31665 research outputs found
Sort by
Pemodelan Autoregresif Spasial Menggunakan Bayesian Model Averaging untuk Data PDRB Jawa
Pada analisis regresi linier klasik terdapat asumsi saling bebas antar amatan, namun pada data area asumsi ini sering tidak terpenuhi karena amatan di area tertentu dipengaruhi oleh amatan di tetangga sekitarnya. Pemodelan pada data area perlu adanya kajian mengenai efek spasial yaitu ketergantungan spasial atau keragaman spasial. Ketergantungan spasial terdapat pada peubah respon, galat atau keduanya. Ketergantungan spasial pada peubah respon dapat dimodelkan dengan spatial autoregressive (SAR) atau autoregresif spasial.
Metode pendugaan SAR biasanya menggunakan metode maximum likelihood estimator (MLE). Pada analisis regresi dengan peubah penjelas yang banyak seringkali menghasilkan kesimpulan dan signifikansi berbeda. Bayesian model averaging (BMA) digunakan untuk model yang tidak tentu dengan peubah penjelas yang banyak untuk menentukan peubah penjelas yang penting. BMA mempertimbangkan semua model yang mungkin dengan merata-ratakan model posterior yang diboboti oleh peluang model posterior atau posterior model probability (PMP). PMP dihitung menggunakan Bayesian information criterion (BIC). Metode paling umum yang digunakan untuk metode Bayes adalah Marcov Chain Monte Carlo (MCMC). Pada tahun 2009 dikembangkan Algoritma integrated nested laplace approximation (INLA) yang digunakan untuk menyelesaikan komputasi dari sebaran posterior melalui pendekatan Laplace. Penelitian ini menggunakan matriks bobot spasial k-tetangga terdekat atau k-nearest neighbor (KNN), matriks invers jarak dan matriks queen contiguity. Data yang digunakan adalah data produk domestik regional bruto (PDRB) kabupaten/kota di Jawa tahun 2017 yang berasal dari Badan Pusat Statistika (BPS). Peubah-peubah penjelas yaitu rata-rata lama sekolah, angka harapan hidup, pendapatan per kapita, jumlah tenaga kerja, upah minimum kabupaten dan pendapatan asli daerah.
Hasil penelitian menggunakan matriks bobot KNN menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja adalah peubah yang terdapat dalam sepuluh model dengan peluang posterior tertinggi. Hal ini berarti jumlah tenaga kerja merupakan peubah penting dalam menjelaskan PDRB. Peubah lainnya adalah pendapatan per kapita yang terdapat dalam sembilan model dan upah minimum kabupaten terdapat dalam delapan model. Peluang posterior tertinggi dari model BMA sebesar 0.54 dan peluang posterior terendah sebesar 1.31×10-4. Model BMA ini menghasilkan pseudo R2 sebesar 0.69. Penelitian menggunakan matriks bobot invers jarak menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja dan upah minimum kabupaten adalah peubah yang terdapat dalam sepuluh model dengan peluang posterior tertinggi, pendapatan per kapita dan pendapatan asli daerah terdapat dalam delapan model. Peluang posterior tertinggi dari model BMA sebesar 0.68 dan peluang posterior terendah sebesar 8.17×10-5 serta memiliki pseudo R2 sebesar 0.68. Penelitian menggunakan matriks bobot queen contiguity menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja adalah peubah yang terdapat dalam sepuluh model dengan peluang posterior tertinggi, pendapatan per kapita yang terdapat dalam sembilan model serta
pendapatan asli daerah dan upah minimum kabupaten terdapat dalam delapan model. Peluang posterior tertinggi sebesar 0.68 dan peluang posterior terendah sebesar 2.04×10-4. Model BMA menggunakan matriks queen contiguity menghasilkan pseudo R2 sebesar 0.70. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah jumlah tenaga kerja merupakan peubah yang terdapat dalam sepuluh model menggunakan ketiga matriks bobot dan penelitian menggunakan matriks bobot queen contiguity memiliki nilai pseudo R2 tertinggi
Dinamika Struktur Komunitas Fitoplankton dan Keterkaitannya dengan Nutrien di Danau Segara Anak Gunung Rinjani.
Danau Segara Anak merupakan danau vulkanik yang terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Danau ini terbentuk akibat letusan Gunung Rinjani. Danau Segara Anak mempunyai fungsi sebagai objek wisata bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Aktivitas vulkanik dan antropogenik di sekitar Danau Segara Anak berpotensi mempengaruhi kualitas perairan danau tersebut. Fitoplankton merupakan organisme perairan yang dapat merespons perubahan yang terjadi di suatu perairan melalui kelimpahan, komposisi jenis, dan produktivitas primer fitoplankton. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari struktur komunitas fitoplankton serta hubungannya dengan faktor fisika dan nutrien yang ada di Danau Segara Anak secara spasial dan temporal.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai bulan Desember 2017 di Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok Nusa Tenggara Barat. Pengambilan contoh dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling method. Data penelitian yang diambil berupa data fitoplankton, faktor fisika, nutrien, klorofil-a, dan produktivitas primer. Analisis data yang digunakan antara lain Analysis of Variance (Anova), Kruskal Wallis, Cluster Analysis, dan Analisis komponen utama.
Hasil Penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh beberapa faktor fisika dan nutrien di perairan Danau Segara Anak terhadap kelimpahan, komposisi jenis, dan produktivitas fitoplankton. Stasiun I dan II memiliki kelimpahan fitoplankton yang tertinggi diantara stasiun lainya.Kedua stasiun tersebut merupakan stasiun yang terdekat dengan aktivitas vulkanik dan kegiatan antropogenik. Analisis spasial dan temporal juga menunjukkan perbedaan terhadap kelimpahan fitoplankton di Danau Segara Anak. Kelimpahan fitoplankton di perairan danau Segara Anak didominasi oleh kelas Cyanophyceae
Strategi dan Struktur Nafkah Rumah Tangga Petani Kentang Pasca Bencana Alam Erupsi Gunung Sinabung
Penelitian ini dilakukan di Desa Gajah dan Desa Dolat Rayat Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo yang terkena dampak akibat erupsi Gunung Sinabung di tahun 2017-2018. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan strategi nafkah, struktur nafkah dan modal nafkah rumah tangga petani kentang di Desa Gajah dan Desa Dolat Rayat pasca terjadinya bencana alam erupsi Gunung Sinabung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung dengan data kualitatif. Pendekatan penelitian kuantitatif dilakukan dengan metode survei dengan instrumen kuesioner dan dikombinasikan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam pada tahap pengumpulan data
Pengaruh Aplikasi Teh Guano, Cendawan Endofit, dan Insektisida BPMC terhadap Keanekaragaman Arthropoda pada Tanaman Padi di Bogor.
Keanekaragaman arthropoda pada suatu ekosistem merupakan indikator kesehatan lingkungan. Praktik pengendalian hama yang tidak tepat dapat mengurangi keanekaragaman arthropoda, seperti musnahnya musuh alami dan serangga lain selain hama. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh aplikasi teh guano, cendawan endofit dan insektisida BPMC terhadap keanekaragaman arthropoda pada ekosistem padi di Bogor. Kelimpahan individu, kekayaan spesies, komposisi peran ekologis dan indeks keanekaragaman arthropoda diamati pada fase vegetatif dan reproduktif tanaman padi. Arthropoda yang diperoleh selama penelitian terdiri dari 11 ordo, 55 famili, 130 morfospesies, dan 1855 individu. Aplikasi teh guano, cendawan endofit dan insekstisida BPMC tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap indeks keanekaragaman arthropoda pada kedua fase pertumbuhan tanaman padi. Aplikasi-aplikasi tersebut juga tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kekayaan spesies dan kelimpahan individu arthropoda. Kekayaan spesies dan kelimpahan individu pada fase vegetatif tanaman berbeda nyata dengan kekayaan spesies dan kelimpahan individu pada fase reproduktif tanaman. Rata-rata kelimpahan dan individu pada fase vegetatif dan reproduktif masing-masing sebanyak 60 dan 95. Rata-rata kekayaan spesies pada fase vegetatif dan reproduktif masing-masing sebanyak 19 dan 28 morfospesies. Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun tidak ada perbedaan yang nyata pada nilai indeks keanekaragaman, tetapi terdapat perbedaan komposisi dan dominasi spesies antar perlakuan
Kata kunci: indeks keanekaragaman, kekayaan spesies, kelimpahan individu, komposisi morfospesie
Pola Komunikasi Komunitas dalam Membangun Perilaku Ramah Lingkungan di Bantaran Sungai Ciliwung Kota Bogor.
Isu lingkungan telah menjadi pembahasan penting di dunia internasional
termasuk Indonesia. Sebagai negara dengan kekayaan alam melimpah, Indonesia
pada dasarnya adalah negara yang memiliki cadangan air yang baik, namun
perilaku warga komunitas yang belum sadar akan pentingnya menjaga lingkungan
menjadi ancaman tersendiri bagi ketersediaan air bersih di Indonesia. Kota Bogor
merupakan kota penyangga Ibu Kota yang memiliki dua sungai besar sebagai
sumber air baku untuk konsumsi warga. Salah satu sungai tersebut adalah sungai
Ciliwung dengan kuantitas air yang cukup memenuhi kebutuhan air Kota Bogor.
Meski secara kuantitas dikatakan cukup memenuhi, namun kualitas air sungai
Ciliwung yang tercemar berat menjadi masalah penting yang harus diselesaikan.
Pulo Geulis adalah salah satu area bantaran sungai Ciliwung yang menjadi
tempat pemukiman warga di kota Bogor. Lahan yang terbatas, harga tanah yang
tinggi, dan tingkat ekonomi penduduk yang rendah adalah beberapa alasan
mengapa bantaran sungai digunakan sebagai daerah pemukiman. Pulo Geulis
adalah daerah padat penduduk di mana pembangunan terjadi secara vertikal karena
lahan yang sempit. Rumah warga di Pulo Geulis saling berdekatan sehingga tidak
ada ruang terbuka hijau di daerah tersebut. Satu-satunya akses untuk masuk ke Pulo
Geulis harus dilewati melalui jembatan kecil yang menghubungkan Pulo Geulis
dengan daratan di sisi lain Ciliwung.
Letak Pulo Geulis yang strategis mempengaruhi kebersihan dan kelestarian
sungai Ciliwung. Hal ini dapat berkontribusi pada tercemar atau tidaknya air di
wilayah tersebut. Perilaku warga yang ramah lingkungan akan berdampak positif
pada lestarinya sungai dan tersedianya air bersih. Sebaliknya, perilaku warga
bantaran sungai yang tidak ramah lingkungan berdampak negatif hingga
menurunkan kualitas air bersih dalam suatu wilayah. Pada faktanya, secara visual
terlihat bahwa kondisi bangunan rumah warga di Pulo Geulis umumnya dibangun
membelakangi sungai sehingga Ciliwung dianggap sebagai bagian belakang (water
back landscape) yang tidak termanfaatkan dengan semestinya. Saluran-saluran
limbah rumah tangga mengarah langsung ke badan sungai. Bahkan, perilaku warga
Pulo Geulis yang sampai saat ini masih menjadi masalah adalah adanya warga yang
masih membuang sampah ke badan sungai Ciliwung. Hal ini menjadi masalah yang
harus diatasi untuk menjamin ketersediaan air bersih bagi warga Kota Bogor di
masa kini maupun masa mendatang. Salah satu solusi yang harus dilakukan adalah
membangun perilaku ramah lingkungan warga komunitas bantaran sungai.
Secara konseptual, perilaku ramah lingkungan dipengaruhi karakteristik
warga komunitas tingkat (pendidikan, usia, tingkat pendapatan, dan lama tinggal
dalam komunitas), sikap warga komunitas terhadap perilaku ramah lingkungan
(aspek kognitif dan aspek afektif), dan pola komunikasi warga komunitas (sumber
informasi, ragam saluran, pesan manfaat, pesan resiko, dan pesan teknis) tentang
perilaku ramah lingkungan. Atas dasar tersebut maka dianggap penting untuk
menganalisis pengaruh faktor-faktor yang dimaksud terhadap perilaku ramah
lingkungan warga komunitas di Pulo Geulis.
Penelitian ini didesain sebagai penelitian kuantitatif menggunakan metode
survey. Sampel penelitian sebanyak 100 responden ditentukan secara sengaja
(purposive) dengan melihat karakteristik yang sesuai kebutuhan penelitian.
Responden penelitian ini adalah warga komunitas Pulo Geulis yang berusia diatas
17 tahun baik laki-laki maupun perempuan. Karena terdapat 5 (lima) RT di Pulo
Geulis maka penentuan responden dilakukan secara cluster dimana pada setiap RT
diambil 20 warga sebagai responden penelitian. Data dari 100 responden dihimpun
menggunakan instrumen berupa kuesioner. Data juga dikumpulkan melalui
wawancara dengan informan kunci seperti Ketua RW, Ketua RT, maupun Kader
Posyandu di Pulo Geulis.
Analisis data dilakukan menggunakan Software Smart PLS 3.0. Hasil analisis
menunjukkan bahwa kualitas perilaku lingkungan warga komunitas Pulo Geulis
adalah pada tingkatan cukup ramah lingkungan. Perilaku lingkungan yang paling
banyak dilakukan adalah perilaku pengelolaan sampah dan penghematan air.
Adapun perilaku lingkungan yang belum banyak dilakukan oleh warga komunitas
adalah penggunaan septic tank, pemanfaatan air hujan, pembatasan penggunana air,
dan pemanfaatan kembali air bekas pakai (grey water). Pada sikap warga komunitas
terhadap perilaku ramah lingkungan, hasil analisis menunjukkan bahwa aspek
pengetahuan warga komunitas tentang perilaku ramah lingkungan berada pada
tingkatan yang sedang. Kognitif tersebut tercermin dari pengetahuan yang baik
tentang bahaya limbah kamar mandi bagi ekosistem sungai. Hal tersebut kontras
dengan pemahaman yang belum baik tentang ketersediaan air di bumi. Pada aspek
afektif, warga komunitas memiliki afektif yang netral terhadap perilaku ramah
lingkungan. Hal ini searah dengan aspek kognitif yang berada pada kualitas yang
masih sedang.
Selanjutnya, analisis menunjukkan bahwa pola komunikasi warga komunitas
dalam informasi perilaku ramah lingkungan lebih banyak dilakukan oleh sumber
formal seperti ketua RT, RW, dan Kader Posyandu. Saluran komunikasi yang
digunakan masih kurang beragam yakni antara 1-2 jenis saluran komunikasi.
Saluran yang paling sering digunakan adalah komunikasi face to face. Pada isi
pesan, baik pesan manfaat, resiko, maupun pesan teknis berada pada kategori yang
lengkap dan cukup lengkap. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola
komunikasi berupa sumber informasi, ragam saluran, pesan manfaat, pesan resiko,
dan pesan teknis adalah indikator yang mempengaruhi perilaku ramah lingkungan.
Selain itu, pola komunikasi juga mempengaruhi sikap warga komunitas terhadap
perilaku ramah lingkungan di Pulo Geulis
Analisis Efisiensi Pemasaran Ayam Ras Pedaging (Broiler) Pola Kemitraan di Kabupaten Bengkulu Selatan
Broiler adalah salah satu dari komoditi peternakan unggas yang memiliki
kontribusi produksi terbesar di Indonesia. Tujuan dari penenlitian ini adalah untuk
menganalisis saluran pemasaran ayam broiler, lembaga pemasaran, fungsi
pemasaran, struktur pasar, perilaku pasar dan efisiensi saluran pemasaran
berdasarkan margin pemasaran, farmer’s share dan keuntungan terhadap biaya.
Responden tiga kelompok (peternak, lembaga pemasaran, konsumen) dipilih
dengan metode purposive sampling untuk peternak dan metode snowball
sampling untuk lembaga pemasaran. Data primer diperoleh dengan metode survey
menggunakan kuisioner. Data sekunder diperoleh dari sumber terkait. Hasil
penelitian menunjukkan pemasaran ayam broiler pola kemitraan di Kabupaten
Bengkulu Selatan terdiri dari 3 saluran dengan lembaga pemasaran yang terdiri
dari inti, pedagang pengumpul, pedagang besar, dan pedagang pengecer. Saluran
pemasaran I adalah saluran dengan nilai cost margin terendah, dan dengan nilai
farmer’s share dan rasio keuntungan terhadap biaya tertinggi
Perbaikan Mutu Genetik Ikan Patin (Pangasianodon hypophthalmus) Melalui Aplikasi Teknologi Poliploidisasi
Poliplodisasi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas dan
mutu benih dari komoditas perikanan budidaya. Kegiatan poliploidisasi yang umum
dilakukan adalah triploidisasi karena telah dibuktikan memiliki kinerja pertumbuhan
yang cepat, mampu mentoleransi fluktuasi parameter fisika-kimia media budidaya,
ketahanan terhadap penyakit, memanfaatkan pakan dengan baik, bersifat infertil dan
aman jika terlepas ke perairan umum. Namun ditemukan kendala dalam proses induksi
fisik yang mampu mematikan zigot, menurunkan tingkat penetasan dan tidak 100%
menghasilkan individu triploid, sehingga membatasi produksi benih. Dengan
demikian perlu dilakukan upaya menghasilkan produk antara berupa induksi ikan
tetraploid yang akan dijadikan induk. Hal ini dimungkinkan karena ikan tetraploid
mampu menghasilkan gamet diploid, dan jika dipijahkan dengan ikan normal (gamet
bersifat haploid) akan menghasilkan benih 100% triploid tanpa melalui proses kejut
fisik.
Berdasarkan hal inilah penulis tertarik untuk memproduksi ikan patin tetraploid
melalui induksi kejut suhu panas. Adapun tujuan umum penelitian ini adalah
menghasilkan patin tetraploid sebagai induk untuk memproduksi patin triploid secara
masal melalui persilangan. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dibagi
menjadi empat tahapan penelitian, yaitu: 1) Optimasi induksi tetraploid ikan patin
melalui kejut panas, 2) Analisis performa ikan patin tetraploid hasil induksi kejut
panas, 3) Analisis performa reproduksi ikan patin tetraploid, dan 4) Persilangan patin
tetraploid dengan patin diploid untuk memproduksi benih patin triploid secara massal.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat eksperimen dengan beberapa
perlakuan. Kemudian data yang didapat bersumber dari hasil analisis sampel skala
laboratorium dan observasi lapangan.
Penelitian tahap pertama bertujuan untuk mengkaji metode yang tepat dalam
memproduksi patin tetraploid melalui penentuan lama dan suhu kejut serta umur zigot
yang berbeda. Hasil penelitian tahap pertama menunjukkan bahwa dari enam
perlakuan umur zigot berdasarkan kandungan konsentrasi DNA yang telah diukur
sebelumnya (28‵; 28,5‵; 29‵; 29,5‵; 30‵; dan 30,5‵), terdapat dua perlakuan yang
memiliki persentase keberhasilan pembentukan individu tetraploid tertinggi yaitu 29‵
(77,66%) dan 29,5‵ (72,53%) setelah pembuahan. Masing-masing perlakuan umur
zigot tersebut menghasilkan tingkat kelangsungan hidup sebesar 90,33% dan 91,67%.
Persentase keberhasilan induksi tetraploid dilakukan berdasarkan pada jumlah
maksimum nukleoli (4 nukleoli pada individu tetraploid) dan penghitungan jumlah
kromosom (108 buah). Adapun penerapan suhu kejut dan lama kejut pada setiap
perlakuan adalah 42 ºC selama 2,5‵ yang mengacu pada induksi tetraploid patin oleh
peneliti sebelumnya. Penerapan kejut panas pada induksi tetraploid patin ini juga
berdampak pada rendahnya angka penetasan sekitar 4,12 - 8,93% dan abnormalitas
mencapai 12,36 - 27,60%. Meskipun berdampak pada angka penetasan dan
abnormalitas, kejut panas yang dilakukan pada berbagai umur zigot ini tidak
berpengaruh terhadap pertumbuhan benih yang dihasilkan.
Penelitian tahap kedua bertujuan untuk mengkaji performa pertumbuhan dan
perkembangan reproduksi ikan patin tetraploid. Hasil penelitian tahap kedua
menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan patin tetraploid lebih baik dibandingkan patin
diploid dengan selisih persentase bobot harian sebesar 0,497% dan panjang 0,158%.
Akan tetapi baik patin tetraploid dan diploid menunjukkan perbedaan yang tidak nyata
pada parameter FCR dan SR. Dari segi perkembangan gonad berdasarkan hasil
pengamatan histologi memperlihatkan bahwa masing-masing patin tetraploid dan
diploid baik jantan maupun betina berada pada tingkat kematangan gonad yang sama.
Gonad betina berada pada tahap previtelogenik oosit dan vitelogenik oosit, sedangkan
jantan didominasi pada tahap spermatosit dan spermatozoa. Histologi ini juga
menunjukkan bahwa patin betina masih berada pada tahap perkembangan telur,
sedangkan patin jantan sudah memasuki tahap matang gonad dan siap untuk
dipijahkan.
Penelitian tahap ketiga bertujuan untuk mengkaji performa reproduksi ikan patin
tetraploid melalui analisis kualitas gamet dan kemampuannya untuk memijah. Hasil
penelitian tahap ketiga menampilkan data fekunditas dan diameter telur induk betina
tetraploid dan diploid tidak berbeda nyata (P>0,05). Begitu pula halnya dengan hasil
uji motilitas sperma antara patin tetraploid dengan diploid, secara deskriptif sperma
patin tetraploid memperlihatkan adanya sperma yang bersifat statik sebesar 2,53%,
namun memiliki persentasi sperma hyperactive motility yang tinggi sebesar 11,83%.
Setelah dilakukan uji pemijahan menunjukkan bahwa tingkat penetasan telur patin
tetraploid rata-rata 15,37% dari lima kali percobaan dengan induk yang berbeda. Hal
ini mungkin dipengaruhi oleh induk yang baru pertama kali dipijahkan,
mengakibatkan kualitas telur masih rendah.
Penelitian tahap keempat bertujuan untuk mengevaluasi produksi ikan patin
triploid secara massal hasil persilangan dan mengkaji performa pertumbuhan dari ikan
patin triploid yang dihasilkan. Hasil penelitian tahap keempat menunjukkan bahwa
perlakuan 2n♀ >< 4n♂ menghasilkan selisih angka penetasan sebesar 19,76%
dibandingkan dengan 4n♀ >< 2n♂ namun tetap lebih rendah dibandingkan dengan
kontrol (2n♀ >< 2n♂). Pengujian ploidi dari progeni tersebut dilakukan melalui
pengamatan jumlah maksimum nukleolus, kromosom dan rasio GH/aktin dengan hasil
100% benih adalah triploid. Pertumbuhan benih triploid dibandingkan dengan diploid
hingga umur 4 bulan masih belum memperlihatkan perbedaan yang signifikan pada
pertambahan bobot harian. Histologi gonad yang dilakukan memperlihatkan bahwa
gonad patin triploid baik jantan dan betina tidak berkembang. Hal ini menyebabkan
hasil rendemen filet patin memiliki persentase yang signifikan dengan selisih bobot
daging hingga mencapai 200 g. Warna dan hasil proksimat daging juga tidak
memperlihatkan perbedaan yang signifikan secara statistik.
Kesimpulan umum dari penelitian ini adalah berhasilnya upaya mendapatkan
patin tetraploid melalui kejut panas dan memiliki kemampuan reproduksi sama dengan
patin diploid untuk dijadikan sebagai induk. Selain itu, produksi patin triploid secara
massal melalui persilangan, juga telah dibuktikan keberhasilannya
Dayasaing dan Ekspor Kopi Indonesia melalui Pendekatan Sistem Dinamis
Pertumbuhan produksi kopi dunia (1.18 persen per tahun) lebih lambat
dibandingkan dengan pertumbuhan konsumsi kopi dunia (2.01 persen per tahun)
dalam kurun waktu 2012/2013-2016/2017. Hal ini disebabkan oleh menurunnya
produksi di negara-negara penghasil kopi dunia seperti Indonesia. Penurunan
produksi biji kopi Indonesia disebabkan oleh beberapa hal diantaranya sebagian
besar usia tanaman telah berumur lebih dari 25 tahun sehingga menyebabkan
penurunan produktivitas. Menurut FAO (2017), produktivitas Indonesia berada
diurutan terakhir dari sepuluh produsen utama dunia. Adanya penurunan luas areal
kopi sebesar 0.29 persen per tahun dalam kurun waktu 2010 hingga 2014 diduga
menjadi penyebab menurunnya produksi biji kopi Indonesia. Adapun
permasalahan lainnya yaitu rendahnya mutu biji kopi Indonesia namun disisi lain
mutu menjadi penentu dayasaing. Permasalahan disisi produksi tersebut akan
berdampak pada keberlangsungan industri pengolah dalam negeri dan pasar luar
negeri. Adanya peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi kopi per
kapita masyarakat Indonesia akan meningkatkan konsumsi domestik sehingga
diperlukan kontinuitas pasokan bahan baku. Hal ini mengakibatkan persaingan
bahan baku baik dengan konsumen domestik maupun konsumen luar negeri.
Permasalahan lainnya yaitu pemerintah menerapkan Pajak Pertambahan
Nilai (PPN) sebesar 10 persen atas komoditas biji kopi yang diekspor. Namun,
penerapan PPN akan meningkatkan biaya ekspor yang berdampak pada penurunan
volume ekspor. Selain itu, adanya biaya PPN yang dibebankan pada petani
melalui penurunan harga beli berdampak pada rendahnya harga didalam negeri
sehingga insentif yang diterima petani semakin menurun. Berdasarkan
permasalahan tersebut akan berdampak pada jumlah biji kopi yang diekspor.
Berdasarkan UN Comtrade (2017), bahwa pertumbuhan volume ekspor biji kopi
Indonesia berada diurutan ke sembilan dari sepuluh negara pengekspor utama
kopi dunia. Pertumbuhannya hanya mencapai 0.08 persen per tahun selama kurun
waktu 2008-2016.
Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN),
pemerintah memiliki target peningkatan volume ekspor biji kopi Indonesia
sebesar 24.3 persen atau sebesar 462 497 421 kg pada tahun 2025 (Kementan
2015). Di sisi lain pemerintah menargetkan peningkatan konsumsi per kapita
sebesar 1.5 kg per tahun tahun 2019 yang tercantum dalam Rencana Induk
Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) (Kemenperin 2015). Selain itu,
pemerintah juga menargetkan peningkatan pendapatan petani sebesar
Rp 27 675 000 pada tahun 2020 yang tercantum dalam Strategi Induk
Pembangunan Pertanian (SIPP) 2013-2045 (Kementan 2014). Maka, penelitian ini
bertujuan untuk a) menganalisis dayasaing serta dinamika ekspor kopi Indonesia
di pasar internasional, b) membangun model ekspor kopi Indonesia dengan
pendekatan sistem dinamis, c) merumuskan alternatif kebijakan yang dapat
dilakukan dalam upaya peningkatan ekspor kopi Indonesia dan pendapatan petani
disamping mengoptimalkan konsumsi biji kopi dalam negeri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dayasaing kopi Indonesia
berfluktuasi dan mengalami pergeseran posisi pasar ekspor yang dinamis di pasar
kopi dunia. Meskipun kopi Indonesia saat ini masih berdayasaing, namun pangsa
ekspor kopi Indonesia di pasar internasional kurun waktu 1990 hingga 2016
menurun sebesar 36 persen. Hal ini berdampak pada posisi dan dayasaing
Indonesia di pasar internasional. Oleh karena itu, dibangun model ekspor kopi
Indonesia yang dapat mengidentifikasi dinamika permasalahan serta kebutuhan
dari stakeholder dalam pengembangan kopi Indonesia. Pada kondisi aktual terjadi
penurunan volume ekspor, pangsa nilai ekspor biji kopi Indonesia, dan
pendapatan petani. Maka upaya yang diperlukan untuk mencapai peningkatan
ekspor biji kopi Indonesia dan peningkatan pendapatan petani dilakukan melalui
beberapa skenario kebijakan diantaranya peningkatan produktivitas (skenario 1),
peningkatan luas areal (skenario 2), penghapusan PPN (skenario 3), penurunan
laju pertumbuhan penduduk (skenario 4), dan peningkatan laju konsumsi per
kapita (skenario 5). Namun hasil menunjukkan bahwa dengan dilakukan setiap
skenario kebijakan dari skenario 1, 2, 3 dan 4 bahwa target peningkatan ekspor
biji Indonesia dan pendapatan petani belum tercapai. Oleh karena itu, diperlukan
kebijakan alternatif lainnya untuk mendukung upaya tersebut.
Kebijakan alternatif lainnya dilakukan melalui penggabungan beberapa
skenario diantaranya skenario 6 (gabungan skenario 1 dan 2), skenario 7
(gabungan skenario 1, 2, 3), skenario 8 (gabungan skenario 1, 2, 3, 5), skenario 9
(gabungan skenario 1, 2, 3, 4). Hasil menunjukkan bahwa skenario 6, 7, 9 telah
memenuhi target peningkatan ekspor yang ditetapkan pemerintah sedangkan
skenario 8 sebaliknya. Namun, dari ke empat skenario alternatif kebijakan (6, 7, 8,
9) belum memenuhi target peningkatan pendapatan petani sesuai dengan SIPP.
Artinya, pendapatan petani kopi rakyat Indonesia masih rendah bila dibandingkan
dengan pendapatan petani perkebunan rakyat lainnya seperti petani kakao.
Berdasarkan hasil analisis bahwa penerapan skenario 9 (intensifikasi,
ekstensifikasi, penghapusan PPN, dan penurunan laju pertumbuhan penduduk)
merupakan skenario terbaik dari seluruh skenario kebijakan. Hal ini dikarenakan
volume ekspor, pangsa nilai ekspor, dan pendapatan petani yang diperoleh
tertinggi dibandingkan skenario lainnya sedangkan tren daya serap biji kopi
industri dalam negeri meningkat dengan pertumbuhan yang lambat.
Maka, upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi
diantaranya : a) peningkatan produktivitas dan mutu melalui teknologi introduksi,
serta b) peningkatan serta pemanfaatan luas areal serta luas panen. Peningkatan
produktivitas dan mutu dapat dilakukan melalui teknologi introduksi seperti
penggunaan bibit unggul yang sesuai agroklimat setiap wilayah di Indonesia,
peremajaan, pemupukan, pemeliharaan (pemangkasan), penyiangan, panen yang
sesuai dengan anjuran yang didasarkan pada hasil riset. Selain itu diperlukan
pemberdayaan dan penyuluhan bagi petani dalam meningkatkan kualitas sumber
daya dalam merespon adanya introduksi teknologi terbaru guna peningkatan
produktivitas kopi. Sedangkan upaya peningkatan serta pemanfaatan luas areal
dan luas panen dapat dilakukan pada lahan suboptimal. Selain itu dapat dilakukan
pada lahan agroforestri berbasis kopi melalui pengelolaan program Hutan
Kemasyarakatan (HKm) di dalam hutang lindung. Perluasan lahan dapat
dilakukan di Kalimantan Tengah dan Wilayah Indonesia Timur.
Upaya meningkatkan pendapatan petani tidak hanya melalui peningkatan
produktivitas tetapi juga melalui peningkatan mutu pasca panen. Peningkatan
produktivitas masih berpotensi untuk ditingkatkan sejalan dengan penggunaan
varietas unggul arabika dan robusta dengan rata-rata produktivitas potensial
mencapai 1.76 ton/ha. Selain itu, peningkatan pendapatan petani dapat dilakukan
melalui peningkatan mutu pada kegiatan pasca panen yang sesuai. Kopi
gelondong basah dari lahan harus segera diolah maksimal 10 jam setelah
pemanenan lalu dilakukan sortasi dengan tujuan untuk memisahkan kotorankotoran
seperti abu, kulit tanduk, dan gelondongan (AKTG). Selain itu dilakukan
pemisahan biji kopi berdasarkan ukuran dan cacat biji (mutu). Semakin rendah
tingkat cacat yang dihasilkan maka semakin tinggi persentase mutu. Selain itu,
kegiatan pengeringan biji kopi dilakukan hingga kadar air mendekati 12 persen.
Maka, harga biji kopi yang diterima petani akan lebih tinggi sehingga mendorong
peningkatan pendapatan petani.
Upaya yang dapat dilakukan dalam merespon kebutuhan konsumen baik
pasar dalam negeri maupun luar negeri diantaranya a) peningkatan mutu yang
didukung oleh kelembagaan (kemitraan) pasar dan sistem pemasaran. Maka,
perlunya kemitraan yang dapat menguntungkan petani guna keberlanjutan
pasokan kopi Indonesia. Selain itu, upaya merespon tuntutan sertifikasi global
untuk menjamin mutu kopi maka diperlukan keterangan asal-usul kopi melalui
peningkatan Indikasi Geografis (IG), b) peningkatan kapasitas pengolahan dalam
negeri sebagai respon meningkatnya konsumsi domestik sehingga daya serap biji
kopi dalam negeri dapat optimal.
Selain itu, upaya peningkatan dayasaing dan ekspor kopi Indonesia di
pasar internasional disamping meningkatkan produksi melalui dapat dilakukan
melalui penghapusan PPN ekspor biji kopi, perbaikan harga biji kopi dalam negeri
melalui standarisasi mutu biji kopi serta perluasan pasar ekspor ke negara-negara
yang memiliki GDP riil per kapita tinggi, negara yang tidak ketat OTA, negara
pengimpor tradisional, dan negara dengan tingkat konsumsi kopi tinggi
Potensi Minyak Serai Wangi (Cymbopogon nardus L.) sebagai Penghambat Patogen Terbawa Benih Sengon (Falcataria moluccana Miq.).
Kontaminasi patogen pada benih sengon (Falcataria moluccana Miq.) dapat
menyebabkan kemunduran benih yang berakibat terhadap penurunan daya kecambah benih
sehingga terganggunya ketersediaan semai dalam kegiatan pembibitan di persemaian.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi patogen terbawa benih sengon,
menentukan dosis minyak serai wangi yang dapat menghambat pertumbuhan patogen, dan
menguji viabilitas benih setelah penambahan minyak serai wangi. Penelitian ini
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor yaitu penambahan minyak serai
wangi 0% (P0), 0.5% (P1), 1% (P2), 1.5% (P3) pada benih sengon. Hasil penelitian
menunjukkan terdapat 5 patogen yang menyerang benih sengon yaitu Aspergillus flavus,
Aspergillus sp, Curvularia sp, unidentified bacteri, dan unidentified fungus. Penambahan
minyak serai wangi mampu menekan pertumbuhan patogen dan meningkatkan daya
kecambah. Benih sengon asal Wamena pengunduhan 2015 dengan konsentrasi minyak
serai wangi 1.5% (P3) mampu menghambat serangan patogen benih sebesar 19.65%. Hasil
daya kecambah tertinggi terdapat pada dosis 1% (P2) yaitu sebesar 4.93%. Benih sengon
asal Madiun pengunduhan 2017 dengan konsentrasi minyak serai wangi 1.5% (P3) mampu
menghambat serangan patogen sebesar 18.11%. Hasil daya kecambah tertinggi yang
mendekati kontrol dengan dosis 1.5% (P3) sebesar 14.11%
Penambatan Molekuler Katekin, Kaempferol dan Kuersetin terhadap Aktivitas Inhibisi Protein Tirosin Fosfatase 1B.
Protein tyrosine phosphatase 1B (PTP1B) yang terekspresikan secara berlebihan oleh penderita diabetes mellitus tipe II menjadi regulator negatif dalam transduksi sinyal insulin. Katekin dalam teh telah terbukti dapat menghambat PTP1B pada domain katalitiknya secara in vitro. Kaempferol dan kuersetin telah teruji sebagai antidiabetes secara in vivo. Penelitian ini bertujuan menentukan interaksi inhibisi senyawa katekin dan isomernya, kaempferol, serta kuersetin terhadap PTP1B melalui simulasi penambatan molekuler. Substrat fosfotirosin digunakan sebagai kontrol dan thiazolidindion sebagai pembanding. Metode terdiri atas preparasi ligan dan PTP1B, analisis stabilitas, bioaktivitas dan toksisitas ligan, analisis kestabilan PTP1B, validasi metode penambatan, serta penambatan molekuler. Interaksi hidrofobik ligan dengan Cys215, Tyr46 dan Gln262 penting terbentuk dalam mekanisme inhibisi kompetitif yang spesifik terhadap PTP1B. Ligan dengan daya inhibisi tertinggi hingga terendah adalah (-)-Epikatekin, (+)-Katekin, (+)-Galokatekin, (-)-Epigalokatekin, (+)-Epigalokatekin, Kuersetin, (-)-Katekin, (-)-Galokatekin, Kaempferol, dan (+)-Epikatekin. (-)-Epikatekin, (+)-Katekin, dan (+)-Galokatekin berpotensi tinggi sebagai inhibitor kompetitif yang spesifik PTP1B, sedangkan ligan uji sisanya kurang potensial sebagai inhibitor kompetitif