Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Pemetaan Tingkat Kerentanan Pantai Terhadap Bencana Tsunami di Wilayah Pantai Lampung Selatan, Provinsi Lampung

    No full text
    Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi yang tinggi terhadap ancaman tsunami. Hal ini disebabkan Indonesia berada pada jalur gempa aktif dan jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) sehingga dapat meningkatkan intensitas proses geologi dasar laut yang dapat menyebabkan terjadinya tsunami. Salah satu tindakan utama dalam mitigasi bencana tsunami adalah dengan membuat peta tingkat kerentanan pantai terhadap tsunami. Penelitian ini mengkaji empat kecamatan wilayah barat pesisir Kabupaten Lampung Selatan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan metode bobot skoring. Parameter yang digunakan untuk menganalisis tingkat kerentanan tsunami adalah elevasi, slope, landuse, coastal proximity, dan jarak dari sungai. Tingkat kerentanan dibagi menjadi lima kelas yaitu kerentanan sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah. Kecamatan Kalianda memiliki tingkat kerentanan tinggi karena elevasi daratan rendah dan slope yang landai sedangkan tingkat kerentanan rendah berada di Kecamatan Katibung dan Kecamatan Rajabasa

    Antibakteri Polisakarida Rumput Laut dan Pengaruh Pemberiannya terhadap Produksi dan Kualitas Telur Ayam Lohman.

    No full text
    Rumput laut merupakan tanaman potensial sumber serat yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan, industri makanan, bahan baku kosmetik, farmasi, dan bioteknologi. Rumput laut diklasifikasikan menjadi empat kelas berdasarkan pigmentasinya, yaitu rumput laut hijau (Chlorophyceae), rumput laut coklat (Phaeophyceae), rumput laut merah (Rhodophyceae) dan rumput laut keemasan (Crysophyceae). Rumput laut mengandung beberapa komponen bioaktif yang diklaim berfungsi sebagai sumber antioksidan, antibiotik, antibakteri, antiviral, antijamur, antiinflamasi, antialergi, antiplasmodial, serta antikanker. Pemanfaatan rumput luas secara luas telah digunakan terutama oleh manusia dan diberikan pada ternak, akan tetapi informasi menyangkut kemampuan rumput laut khususnya asam uronik dari rumput laut coklat Sargassum crassifolium sebagai imunostimulan dan sekaligus sebagai salah satu bahan penyusun ransum maupun feed additive pada ayam petelur masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji performa, kesehatan dan ketahanan ayam petelur terhadap Salmonella sp. serta kualitas fisik dan kimia telur ayam yang diberi asam uronik dari S. crassifolium. Hasil ekstrak S. crassifolium memperlihatkan warna cokelat tua hampir kehitaman dengan bau agak amis. Kadar asam uronik dari rendemen ekstrak rumput laut menggunakan pelarut air memperlihatkan nilai yang lebih tinggi (2.34-6.53%) dibandingkan dengan pelarut etanol 96% (0.82-4.45%). Pada ekstrak S. crassifolium menggunakan pelarut air memperlihatkan pH yang tinggi/ basa (8) dibandingkan dengan menggunakan pelarut etanol 96% (6). Pada pengujian level asam uronik dari S. crassifolium terhadap daya hambat bakteri Salmonella sp terlihat adanya zona hambat terhadap bakteri Salmonella sp. meskipun tidak sejelas kontrol positif antibiotik tetrasiklin. Hal tersebut menunjukkan adanya aktivitas antibakteri. Hasil ekstraksi pada rumput laut S. crassifolium mengandung bahan aktif asam uronik 0.89% sehingga berpotensi menghambat dan menyebabkan kematian pada bakteri Salmonella sp. Pemberian asam uronik dari S. crassifolium dengan level 2.5%, 5%, 7.6% dan 10 % dalam air minum baik dengan penambahan antibiotik maupun tanpa antibiotik dalam pakan memberikan pengaruh dan interaksi yang nyata (P<0.05) terhadap konsumsi pakan penelitian (g ekor-1 hari-1). Namun, rataan konsumsi air minum (ml ekor-1 hari-1), produksi, berat dan masa telur ayam Lohman (%) yang diberi level asam uronik dari S. crassifolium pada pakan yang mengandung antibiotik dengan tanpa antibiotik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dan tidak terdapat interaksi diantara perlakuan. Demikian pula pada konversi ransum, level asam uronik dari S. crassifolium yang diberikan tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata. Hasil penelitian terhadap saluran reproduksi, jumlah folikel besar dan kecil serta berat folikel juga tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dan tidak terlihat interaksi diantara perlakuan pakan antibiotik dan level asam uronik dari S. crassifolium yang diberikan. Perlakuan level asam uronik dari S. crassifolium dan antibiotik juga tidak mempengaruhi kualitas fisik dan kimia telur serta tidak ada interaksi antara kedua perlakuan tersebut terhadap kualitas fisik telur (persentase kerabang telur, kuning telur, putih telur, tebal kerabang, warna kuning telur, haugh unit dan indeks telur) serta kimia telur (Enzim Superoxide dismutase (SOD), Thiobarbituric acid reactive substances (TBARS) dan Kolesterol Telur). Meskipun demikian, ekstrak asam uronik dari S. crassifolium dapat menggantikan antibiotik dalam pakan karena memberikan pengaruh yang sama dengam ayam yang diberi antibiotik terhadap performa, kualitas fisik dan kimia telur ayam Lohman. Pada pengukuran profil darah ayam Lohman (kolesterol, high density lipoprotein (HDL), trigiserida dan glukosa darah ayam Lohman tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dan tidak terdapat interaksi diantara perlakuan level asam uronik dari S. crassifolium yang diberikan. Hasil uji pada titer antibodi ayam Lohman menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata dan interaksi diantara perlakuan pakan yang diberikan pada awal penelitian, namun pada akhir penelitian terlihat perbedaan yang nyata (P<0.05), dimana terdapat peningkatan titer antibodi seiring dengan peningkatan level asam uronik dari S. crassifolium yang diberikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa asam uronik dari S. crassifolium dapat digunakan sebagai pengganti antibiotik untuk meningkatkan antibodi ayam petelur Lohman. Pada pengamatan koaglutinasi darah ayam Lohman terhadap Salmonella sp terlihat bahwa semua ayam yang diberi perlakuan level asam uronik dari S. crassifolium menunjukkan hasil uji koaglutinasi positif. Hal ini mengindikasikan bahwa ayam yang diberi perlakuan level asam uronik memiliki kekebalan terhadap Salmonella sp. meskipun pemberian level asam uronik dari S. crassifolium pada pakan ayam Lohman belum mampu menurunkan populasi Salmonella sp. Secara umum penggunaan level asam uronik baik pada pakan yang mengandung antibiotik maupun tanpa antibiotik memiliki pengaruh yang sama secara statistik. Temuan ini mengindikasikan bahwa pemberian asam uronik dari S. crassifolium dapat menggantikan penggunaan antibiotik dalam pakan ayam petelur Lohman

    Desain Lanskap Ekologis Laboratorium Lapang Departemen Biologi FMIPA IPB sebagai Taman Koleksi dan Edukasi.

    No full text
    Lanskap Kampus IPB merupakan suatu lanskap yang terbentuk dari hubungan yang kompleks dari berbagai elemen pembentuk di dalamnya. Elemen tersebut, di antaranya adalah lanskap hutan yang mendukung kegiatan pembelajaran di dalam kampus. Sebagai salah satu kampus terbesar di Indonesia, sudah sewajarnya Kampus IPB menyediakan sarana-prasarana yang memadai bagi kegiatan akademik ataupun nonakademik di dalam kampus. Dalam mewujudkan hal tersebut Departemen Biologi yang merupakan salah satu pilar pendidikan dalam kampus merencanakan pembangunan laboratorium lapang berupa taman koleksi yang mengintegrasikan dengan kondisi eksisting lanskap hutan kampus yang ada, guna menunjang kegiatan pembelajaran mahasiswa biologi. Pembangunan taman koleksi ini menggunakan pendekatan ekologis untuk menjaga kestabilan ekosistem dan meminimalisir dampak kerusakan yang akan ditimbulkan nantinya pada lanskap hutan kampus. Mengacu pada pendekatan ekologis tersebut desain taman koleksi biologi menggunankan konsep dasar dengan tiga poin utama yang perlu terpenuhi yaitu, edukasi, ekologis dan taman. Berdasarkan konsep dasar tersebut untuk perwjudan ke dalam tapak, konsep desain yang digunakan adalah laba-laba. Bentukan tubuh laba-laba dapat digunakan sebagai pembagi tiga ruang utama dalam tapak yaitu ruang penerimaan, ruang pelayanan, dan ruang konservasi edukasi. Ruang konservasi dan edukasi dibagi menjadi delapan subruang, untuk memenuhi kerakteristik taman koleksi yang memerlukan pendataan dan penataan vegetasi secara sistematis dalam tapak. Delapan subruang ini menjadi taman koleksi di mana penataan vegetasi di dalamnya berbasis pada sistem taksonomi. Output dari penelitian ini berupa desain yang dituangkan ke dalam gambar teknis dalam bentuk gambar denah lokasi, potongan yang terlihat, perspektif, elemen desain rinci, rencana penanaman, serta ilustrasi desain dalam bentuk video animasi. Sebagai pilot project, perlu dilakukan kajian lebih lanjut baik evaluasi ataupun pengembangan pasca pembangunan desain taman koleksi biologi

    Penentuan Biota Iktiofauna yang Berasosiasi dengan Padang Lamun melalui Pendekatan Visual Bawah Air

    No full text
    Ekosistem lamun merupakan ekosistem tumbuhan laut yang tedapat di daerah pesisir dan memiliki keragaman biota asosiasi, salah satunya ikan. Metode pengamatan biota asosiasi lamun dilakukan dengan instrumen visual bawah air yang dikembangkan oleh Jaya et al (2018). Penelitian ini dilakukan di 3 stasiun pada September-Desember 2018 di Pantai Beralas Pasir, Bintan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui biota ikan yang berasosiasi dengan padang lamun. Stasiun 1 dilakukan pengamatan pada lamun Enhalus acoroides terekam kemunculan ikan yang tertinggi terdapat pada ikan dari Famili Pomacentridae. Stasiun 2 dilakukan pengamatan pada ekosistem lamun jenis Cymodocea serrulata dengan jumlah ikan tertinggi dari Famili Belonidae. Stasiun 3 pada lamun Syringodium isoetifolium dengan kemunculan ikan tertinggi dari Famili Pomacentridae

    Aktivitas Antihiperglikemik Beras Analog pada Tikus Model Diabetes.

    No full text
    Diabetes merupakan penyakit gangguan metabolisme yang disebabkan oleh sekresi insulin yang rendah atau resistensi insulin, menyebabkan terjadinya hiperglikemia atau peningkatan glukosa di dalam darah. Penyakit diabetes tipe 2 (DT2) adalah kasus yang paling sering terjadi, mencapai 90-95% kasus, yang disebabkan oleh faktor gaya hidup dan makanan/diet yang menghasilkan obesitas. Penelitian mengenai pangan fungsional dan senyawa bioaktifnya telah banyak dilakukan untuk pengelolaan DT2. Beras analog merupakan beras tiruan seperti butiran beras yang dibuat dari tepung non beras (Budijanto dan Yuliyanti 2012), dapat dikonsumsi seperti beras putih. Beras analog berpotensi menjadi alternatif makanan pokok dengan aktivitas antidiabetes. Pada penelitian ini digunakan bahan baku sorgum, kedelai kuning kedelai hitam, bekatul beras hitam, dan bekatul beras hitam fermentasi. Sejauh ini belum ada laporan mengenai efek antihiperglikemik dari beras analog. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengevaluasi kandungan komponen bioaktif, aktivitas antioksidan dan penghambatan α-amilase bekatul beras hitam sebagai akibat proses fermentasi oleh R. oligosporus, (2) menentukan formulasi beras analog dari kombinasi sorgum, kedelai kuning, kedelai hitam, bekatul beras hitam, dan bekatul beras hitam fermentasi yang memberikan karakteristik fungsional dan aktivitas antidiabetes secara in vitro (aktivitas antioksidan, inhibisi enzim α-amilase dan α-glukosidase) yang tertinggi, (3) mengevaluasi aktivitas antidiabetes beras analog secara in vivo melalui pengujian kadar glukosa darah, nilai toleransi glukosa, kadar insulin, perubahan profil lipid, nilai BUN, kreatinin, SGOT, dan SGPT, aktivitas enzim superoksida dismutase (SOD), katalase, glutation peroksidase (GPx), dan uji histopatologi jaringan pankreas pada tikus yang diinduksi streptozotocin. Bekatul yang difermentasi (BF) selama 96 jam memiliki kandungan total fenolik, flavonoid, antosianin, α-tokoferol, dan γ-orizanol yang lebih tinggi dibandingkan bekatul non-fermentasi (BNF). BF juga memiliki aktivitas antioksidan dan inhibisi terhadap enzim α-amilase yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil yang diperoleh BF berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku pembuatan beras analog antihiperglikemik, yang dikombinasikan bersama bahan baku lainnya. Formulasi dari kombinasi sorgum, kedelai kuning, kedelai hitam, BNF, dan BF mampu menghasilkan beras analog yang memiliki bentuk menyerupai beras. Penelitian ini menghasilkan empat produk beras analog, yaitu KU (sorgum, kedelai kuning, dan BNF), HU (sorgum, kedelai hitam, dan BNF), KF (sorgum, kedelai kuning, dan BF), dan HF (sorgum, kedelai hitam, dan BF). Beras analog KF dan HF yang ditambahkan BF memiliki kandungan total fenol, flavonoid, antosianin, serat pangan, pati resisten, γ-orizanol dan α-tokoferol yang lebih tinggi, serta daya cerna pati yang lebih rendah dibandingkan dengan formula KU dan HU dengan penambahan BNF. Berdasarkan karakteristik fungsional, beras analog diduga memiliki aktivitas antidiabetes. Selanjutnya keempat beras analog tersebut diuji aktivitas antioksidan, inhibisi enzim α-amilase dan α-glukosidase secara in vitro untuk mengetahui potensinya sebagai pangan antidiabetes. Hasil uji in vitro menunjukkan bahwa beras analog dengan penambahan BF memiliki aktivitas yang lebih tinggi. Aktivitas antioksidan dengan metode DPPH tertinggi diperoleh pada beras analog HF. Aktivitas penghambatan yang tinggi terhadap enzim α-amilase dan α-glukosidase juga diperoleh pada beras analog dengan penambahan BF. Berdasarkan hasil uji tersebut, maka beras analog KF dan HF dilanjutkan pada tahap berikutnya, efek antidiabetes beras analog secara in vivo. Tahap uji in vivo menggunakan tikus jantan Spraque dawley sebanyak 24 ekor yang berumur 10 minggu dengan berat ± 250-300 g. Tikus model diabetes diperoleh setelah diinduksi dengan streptozotocin dosis 35 mg/Kg BB. Tikus dibagi menjadi 4 kelompok tikus (n=6) yaitu kelompok tikus kontrol sehat (K-), tikus kontrol diabetes dengan pakan standar (K+), tikus diabetes dengan pakan standar dan beras analog KF 50% (PKF), dan tikus diabetes dengan pakan standar dan beras analog HF 50% (PHF). Pemberian beras analog selama 28 hari pada tikus diabetes menunjukkan terjadi penurunan kadar glukosa darah, meskipun belum mencapai kadar normal. Hasil ini didukung dengan adanya peningkatan nilai toleransi glukosa pada minggu ke-4 pengujian, yang ditunjukkan dengan menurunnya nilai area under curve (AUC) glukosa dibandingkan dengan pengujian pada minggu ke-0. Jumlah kadar insulin yang lebih tinggi diperoleh pada kelompok PKF dan PHF dibandingkan dengan kelompok kontrol K+ pada akhir masa perlakuan. Kadar insulin ini berdampak pada kemampuannya dalam menurunkan kadar glukosa darah dan nilai AUC glukosa. Perlakuan beras analog juga menunjukkan perbaikan profil lipid tikus diabetes. Kelompok PKF dan PHF memiliki kadar kolesterol, trigliserida, dan LDL-k yang lebih rendah, serta nilai HDL-K yang tinggi dibandingkan dengan kelompok K+. Selain itu juga pemberian beras analog mampu mempertahankan fungsi ginjal dan hati tikus diabetes. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya nilai BUN, kreatinin, SGOT, dan SGPT, yang merupakan indikator tingkat kerusakan ginjal dan hati. Pada akhir masa penelitian, aktivitas enzim antioksidan SOD, katalase, dan GPx pada tikus diabetes yang diberikan beras analog lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol diabetes K+. Pengamatan secara histopatologi menunjukkan bahwa pulau langerhans tikus kelompok PKF dan PHF lebih besar dibandingkan dengan kelompok K+. Hal ini juga dibuktikan dengan pengukuran diameter pulau langerhans kelompok perlakuan beras analog yang lebih besar. Selain itu kelompok tikus PKF dan PHF juga memiliki tingkat imunoreaksi insulin yang lebih tinggi daripada kontrol K+. Secara mikroskopi hasil pewarnaan terlihat pembentukan warna coklat yang lebih besar dibandingkan kontrol K+. Berdasarkan keseluruhan hasil penelitian menunjukkan bahwa beras analog yang terbuat dari sorgum, kedelai kuning, kedelai hitam, dan bekatul fermentasi memiliki aktivitas antidiabetes. Interaksi sinergis antara komponen-komponen bioaktif yang terkandung pada beras analog mampu memberikan efek antihiperglikemik, yang ditunjukkan pada penelitian ini berdasarkan metode uji in vitro dan in vivo

    Perancangan User Experience Aplikasi Mobile Resep Jamu Menggunakan Metode Design Thinking.

    No full text
    Indonesia memiliki banyak sumber daya alam yang dapat dijadikan obat tradisional atau jamu. Departemen Kesehatan Republik Indonesia telah membuat program saintifikasi jamu, yaitu pembuktian ilmiah jamu sehingga jamu yang teruji ilmiah aman dan berkhasiat dapat disediakan dan dimanfaatkan untuk pengobatan mandiri masyarakat maupun dalam fasilitas pelayanan kesehatan, bersamaan dengan meningkatknya potensi pasar jamu di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah membuat rancangan user experience yang disampaikan dalam bentuk purwarupa aplikasi mobile resep jamu berdasarkan kebutuhan target pengguna dalam melakukan kegiatan pengobatan dengan ramuan jamu, serta mengevaluasi usabilitas dari purwarupa tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Design Thinking, yang terdiri dari lima tahap yaitu Understand and Observe, Define Point of View, Ideate and Prototype, Test, dan Reflect. Indikator keberhasilan diukur dari peningkatan persentase komentar positif yang didapatkan. Pada iterasi pertama, persentase komentar positif yang diperoleh sebesar 41,5%, sementara pada iterasi kedua sebesar 71,5%, sehingga dapat disimpulkan desain yang dibuat telah mencapai tujuan

    Analisis Indeks Vegetasi Pertumbuhan dan Produktivitas Padi dengan Nilai NDVI Citra MODIS

    No full text
    Makanan pokok masyarakat Indonesia adalah beras (Oryza sativa, sp). Untuk menjaga ketersediaan beras, diantaranya dapat dilakukan dengan penggunaan teknologi remote sensing untuk monitoring dan memperoleh informasi tanaman padi pada lahan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan indeks vegetasi padi dengan NDVI MODIS, mengetahui hubungan NDVI MODIS dengan NDVI Multispektral UAV, dan mengetahui hubungan NDVI MODIS dengan produktivitas padi. Data yang digunakan yaitu data multispektral dari kamera Parrot Sequoia dan data MODIS Vegetation Index dengan resolusi spasial 250 m pada musim tanam kedua. Analisis dilakukan per grid pixel MODIS melalui Uji Regresi Linier Sederhana. Pertumbuhan padi dengan NDVI MODIS pada fase vegetatif dan generatif memiliki hubungan yang kuat. Nilai koefisien determinasi (R2) kelompok I, II, dan III pada fase vegetatif adalah 0.9652, 0.9709, dan 0.98224 dan generatif adalah 0.8556, 0.8019, dan 0.8184. NDVI MODIS dan NDVI UAV memiliki hubungan yang lemah dengan R2 sebesar 0.3311. NDVI MODIS dan produktivitas memiliki hubungan yang lemah dengan R2 sebesar 0.2408

    Analisis Kepuasan Pelanggan KOI Cafe di Kota Bogor.

    No full text
    Seiring dengan perkembangan zaman membuat adanya perubahan gaya hidup masyarakat, yang mana gaya hidup merupakan aktivitas manusia dalam hal bagaimana mereka menghabiskan waktunya di luar rumah. Gaya hidup dengan aktivitas yang padat mengubah pola konsumsi masyarakat termasuk pada konsumsi makanan dan minuman. Dimana masyarakat saat ini lebih menyukai hal yang praktis, cepat dan instan. Banyaknya usaha yang sangat kreatif menawarkan berbagai jenis produk makanan dan minuman modern. Salah satunya adalah usaha bubble drink yang mana merupakan usaha yang sedang berkembang dan populer saat ini. KOI Cafe merupakan bubble drink yang ada di Kota Bogor, tepatnya berlokasi di Mall Botani Square. Pada penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik pelanggan, mendeskripsikan proses pengambilan keputusan pembelian, merumuskan perbaikan atribut serta mengukur tingkat kepuasan pelanggan KOI Cafe yang dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif, analisis korelasi Rank Spearman, analisis kepentingan dan kinerja (IPA), dan indeks kepuasan pelanggan (CSI). Berdasarkan hasil dari IPA, kinerja atribut yang perlu diperbaiki antara lain atribut kesesuain harga dengan kualitas dan atribut pengetahuan pramusaji dalam penyampaian informasi mengenai menu yang ditawarkan. Akan tetapi, secara keseluruhan pelanggan sudah merasa sangat puas dengan kinerja dari KOI Cafe tersebut, dengan tingkat kepuasan sebesar 81 persen

    Analisis Pemasaran Dan Integrasi Pasar Vertikal Cabai Rawit Merah Di Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut Jawa Barat

    No full text
    Penelitian mengenai analisis pemasaran dan integrasi pasar vertikal cabai rawit merah ini terletak di Desa Cidatar Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut dengan tujuan untuk mengidentifikasi saluran pemasaran, fungsi pemasaran, efisiensi pemasaran dan tingkat integrasi pasar vertikal cabai rawit merah di Desa Cidatar Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif. Sebanyak 30 responden petani dipilih dengan metode random sampling dan untuk mendapatkan responden pedagang menggunakan metode snowball. Wawancara dan observasi dilakukan untuk mengumpulkan data primer sedangkan dokumentasi untuk mengambil data sekunder. Terdapat lima saluran pemasaran cabai rawit merah di Desa Cidatar, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut. Saluran pemasarannya adalah I) petani - pengumpul - pedagang besar Jakarta - pengecer - konsumen Jakarta; II) petani - pengumpul – pedagang besar Cikajang– pengecer - konsumen Cikajang; III) petani - pengumpul - pedagang besar Cikajang - pedagang besar Jakarta - pengecer - konsumen Jakarta; IV) petani - pengumpul - pedagang besar Bandung - pengecer - konsumen Bandung; V) petani - pengumpul - pedagang besar Bandung - pedagang Jakarta - pengecer - konsumen Jakarta. Hasil analisis menunjukkan margin pemasaran terkecil terdapat pada saluran pemasaran II sebesar 52.3 persen. Farmer’s share terbesar adalah 48 persen pada saluran pemasaran II dan rasio πi / Ci terbesar adalah 5.64 pada saluran pemasaran III. Integrasi vertikal pasar cabai rawit merah dianalisis menggunakan Ravallion dan menunjukkan bahwa terdapat integrasi jangka pendek antara harga di tingkat petani dan harga di tingkat pedagang besar di PIKJ namun hasil analisis menunjukkan tidak terdapat integrasi jangka panjang diantara ketiga hubungan pasar. Saran yang dapat diberikan kepada petani adalah memilih saluran pemasaran I karena saluran pemasaran tersebut merupakan saluran dengan volume dan harga komoditas yang paling tinggi yang dapat diserap oleh pasar. Hal ini berarti terjadi kontinuitasan pemasaran cabai rawit merah yang tingg

    Analisis dan Mitigasi Risiko Rantai Pasok Pestisida pada PT. Agricon.

    No full text
    Salah satu solusi untuk meningkatkan produktivitas pertanian adalah penanggulangan hama dan penyakit dengan menggunakan pestisida. Hal tersebut berdampak pada rantai pasok pestisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis mekanisme rantai pasok serta kinerja rantai pasok pestisida dengan Supply Chain Operations Reference (SCOR); mengidentifikasi risiko; menganalisis risiko; merumuskan aksi mitigasi risiko pada rantai pasok pestisida; dan merumuskan strategi peningkatan kinerja pada rantai pasok pestisida. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kerangka analisis Van der Vorst (2006) untuk mengidentifikasi dan menganalisis mekanisme rantai pasok pestisida dan model SCOR untuk menganalisis kinerja rantai pasok pestisida. Failure Mode Effect Analysis (FMEA) digunakan untuk mengidentifikasi risiko rantai pasok pestisida berdasarkan proses bisnisnya, yaitu plan, source, make, deliver dan return. Metode House of Risk (HOR) 1 dan 2 untuk menganalisis risiko dan merumuskan aksi mitigasi risiko, serta metode Analytical Networking Process (ANP) untuk merumuskan strategi peningkatan kinerja rantai pasok pestisida yang diperoleh dari penggabungan pendapat 5 (lima) orang pakar baik praktisi maupun akademisi. Anggota rantai pasok terdiri dari penyedia bahan baku, bagian produksi, distributor, retailer dan konsumen akhir. Proses bisnis rantai pasok berupa siklus pengadaan, siklus produksi dan siklus pesanan. Sumber daya fisik rantai pasok berupa bangunan, mesin dan pusat distribusi. Kesepakatan kontraktual dan proforma invoice terjalin dengan para pemasok, serta sistem transaksi terjadi pada manajemen bahan baku dan penjualan produk. Pengukuran kinerja dengan model SCOR menunjukkan masih terdapat 0.61% pesanan yang tidak terpenuhi; siklus pemenuhan pesanan adalah 12 hari; metriks fleksibilitas rantai pasok atas adalah 3 (tiga) hari; dan metriks penyesuaian rantai pasok atas sebesar 11.72%. Hasil perhitungan kinerja rantai pasok pestisida adalah 52.69% dan berada pada kriteria buruk (unacceptable). Hasil tersebut mengindikasikan adanya atribut kinerja yang dijalankan kurang optimal yang mengakibatkan terjadinya kehilangan kesempatan (lost opportunity) karena tidak terpenuhinya target perusahaan yang berdampak pada kehilangan keuntungan. Hasil identifikasi dan analisis risiko dengan metode FMEA-HOR diketahui bahwa terdapat 40 kejadian risiko dan 24 sumber risiko. Pada tahap mitigasi risiko, diperoleh 10 prioritas sumber risiko yang diberikan aksi mitigasi dan diurutkan berdasarkan efektivitas biaya. Prioritas aksi mitigasi risiko adalah evaluasi dan perketat rangkaian proses didalam sistem produksi, penjadwalan kegiatan preventive dan predictive maintenance secara rutin, serta perbaikan rancangan produksi dan evaluasi prosedur pemeliharaan. Berdasarkan hasil pengukuran kinerja yang masih rendah, maka diperlukan alternatif strategi peningkatan kinerja rantai pasok pestisida. Strategi menjaga ketersediaan bahan baku (0.30) dianggap lebih berpengaruh dibandingkan alternatif strategi lainnya dan diharapkan dapat menciptakan stabilitas produksi pada industri pestisida

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇