31665 research outputs found
Sort by
Keragaan Varietas Bawang Merah (Allium cepa var. aggregatum) Generasi-2
Bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) merupakan salah satu
komoditas sayuran yang bernilai ekonomi tinggi. Permintaan bawang merah terus
meningkat setiap tahun. Upaya untuk memenuhi permintaan tersebut adalah
dengan penggunaan bibit bermutu tinggi. Penelitian ini bertujuan mengetahui
perbandingan keragaan beberapa varietas bawang merah pada generasi-2 dengan
varietas Bima TSS dan Bima generasi tidak jelas sebagai varietas pembanding.
Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2018 sampai Maret 2019 di Pusat
Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB, Tajur, Bogor, Jawa Barat. Penelitian
dilakukan dengan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak faktor
tunggal 3 ulangan. Faktor perlakuan berupa varietas yang terdiri atas 7 varietas uji
bawang merah Pikatan, Tajuk, Tuk-tuk, Lokananta, Sanren, Manjung, Bima
generasi-2 dan 2 pembanding menggunakan bawang merah Bima TSS dan Bima
umbi generasi tidak jelas. Hasil pengamatan menunjukan keragaan bawang merah
varietas uji generasi-2 dan varietas pembanding memiliki perbedaan pada karakter
kualitatif kepatahan daun, corak warna umbi kering, warna daging umbi, dan
bentuk membujur umbi. Daya tumbuh bawang merah generasi-2 varietas uji
Lokananta lebih baik dibandingkan dengan bawang merah generasi tidak jelas
varietas Bima. Hasil analisis statistik menunjukan bahwa seluruh varietas uji
memiliki nilai karakter kuantitatif pada tanaman bawang merah yang berbeda
nyata dan lebih tinggi dibandingkan dengan varietas pembanding Bima TSS.
Berdasarkan bobot kering dan ukuran umbi, Tuk-tuk dan Bima generasi-2
merupakan varietas uji yang memiliki potensi produksi lebih tinggi dibandingkan
dengan varietas lain
Isolasi, Kloning dan Karakterisasi Gen Penyandi Enzim Invertase dari Berbagai Varietas Tanaman Tebu.
Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan salah satu sumber
bahan baku industri gula, karena mampu mengakumulasi hingga lebih dari 25%
(w/w) sukrosa dari berat basah. Pada tanaman tebu, enzim invertase telah banyak
dilaporkan sebagai kunci regulasi dari akumulasi sukrosa pada batang tebu. Untuk
itu, mengontrol aktivitas enzim invertase merupakan aspek yang sangat penting
dalam meningkatkan kandungan sukrosa dalam batang tebu. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui korelasi aktivitas enzim dengan kandungan sukrosa
pada batang, mengisolasi serta mendapatkan plasmid rekombinan penyandi enzim
invertase dari berbagai varietas tebu yang berbeda dan memprediksi struktur protein
3D enzim invertase dengan pendekatan bioinformatika.
Tahapan penelitian dimulai dari pengambilan sampel tanaman tebu dari PT.
PG. Rajawali II dan PT. Jatitujuh, dilanjutkan dengan isolasi total RNA dan inisiasi
kalus serta penanaman bibit tebu di lahan percobaan. Kalus dan tanaman tebu yang
berumur 6-8 bulan digunakan untuk analisis aktivitas enzim SAI (soluble acid
invertase) serta isolasi total RNA dan sintesis cDNA. cDNA digunakan sebagai
template amplifikasi gen invertase dengan teknik PCR (Polymerase chain
reaction), dilanjutkan dengan ligasi ke dalam vektor pTA2 dan transformasi ke
Escherichia coli DH5α. Koloni positif dikonfirmasi dengan teknik PCR colony.
Analisis sekuen gen penyandi invertase dengan teknik bioinformatika untuk
memprediksi sisi aktif pada struktur protein 3D.
Persentase pembentukan kalus tertinggi terjadi pada varietas KK (94.70%),
diikuti oleh PS 862 (80.33%) dan BL (65.25%). Data hasil uji korelasi
menunjukkan nilai R (-0.826), diketahui bahwa aktivitas enzim soluble acid
invertase dengan rendemen tebu berhubungan negatif mendekati sempurna. Artinya
semakin tinggi aktivitas enzim maka nilai rendemen tebu yang dihasilkan akan
semakin rendah. Produk PCR gen Invertase berukuran 1800 bp yang menyandikan
residu asam amino berjumlah 574 telah berhasil diperoleh. Hasil analisis sekuen
asam amino dari gen invertase yang diperoleh memiliki nilai Identity 99% dengan
asam amino penyusun cell wall invertase dari Saccharum hybrid cultivar FN-41
clone INV12. Hasil analisis motif gene pada sekuen asam amino menggunakan
perangkat lunak Genious R 10, menunjukkan terdapat motif asam amino lestari
pada residu asam amino ke Asn76(asparagin), Asp77(asam aspartat), Pro78(prolin),
Gly80(Glysin), dan Arg165(arginin
Peningkatan Mutu dan Potensi Sifat Fungsional Sosis dengan Penambahan Ekstrak Daun Senduduk (Melastoma malabathricum L.)
Sosis merupakan makanan berbasis daging yang sudah sangat populer di
Indonesia. Hal ini merupakan fenomena yang postif karena bisa menjadi media
peningkatan konsumsi protein hewani. Pembuatan sosis biasanya menambahkan
bahan pengawet dan antioksidan sintetis karena untuk mencegah kerusakan baik
kimiawi maupun mikrobiologis. Mengonsumsi produk yang mengandung bahan
tambahan pangan sintetis secara tidak terkontrol dapat menyebabkan efek negatif
bagi konsumen. Oleh karena itu perlu upaya pemanfaatan bahan alami untuk
tambahan pangan, salah satunya dengan menggunakan ekstrak daun senduduk
(Melastoma malabathricum L.).
Daun senduduk biasa digunakan oleh masyarakat tradisional untuk
pengobatan dan sebagai bagian dari makanan (sayuran). Hasil penelitian
farmakologis menunjukkan ekstrak daun senduduk mengandung bahan bioaktif
yang bersifat antioksidan dan antibakteri. Namun demikian, pemanfaatannya untuk
pangan belum mendapat perhatian yang intensif.
Penelitian ini dilakukan dalam 3 (tiga) tahap. Tahap I bertujuan
mengeksplorasi metode ekstraksi untuk memperoleh bahan bioaktif ekstrak daun
senduduk yang paling baik melalui teknik maserasi dan pelarut yang berbeda serta
menguji kemampuan ekstrak sebagai antibakteri dan antioksidan. Teknik maserasi
yang diterapkan adalah a) maserasi diam dengan pelarut air (T1), b) maserasi
digoyang dengan pelarut air (T2), c) maserasi diam dengan pelarut etanol 25% (T3),
dan d) maserasi digoyang dengan pelarut etanol 25% (T4). Hasil terbaik pada tahap
I diaplikasi untuk penelitian tahap II dengan perlakuan kontrol yang mengandung
daging sapi, minyak nabati, susu skim bubuk, tepung tapioka, garam, fosfat, es, dan
bumbu-bumbu (kontrol); formula kontrol ditambah dengan ekstrak 0.55% (EDS),
ditambah garam nitrit 11 ppm (nitrit), dan ditambah keduanya (EDS+nitrit). Tujuan
penelitian tahap II adalah mengevaluasi penggunaan ekstrak daun senduduk pada
sosis terhadap karakteristik fisikokimia, total fenolik, aktivitas antioksidan,
aktivitas antibakteri, kadar malonaldehida, kandungan residu nitrit, dan
karakteristik organoleptik sosis pada beberapa umur simpan dingin.
Penelitian tahap III dilakukan dengan perlakuan kontrol (sosis tanpa
penambahan BHT atau ekstrak daun senduduk), BHT (sosis dengan penambahan
BHT 0.01%), EDS-1 (sosis dengan penambahan ekstrak daun senduduk 0.83%),
dan EDS-2 (sosis dengan penambahan ekstrak daun senduduk 1.1%). Tujuan
penelitian tahap III adalah menganalisis penggunaan beberapa konsentrasi ekstrak
daun senduduk terhadap karakteristik fisikokimia, total fenolik, aktivitas
antioksidan, aktivitas antibakteri, kadar malonaldehida, profil asam lemak,
mikrostruktur, dan karakteristik organoleptik sosis pada penyimpanan dingin.
Hasil penelitian tahap I menunjukkan bahwa maserasi digoyang (T2 dan T4)
menghasilkan karakteristik kandungan fenolik, flavonoida, antioksidan, dan
antibakteri yang lebih rendah dibandingkan maserasi diam (T1 dan T3) (P<0.05).
Ekstrak T1 mengandung senyawa fenolik dan flavonoida yang lebih rendah
v
dibandingkan dengan ekstrak T3 (P<0.05). Namun demikian, ekstrak T1 memiliki
hasil ekstrak, aktivitas antioksidan dan antibakteri yang tidak berbeda nyata dengan
ekstrak T3. Oleh karena itu, ekstrak daun senduduk yang dihasilkan dari pelarut air
dengan maserasi diam memiliki potensi sebagai antioksidan dan antibakteri.
Hasil penelitian tahap II menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun
senduduk sebesar 0.55% (EDS) menghasilkan karakteristik sosis yang tidak
berbeda dengan kontrol (P>0.05), mampu menahan proses oksidasi yang lebih
tinggi dibanding sosis kontrol dan nitrit (P<0.05), dan mampu menunda
pertumbuhan bakteri patogen pada sosis (P<0.05). Sosis EDS dan nitrit memiliki
susut masak, pH sosis, dan daya mengikat air yang lebih rendah dibandingkan sosis
kontrol dan EDS+nitrit (P<0.05). Kombinasi ekstrak dengan nitrit tidak
memengaruhi warna sosis. Penambahan ekstrak daun senduduk meningkatkan
kandungan senyawa fenolik dan kapasitas antioksidan sehingga menurunkan nilai
TBARS sosis (P<0.05). Kombinasi antara ekstrak dan nitrit dapat menekan
pertumbuhan bakteri hingga penyimpanan 12 hari. Secara sensoris, penambahan
ekstrak dan nitrit tidak berpengaruh terhadap sifat-sifat warna, aroma dan rasa sosis,
tetapi berpengaruh terhadap karakteristik tekstur, kekenyalan dan juiciness. Namun,
panelis menyukai semua sosis penelitian hingga penyimpanan 12 hari.
Penambahan ekstrak daun senduduk hingga 1.1% dari total bahan sosis
(Tahap III) berpengaruh terhadap sifat fisikokimia sosis. Nilai pH, aw, dan daya
mengikat air sosis EDS-1 dan EDS-2 lebih rendah dibandingkan sosis kontrol dan
BHT (P<0.05). Sosis EDS-1 dan EDS-2 mampu menghambat oksidasi sosis hingga
penyimpanan hari ke-18 (P<0.05). Kemampuan ini setara dengan penambahan
BHT 0.01% pada sosis. Sosis EDS-1 dan EDS-2 juga mampu menghambat total
mikroba, Staphylococcus aureus, dan tanpa ditumbuhi Salmonella hingga
penyimpanan hari ke-18 (P<0.05).
Kandungan asam lemak total sosis yang ditambah ekstrak daun senduduk
0.83% lebih rendah dibanding kontrol dan BHT (P<0.05), tetapi penambahan 1.1%
tidak berbeda nyata dengan kontrol. Asam lemak tak jenuh total tidak berbeda nyata
antara semua perlakuan, sedangkan penambahan ekstrak menyebabkan kandungan
asam lemak jenuh lebih rendah dibanding kontrol dan BHT (P<0.05). Penambahan
ekstrak daun senduduk hingga 1.1% menyebabkan kecerahan warna lebih rendah
dibandingkan kontrol dan BHT, tetapi lebih merah dan kuning. Mikrostruktur sosis
yang ditambahkan ekstrak daun senduduk 1.1% menunjukkan gambaran yang
relatif sama dengan kontrol dan BHT. Namun, penambahan ekstrak daun senduduk
tidak berpengaruh terhadap atribut warna, aroma dan rasa meskipun menurunkan
skor tekstur, kekenyalan, dan juiciness.
Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah bahwa ekstraksi daun senduduk
menggunakan pelarut air dengan teknik maserasi tanpa digoyang menghasilkan
ekstrak dengan aktivitas antioksidan dan antibakteri yang paling baik. Penambahan
ekstrak daun senduduk 1.1 pada sosis dapat menekan oksidasi dan pertumbuhan
bakteri hingga penyimpanan dingan 18 hari dan dapat menggantikan nitrit 11 ppm
dan BHT 0.01%
Analisis Efisiensi Produksi dan Pendapatan Usahatani Manggis di Desa Pangradin, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor
BONAR M. SINAGA dan DEA AMANDA.
Sentra produksi manggis terbesar di Indonesia adalah Provinsi Jawa Barat
dengan kontribusi mencapai 30.13 persen dari total produksi manggis Indonesia
pada tahun 2016 (BPS 2016). Manggis menempati posisi ketiga produksi dan
potensi yang terbesar di Kabupaten Bogor (Distanhut Kabupaten Bogor 2015).
Produktivitas manggis di Provinsi Jawa Barat lebih rendah dibandingkan dengan
Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Jawa Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah
menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi produksi di Desa Pangradin,
Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, efisiensi produksi manggis, dan
menganalisis pendapatan usahatani manggis. Analisis data dilakukan dengan
menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas dan estimasi dengan Ordinary Least
Square (OLS), Nilai Produk Marginal (NPM) untuk analisis efisiensi, dan analisis
pendapatan untuk menganalisis pendapatan usahatani manggis. Hasil analisis
menunjukkan, faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap produksi
manggis adalah penggunaan tenaga kerja dan jumlah pohon. Hasil analisis efisiensi
menunjukan bahwa tingkat penggunaan seluruh faktor produksi tidak efisien dan
perlu dikurangi untuk memperoleh pendapatan maksimum. Hasil analisis
pendapatan, disimpulkan bahwa usahatani manggis menguntungkan dan layak
diusahakan
Pengaruh Diklat Dasar Fungsional Ahli oleh BBPP Lembang terhadap Kompetensi Penyuluh Pertanian
Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis karakteristik peserta
pelatihan dasar fungsional ahli tahun 2011 dan 2012 serta komponen pelatihan di
BBPP Lembang, 2) menganalisis kompetensi peserta pelatihan setelah mengikuti
diklat dasar fungsional penyuluh pertanian ahli, dan 3) menganalisis faktor-faktor
yang mempengaruhi kompetensi peserta pelatihan setelah kembali ke dunia kerja.
Penelitian ini dilaksanakan mulai Mei-Juli 2015 dengan jumlah responden
sebanyak 60 orang responden yaitu peserta pelatihan fungsional ahli di BBPP
Lembang pada tahun 2011-2012. Peubah-peubah yang diamati dan diduga
mempengaruhi kompetensi penyuluh pertanian terdiri atas: 1) Materi pelatihan,
metode pelatihan, sarana dan prasarana pelatihan dan lamanya pelatihan, (2)
Umur, pendidikan, jenis kelamin, motivasi, dan (3) sarana dan prasarana, iklim
kerja, wilayah kerja, dukungan atasan.
Penelitian dirancang dengan menggunakan pendekatan kuantitatif sebagai
tumpuan analisis. Penjelasan secara deskriptif dan kualitatif dilakukan dalam
penelitian ini, guna memperoleh informasi sebanyak mungkin. Data kualitatif
didapatkan melalui pengamatan dan wawancara semi terstrukur dengan
perwakilan atasan untuk memperoleh konfirmasi terhadap data yang telah
didapatkan. Analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif yaitu distribusi
frekuensi dan analisis inferensial yang menggunakan analisis regresi linear
berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penyuluh pertanian peserta pelatihan
fungsional ahli di BBPP Lembang tahun 2011-2012 berumur dewasa (41-50
tahun) dengan masa kerja tinggi (>27 tahun) dan memiliki motivasi tinggi dalam
melaksanakan pekerjaannya. Kompetensi penyuluh pertanian berada kategori
sedang, baik perencaaan, pelaksanaan maupun evaluasi program. Faktor yang
mempengaruhi kompetensi penyuluh pertanian setelah pelatihan diantaranya
metode pelatihan, lamanya pelatihan, pendidikan formal dan motivasi,
ketersediaan sarana dan prasarana serta keadaan wilayah kerja
Analisis Laju Infiltrasi Tanah pada Berbagai Tingkat Kerapatan Tajuk di Hutan Rakyat, Megamendung, Bogor, Jawa Barat
Luas tutupan hutan di Indonesia semakin berkurang, terutama tutupan hutan
alam. Hal tersebut tentunya mempengaruhi fungsi hutan sebagai pengatur tata air,
salah satunya mempengaruhi nilai laju infiltrasi. Hutan rakyat merupakan hutan
yang dimiliki oleh rakyat yang dapat memberikan manfaat baik dalam aspek
ekonomi maupun aspek ekologi. Salah satu model penerapan hutan rakyat adalah
hutan organik yang terletak di Blok S, Cipendawa, Megamendung, Bogor, Jawa
Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis laju infiltrasi tanah pada berbagai
tingkat kerapatan tajuk dan membandingkan nilai laju infiltrasi lapang dengan
model infiltrasi Horton di Hutan Rakyat, Megamendung, Bogor, Jawa Barat.
Penelitian dilakukan dengan cara mengukur laju infiltrasi di lapang pada masing –
masing plot kerapatan tajuk tinggi, kerapatan tajuk sedang, dan kerapatan tajuk
rendah menggunakan double ring infiltrometer, serta dilakukan analisis sifat tanah
pada tiap plot pengamatan. Kemudian, data diolah menggunakan model rumus
Horton. Laju infiltrasi pada tiap kerapatan tajuk di hutan rakyat Blok S Cipendawa
berbeda – beda. Laju infiltrasi tertinggi sampai terendah terdapat pada tingkat
kerapatan tajuk rendah, kerapatan tajuk tinggi, dan kerapatan tajuk sedang. Nilai
kapasitas infiltrasi pada plot kerapatan tajuk tinggi sebesar 64 mm/jam (sedang),
sedangkan pada tingkat kerapatan tajuk sedang memiliki kapasitas infiltrasi sebesar
58 mm/jam (sedang), dan tingkat kerapatan tajuk rendah memiliki kapasitas
infiltrasi sebesar 180 mm/jam (cepat). Laju infiltrasi lapang dengan model Horton
memiliki korelasi yang sempurna sehingga model Horton dapat digunakan untuk
menduga nilai laju infiltrasi pada ketiga plot pengamatan
Intervensi Roti Kering yang Diperkaya Minyak Sawit Merah untuk Pencegahan Risiko Aterosklerosis Pada Pria Dewasa Dislipidemia.
Pola penyakit saat ini cenderung mengalami pergeseran dari penyakit
menular ke penyakit tidak menular (PTM), salah satunya penyakit jantung koroner
(PJK). Berdasarkan diagnosis dokter, estimasi jumlah penderita PJK terbanyak
terdapat di Provinsi Jawa Barat sebanyak 160 812 orang (0.5%) sedangkan
berdasarkan gejala, estimasi jumlah penderita PJK terbanyak terdapat di Provinsi
Jawa Timur sebanyak 375 127 orang (1.3%) (Kemenkes RI 2013). Prevalensi dan
kerentanan PJK terus meningkat dengan bertambahnya umur dan berisiko terjadi
pada laki-laki (Susilo 2015).
Kejadian PJK terbanyak terdapat pada usia 35-74 tahun, dan didominasi
oleh laki-laki (71.8%) dari pada perempuan (28.2%) (Koenig et al. 2011; Ma’rufi
dan Rosita 2014) karena adanya efek hormon estrogen pada perempuan sebelum
memasuki usia menopause yang memiliki peran atheroprotective (Tsioufis et al.
2018). Kejadian PJK tidak bisa lepas dari proses yang membuat pembuluh darah
koroner menyempit (aterosklerosis). Aterosklerosis adalah penyakit inflamasi
progresif yang melibatkan luka pada vaskular endotel, kelebihan deposisi
kolesterol pada dinding arteri, aktivasi makrofag, proliferasi sel otot polos
pembuluh darah, trombosis dan inflamasi respon imun yang merupakan tanda
klinis dari penyakit jantung (Robinson et al. 2009; Wallert et al. 2014; Gao dan
Liu 2017). Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan untuk mengatasinya.
Minyak sawit merah (MSM) adalah hasil pemurnian minyak sawit kasar
(crude palm oil-CPO) yang diproses tanpa melewati proses bleaching dan
deodorisasi untuk mempertahankan kandungan β-karoten tetap tinggi dan minyak
masih berwarna merah. Ketersediaan kelapa sawit yang berlimpah di Indonesia
sebagai bahan dasar pembuatan MSM dapat dijadikan landasan penggunaan MSM
sebagai sumber β-karoten yang ditambahkan dalam pangan olahan untuk
mencegah terjadinya risiko aterosklerosis. Melihat potensi tersebut, maka
penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intervensi roti kering yang
diperkaya MSM untuk pencegahan risiko aterosklerosis pada pria dewasa
dislipidemia.
Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu tahap pengembangan produk
dengan desain rancangan acak lengkap dan tahap intervensi roti kering
menggunakan rancangan double blind randomized control trial. Pada tahap
pengembangan produk dibuat empat formula roti kering dengan mensubstitusi
MSM menggantikan margarin, yaitu F0 (0:100), F1 (80:20), F2 (90:10), dan F3
(100:0). Secara umum tahapan pembuatan roti kering terdiri dari pencampuran,
pencetakan, dan pemanggangan. Selanjutnya produk roti kering yang dihasilkan
diuji organoleptik untuk mendapatkan satu produk roti kering yang paling
diterima. Produk terpilih selanjutnya dilakukan analisis karakteristik sifat fisik,
kandungan gizi, kandungan β-karoten, dan aktivitas antioksidan. Tahap
selanjutnya adalah pemberian produk roti kering terpilih sebanyak 60 g/hari
selama 8 minggu pada pria dewasa yang mengalami dislipidemia. Subjek
penelitian sebanyak 34 orang dibagi ke dalam 2 perlakuan, yaitu perlakuan roti
kering tanpa MSM (kontrol) dan roti kering dengan MSM (eksperimen) yang
sebelumnya telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Pada tahap
ini dianalisis profil lipid [kadar kolesterol total, trigliserida, low-density
lipoprotein cholesterol (LDL-C), dan high-density lipoprotein cholesterol
(HDL-C)], aktivitas enzim superoksida dismutase (SOD), kadar malondialdehyde
(MDA), LDL-teroksidasi, dan serum β-karoten subjek sebelum dan setelah
intervensi.
Tahap penelitian pengembangan produk telah menghasilkan satu formula
produk roti kering MSM yang paling diterima secara organoleptik, yaitu formula
roti kering MSM F3 yang menggunakan MSM sebanyak 11.65 persen b/b adonan.
Hasil analisis sifat fisik dan kandungan gizi yang diperoleh dari produk roti kering
terpilih berwarna kuning, kekerasan 650.67 gf, densitas kamba 0.27 g/mL, energi
total 485 kkal/100 g, kadar air 4.31 persen, abu 1.48 persen, protein 9.76 persen,
karbohidrat 62.80 persen, lemak 21.65 persen, β-karoten 40.74 ppm dan aktivitas
antioksidan 470.44 mg/100 g AEAC. Apabila kadar β-karoten pada produk roti
kering dikonversikan ke vitamin A, maka produk tersebut termasuk dalam
kategori tinggi vitamin A.
Konsumsi roti kering dengan MSM sebanyak 60 g/hari selama 8 minggu
pada pria dewasa yang mengalami dislipidemia mampu menurunnya kadar
kolesterol total, LDL-C, MDA dan LDL teroksidasi serta meningkatkan aktivitas
enzim SOD serum secara nyata (p ˂ 0.05). Mekanisme ini kemungkinan terjadi
karena MSM tidak memerlukan hidrogenasi untuk mengubahnya ke lemak padat,
sehingga lemak padat yang terbuat dari minyak sawit bebas dari lemak trans dan
adanya kandungan β-karoten yang terdapat di dalam MSM mempunyai aktivitas
sebagai antioksidan yang memiliki kemampuan dalam menghambat kerja reactive
oxygen species (ROS) yang memberikan perlindungan bagi tubuh dari pengaruh
radikal bebas.
Hasil serupa juga diperoleh dari penelitian di Malaysia (Ng et al. 1991;
Sundram et al. 1992; Alias et al. 2002), Belanda (Sundram et al. 1992), Cina
(Zhang et al. 1997; Zhang et al. 2003), dan Afrika Barat (Alexandre et al. 2017;
Monde et al. 2017) yang menggunakan minyak sawit dalam memperbaiki profil
lipid dan penanda aterosklerosis. Roti kering diperkaya dengan MSM berpotensi
dalam pencegahan risiko aterosklerosis. Pemanfaatan bahan lokal sebagai produk
pangan dengan komponen fungsional melalui pemberian produk roti kering MSM
perlu ditingkatkan sehingga memberikan kontribusi pada upaya pencegahan
penyakit tidak menular lainnya pada golongan usia tertentu
Dampak Perubahan Faktor Eksternal dan Internal Terhadap Kesejahteraan Ekonomi Rumahtangga Petani Jamur Tiram Putih di Desa Tambakmekar Kabupaten Subang
Desa Tambakmekar Kabupaten Subang merupakan salah satu desa
membudidaya jamur tiram putih. Permasalahan yang dihadapi petani budidaya
jamur tiram putih adalah fluktuasi harga jamur tiram putih, fluktuasi jumlah
produksi, dan bahan baku cenderung mahal. Tujuan dari penelitian ini adalah
mengidentifikasi karakteristik rumahtangga petani budidaya jamur tiram putih; (2)
menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi alokasi curahan kerja, produksi,
pendapatan, dan pengeluaran rumahtangga petani budidaya jamur tiram putih; (3)
menganalisis dampak perubahan faktor eksternal dan internal terhadap
kesejahteraan rumahtangga petani budidaya jamur tiram putih di Desa
Tambakmekar. Penelitian menggunakan data cross section tahun 2018 dengan
populasi rumahtangga petani jamur tiram putih di Desa Tambakmekar,
Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang. Model ekonomi rumahtangga
dibangun sebagai suatu sistem persamaan simultan dan diestimasi menggunakan
metode Two Stage Least Squares (2SLS). Kombinasi penurunan harga jamur
tiram putih sebesar 10 persen dan peningkatan curahan kerja suami, istri, dan anak
di luar budidaya sebesar 100 persen mengakibatkan peningkatan kesejahteraan
Kloning dan ko-ekspresi gen lipase dan foldase dari Burkholderia territorii GP3 asal Gunung Papandayan
rRNA. Gen lipase dan foldase diisolasi sebagai satu operon menggunakan metode PCR. Kloning operon lipase dilakukan pada pGEM®-T Easy menggunakan Escherichia coli DH5α sebagai inang. Ko-ekspresi operon lipase dilakukan pada empat jenis inang menggunakan vektor pET15bY. Enzim lipase dipurifikasi menggunakan metode pengendapan amonium sulfat. SDS-PAGE dilakukan untuk mengukur berat molekul lipase dan foldase. Karakteristik lipase yang diukur meliputi suhu optimal, stabilitas suhu, pH optimal, stabilitas pH, spesifitas substrat, ketahanan terhadap pelarut organik, serta pengaruh ion logam dan surfaktan.
Lima jenis isolat berhasil diisolasi, didapatkan isolat GP3 sebagai bakteri lipolitik. Isolat GP3 teridentifikasi sebagai Burkholderia territorii GP3. Gen lipase (LipBT) dan foldase (LifBT) berhasil diisolasi sebagai satu operon, menghasilkan pita berukuran 2312 pb. LipBT dan LifBT diko-ekspresikan pada berbagai inang, E. coli BL21pLysS memiliki nilai aktivitas paling tinggi. LipBT yang termurnikan dalam fraksi 20-30% pengendapan amonium sulfat memiliki aktivitas spesifik tertinggi, sehingga dipilih untuk dikarakterisasi. LipBT dan LifBT memiliki berat molekul masing-masing sebesar 37,5 kDA dan 36 kDA, berdasarkan hasil SDS-PAGE.
LipBT memiliki suhu optimum di 80oC dan stabil pada rentang suhu 10-40oC. Berdasarkan parameter pH, LipBT memiliki aktivitas tertinggi pada pH 11 dan stabil pada rentang pH 5-11. LipBT memiliki preferensi yang baik pada substrat C10 (rantai panjang) dan rendah pada C4 (rantai pendek), serta stabil pada pelarut metanol dan n-heksana. Logam Ca2+, Mg2+, dan Mn2+, serta surfaktan non-ionik DMSO, Triton X-100, dan Tween-80, menjadi aktivator untuk aktivitas LipBT. Sementara itu, Zn2+, Fe2+, serta surfaktan ionik SDS, menjadi inhibitor kuat untuk LipBT
Partisipasi dan Pemberdayaan Ekonomi dalam Implementasi Program Corporate Social Responsibility PT Holcim Indonesia Tbk Narogong
Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan komitmen perusahaan untuk berkontribusi dengan menitikberatkan pada keseimbangan di berbagai aspek, salah satunya pemberdayaan ekonomi. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi partisipasi masyarakat dari pengaruh faktor internal dan faktor eksternal, serta dampak pemberdayaan ekonominya dalam implementasi program Sampireun CSR PT Holcim Indonesia Indonesia Tbk di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Data kuantitatif diolah menggunakan uji regresi dengan pemilihan responden dilakukan secara sensus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat pada program Sampireun berada pada ketegori sedang sedangkan tingkat pemberdayaan ekonomi berada pada ketogori rendah. Penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh antara usia dan peran pendamping perusahaan terhadap tingkat partisipasi. Kemudian tingkat partisipasi tidak berpengaruh terhadap tingkat pemberdayaan ekonomi masyarakat penerima program