31665 research outputs found
Sort by
Pola Pergerakan Spons Pembunuh Karang Batu (Terpios hoshinota) di Ekosistem Terumbu Karang Kepulauan Seribu, Jakarta.
Terpios hoshinota adalah cyanosponge bertatahkan pada substrat di terumbu karang yang dapat menyebabkan kematian massal pada karang yang terpapar. Penelitian ini dilakukan untuk menyelidiki besarnya tingkat kerusakan karang akibat wabah T. hoshinota dengan menilai tingkat pertumbuhannya, variasi cakupan spasial, dan prevalensi antara dua lokasi di Kepulauan Seribu, Pulau Dapur (yang paling dekat dengan Jakarta) dan Pulau Belanda (situs selanjutnya). Pengamatan sebanyak empat kali (T0 - T3) selama lebih dari 18 bulan (2016 - 2017) dilakukan untuk melihat tingkat pertumbuhan spons menggunakan metode transek foto kuadrat permanen 5x5 m (250000 cm2).
Hasil penelitian menunjukkan Tingkat pertumbuhan tertinggi terjadi pada T2 2051 cm2/bulan di Pulau Dapur dan 483 cm2/bulan di Pulau Belanda. Tingkat pertumbuhan spons tertinggi terjadi pada T1 - T2 selama musim transisi dari hujan ke kering. Tingkat pertumbuhan terendah diamati pada T3 selama musim transisi dari kering ke hujan. Total cakupan area spons di Pulau Dapur di T0 adalah 54028 cm2 dan menjadi 72573 cm2 di T3, sementara di Pulau Belanda T0 sebesar 11224 cm2 menjadi 8492 cm2 di T3. Persentase prevalensi umumnya lebih tinggi di Pulau Belanda daripada di Pulau Dapur. Studi ini menunjukkan invasi persisten dari T. hoshinota yang berkerak pada ekosistem terumbu karang yang sangat berdampak pada lingkungan terdegradasi yang dapat mengatasi fungsi dan peran organisme terkai
Fisiologi dan Karakteristik Daun Rhizophora mucronata Lam. pada berbagai Umur Tanaman dengan Teknik Penanaman Guludan di Angke Kapuk Jakarta
Rehabilitasi kawasan mangrove dengan teknik guludan perlu diukur tingkat
keberhasilannya. Salah satu indikator yang mudah dilakukan untuk mengukur
keberhasilan pertumbuhan yaitu fisiologi dan karakteristik daun. Tujuan penelitian
ini adalah menduga kandungan klorofil dan stomata daun serta mendeskripsikan
karakteristik daun tanaman Rhizophora mucronata pada umur berbeda.
Pengukuran dilakukan di Kawasan Rehabilitasi Mangrove di Angke Kapuk
Jakarta. Pengukuran klorofil dilakukan di lapang dengan alat chlorophyll-meter,
sampel stomata diambil dengan metode replika, serta karakteristik daun mengacu
pada Standardized Protocol for the Measurement of Leaf Traits. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa tanaman R. mucronata berumur 1, 6, dan 10 tahun tidak
berbeda signifikan dalam kandungan klorofil, kerapatan stomata dan karakteristik
luas daun. Adapun karakteristik daun (Specific Leaf Area dan Leaf Dry Matter
Content) menunjukkan perbedaan yang signifikan di antara umur tanaman yang
berbeda. Walaupun demikian, dalam hal ini kandungan klorofil tertinggi 73.58
μg/cm2 pada umur tanam 1 tahun dan kerapatan stomata 47-58 stomata/mm2 di
epidermis bawah daun. Kondisi lingkungan berupa suhu udara dan kandungan
unsur hara tanah mengalami perubahan seiring pertambahan umur tanaman
Regresi Panel Terboboti Geografis pada Indeks Pembangunan Gender Jawa Tengah Tahun 2011-2015.
Data panel merupakan gabungan dari data cross section dan time series.
Data cross section ialah data yang dikumpulkan dari satu atau beberapa objek
pada suatu waktu tertentu. Sedangkan data time series adalah data yang
dikumpulkan dari satu atau beberapa objek yang diamati pada beberapa waktu
tertentu. Analisis data panel dapat didekati dengan tiga pendekatan yakni model
panel dengan pengaruh umum (CEM), model panel dengan pengaruh tetap (FEM),
dan model panel dengan pengaruh acak (REM). Data panel juga terkadang
mengandung efek spasial yaitu salah satunya keragaman spasial. Pendugaan
parameter model data panel yang mengandung keragaman spasial dapat dilakukan
dengan menggunakan suatu metode analisis yang disebut Regresi Panel Terboboti
Geografis (RPTG).
Salah satu langkah dalam analisis RPTG adalah melakukan pembobotan
menggunakan fungsi kernel. Fungsi pembobot kernel yang sering digunakan
dalam penelitian antara lain kernel kuadrat ganda, gauss, eksponensial, dan
tricube. Pembobotan membutuhkan lebar jendela yaitu suatu radius yang
ditunjukkan oleh suatu lingkaran yang menggambarkan jumlah atau proporsi
amatan yang masih dianggap berpengaruh dalam pemodelan RPTG suatu lokasi
tertentu. Jenis lebar jendela dibedakan menjadi lebar jendela tetap dan lebar
jendela adaptif. Lebar jendela tetap memiliki besar radius sama untuk setiap
amatan, sedangkan lebar jendela adaptif memiliki besar radius yang berbeda untuk
setiap amatan. Lebar jendela optimum diperoleh melalui validasi silang (Cross
Validation/CV) dengan proses iterasi.
Indeks Pembangunan Gender (IPG) adalah suatu ukuran yang menentukan
tingkat keberhasilan pembangunan dengan permasalahan gender. IPG sama
dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) namun dibedakan menurut jenis
kelamin. IPG merupakan rasio antara IPM perempuan dengan IPM laki-laki. Jika
IPG kurang dari 100 maka terdapat kesenjangan antara pembangunan perempuan
dan laki-laki. Komponen yang menyusun IPG antara lain faktor umur panjang dan
hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Masalah ketimpangan gender
di Indonesia saat ini masih terjadi dalam pelaksanaan pembangunan manusia.
Kesenjangan tersebut terlihat pada beberapa aspek salah satunya aspek
kesempatan kerja dan ekonomi. Jawa Tengah merupakan provinsi terbesar di
Pulau Jawa dengan IPG yang cenderung meningkat selama 2011 sampai 2015.
Meskipun IPG Jawa Tengah cukup tinggi, tapi lebih rendah jika dibandingkan
dengan beberapa provinsi lain di Jawa yaitu DKI Jakarta dan DI Yogyakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan IPG pada perempuan di Jawa Tengah
tahun 2011 hingga 2015 menggunakan metode RPTG. Data yang digunakan
dalam penelitian bersumber dari BPS (Badan Pusat Statistik). Peubah-peubah
penjelasnya antara lain angka harapan hidup, presentase penduduk yang
mengalami keluhan kesehatan, angka partisipasi sekolah SD/sederajat, angka
partisipasi sekolah SMP/sederajat, angka partisipasi sekolah SMA/sederajat,
pengeluaran perkapita, dan tingkat partisipasi angkatan kerja. Pemilihan peubah
penjelas berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Peubah-peubah
penjelas yang digunakan sesuai dengan komponen IPG.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa analisis RPTG dapat
memprediksi keragaman data IPG perempuan di Provinsi Jawa Tengah tahun
2011 hingga 2015 dengan pseudo R2 84.92%. Nilai IPG selama tahun 2011
hingga 2015 tidak jauh berbeda. Artinya bahwa faktor waktu tidak berpengaruh
nyata. Namun faktor spasial yang berpengaruh nyata pada IPG. Berdasarkan
peubah yang nyata, kabupaten/kota di Jawa Tengah dapat dikelompokkan menjadi
11 kelompok. Sebagai contoh Kabupaten Demak, Kudus, Pati, dan Kota
Semarang membentuk satu kelompok berdasarkan peubah penjelas yang nyata
pada IPG. Keempat kabupaten/kota tersebut dilalui oleh jalur Pantai Utara Jawa
(Pantura) sehingga struktur sosial ekonominya sama. Selain itu Kabupaten
Semarang dan Kota Salatiga dengan peubah penjelas nyata adalah APS
SMA/sederajat dan pengeluaran per kapita. Dua kabupaten/kota tersebut
merupakan sentra industri tekstil dan pengolahan makanan minuman sehingga
struktur ekonomi dan tenaga kerjanya sama. Namun ada juga kabupaten/kota yang
tidak membentuk kelompok dengan yang lain karena letaknya yang bersebelahan
dengan provinsi lain. Penelitian ini menyimpulkan peubah penjelas yang nyata di
seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah adalah pengeluaran per kapita. Hal ini
menunjukkan faktor yang berpengaruh besar pada IPG adalah faktor ekonomi.
Hasil tersebut dapat digunakan pemerintah daerah untuk meningkatkan IPG.
Peubah angka harapan hidup, persentase penduduk yang mengalami keluhan
kesehatan, dan APS SD/sederajat mendominasi pada kelompok-kelompok,
sedangkan TPAK sama sekali tidak berpengaruh terhadap IPG pada seluruh
kabupaten/kota di Jawa Tengah
Salaca: Perencanaan Model Bisnis Selai Lembaran Buah Salak
Selai lembaran merupakan inovasi produk pangan buah-buahan yang
memiliki potensi sebagai solusi dari kebutuhan masyarakat akan sarapan cepat yang
bernutrisi. Penelitian ini bertujuan melihat permasalahan yang paling sering dialami
dalam aktivitas sarapan, saat mengkonsumsi selai dan ketika mengkonsumsi buah
salak. Selanjutnya, penelitian ditunjukan untuk menemukan segmen pelanggan
yang sesuai serta memperoleh solusi paling tepat guna dalam permasalahan terkait
konsumsi selai. Pengambilan sampel secara purposive dilakukan untuk
pengumpulan data, data di analisis dengan pendekatan kualitatif. Pada tahap awal
penelitian, hipotesis didasarkan pada sembilan elemen kanvas model bisnis yang
kemudian di uji kembali sehingga diperoleh kanvas model bisnis yang terverifikasi
untuk produk selai lembaran. Berdasarkan analisis uji masalah dan solusi, terdapat
beberapa perubahan dan penambahan spesifik pada fitur produk. Produk selai
lembaran buah salak berpeluang menjadi solusi dari permasalahan dengan
keunggulan berupa kemudahan dari segi penyajian dan waktu, kemasan mudah
dibawa, berbahan dasar alami tanpa bahan pengawet dan pemanis buatan, dan
berbahan baku buah salak Bogor yang merupakan buah unggulan khas daerah.
Berdasarkan analisis biaya dan preferensi responden diperoleh harga jual pada selai
lembaran sebesar Rp17 000 per kemasan
Analisis Persepsi Konsumen terhadap Keputusan Pembelian Online di Tokopedia.
Pengguna internet di Indonesia semakin meningkat. Hal itu berpengaruh
positif terhadap transaksi jual beli online. Pada saat ini persaingan e-commerce
semakin ketat di Indonesia. Tokopedia harus meningkatkan keunggulan dalam
bersaing dengan e-commerce lainnya untuk menarik banyak konsumen dengan
memahami persepsi konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian. Tujuan
dari penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik konsumen Tokopedia dan
menganalisis pengaruh harga, kualitas layanan, dan merek terhadap keputusan
pembelian online Tokopedia. Metode pemilihan sampel menggunakan metode
non-probability sampling dengan teknik purposive sampling. Metode analisis
yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Hasil uji F menunjukkan
bahwa pengaruh harga, kualitas layanan dan citra merek berpengaruh signifikan
terhadap keputusan pembelian online tokopedia (sig. 0.000). Hasil uji t bahwa
harga (sig. 0.044), kualitas layanan (sig. 0.040), dan citra merek (sig. 0.000)
memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian online Tokopedia
Dampak Bencana Alam dan Determinan lainnya terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia
Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu tujuan yang berusaha dicapai oleh
setiap negara. Dari hasil penelitian yang sudah ada menunjukan dampak bencana
alam terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi dua macam, yaitu efek positif dan
negatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak bencana alam terhadap
pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Metode analisis yang digunakan adalah
analisis deskriptif dan regresi data panel. Data yang digunakan adalah data 33
provinsi dengan periode tahun 2010-2018. Dalam penelitian ini bencana alam
diproksi melalui variabel korban meninggal dan kerusakan fasilitas akibat bencana.
Hasil estimasi data panel menunjukan bahwa rata-rata lama sekolah, investasi,
penduduk bekerja, bongkar muat barang dan rasio panjang jalan per luas wilayah
berpengaruh signifikan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Variabel
korban meninggal akibat bencana signifikan menurunkan pertumbuhan ekonomi
sedangkan variabel kerusakan fasilitas tidak signifikan memengaruhi pertumbuhan
ekonomi
Penggunaan Lignin sebagai Indikator Internal Penentuan Kecernaan Hi-fer Pucuk Tebu
Lignin digunakan sebagai indikator internal kecernaan hi-fer pucuk tebu karena lignin merupakan bagian dari sel tanaman yang tidak dapat dicerna oleh saluran pencernaan ruminansia. Penelitian ini bertujuan mengukur presisi lignin sebagai indikator internal kecernaan dan membandingkan kecernaan bahan kering beberapa hi-fer pucuk tebu dengan menggunakan lignin sebagai indikator internal. Penelitian ini dilakukan di Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Cibungbulang Bogor, dan Laboratorium Ilmu Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB. Penelitian ini menggunakan Rancangan Bujur Sangkar Latin dengan 4 perlakuan dan 4 periode: P1 (pucuk tebu tanpa perlakuan), P2 (hi-fer pucuk tebu dengan 5% AF), P3 (hi-fer pucuk tebu dengan 0.4% probiotik multigenera), dan P4 (hi-fer pucuk tebu dengan 5% AF dan 0.4% probiotik multigenera). Setiap periode terdiri dari 8 hari masa adaptasi pakan dan 8 hari masa pengumpulan data. Parameter penelitian terdiri dari konsumsi bahan kering, kecernaan bahan kering, dan kecernaan ADF. Hasil menunjukkan kadar lignin dalam feses sapi yang digunakan masih kurang stabil (CV>10%). Perlakuan memberikan pengaruh yang sangat signfikan (P<0.01) terhadap konsumsi bahan kering, namun perlakuan tidak berpengaruh terhadap kecernaan bahan kering dan kecernaan ADF tetapi masih menunjukkan angka yang normal
Analisis Sifat Fisis dan Mekanis Komponen Kayu Kapal Banawa Nusantara di Galangan Kapal Kabupaten Rembang
Kapal kayu merupakan armada utama pelayaran rakyat yang merupakan warisan budaya bangsa Indonesia. Pembuatan kapal kayu masih tradisional dan belum menerapkan teknologi secara efektif dan efisien, sehingga pemilihan jenis kayu yang digunakan belum sesuai dengan standar izin konstruksi kapal. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis kayu, menganalisis sifat fisis kayu, sifat mekanis kayu, serta faktor keamanan kayu pada lambung kapal. Ciri anatomi kayu dibandingkan dengan atlas kayu Indonesia untuk mengidentifikasi jenis kayu yang digunakan. Sifat fisis dan mekanis kayu diuji dengan menggunakan standar BS-373. Faktor keamanan didapat dari hasil perbandingan antara variabilitas kekuatan kayu contoh kecil bebas cacat dengan tegangan dasar (basic stress). Hasil identifikasi kayu menunjukan jenis kayu yang digunakan adalah merbau dan resak. Hal ini sudah sesuai seperti yang disebutkan oleh pemilik galangan kapal. Sifat fisis kayu merbau dan resak meliputi kadar air masing-masing sebesar 19.90 % dan 20.89 %, kerapatan 0.89 g/cm³ dan 0.81 g/cm³, berat jenis 0.77 dan 0.70, serta nilai rasio T/R 1.34 dan 1.82. Sifat mekanis kayu merbau dan resak meliputi MOE masing-masing sebesar 192 213 kg/cm² dan 127 806 kg/cm², MOR sebesar 1 575 kg/cm² dan 977 kg/cm², keteguhan tekan sejajar serat 604 kg/cm² dan 340 kg/cm², kekerasan kayu 1 088 kg/cm² dan 806 k g/cm², serta keteguhan geser sejajar serat 148 kg/cm² dan 105 kg/cm². Hasil analisis sifat fisis dan mekanis kayu menunjukan kedua jenis kayu sudah baik digunakan sebagai konstruksi kapal karena telah memenuhi standar SNI 2017. Besar faktor keamanan 3.73, nilai tersebut telah memenuhi syarat keamanan konstruksi struktural
Efektivitas Cacahan Batang Pisang Kepok Musa paradisiaca Linn. untuk Meningkatkan Kelangsungan Hidup Ikan Lele Clarias gariepinus yang Ditransportasikan.
Peningkatan permintaan ikan lele perlu disertai dengan penanganan dalam transportasi yang baik sebagai pendukung dalam keberhasilan budidaya dan mengurangi tingkat kematian. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi tingkat kematian pada saat transportasi yaitu dengan pemberian cacahan batang pisang kepok pada wadah pemeliharaan sebelum ikan ditransportasikan. Penelitian ini bertujuan menentukan dosis cacahan batang pisang untuk meningkatkan kelangsungan hidup ikan lele yang ditransportasikan. Bobot rata-rata ikan lele yang digunakan sebesar 4,45±2,70 g/ekor, dipelihara dengan kepadatan 10 ekor per akuarium yang berukuran (60×40×40 cm3). Penelitian ini terdiri dari empat perlakuan yaitu kontrol (tanpa cacahan batang pisang kepok) serta pemberian cacahan batang pisang kepok berdimensi 1×2 cm sebanyak 5 g L-1 air (A), 10 g L-1 air (B), dan 15 g L-1 air (C), yang masing-masing diberi tiga ulangan. Perendaman dilakukan selama dua minggu dengan pergantian cacahan batang pisang kepok setiap minggu. Ikan lele dipelihara selama 30 hari dan diberi pakan pelet komersil. Ikan lalu ditransportasi ke pasar Parung, Kab Bogor dengan jarak tempuh ±26 km dan lama perjalanan 2 jam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian cacahan batang pisang kepok memberikan kelangsungan hidup tertinggi setelah ikan ditransportasi dengan dosis terbaik 10-15 g L-1 air
Evaluasi Metode Pendugaan Lahan Kritis (Studi Kasus di DAS Cisadane)
Lahan kritis di Indonesia pada tahun 2018 menurun sangat nyata, dari 77.8 juta ha (2007) menjadi hanya 14 juta ha. Penurunan luas lahan kritis yang sangat nyata tersebut belum diikuti dengan berkurangnya bencana terkait lahan kritis, seperti kejadian banjir, kekeringan, rendahnya produktivitas lahan, dan kekeruhan sungai. Berkurangmya lahan kritis tersebut diduga akibat perubahan kriteria lahan kritis yang digunakan dalam pemetaan lahan kritis. Pemetaan lahan kritis di Indonesia telah direvisi dari Perdirjen BPDASPS Nomor P.4/SET-V/2013 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Data Spasial Lahan Kritis menjadi Perdirjen PDASHL Nomor P.3/PDASHL/SET/ KUM.1/7/2018 dalam upaya menyederhanakan parameter yang digunakan dan menghindari pengulangan parameter (baik bobot dan skor). Namun demikian, petunjuk teknis hasil revisi tersebut secara teoritis masih mengandung redundansi, yaitu memberikan skor untuk tingkat erosi dan parameter penyusun penduga erosi (kelas kemiringan lereng, penutupan lahan). Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil pendugaan lahan kritis menggunakan metode skoring dengan metode tingkat erosi yang tertuang dalam Perdirjen PDASHL Nomor P.3/PDASHL/SET/ KUM.1/7/2018. Analisis kesesuaian antara hasil pendugaan lahan kritis menggunakan metode skoring dengan metode tingkat erosi dilakukan dengan menumpangsusunkan peta tingkat kekritisan lahan hasil metode skoring dan metode tingkat erosi. Hasil analisis menunjukkan hasil pemetaan tingkat kekritisan lahan yang sama antara metode skoring dan metode tingkat erosi seluas 92179.79 ha (61.0%), sedangkan yang berbeda seluas 59129.7 ha (39.0%). Metode skoring memberikan skor terhadap parameter pendugaan erosi, yaitu penggunaan lahan dan tingkat erosi serta mempertimbangkan ulang kelas kemiringan lereng, sehingga terjadi redundansi atau pengulangan penilaian tingkat kekritisan lahan. Selain itu metode skoring membedakan tingkat kekritisan berdasarkan status lahan, yaitu di dalam dan di luar Kawasan Hutan. Status lahan tidak selalu membedakan karakteristik biofisik lahan. Penggunaan skor dan status lahan menyebabkan perbedaan hasil pendugaan