31665 research outputs found
Sort by
Implementasi Program Bantuan Premi Asuransi Nelayan di Pelabuhan Perikanan Pantai Lempasing, Lampung
Program Bantuan Premi Asuransi Nelayan (BPAN) adalah bantuan pembayaran
premi asuransi yang diberikan pemerintah kepada nelayan yang tertanggung.
Nelayan di PPP Lempasing belum semuanya merasakan manfaat dan ikut terlibat
dalam program BPAN. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui implementasi
program BPAN di PPP Lempasing, mengetahui persepsi nelayan terhadap program
BPAN di PPP Lempasing dan mengidentifikasi kendala dalam pelaksanaan
program BPAN di PPP Lempasing. Metode penelitian yang digunakan adalah studi
kasus, teknik pengumpulan data menggunakan random sampling dan purposive
sampling, analisis yang digunakan adalah analisis kesesuaian dan analisis
deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program BPAN
telah sesuai dengan juknis yang berlaku, program BPAN dirasa perlu untuk
memberikan perlindugan bagi nelayan akan tetapi, kendala yang dialami dalam
pelaksanaan program BPAN menurut pelaksana program antara lain kurangnya
pengetahuan nelayan mengenai program BPAN, kurangnya antusiasme nelayan
dalam ikut serta dalam sosialisasi dan kurangnya sarana untuk pelaksanaan program
BPAN
Pengaruh Ameliorasi Dolomit, Kompos, dan Arang Sekam terhadap Ketersediaan Cu dan Zn pada Latosol dan Podsolik dengan Kejenuhan Aluminium Berbeda.
Budidaya tanaman pada tanah masam di Indonesia dihadapkan pada
berbagai faktor pembatas kesuburan tanah yang meliputi reaksi masam, kejenuhan
aluminium tinggi, serta kadar bahan organik dan hara esensial rendah. Hal ini
berdampak pada rendahnya efisiensi pemupukan. Pertumbuhan dan produktivitas
tanaman yang optimum hanya dapat dicapai jika semua hara esensial dalam tanah,
termasuk hara mikro Cu dan Zn, berada dalam kadar cukup dan dalam bentuk
kimia tersedia. Ameliorasi dolomit, kompos, atau arang sekam diharapkan dapat
mengatasi faktor pembatas tersebut pada tanah masam di Indonesia. Tujuan
penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ameliorasi dolomit, kompos, atau arang
sekam terhadap ketersediaan hara mikro Cu dan Zn pada tiga tanah dengan
kejenuhan Al berbeda. Percobaan faktor tunggal ameliorasi dolomit, kompos atau
arang sekam dengan 11 taraf dan 3 ulangan dilakukan di rumah kaca pada Latosol,
Podsolik 1, dan Podsolik 2, berturut-turut dengan tingkat kejenuhan Al 42%, 52%,
dan 81%, sehingga secara keseluruhan terdiri dari 297 satuan percobaan. Inkubasi
perlakuan dilakukan selama 30 hari pada kondisi kadar air kapasitas lapang.
Analisis ketersediaan Cu dan Zn tanah dilakukan menggunakan pengekstrak
DTPA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ameliorasi dolomit, kompos, atau
arang sekam secara umum menurunkan ketersediaan Cu pada Latosol, namun
sebaliknya pada Podsolik 1 dan Podsolik 2, kecuali ameliorasi kompos yang
meningkatkan ketersediaan Cu hingga dosis tertentu dan sebaliknya pada dosis
yang lebih tinggi. Demikian pula halnya dengan ameliorasi dolomit, kompos, atau
arang sekam hingga dosis tertentu meningkatkan ketersediaan Zn pada Podsolik 1
dan Podsolik 2, namun menurunkan ketersediaan Zn pada Latosol. Dinamika
ketersediaan Cu dan Zn pada penelitian ini berhubungan dengan dinamika pH
tanah
Model Spasial Potensi Deforestasi 2020 & 2024 dan Pendekatan Pencegahannya, Kabupaten Kutai Barat
Kalimantan Timur periode 2006 – 2016 mengalami deforestasi rata-rata
pertahun sebesar 70.091,7 ha. Kabupaten Kutai Barat merupakan kabupaten
dengan kondisi wilayah tutupan hutan tinggi dengan laju deforestasi tinggi.
Penggerak roda perekonomian utama di Kabupaten Kutai Barat merupakan
tambang barubara dan perkebunan kelapa sawit, dimana kedua sektor ini
merupakan pendorong utama deforestasi yang terjadi di Kalimantan Timur.
Tujuan dari penelitian ini adalah Membuat model spasial distribusi potensi
deforestasi tahun 2020 dan 2024, Analisa faktor pendorong deforestasi, menyusun
dan memetakan pendekatan penurunan deforestasi.
Pemodelan deforestasi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak
MaxEnt dan Zonation. Pemodelan menggunakan data sampel deforestasi dari peta
tutupan lahan/hutan tahun 2009, 2013 dan 2016 dan data spatsial variabel
lingkungan diantaranya: jarak dari jalan, jarak dari permukiman, jarak dari
deforestasi sebelumnya, elevasi, RTRW, konsesi perkebunan sawit, konsesi HPH,
konsesi HTI, konsesi tambang dan kepadatan penduduk. Laju deforestasi
dihitung dengan menggunakan formula Puyravaud (2003) dan digunakan untuk
menduga potensi deforestasi pada tahun 2020 dan 2024. Faktor pendorong
deforestasi dianalisa dari hasil matrik perubahan hutan dan lahan. Pendekatan
strategi pencegahan atau pengurangan deforestasi dengan overlay hasil pemodelan
potensi deforestasi tahun 2020 & 2024 dengan peta pola ruang RTRW.
Model yang dihasilkan memilki kinerja yang bagus dengan nilai AUC 0,873
dengan standar deviasi 0,023. Hasil validasi menunjukan akurasi yang sangat
bagus untuk prediksi luasan yang akan terdeforestasi sebesar 94%, akurasi
distribusi spasial model sebesar 31%. Variabel lingkungan yang memiliki
kontribusi cukup tinggi terhadap hasil pemodelan adalah jarak dari deforestasi
sebelumnya 37,4%, konsesi perkebunan sawit sebesar 26,9% dan jarak dari
permukiman sebesar 14,1%.
Potensi deforestasi di kabupaten Kutai Barat dengan menggunakan laju
deforestasi sebesar 2,46%, kabupaten Kutai Barat berpotensi terdeforestasi
sebesar 85.908 ha dari tahun 2016 sampai 2020 dan 171.778 ha sampai tahun
2024. Kebutuhan lahan untuk perkebunan sawit, lahan pertanian, kebun karet,
HTI dan tambang menjadi pendorong terjadinya deforestasi. Perkebunan sawit,
kebun karet, lahan pertanian dan tambang juga menjadi pendorong tidak lansung
terjadinya deforestasi di kabupaten Kutai Barat. Pendekatan pencegahan
deforestasi berdasarkan kawasan pada pola ruang RTRW Kabupaten Kutai Barat.
Pemberian izin perhutanan social diharapkan dapat mencegah potensi deforestasi
sampai 120.861 ha yang berada pada KBK Hutan Produksi, KBK Hutan Produksi
Terbatas dan Hutan Lindung. Program intensifikasi penggunaan lahan masyarakat
diharapkan dapat memberkan kontribusi pengurangan deforestasi sebesar 30.316
ha pada KBNK Pertanian Lahan Kering. Penerapan KBKT pada KBNK
Perkebunan diharapkan dapat mencegah potensi deforestasi sebesar 20.120 ha
Karakterisasi Kitin dan Kitosan Hasil Moulting Ulat Tepung (Tenebrio molitor).
Ulat tepung (Tenebrio molitor) merupakan serangga dengan kulit
mengandung kitin sehingga dapat dijadikan sebagai kitosan. Ulat tepung rata-rata
mengalami 15 kali moulting sebelum berubah menjadi pupa. Hasil moulting ulat
tepung tersusun dari kitin yang dapat diekstrak menjadi kitosan. Proses ekstraksi
untuk mendapatkan kitin dan kitosan melalui tahap demineralisasi, deproteinisasi,
depigmentasi, dan deasetilasi. Proses deproteinisasi dan deasetilasi menggunakan 2
larutan basa yang berbeda yaitu NaOH dan KOH dengan konsentrasi yang sama.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kualitas kitin dari larutan NaOH dan KOH
berturut-turut yaitu rendemen 14.77% dan 17.33%, kadar air 9.58% dan 9.48%,
kadar abu 1.33% dan 2.35%, kadar nitrogen 5.21% dan 5.92%, derajat deasetilasi
63.35% dan 13.24%,bentuk partikel granular, serta berwarna cokelat tua. Hasil
penelitian terhadap kualitas kitosan yang dihasilkan dari larutan NaOH dan KOH
berturut-turut yaitu rendemen 7.04% dan 5.46%, kadar air 8.25 dan 8.43%, kadar
abu 0.75% dan 1.50%, kadar nitrogen 3.36% dan 3.96%, derajat deasetilasi 66.70%
dan 66.58%, berbentuk granular, serta berwarna cokelat muda. Hasil moulting ulat
tepung dapat menjadi sumber kitin dan kitosan dengan perbaikan teknik ekstraksi
supaya kualitas yang dihasilkan memenuhi standar yang berlaku
Analisis Kepuasan dan Loyalitas Konsumen Produk Minuman Nyoklat Klasik pada Mahasiswa Institut Pertanian Bogor Dramaga
Produk minuman Nyoklat Klasik merupakan salah satu jenis usaha yang
berkonsep waralaba dan memiliki gerai di Dramaga. Usaha waralaba minuman
cokelat siap saji semakin banyak diminati oleh pelaku usaha dan terus
berkembang di Indonesia. Pihak manajemen produk minuman Nyoklat Klasik
perlu mengetahui kebutuhan dan keinginan konsumen. Oleh karena itu, penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis kepuasan konsumen , loyalitas konsumen serta
hubungan kepuasan dengan loyalitas konsumen. Metode yang digunakan adalah
analisis deskriptif, Uji Wilcoxon, Customer Satifacion Index, Customer Loyality
Index, dan Analisis Korelasi Rank Spearman dengan melibatkan 102 responden.
Hasil perhitungan CSI sebesar 81.85 persen menunjukkan bahwa sebagian besar
konsumen merasa sangat puas dengan kinerja yang diberikan oleh produk
minuman Nyoklat Klasik. Sebagian besar konsumen tergolong Satified Buyer,
yaitu konsumen yang puas dengan merek yang mereka konsumsi tetapi dapat saja
berpindah merek dengan menanggung switching cost. Uji korelasi rank spearman
menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kepuasan dengan loyalitas
konsumen produk minuman Nyoklat Klasik
Pemetaan Jasa Lanskap Perdesaan DAS Cisadane di Desa Sukadamai dan Bantarsari, Kabupaten Bogor
Kondisi biofisik yang beragam dari lanskap perdesaan yang berupa lahan
pertanian, kawasan hutan, pekarangan dan ladang mempunyai manfaat besar
terhadap kehidupan alam, menjaga kelestarian lingkungan. Setiap desa memiliki
berbagai bentuk dan fungsi lanskap yang khas seperti pemukiman, produksi
pangan, konservasi sumber daya alam, menjaga kualitas air dan udara,
keindahan/rekreasi, habitat satwa, dan pelestarian budaya. Tujuan dari penelitian
ini adalah mendapatkan data karakter spasial lanskap desa, mendapatkan data
potensi jasa lanskap desa, mendapatkan potensi nilai ekonomi jasa lanskap desa dan
menyusun rekomendasi pengelolaan jasa lanskap desa di Desa Sukadamai dan Desa
Bantarsari.
Penelitian dilaksanakan pada bulan April–Agustus 2018 di Desa Sukadamai
Kecamatan Dramaga dan Desa Bantarsari Kecamatan Rancabungur, Kabupaten
Bogor. Data yang digunakan adalah data karakter spasial dan data jasa lanskap.
Peta citra drone dan peta tutupan lahan Desa Sukadamai dan Desa Bantarsari
diperoleh dari PSP3 IPB dan pemerintah desa. Prosedur penelitian ini yaitu
melakukan pengamatan karakteristik spasial desa, menganalisis potensi jasa
lanskap desa, menghitung nilai ekonomi jasa lanskap dan membuat rekomendasi
pengelolaan jasa lanskap.
Hasil penelitian menunjukkan karakteristik spasial Desa Sukadamai dan
Bantarsari adalah lanskap pertanian yang terdiri dari kebun campuran, lahan
pertanian dan kebun kelapa sawit dan permukiman. Luasan lahan pertanian di Desa
Sukadamai mencapai 76%, sedangkan di Desa Bantarsari 80% berupa lahan
pertanian dan perkebunan sawit. Biodiversitasnya diidentifikasi sebanyak 106
spesies tumbuhan dari 43 famili yang diklasifikasikan dalam 9 kategori berdasarkan
fungsi tumbuhan dan 5 stratum berdasar strata vertikal. Nilai indeks Keragaman
Shanon-Wiener (H’) antara 2.78 – 3.20, dan cadangan karbon di Desa Sukadamai
sebesar 5 694.62 Mg dan Desa Bantarsari 4 360.55 Mg. Nilai ekonomi jasa lanskap
dari produksi tanaman, penggunaan air rumah tangga dan cadangan karbon di Desa
Sukadamai sebesar Rp 26 450 575 966/tahun dan Desa Bantarsari sebesar Rp 20
681 583 025/tahun. Nilai ekonomi rata-rata dalam satu tahun per hektar di Desa
Sukadamai pada kebun campuran sebesar Rp 135 643 096 dan lahan pertanian Rp
99 866 414 sedangkan Desa Bantarsari sebesar Rp 60 708 333 dan Rp 172 016 667.
Berdasarkan hasil dari penelitian ini, pengelolaan jasa lanskap dapat
dilakukan dengan (1) melakukan optimalisasi pengelolaan lanskap Desa Sukadamai
dan Bantarsari yang mempunyai keunggulan pada sektor pertanian, (2) melakukan
seleksi tumbuhan yang memiliki nilai jasa lanskap yang tinggi (3) membuat
perencanaan pembangunan dan pengembangan desa secara terarah dengan
melibatkan elemen-desa desa, mengacu pada fungsi dan tujuan utama desa dengan
memperhatikan kemampuan ekologis lanskap desa
Analisis Biaya dan Analisis Finansial Pengelolaan Minyak Kayu Putih di KPH Yogyakarta.
Minyak kayu putih merupakan hasil hutan bukan kayu yang masih memiliki
potensi besar. Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Yogyakarta merupakan salah
satu usaha penyulingan minyak kayu putih yang ada di Indonesia. Produksi minyak
kayu putih dihasilkan dari Pabrik Penyulingan Minyak Kayu Putih Sendang Mole
dan Pabrik Penyulingan Minyak Kayu Putih Gelaran dengan produksi rata-rata
sebesar 41 741.20 liter dari 4 339.90 ton daun (2014 – 2018). Penelitian ini
bertujuan menghitung biaya total pengelolaan minyak kayu putih, menganalisis
tingkat kelayakan finansial dan menganalisis tingkat sensitivitas terhadap
penurunan pendapatan dan kenaikan biaya. Hasil dari perhitungan biaya total
diperoleh sebesar Rp 1 401 580/jam, sementara hasil analisis tingkat kelayakan
finansial menggunakan parameter Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio
(BCR), Internal Rate of Return (IRR) dan Payback Period (PP) menunjukkan usaha
minyak kayu putih oleh KPH Yogyakarta layak untuk dijalankan dengan nilai NPV
sebesar Rp 19 658 558 028, BCR sebesar 1.27, IRR sebesar 11.27% dan PP selama
8 tahun 10 bulan. Melalui analisis tingkat sensitivitas, perubahan maksimum yang
dapat ditoleransi terhadap penurunan pendapatan sebesar 21.37% dan kenaikan
biaya sebesar 26.92%
Kontribusi Program Hutan Kemasyarakatan terhadap Pendapatan Masyarakat di Nagari Aie Dingin Kabupaten Solok
Nagari Aie Dingin di Kabupaten Solok merupakan salah satu daerah yang
melaksanakan Program Hutan Kemasyarakatan, namun belum diketahui kontribusi
dari program Hutan Kemasyarakatan terhadap pendapatan masyarakat. Tujuan
penelitian adalah (1) mengidentifikasi karakteristik masyarakat, (2)
mengidentifikasi pola pemanfaatan lahan oleh masyarakat (3) menganalisis
kontribusi program Hutan Kemasyarakatan terhadap kesejahteraan masyarakat.
Penelitian dilakukan dengan metode survey, dimana responden dipilih secara
purposive sampling sebanyak 74 orang yang merupakan peserta HKm sekaligus
anggota Koperasi Solok Radjo. Responden yang diwawancarai sebagian besar
berumur 31-40 tahun (35.14%) dengan tingkat pendidikan terbanyak merupakan
lulusan SMP (27.03%). Pekerjaan utama responden adalah petani yang didominasi
oleh Suku Bendang dan Suku Kutianyie. Pola tanam yang dilakukan masyarakat
sebagian besar adalah kopi dan bawang merah. Kontribusi Program Hutan
Kemasyarakatan terhadap pendapatan masyarakat tergolong tinggi (64.26%) dan
kesejahteraan masyarakat tergolong hidup layak
Pengelolaan Hutan Tanaman Rakyat Mangrove sebagai Penghasil Bahan Baku Arang di Kabupaten Karimun: Persepsi Masyarakat, Aspek Teknis dan Kelayakan Usaha
Pemanfaatan mangrove sebagai bahan baku arang di Kepulauan Riau secara
perorangan telah dilakukan sejak tahun 1930-an, namun demikian pemanfaatan
melalui skema Hutan Tanaman Rakyat (HTR) dimulai tahun 2010 dengan terbitnya
Surat Keputusan (SK) nomor 192/2010 dari Bupati Kabupaten Karimun kepada
Koperasi Wana Jaya Karimun (WJK) seluas 9.335 ha. Pengelolaan HTR Mangrove
di Kabupaten Karimun dilakukan secara tradisional dan melibatkan kearifan lokal.
Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah memiliki persepsi terhadap pilihan
pengelolaan yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Pengelolaan HTR
mangrove bersifat padat karya, melibatkan 20-30 orang pengrajin arang dalam
setiap panglong dimana usaha arang terbukti memberikan manfaat ekonomi bagi
masyarakat sekitar hutan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji persepsi
masyarakat sekitar hutan terhadap ketentuan pengelolaan HTR, mengetahui praktik
pengelolaan HTR mangrove dan praktik pembuatan arang bakau, serta
menganalisis kelayakan usaha arang bakau dari pengelolaan HTR mangrove di
Kabupaten Karimun.
Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau
pada bulan Juni s.d Juli 2018. Responden untuk keperluan kuisioner dan wawancara
dipilih dari masyarakat yang pekerjaan utamanya sebagai pengrajin panglong
secara acak sebanyak 30 orang. Narasumber dipilih secara purposive dari instansi
yang bertugas memberi pembinaan dan pengawasan terhadap pengelolaan HTR di
Kabupaten Karimun. Persepsi masyarakat diperoleh melalui analisis deskriptif
dengan perhitungan skor dari setiap variabel dan total skor dari seluruh variabel
menggunakan skala Likert. Semakin tinggi nilai skor maka tingkat persepsi
masyarakat semakin tinggi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga kategori
yaitu tingkat persepsi rendah, sedang dan tinggi. Praktik pengelolaan HTR
mangrove dan proses pembuatan arang dilakukan dengan analisis deskriptif,
Adapun kelayakan usaha arang diperoleh melalui analisis finansial dengan kriteria
Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR) dan Internal Rate of Return
(IRR).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat sekitar hutan
dikategorikan kurang paham terhadap alokasi lahan HTR, proses perizinan, jangka
waktu dan luas areal pengusahaan, hak dan kewajiban, pemasaran, kelembagaan,
sosialisasi/pendampingan/penyuluhan program HTR, dukungan pemerintah dan
LSM. Adapun persepsi masyarakat sekitar hutan terhadap pengetahuan tentang
HTR, pola HTR, jenis tanaman dan pewarisan izin dikategorikan paham. Persepsi
masyarakat terhadap persyaratan izin dan pendamping HTR dikategorikan tidak
paham. Persepsi masyarakat sekitar hutan terhadap ketentuan pengelolaan HTR
secara keseluruhan pada kategori kurang paham sebanyak 46,67%, kategori tidak
paham sebanyak 36,67% dan kategori paham sebanyak 16,67% responden.
Praktik pengelolaan HTR mangrove melibatkan kearifan lokal meliputi
pemanenan selektif pada cabang dan terubusan mangrove (diameter minimal 10
cm), menggunakan peralatan manual (gergaji, kapak dan parang) dan sedapat
mungkin dilakukan pada musim bulan pasang siang untuk memudahkan bongkar
muat dan pengangkutan kayu. Arang bakau diproduksi melalui proses tradisional
tanpa penambahan zat kimia apapun sehingga menghasilkan rendeman yang rendah
(20%) dan membutuhkan waktu yang relatif lama (3-4 bulan/siklus). Tahapan satu
siklus pengarangan meliputi persiapan pengarangan, proses pengarangan dan
pendinginan arang. Kualitas arang bakau telah memenuhi syarat SNI dan sebagian
besar untuk tujuan ekspor. Perlu dilakukan pelatihan, penyuluhan dan
pendampingan pada pengrajin arang dalam rangka perbaikan proses produksi arang
bakau untuk meningkatkan rendemen dan kualitas arang bakau serta kemungkinan
diversifikasi produk dari proses pengarangan.
Arang bakau layak diusahakan secara finansial dengan nilai NPV
Rp. 256.880.616, nilai BCR sebesar 1,13 dan nilai IRR sebesar 29,79%. Hasil
analisis sensitivitas menunjukkan bahwa keuntungan finansial usaha arang bakau
sangat rentan terhadap perubahan harga jual arang dan kenaikan biaya produksi.
Branding terhadap produksi arang melalui pengemasan arang yang menarik dan
pemberian merek dagang atas nama Koperasi WJK perlu dilakukan, selain itu juga
pentingnya penggunaan teknologi informasi untuk memperluas jaringan
pemasaran
Karakteristik Prill Fat sebagai Sumber Asam Lemak Tinggi Palmitat pada Ransum Ruminansia
Prill fat adalah minyak nabati yang tidak terhidrogenasi dan mengandung lebih dari 85% asam palmitat dengan titik leleh yang tinggi. Oleh karena itu, prill fat tidak meleleh pada suhu rumen dan dapat bypass di dalam rumen. Penelitian ini dilakukan untuk mengukur karakteristik lemak tinggi asam palmitat secara fisik dan penggunaannya pada ruminansia. Penelitian dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ternak Perah dan Industri Pakan, Fakultas Peternakan IPB. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan: P1 (kontrol tanpa perlakuan), P2 (kontrol + 2% lemak tinggi asam palmitat 78%), P3 (kontrol + 2% lemak tinggi asam palmitat 86%), P4 (kontrol + 2% lemak tinggi asam palmitat 96%). Variabel yang diamati meliputi karakteristik fermentasi rumen (Volatile fatty acid/VFA dan konsentrasi NH3), kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, dan karakteristik fisik dari prill fat. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan hasil yang signifikan diantara perlakuan diuji lanjut menggunakan Duncan. Prill fat sebagai suplemen tinggi palmitat memiliki karakteristik fisik yang baik dengan ukuran partikel yang sesuai untuk pakan ruminansia (200-1200 μm) dan kadar air dibawah 14%, sehingga penyimpanan dapat dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Suplementasi prill fat berbeda nyata terhadap konsentrasi VFA total (P<0.01) dan kecernaan bahan kering (P<0.05). Suplementasi tidak memberikan pengaruh terhadap konsentrasi NH3 dan kecernaan bahan organik. Analisis menggunakan uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa suplementasi prill fat 96% palmitat pada taraf 2% meningkatkan konsentrasi VFA dan kecernaan bahan kering. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa penambahan lemak dengan kandungan asam palmitat 96% pada taraf pemberian 2% meningkatkan fermentabilitas dan kecernaan in vitro ruminansia