31665 research outputs found
Sort by
Pengembangan Value Propositions pada ‘Glory Music Education’
‘Glory Music Education’ merupakan salah satu start up bisnis kursus
musik berlokasi di Kelurahan Bambu Apus, Jakarta Timur. Jumlah pelanggan
yang masih jauh dari target perusahaan memunculkan dugaan bahwa value
propositions perusahaan belum dapat memenuhi kebutuhan customer segments.
Penelitian yang dilakukan sejak bulan Maret hingga Juni 2019 ini bertujuan
untuk: 1) menggambarkan kondisi ‘Glory Music Education’ saat ini; 2)
menganalisis kesesuaian customer segments dengan value propositions
perusahaan; dan 3) menentukan pengembangan value propositions pada ‘Glory
Music Education’. Alat analisis yang digunakan adalah value proposition canvas
(VPC), peta empati, dan benchmarking perusahaan dengan metode kualitatif.
‘Glory Music Education’ memiliki value propositions utama berupa harga kursus
lebih murah dan lokasi strategis. Pelanggan perusahaan terdiri dari pihak anak
usia sekolah dan orang tua sebagai pengambil keputusan. Berdasarkan kesesuaian
dengan customer segments, ‘Glory Music Education’ perlu membuat desain warna
tampilan fisik serta kurikulum pengajaran yang lebih menarik, mengadakan
kegiatan rutin pentas musik, dan menyediakan jenis kursus gitar, biola, dan vocal
sebagai value propositions baru perusahaan
Asimetri Harga Beras dan Daging Sapi di Indonesia
Penelitian ini menganalisis pergerakan dan asimetri harga beras dan daging
sapi pada tingkat produsen dan konsumen antarwilayah di Indonesia. Data yang
digunakan dalam penelitian ini merupakan data harga beras dan daging sapi di
tingkat produsen dan konsumen dari tahun 2010 sampai 2017. Metode yang
digunakan dalam analisis yaitu Error Correction Model (ECM). Pergerakan harga
beras dan daging sapi antar wilayah di Indonesia berfluktuasi sepanjang periode
2010-2017. Harga beras di tingkat produsen lebih fluktuatif daripada harga beras
di tingkat konsumen. Sedangkan harga daging sapi di tingkat konsumen lebih
fluktuatif daripada harga daging sapi di tingkat produsen. Transmisi harga beras di
tingkat konsumen terhadap harga di tingkat produsen terjadi secara asimetris, baik
dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Pada hubungan produsenkonsumen,
transmisi harga beras di tingkat produsen terhadap harga di tingkat
konsumen terjadi secara asimetris dalam jangka pendek, namun simetris dalam
jangka panjang. Sedangkan transmisi harga daging sapi di tingkat konsumen
terhadap harga di tingkat produsen bersifat simetris baik dalam jangka pendek
maupun jangka panjang
Rancang Bangun dan Uji Kinerja Unmanned Surface Vehicle (USV) untuk Pemetaan Kualitas Perairan dan Vegetasi Bawah Air.
Unmanned surface vehicle (USV) merupakan suatu wahana yang beroperasi di permukaan suatu perairan tanpa seorangpun personel di dalamnya. USV telah digunakan secara luas di bidang oseanografi, meteorologi, industri minyak dan gas serta dapat digunakan pada perairan tercemar yang telah terkontaminasi nuklir, biologi, atau bahan kimia. Salah satu aplikasi USV yang sering dimanfaatkan adalah pemantauan kualitas berbagai jenis perairan serta pemantauan vegetasi bawah air. Evaluasi kualitas perairan laut dan pemantauan vegetasi bawah air merupakan sesuatu yang penting karena berkaitan dengan kesejahteraan manusia, seperti aktivitas ekonomi yang bergantung pada kualitas perairan tersebut. Aktivitas pemantauan yang dilakukan secara terus menerus pada lokasi yang cukup luas oleh peneliti dapat dipermudah jika dilakukan dengan menggunakan USV, sehingga perlu dilakukan pengembangan pada teknologi USV di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menghasilkan rancang bangun USV yang bersifat autonomous secara sederhana dan mudah digunakan, serta menganalisis kinerja USV dalam pengambilan data.
Penelitian dilakukan dengan membagi ke dalam dua kegiatan utama yang dilakukan secara bertahap, yaitu perancangan wahana dan uji coba. Perancangan wahana terdiri atas perancangan kapal, perancangan sistem elektronik dan perancangan perangkat lunak. Uji coba terdiri atas uji stabilitas statis, uji fungsional, dan uji coba lapang. Uji fungsional dilakukan untuk memastikan sistem yang dibangun dapat berjalan dan berfungsi dengan baik. Wahana kapal dirancang dengan konsep kapal berjenis katamaran. Sistem elektronik wahana USV dibagi menjadi beberapa unit, yaitu mikroprosesor sebagai pusat perhitungan dan pengambil keputusan dalam melakukan gerak, serta mikrokontroller untuk membaca sensor serta sebagai pelaksana keputusan yang telah diambil oleh mikroprosesor. Mikroprosesor yang digunakan adalah Raspberry Pi 3B+, sedangkan mikrokontroler yang digunakan adalah Arduino Mega 2560 dan Arduino nano.
Wahana USV memiliki dimensi Length Overall (LOA) 2.04 m, Breadth (B) 0.6 m, Lebar tiap hull (Bhull) 0.3 m, dan Depth (D) sebesar 0.32 m. Hasil uji fungsional menunjukkan semua komponen elektronik yang digunakan dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan fungsinya masing-masing. Hasil uji stabilitas pada perairan statis menunjukkan USV mengalami 10 kali oleng dan sekitar 6 detik untuk dapat kembali pada posisi tegak. Persen reduksi oleng sebesar 63% dari oleng pertama ke oleng kedua. USV mampu melaju secara otonom dari satu titik waypoint ke waypoint berikutnya. Nilai error terbesar yang terbentuk saat USV beroperasi adalah sebesar 3.34 m pada sumbu x dan 4.95 m pada sumbu y. Standar deviasi galat yang dihasilkan USV selama uji coba lapang bernilai 1.04 m pada sumbu x dan 0.98 m pada sumbu y. Hal ini menunjukkan bahwa USV memiliki tingkat akurasi yang tinggi dalam mengikuti lintasan yang telah dibuat.
Berdasarkan hasil uji coba lapang, USV mampu menghasilkan mosaic dasar perairan. Mosaic dasar perairan yang dihasilkan dapat digunakan untuk mendapatkan informasi berupa penutupan lamun. Hasil mosaic dasar perairan sangat dipengaruhi oleh pergerakan rolling dan pitching USV. Simpangan baku nilai roll pada kondisi quartering seas sebesar 1.43 dan pada kondisi bow seas sebesar 1.33. Simpangan baku nilai pitch pada kondisi quartering seas sebesar 0.55 dan pada kondisi bow seas sebesar 1.00. USV mampu menghasilkan sebaran suhu permukaan secara spasial dengan nilai suhu berkisar 27.3 ºC sampai 27.7 ºC. Nilai kedalaman yang didapatkan berkisar 0.6 sampai 0.98 m. Nilai yang didapatkan dari sensor kekeruhan berupa nilai analog yang dinormalisasi ke dalam skala persen. Semakin mendekati daratan, nilai kekeruhan semakin meningkat. USV mampu menempuh lintasan dengan jarak 811 m, kecepatan rata-rata sebesar 0.69 m/s dan kecepatan maksimun sebesar 1.53 m/s
Konsep Pola Permukiman Suku Baduy Dalam di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten.
Suku Baduy yang bermukim di Desa Kanekes merupakan salah satu masyarakat yang
memegang erat adat Sunda. Desa Kanekes terletak pada wilayah Kecamatan Leuwidamar,
Kabupaten Lebak, Banten. Terdapat tiga desa utama dalam Desa Kanekes, yakni
Kampung Cikeusik, Cikartawarna, dan Cibeo. Masyarakat Baduy berpegang
teguh terhadap adat leluhur sehingga membentuk suatu kelompok yang terisolasi
dari dunia luar. Kearifan lokal yang dimiliki oleh Suku Baduy terhadap alam,
kesederhanaan, dan toleransi akan lingkungan sekitar mempengaruhi terbentuknya
suatu budaya dari masyarakat baduy itu sendiri. Tatanan ruang Suku Baduy
terbentuk karena adanya budaya yang mempengaruhinya sehingga membentuk
suatu pola permukiman dengan aturan yang dipegang teguh. Penelitian ini
dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif melalui pengambilan informasi
terkait budaya dan sejarah dari dokumen adat atau naskah adat dan wawancara
melalui tokoh adat atau keyperson dan melakukan verifikasi melalui pengamatan
langsung dengan observasi tapak. Penelitian ini mampu mengidentifikasi elemenelemen
pembentuk lanskap permukiman tradisional Baduy, yaitu bangunan
(rumah puun, rumah jaro, rumah warga, bale, bale panjang, leuit, dan saung
lesung), ruang terbuka (alun-alun, leuweung lembur, huma, reuma, dan leuweung
kolot), aksesibilitas (jalan utama), air (sungai dan pancuran), serta vegetasi
(leuweung lembur, huma, reuma, dan leuweung kolot). Pola permukiman pada
ketiga kampung di Baduy Dalam memiliki tata letak yang sama, yaitu berbentuk
asimetris dengan arah utara dan selatan sebagai axis
Identifikasi Karakter Kuantitatif dan Kualitatif 12 Genotipe Terung (Solanum melongena L.) Koleksi Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT)
Karakterisasi pada penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi karakterkarakter
kuantitatif dan kualitatif dua belas genotipe terung koleksi PKHT serta
memperoleh genotipe-genotipe potensial yang dapat dikembangkan menjadi
varietas baru. Penelitian ini menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak
(RKLT) satu faktor dengan empat ulangan. Bahan tanam yang digunakan adalah
dua belas genotipe terung yaitu GJ (G1), 2016-002 (G2), 2016-004 (G3), 2016-005
(G4), 2016-008 (G5), 2016-011 (G6), 2016-015 (G7), 2016-039 (G8), 2016-056
(G9), 2016-076 (G10), 2016-080 (G11), 2016-084 (G12), serta dua varietas
pembanding yaitu varietas Jafana (G13) dan varietas Pipit (G14). Hasil pengujian
karakter kualitatif dan kuantitatif pada hipokotil, daun, batang, bunga, dan buah
menunjukkan keragaman. Genotipe yang mendekati karakter varietas Pipit adalah
2016-002. Genotipe tersebut memiliki karakter buah bundar hijau, tidak memiliki
warna antosianin pada hipokotil, batang, kelopak, dan bawah kelopak. Genotipe ini
memiliki bobot per buah (92.8 g) lebih tinggi dari varietas Pipit (37.5 g). Genotipe
2016-080 memiliki bobot per buah tidak berbeda nyata dengan varietas
pembanding Jafana namun memiliki karakter kualitatif mendekati varietas Jafana
yaitu bentuk buah club dan warna masak hortikultur ungu. Genotipe 2016-005
memiliki kepekatan antosianin pada kulit buah yang lebih tinggi dibandingkan
dengan varietas Jafana. Sehingga genotipe 2016-002, 2016-080, dan 2016-005
potensial untuk dikembangkan menjadi varietas
Kepadatan, Privasi, Interaksi Sosial, dan Kepuasan Lingkungan pada Keluarga di Rusunawa Menteng Asri Kota Bogor
Kepuasan lingkungan merupakan salah satu faktor yang berkontribusi dalam kualitas
kehidupan keluarga. Penelitian ini merupakan implementasi dari teori ekologi keluarga pada
keluarga yang tinggal di permukiman perkotaan. Penelitian ini bertujuan secara umum untuk
menganalisis (a) pengaruh karakteristik keluarga dan kepadatan terhadap privasi; (b) pengaruh
karakteristik keluarga dan kepadatan terhadap interaksi sosial; dan (c) pengaruh karakteristik
keluarga, kepadatan, privasi, dan interaksi sosial terhadap kepuasan lingkungan pada keluarga di
Rusunawa Menteng Asri Kota Bogor. Responden dalam penelitian ini adalah 120 keluarga utuh
yang memiliki anak dan dipilih menggunakan metode simple random sampling. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa sebagian besar penghuni rumah susun mengalami kepadatan hunian. Privasi,
interaksi sosial, dan kepuasan lingkungan terkategori sedang. Berdasarkan hasil uji regresi
menunjukkan bahwa kepadatan berpengaruh negatif terhadap upaya memeroleh privasi. Hasil uji
regresi menunjukkan bahwa lama pendidikan suami dan jumlah penghuni berpengaruh positif
terhadap interaksi sosial. Hasil uji regresi dan analisis SEM menunjukkan bahwa interaksi sosial
berpengaruh positif dan upaya memeroleh privasi berpengaruh negatif terhadap kepuasan
lingkungan
Evaluasi Karakter Hasil dan Ketahanan Terhadap Layu Bakteri serta Pecah Buah pada Galur Mutan Tomat
Tomat adalah salah satu jenis sayuran penting yang diproduksi dan
dikonsumsi di dunia, baik berupa buah segar ataupun olahan makanan. Kebutuhan
tomat dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring dengan meningkatnya
jumlah penduduk. Tomat memegang peranan penting terhadap pemenuhan gizi
masyarakat karena mengandung zat-zat yang berguna bagi tubuh manusia seperti
vitamin C, A, beta karoten, mineral, dan likopen. Produktivitas tomat nasional
pada tahun 2016 adalah 15.31 ton ha-1 dan mengalami penurunan 4.86% jika
dibandingkan tahun 2015 yang sebesar 16.09 ton ha-1. Upaya pengembangan
tomat terus meningkat setiap tahun. Hal ini memberikan indikasi bahwa
pengembangan tomat di dataran rendah sangat prospektif karena masih
terbatasnya varietasnya yang berdaya hasil tinggi, tahan layu bakteri, dan pecah
buah. Tomat yang ideal memiliki ukuran yang seragam, warna buah merata,
berdaging buah tebal dan cukup keras, serta tinggi akan kandungan nutrisi
(Nazirwan 2014). Salah satu kendala penting produksi tomat pada dataran rendah
adalah serangan penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia
solanacearum dan pecah buah. Penyakit layu bakteri merupakan salah satu
penyakit tanaman paling berbahaya yang tersebar luas di daerah tropika dan sub
tropika. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menghadapi kondisi
lingkungan di dataran rendah adalah perakitan varietas tahan penyakit layu
bakteri, tahan pecah buah, dan berdaya hasil tinggi. Kegiatan pemuliaan tanaman
tomat sangat ditentukan oleh ketersediaan sumber genetik tomat yang beragam
dan metode pemuliaan yang tepat. Sumber genetik tomat dapat diperoleh dari
kegiatan eksplorasi, persilangan tanaman, perluasan genetik dengan induksi
mutasi. Induksi mutasi menjadi salah satu cara yang efektik untuk mendapatkan
keragaman genetik. Pengembangan varietas tomat melalui mutasi pada dataran
rendah menjadi salah satu cara yang telah dilakukan pada penelitan ini dan telah
diperoleh sampai saat ini galur-galur mutan M4 dan M5 hasil seleksi pedigree.
Galur mutan M4 dievaluasi keragaannya dilapang dan selanjutnya diseleksi
kembali untuk dilakukan pengujian penyakit layu bakteri serta ketahanannya
terhadap pecah buah pada galur mutan M5. Tujuan dari penelitian ini adalah
mendapatkan informasi keragaan galur-galur mutan M4 tomat dan ketahanan
galur-galur mutan M5 terhadap layu bakteri dan pecah buah.
Percobaan 1 bertujuan untuk mendapatkan informasi keragaan agronomi
galu-galur mutan M4 dan ketahanannya terhadap penyakit layu bakteri.
Berdasarkan hasil analisis ragam diketahui bahwa galur yang digunakan
berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, bobot per
buah, bobot per tanaman, jumlah tandan, jumlah buah, umur berbunga, umur
panen, panjang buah, diameter buah, tebal buah, produktivitas, dan kejadian
penyakit layu bakteri. Genotipe M4/GL2-8-10 memiliki nilai tengah bobot per
tanaman tertinggi sebesar 901.47 g dan nyata lebih tinggi dibanding galur
tetuannya. Genotipe dengan tipe tumbuh indeterminet dan berbuah bentuk
gelombang diduga memiliki ketahanan terhadap layu bakteri karena rendahnya
nilai kejadian penyakit. Galur yang tidak terserang layu bakteri adalah M4/Km1-
1-9, M4/Stbgl-2-3,M4/Kef6-4-3, M4/Gl2-8-10, M4/Lom1-2-2, M4/Lom1-9-5,
M4/Lom4-1-3,M0/Km1, M0/Kef6, and M0/Gl2. Galur M0/CLN mengalami
kejadian penyakit layu bakteri tertinggi sebesar 91.53%.
Percobaan 2 bertujuan untuk mendapatkan informasi galur tomat M5 yang
tahan terhadap penyakit layu bakteri. Pengamatan selama tiga puluh hari pada
karakter periode inkubasi, insidensi penyakit, saveritas penyakit, area under the
disease curve, dan persentase tanaman hidup menunjukkan bahwa setiap genotipe
memiliki respon ketahanan yang beragam. Hasil percobaan di lapangan
menunjukkan tanaman tomat mulai mengalami layu pada hari kedua setelah
inokulasi. Berdasarkan nilai insidensi dan saveritasnya, terdapat 11 genotipe M5
kategori sangat tahan, 13 genotipe tahan (11 M5, Kuda mati 1, dan Tora), 15
genotipe agak tahan (14 M5 dan Opal), 6 genotipe agak rentan (5 M5 dan Ratna),
3 genotipe M5 rentan, dan 2 genotipe M5 sangat rentan.
Percobaan 3 bertujuan untuk mendapatkan informasi keragaan hasil dan
galur-galur yang toleran terhadap pecah buah. Percobaan ini dilakukan dengan
rancangan augmented dengan lima pembanding yang diulang sebanyak tiga kali.
Berdasarkan analisis ragam, genotipe berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi
tanaman, umur berbunga, umur panen, bobot buah, jumlah buah pecah buah,
jumlah bobot pecah buah, indeks pecah buah, diameter buah, panjang buah,
kekerasan buah, dan jumlah lokul buah. Berdasarkan nilai indeks pecah buah, dari
galur mutan yang diamati terdiri dari 14 galur sangat toleran, 1 galur toleran, dan
5 galur agak toleran. Nilai heritabilitas yang tinggi dari galur-galur yang diamati
terdapat pada semua karakter yang diamati, kecuali jumlah bunga dan tandan per
tanaman, jumlah tandan buah dan padatan terlarut total. Berdasarkan analisis
korelasi, karakter bobot per tanaman berkorelasi posistif terhadap karakter jumlah
buah per tanaman, bobot dan jumlah layak per tanaman, bobot pecah buah, dan
jumlah tandan buah. Karakter indeks pecah buah berkorelasi positif terhadap
karakter tinggi tanaman, jumlah buah, jumlah pecah buah, bobot pecah buah,
diameter buah, kekerasan buah, jumlah lokul, presentase jumlah pecah, dan
presentase bobot pecah, sedangkan karakter yang berkorelasi negatif terhadap
karakter indeks pecah buah adalah tebal buah.
Berdasarkan seluruh percobaan yang diamati dapat disimpulkan bahwa
galur-galur mutan dari generasi M4 sampai M5 mengalami peningkatan ketahanan
terhadap layu bakteri pada galur-galur yang diseleksi, sehingga pada percobaan
dua sudah didapatkan galur dengan potensi hasil tinggi serta tahan terhadap layu
bakteri. Selanjutnya, galur di uji ketolerannya terhadap pecah dan menghasilkan
beberapa kandidat galur yang toleran pecah buah. Galur-galur mutan M5-990-
U1/Kudamati1-1-9-6, M5-990-U1/Kuda Mati1-1-9-4, M5-990-U3/SitubondoGL-
1-9-8, M5-495-U3/SitubondoGl-2-3-8, M5-495-U1/Kefaminamo6-4-3-7, M5-
495-U1/ Kefaminamo6-4-3-1, M5-495-U1/Gelombang2-8-10-7, M5-495-U1-
Gelombang2-8-10-3, M5-990-U3/Lombok1-9-5-4, M5-495-U3/Lombok1-9-2-8,
M5-495-U2/Aceh5-4-10-6, M5-495-U1/Kemir-1-7-4, M5-495-U2/Kemir-1-7-4,
M5-495-U3/Lombok4-1-3-7, M5-495-U3/ Lombok4-1-3-6 merupakan galur
unggul yang berdaya hasil tinggi, tahan layu bakteri, dan toleran pecah buah
Pengaruh Zat Ekstraktif terhadap Sifat Fisis-Mekanis Kayu Pelempang Putih (Adinandra sarosanthera).
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh zat ekstraktif khususnya yang terlarut dalam air panas terhadap beberapa sifat fisis-mekanis kayu Pelempang Putih, dengan cara membandingkan nilai kadar air kondisi kering udara (KA), kerapatan dan berat jenis (BJ), serta keteguhan lentur statis (MOE dan MOR), keteguhan tekan sejajar serat, dan kekerasan pada kayu kontrol dan kayu hasil perebusan selama 3 jam. Pengujian sifat fisis-mekanis dan zat ekstraktif dilakukan sesuai standar masing-masing prosedur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perebusan mampu menurunkan kadar ekstraktif kayu sebesar 21.27%. Zat ekstraktif ternyata tidak mempengaruhi nilai kerapatan, BJ, kekakuan (MOE), keteguhan patah (MOR), keteguhan tekan sejajar serat, dan kekerasan sisi, namun mempengaruhi nilai KA dengan pengurangan sebesar 3.05%. Perbedaan lokasi contoh uji dalam batang juga tidak mempengaruhi semua sifat yang diteliti. Secara umum perebusan selama 3 jam tidak mengurangi kekuatan kayu. Kayu kontrol dan kayu yang direbus masuk ke dalam Kelas Kuat II-III
Pengaruh Tekanan Ekonomi dan Strategi Koping Terhadap Ketahanan Keluarga di Rusunawa Lumajang
Keluarga yang tinggal di rusunawa rentan dengan permasalahan sosial dan ekonomi yang mempengaruhi ketahanan keluarga mereka. Dibutuhkan strategi koping untuk mempertahankan keseimbangan dan ketahanan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tekanan ekonomi dan strategi koping yang dilakukan terhadap ketahanan keluarga yang tinggal di Rusunawa Lumajang. Metode dalam penelitian ini adalah cross-sectional study dengan melibatkan 30 keluarga utuh yang memiliki anak yang masih bersekolah yang dipilih secara purposive dan diukur menggunakan kuesioner dengan teknik wawancara. Data dianalisis menggunakan software SPSS yang mencakup analisis deskriptif, analisis korelasi, dan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan keluarga penghuni Rusunawa Lumajang secara nyata dipengaruhi oleh tekanan ekonomi subjektif. Semakin tinggi tekanan ekonomi subjektif yang dihadapi, maka ketahanan keluarga akan semakin menurun. Tekanan ekonomi memiliki hubungan positif nyata dengan strategi koping. Semakin tinggi tekanan ekonomi, maka strategi koping yang dilakukan juga semakin banyak
Toksisitas Logam Besi Terhadap Spermatozoa sebagai Kandidat Bahan Aktif Alat Kontrasepsi Dalam Rahim.
Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi biomaterial logam besi sebagai bahan aktif alat kontrasepsi dalam rahim melalui uji toksisitas terhadap spermatozoa domba. Material yang digunakan yaitu logam kawat besi, tembaga, dan IUD komersial Copper T® sebagai kontrol positif. Ekstraksi biomaterial dilakukan dalam larutan NaCl fisiologis selama 1, 3, 7, 14, 21 dan 30 hari pada suhu kamar. Uji toksisitas terhadap spermatozoa menggunakan supernatan hasil ekstraksi hari ke-14, 21 dan 30 dibandingkan dengan NaCl fisiologis. Bobot biomaterial, laju korosi dan kadar ion logam mengalami perubahan seiring dengan lamanya waktu ekstraksi. Morfologi dari ketiga material mengalami perubahan pada permukaan, tingkat korosi meningkat dan terjadi perubahan warna cairan hasil ekstraksi. Hasil uji toksisitas pada spermatozoa menunjukkan adanya penurunan motilitas dan viabilitas dengan persentase lebih tinggi pada ekstrak biomaterial IUD komersial Copper T®, tembaga dan besi dibanding dengan NaCl fisiologis. Persentase abnormalitas spermatozoa tidak berubah sepanjang waktu pengamatan, waktu ekstraksi, dan jenis material