31665 research outputs found
Sort by
Penentuan Kandidat Panjang Gelombang Alat Ukur Hemoglobin Non-Invasive dan Analisis Transisi Elektron
Precision medicine adalah suatu bidang medis yang bertujuan untuk
memberikan perawatan penyakit sesuai dengan profil genetik, lingkungan, dan gaya
hidup seseorang. Pengembangan precision medicine berfokus kepada penyakit
umum dan kompleks seperti diabetes mellitus tipe 2 (T2DM). Informasi genetik
pasien T2DM dapat diperoleh dengan mencari asosiasi antara Single Nucleotide
Polymorphism (SNP) dan fenotipe penyakit T2DM. Penelitian ini bertujuan
mencari SNP yang dianggap berasosiasi dengan fenotipe T2DM menggunakan
algoritme gradient boosting (GB). Data diambil dari situs Mouse Phenome
Database sesuai dengan 98 kandidat protein T2DM. Tahap praproses dilakukan
dengan menghapus fitur dan missing values, melakukan pengkodean SNP dan
menggabungkan data fenotipe dan SNP. Pembangunan model GB menggunakan
base-learners decision tree dan loss function kuadrat terkecil. Model GB
menghasilkan rataan nilai MSE sebesar 0.061 dan MAE sebesar 0.171 serta
menghasilkan 30 SNP yang berpotensial memiliki asosiasi dengan fenotipe
toleransi insulin pada T2DM. Dua puluh dua dari 30 SNP terpilih terverifikasi
memiliki asosiasi dengan fenotipe T2DM pada situs Mouse Genome Informatics
melalui hubungan SNP-protein-fenotipe
Aktivitas Antimikroba pada Saset Berbasis Selulosa TKKS dengan Bawang Putih sebagai Agen Antimikroba Alami
Produksi kelapa sawit di Indonesia memiliki hasil samping berupa limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) yang sangat melimpah, namun hanya 10% dari TKKS tersebut yang dimanfaatkan dan sisanya masih menjadi limbah. Salah satu komponen tertinggi yang memiliki nilai tambah yang tinggi adalah selulosa. Selulosa berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai matriks dalam pembuatan saset antimikroba dengan minyak atsiri bawang putih sebagai agen antimikroba alami. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antimikroba pada saset berbasis selulosa TKKS dan minyak atsiri bawang putih serta pengaruh penggunaannya terhadap sifat organoleptik roti (warna dan aroma). Berdasarkan hasil pengujian in vitro, penggunaan saset antimikroba tersebut menunjukkan adanya pengaruh terhadap penghambatan pertumbuhan Aspergillus niger, ditunjukkan dengan tidak adanya Aspergillus niger yang tumbuh pada cawan petri. Berdasarkan hasil pengujian pengaplikasian saset pada roti tawar dapat diketahui bahwa penambahan minyak atsiri bawang putih sebanyak 50% b/b, 75% b/b, dan 100% b/b tidak berbeda nyata dapat menghambat selama 12 hari. Panelis lebih menyukai roti tawar dengan perlakuan kontrol, namun untuk penyimpanan yang lebih lama panelis lebih menyukai roti tawar dengan perlakuan penambahan saset antimikroba yang ditambahkan minyak atsiri bawang putih
Reviu: Dampak Pemanenan Hutan terhadap Tanah.
Pemanenan hutan berpotensi menimbulkan dampak. Sistem pemanenan
hutan yang berbeda menghasilkan dampak terhadap lingkungan yang berbeda pula.
Dalam kegiatan pemanenan hutan terdapat beberapa tahapan pemanenan yang
berpotensi menimbulkan dampak terhadap tanah yaitu, pembukaan wilayah hutan,
penyaradan dan pengangkutan kayu. Penelitian ini bertujuan menghimpun dan
mengidentifikasi hasil-hasil penelitian tentang dampak pemanenan hutan terhadap
tanah. Penelitian ini menggunakan metode systematic review agar data sekunder
dapat dihimpun. Berdasarkan 30 artikel yang telah dikumpulkan, diketahui bahwa
pemanenan hutan konvensional memberikan kerusakan tanah yang tinggi,
sedangkan pemanenan hutan dengan Reduce Impact Logging (RIL) dapat
meminimalisir kerusakan tanah hutan. Oleh karena itu, pemanenan hutan
khususnya di Indonesia sebaiknya menggunakan Reduce Impact Logging (RIL)
Perubahan Fisiologis dan Metabolit Benih Bawang Putih (Allium sativum L.) Varietas Lumbu Hijau dan Lumbu Kuning pada Penyimpanan Suhu Rendah
Bawang putih merupakan salah satu komoditas hortikultura yang penting dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Tingginya tingkat konsumsi dibandingkan dengan produksi memberikan dampak terjadinya impor bawang putih untuk memenuhi kebutuhan nasional. Keadaan ini mendorong pemerintah untuk menargetkan swasembada. Untuk mendukung hal tersebut salah satu upaya adalah mempersiapkan penanganan pascapanen. Penyimpanan adalah adalah cara yang penting untuk mengatasi ketersediaan. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah menyimpan benih bawang putih adalah pada suhu rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji perubahan fisiologis pada dua varietas benih bawang putih (Allium sativum L) pada penyimpanan suhu rendah dan mengkaji pengaruh perubahan metabolit dua varietas benih bawang putih pada penyimpanan suhu rendah.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak yang terdiri atas 2 faktor yaitu suhu penyimpanan dan varietas. Suhu penyimpanan terdiri atas 3 taraf yaitu suhu 0°C, 5°C dan suhu ruang (25-32°C) dan varietas dengan 2 taraf yaitu Lumbu Hijau dan Lumbu Kuning. Penyimpanan yang dilakukan selama 6 bulan dengan parameter yang diamati adalah kadar air, susut bobot, pertunasan (sprouting), kerusakan umbi dan kadar kalsium (Ca).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan suhu dan varietas memberikan pengaruh terhadap susut bobot, kadar air, kerusakan, pertunasan dan perubahan senyawa metabolit. Penyimpanan benih bawang putih selama 6 bulan pada suhu 5°C lebih mampu menekan kerusakan selama penyimpanan dengan kerusakan terendah yaitu 0.98 % pada varietas Lumbu Hijau dan 19.42% pada Lumbu Kuning. Peningkatan senyawa metabolit 3h-1,2 dithiole dan dially disulphide pada benih bawang putih varietas Lumbu Kuning yang disimpan selama 6 bulan di suhu 5°C lebih cepat menyebabkan pertunasan
Strategi Peningkatan Kinerja Usahatani Melalui Penyuluhan Pertanian (Kasus: Petani Padi Sawah di Kota Administrasi Jakarta Utara)
Kegiatan pertanian perkotaan memiliki banyak manfaat, namun kontribusi
sektor pertanian di DKI Jakarta secara ekonomi masih rendah. Produktivitas hasil
panen yang tinggi menandakan bahwa usahatani padi sawah pada skala tertentu
mempunyai potensi untuk ditingkatkan. Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas
KPKP berusaha meningkatkan kinerja usahatani padi sawah melalui penyuluhan
pertanian. Kegiatan penyuluhan dapat meningkatkan SDM petani melalui
pendidikan luar sekolah, penyuluh juga mempunyai berbagai peranan yang dapat
membantu petani. Kajian terkait faktor-faktor strategis usahatani akan bermanfaat
dalam menentukan fokus penyuluhan.
Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi pengaruh kegiatan
penyuluhan pertanian secara tatap muka terhadap peningkatan kinerja usahatani
petani padi sawah di wilayah Kota Administrasi Jakarta Utara, menganalisis
dampak faktor-faktor strategis karakteristik usahatani pada upaya peningkatan
kinerja usahatani petani padi sawah di wilayah Kota Administrasi Jakarta Utara,
dan merumuskan rekomendasi strategi peningkatan kinerja usahatani petani padi
sawah oleh Dinas KPKP Provinsi DKI Jakarta melalui kegiatan penyuluh
pertanian di wilayah Kota Administrasi Jakarta Utara. Data kinerja usahatani
diolah menggunakan regresi linier berganda. Interpretasi hasil analisis regresi
akan dibantu oleh wawancara mendalam sehingga didapatkan isu-isu strategis
menyangkut kinerja usahatani. Isu-isu strategis menjadi dasar dalam penyusunan
strategi. Dinas KPKP merupakan basis analisis dalam perumusan strategi. Tahap
input strategi dalam penelitian ini menggunakan matriks EFE dan IFE, tahap
pencocokan menggunakan SWOT, dan tahap keputusan menggunakan QSPM.
Hasil uji regresi linear berganda menunjukkan bahwa interaksi antara petani
dan penyuluh pertanian, penggunaan benih bersertifikat, akses kredit formal, dan
luas lahan mempunyai peranan penting dalam peningkatan kinerja usahatani padi
sawah. Penyuluh perlu mengoptimalkan peranannya untuk meningkatkan
kemampuan petani dalam mengakses faktor-faktor tersebut. Penyuluh juga perlu
menyampaikan pentingnya faktor-faktor tersebut dalam kegiatan penyuluhannya.
Hasil perumusan strategi menunjukkan bahwa strategi terbaik Dinas KPKP
Provinsi DKI Jakarta adalah memperkuat dan meningkatkan fungsi BPP. Sarana
dan prasarana pertanian di BPP Sukapura masih dapat ditingkatkan tidak hanya
berupa menciptakan lahan percontohan komoditas padi sawah, namun juga terkait
penerapan teknologi dan sarana penyuluhan. Hal tersebut juga perlu diikuti oleh
peningkatan kualitas penyuluh dan tenaga kerja pendukung lainnya
Pengembangan Algoritme Niching Particle Swarm Optimization Untuk Pencarian Target Pada Sistem Multi-Robot
Robot seringkali digunakan untuk mencari target, dalam hal ini target bisa korban, barang berbahaya dan tidak bisa dijangkau oleh manusia sehingga diganti menggunakan robot. Robot melakukan pencarian untuk menemukan target yang kemudian mengalokasikan diri ke target dengan asumsi bahwa targetnya dapat memancarkan sinyal. Permasalahan tersebut dipandang sebagai suatu masalah optimasi. Salah satu teknik yang dapat menyelesaikan masalah optimasi merupakan algoritme Particle Swarm Optimization (PSO). Masalah yang sering ditangani PSO sampai saat ini hanya sebatas masalah single-target. Beberapa masalah pada dunia nyata merupakan masalah multi-target, sehingga tidak dapat diselesaikan dengan algoritme PSO. Multi-target merupakan pencarian multi-robot untuk mengoptimasi pencarian target pada satu atau lebih titik optimum di dalam ruang pencarian. Masalah optimasi pada multi-target dapat diselesaikan menggunakan algoritme Niching Particle Swarm Optimization (NichePSO). NichePSO memanfaatkan teknik pencarian main swarm dan subswarm yang terdiri dari kumpulan partikel untuk menemukan satu atau lebih titik optimal. Pencarian titik optimal ini dapat digunakan untuk skenario pencarian target pada sistem multi-robot. Robot direpresentasikan oleh partikel sedangkan lokasi target sebagai titik optimal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan algoritme NichePSO untuk pencarian target pada sistem multi-robot. Pengembangan algoritme NichePSO dilakukan dengan mengintegrasikan parameter robot e-puck, menerapkan algoritme penghindaran rintangan dan menggunakan teknik reflecting pada robot yang keluar batas area pencarian. Studi ini membandingkan hasil performa algoritme NichePSO tanpa algoritme penghindaran rintangan dan dengan algoritme penghindaran rintangan yang diuji dengan beberapa rintangan dalam lingkungan statis. Jumlah tabrakan algoritme NichePSO tanpa algoritme penghindaran rintangan di fungsi Himmelblau adalah sebesar 4483.8±418.2, Griewank 4907±1143.53 dan Rastrigin 3282.5±1450.13. Sedangkan, dengan algoritme penghindaran rintangan jumlah tabrakan pada fungsi Himmelblau adalah sebesar 1206.5±97.22, Griewank 919.8±198.62 dan Rastrigin 997.5±324.47. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum algoritme NichePSO dengan algoritme penghindaran rintangan mampu menurunkan jumlah tabrakan dibandingkan algoritme NichePSO tanpa algoritme penghindaran rintangan.
Dalam penelitian ini juga dihitung nilai rata-rata waktu pencarian target oleh robot. Rata-rata waktu pencarian target oleh robot tanpa penghindaran rintangan pada fungsi Himmelblau, Griewank dan Rastrigin masing-masing adalah sebesar 18.64±8.25 menit, 18.98±8.08 menit dan 14.90±2.55 menit sedangkan dengan penghindaran rintangan adalah sebesar 19.65±1.43 menit, 21.73±3.34 menit dan 21.45±2.05 menit. Hal ini menunjukkan meskipun digunakan algoritme penghindaran rintangan pada NichePSO, waktu pencarian robot tidak signifikan berbeda dengan tanpa algoritme penghindaran rintangan. Hal ini membuktikan bahwa dengan menerapkan algoritme penghindaran rintangan pada algoritme NichePSO dapat menghasilkan performa pencarian yang baik dan mampu
memenuhi kriteria yang diharapkan. Penelitian ini juga mengukur nilai rata-rata fitnes terbaik yang diperoleh oleh robot pada fungsi yang diusulkan. Secara umum ketiga fungsi yang diusulkan dapat mencapai nilai optimum yang membuktikan bahwa robot mampu menemukan lokasi target
Aktivitas Antioksidan dan Sitotoksisitas Ekstrak Bawang Hitam (Allium sativum)
Bawang hitam adalah hasil dari proses pemanasan dan pencoklatan
bawang putih, dan merupakan salah satu dari bahan olahan di Indonesia yang
dapat dimanfaatkan sebagai sumber antioksidan untuk mengatasi penyakit
degeneratif. Penelitian ini bertujuan melakukan ekstraksi bawang hitam yang
dikeringkan untuk selanjutnya diuji aktivitas antioksidan dan sitotoksisitasnya.
Bawang hitam dikeringkan dan diekstraksi dengan menggunakan 4 jenis pelarut
yaitu etanol 30%, 70%, 96% dan akuades. Uji kadar air dan penghitungan
rendemen dilakukan untuk mengetahui kualitas sampel. Aktivitas antioksidan
ekstrak ditentukan menggunakan uji DPPH dengan vitamin C sebagai kontrol
positif, dan sitotoksisitas ditentukan menggunakan uji BSLT. Hasil uji
menunjukkan bawang hitam memiliki kadar air sebesar 9.16% dengan rendemen
terendah dari pelarut etanol 96% sebesar 22.79 % dan rendemen tertinggi dari
pelarut etanol 70% sebesar 45.34%. Ekstrak bawang hitam dengan pelarut
akuades memiliki nilai IC50 dan LC50 terendah dibandingkan dengan ekstrak
lainnya, dengan nilai IC50 sebesar 4.58 ppm dan nilai LC50 sebesar 758.57 ppm
Fotorespon Pertumbuhan, Glutathion (GSH), Kalorofil a, dan Karotenoid Symbiodinium spp.
Ekosistem terumbu karang mampu membangun dan menyediakan habitat
bagi komunitas paling beragam di dunia. Karang memiliki simbiosis yang
kompleks antara hewan inang (filum cnidaria) dan mikroalga endosimbion
(dinoflagellata bergenus Symbiodinium) namun sensitif terhadap perubahan
lingkungan. Dinoflagellata endosimbion tersebut memberikan beragam produk
fotosintesis (fotosintetat) ke polip karang inang untuk mampu mempertahankan
metabolisme dan pertumbuhannya di perairan laut oligotropik. Di lain sisi, karang
menyediakan tempat berlindung dan akses eksklusif bagi endosimbion untuk
memperoleh makanannya dari hasil metabolisme polip karang. Tekanan
lingkungan, seperti intensitas cahaya tinggi, berpeluang mengganggu simbiosis
dan bahkan menghilangkan sel Symbiodinium ataupun pigmentasinya dari
jaringan karang. Pemutihan karang masal merupakan disfungsi proses fotosintesis
antara lain reduksi aktivitas fotosistem II dan transport linier elektron. Interaksi
berkepanjangan Symbiodinium spp. dengan intensitas cahaya tinggi dapat
berpengaruh terhadap densitas sel, jumlah pigmen, dan/atau produksi senyawa
fotokimia bahkan dapat memicu terjadinya pemutihan. Berkaitan dengan hal
tersebut, kesehatan endosimbion karang adalah kritis untuk keberlangsungan
hidup karang mengingat bahwa sebagian besar (75-90 %) kebutuhan karang inang
disuplai oleh endosimbionnya. Intensitas cahaya mampu mengubah pola respon
Symbiodinium spp. yang terindikasi dari perubahan pola pertumbuhan, senyawa
metabolit sekunder, dan pigmentasi sel. Penelitian bertujuan menganalisis
hubungan antara pertumbuhan, konsentrasi GSH, dan fotopigmen (klorofil a dan
karotenoid) Symbiodinium spp. yang diberi perlakuan berupa intensitas cahaya
pada gelombang sinar tampak (150-450 μmol foton.m-2.dt-1). Penelitian juga
dilakukan untuk menganalisis konektivitas antar peubah dominan sebagai salah
satu mekanisme respon Symbiodinium spp. terhadap intensitas cahaya.
Symbiodinium spp. merupakan hasil isolasi dari Zoanthus sp. yang
dikumpulkan dari Daerah Perlindungan Laut (DPL) Pulau Puhawang, Provinsi
Lampung dan dikultur dengan menggunakan media f/2 tanpa silika (pH 7,9-8,1;
suhu 22-230C; salinitas 33-34 ppt; gelembung udara kecil), dan diberikan
perlakuan berupa perbedaan intensitas cahaya (150, 200, 300, and 450 μmol
foton.m-2.dt-1). Selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap parameter biologi
(fase pertumbuhan, laju pertumbuhan, dan biovolume sel) dan parameter kimia
(konsentrasi GSH, klorofil, dan karotenoid) sebagai fotorespon Symbiodinium.
Kurva pertumbuhan Symbiodinium menunjukkan tren positif pada 8 hari
pertama kultur dan memiliki empat fase (lag, eksponensial, stagnan, dan
penurunan) pada semua perlakuan selama total 12 hari kultur tanpa perbedaan
yang nyata secara statistik. Laju pertumbuhan tertinggi terjadi pada fase
eksponensial dan terendah pada fase penurunan, sehingga diasumsikan bahwa laju
pertumbuhan bukan merupakan fotorespon sensitif Symbiodinium spp. terhadap
rentang intensitas cahaya tampak yang diujikan. Tingginya intensitas cahaya
tampak mampu menstimulasi dan menyimpan fotosintetat hasil fotosintesis
Symbiodinium spp. yang terindikasi dari peningkatan biovolume sel dengan
semakin meningkatnya intensitas cahaya yang diberikan.
Konsentrasi GSH Symbiodinium spp. setelah perlakuan penghambatan
cahaya (diskontinu/fotoinhibisi) cenderung menampilkan tiga fase yang berbeda
(fase peningkatan, penurunan, dan stagnan) dan bisa berbeda tergantung pada
intensitas cahaya selama proses pemulihan. Fase tinggi dan bervariasinya
konsentrasi GSH diasumsikan sebagai mekanisme fotoprotektif Symbiodinium
spp. dalam hal meminimalkan pengaruh negatif tingginya intensitas cahaya. Fase
penurunan konsentrasi GSH diasumsikan sebagai fase pemulihan pasca fotostres.
Fase stagnan konsentrasi GSH diasumsikan sebagai fase stabilitas baru yang
berkorelasi tinggi terhadap keberadaan intensitas cahaya yang diberikan. Pada
kondisi perlakuan intensitas cahaya kontinu, Symbiodinium spp. cenderung
memproduksi lebih banyak GSH selama kultur pada semua perlakuan. Sempit dan
rendahnya konsentrasi GSH pada intensitas cahaya rendah mengindikasikan
mikrohabitat yang direkomendasikan untuk pemulihan Symbiodinium spp.
meminimalkan pengaruh foto stres. Berdasarkan hal tersebut, diasumsikan bahwa
GSH berperan sebagai senyawa fotoprotektif dan fotoadaptif Symbiodinium spp.
terhadap stres intensitas cahaya tampak.
Fotopigmen (klorofil a dan karotenoid) Symbiodinium menggambarkan
fenomena yang berbeda pada intensitas cahaya tinggi. Saat efisiensi klorofil a
menurun, karotenoid mengambil alih dengan menyampaikan energi yang
diabsorpsi ke klorofil a untuk tetap menjaga aktivitas fotosintesis sel.
Analisis komponen utama (PCA) dan uji t pada nilai korelasi pearson yang
digunakan untuk menganalisis konektivitas antara peubah dengan intensitas
cahaya yang diujikan. Hasilnya menunjukkan bahwa biovolume sel, konsentrasi
GSH, dan konsentrasi karotenoid dalam sel Symbiodinium spp. teraktifasi
produksinya pada intensitas cahaya yang lebih tinggi dari kontrol. Peningkatan
biovolume sel cenderung disebabkan oleh peningkatan konsentrasi GSH
intraseluler Symbiodinium spp.. Peningkatan intensitas cahaya pada rentang yang
diujikan tidak memberikan dampak pada densitas sel; berdampak menurunkan
konsentrasi klorofil a; dan berdampak meningkatkan biovolume sel, konsentrasi
GSH, serta konsentrasi karotenoid sel Symbiodinium spp.. Kondisi tersebut
mengindikasikan bahwa terdapat peran relatif GSH dan karotenoid terhadap
klorofil a. Peran relatif GSH dan karotenoid dalam menjaga metabolisme sel
tampak dari makin tingginya konsentrasi kedua senyawa tersebut justru disaat
konsentrasi klorofil a yang cenderung menurun ataupun sebaliknya. Peran GSH
dan karotenoid akan makin tampak nyata dari tidak terganggunya pertumbuhan
sel di semua perlakuan yang diberikan
Karakterisasi Morfologi Daun dan Pengaruh Pemberian Silika pada Populasi Anggrek Phalaenopsis Hibrida
Phalaenopsis merupakan genus anggrek paling populer dalam industri florikultura karena mempunyai bunga besar, warna yang beragam, tahan lama serta adaptif di dalam ruangan. Pemupukan berimbang berperan dalam pertumbuhan, perkembangan, serta daya tahan tanaman. Silika berperan dalam pertumbuhan dan memperkuat jaringan tanaman sehingga lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi silika (Si) terhadap pertumbuhan dan karakter morfologi dari dua populasi hibrida anggrek Phalaenopsis yaitu Phal. lueddemanniana × Phal. Mannii (LM) dan Phal. bellina × Phal. tetraspis (BT). Penelitian dilakukan di Rumah Anggrek Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB pada bulan Agustus hingga Desember 2018. Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor tunggal perlakuan silika yang diujikan terhadap dua populasi Phalaenopsis. Terdapat empat taraf perlakuan yaitu aplikasi silika konsentrasi 0, 10, 20, dan 30 ppm. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat keragaman karakter daun pada masing-masing populasi. Aplikasi Si mampu mengurangi pertumbuhan kerusakan akibat hama, serangan hama berkurang pada karakter daun tipis. Aplikasi Si yang memberikan hasil serangan hama paling rendah pada populasi LM adalah 10 ppm, sedangkan pada populasi BT adalah 20 ppm
Hubungan antara Kebiasaan Sarapan dengan Kejadian Sindrom Dispepsia pada Siswa Sekolah SMPN 1 Songgom, Brebes
Sarapan merupakan menu makan harian yang dikonsumsi sebelum jam 9 dan mampu menyumbangkan energi minimal 20% dari total asupan energi dalam sehari. Jumlah remaja yang melewatkan sarapan mencapai 36.1%, dimana kebiasaan melewatkan sarapan dapat menjadi salah satu faktor pemicu kejadian sindrom dispepsia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara kebiasaan sarapan dengan kejadian sindrom dispepsia pada siswa sekolah SMPN 1 Songgom, Brebes. Desain penelitian menggunakan cross sectional study dengan metode purposive sampling. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian sebanyak 110 siswa/i kelas VII dan VIII yang berusia antara 13-15 tahun dan tidak menderita gastritis kronis. Penelitian ini dilakukan di SMPN 1 Songgom, Brebes pada bulan September-Oktober 2019. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Sebagian besar contoh berjenis kelamin perempuan. Rata-rata usia contoh yaitu 13.3 tahun. Uang saku harian sebagian besar berada dibawah nilai rata-rata ( 0.05) antara jenis kelamin, usia, uang saku, pendidikan orang tua, pendapatan orang tua, dan status gizi dengan kejadian sindrom dispepsia, serta tidak terdapat hubungan yang signifikan antara keteraturan sarapan dengan status gizi