31665 research outputs found
Sort by
Kepadatan Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) dan Hubungan Fluktuasi Kelimpahan Tumbuhan Berbuah dengan Sarang Baru di IUPHHK-HA Hulu Belantikan Kalimantan Tengah
Orangutan (Pongo pygmaeus) merupakan primata arboreal pemakan buah (frugivora) yang hidup semi soliter. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap populasi yaitu nilai kepadatan orangutan pada suatu wilayah. Kepadatan dan pergerakan orangutan dipengaruhi oleh ketersediaan buah. Penebangan hutan menyebabkan penurunan kualitas habitat orangutan yang berdampak pada berkurangnya tumbuhan buah pakan orangutan seperti Ficus spp. dan liana. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hilangnya habitat tersebut diantaranya adalah penebangan kayu, kebakaran hutan, perambahan dan konversi untuk perkebunan serta pemukiman manusia.
Hulu Belantikan merupakan satu-satunya blok kawasan hutan dataran rendah di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, dengan status areal Hutan Produksi Terbatas (HPT). Bentang alam Belantikan dimulai dari daerah Arut Belantikan hingga Bukit Rangga dan Bukit Perai di Provinsi Kalimantan Barat. Arut dan Belantikan diketahui memiliki populasi orangutan P. p. wurmbii terbesar di luar kawasan konservasi. Kepadatan populasi P.p. wurmbii di Arut-Belantikan, berjumlah 6000 individu pada habitat seluas 5100 km2. Hal ini menjadikan wilayah tersebut sebagai habitat penting bagi konservasi orangutan. Sampai saat ini kegiatan pemanenan kayu dengan sistem tebang pilih/selective logging dan penambangan bijih besi masih berlangsung pada kawasan Belantikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kepadatan populasi orangutan dan hubungan antara fluktuasi kelimpahan tumbuhan berbuah dengan sarang baru orangutan pada tiga blok penebangan (2009-2010, 2012-2013, 2013-2014) dan hutan lindung (eks tebangan tahun 1970-an) di Hulu Belantikan.
Penelitian dilaksanakan pada periode Bulan Desember 2013-Oktober 2014, di Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) di Hulu Belantikan. Transek pengamatan dibuat di wilayah konsesi PT. Karda Traders, yang terdiri dari : 1. blok tebangan 2009-2010, 2. blok 2012-2013, 3. blok 2013-2014 dan kawasan Hutan Lindung (HL) bekas tebangan tahun 1970-an, Kecamatan Belantikan Raya, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Pengamatan kepadatan orangutan dan sarang baru dilakukan dengan metode jalur (line transect), berdasarkan perhitungan sarang (nest count). Di setiap lokasi masing-masing dibuat 4 jalur pengamatan dengan panjang 1 km per jalur dengan jarak antar jalurnya 500 meter. Khusus untuk sarang baru pengamatan dilakukan secara berkala setiap bulan pada setiap jalur. Setiap sarang baru yang ditemukan diberi pita penanda untuk mencegah pengulangan pencatatan pada bulan selanjutnya. Untuk melihat hubungan kualitas habitat orang-utan dan sarang baru, dilakukan pengamatan secara berkala ketersediaan tumbuhan berbuah dengan metode fruit trail.
Penggunaan metode tersebut menghasilkan data kelimpahan tumbuhan berbuah per km sepanjang jalur pengamatan. Untuk mengetahui perbandingan kepadatan populasi orangutan di setiap lokasi pengamatan blok penebangan 2009-2010, 2012-2013 dan 2013-2014 serta HL dilakukan
uji ANOVA. Korelasi atau hubungan antara kelimpahan tumbuhan berbuah setiap transek dan sarang baru orangutan dianalisis dengan uji korelasi Spearman.Analisis statistik ini menggunakan perangkat lunak SPSS (Statistic Programme for Scientific and Social Science) versi 23.
Penelitian ini mencatat, jumlah sarang terbanyak dijumpai di hutan lindung (n= 98) dan jumlah sarang terendah dijumpai di blok tebangan 2013-2014 (n= 25). Nilai kepadatan orangutan pengamatan, di HL adalah yang tertinggi 4,8 ind/km2 dan terendah di blok 2013-2014 sebesar 0,4 ind/km2. Hasil ini mengindikasikan bahwa penebangan kayu yang sedang berlangsung sangat berpengaruh terhadap populasi orangutan. Berdasarkan hasil Fruit trail tumbuhan berbuah pada lokasi survei di HL dan Blok penebangan (2009-2010, 2012-2013 dan 2013-2014), diperoleh 130 spesies tumbuhan berbuah yang terbagi menjadi 43 famili. Kelimpahan tumbuhan berbuah bulanan tertinggi diperoleh pada lokasi blok HL dan blok tebangan 2009-2010 (59 dan 49,25 tumbuhan berbuah/km). Hasil uji korelasi Spearman antara jumlah sarang baru orangutan (A dan B) dengan kelimpahan tumbuhan berbuah pada keempat lokasi penelitian tidak terdapat perbedaan yang signifikan (P>0,05). Kondisi ini berhubungan dengan kondisi kelimpahan tumbuhan berbuah yang merata pada areal penelitian
Analisis Kekeringan dengan Konsep Standardized Precipitation Evapotranspiration Index (SPEI) dan Implikasinya terhadap Produktivitas Kelapa Sawit
Kelapa sawit merupakan tanaman yang tidak toleran terhadap cekaman kekeringan. Cekaman kekeringan pada tanaman kelapa sawit dapat mengakibatkan penurunan pada laju pembelahan sel, laju penyerapan CO2, penyerapan hara, laju fotosintesis, dan produktivitas tanaman. Indeks kekeringan Standardized Precipitation Evapotranspiration Index (SPEI) digunakan untuk mendeteksi, memantau, dan menganalisis kekeringan di wilayah perkebunan kelapa sawit PTPN VI Batanghari, Jambi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekeringan skala harian dan bulanan menggunakan indeks SPEI, menunjukkan besar kontribusi kekeringan harian terhadap kekeringan bulanan, menentukan waktu tunda (lag time) hubungan kekeringan dan produktivitas kelapa sawit, serta menganalisis pengaruh kekeringan terhadap produktivitas kelapa sawit. Secara rata-rata, kejadian kekeringan tidak terdeteksi pada skala harian pada periode basah maupun kering, namun kejadian kekeringan bulanan terdeteksi sebanyak 6 kejadian. Semakin banyak frekuensi kejadian kekeringan harian, nilai SPEI bulanan yang dihasilkan semakin kecil. Lag time yang dihasilkan terdapat pada lag-27 dengan nilai korelasi 0.22. Lag 27 bulan sebelum panen merupakan fase pembentukan bunga dimana kejadian kekeringan akan menghasilkan bunga jantan. Kekeringan bulanan hanya memengaruhi produktivitas kelapa sawit di PTPN VI Jambi sebesar 12.96% sedangkan pada periode empat bulanan, kekeringan memberikan kontribusi sebesar 61.17% terhadap penurunan produktivitas kelapa sawit. Perbedaan ini dapat disebabkan karena adanya sistem manajemen panen yang diterapkan oleh PTPN VI Jambi
Asosiasi Keragaman Gen NRAMP-1 dan iNOS terhadap Newcastle Disease dan Salmonella enteritidis pada Ayam Sentul Seleksi
Gen NRAMP-1 dan iNOS telah ditunjukkan sebagai mekanisme pertahanan
terhadap infeksi bakteri dan virus. Gen-gen ini belum diselidiki pada ayam Sentul
Seleksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman dan asosiasi gen
NRAMP-1 dan iNOS sebagai gen kandidat yang berperan dalam resistensi terhadap
Newcastle Disease dan Salmonella enteritidis pada ayam Sentul Seleksi. Sejumlah
172 ayam yang dipilih sentul diamati untuk gen NRAMP-1 dan iNOS
menggunakan PCR-RFLP. Frekuensi genotipe dan alel, Polymorphic Information
Content (PIC), dan keseimbangan Hardy-Weinberg (HWE) telah dianalisis.
Genotipe diasosiasikan dengan Immunoglobulin Y (IgY), antibodi spesifik
Salmonella dan antibodi spesifik penyakit Newcastle Disease. Parameter ini
ditentukan dengan menggunakan indirect ELISA, clearence test and
haemagglutination inhibition. Karakteristik kekebalan selanjutnya dikelompokkan
menjadi: kategori tinggi, sedang dan rendah. Data dianalisis menggunakan GLM
(General Liniear Model) dengan software SAS 9.4, t-test dan chi-square.
Keragaman dalam NRAMP-1|SacI dan iNOS|AluI semua telah diamati. Populasi
dalam HWE untuk kedua gen. Frekuensi gen NRAMP-1 dan iNOS memiliki
genotipe TC yang lebih tinggi secara signifikan (P <0,05) pada ayam dengan
imunitas yang tinggi. Selain itu, untuk gen NRAMP-1 dan iNOS, frekuensi alel C
lebih tinggi daripada alel T dalam titer IgY tinggi. NRAMP-1|SacI dan iNOS|AluI
adalah penanda potensial untuk seleksi terhadap penyakit Newcastle Disease dan
Salmonella enteritidis pada ayam Sentul Seleksi. Namun, penyelidikan lebih lanjut
direkomendasikan untuk memperkuat rekomendasi ini
Protocol Komunikasi Aman untuk Perangkat Internet-of-Things Berbasis Arduino Menggunakan Lightweight Cryptography.
Kita menyaksikan berbagai penerapan Internet of Things (IoT) pada rumah
pintar, kendaraan pintar, dan berbagai solusi lainnya dalam kehidupan sehari-hari.
Keamanan IoT menjadi semakin penting dan krusial karena hal ini. Arduino sebagai
salah satu platform IoT yang populer juga membutuhkan peningkatan pada
keamanannya, termasuk untuk memastikan bahwa data yang ditransmisikan dan
diterimanya aman dan belum diubah dengan cara apa pun. Pendekatan yang ada
adalah mentransmisikan data dalam bentuk plaintext atau menggunakan symmetric
block cipher yang memerlukan kedua pihak yang bertukar pesan untuk memiliki
kunci yang sama.. Symmetric block cipher tradisional mengkonsumsi sumber daya
komputasi yang relatif besar untuk sistem embedded sehingga kurang cocok
diterapkan untuk perangkat dengan daya komputasi dan memory terbatas seperti
Arduino.
Penelitian ini mengusulkan protocol keamanan ringan baru yang cukup
ringan untuk dijalankan pada platform Arduino. Protocol ini menggunakan skema
key agreement, algoritme block cipher ringan SPECK, dan fungsi hash BLAKE2s.
Protocol ini dirancang untuk mendukung pengiriman pesan telemetry dan
telecommand antara perangkat IoT dengan IoT gateway (server) yang dapat diakses
dengan konsep publisher-subscriber. Protocol ini dirancang dalam bentuk
sederhana namun dapat dikembangkan fungsinya sesuai keperluan di masa
mendatang. Penelitian ini menunjukkan bahwa protocol komunikasi IoT yang aman
dapat dirancang dan diimplementasikan pada perangkat Arduino dan platform IoT
lain yang menjalankan Arduino core seperti ESP32. Evaluasi kinerja protocol ini
di Arduino Mega menunjukkan bahwa waktu eksekusi rata-rata untuk fase INIT
adalah 26,83 milidetik, dan untuk key agreement 13,50 milidetik dan enkripsi serta
dekripsi pesan telemetri dan telecommand memerlukan waktu eksekusi 25
milidetik. Evaluasi kinerja protocol dalam ESP32 memiliki waktu eksekusi ratarata
untuk fase INIT 44,63 milidetik, dan untuk fase key agreement 13,90 milidetik
dan enkripsi serta dekripsi pesan telemetri dan telekomunikasi membutuhkan waktu
pelaksanaan 17,10 milidetik
Pengelolaan Pemetikan Tanaman Teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) di Unit Perkebunan Tambi, PT Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah
Manajemen pemetikan tanaman teh sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas pucuk. Kegiatan magang bertujuan mempelajari dan menimba pengalaman mahasiswa dalam aspek teknis dan pengelolaan perkebunan teh. Tujuan khusus dari kegiatan magang adalah mempelajari pengelolaan pemetikan tanaman teh di Unit Perkebunan Tambi. Metode yang digunakan dalam kegiatan magang adalah metode langsung dan tidak langsung. Metode langsung dilakukan dengan cara mengikuti dan mengamati secara langsung semua kegiatan di lapangan serta wawancara. Metode tidak langsung dilakukan dengan cara mengumpulkan data pendukung dari perusahaan berupa arsip kebun, laporan manajerial, serta studi pustaka. Hasil pengamatan berdasarkan aspek khusus yaitu tinggi bidang petik, diameter bidang petik, tebal daun pemeliharaan, persentase pucuk peko dan pucuk burung, gilir dan hanca petik, jumlah tenaga kerja, analisis pucuk, sarana panen dan transportasi, sudah sesuai standar. Sementara hasil analisis petik menunjukkan perlu adanya peningkatan dalam teknik pemetikan di lapangan. Pengaruh terhadap kapasitas pemetik menurut umur pemetik, masa kerja, dan pendidikan formal terakhir tidak berbeda nyata, dimana parameter tersebut tidak mempengaruhi bobot pucuk yang didapat. Parameter jumlah tanggungan keluarga berbeda nyata, dimana perolehan pucuk pemetik yang memiliki jumlah tanggungan keluarga ≤4 lebih sedikit dibandingkan pemetik dengan jumlah tanggungan keluarga >4 orang. Hal ini disebabkan oleh beban ekonomi yang meningkat, sehingga menyebabkan wanita bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga
Karakteristik Enzim Mananase Isolat Aktinomisetes dari Taman Nasional Bukit Duabelas Jambi
Indonesia memiliki sekitar 14.03 juta ha perkebunan kelapa sawit. Bungkil inti sawit (BIS) merupakan produk samping hasil pengolahan minyak sawit yang terdiri atas β-manan. Manan adalah komponen hemiselulosa yang memiliki nilai ekonomi. Manan dapat dikonversi menjadi manooligosakarida (MOS) menggunakan bakteri melalui proses enzimatik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik enzim mananase dari isolat aktinomisetes asal Taman Nasional Bukit Duabelas Jambi. Penapisan dimulai dengan seleksi pembentukan zona bening pada media yang mengandung BIS kemudian diukur aktivitas enzimnya serta dikarakteristik pH dan suhu optimum aktivitas enzim. Isolat HJ4-5B memiliki indeks mananolitik tertinggi sebesar 0.4. Isolat HJ4-5B memiliki satu puncak aktivitas enzim pada hari ke-7 inkubasi sebesar 0.895 U/mL. Aktivitas mananase isolat HJ4-5B tertinggi pada pH 6 dan suhu 70 °C dengan waktu inkubasi selama 7 hari adalah 1.186 U/mL
Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Hiu Lanjaman (Carcharhinus falciformis) dan Hiu Martil (Sphyrna lewini) di Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur.
Hiu lanjaman (Carcharhinus falciformis) dan hiu martil (Sphyrna lewini)
merupakan komoditas perikanan yang memiliki peran penting bagi masyarakat
Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur. Kedua spesies tersebut berdasarkan
data survey yang dilakukan oleh Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut
Denpasar tahun 2016, termasuk dua spesies yang paling dominan tertangkap oleh
nelayan Tanjung Luar. Pada tahun 2012, IUCN mengelompokkan kedua spesies
tersebut ke dalam spesies yang terancam punah dan status perdagangannya masuk
dalam apendiks II CITES. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspekaspek
biologi, bioekonomi, kondisi eksisting dan status keberlanjutan dalam
pengelolaan sumberdaya serta desain model pengelolaan sumberdaya perikanan
hiu lanjaman dan hiu martil sebagai dasar rujukan dalam pengambilan keputusan
dalam rangka pengelolaan sumberdaya perikanan hiu yang berkelanjutan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode bulan Maret-Agustus
2018, terdapat 2.754 ekor hiu lanjaman dan dan 382 ekor hiu martil yang
didaratkan di TPI Tanjung Luar. Hiu lanjaman (C. falciformis) yang didaratkan
umumnya memiliki panjang total berkisar antara 37,3–282,0 cm dan berat
berkisar antara 1– 86 kg. Sedangkan hiu martil (S. lewini) memiliki panjang total
berkisar antara 48-309 cm dan berat berkisar antara 0,3–168,0 kg.
Pola pertumbuhan hiu lanjaman (C. falciformis) bersifat allometrik positif,
dimana pertambahan bobotnya lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan
panjang. Sedangkan hiu martil (S.lewini) memiliki pola pertumbuhan yang
bersifat allometrik negatif dimana pertambahan panjang lebih cepat dibandingkan
pertambahan bobot. Berdasarkan tingkat kematangan clasper hiu lanjaman lebih
banyak berada pada fase Full-Calcified (FC), dengan persentase 46,79%.
Sedangkan hiu martil juga berada pada fase yang sama atau Full-Calcified (FC)
dengan persentase sebesar 45,90%. Sementara itu, untuk hiu lanjaman betina,
berdasarkan tingkat kematangan seksualnya 75,93% didominasi oleh hiu yang
belum dewasa atau belum matang secara seksual (immature). Sedangkan untuk
hiu martil betina 53,58% didominasi oleh hiu yang belum dewasa atau belum
matang secara seksual (immature).
Berdasarkan hasil analisis bioekonomi, dengan menggunakan pendekatan
model surplus produksi Fox menunjukkan bahwa jumlah produksi dan effort
aktual hiu lanjaman (C. falciformis) masih berada dibawah jumlah produksi dan
effort pada kondisi MSY dan MEY. Ini mengindikasikan bahwa tingkat
eksploitasi yang dilakukan nelayan Tanjung Luar belum mengalami overfishing
baik secara biologi (biological overfishing) maupun secara ekonomi (economic
overfishing). Namun kalau dicermati perbandingan tingkat effort pada kondisi
aktual dengan tingkat effort pada kondisi MSY terhadap jumlah produksi yang
dihasilkan terlihat bahwa tingkat produktivitas yang dihasilkan pada kondisi
aktual tergolong tinggi dan hampir mendekati jumlah produksi pada kondisi MSY,
meskipun dengan tingkat effort yang lebih kecil.
Sedangkan untuk hiu martil (S. lewini), berdasarkan hasil analisis
bioekonomi dengan menggunakan pendekatan model surplus produksi Schnute
menunjukkan bahwa jumlah produksi aktual masih berada di bawah jumlah
produksi pada kondisi MSY dan MEY. Ini berarti bahwa dari sisi jumlah
produksi, eksploitasi yang dilakukan nelayan Tanjung Luar belum mengalami
overfishing (biological overfishing). Namun dilihat dari effort yang digunakan
dalam melakukan aktivitas penangkapan, tingkat effort yang digunakan nelayan
Tanjung Luar tergolong sangat tinggi karena sudah melebihi tingkat effort pada
kondisi MEY, MSY bahkan Open Access. Ini menunjukkan bahwa aktivitas
penangkapan hiu martil (S. lewini) yang dilakukan nelayan Tanjung Luar sudah
mengalami economic overfishing, dimana ada pengalokasian faktor produksi
melebihi dari yang seharusnya untuk menghasilkan jumlah produksi tertentu
dalam kegiatan penangkapan hiu martil (S. lewini) di Tanjung Luar.
Berdasarkan hasil analisis optimasi dinamik, jika dilihat dari biomassa dan
jumlah produksinya baik untuk hiu lanjaman (C. falciformis) maupun hiu martil
(S. lewini) menunjukkan kecenderungan penurunan jumlah produksi dan
biomassa sejalan dengan peningkatan nilai discount rate. Hal ini karena tingkat
discount rate yang tinggi akan memacu terjadinya peningkatan laju eksploitasi
terhadap sumberdaya menjadi semakin tinggi dan akan memperbesar tekanan
terhadap sumberdaya. Tingkat eksploitasi yang berlebihan dalam jangka panjang
akan berdampak pada penurunan nilai rente ekonomi karena biaya yang harus
dikeluarkan akan semakin besar dan tidak sebanding dengan hasil produksi yang
diperoleh.
Hasil simulasi model dinamik untuk hiu lanjaman (C. falciformis) dan hiu
martil (S. lewini) dengan menggunakan pendekatan model surplus produksi Fox
dan schnute, kedua spesies mengindikasikan adanya kecenderungan penurunan
biomassa/stok akibat upaya pemanfaatan yang berlebihan. Namun kecenderungan
penurunan biomassa ini lebih signifikan terjadi pada hiu martil dibandingkan
dengan hiu lanjaman. Hal ini karena tekanan penangkapan pada hiu martil lebih
besar dibandingkan dengan tekanan penangkapan pada hiu lanjaman..
Beberapa opsi pengelolaan yang diperlukan untuk menjaga kelestarian dan
keberlanjutan perikanan hiu di Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur, di masa
mendatang diantaranya adalah penghentian aktivitas penangkapan (Moratorium),
pembatasan upaya penangkapan, ukuran hasil tangkapan dan pengaturan wilayah
penangkapan (fishing ground), serta menetapkan program prioritas yang
mendukung keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya perikanan hiu
lanjaman dan hiu martil melalui diversifikasi usaha perikanan, penyediaan
alternatif pendapatan bagi nelayan, penegakan aturan terkait kesesuaian
dokumen pelayaran, pengunaan alat tangkap yang selektif, sinergitas kebijakan
dan kelembagaan pengelolaan perikanan, penyusunan dan penetapan Rencana
Pengelolaan Perikanan (RPP) sebagai acuan dalam pengelolaan perikanan,
membuka akses pendidikan yang luas bagi anak-anak nelayan, mendorong
partisipasi keluarga dalam pemanfaatan hasil perikanan dan melarang menangkap
atau melepaskan kembali spesies ETP jika tertangka
Determinan Emisi Gas Karbon Dioksida dalam Teori Pertumbuhan Ekonomi Endogen
Revolusi industri yang menggantikan sebagian besar tenaga kerja menjadi mesin memiliki dampak terhadap degradasi lingkungan. Pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh kegiatan produksi secara masif dengan mesin bersifat trade off terhadap degradasi lingkungan. Permasalahan lingkungan yang utama adalah pengaruh emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global dan berpengaruh terhadap perubahan iklim. Komposisi emisi gas rumah kaca terbesar berasal dari emisi gas karbon dioksida yang menempati pangsa sebesar 73%, sehingga emisi gas karbon dioksida menjadi relevan untuk diminimalisir emisinya dalam proses produksi.
Penelitian ini bertujuan untuk 1) Menganalisis hubungan antara pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat emis gas karbon dioksida di masing-masing kelompok negara berpendapatan rendah hingga tinggi 2) Menganalisis keterkaitan variabel-variabel determinan emisi gas karbon dioksida terhadap tingkat emisi gas karbon dioksida di masing-masing kelompok negara berpendapatan rendah hingga tinggi
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif yang menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensia. Analisis statistik Inferensia yang digunakan adalah analisis Instrumental Variable Panel Data, yang menganalisis dua model empiris yang dibangun dalam penelitian ini.
Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa di kelompok negara yang memiliki pendapatan per kapita tinggi, hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan emisi gas karbon dioksida bersifat negatif, sedangkan kelompok negara yang memiliki pendapatan per kapita rendah dan menengah menunjukkan hubungan positif antara pertumbuhan ekonomi dan emisi gas karbon dioksida. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi oleh kelompok negara berpendapatan menengah keatas hingga tinggi bersifat ramah lingkungan, sedangkan di kelompok negara berpendapatan rendah menunjukkan hal sebaliknya. Sedangkan variabel seperti HDI menunjukkan hubungan yang negatif terhadap emisi gas karbon dioksida di kelompok negara berpendapatan menengah keatas, dan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa HDI bersifat sebagai variabel yang berpengaruh terhadap pengurangan emisi gas karbon dioksida. Selain itu juga HDI berpengaruh positif terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi dalam model empiris 2. Fenomena ini menunjukkan bahwa peran HDI yang meningkatkan pertumbuhan ekonomi juga memiliki peran sebagai pengurang emisi gas karbon dioksida. Penelitian ini juga menggunakan variabel determinan lain yang dianggap memiliki hubungan emisi gas karbon dioksida yang memiliki respon terhadap emisi gas karbon dioksida yang berbeda-beda di masing-masing kelompok negara
Analisis Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Wana Wisata Curug Cilember Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Wana wisata merupakan objek wisata alam yang dibangun dan dikembangkan oleh
Perum Perhutani di dalam kawasan Hutan Produksi dan Lindung dan tidak merubah fungsi
pokok dari hutan tersebut. Pengelolaan wana wisata pun tidak lepas dari peran atau
kontribusi yang diberikan oleh beberapa pihak terutama masyarakat sekitar wana wisata.
Ada atau tidaknya partisipasi dari masyarakat merupakan suatu hal penting bagi
keberhasilan program pengembangan wisata di masa yang akan datang. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi dalam
pengelolaan Wana Wisata Curug Cilember. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode survei dengan pendekatan kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif
melalui wawancara mendalam dan studi literatur. Lokasi penelitian ini berada di Desa
Jogjogan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa terdapat pengaruh faktor internal dan faktor eksternal terhadap tingkat
partisipasi masyarakat, faktor internal yang berpengaruh yaitu pada variabel jenis
pekerjaan, kemampuan individu dan kemauan individu, sedangkan semua variabel faktor
eksternal (tingkat akses dalam pengelolaan wana wisata dan interaksi yang terjalin antara
pengelola dan masyarakat) berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat. Manfaat yang
dirasakan warga adalah manfaat ekonomi dan sosial
Potensi Regenerasi alami Shorea leprosula Miq. di Hutan Penelitian Gunung Dahu, Leuwiliang, Kabupaten Bogor.
Pembangunan hutan tanaman merupakan salah satu upaya konservasi ex-situ. Pengelolaan hutan tanaman lestari salah satu indikatornya adalah terciptanya regenerasi alami yang dicirikan pertumbuhan permudaan alami dan keanekaragaman jenisnya. Hutan Penelitian Gunung Dahu merupakan salah satu bentuk pembangunan hutan tanaman Dipterocarpaceae yang memiliki potensi regenerasi alami. Penelitian ini bertujuan mengkaji potensi regenerasi alami dan faktor lingkungan yang mempengaruhi regenerasi S. leprosula di Hutan Penelitian Gunung Dahu. Hasil penelitian menunjukkan regenerasi alami pada petak 2 dan petak 5 memiliki jumlah terbanyak dengan keterbukaan tajuk 20 % 25 %. Ketinggian tempat kurang mendukung regenerasi alami S. leprosula. Regenerasi alami tingkat semai ditemukan dalam jumlah yang banyak, namun tingkat pancang ditemukan dalam jumlah yang sedikit