teras dapat dibedakan, lingkar tumbuh kurang jelas, kurang bercorak, tekstur halus‒sangat halus, arah serat lurus‒berpadu, agak kesat, permukaan mengkilap, dan tidak berbau. Ciri mikroskopisnya: pori-pori tata baur, hampir seluruhnya soliter, perforasi tipe tangga, serta berisi tilosis dan endapan berwarna. Jari-jari uni–multiseriet, heteroseluler, dan berisi endapan coklat kehitaman. Parenkim aksial tipe jarang/tersebar, 2‒4 sel per untai. Kristal prismatik di dalam jari-jari dan parenkim aksial. Serat tergolong panjang (2153 μm) dan sebagian bersekat. Rata-rata kerapatan kayu 0.80 g/cm3, BJ 0.49, SV total 17.32%, T/R-rasio dari basah ke KU 1.54, dan KA TJS 38.20%. Kayu tergolong stabil, masuk dalam Kelas Kuat III. Potensi pemanfaatan yang disarankan adalah sebagai bahan baku pembuatan pulp/kertas

    Studi Populasi Mikrob Fungsional pada Tanah yang Terpapar Dua Jenis Antibiotik Ternak

    No full text
    Penyakit menjadi tantangan dalam kegiatan produksi peternakan ayam. Sistem produksi intensif menyebabkan hewan ternak lebih rentan terhadap penyakit dikarenakan kepadatan populasi dan tingkat stres hewan ternak yang tinggi. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi mikrob merupakan penyebab utama dalam kematian hewan ternak. Antibiotik telah digunakan secara luas untuk mencegah atau mengobati penyakit yang disebabkan oleh infeksi mikrob. Peternakan ayam secara intensif menimbulkan limbah berupa feses ayam dalam jumlah besar. Antibiotik dengan konsentrasi yang cukup tinggi banyak ditemukan pada feses ayam. Antibiotik dapat masuk ke lingkungan tanah melalui paparan feses ayam dari kegiatan peternakan. Setelah dikonsumsi hewan, antibiotik tidak seluruhnya diserap atau dimetabolisme secara in vivo, sekitar 30-90% akan dieksresikan melalui urin dan feses. Paparan feses ayam yang mengandung antibiotik secara rutin pada tanah dikhawatirkan dapat menimbulkan gangguan terhadap mikrob fungsional tanah yang berimplikasi terhadap kesehatan dan keseimbangan ekosistem tanah. Penelitian dilaksanakan mulai Mei 2018 sampai September 2018. Sampel tanah diambil dari lahan sekitar peternakan ayam di Desa Cipayung dan Desa Megamendung, Kabupaten Bogor. Peternakan ayam di Desa Cipayung memiliki kapasitas sekitar 20 ribu ekor/siklus sedangkan peternakan ayam di Desa Megamendung memiliki kapasitas sekitar 2 ribu ekor/siklus. Antibiotik yang paling banyak digunakan di kedua peternakan tersebut adalah siprofloksasin dan tilosin dalam bentuk campuran. Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan melalui percobaan di laboratorium dan analisis sampel tanah dari peternakan ayam. Percobaan laboratorium dilakukan berupa uji pengaruh penambahan antibiotik pada tanah terhadap populasi mikrob fungsional tanah. Sampel tanah diambil dari bagian teratas area peternakan di Desa Cipayung. Analisis sampel tanah dari peternakan ayam dilakukan sebagai analisis dampak paparan antibiotik yang dilakukan dengan menghitung populasi mikrob fungsional tanah di sekitar peternakan ayam. Sampel tanah dari bagian teratas lokasi peternakan diambil sebagai kontrol negatif, selanjutnya diambil pula sampel tanah dari bawah kandang dan tanah yang terkena air limpasan dari kandang. Pengamatan mikrob fungsional tanah pada penelitian ini difokuskan pada bakteri pelarut fosfat (BPF), cendawan pelarut fosfat (CPF), bakteri selulolitik (BS), cendawan selulolitik (CS), serta bakteri penambat N2 bebas Azotobacter (AZT) dan Azospirillum (AZS). Hasil uji pengaruh penambahan antibiotik menunjukkan bahwa faktor tunggal penambahan antibiotik siprofloksasin dan tilosin dengan konsentrasi 1, 5, dan 10 mg kg-1 tanah tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap populasi seluruh mikrob fungsional tanah yang diuji. Dari enam kelompok mikrob fungsional yang diuji, waktu inkubasi secara nyata berpengaruh pada populasi BS, AZT dan AZS sedangkan pengaruh waktu inkubasi terhadap BPF, CPF, dan CS tidak menunjukkan pengaruh nyata. Interaksi antara penambahan antibiotik dan waktu inkubasi menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh nyata terhadap populasi seluruh mikrob fungsional yang diuji. Hasil analisis dampak paparan antibiotik tidak menunjukkan adanya indikasi bahwa adanya paparan antibiotik secara nyata mempengaruhi populasi mikrob fungsional tanah baik di peternakan ayam di Desa Cipayung maupun di Desa Megamendung

    Penentuan Dosis Optimum Pupuk N dan K dengan Penambahan Pupuk Kandang Kambing untuk Produksi Kacang Tunggak (Vigna unguiculata [L.] Walp).

    No full text
    Vigna unguiculata [L.] Walp adalah nama ilmiah dari kacang tunggak yang merupakan salah satu tanaman pangan. Semua bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan maupun pakan. Selain itu, tanaman ini memiliki daya adaptasi yang luas dengan produksi cukup tinggi sebesar 1.5-2.0 ton ha-1 di Indonesia. Budidaya kacang tunggak di Indonesia masih terbatas karena kurangnya informasi mengenai manfaat, dan teknologi budidaya. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pemberian pupuk yang tepat untuk meningkatkan produksi dan memberikan keuntungan yang maksimum. Tujuan penelitian ini adalah menentukan dosis optimum pupuk N dan K untuk produksi tanaman kacang tunggak dan menentukan pengaruh interaksi dosis pupuk N, K dengan pupuk kandang kambing terhadap produksi tanaman kacang tunggak. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2017 sampai dengan Februari 2018 di lahan Leuwikopo, Darmaga, Bogor. Masing-masing percobaan untuk N dan K dievaluasi dengan tingkat dosis pupuk menggunakan rancangan petak terpisah (split plot design) dalam RAKL dengan dua faktor, yaitu dosis pupuk kandang dan dosis pupuk sebanyak tiga ulangan. Faktor pertama sebagai petak utama adalah perlakuan pupuk kandang 0 dan 5 ton ha-1. Faktor kedua sebagai anak petak adalah dosis pupuk yang digunakan 0, 50, 100, 150, dan 200% dari dosis acuan (100% N = 45 kg ha-1 N, 100% K = 60 kg ha-1 K2O). Aplikasi pupuk N pada percobaan N diberikan satu tahap yaitu 100% di awal tanam. Aplikasi pupuk K pada percobaan K diberikan satu tahap yaitu 100% di awal tanam dan N diberikan dua tahap, yaitu 50% di awal tanam dan 50% dosis saat 4 minggu setelah tanam (MST). Panen dilakukan 2 kali yaitu pada umur 70 hari dan 77 hari setelah tanam (HST). Percobaan pertama belum mendapatkan dosis optimum pemupukan N. Penambahan pupuk N nyata menurunkan bobot 100 biji dan cenderung menurunkan hasil dan komponen hasil. Pupuk kandang 5 ton ha-1 meningkatkan bobot biji kering per tanaman, jumlah polong per tanaman, bobot polong kering per tanaman, bobot biji kering per m2, produktivitas, bobot 100 biji, dan indeks panen tanaman kacang tunggak. Percobaan kedua belum mendapatkan dosis optimum pemupukan K. Pemberian pupuk kandang sebesar 5 ton ha-1 nyata meningkatkan laju tumbuh tanaman 42-60 HST

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇