31665 research outputs found
Sort by
Analisis Efisiensi Saluran Pemasaran Kentang (Studi Kasus Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo).
Pada 2018, Kementerian Pertanian mengubah Rekomendasi Impor Produk
Hortikultura (RIPH). Perubahan tersebut menyebabkan pintu perdagangan
internasional hortikultura Indonesia semakin terbuka dan berpotensi banjir impor.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi saluran pemasaran dan
merancang strategi pemasaran kentang Kecamatan Kejajar agar Kentang Kejajar
memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif dalam menghadapi potensi banjir
impor. Metode pengambilan data yaitu dengan metode wawancara. Alat analisis
yang digunakan yaitu analisis deskriptif, analisis efisiensi pemasaran dan
Analytical Networking Process (ANP). Data diolah dengan menggunakan
software Super Decission dan Ms.Exel. Hasil penelitian menunjukan bahwa
terdapat empat saluran pemasaran setara di Kecamatan Kejajar Saluran 1 meliputi
petani – konsumen, Saluran 2 meliputi petani – pengepul kecamatan – pengecer –
konsumen, Saluran 3 meliputi petani – pengepul kecamatan - pengepul kabupatenpedagang
besar- pengecer dan Saluran 4 meliputi petani – pedagang besar –
pengecer – konsumen. Apabila dilihat dari indikator margin pemasaran, saluran
pemasaran dengan efisiensi tertinggi yaitu saluran 4 dengan marjin terendah
sebesar 54% dan nilai farmer’s share yang relatif besar senilai 45%. Sedangkan
strategi yang menjadi prioritas untuk pemasaran kentang Kecamatan Kejajar
yaitu strategi penjualan yang stabil sepanjang musim. Bauran pemasaran yang
menjadi prioritas tertinggi yaitu bauran promotion tepatnya pada strategi
hubungan masyarakat yaitu sebesar 32%
Pengaruh Penambahan Pare (Momordica charantia L.) terhadap Sifat Organoleptik dan Kandungan Gizi Kastengel Berbasis Modified Cassava Flour
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan pare terhadap sifat organoleptik dan kandungan gizi kastengel modified cassava flour (mocaf). Pare merupakan salah satu bahan pangan lokal yang berpotensi untuk dikembangkan dan memiliki kemampuan menurunkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes. Mocaf berpotensi untuk digunakan sebagai sumber karbohidrat pengganti tepung terigu, selain diketahui mempunyai Indeks Glikemik rendah. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat faktor proposi penambahan pare yaitu 0% (F0), 10% (F1), 15% (F2) dan 20% (F3). Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa uji hedonik dan uji mutu hedonik keempat formula dapat diterima oleh panelis dengan nilai rata-rata tertinggi pada F2 (penambahan pare 15% terhadap berat mocaf). Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa tingkat kesukaan panelis semi terlatih lebih tinggi dan signifikan berbeda (p<0.05) terhadap kastengel mocaf pare F2 (penambahan pare 15% terhadap berat mocaf) dibandingkan dengan F3 (penambahan pare 20% terhadap berat mocaf), pada atribut warna, aroma, rasa, tekstur dan aftertaste. Formula 2 (penambahan pare 15% terhadap berat mocaf) merupakan formula terpilih yang mengandung kadar air, abu, protein, lemak, karbohidrat, serat kasar, charantin dan energi secara berturut-turut sebesar 4.73 (%bb), 2.87 (%bk), 5.62 (%bk), 41.91 (%bk), 44.43 (%bk), 0.19 (%bk), 0.48 (%bb) dan 577.44 kkal
Implementasi Kebijakan Pemanfaatan Hutan Lindung Di Kabupaten Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur
Perumusan dan implementasi kebijakan yang baik, sangat penting untuk
menjamin ketertiban dan menjadi acuan untuk pembangunan. Pemahaman
terhadap tanggapan dan teori kebijakan sangat diperlukan sebagai acuan untuk
mengevaluasi penyebab kegagalan kebijakan dalam pengelolaan sumber daya
alam dan bagaimana merumuskan strategi implementasi kebijakan secara tepat.
Penelitian tentang Implementasi Kebijakan Pemanfaatan Hutan Lindung di
Kabupaten Belu dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mengkaji seberapa tepat
implementasi kebijakan tentang pemanfaatan hutan lindung di Kabupaten Belu,
sesuai arahan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang pemanfaatan
hutan pada hutan lindung, pemanfaatan kawasan pada hutan lindung, pemanfaatan
jasa lingkungan pada hutan lindung dan pemungutan hasil hutan bukan kayu pada
hutan lindung.
Tujuan penelitian yaitu; Pertama, mengindentifikasi macam-macam
kebijakan yang diimplementasikan oleh Pemerintah Daerah dan KPH di
Kabupaten Belu. Kedua, mengidentifikasi hambatan-hambatan dalam
implementasi kebijakan terkait pemanfaatan hutan lindung. Ketiga, menilai
persepsi masyarakat dalam pemanfaatan hutan lindung. Metode yang dipakai
dalam penelitian ini adalah kajian isi peraturan perundang - undangan dan
melakukan wawancara terstruktur serta melakukan observasi lapangan. Penelitian
dilaksanakan pada bulan November 2018 - Januari 2019 di Kabupaten Belu,
pengambilan data dengan penyebaran kuesioner dan wawancara tertutup terhadap
120 responden di empat Desa, yaitu Desa Raimanus, Desa Kenebibi, Desa
Fatuketi dan Desa Tulakadi. Responden dipilih dengan cara purposive sampling.
Skoring penilaian menggunakan analisis skala likert. yang di lihat dari aspek
pengetahuan, perilaku, sikap dan preferensi. Dari segi aspek pengetahuan
menunjukkan bahwa masyarakat cukup tahu mengenai pemanfaatan hutan dan
nilai rata - rata yang di dapatkan adalah 5.06, dimana nilai tersebut merupakan
hasil skoring yang menjawab bahwa masyarakat cukup tahu mengenai keberadaan
hutan lindung, adanya pal batas dan sumber mata air. Untuk aspek perilaku nilai
rata-rata 5.70 yang artinya masyarakat dari segi perilaku melihat bahwa
keberadaan hutan lindung bisa dimanfaatkan sumber air. Segi sikap hasil skoring
yang di dapatkan adalah 5.74 di mana nilai tersebut cukup setuju karena
masyarakat di perbolehkan mengambil hasil hutan bukan kayu dan kayu dalam
batas tertentu dan memanfaatkan sumber air secara bijak yang berasal dari hutan
lindung. Aspek preferensi nilai yang didapatkan adalah 6.10 yakni masyarakat
sangat setuju ketika diberikan sanksi kepada siapa saja yang memanfaatkan hasil
hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu dan diberlakukannya peraturan oleh
pemerintah untuk mengatur pemanfaatan hutan lindung. Berdasarkan hasil skoring
persepsi masyarakat tentang pemanfaatan hutan lindung bahwa rata-rata tahu dan
setuju
Optimasi Penentuan Lokasi dan Jenis Fasilitas Pengolahan Sampah Perkotaan
Persampahan merupakan isu penting dalam masalah lingkungan perkotaan.
masalah yang dapat menimbulkan masalah lainnya apabila tidak ditangani dengan
tepat seperti terjadinya polusi air, tanah dan udara. Untuk itu diperlukan
pengelolaan sampah yang efektif dan efisien agar timbulan sampah yang
dihasilkan dapat dikurangi. Pengelolaan sampah yang baik selain dapat
mengurangi timbulan sampah juga dapat meminimumkan biaya operasional.
Teknologi yang digunakan dalam pengolahan sampah baik di negara maju
maupun negara berkembang semakin bervariasi dalam pengembangannya. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan untuk membuat model matematika optimasi
penentuan lokasi dan jenis fasilitas pengolahan sampah perkotaan dan
mengaplikasikan model tersebut pada sistem pengelolaan sampah di DKI Jakarta.
Model matematika optimasi penentuan loaksi dan jenis fasilitas pengolahan
sampah dibentuk dalam bentuk binary integer programming (BIP). Variabel
keputusan yang ditentukan yaitu lokasi didirikan fasilitas pada ITF j dengan
penggunaan teknologi t dengan fungsi tujuan meminimumkan total biaya
operasional pengelolaan yang meliputi biaya angkut, biaya olah sampah, dan nilai
hasil pengolahan. Penelitian ini menggunakan tiga contoh skenario yang solusinya
telah diketahui dengan memberikan jarak angkut sampah dari TPS-ITF, TPSTPA,
ITF-TPA dan kemampuan pengkonversian yang berbeda untuk tiap
teknologi.
Berdasarkan aplikasi model pada sistem pengelolaan sampah DKI Jakarta
diperoleh bahwa ITF yang dibangun ada dua, yaitu ITF Sunter dengan teknologi
pirolisis dan gasifikasi dan ITF Duri Kosambi dengan teknologi RDF. Biaya
operasional harian saat nilai optimum tercapai adalah Rp312.138.900,00
Film Komposit Polivinil Alkohol-Kitosan-Selulosa Nata de Coco untuk Deteksi Kesegaran Ikan Kembung
Film komposit paduan polivinil alkohol (PVA), kitosan, dan selulosa dalam penelitian ini dibuat untuk mendeteksi kesegaran ikan kembung. Selulosa diperoleh dari nata de coco melalui hidrolisis asam. Analisis ukuran partikel selulosa menggunakan particle size analyzer (PSA) menghasilkan ukuran 37.94–43.82 nm. Film komposit PVA-kitosan-selulosa dibuat dengan tiga ragam komposisi. Film komposit dicirikan menggunakan fourier transform infrared spectroscopy (FTIR) dan scanning electron microscopy (SEM). Hasil analisis FTIR menunjukkan bahwa taut silang antara PVA-kitosan dan glutaraldehida berhasil terjadi. Pengamatan morfologi sayatan melintang film komposit menunjukkan permukaan film masih kurang halus dan terdapat retakan. Tambahan kitosan pada film mampu meningkatkan kuat tarik, sedangkan tambahan selulosa mampu meningkatkan nilai persentase pemanjangan. Ekstrak kubis ungu ditambahkan ke dalam film komposit sebagai indikator alami untuk mendeteksi kesegaran ikan kembung. Bioindikator menunjukkan kestabilan warna yang baik, namun film belum mengalami perubahan warna yang nyata saat diaplikasikan sebagai pendeteksi kesegaran ikan kembung
Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula Berdasarkan Gradien Salinitas di Hutan Pantai Taman Nasional Baluran, Jawa Timur
Mikoriza merupakan simbiosis mutualisme antara fungi dengan perakaran
tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberagaman genus
kelompok Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) serta hubungannya dengan sifat-sifat
tanah, khususnya gradien salinitas di tegakan hutan pantai Perengan Taman
Nasional Baluran, Jawa Timur. Prosedur kerja dalam penelitian ini meliputi
pengambilan sampel, penghitungan kepadatan spora, isolasi dan identifikasi genus
FMA, kuantifikasi kolonisasi FMA, serta penentuan sifat kimia tanah. Kepadatan
spora di tanah salin hutan pantai TN Baluran tidak memiliki korelasi dengan gradien
salinitas (3‰, 2.5‰, 2‰, 1.5‰ dan 1‰) dan jarak sub plot pengamatan dari garis
pantai. Kepadatan spora lebih dipengaruhi oleh faktor genangan dan jenis tanaman
sampel. Selain itu gradien salinitas juga tidak memberikan pengaruh terhadap tinggi
rendahnya persen kolonisasi FMA. Ditemukan tiga genus FMA (genus Glomus,
Acaulospora, dan Gigaspora) dengan genus Glomus sebagai genus yang paling
mendominasi. Tanah hutan pantai Taman Nasional Baluran tergolong subur yang
ditandai oleh nisbah C/N sedang hingga tinggi. Kandungan P tersedia dalam tanah
sampel memberikan pengaruh negatif terhadap kolonisasi mikoriza
Perbandingan Analisis Faktor dan Expert Judgments dalam Membangun Lima Modal Keberlanjutan Hidup Masyarakat di Wilayah Gambut Provinsi Riau.
Penghidupan berkelanjutan bebas polusi asap merupakan salah satu proyek penelitian yang sedang dilakukan oleh Center for International Forestry Research (CIFOR) beserta mitranya terhadap 9 desa di Wilayah Kesatuan Hidrologis Gambut Sungai Kampar-Indragiri, Provinsi Riau. Berdasarkan aspek sosial, desa-desa penelitian dapat digolongkan menjadi 2 kelompok, yakni desa lokal dan transmigran. Perbedaan kedua kelompok diduga terpengaruh oleh ketersediaan lima modal keberlanjutan hidup, yakni modal finansial, manusia, alam, sosial, dan fisik. Namun, hasil analisis faktor konfirmatori menunjukkan bahwa faktor yang dibentuk tidak mencerminkan lima modal keberlanjutan hidup tersebut. Masyarakat kedua kelompok desa memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Berdasarkan skor faktor yang diperoleh, masyarakat kelompok desa lokal kuat dalam faktor 3 dan 4 (jaring pengaman sosial) sedangkan faktor 5 merupakan kekuatan masyarakat kelompok desa transmigran. Akan tetapi, masyarakat secara umum masih lemah dalam faktor 2 (aset rumah tangga). Berdasarkan hasil perbandingan, tidak ditemukan kesesuaian antara hasil analisis faktor dan expert judgments. Hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, salah satunya adalah kenyataan bahwa modal keberlanjutan hidup tidak dapat dipisahkan secara tegas sebagaimana teori yang melandasinya. Di sisi lain, analisis faktor yang berbasis data empiris dan expert judgments yang berbasis pemikiran teoritis manusia pada dasarnya memang berbeda dimensi
QTL untuk Sifat Toleransi Aluminium pada Kromosom 3 Padi Berdasarkan Karakter Panjang Akar
Padi adalah tanaman serealia yang relatif toleran terhadap cekaman aluminium (Al). Sifat toleransi padi terhadap cekaman Al merupakan sifat kuantitatif dengan melibatkan banyak gen atau quantitative trait loci (QTL) sehingga toleransi tanaman terhadap cekaman Al memiliki mekanisme yang kompleks. Sejauh ini, penelitian mengenai parameter sifat toleransi Al yang berhubungan dengan daerah QTL pada kromosom 3 dari padi belum tuntas diketahui. Parameter penghambatan panjang akar (PPA) dan root re-growth (RRG) telah dilaporkan memiliki korelasi yang rendah dengan QTL pada daerah kromosom 3 di antara marka RM489 dan RM517. Selain itu parameter RRG, PPA, dan panjang akar relatif (PAR) akar total belum bisa membedakan dengan jelas sifat toleransi terhadap Al antara genotipe padi IR64 transgenik B11 dan tipe liarnya. Sementara penggunaan parameter panjang akar total (PAT), panjang akar utama (PAU), panjang akar lateral (PAL), dan jumlah akar lateral (JAL) menunjukkan adanya perbedaan tingkat toleransi Al antara tanaman transgenik B11 dengan tipe liarnya. Oleh karena itu penelitian ini menjadi penting dilakukan untuk menentukan karakter panjang akar yang tepat dan dapat membedakan sifat toleransi Al, memetakan lokus B11 pada kromosom 3 berdasarkan pemetaan pautan menggunakan rekombinasi antar alel/marka, dan memverifikasi penggunaan marka B11, baik cleaved amplified polymorphism sequence (B11CAPS) atau single nucleotide polymorphism (SNPB11) pada padi gogo Indonesia.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah biji dan DNA dari tetua (IR64 dan Hawara Bunar), 13 varietas padi gogo, dan 256 galur Recombinant Inbred Lines (RILs) F9 hasil silangan antara IR64 dan Hawara Bunar. Metode yang digunakan pada penelitian ini meliputi: analisis genotipe menggunakan marka SSR, B11CAPS, dan SNPB11, analisis fenotipe panjang akar ketika tercekam Al, analisis pemetaan QTL, serta verifikasi marka SNPB11 pada padi Inpago. Analisis fenotipe panjang akar yang dilakukan meliputi panjang akar total (PAT), panjang akar utama (PAU), panjang akar seminal (PAS), panjang akar lateral (PAL), dan jumlah akar lateral (JAL). Pengukuran karakter panjang akar dilakukan setelah tahap adaptasi, setelah cekaman Al, dan setelah tahap pemulihan (recovery) dengan memindai akar dengan menggunakan mesin Scanner Epson dan hasil gambar kemudian dihitung panjang akarnya dengan menggunakan program aplikasi RootReader2D dan ImageJ.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi RIL baik antara analisis genotipe maupun fenotipe menunjukkan kecenderungan yang sama yaitu galur RIL bersifat kuantitatif dan memiliki persebaran tingkat toleransi Al secara gradual mulai dari galur sensitif hingga toleran Al. Daerah QTL untuk karakter PAT, PAU, PAL, dan JAL muncul pada daerah di antara marka RM545 dan RM14543 pada kromosom 3 serta mencapai puncaknya pada daerah SNPB11 dengan nilai LOD di atas 2.5, sedangkan QTL untuk sifat panjang akar seminal (PAS) tidak dapat ditemukan. Karakter PAU, PAT, PAL, dan JAL terpaut pada marka SNPB11 dan QTL untuk toleransi tanaman terhadap cekaman Al berdasarkan karakter
tersebut ditemukan pada daerah di sekitar marka SNPB11 dan RM14543. Hasil sekuensing menunjukkan bahwa pada SNPB11 ditemukan 2 SNP, yaitu pada SNP pertama padi Hawara Bunar memiliki nukleotida G, sementara padi gogo yang bersifat sensitif Al memiliki nukleotida A, dan pada SNP kedua padi Hawara Bunar memiliki nukleotida G, sedangkan padi gogo lainnya memiliki nukleotida C.
Berdasarkan principal component analysis (PCA) menggunakan karakter panjang akar dan malondialdehid (MDA), maka tingkat toleransi beberapa varietas padi dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu sensitif dan toleran Al. Padi yang memiliki tingkat toleransi yang tinggi terhadap cekaman Al adalah padi Hawara Bunar dengan nilai PAT, PAU, pertambahan panjang akar (PerPA), dan panjang akar relatif (PAR) yang tinggi. Padi cv. Jatiluhur, Situpatenggang, Limboto, Situbagendit, Batutegi, Inpago4, Inpago5, Inpago6, Inpago7, Inpago8, Inpago9, Inpago10, dan Inpago11 termasuk ke dalam kelompok padi sensitif Al berdasarkan karakter MDA, PAT, PAU, PAR, PPA, dan PerPA. Hubungan antara karakter fisiologi padi gogo dengan marka SNPB11 dilakukan dengan analisis korelasi Pearson, pengujian keragaman nilai menggunakan analisis Heatmap. Analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa karakter PAT, PAU, PerPA, dan PAR memiliki nilai korelasi positif yang tinggi terhadap marka SNPB11 (SNP1 dan SNP2) yaitu berturut-turut bernilai 0.860, 0.830, 0.690 dan 0.475. Nilai korelasi negatif terhadap SNPB11 dimiliki oleh karakter fisiologi nilai MDA dan PPA dengan nilai beruturut-turut -0,920 dan -0,450.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa QTL untuk toleransi tanaman padi terhadap cekaman Al ditemukan pada daerah di antara marka SNPB11 dan RM14543 pada kromosom 3. Karakter panjang akar utama, panjang akar total, panjang akar lateral, dan jumlah akar lateral dapat dijadikan parameter toleransi Al pada padi. Karakter panjang akar utama memiliki mode aksi gen yang epistasis, sementara panjang akar total cenderung bersifat aditif. Marka SNPB11 yang dikembangkan dari marka B11CAPS dapat digunakan untuk membedakan sifat toleransi Al pada padi
Analisis Indeks Kinerja dan Evaluasi Proses Internasionalisasi UMKM Rengginang di Kabupaten Bogor
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berkontribusi sekitar 60%
dalam PDB Indonesia dan sekitar 97% penyerapan tenaga kerja. Desa Semplak
Barat, Kabupaten Bogor merupakan desa yang mayoritas warganya menjadi
produsen rengginang dan beberapa diantaranya sudah berhasil melakukan ekspor.
Analisis indeks kinerja dilakukan dengan membandingkan dengan desa sekitar
untuk mengetahui potensi dan kesiapan UMKM rengginang lokal untuk melakukan
ekspor. Analisis indeks kinerja dilakukan dengan metode indeks kinerja yang
merupakan modifikasi dari metode indeks pembangunan yang dikembangkan oleh
Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas). Hasil dari pengukuran
indeks kinerja menunjukkan bahwa indeks kinerja rata-rata UMKM rengginang
desa Semplak Barat sebesar 53.72 dan indeks kinerja rata-rata UMKM rengginang
desa Bantarjaya sebesar 50.44. Hal ini disebabkan karena di desa Semplak Barat
terdapat UMKM yang sudah ekspor. Hasil lain dari analisis indeks kinerja ini
adalah bahwa metode indeks kinerja dinilai kurang cocok digunakan untuk
mengukur indeks kinerja UMKM yang bersifat homogen. Penilaian dan
pembobotan yang dilakukan oleh pakar dapat menyebabkan perbedaan asumsi
tingkat kepentingan dimensi dan atribut dengan kondisi UMKM yang sebenarnya.
Analisis indeks kinerja kemudian dilanjutkan dengan evaluasi proses
internasionalisasi pada UMKM yang sudah ekspor dengan metode Uppsala. Hasil
dari evaluasi tersebut adalah proses internasionalisasi yang dilakukan UMKM
rengginang desa Semplak Barat berbeda dengan model Uppsala
Kajian Karakteristik dan Persepsi Masyarakat terhadap Objek Warisan Budaya di Kota Yogyakarta
Warisan budaya menjadi penting dalam menghidupkan kembali sejarah kota yang pernah ada pada sumbu filosofi. Sumbu filosofi sebagai dasar dalam identifikasi karakteristik dari objek warisan budaya, yaitu Tugu, Malioboro, Kilometer Nol, dan Alun-alun Selatan, serta lingkungannya. Sektor pariwisata juga terus mendorong Yogyakarta sebagai objek destinasi wisata favorit, khususnya wisata budaya di perkotaan. Alun-alun Selatan dan lingkungannya berada dalam dinding (njeron beteng) memiliki karakter unik. Keberadaan dinding sudah tidak lagi berperan sebagai pertahanan fisik dalam menghadapi musuh. Kondisi saat ini, meskipun dinding mengalami kerusakan tetapi berfungsi sebagai pembatas wilayah yang memiliki perbedaan karakteristik dan menjaga sendi-sendi kehidupan wilayah Kraton. Karakter unik njeron beteng terletak pada arsitektur dan toponim. Kondisi bangunan (dalem) priyayi/bangsawan, kampung pribumi, dan kampung berbasis pesantren masih mengelompok, namun beberapa di antaranya telah mengalami perubahan. Toponim yang ada saat ini adalah penamaan jalan menggunakan nama kampung berdasarkan profesi yang ada sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana I.
Hubungan tempat dengan psikologi manusia khususnya pada objek warisan budaya masih belum mendapat perhatian. Pentingnya persepsi masyarakat dan wisatawan merupakan bentuk partisipasinya dalam menanggapi dan memberi penilaian terhadap objek warisan. Variabel warisan budaya memiliki nilai paling kuat, sedangkan variabel ketergantungan tempat memiliki nilai paling lemah. Nilai semua responden, 8.33% sangat setuju dan 91.67% setuju pada warisan budaya; dan 8.33% setuju, 83.33% ragu-ragu, dan 8.33% tidak setuju pada ketergantungan tempat. Malioboro memiliki nilai paling kuat sebesar 3.61 dan Kilometer Nol memiliki nilai paling lemah sebesar 3.18. Seluruh objek warisan tersebut mengindikasikan nilai rata-rata (median) tidak jauh berbeda. Persepsi antara masyarakat asli dan pendatang tidak ada perbedaan dalam menilai empat objek warisan dengan menggunakan uji beda Mann-Whitney U. Konsep place-making sebagai pertimbangan dalam merencanakan ruang publik di Kilometer Nol untuk meningkatkan variabel keterikatan tempat dan nilai kontinuitas, khususnya ketergantungan tempat. Kelompok bangunan kolonial Belanda di Kilometer Nol sudah ada keberadaannya sebagai aset berharga dan harus ditanamkan dimensi psikologi dan spiritual. Pemahaman tersebut juga berkaitan tentang sejarah kota yang tidak hanya membangun fisik saja namun juga melibatkan aspek bukan fisik. Konsep citra kota melalui identitas, struktur, dan makna sebagai pertimbangan dalam mengintegrasikan karakteristik dengan benang merah di sumbu filosofi. Karakter fisik diharapkan dapat memberikan pengaruh terhadap aspek bukan fisik. Perlu koordinasi antara pemangku kepentingan dan partisipasi aktif dari masyarakat asli dan pendatang sebagai upaya dalam pelestarian warisan budaya