31665 research outputs found
Sort by
Isolasi, Karakterisasi, dan Ekspresi Kemokin sebagai Penanda Genetik Penyakit Asma pada Hewan Model Macaca fascicularis.
Asma merupakan penyakit poligenik yang ditandai dengan penyumbatan saluran pernafasan yang disebabkan oleh inflamasi. Banyak mediator seluler yang terlibat dalam proses patogenesis asma, salah satunya kemokin yang berfungsi untuk migrasi dan aktivasi leukosit selama inflamasi. Gen pengode kemokin C-C Motif Ligan 7 (CCL7) dan CCL2 diketahui memiliki tingkat ekspresi mRNA yang tinggi pada monyet ekor panjang (MEP) yang mengalami reaksi asma. Monyet ekor panjang asal Indonesia pada penelitian ini telah dikembangkan sebagai hewan model asma dan terdapat variasi dalam respon hipersensitifitas terhadap alergen asma. Berdasarkan respon hipersensitifitas terhadap alergen pencetus asma MEP dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu high responder dan low responder. Kelompok high responder merupakan kelompok MEP asma yang memerlukan dosis alergen rendah untuk langsung berespon asma, sebaliknya kelompok low responder memerlukan dosis alergen yang tinggi untuk dapat berespon asma. Penelitian ini difokuskan untuk mencari potensi penanda genetik dengan analisis nukleotida tunggal pada gen CCL7 MEP yang dapat memisahkan kelompok high responder dan low responder.
Isolasi dan karakterisasi gen CCL7 telah berhasil dilakukan pada penelitian ini sebagai tahap awal untuk melakukan analisis variasi nukleotida tunggal dan hubungannya dengan tingkat keparahan serta potensi terapi pada MEP asma. Daerah gen pengkode protein CCL7 telah berhasil diisolasi dan dideposit pada genbank dengan kode akses MF062250. Kemiripan yang tinggi antara gen CCL7 MEP dan manusia menunjukkan bahwa MEP berpotensi untuk menggambarkan peran CCL7 dalam asma. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variasi nukleotida tunggal pada daerah promotor gen CCL7 MEP pada posisi -456 -/A berpotensi menjadi penanda genetik yang dapat membedakan MEP asma berdasarkan tingkat hipersensitifitas terhadap alergen pencetus asma. Evaluasi ekspresi gen CCL7 dan reseptornya pada cairan Broncoalveolar Lavage (BAL) dilakukan dengan teknik RealTime Polymerase Chain Reaction (PCR). Gen CCL7, CCR1, dan CCR3 pada kelompok high responder menunjukkan tren ekspresi yang lebih rendah daripada kelompok low responder. Evaluasi ekspresi gen juga dilakukan terhadap gen CCL2 dan reseptornya CCR2. Hasil menunjukkan bahwa ekspresi gen CCL2 dan CCR2 pada kelompok high responder lebih rendah daripada kelompok low responder. Variasi nukleotida tunggal promotor gen CCL7 pada MEP berhubungan dengan derajat hipersensitifitas kulit terhadap paparan alergen pencetus reaksi asma. Hal ini diduga berpengaruh terhadap regulasi gen pengkode salah satu reseptor CCL7 yaitu CCR2 dan kemokin lain yaitu CCL2. Hasil studi menunjukkan potensi area promotor gen CCL7 sebagai penanda genetik untuk seleksi MEP sebagai hewan model asma berdasarkan tingkat responsifitas terhadap alergen, yakni high responder dan low responder
Pengaruh Probiotik Nitrifikasi terhadap Penurunan Konsentrasi Amonia pada Media Air Laut Buatan
Akumulasi amonia merupakan salah satu penyebab penurunan kualitas air media budidaya. Penurunan kualitas air media pemeliharaan dapat berakibat pada terganggunya kesinambungan suatu kegiatan budidaya. Konsentrasi amonia dapat diturunkan dengan penambahan probiotik nitrifikasi. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh penambahan probiotik nitrifikasi dan dosis probiotik nitrifikasi terbaik terhadap penurunan konsentrasi amonia pada media air laut. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) in time yang terdiri atas beberapa perlakuan, yaitu A (probiotik 0,1 ppm), B (probiotik 0,2 ppm), C (probiotik 0,4 ppm), dan K (tanpa probiotik). Parameter utama yang diamati adalah TAN (Total Ammonia Nitrogen), amonia, dan kelimpahan bakteri total. Analisis data yang dilakukan adalah ANOVA dan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan penurunan konsentrasi TAN, amonia, dan kelimpahan bakteri total pada akhir penelitian. Konsentrasi TAN terendah pada akhir penelitian pada perlakuan B (probiotik 0,2 ppm) sebesar 0,0750 ± 0,0025 mg/L dengan persen perubahan sebesar 98,82%. Konsentrasi amonia pada akhir penelitian terendah pada perlakuan A (probiotik 0,1 ppm) sebesar 0,0009 ± 0,0002 mg/L dengan persen perubahan sebesar 99,10%. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, perlakuan probiotik berpengaruh nyata terhadap konsentrasi TAN dan tidak berpengaruh nyata terhadap konsentrasi amonia. Berdasarkan hasil uji lanjut, perlakuan penambahan dosis probiotik nitrifikasi yang berbeda memberikan penurunan yang berbeda terhadap konsentrasi TAN. Dosis probiotik nitrifikasi terbaik yang memberikan pengaruh terhadap penurunan konsentrasi TAN adalah 0,2 ppm
Sifat Fisis dan Mekanis Oriented Strand Board Hibrida Kayu Sengon dan Bambu Andong pada Berbagai Tingkat Kerapatan Papan
Oriented Strand Board (OSB) yang terbuat dari kayu Sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen) memiliki kelebihan permukaan yang halus. Namun memiliki kelemahan stabilitas dimensi dan sifat mekanis yang tergolong rendah. Salah satu bahan baku yang dapat digunakan sebagai substitusi OSB kayu Sengon adalah bambu. Produk OSB dari bambu Andong (Gigantochloa pseudoarundinacea (Steudel.) Widjaja) memiliki kelebihan sifat mekanis dan stabilitas dimensi yang tinggi, namun memiliki kelemahan permukaan yang kasar, mudah mengelupas dan mudah terbelah. Hibrida OSB dibuat untuk mengatasi kelemahan sifat-sifat yang dihasilkan dari masing-masing OSB. Nilai kerapatan mempengaruhi kualitas OSB, sehingga perlu diketahui nilai kerapatan optimum OSB hibrida. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sifat fisis dan mekanis OSB hibrida kayu Sengon dan bambu Andong pada berbagai tingkat kerapatan papan. Strand kayu Sengon dan bambu Andong diberi perlakuan steam pada suhu 126 °C tekanan 0.14 MPa selama 1 jam. Strand bambu Andong kemudian dibilas dengan larutan NaOH 1 %. Papan berukuran (30x30x0.9) cm3 dibuat dengan kerapatan target 0.6 g.cm-3, 0.65 g.cm-3, dan 0.7 g.cm-3. Tiga lapisan OSB dari kayu Sengon sebagai face dan back dan bambu Andong sebagai core disusun dengan nisbah lapisan 25/50/25 (face/core/back). Papan dibuat dengan kadar perekat phenol formaldehida (PF) (SC=49.98 %) 10% serta ditambahkan parafin sebanyak 1%. Evaluasi sifat fisis dan mekanis OSB hibrida dilakukan berdasarkan standar JIS A 5908:2003 tentang papan partikel dan dibandingkan dengan standar CSA 0437.0 (Grade O-1) tentang manual desain OSB. Hasil penelitian menunjukkan semakin tinggi kerapatan OSB hibrida maka sifat fisis dan mekanis OSB hibrida semakin baik. Secara umum stabilitas dimensi dan sifat mekanis OSB hibrida sudah memenuhi standar kecuali nilai IB. OSB hibrida terbaik yang dihasilkan dari penelitian ini adalah papan dengan kerapatan 0.7 g.cm-3
Pengaruh Konversi Lahan terhadap Kesejahteraan Rumah tangga Petani (Kasus Pembangunan Infrastruktur Jalan Tol Trans Sumatera Desa Lematang, Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan).
Pengalihfungsian lahan atau biasa disebut konversi lahan merupakan suatu proses perubahan fungsi lahan khususnya dari lahan pertanian ke non-pertanian atau dari lahan non-pertanian ke lahan pertanian. Faktor penyebab konversi lahan terbagi menjadi tiga, yaitu faktor kebijakan pemerintah, aksesibilitas, dan pertumbuhan industrialisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor penyebab konversi lahan, menganalisis luas, nilai, pola dan jenis konversi lahan, serta menganalisis pengaruh tingkat konversi lahan dan tingkat kesejahteraan rumah tanga petani yang dialami masyarakat di suatu daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif (metode survei) didukung oleh data kualitatif (wawancara mendalam). Jumlah responden penelitian ini adalah 30 responden. Hasil dari penelitian ini menunjukkan luas konversi lahan berada pada kategori sedang, nilai konversi pada kategori rendah-sedang, tingkat kesejahteraan berada pada tingkat tinggi. Penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh pada variabel nilai konversi terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga petani
Klasifikasi Ekstrak Sambiloto (Andrographis Paniculata) Berdasarkan Pelarut Pengekstraksi Menggunakan LCMS/ MS dan Kemometrik.
Sambiloto (Andrographis paniculata) telah banyak digunakan di Indonesia.
Perbedaan komposisi dan konsentrasi metabolit yang terkandung dalam ekstrak
tanaman ini dapat disebabkan oleh perbedaan konsentrasi pelarut pengekstraksi.
Penelitian ini bertujuan mengklasifikasi ekstrak tanaman ini dengan deteksi
kromatogram pada UV-254 & spektrometri massa menggunakan principal
component analysis (PCA), serta melakukan prapemrosesan sinyal. Sebelum
analisis PCA diperlukan Prapemrosesan sinyal, yaitu memperbaiki pergeseran
waktu retensi pada kromatogram menggunakan algoritma correlation optimized
warping (COW). Hasil pengelompokkan ekstrak sambiloto dengan kromatogram
UV-254 lebih memberikan informasi yang jelas dengan total komponen utama
mencapai 99%. Ekstrak sambiloto dengan pelarut air dan etanol p.a. dapat
terbedakan, sedangkan dengan pelarut etanol 50% dan 70% memiliki komposisi
metabolit yang sama. Prapemrosesan kromatogram menghasilkan pengelompokan
PCA yang lebih baik dari kedekatan antarkelompok ekstrak sambiloto
Perbandingan Keanekaragaman Jenis Burung antara Areal Bekas Terbakar dengan Areal Tidak Terbakar di HTI Sagu PT National Sago Prima, Provinsi Riau.
Kebakaran hutan selama ini dianggap sebagai penyebab menurunnya
keanekaragaman hayati. Peristiwa kebakaran pernah terjadi di HTI sagu PT
National Sago Prima tahun 2014 yang menyebabkan perusahaan digugat ke
pengadilan karena dianggap telah menyebabkan kerusakan lingkungan diaspek
flora dan fauna, termasuk burung. Oleh karena itu, diperlukan penelitian guna
mengetahui potensi terjadinya pemulihan keanekaragaman jenis burung pada areal
bekas terbakar. Penelitian dilakukan pada bulan Februari di PT National Sago
Prima. Metode yang digunakan adalah transek di lima pasangan jalur areal bekas
terbakar dan areal tidak terbakar. Penelitian menunjukkan terdapat 75 jenis burung
di areal tidak terbakar dan 77 jenis di areal bekas terbakar. Kekayaan dan
kemerataan jenis burung di areal tidak terbakar (TT Dm = 13.86; E TT = 0.92)
dan bekas terbakar (BT Dmg = 14.2; E BT = 0.93). Areal tidak terbakar dan bekas
terbakar menunjukkan kesamaan komunitas yang hampir sama (IS = 0.87).
Ditemukannya 9 jenis burung yang hilang , 11 jenis burung yang diperoleh dan
66 jenis burung yang sama atau bertahan, mengindikasikan telah terjadinya
pemulihan pada areal bekas terbakar
Biodiversitas Serangga Akuatik pada Berbagai Habitat Perairan di Wilayah Bogor.
Indonesia merupakan salah satu negara megabiodiversitas dengan tingkat
keanekaragaman hayati yang tinggi. Di antara penyumbang megabiodiversitas
tersebut adalah kenekaragaman spesies yang terdapat di ekosistem perairan tawar, di
dalamnya termasuk serangga akuatik. Hingga saat ini belum banyak penelitian
tentang serangga akuatik dilakukan di Indonesia, terutama pada perairan lentik seperti
situ. Penelitian bertujuan untuk (1) menginventarisasi dan memetakan jenis-jenis
serangga akuatik yang terdapat pada habitat situ, sawah, dan sungai di wilayah Bogor,
(2) mempelajari pola keanekaragaman serangga akuatik pada habitat situ, sawah, dan
sungai di wilayah Bogor, dan (3) menentukan hubungan antara karakteristik
lingkungan dengan struktur komunitas serangga akuatik.
Penelitian dilaksanakan pada danau/situ, persawahan dan hulu sungai di wilayah
Bogor, berlangsung sejak bulan Oktober 2016 hingga Juli 2019. Pengambilan sampel
dilakukan secara sistematik. Pada setiap titik pengambilan sampel dilakukan pendugaan
kelimpahan dan kekayaan spesies serangga akuatik serta parameter fisik-kimia air.
Koleksi serangga akuatik dilakukan dengan menggunakan jaring dengan kerangka
berbentuk huruf D (D-net). Pengambilan sampel serangga akuatik di habitat situ
dilaksanakan pada delapan situ yaitu Situ Babakan, Situ Burung, Situ Gede, Situ Paranje,
Situ Tengah, Situ Tonjong, Talaga Saat dan Talaga Warna. Koleksi serangga akuatik di
setiap situ dilakukan dengan menentukan titik di setiap tepian situ dengan jarak antar titik
sepanjang 100 meter. Pengambilan sampel serangga akuatik di habitat persawahan
dilaksanakan pada tiga areal persawahan yaitu sawah Situgede, sawah Pandansari, dan
sawah Kawungluwuk. Koleksi serangga akuatik di persawahan dilakukan dengan
menentukan empat petak di setiap lokasi persawahan. Pengambilan sampel serangga
akuatik pada habitat sungai dilaksanakan pada tiga hulu sungai yaitu hulu Sungai
Cigamea, Ciliwung, dan Cisadane. Pengambilan sampel serangga akuatik di setiap sungai
dilakukan dengan menentukan 10 titik sampel dengan jarak antar titik sepanjang 100
meter. Karakteristik fisik-kimia air pada setiap habitat dilakukan pengukuran meliputi
suhu air, oksigen terlarut, kebutuhan oksigen biologis (BOD), pH, dan kekeruhan air.
Analisis data yang digunakan yaitu komposisi spesies, indeks keanekaragaman,
dominansi, penduga kekayaan spesies, dan teknik ordinasi, yang meliputi NMDS
(nonmetric dimentional scalling), ANOSIM (analysis of similarity), analisis gerombol,
PCA (principal component analysis), dan CCA (canonical correspondence analysis).
Serangga akuatik yang ditemukan pada delapan situ sebanyak 12 493 ekor yang
terdiri dari 90 spesies yang termasuk kedalam 32 famili dan delapan ordo.
Berdasarkan tiga penduga Jackknife 2, Chao 2 dan ICE total banyaknya spesies pada
kedelapan situ berturut-turut 121, 114, dan 102, atau dengan rata-rata 112.3 spesies.
Hal ini menunjukkan tingkat ketuntasan penarikan sampel pada habitat situ mencapai
sekitar 80%. Serangga akuatik yang paling banyak ditemukan yaitu Micronecta
ludibunda dan Chironomus sp.. Berdasarkan pengelompokan taksonomi, terdapat
empat ordo serangga akuatik yang mendominasi pada delapan situ yaitu Hemiptera,
Odonata, Diptera, dan Coleoptera. Berdasarkan pengelompokan functional feeding
group (FFG), serangga akuatik didominasi oleh piercers-herbivore dan predator. Situ
dengan kekayaan spesies tertinggi yaitu di Situ Burung sebanyak 55 spesies,
sedangkan yang terendah yaitu di Talaga Warna sebanyak 11 spesies. Indeks
keanekaragaman tertinggi di Situ Gede sebesar 3.11, sedangkan yang terendah di Situ
v
Babakan sebesar 1.52. Indeks Pielou di Situ Gede dan Talaga Warna lebih tinggi
dibandingkan dengan situ lainnya. Analisis ordinasi menggunakan NMDS
menunjukkan terdapat dua kumpulan serangga akuatik berdasarkan komposisi
spesies, yang memisahkan Situ Paranje, Talaga Saat dan Talaga Warna dengan lima
situ lainnya. Selanjutnya, ANOSIM menunjukkan bahwa komposisi spesies serangga
akuatik berbeda secara signifikan di antara situ (P <0.001). Hasil CCA menunjukkan
bahwa serangga akuatik seperti M. ludibunda, Orthetrum sabina, Chironomus sp.,
Ictinogomphus decoratus dan Procladius sp. dicirikan oleh tingginya suhu dan pH air.
Di persawahan di wilayah Bogor dijumpai total 45 spesies serangga akuatik
yang tergolong ke dalam 20 famili dan tujuh ordo. Kekayaan spesies serangga akuatik
yang paling tinggi terdapat pada persawahan di Pandansari (400 m dpl), sedangkan
yang terendah terdapat pada persawahan di Kawungluwuk (830 m dpl). Kelimpahan
serangga ordo Coleoptera dan Hemiptera lebih tinggi di persawahan Pandansari dan
Situgede dibandingkan di persawahan Kawungluwuk. Berdasarkan pengelompokan
FFG, collectors-gatherers (famili Hydrophilidae dan Chironomidae) memiliki
persentase tertinggi sebesar 40-45% di ketiga areal persawahan. Selanjutnya,
serangga akuatik dengan FFG piercers-herbivore (Micronectidae) ditemukan
melimpah di sawah Situgede (27%) dan sawah Pandansari (34%). Empat spesies
serangga akuatik yang umum ditemukan di persawahan adalah Chironomus sp.,
Helochares sp., Micronecta siva, dan Orthetrum sabina, yang kelimpahannya
berkorelasi negatif dengan ketinggian tempat.
Serangga akuatik yang ditemukan pada tiga hulu sungai sebanyak 109 spesies
yang terdiri dari 52 famili dan 10 ordo. Sungai Cisadane memiliki kekayaan dan
keanekaragaman tertinggi dengan 83 spesies dan nilai keanekaragaman sebesar 3.00.
Serangga Hydropsyche sp. dan Cheumatopsyche sp. paling banyak dijumpai di
Sungai Cigamea dan Sungai Ciliwung, sedangkan Stelnemis sp. dan Luciola sp.1
banyak ditemukan di Sungai Cisadane. Kelimpahan serangga akuatik Diptera dan
Trichoptera tertinggi ditemukan pada bulan Juni. Berdasarkan cara hidupnya (habit),
clinger mendominasi sekitar 60-70% di ketiga sungai. Sungai Cigamea dan Sungai
Ciliwung didominasi oleh FFG collector-filterers, sedangkan di Sungai Cisadane
FFG didominasi oleh predator sebanyak 44% dan collector-gatherers sebanyak 41%.
Hasil NMDS menunjukkan terdapat tiga kumpulan serangga akuatik berdasarkan
komposisi spesies. Selanjutnya, ANOSIM menunjukkan bahwa komposisi spesies
serangga akuatik berbeda secara signifikan antar sungai (P value <0.0001). Hasil
CCA menunjukkan bahwa serangga akuatik seperti Leptohyphes sp.1, Laccophilus
sp., Heteroplectron sp., Stelnemis sp., Grouvellinus sp., dan Luciola sp.1 dicirikan
oleh besarnya ketinggian tempat, tingginya kecepatan arus dan suhu air yang rendah.
Selanjutnya, serangga akuatik seperti Hydropsyche sp., Cheumatopsyche sp.,
Chironomus sp., Simulium sp., Nemoura sp., dan Procladius sp. dicirikan oleh
tingginya suhu air dan lebar sungai. Berdasarkan analisis sidik lintas, suhu air
merupakan faktor lingkungan yang paling memengaruhi serangga akuatik baik dari
jumlah taksa dan indeks keanekaragaman. Berdasarkan Indeks EPT dan indeks FBI
ketiga hulu sungai masih memiliki kualitas air yang tergolong baik.
Penelitian ini merupakan studi yang pertama dilakukan secara komprehensif
tentang serangga air di Indonesia. Hasil penelitian diharapkan dapat menyediakan
basis data keanekaragaman serangga akuatik di Indonesia. Selain itu, hasil penelitian
ini dapat digunakan sebagai referensi untuk mengembangkan indeks biotik danau dan
sungai, serta untuk pengelolaan kesehatan ekosistem perairan
Desain Pengembangan Ekowisata Rumah Pelangi Di Kecamatan Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat
Dulunya, Rumah Pelangi merupakan tanah kritis yang dibakar dan
digunduli. Namun, lahan kritis tersebut berubah menjadi hutan kembali
dikarenakan semangat Bapak Samuel Oton Sidin dan dibantu oleh masyarakat
dalam menyelamatkan serta membina perlindungan lingkungan dan pengelolaan
hutan. Oleh karena itu, kegiatan konservasi alam tersebut dianugrahi penghargaan
Kalpataru sebagai Pembina lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
merancang desain lanskap ekowisata Rumah Pelangi yang mengacu kepada
prinsip ekonomi pariwisata yaitu penawaran dan permintaan serta disesuaikan
dengan kemapuan lanskap yang terdapat pada kawasan ekowisata Rumah Pelangi.
Komponen permintaan dalam pariwisata adalah persepsi dan harapan wisatawan,
sedangkan daya dukungnya adalah kemampuan lanskap yang terdapat pada
kawasan Rumah Pelangi pada aspek fisik dan biofisik yang telah dianalisis
berdasarkan analisi spasial yang telah dilakukan. Konsep desain adalah “forest for
people” yang merupakan sebuah konsep dimana keberadaan hutan sebagai
pemicu tumbuhnya masyarakat dari manfaat yang disediakan dan sebagai
penyangga system kehidupan yang nyata bagi keberlanjutan lingkungan, sosial
dan ekonomi. Konsep tersebut menyelaraskan hubungan antara masyarakat dan
wisatawan dalam aspek konservasi, rekreasi dan pendidikan yang dirumuskan
berdasarkan kesatuan tema terhadap masterplan pada kawasan konservasi Rumah
Pelangi. Konsep desain terinspirasi dari bentuk trophy penghargaan kalpatu dalam
bentuk pohon kehidupan. Output dari penelitian ini berupa desain pengembangan
lanskap ekowisata yang mengahasilkan produk berupa siteplan, tampak potongan,
detail desain, dan gambar perspektif terkait dengan desain pengembangan lanskap
ekowisata
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Realisasi Kredit Usaha Rakyat Mikro pada Sektor Agribisnis di BRI Unit Sindang Barang
Kredit Usaha Rakyat (KUR) adalah kredit yang dialokasikan untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang secara ekonomi layak namun belum bankable. BRI merupakan salah satu perbankan yang berpartisipasi dalam penyaluran KUR yakni KUR Mikro dengan pencapaian jumlah realisasi terbesar. BRI Unit Sindang Barang pada tahun 2019 telah berhasil menyalurkan KUR sepenuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi realisasi KUR Mikro pada sektor agribisnis di BRI Unit Sindang Barang. Sampel pada penelitian ini sebanyak 72 debitur yang ditentukan dengan menggunakan metode stratified random sampling berdasarkan jenis usaha yang diambil secara proporsional dari total 289 debitur. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel tingkat pendidikan, pendapatan bersih per bulan, dan jumlah kredit yang diajukan berpengaruh signifikan terhadap realisasi KUR Mikro, namun tidak dengan variabel usia, jenis debitur, jenis usaha, lama usaha, dan agunan
Analisis Pengaruh Inklusi Keuangan tehadap Pertumbuhan Ekonomi bedasarkan Tingkat Pendapatan
Inklusi keuangan merupakan salah satu strategi dalam meningkatkan pertumbuhan yang inklusif diberbagai negara di dunia. Meskipun pertumbuhan ekonomi memiliki tren yang meningkat dan inklusi keuangan menunjukan pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi, namun masih banyak masyarakat dunia yang masih belum mengakses jasa keuangan dan pengaruh inklusi keuangan tersebut dapat berbeda antar kelompok tingkat pendapatan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung Index of Financial Inclusion dan pengaruh inklusi keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi berdasarkan kelompok tingkat pendapatan. Data yang digunakan adalah data tahunan dari 37 negara di dunia selama periode 2014-2018. Negara-negara tersebut dibagi berdasarkan tingkat pendapatan yaitu low income, middle income, dan high income. Metode yang digunakan adalah Indeks Sarma untuk membangun indeks inklusi keuangan dan estimasi regresi data panel statis untuk melihat pengaruh inklusi keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hasilnya adalah pada negara berpendapatan tinggi memiliki indeks inklusi keuangan yang lebih tinggi dibandingkan kelompok negara lainnya. Analisis ekonometrika menunjukkan bahwasannya inklusi keuangan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi dengan variabel yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah indeks inklusi keuangan, tingkat pengangguran, inflasi dan foreign direct investment. Saran dalam penelitian ini adalah khususnya pada kelompok tingkat pendapatan menengah kebawah perlu mendorong inklusi keuangan dengan meningkatkan akses masyarakat ke layanan keuangan serta menyediakan jasa dan produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat