31665 research outputs found
Sort by
Seleksi Kelompok Gugus Senyawa Untuk Identifikasi Keaslian Salah Satu Produk Jamu Menggunakan Regresi Logistik Group Lasso
Pemalsuan produk jamu di Indonesia merupakan kasus yang cukup banyak
ditemui dewasa ini, salah satunya pada kasus pemalsuan salah satu produk jamu
(jamu X). Pemalsuan produk jamu X yang terjadi memiliki bentuk fisik yang
sama sehingga sangat sukar untuk dapat diidentifikasi keasliannya, identifikasi
tersebut secara kimiawi dapat dilakukan dengan analisis kemometrik yaitu
menggunakan spektrofotometri Fourier Transform Infrared Spectrometer (FTIR)
pada spektrum inframerah menengah, sehingga menghasilkan panjang
gelombang untuk diidentifikasi. Hasil kemometrik sangat sulit diintrepetasi
sehingga untuk memudahkannya menggunakan metode analisis statistika, salah
satunya menggunakan Group Lasso. Group Lasso merupakan metode yang
mampu menyeleksi variabel untuk mengindentifikasi keaslian produk jamu X.
Karena data yang digunakan merupakan data kategorik sehingga metode yang
digunakan adalah Regresi Logistik Group Lasso. Penelitian ini bertujuan untuk
melihat gugus senyawa yang berpengaruh untuk mengidentifikasi keaslian produk
jamu X. sehingga didapatkan hasil dari regresi group lasso bahwa gugus senyawa
yang berpengaruh terhadap keaslian produk jamu X yaitu C-H kuat alifatik
(methyl, methylene, methylene group), H-C-H bending (methyl, methylene), dan
no erthosubtitued aromatic dengan banyaknya pengamatan 20 menghasilkan
akurasi 100%
Strategi Pengembangan Bisnis PT Ternaknesia Farm Innovation (Studi Kasus Divisi Ternakinvest).
157 perusahaan fintech dalam proses pendaftaran perusahaan oleh OJK dan
lebih dari 600 perusahaan fintech belum terdaftar (OJK 2017). Melihat semakin
ketatnya persaingan dalam industry fintech, maka diperlukan strategi
pengembangan bisnis yang tepat untuk dapat terus tumbuh dan bersaing di dalam
industri fintech. Tujuan dari penelitian adalah mengetahui faktor-faktor internal dan
eksternal yang mempengaruhi pengembangan bisnis, merumuskan alternatif
strategi dan menentukan prioritas. Metode yang digunakan yaitu matriks IFE, EFE,
I-E, SWOT, QSPM. Matriks IFE dan EFE menunjukkan faktor internal dan
eksternal perusahaan berada pada kondisi rata-rata. Matriks I-E menunjukkan posisi
perusahaan di kuadran lima. Formulasi strategi menggunakan matriks SWOT
menghasilkan 6 alternatif strategi. Strategi prioritas yang dihasilkan oleh matriks
QSP ialah merekrut tim inti yang expert dengan track record sangat bagus di bidang
IT sekaligus menjabat sebagai ketua komunitas dari pekerjaan tersebut
Nilai Harapan Waktu Tunggu dan Banyaknya Pelanggan pada Model Antrean M/M/1 dengan Pelayanan Terganggu
Karya ilmiah ini membahas model antrean tipe �������/�������/1 dengan pelayanan
terganggu. Pelayanan terganggu terjadi ketika lingkungan sistem dalam keadaan
sibuk sehingga pesan dari server tidak tersampaikan dengan jelas ke pelanggan.
Proses kedatangan pelanggan mengikuti proses Poisson dengan laju sebesar �������.
Disiplin antrean yang digunakan dalam model ini adalah First Come First Serve.
Ukuran kinerja yang dibahas adalah nilai harapan banyaknya pelanggan dan
waktu tunggu pelanggan, yang diperoleh menggunakan diferensial pertama dari
fungsi pembangkit peluang banyaknya pelanggan. Langkah awal adalah
mendefinisikan matriks infinitesimal ������� melalui diagram transisi. Selanjutnya
mencari fungsi pembangkit peluang menggunakan sebaran stasioner
Analisis Penerapan Teknologi Informasi dalam Mendukung Pengembangan Local E-Government
Pengembangan e-government di Indonesia dimulai dari terbitnya Instruksi
Presiden (INPRES) Nomor 3 Tahun 2003 Tentang Kebijakan Dan Strategi Nasional
Pengembangan e-Government. Salah satu lembaga pemerintahan yang telah
menerapkan e-government adalah Kota Bogor. Pada Pemeringkatan e-Government
Indonesia (PeGI) tingkat Kabupaten/ Kota, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor
meraih peringkat ke-2 setelah Kota Cimahi. Kota Bogor juga telah memiliki master
plan e-government Pemkot Bogor yang di dalamnya lebih fokus menjelaskan
pengembangan TI di lingkungan Pemkot Bogor, namun perencanaan
pengembangan TI level lokal seperti di dinas-dinas, kecamatan dan kelurahan perlu
dijelaskan lebih rinci. Tujuan penelitian ini bermaksud untuk membuat analisis
penerapan TI local e-government pada aplikasi PATEN di Kota Bogor. Penelitian
menggunakan framework (The Open Group Architecture Framewrok) TOGAF
ADM untuk menggambarkan penerapan TI yang baik dan rinci sehingga bisa
digunakan oleh organisasi kecamatan dalam mencapai visi, misi, dan tujuan
strategisnya.
Penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara dan observasi ke kecamatan
Bogor Utara, Bogor Selatan, Bogor Barat, Bogor Timur, Bogor Tengah dan Tanah
Sareal. Wawancara dan observasi dilakukan pada bulan Juni 2017 – Juli 2017.
Kondisi architecture vision menunjukkan bahwa hanya ada visi dan misi
kecamatan, namun belum ada rumusan visi dan misi TI yang untuk kecamatan. Visi
dan misi TI kecamatan yang diusulkan dianggap penting dan harus berdasarkan visi
dan misi e-government Kota Bogor tahun 2014-2018 yaitu “Mewujudkan Bogor
menjadi Smart Government menuju pemerintah yang efisien, efeketif, akuntabel
dan transparan, agar pengembangan TI kecamatan sejalan dengan visi dan misi egovernment
Kota Bogor.
Kondisi business architecture saat ini digambarkan dengan value chain
diagram yaitu terdapat kegiatan utama dan pendukung, persyaratan mendapatkan
pelayanan perizinan dan pelayan non-perizinan, dan analisis beberapa
permasalahan kegiatan bisnis kecamatan. Beberapa permasalahan yang terjadi
seperti pada pelayanan perizinan dan non-perizinan persyaratannya masih
melampirkan salinan identitas dikarenakan aplikasi paten kecamatan yang ada
belum diitegrasikan dengan data kependudukan online yang dimiliki oleh Kota
Bogor.
Kondisi information system architecture dapat dilihat dengan modul aplikasi
kecamatan yang saat ini dipakai yaitu SIM PATEN, SIM Wilayah, SIMDA,
SIMRAL, dan SIPEG yang diberikan oleh Diskominfostandi dan beberapa OPD
lainnya. Sedangkan pada kondisi technology architecture kecamatan-kecamatan di
Kota Bogor memiliki infrastruktur perangkat keras yang memadai, kondisi
infrastruktur jaringan juga sudah memadai karena memilik anggaran untuk
memenuhi pengadaan perangkat keras dan jaringan.
Hasil analisis penerapan TI pada level local e-government tingkat kecamatan
di Kota Bogor untuk jangka waktu lima tahun yang akan datang menghasilkan
beberapa strategi. Strategi pertama yaitu menghasilkan rekomendasi solusi
kebutuhan aplikasi yang diperlukan sebagai pendukung telaksananya seluruh
proses bisnis kecamatan yang dijalankan. Aplikasi yang dibutuhkan terdapat enam
aplikasi untuk internal kecamatan yaitu SIM PATEN online, SIM Wilayah online,
SI keuangan, SI inventaris, SI kepegawaian, dan SI Audit. Strategi kedua
menghasilkan rekomendasi solusi kebutuhan data yang dibutuhkan untuk
membangun solusi SI yaitu data kependudukan, data keuangan, data pengelolaan
aset, data kepegawaian, dan data kinerja kecamatan. Strategi ketiga menghasilkan
rekomendasi usulan technology architecture seperti meningkatkan kecepatan
koneksi internet dan membuat topologi jaringan untuk kecamatan di Kota Bogor.
Strategi keempat menghasilkan rekomendasi roadmap dan prioritas tahapan
program kerja pengembangan TI selama lima tahun mendatang yaitu pembuatan
master plan TI, pengembangan SDM TI, pengembangan aplikasi dan
mengintegrasikan aplikasi kecamatan, pemanfaatan aplikasi, pemeliharaan
aplikasi, serta pengembagan dan pemeliharaan infrasttruktur TI kecamtan. Strategi
terkahir yaitu untuk menambahkan unit kerja TI yang dianggap perlu dalam
melakukan tugas pengelolaan TI, penyajian informasi, pemeliharaan TI, dan
laporan secara rutin. Dengan adanya unit kerja TI diharapkan dapat meningkatkan
pengelolaan dan koordinasi pengembangan TI dengan tujuan bisnis kecamatan.
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi rekomendasi untuk Diskominfostandi
Kota Bogor sebagai fasilitator pengembangan penerapan TI level local egovernment
di kecamatan
Evaluasi Pemanfaatan Ekstrak Gracilaria verrucosa Terhadap Sistem Imun dan Pertumbuhan Udang Vaname Litopenaeus vannamei.
Indonesia merupakan salah satu pengekspor terbanyak udang di dunia yang
terus melakukan peningkatan produksi udangnya. Namun upaya ini sering
terkendala karena adanya serangan penyakit pada budidaya udang. Peningkatan
imunitas nonspesifik dapat mengurangi kerentanan udang terhadap penyakit.
Imunostimulan yang berasal dari rumput laut merupakan salah satu bahan yang
dapat menimbulkan respons imunitas alami udang sehingga tahan terhadap
penyakit. Rumput laut jenis Gracilaria verrucosa merupakan salah satu alga
merah yang banyak terdapat di perairan Indonesia dan saat ini sudah
dibudidayakan di tambak. Bahan aktif rumput laut dari jenis Gracilaria spp.
adalah sulfat polisakarida yang dapat menstimulasi sistem imun udang. Pemberian
imunostimulan melalui pakan merupakan metode yang umum digunakan untuk
meningkatkan sistem imun maupun mendukung pertumbuhan udang. Selain itu
stimulasi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain dosis dan durasi pemberian
pakan imunostimulan serta keamanannya bila diaplikasikan di lapangan. Tujuan
umum penelitian ini untuk mengevaluasi pemanfaatan ekstrak G. verrucossa
terhadap sistem imun dan pertumbuhan udang vaname Litopenaeus vannamei.
Penelitian pertama bertujuan untuk mengetahui komposisi kimia ekstrak
rumput laut G. verrucosa. Rumput laut diekstrak menggunakan pelarut etil asetat
tiga bagian untuk selanjutnya dianalisis. Hasil analisis komposisi kimia ekstrak
etil asetat rumput laut G. verrucosa menunjukkan bahwa ekstrak mengandung
sulfat (24,21 %), karbohidrat (13,41 %), dan galaktosa 0,46 mg L-1. Komposisi
kimia lain dari bahan ekstrak etil asetat adalah kandungan protein sebanyak 3,64%.
Hasil analisis pirolisis GC-MS menunjukkan bahwa ekstrak G verrucosa
mengandung senyawa monosakarida dalam bentuk α-L-galactopyranoside dengan
bobot molekul 178 kDa, methil 3,6-anhydro-α-L-galactopyranoside dengan bobot
molekul 176 kDa, dan 4-O-β-D-galactopyranosyl 342 kDa.
Penelitian tahap kedua bertujuan untuk mendapatkan dosis optimum ekstrak
yang dapat meningkatkan sistem imun, sintasan dan mendukung pertumbuhan
udang vaname. Penelitian ini menggunakan tiga dosis ekstrak G. verrucosa yaitu
1, 2, dan 3 g kg-1 yang diformulasikan dalam pakan. Sebagai kontrol, udang diberi
pakan tanpa ekstrak G. verrucosa. Udang diberi pakan perlakuan selama enam
minggu. Selama periode pemeliharaan dilakukan pengamatan parameter imun
pada jam ke- 6, 24, 72, 336, dan 1008. Khusus untuk pengamatan parameter imun
secara molekular pada gen lgbp (lipopolysaccharide and -1,3-glucan binding
protein) dan alf1 (anti-lipopolisaccharide faktor 1) dilakukan pada hari kesatu, 14
dan 42. Setelah pemeliharaan selama enam minggu dilakukan penimbangan bobot
akhir udang. Uji tantang dilakukan menggunakan bakteri patogen Vibrio harveyi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak G. verrucosa yang diformulasikan
dalam pakan udang dengan dosis 1, 2, dan 3 g kg-1 dapat memberikan respons
parameter imun (THC, DHC, aktivitas fagositosis, aktivitas fenoloksidase serta
aktivitas bakterisidal) lebih tinggi dibandingkan dengan udang yang diberi pakan
kontrol tanpa ekstrak G. verrucosa. Analisis molekular menunjukkan bahwa
peningkatan induksi kedua gen yang terkait imun mulai terlihat pada hari kesatu
setelah pemberian pakan ekstrak namun terjadi penurunan pada akhir
pemeliharaan. Udang vaname yang diberi pakan mengandung ekstrak G.
verrucosa sebanyak 2 g kg-1 mengalami stimulasi sistem imun yang optimum.
Pemberian pakan mengandung ekstrak G. verrucosa pada dosis 1-3 g kg-1
menimbulkan resistan terhadap infeksi bakteri V. harveyi.
Penelitian tahap ketiga bertujuan untuk mendapatkan durasi pemberian
pakan ekstrak G. verrucosa yang baik. Eksperimen ini menggunakan tiga
perlakuan durasi, yaitu pemberian pakan ekstrak berselang-seling satu minggu,
berselang-seling dua minggu dan hanya sekali pemberian yaitu satu minggu pada
awal pemeliharaan. Kontrol merupakan udang yang diberi pakan tanpa
penambahan ekstrak G. verrucosa. Pengamatan parameter imun berupa THC,
DHC, PO, dan aktivitas fagositik dilakukan pada minggu kesatu, 3, 4 dan 6.
Penimbangan bobot udang dilakukan pada awal dan akhir pemeliharaan. Uji
tantang dengan V. harveyi dilakukan untuk mengevaluasi sintasan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa udang yang diberi pakan ekstrak pada durasi
tertentu memiliki respons imun yang lebih tinggi dibandingkan udang yang diberi
pakan kontrol. Udang yang diberi pakan ekstrak dengan durasi tertentu
mempunyai sintasan yang lebih tinggi dibandingkan udang yang diberi pakan
tanpa durasi pakan ekstrak. Pemberian pakan ekstrak berselang-seling satu
minggu dan satu minggu pemberian dapat mendukung pertumbuhan udang.
Penelitian tahap keempat dilakukan untuk menguji pakan ekstrak dengan
dosis 2 g kg-1 pada udang dengan perlakuan durasi setiap satu minggu dan satu
minggu pemberian terhadap sintasan dan pertumbuhan udang. Penelitian tahap IV
dilakukan di lapangan, pada wadah hapa (2 m2) yang diletakkan dalam satu
petakan tambak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintasan udang yang diberi
pakan ekstrak satu minggu pada awal pemeliharaan udang lebih tinggi
dibandingkan sintasan udang pada perlakuan lainnya. Pakan mengandung ekstrak
G. verrucosa yang diberikan dengan durasi tertentu belum dapat mendukung
pertumbuhan udang. Walaupun demikian biomassa akhir udang vaname yang
diberi pakan ekstrak pada durasi satu minggu lebih tinggi dibandingkan perlakuan
lainnya, dengan konversi pakan sebesar 1.01.
Hasil penelitian ini secara umum menunjukkan bahwa ekstrak rumput laut
G. verrucosa potensial sebagai imunostimulan. Pemanfaatan ekstrak G. verrucosa
pada dosis 2 g kg-1 adalah optimum dalam meningkatkan respons imun udang
vaname sehingga tahan terhadap terhadap infeksi V. harveyi. Pemberian pakan
ekstrak dengan durasi satu minggu sudah dapat meningkatkan respons imun,
sintasan dan pertumbuhan udang vaname. Aplikasi pakan yang mengandung
ekstrak G. verrucosa di lapangan menunjukkan bahwa imunostimulan ini dapat
dimanfaatkan dalam meningkatkan sintasan udang vaname guna mendukung
produktivitas budidaya L. vannamei
Pertumbuhan Generasi Kedua Ayam Merawangarab Arabmerawang Merawangmerawangarab dan Merawangarabmerawang Umur 1 sampai 12 Minggu
Ayam merawang dan ayam arab merupakan ayam lokal Indonesia yang
memiliki kelebihan masing-masing. Ayam merawang (M) sangat potensial untuk
dikembangkan sebagai ayam lokal petelur maupun pedaging. Ayam arab (A)
memiliki kelebihan produksi telurnya relatif tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk
menghasilkan generasi kedua ayam silangan ayam merawang dengan arab yang
memiliki produktivitas lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Peubah
yang diamati diantaranya konsumsi pakan, bobot badan, pertambahan bobot badan,
konversi pakan, dan mortalitas. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan
analisis peragam (ANCOVA) dalam rancangan acak kelompok (RAK). Total DOC
ayam MA 45 ekor, AM 33 ekor, M-AM 28 ekor, dan ayam M-MA 20 ekor. Bobot
badan DOC ayam MA dan AM berbeda nyata (P<0.05). Bobot badan ayam jantan
MA pada umur 12 minggu sebesar 925.9, AM sebesar 886.5, M-AM sebesar 965.4,
dan M-MA sebesar 943.2 g. Bobot badan ayam betina MA pada umur 12 minggu
sebesar 823.4, AM sebesar 776.5, M-AM sebesar 871.2, dan M-MA sebesar 772 g.
Konsumsi pakan keempat ayam persilangan interse tersebut tidak berbeda nyata
baik jantan maupun betina (P>0.05). Pada umur 5-12 minggu ayam M-MA jantan
dan ayam M-AM betina efisien mengkonversi pakan untuk pertumbuhan. Kematian
di awal fase pemeliharaan pada ayam MA sebesar 0%, AM sebesar 6.06%, M-AM
sebesar 3.7%, dan M-MA sebesar 15%. Ayam M-MA jantan dan M-AM betina
dapat dikembangkan lebih lanjut dengan performa lebih baik dibandingkan jenis
persilangan ayam lainnya
Pengelolaan Pemangkasan Tanaman Teh (Camellia sinensis L. (O) Kuntze) di Perkebunan Purbasari, PT. Perkebunan Nusantara VIII, Pangalengan, Jawa Barat.
Tanaman teh adalah salah satu komoditas yang berkontribusi dalam devisa
Indonesia. Kestabilan produksi dapat dicapai dengan pengelolaan kegiatan
pemangkasan oleh perkebunan. Kegiatan magang dilaksanakan bulan Februari
hingga Juni 2017 di Perkebunan Purbasari PTPN VIII Jawa Barat. Kegiatan
magang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman mahasiswa
dalam aspek budidaya teh secara umum dan khusus mempelajari pengelolaan
pemangkasan tanaman teh di Perkebunan Purbasari PTPN VIII Jawa Barat.
Kegiatan magang yang dilakukan meliputi aspek teknis sebagai karyawan harian
lepas (KHL) dan aspek manajerial sebagai pendamping mandor, serta pendamping
mandor besar. Hasil pengamatan yang diperoleh dibandingkan dengan standar
kebun, dianalisis kualitatif, kuantitatif dengan metode analisis deskriptif dan
menggunakan uji t-student. Kegiatan pemangkasan di Perkebunan Purbasari sudah
mengikuti standar operasional dengan ketinggian rata-rata sebelum kegiatan
pemangkasan mencapai 163.81 cm. Kegiatan pemangkasan menghasilkan
ketinggian 49.61 cm dengan persentase kerusakan cabang 12.66% yang
dipengaruhi oleh usia tenaga kerja dan pengalaman kerja pemangkasan. Tipe
pemangkasan produksi yang diterapkan adalah pemangkasan kepris karena
keputusan manajemen terkait keterbatasan tenaga kerja dan pengguanaan alat
pangkas berupa sabit pangkas. Pertumbuhan pucuk setelah kegiatan pemangkasan
terjadi pada minggu ke-3 dan pemetikan setelah kegiatan pemangkasan dapat
menghasilkan 9,761 kg pucuk setelah 3 bulan kegiatan pemangkasan
Good Dairy Farming Practice dan Good Milking Practice Induk Sapi Perah Rakyat Peri-Urban Kecamatan Pangalengan
Good Dairy Farming Practice (GDFP) dan Good Milking Practice (GMiP)
merupakan pedoman budidaya ternak perah yang berfungsi meningkatkan produksi
dan kualitas susu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan GDFP dan
GMiP pada peternakan sapi perah rakyat kawasan peri-urban Kecamatan
Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Peternak rakyat yang diamati pada
penelitian ini adalah peternakan rakyat dengan sapi perah kurang dari 10 ekor.
Pengambilan sampel menggunakan teknik multistage stratified random sampling,
teknik ini diterapkan dengan memilih peternak secara acak pada tingkat koperasi
dan kelompok peternak untuk mewakili kelompok tersebut. Pengumpulan data
diperoleh dengan cara melakukan pengamatan langsung dan wawancara dengan
peternak sapi perah yang dikunjungi. Penerapan GDFP pada peternakan rakyat
daerah peri-urban dikategorikan baik dengan penerapan terbaik pada aspek
kesehatan hewan. Penerapan GMiP pada peternakan rakyat daerah peri-urban
dikategorikan cukup baik dengan penerapan terbaik pada aspek setelah pemerahan.
Tingginya nilai GDFP dan beberapa aspek GMiP tidak terlepas dari peran KPBS
Pangalengan dalam melakukan pelatihan, pendampingan, dan penyuluhan kepada
peternak di daerah peri-urban secara berkala
Efektivitas Promosi melalui Instagram Pada Ekowisata Dusun Bambu Family Leisure Park
Para pelaku bisnis memanfaatkan kemajuan teknologi dengan memasarkan
produknya melalui internet khususnya media sosial Instagram sebagai salah satu media
untuk promosi. Tujuan penelitian adalah menghasilkan analisis efektivitas promosi
melalui instagram, menganalisis hubungan karakteristik followers dengan efektivitas
promosi menggunakan EPIC Model serta menganalisis hubungan tingkat keterdedahan
media sosial instagram dengan efektivitas promosi menggunakan EPIC Model. Penelitian
menggunakan metode survei dengan data kuantitatif berupa kuesioner yang didukung
oleh data kualitatif berupa wawancara mendalam dengan admin Instagram dan pengelola
ekowisata sebagai informan. Jumlah responden dalam penelitian adalah 100 orang. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara karakteristik pengunjung
dengan efektivitas promosi menggunakan EPIC Model dan tidak terdapat hubungan
antara tingkat keterdedahan media sosial Instagram dengan efektivitas promosi
menggunakan EPIC Model. Penelitian ini menunjukan bahwa Instagram merupakan
media yang efektif dalam mempromosikan kepada followers sehingga followers
melakukan kunjungan ke ekowisata Dusun Bambu Family Leisure Park
Desain Pengembangan Ekowisata mangrove Istambul Demak, Jawa Tengah
Kabupaten Demak merupakan daerah pesisir di pantai utara Jawa Tengah
yang memiliki potensi ekosistem mangrove yang masih alami. Ekosistem
mangrove di Kabupaten Demak dapat dikembangkan untuk kegiatan ekowisata
adalah ekosistem mangrove Istambul Demak, terletak di desa Tambakbulusan,
Kecamatan Karang Tengah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengembangkan ekowisata mangrove melalui analisis kesesuaian ekowisata
mangrove sebagai destinasi ekowisata, menghitung daya dukung kegiatan
ekowisata, serta membuat strategi dan desain kegiatan ekowisata mangrove
Istambul Demak. Hasil menunjukkan bahwa ekosistem mangrove Istambul sesuai
untuk dijadikan sebagai kawasan ekowisata. Aktifitas ekowisata yang dapat
dikembangkan di ekosistem tersebut yaitu tracking mangrove dengan daya dukung
sebesar 122 orang perhari, berperahu dengan daya dukung sebesar 182 orang
perhari, dan rekreasi pantai dengan daya dukung sebesar 40 orang perhari. Terdapat
setidaknya 7 strategi yang dilakukan dalam pengembangan ekowisata mangrove
Istambul