Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Optimasi Klasifikasi Random Forest dengan Algoritme Genetika untuk Identifikasi Mutu Beras

    No full text
    Beras dianggap sebagai komoditas strategis yang dominan dalam perekonomian Indonesia karena beras merupakan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat. Namun, ada banyak masalah terkait komoditas ini, terutama yang berkaitan dengan identifikasi kualitas. Teknik penilaian kualitas beras yang banyak digunakan masih bersifat konvensional, sehingga peluang untuk mengembangkan teknik penilaian kualitas beras berbasis teknologi komputasi dengan memanfaatkan metode Machine Learning yang salah satunya adalah Random Forest, masih sangat terbuka. Random Forest adalah metode ensemble learning untuk klasifikasi dan regresi dengan membentuk kombinasi beberapa pohon keputusan (CART Decision Trees). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan kombinasi pohon keputusan- pohon keputusan yang memberikan akurasi tertinggi untuk model klasifikasi Random Forest yang dibangun melalui optimasi dengan Algoritme Genetika. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa 4 set varietas padi yang diperoleh dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor. Berdasarkan hasil optimasi diperoleh hasil akurasi optimal untuk masing-masing model klasifikasi Random Forest yang telah dibangun. Akurasi optimal untuk varietas Cirata, Inpari 13, Inpari 19 dan Muncul Cimalaya secara berturut-turut adalah 97.50%, 94,00%, 97,24% dan 100%. Penggunaan metode stratifikasi gen memberikan hasil yang positif terhadap peningkatan akurasi ketika proses optimasi Algoritme Genetika dilakukan terutama optimasi model klasifikasi Random Forest untuk varietas Cirata dan Inpari 13

    Evaluasi Tingkat Kejeraan Tiga Spesies Tikus terhadap Rodentisida.

    No full text
    Tikus merupakan salah satu hama yang sulit dikendalikan dibandingkan dengan hama lain. Daya adaptasi tikus terhadap lingkungan sangat baik, yaitu dapat memanfaatkan sumber makanan dari berbagai jenis (omnivora). Indera penciuman, pendengaran, perasa, dan peraba yang dimiliki tikus ditambah dengan penggunaan rodentisida sintetis yang berlebihan sangat berperan dalam menimbulkan jera umpan dan jera racun, karena sifat tikus yang mudah curiga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menghitung tingkat kejeraan tikus pohon, sawah, dan rumah terhadap umpan dan rodentisida yang sering diaplikasikan di lapangan serta mengetahui faktor-faktor yang menyebabkannya. Penelitian dilakukan dengan menguji 284 tikus pohon, 357 tikus sawah, dan 45 tikus rumah, selain itu juga dilakukan wawancara kepada petani di tempat pengambilan tikus uji. Setelah dilakukan pengujian, dilakukan penghitungan persentase tingkat kejeraan tikus dengan skoring. Hasil persentase tingkat kejeraan masing-masing hewan uji digunakan untuk evaluasi tingkat kejeraan tikus pada tahun 2012. Hasil wawancara digunakan untuk mendukung pembahasan dalam mencari faktor penyebab tingkat kejeraan tikus tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tikus sawah dari Subang memiliki tingkat kejeraan tertinggi terhadap umpan dan rodentisida dibandingkan dengan tikus rumah dan pohon dari Bogor. Faktor penyebab tingkat kejeraan tersebut adalah aktivitas pengendalian tikus dengan menggunakan rodentisida sintetis yang masih intensif. Penurunan persentase kejeraan terhadap rodentisida brodifakum terjadi pada ketiga spesies tikus, terhadap rodentisida bromadiolon terjadi pada tikus pohon dan rumah, sedangkan terhadap rodentisida kummatetralil terjadi pada tikus sawah. Tingkat kejeraan tikus terhadap rodentisida dapat mengalami penurunan karena penggunaan rodentisida dilapangan yang semakin berkurang

    Model Pengembangan Ekonomi Berkelanjutan Industri Cakalang Indonesia

    No full text
    Cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan salah satu komoditas utama perdagangan komoditas perikanan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengkaji model pengelolaan sumberdaya ikan Cakalang dan daya saing Cakalang dalam perdagangan internasional; (2) Membangun model ekonomi perikanan Cakalang bekelanjutan; (3) Merumuskan kebijakan pengembangan ekonomi Cakalang guna meningkatkan kinerja ekonomi perikanan dengan tetap menjaga kelestarian sumberdaya ikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis bioekonomi, analisis daya saing, analisis keseimbangan umum dan analisis dinamis. Pengelolaan sumberdaya Cakalang dalam periode penelitian di 22 pelabuhan perikanan menunjukkan adanya tingkat tangkapan Cakalang yang berlebih. Model pengelolaan Cakalang yang dapat memberikan rente ekonomi maksimal adalah keseimbangan MEY. Produk Cakalang yang memiliki daya saing tinggi adalah Fillet dan olahan. Kedua produk tersebut perlu mendapatkan prioritas bagi para pelaku perdagangan Cakalang, sehingga dapat memberikan nilai ekspor signifikan bagi ekonomi nasional. Hasil simulasi model CGE Cakalang menunjukkan bahwa kebijakan kuota penangkapan ikan Cakalang (MSY dan MEY) berpengaruh signifikan pada aktivitas industri pengolahan Cakalang. Hal ini terkait ketersediaan bahan baku Cakalang bagi industri pengolahan. Pemerintah perlu menetapkan kebijakan kuota penangkapan ikan Cakalang untuk menjamin ketersediaan bahan baku ikan Cakalang bagi keberlangsungan industri pengolahan ikan. Kebijakan yang diperlukan dalam pengembangan ekonomi Cakalang secara berkelanjutan adalah (1) Menetapkan kuota tangkapan Cakalang yang diperbolehkan sesuai pada keseimbangan MEY; (2) Mengatur pembatasan kapasitas penangkapan ikan/jumlah armada penangkapan ikan Cakalang; (3) Mendorong para pelalu usaha untuk mengembangkan diversifikasi produk Cakalang Indonesia; (4) Menjamin ketersediaan bahan baku Cakalang bagi industri pengolahan ikan nasional, yaitu melalui pengetatan ekspor Cakalang beku (Raw Material); (5) Meningkatkan ketaaatan pelaku usaha dalam memenuhi kriteria-kriteria produk Cakalang di pasar internasional, khususnya terkait ketelusuran asal bahan baku Cakalang (traceability), legalitas kapal penangkap ikan Cakalang (legality), perlindungan terhadap tenaga kerja di industri perikanan, dan dukungan atau komitmen pelaku usaha dalam menjaga keberlanjutan penangkapan ikan Cakalang; (6) Meningkatkan peran aktif ditingkat internasional dalam kerjasama pengelolaan sumberdaya ikan Cakalang di WPPNRI dan Laut Lepas; dan (7) Melakukan perhitungan estimasi sumberdaya Cakalang secara berkala guna mengetahui perkembangan status sumberdaya Cakalang

    Efektivitas Instagram sebagai Media Promosi Produk Olahan Pertanian Kopi di Rumah Kopi Sunda Hejo

    No full text
    Agroindustri merupakan kegiatan industri dengan memanfaatkan hasil pertanian yang diolah menjadi produk olahan pertanian. UMKM merupakan agroindustri skala kecil dan menengah yang menjual produk lokal. Dalam pengembangan usaha UMKM, perlu dilakukan kegiatan promosi untuk memperkenalkan produk kepada konsumen secara luas, salah satunya menggunakan media sosial Instagram. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis karakteristik pesan dalam media sosial Instagram, menganalisis keterdedahan terhadap akun @sundahejo, menganalisis efektivitas Instagram sebagai media promosi, menganalisis hubungan antara karakteristik konsumen dengan efektivitas Instagram sebagai media promosi, menganalisis hubungan antara karakteristik pesan dalam media sosial Instagram dengan efektivitas Instagram sebagai media promosi, dan menganalisis hubungan antara keterdedahan terhadap akun @sundahejo dengan efektivitas Instagram sebagai media promosi. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan data kuantitatif berupa kuesioner yang didukung oleh data kualitatif berupa wawancara mendalam. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 50 responden. Hasil penelitian menunjukkan Instagram efektif dalam menstimulasi perhatian, ketertarikan dan keinginan responden. Memasuki tahap action efektivitas Instagram tergolong cukup efektif mendorong responden dalam melakukan tindakan terhadap produk kopi Sunda Hejo

    Rancang Bangun dan Uji Kinerja Sistem Trek Segitiga untuk Kendaraan Roda Tiga

    No full text
    Trek segitiga adalah roda penggerak berupa roda rantai panjang dan lebar yang kedua ujungnya saling terhubung dan digerakkan oleh roda gigi di dalamnya. Umumnya trek segitiga berbentuk memanjang atau disebut dengan crawler. Rancangan trek segitiga pada roda belakang kendaraan roda tiga (Viar Karya 300) bertujuan untuk menambah tenaga traksi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang bangun dan melakukan uji kinerja trek segitiga sebagai roda penggerak pada kendaraan roda tiga. Rancangan trek segitiga yang dibuat memiliki komponen fungsional yakni rangka, sproket dan rantai, roller, idler, sepatu trek, dan flens. Hasil analisis struktural memiliki nilai yang baik hal ini dapat dilihat dari simulasi stress dan displacement masing-masing komponen yang diarancang memiliki nilai dibawah batas aman menggunakan Software Solidworks 2016. Roda trek dirancang agar mudah dibongkar pasang dengan roda ban. Pemasangan roda trek menyebabkan dimensi kendaraan sedikit berubah terutama pada bagian belakang ground clearance kendaraan bertambah dari 270 mm menjadi 320 mm. Uji fungsional roda trek dapat berjalan dengan baik di berbagai jenis medan hal ini sesuai spesifikasi roda trek yang dirancang dapat beroperasi disegala jenis medan. Perancangan dudukan dan pengganitan snapring dan boss dapat menambah keseimbangan roda trek saat berjalan sehingga masalah di lapang seperti roda terbalik, poros sambungan flens lepas, maupun perubahan titik center idler dapat diatasi. Data kinerja kecepatan menunjukkan 6.073 m/s pada medan tanah dengan tingkat gigi transmisi 2 sehingga dapat disimpulkan kriteria desain dapat tercapai. Selain itu pada uji radius belok kendaraan setelah dipasang roda trek dapat beroperasi dengan baik namun dengan nilai yang sedikit lebih besar yaitu radius belok kanan 4.49 m, roda dalam 3.06 m, dan roda depan 4.62 m dan radius belok kiri 4.7 m, roda dalam 3.215 m, dan roda depan 4..85 m. Pengujian pada tanjakan menunjukkan bahwa pemasangan roda trek menyebabkan kemiringan kendaraan berubah dari 6.42 menjadi 7.57. Hal ini menyebabkan kerangka kendaraan roda tiga tidak menabrak tanjakan yang dilewati sehingga kendaraan dengan mudah melaju. Selain itu roda trek yang memiliki luas penampang yang lebih besar dari pada roda ban, menyebabkan tenaga dorong yang dihasilkan lebih besar dan slip dapat dihindari

    Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Hiu Lanjaman (Carcharhinus falciformis) dan Hiu Martil (Sphyrna lewini) di Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur.

    No full text
    Hiu lanjaman (Carcharhinus falciformis) dan hiu martil (Sphyrna lewini) merupakan komoditas perikanan yang memiliki peran penting bagi masyarakat Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur. Kedua spesies tersebut berdasarkan data survey yang dilakukan oleh Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Denpasar tahun 2016, termasuk dua spesies yang paling dominan tertangkap oleh nelayan Tanjung Luar. Pada tahun 2012, IUCN mengelompokkan kedua spesies tersebut ke dalam spesies yang terancam punah dan status perdagangannya masuk dalam apendiks II CITES. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspekaspek biologi, bioekonomi, kondisi eksisting dan status keberlanjutan dalam pengelolaan sumberdaya serta desain model pengelolaan sumberdaya perikanan hiu lanjaman dan hiu martil sebagai dasar rujukan dalam pengambilan keputusan dalam rangka pengelolaan sumberdaya perikanan hiu yang berkelanjutan Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode bulan Maret-Agustus 2018, terdapat 2.754 ekor hiu lanjaman dan dan 382 ekor hiu martil yang didaratkan di TPI Tanjung Luar. Hiu lanjaman (C. falciformis) yang didaratkan umumnya memiliki panjang total berkisar antara 37,3–282,0 cm dan berat berkisar antara 1– 86 kg. Sedangkan hiu martil (S. lewini) memiliki panjang total berkisar antara 48-309 cm dan berat berkisar antara 0,3–168,0 kg. Pola pertumbuhan hiu lanjaman (C. falciformis) bersifat allometrik positif, dimana pertambahan bobotnya lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan panjang. Sedangkan hiu martil (S.lewini) memiliki pola pertumbuhan yang bersifat allometrik negatif dimana pertambahan panjang lebih cepat dibandingkan pertambahan bobot. Berdasarkan tingkat kematangan clasper hiu lanjaman lebih banyak berada pada fase Full-Calcified (FC), dengan persentase 46,79%. Sedangkan hiu martil juga berada pada fase yang sama atau Full-Calcified (FC) dengan persentase sebesar 45,90%. Sementara itu, untuk hiu lanjaman betina, berdasarkan tingkat kematangan seksualnya 75,93% didominasi oleh hiu yang belum dewasa atau belum matang secara seksual (immature). Sedangkan untuk hiu martil betina 53,58% didominasi oleh hiu yang belum dewasa atau belum matang secara seksual (immature). Berdasarkan hasil analisis bioekonomi, dengan menggunakan pendekatan model surplus produksi Fox menunjukkan bahwa jumlah produksi dan effort aktual hiu lanjaman (C. falciformis) masih berada dibawah jumlah produksi dan effort pada kondisi MSY dan MEY. Ini mengindikasikan bahwa tingkat eksploitasi yang dilakukan nelayan Tanjung Luar belum mengalami overfishing baik secara biologi (biological overfishing) maupun secara ekonomi (economic overfishing). Namun kalau dicermati perbandingan tingkat effort pada kondisi aktual dengan tingkat effort pada kondisi MSY terhadap jumlah produksi yang dihasilkan terlihat bahwa tingkat produktivitas yang dihasilkan pada kondisi aktual tergolong tinggi dan hampir mendekati jumlah produksi pada kondisi MSY, meskipun dengan tingkat effort yang lebih kecil. Sedangkan untuk hiu martil (S. lewini), berdasarkan hasil analisis bioekonomi dengan menggunakan pendekatan model surplus produksi Schnute menunjukkan bahwa jumlah produksi aktual masih berada di bawah jumlah produksi pada kondisi MSY dan MEY. Ini berarti bahwa dari sisi jumlah produksi, eksploitasi yang dilakukan nelayan Tanjung Luar belum mengalami overfishing (biological overfishing). Namun dilihat dari effort yang digunakan dalam melakukan aktivitas penangkapan, tingkat effort yang digunakan nelayan Tanjung Luar tergolong sangat tinggi karena sudah melebihi tingkat effort pada kondisi MEY, MSY bahkan Open Access. Ini menunjukkan bahwa aktivitas penangkapan hiu martil (S. lewini) yang dilakukan nelayan Tanjung Luar sudah mengalami economic overfishing, dimana ada pengalokasian faktor produksi melebihi dari yang seharusnya untuk menghasilkan jumlah produksi tertentu dalam kegiatan penangkapan hiu martil (S. lewini) di Tanjung Luar. Berdasarkan hasil analisis optimasi dinamik, jika dilihat dari biomassa dan jumlah produksinya baik untuk hiu lanjaman (C. falciformis) maupun hiu martil (S. lewini) menunjukkan kecenderungan penurunan jumlah produksi dan biomassa sejalan dengan peningkatan nilai discount rate. Hal ini karena tingkat discount rate yang tinggi akan memacu terjadinya peningkatan laju eksploitasi terhadap sumberdaya menjadi semakin tinggi dan akan memperbesar tekanan terhadap sumberdaya. Tingkat eksploitasi yang berlebihan dalam jangka panjang akan berdampak pada penurunan nilai rente ekonomi karena biaya yang harus dikeluarkan akan semakin besar dan tidak sebanding dengan hasil produksi yang diperoleh. Hasil simulasi model dinamik untuk hiu lanjaman (C. falciformis) dan hiu martil (S. lewini) dengan menggunakan pendekatan model surplus produksi Fox dan schnute, kedua spesies mengindikasikan adanya kecenderungan penurunan biomassa/stok akibat upaya pemanfaatan yang berlebihan. Namun kecenderungan penurunan biomassa ini lebih signifikan terjadi pada hiu martil dibandingkan dengan hiu lanjaman. Hal ini karena tekanan penangkapan pada hiu martil lebih besar dibandingkan dengan tekanan penangkapan pada hiu lanjaman.. Beberapa opsi pengelolaan yang diperlukan untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan perikanan hiu di Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur, di masa mendatang diantaranya adalah penghentian aktivitas penangkapan (Moratorium), pembatasan upaya penangkapan, ukuran hasil tangkapan dan pengaturan wilayah penangkapan (fishing ground), serta menetapkan program prioritas yang mendukung keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya perikanan hiu lanjaman dan hiu martil melalui diversifikasi usaha perikanan, penyediaan alternatif pendapatan bagi nelayan, penegakan aturan terkait kesesuaian dokumen pelayaran, pengunaan alat tangkap yang selektif, sinergitas kebijakan dan kelembagaan pengelolaan perikanan, penyusunan dan penetapan Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) sebagai acuan dalam pengelolaan perikanan, membuka akses pendidikan yang luas bagi anak-anak nelayan, mendorong partisipasi keluarga dalam pemanfaatan hasil perikanan dan melarang menangkap atau melepaskan kembali spesies ETP jika tertangka

    Re-Design Model Bisnis Tukang.com: Aplikasi Jasa Tukang Bangunan Berbasis Smartphone

    No full text
    Globalisasi kini telah memasuki era baru dimana sektor internet menjadi fokus strategis dan prioritas pembangunan di seluruh dunia. Sektor bisnis telah banyak menggunakan internet dan aplikasi mobile sebagai media transaksi, tidak terkecuali pada sektor jasa konstruksi. Salah satu perusahaan di bidang jasa konstruksi yang memanfaatkan teknologi internet dan aplikasi mobile adalah Tukang.com. Menghadapi persaingan yang semakin tinggi, maka Tukang.com harus lebih meningkatkan kinerjanya secara komprehensif. Sehingga perlu adanya evaluasi dan peningkatan kinerja agar menjadi ukuran kinerja yang komprehensif dan memerlukan suatu alat yang tepat yang mampu mengkomunikasikan rencana rencana strategis tersebut untuk kelangsungan perusahaan. Metode balanced scorecard merupakan salah satu metode pengukuran kinerja yang baik untuk digunakan, karena metode BSC tidak hanya mengukur kinerja berdasarkan perspektif keuangan tetapi juga mengukur kinerja berdasarkan perspektif non keuangan yang mencakup perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal serta perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengukuran terhadap kinerja Tukang.com secara komprehensif dengan menggunakan metode BMC dan BSC sehingga melahirkan insiatif strategis dan BMC perbaikan bagi Tukang.com. Analisis balanced scorecard Tukang.com menghasilkan inisiatif dari empat perspektif yaitu perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal dan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. Selanjutnya dilakukan pembobotan dengan metode eckenrode untuk menimbang sasaran strategis yang menjadi prioritas Tukang.com untuk pengembangan perusahaannya. Model bisnis perbaikan Tukang.com adalah hasil dari ketiga metode yang sebelumnya sudah dibuat dan secara langsung mempengaruhi kesembilan elemen bisnis model kanvas lainnya

    Pengaruh Foreign Direct Investment Terhadap Produktivitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT): Analisis Data Panel di Indonesia

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika produktivitas, serta pengaruh adanya FDI dan FDI Spillover terhadap produktivitas industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemodelan menggunakan analisis data panel Fixed Effect Model (FEM) dengan perbaikan asumsi klasik, sehingga model akhir yang dipakai adalah model Generalized Least Square (GLS). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah data perusahaan industri TPT yang di ambil dari survei industri Badan Pusat Statistik (BPS). Definisi operasional variabel yang digunakan dalam model penelitian ini antara lain adalah total factor productivity (TFP) untuk variabel dependennya, sedangkan untuk variabel independennya menggunakan foreign direct investment (FDI), spillover Horizontal, backward, forward, intensitas kapital, dan tingkat pengeluaran untuk riset dan pengembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel FDI, spillover backward, dan tingkat pengeluaran untuk riset dan pengembangan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap produktivitas industri TPT di Indonesia, sedangkan variabel spillover FDI Horizontal, forward, dan intensitas kapital berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas industri TPT di Indonesia

    Pengaruh Pemberian Pupuk terhadap Periode Pembungaan Pohon Aromatik dan Aplikasinya dalam Taman

    No full text
    Fenologi adalah ilmu tentang periode fase-fase yang terjadi secara alami pada tanaman yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal adalah cahaya, kelembaban, suhu, hari hujan, curah hujan, unsur hara, dan faktor internal genetik dan fitohormon. Studi ini dilakukan selama lima bulan menggunakan tiga spesies pohon berbunga dari berbagai jenis keluarga. Spesies pohon tersebut adalah 1) Cananga odorata (Lam.) Hook. F.&Thoms, 2) Magnolia champaca L. dan 3) Plumeria rubra L. Penambahan nutrisi dalam bentuk pupuk dengan tiga taraf dosis NPK dengan 3 ulangan. Aplikasi pemberian pupuk N dilakukan pada awal penelitian dengan dosis 30 gram/m², 60 gram/m² dan 90 gram/m². Berdasarkan pengamatan persentase pembungaan tiap dosis pupuk yang diberikan kemudian data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA). Hasil menunjukkan pemberian pupuk 30 gram/m² pada Cananga odorata (Lam.) Hook. F.&Thoms memiliki efek yang nyata pada peningkatan persentase pembungaan, Magnolia champaca L. tidak terpengaruh nyata oleh dosis berapapun, dan dosis pupuk Plumeria rubra L. 30 gram/m² berpengaruh nyata pada persentase pembungaan pada bulan Mei. Bulan Juli dan Agustus pupuk yang diterapkan tidak mempengaruhi persentase bunga pada ketiga spesies. Hasil analisis regresi menunjukkan pembungaan spesies Cananga odorata (Lam.) Hook. F.&Thoms dipengaruhi nyata oleh unsur curah hujan, lama penyinaran, dan hari hujan. Magnolia champaca L. dipengaruhi oleh unsur curah hujan dan lama penyinaran, sedangkan Plumeria rubra L. dipengaruhi oleh kelembaban. Hasil kuisioner menunjukkan responden paling menyukai aroma kamboja yang diberi pupuk 90 gram/m², namun sebagian besar responden tidak menyukai aroma Cananga odorata (Lam.) Hook. F.&Thoms dan Magnolia champaca L. Hasil penelitian dapat dijadikan referensi dalam membuat rencana penanaman berdasarkan pohon aromatik yang paling disukai oleh responden dan hubungan peningkatan pembungaan antara spesies dan pupuk. Rekomendasi juga digunakan sebagai referensi bagi nursery tanaman untuk menambah dosis pupuk, yang meningkatkan kuantitas dan kualitas bunga. Hasil studi tentang tanaman beearoma telah diterapkan dalam usulan rencana penanaman Masjid Al Hurriyah Kampus IPB

    Efektivitas Cacahan Batang Pisang Ambon (Musa paradisiaca) untuk Mencegah Infeksi Aeromonas hydrophila pada Ikan Koi Cyprinus rubrofuscus.

    No full text
    Ikan koi (Cyprinus rubrofuscus) merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar introduksi yang mempunyai nilai ekonomis tinggi baik di pasar lokal maupun internasional. Pengembangan ikan koi mengalami berbagai hambatan, salah satunya adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Aeromonas hydrophila. Penelitian ini bertujuan menentukan dosis cacahan batang pisang ambon terbaik sebagai upaya pencegahan infeksi A. hydrophila pada ikan koi. Ikan koi yang digunakan memiliki bobot rata-rata 6,64±0,3 gram ekor-1, dipelihara dengan kepadatan 10 ekor per akuarium yang berukuran 60×40×35 cm3. Penelitian ini menggunakan lima perlakuan yaitu kontrol positif (tanpa perlakuan dan diuji tantang), kontrol negatif (tanpa perlakuan dan tanpa uji tantang), perlakuan 5 g L-1 air, perlakuan 10 g L-1 air, dan perlakuan 15 g L-1 air, yang setiap perlakuan diberi tiga ulangan. Perendaman dilakukan selama 14 hari dengan pergantian cacahan batang pisang ambon pada hari ke-7. Uji tantang dilakukan pada hari ke-15 dengan menyuntikkan secara intramuskular 0,1 mL A. hydrophila (105 CFU mL-1) ke ikan koi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian cacahan batang pisang ambon pada dosis 5 g L-1 dapat memberikan sintasan terbaik sebesar 76,67% setelah ikan diuji tantang

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇