Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Implementasi Program Bantuan Premi Asuransi Nelayan di Pelabuhan Perikanan Pantai Lempasing, Lampung

    No full text
    Program Bantuan Premi Asuransi Nelayan (BPAN) adalah bantuan pembayaran premi asuransi yang diberikan pemerintah kepada nelayan yang tertanggung. Nelayan di PPP Lempasing belum semuanya merasakan manfaat dan ikut terlibat dalam program BPAN. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui implementasi program BPAN di PPP Lempasing, mengetahui persepsi nelayan terhadap program BPAN di PPP Lempasing dan mengidentifikasi kendala dalam pelaksanaan program BPAN di PPP Lempasing. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus, teknik pengumpulan data menggunakan random sampling dan purposive sampling, analisis yang digunakan adalah analisis kesesuaian dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program BPAN telah sesuai dengan juknis yang berlaku, program BPAN dirasa perlu untuk memberikan perlindugan bagi nelayan akan tetapi, kendala yang dialami dalam pelaksanaan program BPAN menurut pelaksana program antara lain kurangnya pengetahuan nelayan mengenai program BPAN, kurangnya antusiasme nelayan dalam ikut serta dalam sosialisasi dan kurangnya sarana untuk pelaksanaan program BPAN

    Pengaruh Ameliorasi Dolomit, Kompos, dan Arang Sekam terhadap Ketersediaan Cu dan Zn pada Latosol dan Podsolik dengan Kejenuhan Aluminium Berbeda.

    No full text
    Budidaya tanaman pada tanah masam di Indonesia dihadapkan pada berbagai faktor pembatas kesuburan tanah yang meliputi reaksi masam, kejenuhan aluminium tinggi, serta kadar bahan organik dan hara esensial rendah. Hal ini berdampak pada rendahnya efisiensi pemupukan. Pertumbuhan dan produktivitas tanaman yang optimum hanya dapat dicapai jika semua hara esensial dalam tanah, termasuk hara mikro Cu dan Zn, berada dalam kadar cukup dan dalam bentuk kimia tersedia. Ameliorasi dolomit, kompos, atau arang sekam diharapkan dapat mengatasi faktor pembatas tersebut pada tanah masam di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ameliorasi dolomit, kompos, atau arang sekam terhadap ketersediaan hara mikro Cu dan Zn pada tiga tanah dengan kejenuhan Al berbeda. Percobaan faktor tunggal ameliorasi dolomit, kompos atau arang sekam dengan 11 taraf dan 3 ulangan dilakukan di rumah kaca pada Latosol, Podsolik 1, dan Podsolik 2, berturut-turut dengan tingkat kejenuhan Al 42%, 52%, dan 81%, sehingga secara keseluruhan terdiri dari 297 satuan percobaan. Inkubasi perlakuan dilakukan selama 30 hari pada kondisi kadar air kapasitas lapang. Analisis ketersediaan Cu dan Zn tanah dilakukan menggunakan pengekstrak DTPA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ameliorasi dolomit, kompos, atau arang sekam secara umum menurunkan ketersediaan Cu pada Latosol, namun sebaliknya pada Podsolik 1 dan Podsolik 2, kecuali ameliorasi kompos yang meningkatkan ketersediaan Cu hingga dosis tertentu dan sebaliknya pada dosis yang lebih tinggi. Demikian pula halnya dengan ameliorasi dolomit, kompos, atau arang sekam hingga dosis tertentu meningkatkan ketersediaan Zn pada Podsolik 1 dan Podsolik 2, namun menurunkan ketersediaan Zn pada Latosol. Dinamika ketersediaan Cu dan Zn pada penelitian ini berhubungan dengan dinamika pH tanah

    Model Spasial Potensi Deforestasi 2020 & 2024 dan Pendekatan Pencegahannya, Kabupaten Kutai Barat

    No full text
    Kalimantan Timur periode 2006 – 2016 mengalami deforestasi rata-rata pertahun sebesar 70.091,7 ha. Kabupaten Kutai Barat merupakan kabupaten dengan kondisi wilayah tutupan hutan tinggi dengan laju deforestasi tinggi. Penggerak roda perekonomian utama di Kabupaten Kutai Barat merupakan tambang barubara dan perkebunan kelapa sawit, dimana kedua sektor ini merupakan pendorong utama deforestasi yang terjadi di Kalimantan Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah Membuat model spasial distribusi potensi deforestasi tahun 2020 dan 2024, Analisa faktor pendorong deforestasi, menyusun dan memetakan pendekatan penurunan deforestasi. Pemodelan deforestasi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak MaxEnt dan Zonation. Pemodelan menggunakan data sampel deforestasi dari peta tutupan lahan/hutan tahun 2009, 2013 dan 2016 dan data spatsial variabel lingkungan diantaranya: jarak dari jalan, jarak dari permukiman, jarak dari deforestasi sebelumnya, elevasi, RTRW, konsesi perkebunan sawit, konsesi HPH, konsesi HTI, konsesi tambang dan kepadatan penduduk. Laju deforestasi dihitung dengan menggunakan formula Puyravaud (2003) dan digunakan untuk menduga potensi deforestasi pada tahun 2020 dan 2024. Faktor pendorong deforestasi dianalisa dari hasil matrik perubahan hutan dan lahan. Pendekatan strategi pencegahan atau pengurangan deforestasi dengan overlay hasil pemodelan potensi deforestasi tahun 2020 & 2024 dengan peta pola ruang RTRW. Model yang dihasilkan memilki kinerja yang bagus dengan nilai AUC 0,873 dengan standar deviasi 0,023. Hasil validasi menunjukan akurasi yang sangat bagus untuk prediksi luasan yang akan terdeforestasi sebesar 94%, akurasi distribusi spasial model sebesar 31%. Variabel lingkungan yang memiliki kontribusi cukup tinggi terhadap hasil pemodelan adalah jarak dari deforestasi sebelumnya 37,4%, konsesi perkebunan sawit sebesar 26,9% dan jarak dari permukiman sebesar 14,1%. Potensi deforestasi di kabupaten Kutai Barat dengan menggunakan laju deforestasi sebesar 2,46%, kabupaten Kutai Barat berpotensi terdeforestasi sebesar 85.908 ha dari tahun 2016 sampai 2020 dan 171.778 ha sampai tahun 2024. Kebutuhan lahan untuk perkebunan sawit, lahan pertanian, kebun karet, HTI dan tambang menjadi pendorong terjadinya deforestasi. Perkebunan sawit, kebun karet, lahan pertanian dan tambang juga menjadi pendorong tidak lansung terjadinya deforestasi di kabupaten Kutai Barat. Pendekatan pencegahan deforestasi berdasarkan kawasan pada pola ruang RTRW Kabupaten Kutai Barat. Pemberian izin perhutanan social diharapkan dapat mencegah potensi deforestasi sampai 120.861 ha yang berada pada KBK Hutan Produksi, KBK Hutan Produksi Terbatas dan Hutan Lindung. Program intensifikasi penggunaan lahan masyarakat diharapkan dapat memberkan kontribusi pengurangan deforestasi sebesar 30.316 ha pada KBNK Pertanian Lahan Kering. Penerapan KBKT pada KBNK Perkebunan diharapkan dapat mencegah potensi deforestasi sebesar 20.120 ha

    Karakterisasi Kitin dan Kitosan Hasil Moulting Ulat Tepung (Tenebrio molitor).

    No full text
    Ulat tepung (Tenebrio molitor) merupakan serangga dengan kulit mengandung kitin sehingga dapat dijadikan sebagai kitosan. Ulat tepung rata-rata mengalami 15 kali moulting sebelum berubah menjadi pupa. Hasil moulting ulat tepung tersusun dari kitin yang dapat diekstrak menjadi kitosan. Proses ekstraksi untuk mendapatkan kitin dan kitosan melalui tahap demineralisasi, deproteinisasi, depigmentasi, dan deasetilasi. Proses deproteinisasi dan deasetilasi menggunakan 2 larutan basa yang berbeda yaitu NaOH dan KOH dengan konsentrasi yang sama. Hasil penelitian menunjukan bahwa kualitas kitin dari larutan NaOH dan KOH berturut-turut yaitu rendemen 14.77% dan 17.33%, kadar air 9.58% dan 9.48%, kadar abu 1.33% dan 2.35%, kadar nitrogen 5.21% dan 5.92%, derajat deasetilasi 63.35% dan 13.24%,bentuk partikel granular, serta berwarna cokelat tua. Hasil penelitian terhadap kualitas kitosan yang dihasilkan dari larutan NaOH dan KOH berturut-turut yaitu rendemen 7.04% dan 5.46%, kadar air 8.25 dan 8.43%, kadar abu 0.75% dan 1.50%, kadar nitrogen 3.36% dan 3.96%, derajat deasetilasi 66.70% dan 66.58%, berbentuk granular, serta berwarna cokelat muda. Hasil moulting ulat tepung dapat menjadi sumber kitin dan kitosan dengan perbaikan teknik ekstraksi supaya kualitas yang dihasilkan memenuhi standar yang berlaku

    Analisis Kepuasan dan Loyalitas Konsumen Produk Minuman Nyoklat Klasik pada Mahasiswa Institut Pertanian Bogor Dramaga

    No full text
    Produk minuman Nyoklat Klasik merupakan salah satu jenis usaha yang berkonsep waralaba dan memiliki gerai di Dramaga. Usaha waralaba minuman cokelat siap saji semakin banyak diminati oleh pelaku usaha dan terus berkembang di Indonesia. Pihak manajemen produk minuman Nyoklat Klasik perlu mengetahui kebutuhan dan keinginan konsumen. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepuasan konsumen , loyalitas konsumen serta hubungan kepuasan dengan loyalitas konsumen. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif, Uji Wilcoxon, Customer Satifacion Index, Customer Loyality Index, dan Analisis Korelasi Rank Spearman dengan melibatkan 102 responden. Hasil perhitungan CSI sebesar 81.85 persen menunjukkan bahwa sebagian besar konsumen merasa sangat puas dengan kinerja yang diberikan oleh produk minuman Nyoklat Klasik. Sebagian besar konsumen tergolong Satified Buyer, yaitu konsumen yang puas dengan merek yang mereka konsumsi tetapi dapat saja berpindah merek dengan menanggung switching cost. Uji korelasi rank spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kepuasan dengan loyalitas konsumen produk minuman Nyoklat Klasik

    Pemetaan Jasa Lanskap Perdesaan DAS Cisadane di Desa Sukadamai dan Bantarsari, Kabupaten Bogor

    No full text
    Kondisi biofisik yang beragam dari lanskap perdesaan yang berupa lahan pertanian, kawasan hutan, pekarangan dan ladang mempunyai manfaat besar terhadap kehidupan alam, menjaga kelestarian lingkungan. Setiap desa memiliki berbagai bentuk dan fungsi lanskap yang khas seperti pemukiman, produksi pangan, konservasi sumber daya alam, menjaga kualitas air dan udara, keindahan/rekreasi, habitat satwa, dan pelestarian budaya. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan data karakter spasial lanskap desa, mendapatkan data potensi jasa lanskap desa, mendapatkan potensi nilai ekonomi jasa lanskap desa dan menyusun rekomendasi pengelolaan jasa lanskap desa di Desa Sukadamai dan Desa Bantarsari. Penelitian dilaksanakan pada bulan April–Agustus 2018 di Desa Sukadamai Kecamatan Dramaga dan Desa Bantarsari Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor. Data yang digunakan adalah data karakter spasial dan data jasa lanskap. Peta citra drone dan peta tutupan lahan Desa Sukadamai dan Desa Bantarsari diperoleh dari PSP3 IPB dan pemerintah desa. Prosedur penelitian ini yaitu melakukan pengamatan karakteristik spasial desa, menganalisis potensi jasa lanskap desa, menghitung nilai ekonomi jasa lanskap dan membuat rekomendasi pengelolaan jasa lanskap. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik spasial Desa Sukadamai dan Bantarsari adalah lanskap pertanian yang terdiri dari kebun campuran, lahan pertanian dan kebun kelapa sawit dan permukiman. Luasan lahan pertanian di Desa Sukadamai mencapai 76%, sedangkan di Desa Bantarsari 80% berupa lahan pertanian dan perkebunan sawit. Biodiversitasnya diidentifikasi sebanyak 106 spesies tumbuhan dari 43 famili yang diklasifikasikan dalam 9 kategori berdasarkan fungsi tumbuhan dan 5 stratum berdasar strata vertikal. Nilai indeks Keragaman Shanon-Wiener (H’) antara 2.78 – 3.20, dan cadangan karbon di Desa Sukadamai sebesar 5 694.62 Mg dan Desa Bantarsari 4 360.55 Mg. Nilai ekonomi jasa lanskap dari produksi tanaman, penggunaan air rumah tangga dan cadangan karbon di Desa Sukadamai sebesar Rp 26 450 575 966/tahun dan Desa Bantarsari sebesar Rp 20 681 583 025/tahun. Nilai ekonomi rata-rata dalam satu tahun per hektar di Desa Sukadamai pada kebun campuran sebesar Rp 135 643 096 dan lahan pertanian Rp 99 866 414 sedangkan Desa Bantarsari sebesar Rp 60 708 333 dan Rp 172 016 667. Berdasarkan hasil dari penelitian ini, pengelolaan jasa lanskap dapat dilakukan dengan (1) melakukan optimalisasi pengelolaan lanskap Desa Sukadamai dan Bantarsari yang mempunyai keunggulan pada sektor pertanian, (2) melakukan seleksi tumbuhan yang memiliki nilai jasa lanskap yang tinggi (3) membuat perencanaan pembangunan dan pengembangan desa secara terarah dengan melibatkan elemen-desa desa, mengacu pada fungsi dan tujuan utama desa dengan memperhatikan kemampuan ekologis lanskap desa

    Analisis Biaya dan Analisis Finansial Pengelolaan Minyak Kayu Putih di KPH Yogyakarta.

    No full text
    Minyak kayu putih merupakan hasil hutan bukan kayu yang masih memiliki potensi besar. Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Yogyakarta merupakan salah satu usaha penyulingan minyak kayu putih yang ada di Indonesia. Produksi minyak kayu putih dihasilkan dari Pabrik Penyulingan Minyak Kayu Putih Sendang Mole dan Pabrik Penyulingan Minyak Kayu Putih Gelaran dengan produksi rata-rata sebesar 41 741.20 liter dari 4 339.90 ton daun (2014 – 2018). Penelitian ini bertujuan menghitung biaya total pengelolaan minyak kayu putih, menganalisis tingkat kelayakan finansial dan menganalisis tingkat sensitivitas terhadap penurunan pendapatan dan kenaikan biaya. Hasil dari perhitungan biaya total diperoleh sebesar Rp 1 401 580/jam, sementara hasil analisis tingkat kelayakan finansial menggunakan parameter Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), Internal Rate of Return (IRR) dan Payback Period (PP) menunjukkan usaha minyak kayu putih oleh KPH Yogyakarta layak untuk dijalankan dengan nilai NPV sebesar Rp 19 658 558 028, BCR sebesar 1.27, IRR sebesar 11.27% dan PP selama 8 tahun 10 bulan. Melalui analisis tingkat sensitivitas, perubahan maksimum yang dapat ditoleransi terhadap penurunan pendapatan sebesar 21.37% dan kenaikan biaya sebesar 26.92%

    Kontribusi Program Hutan Kemasyarakatan terhadap Pendapatan Masyarakat di Nagari Aie Dingin Kabupaten Solok

    No full text
    Nagari Aie Dingin di Kabupaten Solok merupakan salah satu daerah yang melaksanakan Program Hutan Kemasyarakatan, namun belum diketahui kontribusi dari program Hutan Kemasyarakatan terhadap pendapatan masyarakat. Tujuan penelitian adalah (1) mengidentifikasi karakteristik masyarakat, (2) mengidentifikasi pola pemanfaatan lahan oleh masyarakat (3) menganalisis kontribusi program Hutan Kemasyarakatan terhadap kesejahteraan masyarakat. Penelitian dilakukan dengan metode survey, dimana responden dipilih secara purposive sampling sebanyak 74 orang yang merupakan peserta HKm sekaligus anggota Koperasi Solok Radjo. Responden yang diwawancarai sebagian besar berumur 31-40 tahun (35.14%) dengan tingkat pendidikan terbanyak merupakan lulusan SMP (27.03%). Pekerjaan utama responden adalah petani yang didominasi oleh Suku Bendang dan Suku Kutianyie. Pola tanam yang dilakukan masyarakat sebagian besar adalah kopi dan bawang merah. Kontribusi Program Hutan Kemasyarakatan terhadap pendapatan masyarakat tergolong tinggi (64.26%) dan kesejahteraan masyarakat tergolong hidup layak

    Pengelolaan Hutan Tanaman Rakyat Mangrove sebagai Penghasil Bahan Baku Arang di Kabupaten Karimun: Persepsi Masyarakat, Aspek Teknis dan Kelayakan Usaha

    No full text
    Pemanfaatan mangrove sebagai bahan baku arang di Kepulauan Riau secara perorangan telah dilakukan sejak tahun 1930-an, namun demikian pemanfaatan melalui skema Hutan Tanaman Rakyat (HTR) dimulai tahun 2010 dengan terbitnya Surat Keputusan (SK) nomor 192/2010 dari Bupati Kabupaten Karimun kepada Koperasi Wana Jaya Karimun (WJK) seluas 9.335 ha. Pengelolaan HTR Mangrove di Kabupaten Karimun dilakukan secara tradisional dan melibatkan kearifan lokal. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah memiliki persepsi terhadap pilihan pengelolaan yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Pengelolaan HTR mangrove bersifat padat karya, melibatkan 20-30 orang pengrajin arang dalam setiap panglong dimana usaha arang terbukti memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji persepsi masyarakat sekitar hutan terhadap ketentuan pengelolaan HTR, mengetahui praktik pengelolaan HTR mangrove dan praktik pembuatan arang bakau, serta menganalisis kelayakan usaha arang bakau dari pengelolaan HTR mangrove di Kabupaten Karimun. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau pada bulan Juni s.d Juli 2018. Responden untuk keperluan kuisioner dan wawancara dipilih dari masyarakat yang pekerjaan utamanya sebagai pengrajin panglong secara acak sebanyak 30 orang. Narasumber dipilih secara purposive dari instansi yang bertugas memberi pembinaan dan pengawasan terhadap pengelolaan HTR di Kabupaten Karimun. Persepsi masyarakat diperoleh melalui analisis deskriptif dengan perhitungan skor dari setiap variabel dan total skor dari seluruh variabel menggunakan skala Likert. Semakin tinggi nilai skor maka tingkat persepsi masyarakat semakin tinggi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu tingkat persepsi rendah, sedang dan tinggi. Praktik pengelolaan HTR mangrove dan proses pembuatan arang dilakukan dengan analisis deskriptif, Adapun kelayakan usaha arang diperoleh melalui analisis finansial dengan kriteria Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR) dan Internal Rate of Return (IRR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat sekitar hutan dikategorikan kurang paham terhadap alokasi lahan HTR, proses perizinan, jangka waktu dan luas areal pengusahaan, hak dan kewajiban, pemasaran, kelembagaan, sosialisasi/pendampingan/penyuluhan program HTR, dukungan pemerintah dan LSM. Adapun persepsi masyarakat sekitar hutan terhadap pengetahuan tentang HTR, pola HTR, jenis tanaman dan pewarisan izin dikategorikan paham. Persepsi masyarakat terhadap persyaratan izin dan pendamping HTR dikategorikan tidak paham. Persepsi masyarakat sekitar hutan terhadap ketentuan pengelolaan HTR secara keseluruhan pada kategori kurang paham sebanyak 46,67%, kategori tidak paham sebanyak 36,67% dan kategori paham sebanyak 16,67% responden. Praktik pengelolaan HTR mangrove melibatkan kearifan lokal meliputi pemanenan selektif pada cabang dan terubusan mangrove (diameter minimal 10 cm), menggunakan peralatan manual (gergaji, kapak dan parang) dan sedapat mungkin dilakukan pada musim bulan pasang siang untuk memudahkan bongkar muat dan pengangkutan kayu. Arang bakau diproduksi melalui proses tradisional tanpa penambahan zat kimia apapun sehingga menghasilkan rendeman yang rendah (20%) dan membutuhkan waktu yang relatif lama (3-4 bulan/siklus). Tahapan satu siklus pengarangan meliputi persiapan pengarangan, proses pengarangan dan pendinginan arang. Kualitas arang bakau telah memenuhi syarat SNI dan sebagian besar untuk tujuan ekspor. Perlu dilakukan pelatihan, penyuluhan dan pendampingan pada pengrajin arang dalam rangka perbaikan proses produksi arang bakau untuk meningkatkan rendemen dan kualitas arang bakau serta kemungkinan diversifikasi produk dari proses pengarangan. Arang bakau layak diusahakan secara finansial dengan nilai NPV Rp. 256.880.616, nilai BCR sebesar 1,13 dan nilai IRR sebesar 29,79%. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa keuntungan finansial usaha arang bakau sangat rentan terhadap perubahan harga jual arang dan kenaikan biaya produksi. Branding terhadap produksi arang melalui pengemasan arang yang menarik dan pemberian merek dagang atas nama Koperasi WJK perlu dilakukan, selain itu juga pentingnya penggunaan teknologi informasi untuk memperluas jaringan pemasaran

    Karakteristik Prill Fat sebagai Sumber Asam Lemak Tinggi Palmitat pada Ransum Ruminansia

    No full text
    Prill fat adalah minyak nabati yang tidak terhidrogenasi dan mengandung lebih dari 85% asam palmitat dengan titik leleh yang tinggi. Oleh karena itu, prill fat tidak meleleh pada suhu rumen dan dapat bypass di dalam rumen. Penelitian ini dilakukan untuk mengukur karakteristik lemak tinggi asam palmitat secara fisik dan penggunaannya pada ruminansia. Penelitian dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ternak Perah dan Industri Pakan, Fakultas Peternakan IPB. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan: P1 (kontrol tanpa perlakuan), P2 (kontrol + 2% lemak tinggi asam palmitat 78%), P3 (kontrol + 2% lemak tinggi asam palmitat 86%), P4 (kontrol + 2% lemak tinggi asam palmitat 96%). Variabel yang diamati meliputi karakteristik fermentasi rumen (Volatile fatty acid/VFA dan konsentrasi NH3), kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, dan karakteristik fisik dari prill fat. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan hasil yang signifikan diantara perlakuan diuji lanjut menggunakan Duncan. Prill fat sebagai suplemen tinggi palmitat memiliki karakteristik fisik yang baik dengan ukuran partikel yang sesuai untuk pakan ruminansia (200-1200 μm) dan kadar air dibawah 14%, sehingga penyimpanan dapat dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Suplementasi prill fat berbeda nyata terhadap konsentrasi VFA total (P<0.01) dan kecernaan bahan kering (P<0.05). Suplementasi tidak memberikan pengaruh terhadap konsentrasi NH3 dan kecernaan bahan organik. Analisis menggunakan uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa suplementasi prill fat 96% palmitat pada taraf 2% meningkatkan konsentrasi VFA dan kecernaan bahan kering. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa penambahan lemak dengan kandungan asam palmitat 96% pada taraf pemberian 2% meningkatkan fermentabilitas dan kecernaan in vitro ruminansia

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇