31665 research outputs found
Sort by
Komunikasi Ritual dalam Hibridisasi Budaya pada Pembudidayaan Padi Ladang untuk Pengembangan Pertanian Berkelanjutan
Kearifan lokal (local wisdom) memiliki peran penting untuk pengembangan dan keberlanjutan kehidupan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam, seperti pada bidang perikanan, perubahan iklim, kehutanan, mitigasi dan pertanian. Peran kearifan lokal di Indonesia telah memberikan dampak positif, misalnya pamali di Jawa Barat, subak wangaya betan di Bali, sasi di Maluku dan mapalus di Minahasa. Khususnya dalam bidang pertanian, kearifan lokal digunakan petani untuk mengambil keputusan dalam memulai waktu produksi, yaitu musim menanam, meningkatkan konservasi air dan tanah, serta meningkatkan adaptasi tanaman terhadap kekeringan dan digunakan dalam praktik pertanian berkelanjutan. Kearifan lokal merupakan aktualisasi kebudayaan sebuah kelompok masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari komunikasi, karena melalui komunikasi maka kebudayaan akan eksis. Komunikasi tidak hanya diarahkan untuk perluasan pesan di suatu tempat, tetapi merupakan proses simbolis tempat realitas dihasilkan, dipelihara, diperbaiki dan ditransformasikan. Juga merupakan kreasi, representasi dan perayaan keyakinan bersama suatu komunitas.
Komunitas Sahu Jio Tala’i Padusua merupakan salah satu suku asli di Kabupaten Hamahera Barat (Halbar). Rion-rion dan orom sasadu adalah kearifan lokal yang dimiliki komunitas ini, dalam praktik budi daya padi ladang. Praktik budi daya padi ladang dengan kearifan lokal merupakan tradisi yang telah diwariskan nenek moyang Suku Sahu sejak dahulu. Eksistensi praktik budi daya padi ladang mulai tergerus akibat pengaruh faktor internal dan eksternal komunitas, untuk itu perlu dilakukan usaha pelestariannya di dalam masyarakat, sehingga dapat menunjang pembangunan daerah di Kabupaten Halbar. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis pemaknaan Suku Sahu terhadap praktik budi daya padi ladang berbasis rion-rion dan orom sasadu sebagai identitas budaya; (2) Menjelaskan proses signifikasi, dominasi dan legitimasi yang terjadi pada hubungan dualitas agensi dan struktur dalam budi daya padi ladang oleh Suku Sahu; (3) Mengungkapkan peran struktur dan agensi para pihak (petani, tokoh-tokoh masyarakat, pemerintah daerah dan DPRD Halbar) dalam mengembangkan perilaku masyarakat untuk mendukung budi daya padi ladang di Kabupaten Halbar; (4) Mengkonstruksi pendekatan komunikasi pembangunan yang dapat dikembangkan untuk menunjang pengembangan pertanian berkelanjutan, khususnya budi daya padi ladang di Kabupaten Halbar .
Penelitian ini dirancang secara kualitatif dengan metode analisis etnografi komunikasi model SPEAKING, dengan bantuan software Nvivo pro 12. Para informan yang berjumlah 28 orang merupakan partisipan budaya, yaitu petani padi ladang, Kades, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, tokoh masyarakat, ketua dewan adat Suku Sahu, pemerintah daerah dan DPRD Halbar. Lokasi penelitian pada Desa Cempaka di Kecamatan Sahu Timur, yang masih
rutin melakukan budi daya padi ladang dan orom sasadu, dan merupakan kelompok Tala’i, sedangkan Desa Worat-Worat di Kecamatan Sahu, yang mulai berkurang melakukan budi daya padi ladang tetapi, rutin merayakan syukuran panen orom sasadu, dan merupakan kelompok Padusua. Metode etnografi komunikasi digunakan untuk menganalisis pola komunikasi pada praktik budi daya padi ladang secara rion-rion dan perayaan syukuran panen orom sasadu, sehingga dapat diketahui pemaknaan komunitas petani Sahu terhadap praktik sosial tersebut. Selain itu dapat digunakan peneliti untuk menganalisis hubungan dualitas agensi dan struktur dengan kombinasi teori strukturasi dan hibridisasi budaya sebagai teori komunikasi pembangunan, selanjutnya peran-peran agensi dan struktur untuk pelestarian budi daya padi ladang serta mengkonstruksi pendekatan komunikasi pembangunan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan di Kabupaten Halbar.
Penelitian ini menemukan pemaknaan Suku Sahu Jio Tala’i Padusua tentang budi daya padi ladang secara rion-rion dan orom sasadu yaitu: (1) Pelestarian nilai-nilai historis, tradisi, kerjasama, tolong-menolong, kekeluargaan, kerukunan; (2) Nasi adalah makanan pokok dan istimewa; (3) Perayaan syukuran panen dan berkat Tuhan selama setahun. Rion-rion dan orom sasadu merupakan bentuk komunikasi ritual karena terdapat ritual doa sebelum dan sesudah penanaman padi ladang, kebiasaan meletakkan bambu tempat benih dan sasapu secara vertikal di tanah, sedangkan pada orom sasadu,terdapat juga ritual doa, penyampaian pesan adat (bobita), nyanyian berbalas pantun (ma’io) dan ritual diskusi adat (kokonofu) serta tari-tarian. Hubungan agensi dan struktur dalam praktik budi daya padi ladang secara rion-rion dan orom sasadu merupakan hubungan dualitas, dimana struktur maupun agen dengan agensinya memiliki pengaruh seimbang dalam praktik budi daya padi ladang. Pengaruh faktor internal dan eksternal komunitas menyebabkan telah terjadi perubahan atau tranformasi struktur, yang merupakan hibridisasi budaya. Selanjutnya para agen dengan agensinya melakukan peran-peran sebagai pelaku praktik budi daya padi ladang dan para tokoh masyarakat melakukan peran advokasi pelestarian budi daya padi ladang pada kebijakan pemerintah daerah Halbar.
Penelitian ini menemukan transformasi struktur merupakan hibridisasi budaya dimana terjadi perpaduan dua budaya, yaitu budaya lokal Sahu (rion-rion, orom sasadu) dengan kebijakan pemerintah daerah melalui program kerja khususnya untuk budi daya padi ladang sebagai budaya lain atau budaya modern (teknologi pertanian), sehingga membentuk struktur hibrid dalam pendekatan komunikasi pembangunan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan, khususnya budi daya padi ladang di Kabupaten Halbar
Pengembangan Roda Ramping Bersirip (Narrow Lug Wheel) untuk Lahan Sawah.
Rancangan roda besi bersirip (cage wheel) pada umumnya digunakan untuk
budidaya pertanian terbatas hanya pada kegiatan pengolahan tanah. Setelah
kegiatan pengolahan tanah traktor roda dua tidak difungsikan lagi untuk pekerjaan
yang lain. Sementara ada beberapa pekerjaan yang lain setelah kegiatan pengolahan
tanah yaitu perawatan dan pengendalian tanaman pengganggu (gulma). Hal ini
disebabkan oleh tidak sesuai jarak tanam padi di lahan sawah dengan bentuk dan
ukuran roda besi bersirip rancangan umum (existing), lebar roda besi (cage wheel)
yang tersedia saat ini lebih besar dibanding dengan jarak tanam padi. Kondisi
tersebut menyebabkan aktifitas roda yang melalui tanaman akan mengenai padi
sehingga dapat merusak bahkan berdampak hingga tanaman padi mati. Oleh karena
itu perlu kiranya menentukan jenis roda traktor roda dua yang sesuai seperti roda
ramping bersirip (narrow lug wheel) agar dapat beroperasi diantara jarak tanaman
tanpa mengganggu pertumbuhan, perkembangan tanaman padi di lahan sawah, dan
mampu menghasilkan kinerja traksi yang baik, serta slip dan sinkage yang relative
kecil. Roda ramping bersirip ini diaplikasikan pada saat kegiatan setelah
pengolahan tanah dimana aplikasinya tidak merusak barisan tanaman padi.
Tujuan penelitian untuk merancang, membangun dan menganalisis roda
ramping bersirip, pengembangan disain dari roda yang ada (existing) yang
diaplikasikan menggunakan traktor roda dua diantara barisan tanaman padi lahan
sawah
Penelitian ini dimulai dengan pengumpulan konsep disain dan pembuatan
sketsa rancangan roda besi ramping bersirip, perancangan roda, pembuatan
prototipe roda, pengujian roda pada soil bin dan pengujian roda pada lahan sawah.
Pengujian di soil bin sudut sirip dan tinggi sirip divariasikan, sudut sirip dirancang
sebesar 30°, 40° dan 45° dan lebar sirip tetap 7 cm serta tinggi sirip 7 cm, 10.5 cm
dan 14 cm. Roda yang menghasilkan kinerja terbaik dijadikan sebagai bahan
pertimbangan untuk desain roda uji di lahan padi sawah memakai traktor roda dua.
Desain dan pengujian roda ramping bersirip di lahan sawah berdasarkan hasil
uji kinerja yang terbaik dari pengujian model roda di soil bin, selain itu dilakukan,
pengumpulan informasi dan analisi karakteristik tanaman padi, kondisi padi,
kondisi petak lahan sawah, dan dimensi traktor roda dua. Hasil analisis untuk
menentukan bentuk, ukuran dan jenis bahan roda ramping bersirip untuk padi lahan
sawah.
Roda ramping bersirip diuji di lahan sawah. Roda uji dengan traktor roda dua
merek Bromo DX daya 8.5 HP diaplikasikan diantara barisan tanaman padi di lahan
sawah. Pengukuran dan analisis terhadap kinerja roda (meliputi efisiensi traksi, slip
roda dan sinkage), efek sinkage dari lintasan roda dan pengaruh pada pemutusan
perakaran padi, pertumbuhan tinggi dan perkembangan jumlah anakan tanaman
padi.
Hasil uji kinerja roda uji di soil bin menunjukkan bahwa kinerja roda ramping
bersirip sangat dipengaruhi oleh kondisi sudut sirip, tetapi kurang dipengaruhi oleh
dimensi tinggi sirip roda. Ukuran dan bentuk sirip yang berkinerja paling baik
diperoleh pada dimensi sirip (7 x 10.5) cm dan sudut sirip 45° dengan nilai efisiensi
traksi maksimum sebesar 24.5%.
Roda ramping bersirip untuk traktor roda dua yang dioperasikan di lahan
padi sawah berdasarkan karakteristik tanah, tanaman padi dan traktor. Kontruksi
roda ramping terdiri dari sebuah rim diperkuat dengan 4 buah jari jari terhubung
dengan sebuah flens, dan jumlah sirip (8, 10, 12) dipasangkan pada rim. Sirip
berukuran (14 x 21) cm dengan bahan besi baja plat tebal 4 mm, sudut sirip (300
dan 450). Diameter rim sebesar 63 cm dibuat dari bahan besi bulat pejal berdiameter
30 mm, jari jari dubuat dari bahan besi bulat pejal berdiameter 15 mm, diameter
flens adalah 20 cm dibuat dari bahan besi plat dengan tebal 10 mm. Jenis bahan plat
adalah BJPS dan jenis bahan bulat pejal adalah KS 1020. Pengoperasian roda
ramping bersirip 3 barisan tanaman padi diantara dua roda dengan jarak antar roda
61 cm dan operator mengangkangi 1 barisan tanaman padi. Jumlah dan sudut sirip
roda berdampak terhadap nilai sinkage, jumlah dan sudut sirip yang lebih besar
mengakibatkan nilai sinkage menurun, demikian juga nilai slip menurun akibat
peningkatan jumlah dan sudut sirip roda ramping bersirip (narrow lug wheel).
Efisiensi traksi dipengaruhi oleh jumlah dan sudut sirip roda, jumlah dan sudut sirip
roda meningkat akan mengakibatkan kenaikan nilai efisiensi traksi. Kinerja roda
terbaik ditunjukkan oleh nilai efisiensi traksi yang paling tinggi, diperoleh pada
jumlah sirip 12 dan sudut sirip 450 sebesar 67.82%, sedangkan efisiensi traksi
terendah diperoleh pada jumlah sirip 8 dan sudut sirip 300 sebesar 13.16%.
Aplikasi roda ramping bersirip dengan perlakuan variasi jumlah dan sudut
sirip pada traktor roda dua berdapak juga terhadap variasi nilai sinkage yang terjadi,
nilai sinkage yang tertinggi pada jumlah sirip 8 dengan sudut sirip 30° yaitu 12.28
cm, sedangkan yang terendah pada jumlah sirip 12 dengan sudut sirip 30° sebesar
7.24 cm.
Sinkage pada aplikasi roda ramping bersirip memberikan efek terhadap
pemutusan akar tanaman padi berkisar antara (17-58)%. Pertumbuhan tinggi
tanaman dan perkembangan jumlah anakan tanaman padi dipengaruhi oleh
pemutusan akar tanaman akibat adanya lintasan roda ramping bersirip,
dibandingkan dengan tanaman yang tanpa perlakuan lintasan roda (kontrol)
Evaluasi Sistem Budidaya Tanaman Asystasia gangetica T. Anderson di Bawah Naungan Tanaman Kelapa Sawit
Salah satu gulma yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan tahan naungan yaitu Asystasia gangetica T. Anderson atau Ara Sungsang. A. gangetica di perkebunan kelapa sawit memiliki kecepatan tumbuh yang baik, memiliki kandungan nutrien yang tinggi, meningkatkan kandungan nutrien tanah dan mencegah terjadinya erosi serta mampu dijadikan tanaman penutup tanah. Penelitian ini mengkaji sistem budidaya yang tepat dan mengevaluasi produksi dan kualitas tanaman A. gangetica sebagai hijauan pakan di perkebunan kelapa sawit. Adapun peubah penelitian ini yaitu pertumbuhan yang meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang primer, jumlah cabang sekunder, lebar daun dan panjang daun, produksi segar, kualitas nutrien dan kandungan serat. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan split plot yaitu umur pohon kelapa sawit 6 tahun dan 8 tahun sebagai petak utama dan anak petak yaitu jarak tanam yang terdiri dari 3 taraf yaitu 10×10 cm, 25×25 cm dan 40×40 cm. Setiap perlakuan masing – masing diulang sebanyak 3 kali. Analisis data menggunakan sidik ragam ANOVA, jika terdapat pengaruh yang nyata maka diuji lanjut dengan menggunakan Least Significant Differences (LSD). Analisis data menggunakan Statistical Tool for Agricultural Research (STAR).
Pada penanaman I, jarak tanam 10×10 cm menghasilkan tinggi tanaman, lebar dan panjang daun terbaik. Jarak tanam 25×25 cm merupakan jarak terbaik pada jumlah cabang primer, sekunder dan jumlah daun. Rataan pertumbuhan morfologi tanaman A. gangetica terbaik terdapat pada perlakuan naungan pohon kelapa sawit umur 6 tahun pada parameter cabang sekunder dan jumlah daun. Interaksi terjadi pada setiap parameter pertumbuhan. Jarak tanam terbaik terdapat pada perlakuan 10×10 cm yang memiliki produksi tertinggi jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Naungan pohon kelapa sawit umur 6 tahun lebih baik dibandingkan dengan naungan pohon kelapa sawit umur 8 tahun. Pada parameter kandungan nutrien, naungan pohon kelapa sawit umur 8 tahun lebih baik pada kandungan bahan kering dan berbanding terbalik dengan abu. Pada perlakuan jarak tanam diperoleh hasil bahwa kandungan bahan kering (BK) terbaik terdapat pada perlakuan 25×25 cm dan 40×40 cm dibandingkan dengan perlakuan 10×10 cm dan terdapat interaksi. untuk kandungan serat kasar (SK), jarak tanam 10×10 cm merupakan jarak tanam yang terbaik. Jarak tanam dan umur naungan tidak memiliki pengaruh terhadap kandungan NDF dan ADF A. gangetica. Namun terdapat interaksi pada kandungan ADF.
Pertumbuhan kembali A. gangetica, jarak tanam 25×25 cm menghasilkan tinggi, cabang primer, jumlah daun, lebar daun, dan panjang daun tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan jarak lainnya. Umur naungan 6 tahun lebih baik dibandingkan dengan umur naungan 8 tahun. Interaksi terjadi pada semua parameter pertumbuhan kecuali cabang sekunder. Jarak tanam memiliki pengaruh yang nyata terhadap produksi tanaman A. gangetica (p<0.05). Jarak tanam 10×10 cm dan 25×25 cm merupakan jarak tanam terbaik dibandingkan dengan jarak tanam 40×40 cm. Produksi biomassa pada naungan 6 tahun lebih baik daripada
umur 8 tahun. Untuk kandungan nutrien, jarak tanam berpengaruh nyata terhadap kandungan protein kasar dan serat kasar (p<0.05). Jarak tanam 10×10 cm dan 25×25 cm lebih baik dibandingkan dengan jarak tanam 40×40 cm. Umur naungan berpengaruh nyata terhadap kandungan abu (p<0.05). Umur naungan 6 tahun lebih baik dibandingkan dengan umur naungan 8 tahun. Pada penelitian ini jarak tanam tidak memiliki perbedaan terhadap kandungan Nitrogen Detergent Fiber (NDF) dan Acid Detergent Fiber (ADF). Kesimpulan penelitian ini adalah A. gangetica dapat dibudidayakan di bawah naungan umur 6 dan 8 tahun dengan jarak tanam 10×10 cm, 25×25 cm dan 40×40 cm. Budidaya A. gangetica yang baik di perkebunan kelapa sawit adalah dengan sistem jarak tanam 10×10 cm pada umur 6 tahun. Pada panen I, Produksi biomassa dan nutrien terbaik terdapat pada jarak tanam 10×10 cm di bawah naungan umur 6 tahun. Sedangkan pada panen II, produksi biomassa dan nutrien terbaik pada perlakuan 10×10 dan 25×25 cm pada umur 6 tahun
Studi Variasi Genetik Populasi Wereng Batang Cokelat Sebagai Dasar Pemahaman Migrasi dan Adaptasi
Wereng batang cokelat (WBC), Nilaparvata lugens (Stal.) (Hemiptera:
Delphacidae), merupakan salah satu hama penting pada pertanaman padi di
Indonesia dan di banyak negara lainnya di Asia. Imago WBC memiliki dua bentuk
yaitu yang bersayap pendek (brakiptera) dan bersayap panjang (makroptera).
Pembentukan makroptera dipengaruhi oleh kerapatan populasi WBC dan stadia
tanaman. Keberadaan makroptera memicu migrasi jarak jauh yang dapat
memengaruhi variasi dan struktur genetik populasi WBC. Selain itu, kemampuan
WBC beradaptasi terhadap tekanan lingkungan memungkinkan hama ini berhasil
mematahkan varietas padi yang tadinya resisten.
Di Indonesia, khususnya Pulau Jawa yang merupakan pusat pertanaman
padi, informasi mengenai variasi dan stuktur genetik populasi WBC belum
tersedia. Informasi tersebut diperlukan untuk dapat memahami migrasi jarak jauh
serta memahami kemampuan adaptasi WBC terhadap varietas padi. Oleh karena
itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari variasi dan struktur genetik
populasi hama WBC di Jawa dengan menggunakan marka genetik secara maternal
(mtCOI dan mtCOI) dan marka genetik secara biparental (DNA mikrosatelit).
Pada penelitian ini, analisis homologi dilakukan antar sekuen gabungan
mtCOI-mtCOII terhadap 30 haplotipe WBC yang terdapat di GenBank. Pada
populasi WBC di Jawa diperoleh 18 haplotipe, yang terdiri atas 5 haplotipe umum
dan 13 haplotipe baru. Haplotipe umum yang ditemukan tersebut memiliki urutan
nukleotida yang sama dengan lima haplotipe WBC, yaitu yang berasal dari
beberapa wilayah Asia lain seperti Jepang, Taiwan, Cina, Vietnam, Filipina, dan
Papua Nugini. Fenomena tersebut menunjukkan kemungkinan terdapat aliran gen
maternal yang sama pada beberapa individu WBC di Jawa (Indonesia) dan di
wilayah Asia lain. Fenomena lain pada hasil penggabungan mtCOI-mtCOII
adalah ditemukannya haplotipe baru, yang menunjukkan variasi urutan nukleotida
yang berbeda dengan haplotipe WBC yang ada di Jepang, Taiwan, Cina, Vietnam,
Filipina, dan Papua Nugini dan hanya ditemukan pada populasi WBC di Jawa.
Pada penelitian ini ditemukan 13 haplotipe baru, yaitu populasi WBC yang
berasal dari Pemalang, Lamongan, Pandeglang, Lebak, Banyumas, Sleman,
Karawang, Boyolali, dan Bojonegoro. Analisis haplotipe berdasarkan marka
genetik secara maternal (mtCOI-mtCOII) berhasil mengidentifikasi bahwa urutan
DNA pada haplotipe 1 homolog dengan urutan DNA pada WBC biotipe 3 (No
Aksesi GenBank JN563997).
Analisis lebih lanjut dilakukan untuk mengetahui variasi genetik antar
populasi WBC berdasarkan data gabungan mtCOI-mtCOII. Pada penelitian ini
ditemukan bahwa populasi WBC memiliki kombinasi variasi genetik, yaitu nilai
variasi haplotipe tinggi (h=0.000-0.933) dengan nilai variasi nukleotida rendah
(π=0.0000–0.0026). Kemudian dari hasil uji sejarah demografi diketahui bahwa
populasi-populasi WBC di Jawa memiliki nilai Tajima‘s D dan Fu‘s F ≤ 0 ≥. Hal
tersebut menunjukkan bahwa populasi WBC di Jawa mengalami sejarah
bottleneck.
Pada penelitian ini juga dilakukan analisis variasi genetik berdasarkan
marka DNA mikrosatelit. Hasil analisis menunjukkan bahwa populasi WBC di
Jawa memiliki nilai rataan jumlah alel dan heterozigositas (H) yang tinggi.
Selain itu, diketahui bahwa nilai rataan H observasi (Ho) lebih besar dari pada
nilai rataan H ekspektasi (He) (PHWE > 0.05). Kondisi nilai rataan yang demikian
(Ho>He) kemungkinan terjadi akibat dari fenomena isolated breaking. Fenomena
tersebut terjadi ketika beberapa populasi yang sebelumnya pernah terisolasi
kemudian melakukan kontak melalui perilaku saling kawin, sehingga
mengakibatkan generasi keturunannya memiliki heterozigositas tinggi.
Berdasarkan hasil analisis variasi genetik populasi WBC di Jawa,
selanjutnya dilakukan analisis untuk mengetahui kondisi struktur genetik
populasi hama. Analisis indeks fiksasi (FST) pada semua peluang kombinasi
populasi WBC di Jawa dilakukan berdasarkan gabungan mtCOI-mtCOII, dan
pada penelitian ini ditemukan bahwa populasi Bogor (FST > 0; P > 0.05) berbeda
dengan populasi lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa populasi WBC Bogor
mengalami sedikit struktur genetik terhadap populasi WBC lainnya. Hasil tersebut
berkorelasi dengan analisis variasi genetik, yaitu populasi WBC asal Bogor
termasuk ke dalam haplotipe 1 dan tidak ditemukan individu dengan haplotipe
baru. Selain itu, nilai indeks fiksasi antar populasi WBC berdasarkan marka DNA
mikrosatelit menunjukkan nilai rendah (FST =0-0.02000; P > 0.05). Indeks fiksasi
yang demikian menunjukkan bahwa populasi WBC pada penelitian ini tidak
memiliki struktur genetik populasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada aliran
gen biparental antar populasi WBC di Jawa.
Hasil analisis berdasarkan matriks jarak menunjukkan tidak terdapat
korelasi antara jarak genetik (nilai indeks fiksasi) dengan jarak geografi. Hal ini
menunjukkan bahwa tidak ada isolasi jarak pada populasi-populasi WBC di Jawa.
Dengan demikian, dapat diduga bahwa ada aliran gen antar populasi WBC di
Jawa. Begitu pula terdapat kemiripan genetik antara populasi WBC di Jawa
(Indonesia) dengan yang ada di wilayah Asia Timur, Selatan, dan Tenggara. Oleh
karena itu, hasil penelitian melalui pendekatan molekuler ini menyediakan bukti
baru dan melengkapi bukti sebelumnya tentang migrasi jarak jauh pada hama
WBC.
Dari penelitian yang dilakukan terungkap pengetahuan baru yaitu tentang
adanya kemiripan genetik yang tinggi antara haplotipe 1 (haplotipe umum)
dengan WBC biotipe 3 (No. Aksesi GenBank: JN563997). Pengetahuan baru ini
diharapkan dapat menjadi rujukan bagi peneliti pemulia tanaman di dalam
pengembangan varietas padi yang tahan terhadap WBC. Selain itu, penelitian ini
menyediakan pemahaman dasar tentang posisi haplotipe pada WBC biotipe 1, 2,
dan 3 (No. Aksesi GenBank: JN563995-7). Dengan demikian, diperlukan kajian
lebih lanjut tentang keterkaitan antara haplotipe berdasarkan mtCOI-mtCOII
dengan penyebutan dan pengelompokan biotipe WBC. Hal ini penting dilakukan
untuk dapat menyediakan landasan ilmiah bagi penyusunan ulang peraturan
pengujian varietas baru yang akan dilepas
Hubungan Penggunaan Aplikasi Pemesanan Makanan Online dengan Frekuensi Konsumsi Sayur dan Buah pada Pegawai Perkantoran di DKI Jakarta
Konsumsi sayur dan buah merupakan salah satu unsur penting dalam perwujudan gizi seimbang. Kuantitas dan kualitas yang baik dari konsumsi sayur dan buah dapat bermanfaat baik bagi kesehatan tubuh. Keberadaan aplikasi pemesanan makanan online di masyarakat yang mulai menjadi sumber akses utama terhadap makanan turut berperan dalam pembentukan pola konsumsi pangan penggunanya. Oleh karena itu, hubungan yang dapat ditimbulkan dari maraknya penggunaan aplikasi tersebut terhadap pola konsumsi sayur dan buah di masyarakat perlu diketahui. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan penggunaan aplikasi pemesanan makanan online dengan frekuensi konsumsi sayur dan buah pada pegawai perkantoran di DKI Jakarta. Penelitian menggunakan desain studi cross sectional di area perkantoran wilayah DKI Jakarta pada bulan April-Mei 2019. Sebanyak 106 sampel ikut serta dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil uji korelasi yang dilakukan, variabel frekuensi konsumsi sayur online, buah online, dan buah total memiliki korelasi yang positif dengan intensitas penggunaan aplikasi pemesanan makanan online (p0.5)
Representasi Ideologi Gender di Balik Pembingkaian Berita Daring Kasus Korupsi Kepala Daerah
Media daring berfungsi sebagai saluran informasi, komunikasi, dan persuasi
dalam kehidupan sehari-hari. Namun media daring memiliki motif ekonomi.
Jumlah pembaca dihitung berdasarkan jumlah kunjungan pada situs. Kasus-kasus
korupsi akan selalu menarik perhatian pembaca.
Setiap media memiliki kebijakan editorial pada rilis berita mereka. Kebijakan
mereka memengaruhi bagaimana perempuan ditampilkan di bidang politik,
khususnya sebagai tersangka kasus korupsi. Penelitian ini berkaitan dengan isu-isu
yang disorot media daring terkait dugaan kasus korupsi kepala daerah perempuan
dan laki-laki. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pembingkaian media
yang timbul dari ketidaksetaraan gender, menganalisis bagaimana kepala daerah
perempuan dan laki-laki direpresentasikan oleh media, dan menganalisis pengaruh
ideologi media maupun jurnalis yang muncul melalui berita.
Ada dua subjek penelitian yaitu Walikota Cilegon Tubagus Iman Ariyadi dan
Bupati Kutai Kertanegara Rita Widyasari. Sampel diperoleh dari tiga media daring
nasional dan dua media daring lokal yaitu Radar Banten, Kompas, Republika, Tirto,
dan Kutai Kertanegara News. Penelitian dilakukan Februari hingga Juni 2018.
Analisis dilakukan menggunakan teori analisis wacana kritis Norman Fairclough
dengan metode pembingkaian berita Robert Entman.
Hasil penelitian menunjukkan adanya bias gender terhadap berita mengenai
kasus dugaan korupsi kepala daerah. Penelitian juga mengungkapkan kasus dugaan
korupsi Rita Widaysari lebih menarik perhatian pembaca dibanding kasus dugaan
korupsi Tubagus Iman Ariyadi karena stereotip gender. Jumlah berita kasus dugaan
korupsi Rita Widyasari lebih banyak dan sebagian isi berita tidak substantif. Media
juga melakukan pengutipan pernyataan Rita Widaysari yang kontroversial. Rekam
jejak politik Rita Widyasari diulas mendalam. Ideologi media lebih berpengaruh
dibanding ideologi jurnalis dalam produksi berita
Perencanaan Model Bisnis Toko Sentra Oleh-oleh Khas Bogor
Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan solusi bisnis baru yang sesuai
dengan permasalahan konsumen dalam mencari oleh-oleh khas Bogor. Metode
penelitian ini menggunakan customer discovery. Berdasarkan observasi, di kota
Bogor tidak terdapat sentra oleh-oleh khas Bogor yang menjual beragam produk
dalam satu toko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat permasalahan
yang belum dapat memberi kepuasan bagi para konsumen. Permasalahan tersebut
berupa: (1) informasi produk masih terbatas; (2) toko masih terpencar dimanamana;
(3) aksesibilitas menuju toko susah dijangkau; (4) tempat parkir sulit
dijangkau; (5) suasana tempat toko kurang menarik; (6) kapasitas dan tempat toko
kurang mendukung; (7) suasana lingkungan sekitar kurang nyaman; dan (8)
fasilitas pendukung kurang tersedia. Solusi yang ditawarkan adalah menghadirkan
toko sentra oleh-oleh yang terpusat di satu tempat dengan menyediakan beragam
produk, dengan lokasi yang mudah dijangkau, tempat parkir yang memadai,
menghadirkan suasana tempat yang menarik, kapasitas tempat toko besar dan luas,
menghadirkan suasana lingkungan yang bersih, sejuk, dan nyaman, serta tersedia
fasilitas pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toko sentra oleh-oleh
khas Bogor ini dapat diterima sebagai solusi baru dari permasalahan yang ada
Penggunaan Ekstrak Aqueous Daun Ketapang (Terminalia catappa) Sebagai Sediaan Antibiotika Terhadap Bakteri Yang Ditemukan Pada Ikan Cupang Hias (Betta splendens)
Antibiotika merupakan salah satu penemuan terhebat di dunia perobatan. Dengan adanya bermacam teknologi dan ilmu terbaru, banyak antibiotika baru yang ditemukan. Seiring berjalannya waktu, bakteri yang ada memiliki kemampuan menjadi resisten, sehingga mengurangi kemampuan antibiotika yang tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji sifat antibakterial ekstrak dari daun Ketapang (Terminalia catappa) sebagai sediaan antibiotika alami terhadap beberapa spesies bakteri Gram negatif. Penelitian ini di lakukan dengan menggunakan metode isolasi dan pengujian sumur (Well Diffusion Assay). Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat 17 isolat yang diisolasi dari 4 ekor ikan cupang hias dan air akuarium penyimpanannya. Isolat ini diidentifikasi 3 isolat Citrobacter sp., 2 isolat Edwardsiella sp., 5 isolat Escherichia coli, 1 isolat Proteus sp., 4 isolat Providencia sp., dan 2 isolat Vibrio sp. Uji kepekaan ekstrak dari daun Ketapang (Terminalia catappa) terhadap semua isolat bakteri yang teridentifikasi ditemukan terjadinya penghambatan intermidius bagi semua bakteri dibanding antibiotika kloramfenikol
Kelembagaan Pengelolaan Hutan Adat pada Masyarakat Mengkadai di Desa Temenggung Kecamatan Limun Kabupaten Sarolangun, Jambi
Kelembagaan pengelolaan hutan adat berperan dalam mengatur
penguasaan dan pemanfaatan sumber daya hutan yang berkelanjutan (Okotoyoki
et al. 2016). Menurut Darusman (2012), masyarakat adat yang dianggap memiliki
keterbatasan pengetahuan ternyata mampu mengelola sumberdaya hutan secara
lestari melalui kekuatan kelembagaan. Tujuan dari penelitian ini untuk
mendeskripsikan peran dan efektivitas kelembagaan pengelolaan hutan adat di
Dusun Mengkadai. Data dikumpulkan dengan metode studi kasus dan survei, dan
dianalisis dengan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Kawasan Hutan Adat Dusun Mengkadai dikelola oleh Kelembagaan Pengelolaan
Hutan Adat (KPHA) dan didukung oleh Lembaga Adat dan Pemerintahan Desa
Temenggung. Kelembagaan Pengelolaan Hutan Adat Dusun Mengkadai
mencakup tata aturan dan struktur organisasi yang dibangun dan digunakan untuk
mewujudkan kondisi dan fungsi ekologis hutan tetap terjaga, serta dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tata aturan adat dipercaya dan dipatuhi
oleh masyarakat sehingga efektif, ini ditunjukkan oleh tingkat kepercayaan dan
pemahaman yang tinggi, dan tingkat pelanggaran yang rendah sehingga
berimplikasi terhadap kelestarian dan manfaat hutan. Kelestarian dan manfaat
hutan adat dilihat dari kondisi ekologi hutan yang terjaga dengan baik melalui
hubungan sosial masyarakat dalam menjaga hutan, serta pemanfaatan hasil hutan
yang meningkatan nilai ekonomi Masyarakat Mengkadai
Variasi Nukleotida pada Gen Insulin-Like Growth Factor 1 (IGF-1) pada Sapi Karapan dan Pedaging.
Sapi madura merupakan sapi lokal indonesia yang berasal dari persilangan
antara Bos indicus (zebu) dan Bos javanicus (banteng). Sapi madura dipelihara
untuk berbagai tujuan seperti karapan (balapan sapi), sonok (lomba kecantikan),
dan pedaging. Gen insulin-like growth factor 1 (IGF-1) esensial untuk pertumbuhan,
perkembangan, dan metabolisme hewan. Hal ini menjadikan IGF-1 sebagai
kandidat gen yang penting untuk sifat ekonomis dari peternakan sapi. Tujuan
penelitian ini adalah untuk menentukan variasi nukelotida pada sapi karapan dan
pedaging. Sebanyak masing-masing 10 sampel DNA sapi kerapan dan pedaging
dilakukan amplifikasi dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan
primer AF553 dan AF554. Amplikon kemudian di-pool berdasarkan kategori jenis
sapi untuk dilakukan sekuensing. Hasil amplifikasi diperoleh sebagian dari intron
3, ekson 4, dan intron 4 sepanjang 762 pb. Data hasil sekuensing dilakukan
pensejajaran menggunakan aplikasi MEGA 7 dengan menggunakan Bos indicus
(NC032654) sebagai referensi sekuen untuk mengamati adanya variasi nukleotida.
Hasil pensejajaran sekuen menunjukkan tidak ada variasi nukleotida pada intron 3
dan ekson 4. Satu variasi nukleotida berupa mutasi transisi G491A ditemukan di
intron 4