31665 research outputs found
Sort by
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Penting pada buah kakao di Kabupaten Nagekeo Propinsi Nusa Tenggara Timur
Kakao (Theobroma cacao L.) adalah salah satu komoditas strategis dalam
mendukung perekonomian di Nagekeo. Masalah perkebunan kakao di Nagekeo
adalah sebagian besar tanaman kakao sudah tua dan kurang produktif. Kurangnya
pemeliharaan intensif yang menyebabkan sebagian besar tanaman kakao petani
telah terserang hama dan penyakit seperti busuk buah, Helopeltis sp dan
penggerek buah kakao. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hama
dan penyakit penting serta intensitas serangan pada buah kakao, mengetahui
tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan petani dalam mengelola hama dan
penyakit tanaman kakao serta mengetahui program pemerintah dalam upaya
pengembangan dan perlindungan tanaman kakao di Kabupaten Nagekeo. Metode
penelitian menggunakan purporsive sampling data, observasi dan studi literatur.
Parameter yang diamati mencakup tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan petani
kakao Nagekeo dengan mengisi kuesioner. Pengamatan langsung dilakukan
terhadap jenis hama dan penyakit serta intensitas serangan pada buah kakao.
Hama dan penyakit penting buah kakao yang ditemukan di Kabupaten
Nagekeo adalah penggerek buah kakao, kepik pengisap kakao Helopeltis sp dan
busuk buah kakao. Intensitas serangan hama penggerek buah kakao tertinggi di
Kecamatan Boawae sebesar 6.11% yang tidak berbeda dengan Kecamatan Keo
Tengah sebesar 4.76% sedangkan Kecamatan Mauponggo intensitasnya hanya
mencapai 2.35%. Persentase buah kakao terserang hama Helopeltis sp yang terjadi
di Kecamatan Boawae yaitu 23.95% yang tidak berbeda dengan Kecamatan Keo
Tengah yaitu 20.95% dan Kecamatan Mauponggo sebesar 20.10%. Persentase
tanaman terserang penyakit busuk buah Phytophthora palmivora paling tinggi
terjadi di Kecamatan Keo Tengah yaitu 5.11% yang tidak berbeda dengan
Kecamatan Boawae sebesar 1.28%. Petani kakao di Kecamatan Mauponggo
memiliki pengetahuan baik jika dibandingkan dengan dua kecamatan lain karena
pengetahuan yang diterima oleh petani di ketiga kecamatan tersebut beragam
namun sikap dan tindakan sama dalam pengelolaan OPT. Hal ini diduga karena
kegiatan budidaya masih mengikuti kebiasaan bertani orang tua terdahulu
Pengelolaan tanaman kakao oleh petani dilakukan tidak sesuai dengan
standar budidaya kakao. Mayoritas petani mengelola tanaman hanya berdasarkan
kebiasaan petani setempat. Kegiatan penyuluhan, pendampingan pasca konseling,
dan penyebaran informasi tentang perkembangan teknologi mengenai IPM harus
dilanjutkan. Implementasi kebijakan program pengelolaan hama di Kabupaten
Nagekeo belum efektif, terutama dalam hal penggunaan benih bersertifikat,
pengendalian hama dan penggunaan pestisida di tingkat petani
Peranan Modal Sosial Masyarakat Penambang Emas Dalam Mempertahankan Tambang Ilegal Di Taman Hutan Raya Sulawesi Tengah
Pengukuhan Tahura Sulteng, pemberian izin kontrak karya kepada PT. Citra
Palu Mineral (CPM) untuk menambang di kawasan Tahura Sulteng serta
munculnya tambang ilegal yang dikelola oleh masyarakat Poboya menyebabkan
perbedaan perspektif antara pemerintah dan masyakat. Perbedaan perspektif ini
memunculkan konflik. Perspektif tata kelola hutan oleh masyarakat sangat
berhubungan dengan modal sosial yang dimiliki masyarakat. Modal sosial
dipercaya mampu mencegah dan menyelesaikan konflik Tetapi modal sosial saja
tidak cukup untuk menyelesaikan konflik yang terjadi dalam masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengidentifikasi dan menilai karakteristik
individu dan kondisi modal sosial masyarakat dalam mengelola kawasan terkait
pertambangan emas di Tahura Sulteng (2) Menganalisis bentuk perlawanan,
faktor pembentuk dan aksi perlawanan masyarakat dalam mempertahankan
tambang emas (3) Menganalisis hubungan antara modal sosial dengan konflik dan
perlawanan masyarakat dalam mempertahankan tambang (4) Merumuskan strategi
yang paling sesuai dalam rangka pengelolaan kawasan terkait pertambangan di
Tahura Sulteng.
Penelitian ini dilakukan di tambang Poboya yang berada dalam kawasan
Tahura Sulawesi Tengah melalui wawancara mendalam, pengamatan terlibat dan
studi literatur. Data dianalisis secara deksriptif kualitatif Kajian modal sosial
masyarakat di tambang Poboya menggunakan konsep modal sosial Uphoff (2000)
yaitu unsur─unsur berupa jaringan, norma, kepercayaan dan kepedulian.
Perlawanan penambang di analisis menggunakan teori perlawanan Scott (1993)
yang dibagi menjadi tiga oleh Cahyono (2012) yaitu aksi perlawanan diam─diam,
aksi perlawanan konfrontatif dan aksi perlawanan negosiatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun modal sosial yang dimiliki
masyarakat penambang pada kategori sedang namun dapat mendorong
perlawanan masyarakat terhadap upaya penutupan tambang oleh pemerintah. Hal
tersebut dipengaruhi oleh adanya common knowledge bahwa tambang merupakan
satu-satunya sumber penghasilan mereka dan dukungan tokoh adat dan tokoh desa
yang menjadi symbollic power, sehingga dapat menggerakkan aksi kolektif
masyarakat penambang
Identifikasi Polen dari Madu dan Sarang Lebah Tanpa Sengat Asal Klaten (Jawa Tengah) dan Luwu Utara (Sulawesi Selatan)
Polen merupakan salah satu sumber nutrisi bagi lebah dengan demikian keanekaragaman polen penting diketahui sebagai informasi dasar untuk mendukung upaya konservasi berbagai jenis tumbuhan yang menjadi sumber polen bagi lebah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keanekaragaman tumbuhan yang menjadi sumber polen yang terdapat pada madu dan sarang lebah tanpa sengat asal Klaten, Jawa Tengah dan Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Metode yang dilakukan meliputi ekstraksi polen dari madu, asetolisis, dan identifikasi polen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumbuhan yang menjadi sumber nutrisi untuk Heterotrigona itama di Klaten, Jawa Tengah terdiri atas 10 spesies yang termasuk ke dalam 10 famili tumbuhan dan hasil identifikasi sampel madu dan sarang asal Luwu Utara, Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa polen yang dikoleksi oleh Tetragonula aff. biroi, Wallacetrigona incisa, dan Lepidotrigona terminata masing – masing berasal dari 10 spesies (9 famili) tumbuhan, 15 spesies (12 famili) tumbuhan, dan 10 spesies (10 famili) tumbuhan. Polen yang diperoleh dari madu dan sarang lebah dominan berasal dari tumbuhan habitus pohon. Bentuk aperture polen yang dominan ditemukan adalah tricolporate dan tricolpate serta ornamen eksin polen adalah reticulate. Polen yang dikumpulkan H. itama dan T. aff. biroi berukuran polen kategori sedang, sedangkan polen yang dikumpulkan oleh W. incisa dan L. terminata berukuran polen kategori kecil
Penggerombolan Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh Berdasarkan Data Panel Komponen Indeks Pembangunan Manusia 2010-2017
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan salah satu indikator untuk
mengukur keberhasilan pembangunan di suatu wilayah. Perhitungan IPM
mencakup tiga dimensi pokok pembangunan manusia yaitu kesehatan, pendidikan
dan daya beli masyarakat. Penggerombolan kabupaten/kota yang mempunyai
karakteristik yang sama akan memudahkan untuk mengetahui kondisi
pembangunan di suatu provinsi. Data IPM dan komponennya yang diamati
beberapa tahun di kabupaten/kota dalam suatu provinsi membentuk struktur data
panel. Pada data panel memungkinkan untuk melihat pengaruh trend waktu
terhadap peubah yang diamati, sehingga pada penggerombolan terhadap data panel,
trend tersebut perlu dipertimbangkan. Penelitian ini bertujuan untuk
menggerombolkan kabupaten/kota di Provinsi Aceh berdasarkan data panel
komponen IPM tahun 2010-2017. Peringkasan trend komponen IPM terhadap
waktu dilakukan melalui pemodelan, koefisien hasil pemodelan digunakan sebagai
input bagi analisis gerombol. Metode gerombol yang digunakan adalah metode
Ward dan solusi optimalnya menghasilkan 4 gerombol. Gerombol pertama
merupakan gerombol yang terdiri dari 5 kabupaten/kota dengan karakteristik
tingginya laju pertumbuhan umur harapan hidup pertahun. Gerombol dua terdiri
dari 9 kabupaten/kota dengan karakteristik tingginya laju pertumbuhan rata-rata
lama sekolah pertahun. Gerombol tiga terdiri dari 8 kabupaten/kota. Gerombol
empat terdiri dari 1 kabupaten/kota yaitu Banda Aceh dengan karakteristik tinggi
pada hampir semua peubah, kecuali laju pertumbuhan umur harapan hidup pertahun
dan laju pertumbuhan rata-rata lama sekolah pertahun
Pengaruh Rasio Kompresi terhadap Sifat Fisis dan Mekanis Oriented Strand Board Hibrida Bambu Betung dan Andong
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sifat fisis dan mekanis oriented strand board (OSB) hibrida bambu betung dan andong pada berbagai rasio kompresi. Bahan baku berupa strand bambu betung (Dendrocalamus asper) dan bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinaceae) diberi perlakuan steam dan dibilas menggunakan larutan NaOH 1%. Oriented strand board dibuat dengan Rasio kompresi 1.15:0.98(A), 1.25:1.07(B), 1.35:1.15(C), 1.44:1.23(D) dan 1.54:131(E). Tiga lapis OSB dibuat dengan komposisi betung:andong:betung dan shelling ratio 25:50:25 (face:core:back) yang direkat dengan perekat fenol formaldehida (PF) (SC=43%) dengan kadar perekat 8%. Parafin ditambahkan sebanyak 1% dari berat kering oven strand. Evaluasi sifat fisis dan mekanis OSB dilakukan berdasarkan standar CSA 0437.0 (Grade O-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio kompresi dapat meningkatkan sifat mekanis. Namun, peningkatan rasio kompresi menyebabkan penurunan stabilitas dimensi pada produk OSB hibrida
Perencanaan Agroforestri Sebagai Strategi Penanganan Konversi Lahan Hutan di KPHP Unit VII Hulu Sarolangun
KPHP Unit VII Hulu Sarolangun merupakan unit pengelola Kawasan
Hutan tingkat tapak yang berada di kawasan hulu Kabupaten Sarolangun. Seiring
meningkatnya jumlah penduduk kebutuhan akan lahan meningkat sehingga
konversi lahan hutan menjadi penggunaan lahan non hutan juga akan meningkat.
Konversi lahan ini akan menghambat keberhasilan pengelolaan kawasan hutan.
Penelitian ini bertujuan (1) Mengetahui pola konversi lahan hutan pada areal
KPHP Unit VII Hulu Sarolangun (2) Mengetahui klasifikasi kelas kemampuan
lahan pada areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun (3) Mengetahui Arahan
pengelolaan areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun (4) Memprediksi konversi
lahan di KPHP Unit VII Hulu Sarolangun pada Tahun 2025 dan (5) Merumuskan
arahan strategi pengembangan program agroforestri yang direncanakan pada areal
KPHP Unit VII Hulu Sarolangun.
Data yang digunakan terdiri dari data primer yaitu hasil pengamatan
lapangan dan wawancara dengan teknik purposive sampling, wawancara
menggunakan kuesioner dengan responden para pakar serta data sekunder data
tutupan lahan hutan tahun 1990, 1996, 2003, 2009, 2015, 2016 dan 2017, peta
sistem lahan, data curah hujan, data jumlah penduduk dan tingkat perekonomian
serta mata pencaharian dan tingkat bahaya erosi, data perizinan dalam kawasan
hutan (IUPHHK HTI) dan data Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah overlay peta dengan menggunakan
perangkat lunak Arch GIS 10.1, Metode CA Markov dengan menggunakan
perangkat lunak Idrisi Selva, Analisis Kemampuan Lahan dan Analisis AWOT.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat tujuh jenis penggunaan lahan
eksisting tahun 2017,yaitu belukar (6,3%), hutan primer (72%), hutan sekunder
(8,1%), permukiman (0,0%), perkebunan (3,0%), pertanian (10,3%) dan tanah
terbuka (0,3%). Pola konversi lahan hutan rentang tahun 1990 - 2015 bersifat
dinamis, perubahan paling besar terjadi pada periode tahun 1996 -2003 yaitu
seluas 24.487 Ha (47,9 %). Kelas kemampuan lahan teridentifikasi menjadi lima
kelas yaitu kelas II, III, IV, VI dan VII dengan faktor pembatas terberat adalah
erosi (e4), dominan pada kelas IV dan VI. Arahan pengelolaan terdiri dari pola
agroforestri seluas 11.361 Ha, reboisasi seluas 11.228 Ha, usulan TORA seluas
3.013 Ha, pengelolaan lainnya sesuai RKUPHHK dan RPHJP seluas 102.928 Ha.
Prediksi penggunaan lahan skenario BAU tahun 2025 HS berkurang 3,6%,
skenario penerapan RPHJP HS berkurang 0,5%, dan skenario penerapan strategi
agroforestri HS bertambah 105,3%. Strategi terpenting dalam pengembangan
pola agroforestri di KPHP Unit VII Hulu Sarolangun adalah pembentukan
legalitas kelembagaan kerjasama masyarakat dan KPHP dalam pengelolaan
Kawasan Huta
Model Struktur Tegakan Hutan Tanaman Akasia (Acacia mangium) Studi Kasus di BKPH Parung Panjang, KPH Bogor.
Penelitian ini bertujuan adalah untuk memperoleh gambaran struktur tegakan
horizontal berdasarkan jenis kelas umur yang berbeda dengan menggunakan
beberapa model distribusi di BKPH Parung Panjang, KPH Bogor. Pengambilan
data dilakukan dengan melakukan pengukuran langsung di hutan A. mangium
dengan metode purposive samping di masing-masing plot 1 hektar di tiga kelas
umur berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh tegakan di berbagai
kelas umur membentuk model lonceng terbalik dengan nilai rataan diameter yang
tidak jauh berbeda antar plot pada kelas umur yang sama. Bentuk puncak lonceng
dipengaruhi beberapa faktor yang berpengaruh terhadap jumlah tegakan per
hektarnya. Uji kesesuian model dengan probability setiap model menunjukkan
bahwa untuk kelas umur 9 terpilih model lognormal, kelas umur 7 terpilih model
normal, dan kelas umur 5 terpilih model gamma. Model yang terpilih dapat dibuat
persamaan yang dapat menduga potensi pada area tegakan tersebut
Struktur Anatomi dan Stabilitas Dimensi Kayu Pelempang Putih (Adinandra sarosanthera Miq.).
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari struktur anatomi termasuk dimensi serat, serta stabilitas dimensi dan beberapa sifat fisis penting kayu pelempang putih asal Kabupaten Bangka Barat. Struktur anatomi diamati secara makro dan mikroskopis, dimensi serat melalui sediaan maserasi, sedangkan kadar air, kerapatan dan BJ kayu, serta T/R-rasio menggunakan metode standar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ciri makroskopis kayu tersebut adalah sebagai berikut: bagian gubal dan teras dapat dibedakan, lingkar tumbuh kurang jelas, kurang bercorak, tekstur halus‒sangat halus, arah serat lurus‒berpadu, agak kesat, permukaan mengkilap, dan tidak berbau. Ciri mikroskopisnya: pori-pori tata baur, hampir seluruhnya soliter, perforasi tipe tangga, serta berisi tilosis dan endapan berwarna. Jari-jari uni–multiseriet, heteroseluler, dan berisi endapan coklat kehitaman. Parenkim aksial tipe jarang/tersebar, 2‒4 sel per untai. Kristal prismatik di dalam jari-jari dan parenkim aksial. Serat tergolong panjang (2153 μm) dan sebagian bersekat. Rata-rata kerapatan kayu 0.80 g/cm3, BJ 0.49, SV total 17.32%, T/R-rasio dari basah ke KU 1.54, dan KA TJS 38.20%. Kayu tergolong stabil, masuk dalam Kelas Kuat III. Potensi pemanfaatan yang disarankan adalah sebagai bahan baku pembuatan pulp/kertas
Studi Populasi Mikrob Fungsional pada Tanah yang Terpapar Dua Jenis Antibiotik Ternak
Penyakit menjadi tantangan dalam kegiatan produksi peternakan ayam.
Sistem produksi intensif menyebabkan hewan ternak lebih rentan terhadap
penyakit dikarenakan kepadatan populasi dan tingkat stres hewan ternak yang
tinggi. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi mikrob merupakan penyebab utama
dalam kematian hewan ternak. Antibiotik telah digunakan secara luas untuk
mencegah atau mengobati penyakit yang disebabkan oleh infeksi mikrob.
Peternakan ayam secara intensif menimbulkan limbah berupa feses ayam dalam
jumlah besar. Antibiotik dengan konsentrasi yang cukup tinggi banyak ditemukan
pada feses ayam. Antibiotik dapat masuk ke lingkungan tanah melalui paparan
feses ayam dari kegiatan peternakan. Setelah dikonsumsi hewan, antibiotik tidak
seluruhnya diserap atau dimetabolisme secara in vivo, sekitar 30-90% akan
dieksresikan melalui urin dan feses. Paparan feses ayam yang mengandung
antibiotik secara rutin pada tanah dikhawatirkan dapat menimbulkan gangguan
terhadap mikrob fungsional tanah yang berimplikasi terhadap kesehatan dan
keseimbangan ekosistem tanah.
Penelitian dilaksanakan mulai Mei 2018 sampai September 2018. Sampel
tanah diambil dari lahan sekitar peternakan ayam di Desa Cipayung dan Desa
Megamendung, Kabupaten Bogor. Peternakan ayam di Desa Cipayung memiliki
kapasitas sekitar 20 ribu ekor/siklus sedangkan peternakan ayam di Desa
Megamendung memiliki kapasitas sekitar 2 ribu ekor/siklus. Antibiotik yang
paling banyak digunakan di kedua peternakan tersebut adalah siprofloksasin dan
tilosin dalam bentuk campuran. Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan
melalui percobaan di laboratorium dan analisis sampel tanah dari peternakan
ayam. Percobaan laboratorium dilakukan berupa uji pengaruh penambahan
antibiotik pada tanah terhadap populasi mikrob fungsional tanah. Sampel tanah
diambil dari bagian teratas area peternakan di Desa Cipayung. Analisis sampel
tanah dari peternakan ayam dilakukan sebagai analisis dampak paparan antibiotik
yang dilakukan dengan menghitung populasi mikrob fungsional tanah di sekitar
peternakan ayam. Sampel tanah dari bagian teratas lokasi peternakan diambil
sebagai kontrol negatif, selanjutnya diambil pula sampel tanah dari bawah
kandang dan tanah yang terkena air limpasan dari kandang. Pengamatan mikrob
fungsional tanah pada penelitian ini difokuskan pada bakteri pelarut fosfat (BPF),
cendawan pelarut fosfat (CPF), bakteri selulolitik (BS), cendawan selulolitik (CS),
serta bakteri penambat N2 bebas Azotobacter (AZT) dan Azospirillum (AZS).
Hasil uji pengaruh penambahan antibiotik menunjukkan bahwa faktor
tunggal penambahan antibiotik siprofloksasin dan tilosin dengan konsentrasi 1, 5,
dan 10 mg kg-1 tanah tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap populasi
seluruh mikrob fungsional tanah yang diuji. Dari enam kelompok mikrob
fungsional yang diuji, waktu inkubasi secara nyata berpengaruh pada populasi BS,
AZT dan AZS sedangkan pengaruh waktu inkubasi terhadap BPF, CPF, dan CS
tidak menunjukkan pengaruh nyata. Interaksi antara penambahan antibiotik dan
waktu inkubasi menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh nyata terhadap populasi
seluruh mikrob fungsional yang diuji. Hasil analisis dampak paparan antibiotik
tidak menunjukkan adanya indikasi bahwa adanya paparan antibiotik secara nyata
mempengaruhi populasi mikrob fungsional tanah baik di peternakan ayam di Desa
Cipayung maupun di Desa Megamendung
Penentuan Dosis Optimum Pupuk N dan K dengan Penambahan Pupuk Kandang Kambing untuk Produksi Kacang Tunggak (Vigna unguiculata [L.] Walp).
Vigna unguiculata [L.] Walp adalah nama ilmiah dari kacang tunggak yang merupakan salah satu tanaman pangan. Semua bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan maupun pakan. Selain itu, tanaman ini memiliki daya adaptasi yang luas dengan produksi cukup tinggi sebesar 1.5-2.0 ton ha-1 di Indonesia. Budidaya kacang tunggak di Indonesia masih terbatas karena kurangnya informasi mengenai manfaat, dan teknologi budidaya. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pemberian pupuk yang tepat untuk meningkatkan produksi dan memberikan keuntungan yang maksimum. Tujuan penelitian ini adalah menentukan dosis optimum pupuk N dan K untuk produksi tanaman kacang tunggak dan menentukan pengaruh interaksi dosis pupuk N, K dengan pupuk kandang kambing terhadap produksi tanaman kacang tunggak. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2017 sampai dengan Februari 2018 di lahan Leuwikopo, Darmaga, Bogor.
Masing-masing percobaan untuk N dan K dievaluasi dengan tingkat dosis pupuk menggunakan rancangan petak terpisah (split plot design) dalam RAKL dengan dua faktor, yaitu dosis pupuk kandang dan dosis pupuk sebanyak tiga ulangan. Faktor pertama sebagai petak utama adalah perlakuan pupuk kandang 0 dan 5 ton ha-1. Faktor kedua sebagai anak petak adalah dosis pupuk yang digunakan 0, 50, 100, 150, dan 200% dari dosis acuan (100% N = 45 kg ha-1 N, 100% K = 60 kg ha-1 K2O). Aplikasi pupuk N pada percobaan N diberikan satu tahap yaitu 100% di awal tanam. Aplikasi pupuk K pada percobaan K diberikan satu tahap yaitu 100% di awal tanam dan N diberikan dua tahap, yaitu 50% di awal tanam dan 50% dosis saat 4 minggu setelah tanam (MST). Panen dilakukan 2 kali yaitu pada umur 70 hari dan 77 hari setelah tanam (HST). Percobaan pertama belum mendapatkan dosis optimum pemupukan N. Penambahan pupuk N nyata menurunkan bobot 100 biji dan cenderung menurunkan hasil dan komponen hasil. Pupuk kandang 5 ton ha-1 meningkatkan bobot biji kering per tanaman, jumlah polong per tanaman, bobot polong kering per tanaman, bobot biji kering per m2, produktivitas, bobot 100 biji, dan indeks panen tanaman kacang tunggak. Percobaan kedua belum mendapatkan dosis optimum pemupukan K. Pemberian pupuk kandang sebesar 5 ton ha-1 nyata meningkatkan laju tumbuh tanaman 42-60 HST