Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Permintaan Daging Ayam Buras di Kabupaten Bogor

    No full text
    Daging ayam buras merupakan salah satu komoditas daging ternak yang banyak dikonsumsi konsumen rumah tangga karena rasanya yang lezat dan bergizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik konsumen daging ayam buras dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi permintaan daging ayam buras. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dan regresi linear berganda dengan asumsi OLS. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive (sengaja) yaitu di Pasar Parung, Pasar Cibinong, dan Pasar Citeureup dengan jumlah sampel sebanyak 90 responden. Faktor–faktor yang memengaruhi permintaan daging ayam buras secara signifikan adalah harga daging ayam buras, pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga dan tingkat pendidikan. Harga daging ayam broiler dan usia konsumen tidak berpengaruh signifikan terhadap permintaan daging ayam buras. Elastisitas harga daging ayam buras menunjukkan permintaan daging ayam buras bersifat elastis, daging ayam broiler bukan barang substitusi daging ayam buras dan daging ayam buras merupakan barang normal

    Pengembangan Algoritma Pengolah Citra untuk Membedakan Beberapa Jenis Cacat Biji Kopi

    No full text
    Kopi merupakan salah satu komoditas penting di Indonesia. Umumnya pemisahan kopi dilakukan secara manual sehingga menimbulkan beberapa kekurangan antara lain kelelahan dan perbedaan subjektivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari parameter mutu fisik biji kopi dan membuat program pengolah citra menggunakan Raspberry Pi untuk membedakan beberapa jenis cacat biji kopi. Sampel yang digunakan sebanyak 300 gram kemudian dipisahkan menjadi Biji Hitam, Hitam Pecah, Hitam Sebagian, Kuku Kambing, Kuping Gajah, dan Pecah. Kemudian ditentukan parameter yang digunakan antara lain Area, Keliling, Lebar dan Tinggi, dan indeks warna (r,g,b). Pembuatan program menggunakan Bahasa Python 3.5 dengan beberapa fungsi antara lain memasukkan gambar, binerisasi, dan hasil pengukuran. Parameter fisik biji yang dapat digunakan untuk membedakan beberapa jenis cacat biji kopi antara lain komponen warna saturasi dan intensitas dari model warna HSI, serta faktor bentuk Compactness. Program yang digunakan dapat berfungsi dengan baik dengan menghasilkan nilai-nilai yang dibutuhkan dan dapat membedakan jenis cacat biji kopi khususnya biji hitam dengan akurasi 67% dengan nilai saturasi<0.14, biji hitam pecah dengan akurasi 50% dengan nilai indeks compactness≥15, dan biji hitam sebagian dengan akurasi 46% dengan nilai indeks compactness˂15, sedangkan kuping gajah dengan akurasi 62% dengan nilai intensitas≥0.26405, kuku kambing dengan akurasi 36% dengan nilai indeks compactness≥15.5235, dan pecah dengan akurasi 36% dengan nilai indeks compactness˂15.5235. Akurasi yang kurang baik tersebut dapat disebabkan oleh antara lain interval yang beririsan, metode pengambilan citra yang kurang baik, dan kemampuan mata untuk memisahkan yang terbatas

    Performa Patin Siam (Pangasianodon hypophthalmus) Hasil Seleksi Karakter Pertumbuhan dan Daya Tahan di BPBAT Sungai Gelam

    No full text
    Ikan patin siam Pangasianodon hypophthalmus merupakan salah satu komoditas air tawar yang penting di Indonesia. Produksi ikan patin siam pada tahun 2016, menempati urutan ke empat setelah ikan nila, mas dan lele dalam kelompok ikan air tawar. Ikan patin siam menjadi salah satu komoditas penting karena memiliki beberapa keunggulan yaitu dapat mengambil oksigen dari udara sehingga dapat hidup dan tumbuh pada media yang rendah oksigen. Selain itu, ikan patin siam juga dapat memanfaatkan pakan buatan dengan kandungan protein yang relatif rendah sehingga biaya produksi relatif murah. Oleh karena itu untuk mendukung komoditas akuakultur ini, penyediaan benih yang berkualitas menjadi penting. Benih yang berkualitas secara genetik dapat dihasilkan dari suatu program seleksi yang merupakan salah satu metode untuk perbaikan mutu genetik dan sampai hari ini masih dominan digunakan pada banyak spesies akuakultur. Karakter pertumbuhan paling banyak dikembangkan karena memiliki manfaat ekonomi yaitu siklus produksi menjadi lebih cepat dan efisiensi pemanfaatan pakan. Penyakit dan kualitas media pemeliharaan yang buruk karena intensifikasi budidaya menjadi masalah yang paling umum yang dihadapi dalam akuakultur. Oleh karena itu karakter daya tahan (hardiness line) menjadi prioritas selanjutnya untuk dikembangkan dalam program seleksi. Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam (BPBAT Sungai Gelam) pada tahun 2009 telah melakukan program seleksi (selective breeding) ikan patin siam dengan desain satu galur pertumbuhan dan satu galur daya tahan. Galur pertumbuhan generasi ketiga telah diperoleh tahun 2018 sementara untuk galur daya tahan sampai akhir tahun 2017 telah diperoleh generasi pertama. Untuk itu, penelitian ini bertujuan mengevaluasi performa galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) dan galur daya tahan generasi pertama (G1H) pada tahap pembenihan dan pembesaran yang dipelihara pada lingkungan yang berbeda. Sebanyak 10 pasang induk (famili) dari masing-masing G3Ps, G1H dan populasi dasar generasi kedua (G2Ds: sebagai kontrol) yang dipijahkan dalam dua tahap. Selanjutnya benih yang dihasilkan dibesarkan selama 120 hari pada media dengan pergantian air secara berkala (perlakuan pertama: T1) dan tanpa pergantian air (perlakuan kedua: T2). Hasil penelitian menunjukkan performa reproduksi G3Ps secara umum tidak berbeda dengan populasi dasar (G2Ds). Benih G3Ps umur 40 hari memiliki bobot tubuh lebih besar dibandingkan kontrol dengan respons seleksi sebesar 32.25%, sedangkan sintasan dan efisiensi pakan tidak berbeda nyata. Pada tahap pembesaran, antar perlakuan tidak berbeda nyata dan tidak ada interaksi antar galur dan perlakuan untuk semua karakter yang diukur (P > 0.05). Namun karakter bobot tubuh G3Ps lebih besar dibandingkan kontrol dengan respons seleksi sebesar 18.41% pada T1 dan 42.60% pada T2. Kontrol yang digunakan merupakan populasi dasar sehingga respons seleksi yang diperoleh merupakan akumulasi dari 3 generasi. Dengan demikian respons seleksi per generasi sebesar 6.14% pada T1 dan 14.20% pada T2 yang diukur pada umur 162 hari dari menetas. Performa reproduksi G1H yaitu derajat pembuahan lebih rendah dibandingkan dengan kontrol dan untuk karakter yang lain tidak berbeda nyata dengan kontrol. Pada tahap benih, LC50 NH3 G1H lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol sedangkan untuk karakter yang lain tidak berbeda nyata dengan kontrol. Selanjutnya pada tahap pembesaran, diperoleh respons seleksi G1H untuk karakter bobot tubuh sebesar 11.30% pada T1 dan 14.26% pada T2 yang diukur pada umur 162 hari dari menetas. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) dan galur daya tahan generasi pertama (G1H) hasil program seleksi di BPBAT Sungai Gelam mengalami perbaikan pada karakter bobot tubuh baik yang dipelihara pada T1 maupun T2. Performa reproduksi galur hasil seleksi (G3Ps dan G1H) tidak berbeda dengan populasi dasar generasi kedua (G2Ds)

    Peramalan Ketersediaan Volume Produksi Tuna, Cakalang dan Tongkol di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu.

    No full text
    Peramalan pada bidang perikanan berguna untuk mengetahui prediksi ketersediaan volume produksi ikan di masa yang akan datang. Ketersediaan volume produksi ikan yang fluktuatif khususnya ikan tuna, cakalang dan tongkol (TCT) menyebabkan peramalan menjadi suatu pengkajian penting. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu merupakan produsen terbesar perikanan TCT di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi umumperikanan TCT, menentukan model peramalan untuk menduga ketersediaan volume ikan TCT dan mengestimasi ketersediaan ikan TCT di PPN Palabuhanratu untuk satu tahun yang akan datang. Metode peramalan yang digunakan adalah rata-rata bergerak dan penghalusan eksponensial. Masing-masing metode peramalan dilakukan perhitungan MAPE (Mean Absolute Percent Error) dan MSE (Mean Square Error) untuk melihat nilai kesalahan dari tiap-tiap bentuk peramalan. Model peramalan dengan nilai kesalahan terkecil untuk mengestimasi ketersediaan ikan TCT ialah penghalusan eksponensial alpha 0,9 untuk ikan tuna, alpha 0,3 untuk ikan cakalang dan alpha 0,1 untuk ikan tongkol. Hasil estimasi volume produksi ikan TCT pada tahun 2019 di PPN palabuhan yaitu ikan tuna sebesar 860 ton mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya, ikan cakalang 460 ton mengalami penurunan dari tahun sebelumnya dan ikan tongkol 540 ton mengalami penurunan hingga dua kali lipat dari tahun sebelumnya

    Pengaruh Literasi Keuangan Terhadap pengelolaan Keuangan UMKM Ring 1 PT PJB Indramayu Jawa Barat

    No full text
    Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Indonesia telah menjadi bagian yang sangat penting dalam perkembangan perekonomian Negara. Namun UMKM mengalami kesulitan untuk permodalan atau dikatakan belum bankable karena tidak memiliki laporan keuangan dan tidak melakukan pengelolaan keuangan untuk mengukur pertumbuhan usaha secara signifikan. Hal ini diperkirakan tidak memiliki literasi keuangan yang baik. Oleh karena itu perlu ada penelitian tentang seberapa berpengaruhnya tingkat literasi keuangan terhadap pengelolaan keuangan usaha UMKM. Sampel yang digunakan adalah UMKM Ring 1 PJB Indramayu Jawa Barat yang diambil dengan teknik Purposive Sampling. Penelitian ini mengukur tingkat literasi berdasarkan Basic Financial Literacy dari Developing Indonesian Financial Literacy Index (2013) Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Elemen pengelolaan keuangan yang digunakan adalah pencatatan penerimaan, pencatatan pengeluaran, penganggaran usaha dan kebutuhan rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat Literasi Keuangan UMKM tergolong rendah yaitu hanya 15.48% dan tingkat pengaruh literasi keuangan terhadap pengelolaan keuangan bernilai 17.5% positif signifikan

    Hubungan Fraksi Al, Fe, dan Mn dengan Fraksi Fosfor pada Profil Tanah Hutan, Wanatani, dan Tegalan

    No full text
    Potensi tanah masam di Indonesia untuk pengembangan pertanian cukup luas namun dihadapkan pada berbagai kendala terkait kemasaman tersebut. Selain bahan induk, iklim khususnya curah hujan menjadi faktor utama proses pemasaman tanah di wilayah tropis. Intensitas curah hujan yang tinggi dalam waktu lama mengakibatkan kation basa (Ca, Mg, K, Na) tercuci intensif. Sebaliknya kation polivalen seperti Al, Fe, dan Mn akan terakumulasi dalam berbagai bentuk, termasuk bentuk dapat ditukar, hidrusoksida, dan/atau partikel baru. Berbagai bentuk kation polivalen ini dapat berinteraksi dengan hara fosfor (P) yang menyebabkannya menjadi bentuk tidak tersedia. Fosfor merupakan hara makro primer essensial selain N dan K, dengan fungsi utama transfer energi dalam proses metabolisme tanaman. Fosfor dalam tanah terdiri atas Porganik (Po) dan Pinorganik (Pi) dan dalam berbagai fraksi mencakup fraksi terlarut, labil, agak labil, dan residual. Sedangkan bentuk Al dalam tanah mencakup fraksi Al dapat ditukar (Al-dd), Al amorf (Al-amf), Al amorf organik (Al-amo), Al amorf organik berikatan lemah hingga sedang (Al-amls), Al amorf organik berikatan kuat (Al-amok), dan Al amorf inorganik (Al-ami). Sementara bentuk Fe dan Mn dalam tanah mencakup fraksi yang sama, yaitu fraksi dapat ditukar (dd), terekstrak asam acetat (asm), teroksidasi (oks), tereduksi (red), dan fraksi residual (res). Distribusi dan konsentrasi P dalam profil tanah dapat berbeda-beda atas berbagai faktor seperti: tingkat perkembangan tanah, kemasaman tanah, pengaruh kation polivalen, dan intensitas penggunaan lahan. Lahan dengan intensitas pengelolaan tinggi seperti tegalan memiliki konsentrasi dan distribusi P yang berbeda dengan lahan hutan, wanatani, maupun penggunaan lainnya. Pengetahuan tentang bentuk-bentuk spesifik atas P, Al, Fe, Mn, dan unsur lainnya dalam tanah sangat penting dilakukan karena berkaitan dengan kesuburan tanah. Kajian tentang hubungan fraksi Al, Fe, dan Mn dengan fraksi P pada profil tanah hutan, wanatani, dan tegalan perlu dilakukan terutama pada tanah-tanah masam dataran sehingga dapat dilakukan penanganan secara spesifik dan efisien. Contoh tanah di ambil dari 6 profil tanah yang digali dengan ukuran 1 m x 1 m x 1,5 m secara kolektif (setiap lahan terdiri dari 2 profil tanah dan 4 horizon tanah) di lereng bagian tengah pada kemiringan lereng 16-35o. Penentuan lokasi penelitian berdasarkan hasil overlay peta tanah, peta administrasi, lereng, dan peta tutupan lahan. Fraksionasi P dilakukan mengikuti metode Thiessen dan Moir tahun 1993 yang dimodifikasi, yaitu bentuk P resin tidak ditetapkan tetapi tercakup dalam bentuk labil dengan ekstrak NaHCO3 0,5 M. Fraksionasi Al mengikuti metode Alvarez et al., tahun 2002, sementara fraksionasi Fe dan Mn menggunakan metode Tessier et al., tahun 1979 dan Walna et al., tahun 2010. Kemudian analisis korelasi Pearson dilakukan dengan menggunakan Softwere SPSS 21. Hasil analisis penelitian menunjukkan P residual sangat mendominasi (> 99,5%), sementara total P labil dan agak labil hanya berkisar 0,19-0,48%. Secara berurutan, fraksi P labil dan P agak labil di hutan sebesar 0,25-0,45%, wanatani sebesar 0,35-0,48%, dan tegalan sebesar 0,19-0,31%. Konsentrasi fraksi Pi labil (NaHCO3) di hutan sebesar 0,03%-0,15%, wanatani 0,09-0,19%, dan tegalan sebesar 0,01-0,30%, sedangkan konsentrasi Po labil di hutan sebesar 0,64-2,35%, wanatani 0,04-0,41%, dan tegalan sebesar 0,004-1,66%. Sementara itu konsentrasi Pi agak labil (NaOH dan HCl) di hutan sebesar 2,03-2,51%, wanatani sebesar 0,53-1,27%, dan tegalan sebesar 1,50-3,51%, sedangkan Po agak labil di lahan hutan sebesar 0,03-0,41%, wanatani sebesar 0,31-0,60%, dan tegalan sebesar 1,30-2,11%. Fraksi Al didominasi oleh Al-amf, pada hutan > 58,61%, wanatani > 54,45%, dan tegalan > 89%, dengan distribusi menurun dengan kedalaman horizon di hutan dan wanatani, tetapi sebaliknya meningkat pada tegalan. Fraksi Al-dd merupakan fraksi terendah, rata-rata 80,41%, lebih tinggi dari Al-amo ( 24,53%, sementara di tegalan < 9,41%. Konsentrasi Fe didominasi oleh Fe-res, rata-rata 83,3% di hutan, 90,6% di wanatani, dan 87,2% di tegalan, dengan distribusi meningkat dengan kedalaman horizon di hutan dan wanatani, sebaliknya menurun di tegalan. Konsentrasi fraksi Fe secara berurutan yaitu: Fe-dd < Fe-asm < Fe-red < Fe-oks < Fe-res. Konsentrasi Fe-dd rata-rata tertinggi di tegalan 0,012%, dan di hutan dan wanatani 0,010%. Fraksi Fe-asm rata-rata tertinggi di tegalan 0,048%, di hutan 0,041%, dan di wanatani 0,026%. Konsentrasi Fe-red rata-rata tertinggi di tegalan 2,66%, di hutan 1,65%, dan di wanatani 1,16%. Sementara fraksi Fe-oks rata-rata tertinggi di hutan 15,0%, di tegalan 10,08%, dan di wanatani 8,19%. Konsentrasi fraksi Mn didominasi oleh Mn-oks, rata-rata 64,07% di hutan, 55,65% di wanatani, dan 43,97% di tegalan, dengan distribusi menurun dengan kedalaman horizon di hutan dan tegalan, sebaliknya meningkat di wanatani. Konsentrasi fraksi Mn secara berurutan yaitu: Mn-dd Mn-res di setiap lahan. Konsentrasi Mn-dd rata-rata tertinggi di wanatani 1,8%, di hutan 0,58%, dan di tegalan 0,22%. Fraksi Mn-asm rata-rata tertinggi di wanatani 2,52%, di hutan 0,95%, dan di tegalan 0,80%, dengan distribusi menurun dengan kedalaman horizon di semua penggunaan lahan. Fraksi Mn-red rata-rata tertinggi di tegalan 25,32%, di hutan 18,37%, dan di wanatani 13,77%, dengan distribusi meningkat dengan kedalaman horizondi lahan hutan dan tegalan, sebaliknya menurun di wanatani. Sementara konsentrasi Mn-res rata-rata tertinggi di tegalan 29,7%, di wanatani 26,2%, dan di hutan 16%, dengan distribusi meningkat dengan kedalaman horizon di setiap penggunaan lahan. Analisis korelasi menunjukkan terdapat dinamika kompleks hubungan antara fraksi Al, Fe, dan Mn dengan fraksi P di setiap penggunaan lahan. Intensitas pengelolaan lahan, penambahan bahan organik, pemupukan P serta aktivitas antropogenik lainnya berperan dalam distribusi dan ketersediaan P dalam tanah. Pada lahan hutan terdapat korelasi positif sangat nyata antara fraksi Mn-dd dengan fraksi P tersedia organik (NaHCO3-Po) dan P agak tersedia inorganik (HCl-Pi). Pada lahan wanatani terdapat korelasi positif nyata antara fraksi Mn-dd dengan fraksi P agak tersedia inorganik (NaOH-Pi) dan berkorelasi negatif antara fraksi Fe-dd dengan NaOH-Pi. Pada lahan tegalan terdapat korelasi positif sangat nyata antara fraksi Al-dd dan Mn-dd dengan fraksi NaHCO3-Po dan NaOH-Pi, serta berkorelasi negatif nyata dengan NaHCO3-Pi dan NaOH-Po

    Efek Inflasi Dan Nilai Tukar Terhadap Preferensi Memegang Uang Fiat atau Uang Berbasis Logam Mulia: Studi Eksperimental

    No full text
    Penurunan nilai rupiah ini disebabkan oleh menguatnya Dollar Amerika Serikat (AS), kondisi perekonomian global yang memanas akibat adanya perang dagang AS dan China dan kenaikan Federal Funds Rate yang menyebabkan Indonesia mengalami dampak dari fenomena tersebut, salah satu dampaknya adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar, hal tersebut menandakan nilai tukar Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh kondisi eksternal. Sehingga dollar dinilai lebih menguntungkan daripada rupiah. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan regresi logistik, menggunakan SPSS yang bertujuan melihat preferensi individu terhadap pilihan jenis uang jika dihadapkan dengan informasi-informasi, hasil penelitian menunjukkan bahwa informasi inflasi dan nilai tukar dapat mempengaruhi pilihan jenis uang yang akan digunakan individu. Lalu untuk variabel karakteristik yang berpengaruh terhadap pilihan jenis uang didominasi oleh variabel usia, pendapatan dan universitas

    Palatabilitas Pakan Alami dan Bagian yang dikonsumsi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus Temmnick 1847) di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus Aek Nauli

    No full text
    Kelestarian gajah sumatera terancam karena adanya konversi hutan untuk perkebunan, pemukiman, pertanian dan pertambangan yang menyebabkan habitatnya terfragmentasi. Berkurangnya habitat gajah mengakibatkan gajah masuk ke pemukiman dan perkebunan untuk mencari pakan sehingga terjadi konflik dengan manusia. Salah satu upaya konservasi gajah dilakukan oleh Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) yang berada di KHDTK Aek Nauli. Salah satu faktor penting untuk mendukung keberhasilannya adalah ketersedian pakan alami gajah harus tercukupi sama seperti gajah liar lainnya. Oleh karena itu, penelitian mengenai palatabilitas pakan alami dan bagian yang dikonsumsi gajah penting dilakukan sebagai dasar pengelolaan pakan gajah. Metode penelitian yang digunakan yaitu focal animal sampling. Penelitian dilakukan pada tiga tipe tutupan lahan yaitu hutan campuran pinus, hutan sekunder, dan lahan terbuka. Hasil penelian menunjukan terdapat 33 jenis yang tergolong ke dalam 17 famili. Jenis pakan gajah di dominasi oleh famili poaceae (8 jenis). Terdapat enam bagian tumbuhan yang dimakan gajah yaitu daun, pelepah, ranting, kulit, umbut, seluruh bagian. Tumbuhan Ottochloa nodosa dan Rhodamnia cinerea memiliki frekuensi tertinggi dan durasi terlama

    Prototipe Sumber Energi Biolistrik dengan Sistem Microbial Fuel Cell pada Perairan Menggenang dan Mengalir

    No full text
    Prototipe microbial fuel cell merupakan rancangan alat aplikasi langsung dari sistem MFC yang bersifat modern dan ekonomis. Alat ini memiliki rangkaian satu bejana yang terdiri dari kombinasi elektroda katoda dan anoda berjumlah sepuluh pasang yang dirangkai secara seri. Penelitian ini bertujuan menentukan potensi kinerja prototipe microbial fuel cell dan membandingkan nilai elektrisitas pada kondisi perairan menggenang dan mengalir. Kandungan nilai BOD tertinggi terdapat pada perairan menggenang dengan nilai permukaan 73.52 ± 0.79 mg/L, kolom 84.03 ± 0.79 mg/L, dasar 91.33 ± 0.79 mg/L. Nilai COD tertinggi terdapat pada perairan menggenang dengan nilai permukaan 91.94 ± 0.25 mg/L, kolom 98.75 ± 0.25 mg/L, dasar 104.98 ± 0.25 mg/L. Nilai kecepatan arus sungai sebesar 0.5 m/s. Prototipe microbial fuel cell pada perairan menggenang dan mengalir memberikan potensi kinerja terhadap nilai tegangan listrik dari MFC. Nilai tegangan listrik dan arus listrik tertinggi terdapat pada perairan menggenang yaitu 3.56 V dan 0.06 mA. Kandungan nilai BOD dan COD yang tinggi pada perairan menggenang menghasilkan nilai tegangan listrik yang tinggi pada MFC

    Kerangka kerja keberlanjutan perikanan skala kecil berbasis sistem sosial ekologi di Teluk Jakarta

    No full text
    Kemajuan dan perkembangan DKI Jakarta sebagai Ibu Kota Negara berkaitan erat dengan dinamika sosial budaya, sosial ekonomi, dan politik. Implikasi dari perkembangan ini terwujud dalam pengembangan dan pertumbuhan ekonomi terlihat dari pertumbuhan fisik kota yang terus berjalan tanpa batas dan terus berlangsung dari waktu ke waktu menyebabkan ekspansi pembangunan Teluk Jakarta melibihi batasan daya tampungnya, dimana wilayah pesisirnya digunakan untuk berbagai kegiatan seperti pelayaran, pelabuhan, pariwisata, perikanan tangkap, pemukiman, industri dan perdagangan. Aktivitas-aktivitas tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan menyebabkan terganggunya struktur dan fungsi lingkungan. Nelayan merupakan salah satu entitas sosial yang memanfaatkan jasa lingkungan tersebut sangat terpengaruh atas terjadinya perubahan dari struktur lingkungan akibat pencemaran, perubahan iklim maupun alih fungsi lahan (reklamasi). Nelayan secara tradisonal telah lama menempati wilayah pesisir Jakarta dan Teluk Jakarta merupakan wilayah utama tempat mereka mencari penghidupan untuk memenuhui kebutuhan hidupnya. Upaya pengelolaan pesisir harus melihat seluruh aspek secara konprehensif termasuk kemaslahatan nelayan yang mendiami wilayah tersebut sebagaimana hal ini telah dijamin dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku di Republik Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini diarahkan untuk dapat memberikan gambaran terkait keberlanjutan perikanan skala kecil melalui analisa terhadap status ekologi dan sosial secara konprehensif untuk merumuskan pendekatan yang tepat dalam pengelolaan sistem perikanan. Tujuan umum penelitian ini adalah membangun Framework analisis atau kerangka kerja keberlanjutan sistem perikanan skala kecil berbasis sistem sosial-ekologi di Teluk Jakarta. Untuk mendukung tercapainya tujuan umum tersebut maka dirumuskan beberapa tujuan khusus penelitian sebagai berikut: 1) Mengkaji dan menganalisis daya dukung perikanan menggunakan pendekatan biokapasitas dan jejak ekologis perikanan; 2) Mengkaji dan menganalisis pola resiliensi nelayan di Teluk Jakarta; 3) Menganalisis tingkat ketergantungan mata pencaharian nelayan terhadap sumberdaya perikanan di Teluk Jakarta; 4) Menganalisis dan memformulasi kebijakan terkait keberlanjutan perikanan di Teluk Jakarta. Beberapa hasil yang sudah dicapai dalam penelitian ini adalah rasio biokapasitas dan jejak ekologis mencapai 1:9 dengan kata lain status ekologi Teluk Jakarta tidak berkelanjutan (overshoot). Untuk sistem sosial ekonomi, digambarkan dalam bentuk tingkat ketergantungan nelayan terhadap sumberdaya yang mencapai >60%, disisi yang lain status mata pencaharian nelayan berada fase rentan. Jadi kesimpulan dari penelitian ini keberlanjutan perikanan di Teluk Jakarta dilihat dari pendekatan sistem sosial ekologi tidak berkelanjutan, sehingga perlu diintervensi dengan kebijakan yang kuat agar menjaga eksistensi profesi nelayan ini kedepannya

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇