31665 research outputs found
Sort by
Resistensi Antibiotika dan Deteksi Extended-spectrum β-lactamase (ESBL) pada Klebsiella pneumoniae asal Ayam dari Blitar dan Kediri
Penelitian mengenai keberadaan gen resistensi pada Klebsiella pneumoniae di peternakan unggas di Indonesia belum banyak dilakukan. Salah satu gen resistensi yang menjadi perhatian adalah gen penyandi extended-spectrum β-lactamase (ESBL). Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi gen penyandi ESBL pada K. pneumoniae di peternakan ayam di Kabupaten Blitar dan Kediri, Jawa Timur. Identifikasi K. pneumoniae dilakukan pada 141 isolat dari usap kloaka ayam dengan menggunakan metode PCR. Kepekaan isolat terhadap antibiotika ditentukan dengan metode agar dilusi. Deteksi gen penyandi ESBL dilakukan dengan menggunakan metode PCR. Sebelas K. pneumoniae diisolasi dari usap kloaka ayam. Tujuh isolat berasal dari Kabupaten Blitar dan 4 isolat berasal dari Kabupaten Kediri. Hasil uji kepekaan antibiotik menunjukkan semua isolat telah resisten terhadap antibiotika golongan β-laktam (ampisilin, amoksisillin, ceftazidime dan cefotaksim) dan oksitetrasiklin. Isolat masih peka terhadap gentamisin, sedangkan kepekaan terhadap kolistin, doksisiklin, ciprofloksasin, dan enrofloksasin bervariasi secara berturut-turut 90.9%, 45.5%, 45.4%, dan 36.4%). Semua isolat K. pneumoniae digolongkan sebagai bakteri Multi Drugs Resistance (MDR). Gen penyandi ESBL dapat diidentifikasi pada isolat K. pneumoniae yaitu blaSHV (9.1%), blaTEM (100%) dan blaCTX-M ( 90.9%). Seluruh isolat memiliki 2 gen diantara 3 gen penyandi ESBL. Kehadiran gen resisten antibiotik pada bakteri berpotensi untuk menyebarkan sifat resistansinya
Isolasi, Identifikasi dan Analisis Kelimpahan Bakteri Penghasil Invertase Asal Rizosfer Tebu dengan Berbagai Tingkat Produktivitas.
Mikroba dan enzim tanah berperan penting dalam mempertahankan
stabilitas ekosistem tanah dan memberikan dampak bagi produktivitas tanaman.
Invertase merupakan salah satu enzim tanah yang dihasilkan oleh mikroorganisme
dan berfungsi dalam proses hidrolisis sukrosa di lingkungan. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk menganalisis kelimpahan bakteri penghasil invertase
dan aktivitas invertase pada rizosfer tebu dengan tingkat produktivitas berbeda
serta hubungannya dengan sifat fisik dan kimia tanah dan mengisolasi isolat
bakteri penghasil invertase asal rizosfer tebu.
Pengambilan contoh tanah dari rizosfer tebu dengan simple randomized
sampling, selanjutnya dilakukan analisis sifat fisik-kimia tanah serta enumerasi
kelimpahan bakteri penghasil invertase dan analisis aktivitas invertase tanah.
Isolat bakteri penghasil invertase yang telah diisolasi, dianalisis kemampuannya
dengan uji kualitatif dan kuantitatif. Tiga isolat terbaik diidentifikasi secara
molekuler dengan analisis gen 16S rRNA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kelimpahan bakteri penghasil invertase dan aktivitas invertase tanah lebih tinggi
pada rizosfer tebu dengan produktivitas tinggi. Kelimpahan bakteri penghasil
invertase berkorelasi dengan aktivitas invertase, C organik, N total dan kandungan
pasir tanah. Aktivitas invertase tanah berkorelasi dengan kelimpahan bakteri
penghasil invertase, pH dan C organik tanah.
Sebanyak 20 isolat bakteri penghasil invertase berhasil diisolasi dari rizosfer
tebu. Tiga isolat menghasilkan zona hidrolisis dan aktivitas invertase tertinggi,
yakni isolat ScT112, ScT124, dan ScR301, dengan zona hidrolisis berturut-turut
3.12 cm, 2.76 cm dan 2.55 cm, serta aktivitas invertase berturut-turut 27.82 U
mL-1, 24.56 U mL-1 dan 24.08 U mL-1. Hasil identifikasi molekuler dengan
analisis gen 16S rRNA menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut adalah
Cupriavidus sp, Klebsiella variicola dan Pantoea sp
Strategi Bisnis Terasku Florist Dengan Pendekatan Business Model Canvas
Terasku Florist merupakan sebuah bisnis yang bergerak di bidang industri
kreatif florikultura yaitu sebuah jasa merangkai bunga. Terasku Florist mengalami
dinamika lingkungan usaha sehingga membutuhkan strategi bisnis yang baru
untuk menghadapi kondisi pasar yang ada saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk
memetakan dan mengevaluasi model bisnis, serta mengusulkan Bussiness Model
Canvas (BMC) perbaikan Terasku Florist. Penelitian ini menggunakan metode
BMC dan Matriks SWOT dengan menggunakan analisis deskriptif yang
menghasilkan rumusan strategi untuk merancang perbaikan model bisnis pada
Terasku Florist. Hasil rumusan strategi yang diperoleh dari Matriks SWOT ialah
strategi bisnis yang baru yaitu meningktakan teknik baru dalam membuat desain
bunga yang memiliki suatu ciri khas khusus, menjalin kerjsama dengan berbagai
pemasok untuk mencari bahan baku bunga yang berkualitas dan variasi bunga
yang beragam, menambahkan saluran penjualan baru di media online dengan
membuat suatu pemasaran yang menarik dan informatif, dan menambahkan SDM
yang kompeten. Strategi bisnis baru tersebut berdampak pada implikasi
penambahan usulan aspek baru pada setiap elemen Business Model Canvas
perbaikan
Pengaruh Converter Slag dan Bahan Humat terhadap Sifat Kimia Tanah dan Pertumbuhan Sorgum pada Tanah Podsolik dari Jasinga
Podsolik merupakan tanah yang berpotensi dikembangkan sebagai lahan pertanian karena tersebar luas di Indonesia sekitar 51 juta hektar. Tanah ini memiliki faktor pembatas seperti bersifat masam, Al-dd tinggi, dan unsur hara tersedia rendah, sehingga diperlukan input pengapuran dan pemberian bahan organik. Converter slag adalah produk sampingan dari pembuatan baja yang berpotensi sebagai bahan pengapuran pada tanah masam karena mengandung Ca dan Mg yang cukup tinggi. Bahan humat merupakan hasil akhir dari dekomposisi bahan organik, dan paling aktif karena memiliki gugus karboksil (-COOH) dan Fenolik (-OH). Bahan Humat memiliki pengaruh yang sama dengan bahan organik namun dapat diberikan dalam jumlah sedikit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh converter slag dan bahan humat terhadap sifat kimia tanah, pertumbuhan sorgum, serta kadar hara tanaman. Penelitian ini merupakan percobaan pot di rumah kaca dan merupakan percobaan faktorial 2 faktor yang ditempatkan dalam rancangan acak lengkap (RAL). Faktor pertama adalah converter slag terdiri dari 4 taraf dan faktor kedua adalah bahan humat terdiri dari 4 taraf. Dari kombinasi kedua faktor tersebut diperoleh 16 perlakuan, dan diulang 3 kali sehingga diperoleh 48 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian converter slag dan bahan humat dapat meningkatkan pH, KTK, P-tersedia, K-dd, Ca-dd, Mg-dd, Fe dan Mn tersedia serta dapat menurunkan Al-dd, serta menurunkan Cu dan Zn tersedia tanah. Pemberian converter slag dan bahan humat nyata meningkatkan tinggi tanaman, bobot basah, bobot kering tanaman sorgum. Kadar hara tanaman: P, K, Ca, Mg, Fe, dan Mn menigkat tetapi kadar Cu dan Zn menurun
Analisis Penanganan Sedimentasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Singkarak Melalui Pembayaran Jasa Lingkungan (Studi Kasus Desa Guguak Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat).
Mekanisme pembayaran jasa lingkungan (PES) merupakan suatu kegiatan
yang dapat mengatasi permasalahan sedimentasi di Danau Singkarak. Tujuan
penelitianadalah menganalisis sosial ekonomi masyarakat, identifikasi penyedia
dan pemanfaat jasa lingkungan,Willingness to Accept, dan Willingness to Pay.
Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan
kuantitatif, Willingness to Accept, dan Willingness to Pay tanpa regresi. Hasil
penelitian menunjukkan sebesar 16% dari populasi masyarakat danau singkarak
dapat dinyatakan sejahtera, karena penerimaan masyarakat lebih besar
dibandingkan dengan pengeluaran masyarakat. Pemanfaat dari jasa lingkungan
adalah pihak PLTA Singkarak, sedangkan penyedia jasa lingkungan adalah
masyarakat. Hasil dari WTA masyarakat dan WTP dari PLTA Singkarak dalam
mekanime pembayaran jasa lingkungan sebesar Rp 1.450.000 per tahun atau Rp
2.900 per pohon untuk masyarakat yang bersedia menanam pohon di atas lahan
miliknya sebanyak 500 pohon. Pada pembayaran jasa lingkungan pihak PLTA
akan membayar kepada lembaga pengelola DAS Guguak Malalo agar dapat
dibagikan kepada masyarakat yang sesuai dengan syarat dan ketentuan yang telah
disepakati
Pengembangan Teknik Koordinasi Robot dengan Algoritme ACO menggunakan Modul Komunikasi WiFi
Salah satu permasalahan dalam sistem multi-robot adalah diperlukannya
teknik komunikasi yang andal agar robot dapat berkomunikasi dan berkoordinasi
dengan baik satu sama lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan
algoritme Ant Colony Optimization (ACO) untuk mengalokasikan robot dengan
menggunakan modul komunikasi WiFi. Pada penelitian ini, dikembangkan sistem
multi-robot untuk menyelesaikan suatu task pada satu target yang memiliki
kebutuhan tertentu. Kebutuhan tersebut dapat terpenuhi dari beberapa robot yang
memiliki kemampuan-kemampuan tertentu. Penelitian ini menggunakan lima
robot dengan modul Wi-Fi ESP32 sebagai client yang mengirimkan data properti
berupa posisi dan kemampuan yang dimiliki robot ke server. Server kemudian
mengolah data tersebut menggunakan algoritme ACO untuk menghasilkan
keputusan berupa koalisi robot terbaik untuk menyelesaikan suatu task. Lalu, hasil
keputusan tersebut dikirimkan kembali ke client. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa komunikasi antara client dan server berhasil dibangun, dan
algoritme ACO terhadap task allocation berhasil diimplementasikan
Kajian Risiko Aflatoksin M1 dalam Produk Formula untuk Bayi dan Anak usia 0-36 Bulan
Aflatoksin M1 (AFM1) adalah metabolit dari hidroksilasi aflatoksin B1,
bersifat karsinogenik dan terdapat pada susu dan produk berbahan dasar susu,
termasuk produk formula bayi dan anak. Beberapa penelitian menunjukkan
hubungan antara paparan aflatoksin M1 dengan gangguan pertumbuhan pada bayi
dan anak. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian risiko AFM1 pada bayi
dan anak usia 0-36 bulan melalui konsumsi produk formula. Tahapan dalam
penelitian ini adalah melakukan kajian paparan AFM1 pada produk formula untuk
bayi dan anak usia 0-36 bulan dan selanjutnya karakterisasi risiko AFM1. Kajian
paparan dilakukan untuk mengetahui nilai Estimated Daily Intake (EDI) dengan
menggunakan data konsentrasi AFM1 dan data konsumsi produk formula. Data
konsentrasi AFM1 diperoleh dari data yang tercantum pada Certificate of Analysis
(CoA) produk formula yang terdaftar di BPOM pada periode Januari 2015 hingga
Juni 2018. Untuk perhitungan rata-rata konsentrasi AFM1 dan kajian paparan
AFM1, konsentrasi AFM1 yang tidak terdeteksi (no detected atau ND)
dinyatakan dengan nilai 0 pada skenario lower bound (LB) dan dinyatakan nilai
limit deteksi ( Limit of Detection atau LOD) untuk skenario upper bound (UB).
Data konsumsi yang digunakan adalah data konsumsi berdasarkan anjuran pelaku
usaha dan data konsumsi berdasarkan survei konsumsi makanan individu (SKMI)
tahun 2015 dari Kementerian Kesehatan RI. Karakterisasi risiko ditetapkan
dengan menggunakan indeks bahaya, yaitu rasio antara EDI dan threshold dose 50
(TD50) AFM1 (10.38 mcg/kgBB) dibagi safety factor (50000). Selain indeks
bahaya, karakterisasi risiko juga ditetapkan dengan nilai margin of exposure
(MoE), yaitu rasio antara TD50 dengan EDI.
Berdasarkan data CoA pada pendaftaran pangan dan data LOD AFM1,
konsentrasi AFM1 pada produk formula berkisar antara tidak terdeteksi hingga
0.250 ng/g. LOD dari analisis AFM1 yang tercantum pada CoA berkisar antara
0.01 sampai dengan 0.025 ng/g. Konsentrasi rata-rata AFM1 pada formula bayi,
formula lanjutan dan formula pertumbuhan untuk skenario LB adalah 0.023,
0.042 dan 0.004 ng/g. Nilai rata-rata konsentrasi ini semuanya masih dibawah
batas maksimum AFM1 pada produk susu (0.5 ng/g) seperti tercantum dalam
Peraturan BPOM No.HK.00.06.1.52.4011 tentang Penetapan Batas Maksimum
Cemaran Mikroba dan Kimia dalam Makanan tahun 2009. Dalam hal ini,
konsentrasi rata-rata AFM1 tertinggi terdapat pada formula lanjutan dengan
konsentrasi sekitar dua kali lebih tinggi dari formula bayi dan sekitar sebelas kali
lebih tinggi dari formula pertumbuhan. Nilai EDI rata-rata AFM1 untuk bayi usia
0-6 bulan, 6-12 bulan dan anak usia 1-3 tahun berdasarkan survei konsumsi
individu untuk skenario LB adalah 0.260, 0.282 dan 0.029 ng/kgBB/hari. Nilai
EDI rata-rata AFM1 untuk bayi usia 0-6 bulan, 6-12 bulan dan anak usia 1-3
tahun berdasarkan konsumsi anjuran pelaku usaha untuk skenario LB adalah
0.403, 0.663 dan 0.031 ng/kgBB/hari. Nilai indeks bahaya rata-rata AFM1
berdasarkan EDI anjuran pelaku usaha dan EDI survei konsumsi individu untuk
skenario LB yang nilainya lebih dari satu terdapat pada kelompok usia 0-6 bulan
dan 6-12 bulan.
iv
Konsentrasi rata-rata AFM1 pada formula bayi, formula lanjutan dan
formula pertumbuhan untuk skenario UB adalah 0.034, 0.051, dan 0.012 ng/g.
Nilai rata-rata konsentrasi ini masih memenuhi ketentuan Peraturan BPOM
No.HK.00.06.1.52.4011 tahun 2009. Dalam hal ini, konsentrasi rata-rata AFM1
tertinggi terdapat pada formula lanjutan dengan konsentrasi sekitar satu setengah
kali lebih tinggi dari formula bayi dan sekitar empat kali lebih tinggi dari formula
pertumbuhan. Nilai EDI rata-rata AFM1untuk bayi usia 0-6 bulan, 6-12 bulan dan
anak usia 1-3 tahun berdasarkan konsumsi individu untuk skenario UB adalah
0.386, 0.343 dan 0.092 ng/kgBB/hari. Nilai EDI rata-rata AFM1 untuk bayi usia
0-6 bulan, 6-12 bulan dan anak usia 1-3 tahun berdasarkan konsumsi anjuran
pelaku usaha pada skenario UB adalah 0.598, 0.809 dan 0.098 ng/kgBB/hari.
Indeks bahaya rata-rata AFM1 berdasarkan EDI anjuran pelaku usaha dan EDI
survei konsumsi individu pada skenario UB yang nilainya lebih dari satu terdapat
pada kelompok usia 0-6 bulan dan 6-12 bulan, sedangkan pada kelompok usia 1-3
tahun indeks bahaya rata-rata AFM1 kurang dari 1.
Perhitungan indeks bahaya berdasarkan EDI anjuran pelaku usaha dan EDI
survei konsumsi individu, untuk LB atau UB, menunjukkan bahwa pada bayi
hingga usia 12 bulan memiliki risiko kesehatan dari paparan AFM1. Meskipun
anak pada usia 1-3 tahun memiliki risiko kesehatan yang rendah dengan melihat
paparan rata-rata berdasarkan berdasarkan EDI anjuran pelaku usaha dan EDI
survei konsumsi individu, tetapi pada P95 berdasarkan EDI survei konsumsi
individu menunjukkan paparan yang lebih tinggi sehingga nilai indeks bahayanya
lebih dari 1. Hasil perhitungan dari nilai MoE menunjukkan tingkat risiko yang
setara yang diperoleh dengan nilai indeks bahaya. Mengingat AFM1 merupakan
hasil metabolit dari AFB1 yang berasal dari pakan hewan dan sifat AFM1 yang
tahan panas pada proses pengolahan susu, diperlukan upaya untuk menekan
konsentrasi AFB1 pada pakan, utamanya pada pakan sapi. Terhadap produk
formula yang beredar diperlukan monitoring berkala terhadap kandungan AFM1
Ekspansi Perkebuan Kelapa Sawit: Perubahan Struktur Agraria dan Sistem Nafkah Rumah Tangga Pedesaan
Penelitian ini menganalisasi suatu proses ekspansi perkebunan kelapa sawit
yang kemudian memberikan dampak pada struktur agraria dan sistem nafkah rumah
tangga pedesaan. Dengan menggunakan sequential mix method, penelitian ini
memadukan pendekatan kualitatif dan kuantatif untuk melakukan kerja-kerja
pengumpulan hingga analisis data. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan
Companion Modeling untuk menganalisis proses terjadinya perubahan bentang
alam akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit. Sebagai suatu pendekatan baru
dalam kajian Sosiologi Pedesaan, Companion Modeling memberikan suatu cara
pandang dalam menganalisa proses perubahan bentang alam akibat ekspansi yang
dilakukan oleh beragam aktor termasuk perkebunan kelapa sawit.
Ekspansi perkebunan kelapa sawit adalah suatu keniscayaan ditengahditengah
menguatnya permintaan pasar global terhadap minyak kelapa sawit.
Beragam aktor terlibat dalam ekspansi perkebunan kelapa sawit yaitu diantara
perkebunan skala besar (swasta maupun milik negara), petani/pekebun swadaya,
dan petani/pekebun plasma. Ekspansi perkebunan kelapa sawit dilakukan oleh
perkebunan skala besar dengan difasilitasasi oleh instrumen kebijakan berupa izin
lokasi, izin usaha perkebuan, dan hak guna usaha telah melakukan teritorialisasi
ruang pedesaan. Proses ini berhadap-hadapan dengan klaim lokal dari masyarakat
desa setempat. Perubahan struktur agraria pedesaan terjadi dengan bekerjanya
organisasi produksi kelapa sawit. Lahan-lahan yang sebelumnya dikuasai,
“dimiliki”, dan dimanfaatkan oleh masyarakat kini berubah fungsi menjadi konsesi
perkebunan kelapa sawit perusahaan. Proses ekspansi perkebunan kelapa sawit ini
juga terkait dengan isu-isu tentang deforestasi, konflik sosial, dan hilangnya
keanekaragaman hayati akibat monokulturisasi tanaman perkebunan kelapa sawit.
Mengangkangi debat tentang sawit sebagai penyebab deforestasi, penelitian
ini melakukan penelusuran sejarah agraria atas proses deforestasi yang terjadi sejak
era logging hingga era kejayaan perkebunan kelapa sawit. Memang benar bahwa
kelapa sawit tidak menyebabkan deforestasi secara langsung (direct), karena
deforestasi telah terjadi jauh sebelum era kejayaan perkebunan kelapa sawit.
Namun penelitian ini melihat adanya fenomena teori pelanjut deforestasi
(maintaining deforestation theory) yang diakibatkan oleh perkebunan kelapa sawit.
Konsekuensi dari ekspansi perkebunan kelapa sawit skala besar, masyarakat
juga terseret dalam euforia ekspansi perkebunan kelapa sawit. Penelitian ini
menemukan suatu bentuk ekspansi senyap (silent expansion) yang dilakukan oleh
petani/pekebun swadaya. Ekspansi senyap merupakan suatu strategi perluasan
perkebunan kelapa sawit yang dilakukan secara diam-diam, ilegal (di belakang
panggung negara), luasan kecil-terfragmentasi, dan dilakukan oleh petani/pekebun
yang memiliki relasi dengan aktor-aktor seperti midlle man dan big man. Ekspansi
senyap ini juga terjadi akibat adanya dukungan dari program-program
ii
pemberdayaan masyarakat dalam kerangka kerjasama antara perusahaan dengan
pemerintah setempat seperti pembagian bibit kelapa sawit.
Ekspansi senyap mempertegas Teori Akses yang memberikan kritik terhadap
Teori Hak. Tanpa hak atas lahan atau sekumpulan hak (bundle of right), ternyata
aktor mampu melakukan ekspansi perluasan kebun kelapa sawit dengan
menggunakan sekumpulan kuasa (bundle of power). Hak (right) menjadi hal yang
tidak dianggap penting oleh aktor-aktor yang melakukan ekspansi senyap, padahal
dalam kerangka kehidupan bernegara hak merupakan yang terpenting karena terkait
dengan instrumen politiko-legal dalam panggung negara. Penelitian ini menujukkan
bahwa fenomena ekspansi senyap terjadi akibat terjadinya vacum of authority.
Selanjutnya penelitian ini menujukkan bahwa perkebunan kelapa sawit telah
menjadi pipa penghubung antara ekonomi desa dengan sirkuit ekonomi global.
Desa-desa di sekitar perkebunan kelapa sawit Kabupaten Kutai Kartanagara
mengalami ketergantungan pada ekonomi perkebunan kelapa sawit dan
menujukkan gejala penunggalan sumber nafkah rumah tangga pedesaan. Rumah
tangga pedesaan mengalami tragedi nafkah, karena semakin menunjukkan
fenomena ketergantungan tunggal kepada perkebunan kelapa sawit. Proses
monokulturisasi tanaman yang mengubah bentang alam telah mengakibatkan
jebakan mono-struktur nafkah yang berbasis komoditas kelapa sawit. Proses ini
menjadikan rumah tangga desa dalam posisi yang rentan, karena tidak lagi
berdaulat atas usaha pertaniannya sendiri melainkan tergantung pada fluktuasi
harga tandan buah segar kelapa sawit.
Pada bagian akhir penelitian ini hendak memberikan alternatif terhadap
penyelesaian masalah-masalah yang diakibatkan oleh ekspansi perkebunan kelapa
sawit. Penyelesaian masalah tersebut dimulai dengan melakukan pemeriksaan
terhadap institusi legal-formal yang terdapat di Indonesia. Akhirnya pendekatan
institusional dalam penyelesaian masalah-masalah ekspansi perkebunan kelapa
sawit muaranya sangat bergantung pada political will pemangku kuasa tertinggi di
republik ini
Peranan Imunomodulator dalam Pembentukan Antibodi Anti H5N1 pada Sapi FH Bunting yang Divaksinasi dengan Vaksin AI H5N1 Unggas
Flu burung merupakan salah satu penyakit zoonotik yang dapat
menyebabkan kematian pada unggas maupun manusia. Imunisasi pasif melalui
pemberian IgG terapi yang dapat dilakukan pada kasus infeksi pada manusia.
Salah satu sumber IgG adalah kolostrum sapi dari induk sapi yang bisa diperoleh
dengan memanfaatkan kelebihan produksi kolostrum yang tidak dikonsumsi
semuanya oleh anak sapi. Produksi kolostrum hiperimun dapat dilakukan dengan
cara melakukan vaksinasi pada induk sapi bunting. Penelitian ini bertujuan untuk
mempelajari pengaruh pemberian imunomodulator terhadap kemampuan induk
sapi bunting yang divaksinasi menggunakan vaksin H5N1 unggas dalam
membentuk antibodi anti H5N1. Sebanyak 9 ekor induk sapi FH yang sedang
bunting trimester akhir dalam kondisi sehat secara klinis dibagi menjadi tiga
kelompok perlakuan yaitu kelompok sapi yang tidak diberi perlakuan, kelompok
sapi yang divaksinasi, serta kelompok sapi yang divaksinasi dengan pemberian
imunomodulator sebelum vaksinasi dilakukan. Vaksinasi dilakukan setelah
pemberian antigen H5N1 tanpa adjuvan sebanyak tiga kali dengan interval dua
minggu. Pengambilan sampel darah dilakukan sebanyak empat kali yaitu sebelum
vaksinasi dilakukan, dua minggu setelah vaksinasi pertama, dua minggu setelah
vaksinasi kedua, dan dua minggu setelah vaksinasi ketiga. Hasil penelitian
menunjukkan adanya perbedaan nyata pada kelompok sapi yang diberikan
imunomodulator baik dalam kemampuan kecepatan waktu pembentukan antibodi
maupun nilai titer antibodi dibandingkan dengan kelompok sapi yang tidak diberi
imunomodulator. Kesimpulan dari penelitian ini adalah imunomodulator dapat
meningkatkan kecepatan waktu pembentukan dan titer antibodi anti H5N1 pada
serum sapi yang divaksinasi menggunakan vaksin H5N1
Kultur Meristem dan Termoterapi untuk Eliminasi Virus pada Bawang Putih
Bawang putih (Allium sativum) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai bahan masakan, obat, dan campuran pakan ternak. Namun demikian, produksi bawang putih lokal belum dapat memenuhi kebutuhan nasional. Hal tersebut disebabkan antara lain oleh rendahnya kesehatan benih, termasuk adanya infeksi virus. Beberapa virus utama yang diketahui menginfeksi bawang putih lokal yaitu OYDV (Onion yellow dwarf virus), GCLV (Garlic common latent virus), dan SLV (Shallot latent virus).
Bawang putih diperbanyak secara vegetatif. Di Indonesia, umbi hasil panen akan digunakan kembali sebagai benih pada musim berikutnya. Siklus tersebut dapat menyebabkan virus terbawa benih sehingga terjadi akumulasi virus pada umbi dan menyebabkan penurunan produksi. Salah satu upaya pengendalian virus pada bawang putih adalah dengan penggunaan benih yang sehat. Dengan demikian, diperlukan upaya untuk menyediakan bawang putih lokal yang bebas virus.
Penelitian bertujuan untuk mengonfirmasi insidensi OYDV, GCLV dan SLV pada bawang putih di Tawangmangu dan Tegal serta mendapatkan metode eliminasi virus, khususnya OYDV, GCLV, dan SLV melalui metode kultur meristem yang dikombinasikan dengan termoterapi. Deteksi virus dari daun dan umbi bawang putih dilakukan dengan metode DIBA (dot immunobinding assay). Metode kultur meristem untuk eliminasi virus menggunakan eksplan meristem berukuran 1 mm; sedangkan perlakuan termoterapi yang diberikan adalah suhu 25 °C, 28 °C dan 31 °C pada bawang putih kultivar ‘Tawangmangu Baru’.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa OYDV, GCLV, dan SLV ditemukan di Tawangmangu dan Tegal dengan insidensi virus bervariasi antara 90% hingga 100% dan skor DIBA berkisar antara 0.9 hingga 2.9. Konfimasi selanjutnya dilakukan pada tunas adventif, untuk mengetahui distribusi virus antar siung dalam satu umbi bawang putih. Berdasarkan reaksi DIBA, didapatkan insidensi yang bervariasi antar siung dalam satu umbi, yaitu 54.41 sampai 100% pada OYDV, 83.33 sampai 98.57% pada GCLV, dan 0 sampai 91.27% pada SLV. Hal tersebut menunjukkan bahwa virus tidak terdistribusikan secara merata dalam satu umbi, meskipun setiap siung berasal dari satu tanaman yang sama. Baik pada daun maupun tunas adventif, GCLV menunjukkan insidensi dan titer virus yang paling tinggi, sedangkan SLV selalu menunjukkan hasil yang paling rendah. Insidensi virus yang tinggi juga ditemukan pada benih umbi bawang putih berupa umbi siung, umbi tunggal, dan bulbil. Insidensi virus tertinggi yaitu GCLV pada umbi siung cv ‘Tawangmangu Baru’ dan SLV pada umbi tunggal cv ‘Jawa Lama’ masing-masing sebesar 100%, sedangkan insidensi paling rendah yaitu pada SLV pada umbi siung cv ‘Jawa Lama’ sebesar 72%. Hasil deteksi tersebut mengindikasikan bahwa baik umbi siung, umbi tunggal, maupun bulbil berpotensi untuk membawa dan menularkan virus ke tanaman selanjutnya. Dengan demikian, perlu adanya upaya pencegahan dengan mengurangi inokulum virus pada umbi, dengan menghasilkan benih bebas virus.
Kultur in vitro dengan meristem berukuran 1.0 mm yang dikombinasikan dengan termoterapi menunjukkan bahwa perlakuan suhu 28 °C dan 31 °C berpotensi menyebabkan penghambatan terhadap persentase bertahan eksplan, tinggi tunas mikro, dan jumlah daun. Tunas mikro yang tumbuh kemudian dideteksi menggunakan RT-PCR (reverse transcription polymerase chain reaction) untuk mengetahui infeksi virus setelah perlakuan termoterapi. Hasil visualisasi pada gel agarosamasih menunjukkan adanya pita DNA spesifik OYDV dan GCLV; sedangkan pita DNA spesifik SLV tidak teramplifikasi. Berdasarkan hasil RT-PCR tersebut dapat disimpulkan bahwa metode kultur meristem yang dikombinasikan dengan termoterapi dapat mengeliminasi SLV. Menggunakan metode yang sama, infeksi OYDV dapat ditekan sebesar 60% pada perlakuan suhu 25 °C dan sebesar 80% pada perlakuan suhu 28 °C, 31 °C dan suhu heterogen. Infeksi GCLV belum dapat ditekan pada perlakuan suhu 25 °C dan heterogen, sedangkan pada suhu 28 °C dan 31 °C infeksi dapat ditekan hingga 40%.
Hasil penelitian ini memberikan informasi terkait insidensi virus utama bawang putih di Tawangmangu dan Tegal serta memberikan rekomendasi metode eliminasi virus pada bawang putih untuk menghasilkan benih bawang putih bebas virus. Penggunaan benih bebas virus diharapkan dapat mengurangi risiko penurunan hasil di lapangan