31665 research outputs found
Sort by
Perkecambahan dan Pertumbuhan Embrio Kelapa secara In vitro pada Media dengan Penambahan Bubuk Simplisia Daun Kelor dan Jarak.
Satu solusi yang diajukan untuk mengantisipasi permasalahan pengadaan
bibit kelapa, khususnya kopyor adalah menggunakan teknik kultur embrio.
Penelitian ini bertujuan menyelidiki pengaruh modifikasi media menggunakan
bahan organik yang mengandung beragam senyawa, berupa dekoksi simplisia daun
kelor dan daun jarak terhadap perkecambahan dan pertumbuhan embrio kelapa
secara in vitro. Metode yang digunakan adalah dengan menambahkan bahan
tersebut pada media kultur pada taraf yang diuji, yaitu 50 ppm, 100 ppm, dan 150
ppm dengan pembanding media Y3 modifikasi BAP 5ppm, menggunakan
rancangan lingkungan percobaan acak lengkap (RAL) non-faktorial yang diulang
sebanyak 10 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tidak
berpengaruh nyata pada laju perkecambahan dan pertumbuhan embrio kelapa,
kecuali karakter panjang daun dan panjang akar. Terdapat kecenderungan
berpengaruh terhadap pembentukan organ kecambah. Perlakuan modifikasi media
kultur menggunakan simplisia daun jarak mengakibatkan perkecambahan embrio
tidak membentuk akar lateral
Pemetaan Area Restorasi Prioritas untuk Koridor Habitat Owa jawa (Hylobates Moloch Audebert 1798) di Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Taman Nasional Gunung Halimun Salak merupakan kawasan konservasi hutan hujan tropis terbesar di Jawa Barat dan Banten. TNGHS diketahui mengalami deforestasi, degradasi dan fragmentasi hutan, disisi lain kawasan TNGHS merupakan habitat alami owa jawa, sehingga restorasi habitat penting dilakukan untuk menjaga konektivitasnya. Tujuan dari penelitian ini untuk menyediakan informasi kepada pihak pengelola TN mengenai area restorasi prioritas untuk koridor potensial bagi pergerakan owa jawa. Analisis dilakukan menggunakan Condatis sebuah aplikasi permodelan spasial untuk mengetahui konektivitas koridor satwa, berdasarkan pada pergerakan spesies sebagai respon terhadap perubahan iklim. Data peubah yang dipersiapkan dalam bentuk raster adalah data habitat, data kesesuaian habitat owa jawa melalui aplikasi Maxent, data source dan target layer. Skenario kontrol (BAU) dan skenario restorasi dibuat dengan mengilustrasikan perubahan konektivitas lansekap dengan mengubah areal non hutan menjadi hutan. Kawasan dan jalur koridor dapat ditunjukkan oleh nilai flow yang tinggi pada skenario BAU, sedangkan kawasan restorasi prioritas ditunjukkan oleh perubahan nilai flow antar skenario. Area restorasi prioritas dibagi menjadi 3 kelas yaitu tinggi, sedang dan rendah, kelas tinggi dan sedang ditemukan pada kawasan Kebun Teh Cikaniki, blok hutan Pasir Kerud dan Muara Tilu
Studi Morfologi, Pertumbuhan, dan Perkembangan Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb.) pada Berbagai Komposisi Media dan Dosis NPK
Bawang dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb.) merupakan tanaman obat dan tanaman hias khas Kalimantan Tengah, Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis media dan dosis NPK terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman bawang dayak, serta interaksi antara keduanya. Penelitian menggunakan 2 faktor, yaitu komposisi media dan dosis NPK. Komposisi media terdiri dari 3 komposisi yaitu: pupuk kandang : arang sekam : sabut kelapa, dengan perbandingan berdasarkan volume (v/v/v) yaitu (1:1:1), (2:1:1), dan (3:1:1). Pupuk NPK yang digunakan terdiri dari 3 dosis, yaitu 1 g per tanaman, 2 g per tanaman, dan 3 g per tanaman, dengan tanaman kontrol tanpa pemupukan. NPK yang digunakan dengan komposisi16-16-16 pada dua bulan pertama, dan NPK 12-12-17-2+TE pada dua bulan berikutnya. Peningkatan dosis NPK antara 1 hingga 3 g per tanaman mempercepat waktu pertumbuhan tunas. Pemupukan meningkatkan tinggi tanaman dibandingkan dengan kontrol namun peningkatan dosis 1 hingga 3 g per tanaman tidak nyata meningkatkan tinggi tanaman. Peningkatan dosis pupuk dari 1 hingga 3 g per tanaman meningkatkan jumlah daun pada 16 MST. Dosis pupuk 2 dan 3 g per tanaman menghasilkan jumlah anakan terbanyak pada 6 MST. Pemupukan meningkatkan hasil produksi umbi. Komposisi media 3:1:1 menghasilkan jumlah daun tanaman terbanyak pada 16 MST. Komposisi media (1:1:1) dan (2:1:1) menghasilkan jumlah anakan terbanyak pada 6 MST. Komposisi media (2:1:1) dan (3:1:1) menghasilkan jumlah bunga terbanyak. Komposisi media berinteraksi dengan dosis pupuk dalam mempengaruhi tinggi tanaman dan waktu kemunculan inflorescence pertama. Kombinasi media 2:1:1 dengan dosis pupuk 2 g per tanaman mempercepat kemunculan bunga
Microzoning Perairan Teluk Jor Luar, Nusa Tenggara Barat untuk Pembesaran Lobster Sistem Keramba Jaring Apung
Kawasan perairan Teluk Jor telah dimanfaatkan sebagai lokasi pengembangan pembesaran lobster sistem Keramba Jaring Apung (KJA) sejak tahun 2000. Seiring dengan meningkatnya aktivitas pembesaran lobster sistem KJA, meningkat juga kasus pencemaran lingkungan laut yang berdampak pada menurunnya kualitas air disekitar area KJA yang berdampak pada kematian biota dan rusaknya habitat maupun ekosistem laut akibat buangan limbah organik dari KJA. Kesesuaian lahan, daya dukung lingkungan, dan status kondisi habitat di Teluk Jor dengan adanya tekanan dari aktivitas KJA merupakan hal penting yang harus diperhatikan, jika didasarkan pada pemikiran bahwa perairan Teluk Jor memiliki kapasitas maksimum dalam menampung aktivitas pembesaran lobster sistem KJA.
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kesesuaian lahan dan pendugaan daya dukung lingkungan Teluk Jor untuk kegiatan pembesaran lobster sistem KJA, dan untuk mengetahui kondisi habitat di perairan Teluk Jor sebagai dasar dalam menyusun rencana microzoning untuk kegiatan pembesaran lobster sistem KJA. Pengambilan sampel dilakukan setiap bulan pada bulan Februari sampai Mei 2018. Pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu pengumpulan data primer dan sekunder. Parameter kualitas air yang diukur adalah kedalaman, kecerahan, suhu, DO, pH, TSS, amonia, fosfat, nitrat, dan nitrit. Analisis data pada penelitian ini dibagi menjadi 2 tahapan. Tahapan pertama analisis kesesuaian lahan dan daya dukung lingkungan perairan berdasarkan estimasi beban limbah P, serta menyusun peta kesesuaian lahan, Tahap kedua melakukan penilaian risiko habitat yang terdampak oleh adanya aktivitas pembesaran lobster sistem KJA, serta menyusun rencana mikrozonasi Perairan Teluk Jor.
Berdasarkan hasil pengukuran kualitas air kondisi perairan Teluk Jor masih dalam kondisi baik, tetapi parameter yang mengalami peningkatan yaitu nitrat. Kadar nitrat mengalami peningkatan > 0.2 mg/l yang berpotensi menyebabkan terjadinya eutrofikasi. Status kesesuaian perairan Teluk Jor tergolong dalam kelas sesuai dengan nilai kesesuaian 74.3, 72, dan 77. Berdasarkan perhitungan flushing time didapatkan nilai flushing time Teluk Jor selama 12.5 hari. Pendugaaan beban limbah P, sekitar 93,5 % beban limbah fosfat masuk keperairan, dan berdasarkan perhitungan Total Acceptable Loading jumlah maksimal KJA yang boleh dioperasikan 99/5 = 20 unit, dengan asumsi jumlah keramba dalam 1 unit KJA adalah 5 keramba. Tingkat risiko habitat pada perairan Teluk Jor dengan adanya kegiatan pembesaran lobster sistem KJA secara keseluruhan, berada pada tingkat risiko low (rendah) hingga medium (sedang)
Pemberian Probiotik Bacillus sp. NP5 dan Prebiotik Madu untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Respons Imun Udang Vaname Litopenaeus vannamei terhadap Infeksi White Spot Syndrome Virus
White spot disease yang disebabkan oleh white spot syndrome virus
(WSSV) merupakan penyakit viral paling serius dan berdampak besar terhadap
penurunan produksi budidaya udang vaname. Perbaikan respons imun melalui
aplikasi probiotik, prebiotik dan sinbiotik dapat menjadi salah satu alternatif ramah
lingkungan untuk mencegah serangan penyakit tersebut. Penelitian ini bertujuan
untuk mengevaluasi pengaruh pemberian probiotik Bacillus sp. NP5, prebiotik
madu dan gabungan keduanya (sinbiotik) dalam meningkatkan pertumbuhan dan
respons imun udang vaname terhadap infeksi WSSV. Penelitian ini terdiri dari lima
perlakuan dan tiga ulangan yaitu kontrol positif (pemberian pakan tanpa probiotik,
prebiotik, dan sinbiotik kemudian diuji tantang dengan WSSV), kontrol negatif
(pemberian pakan tanpa probiotik, prebiotik, dan sinbiotik kemudian diinjeksi PBS),
pro (pemberian pakan dengan penambahan probiotik Bacillus sp. NP5 kemudian
diuji tantang dengan WSSV), pre (pemberian pakan dengan penambahan prebiotik
madu kemudian diuji tantang WSSV), dan sin (pemberian pakan dengan
penambahan sinbiotik kemudian diuji tantang dengan WSSV). Udang vaname
dengan bobot rata-rata 1.8±0.06 gram/ekor dipelihara dengan kepadatan 15 ekor
per akuarium (60 cm x 30 cm x 30 cm dan tinggi air 20 cm) selama delapan minggu,
kemudian diuji tantang dengan WSSV sebanyak 0.1 ml per ekor pada dosis LD50.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan respons imun udang
vaname setelah pemberian probiotik, prebiotik dan sinbiotik lebih baik (P<0.05)
dibandingkan kontrol. Respons imun dan resistansi udang vaname setelah uji
tantang dengan WSSV juga menunjukkan pada perlakuan probiotik, prebiotik dan
sinbiotik lebih baik (P<0.05) dibandingkan kontrol positif, dengan hasil optimal
pada perlakuan prebiotik
Analisis Tataniaga Kentang Merah di Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok Sumatera Barat
Kentang merah akan dijadikan komoditi unggulan Kabupaten Solok di Provinsi Sumatera Barat. Harga kentang merah cukup tinggi di pasaran sehingga mempunyai prospektif bisnis untuk dikembangkan, namun harga yang diterima petani belum mampu menutupi biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh petani. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis pemasaran kentang merah. Metode pegumpulan data melalui observasi dan wawancara serta penentuan responden petani dengan metode purposive sampling dan lembaga pemasaran dengan metode snowball sampling. Indikator efisiensi operasional pemasaran adalah margin pemasaran, farmer’s share, rasio keuntungan terhadap biaya, kuantitas penjualan setiap saluran, harga, fungsi-fungsi pemasaran, serta perilaku dari lembaga pemasaran. Hasil analisis menujukkan bahwa saluran pemasaran yang efisien adalah saluran pemasaran 4 dengan lembaga pemasarannya pedagang pengecer Kabupaten Solok. Nilai margin pemasaran Rp 3 000, farmer’s share 78.57 persen dan rasio keuntungan terhadap biaya 3.75 serta harga jual petani paling tinggi
Karakteristik Karkas dan Non Karkas Domba Ekor Gemuk Betina pada Umur Potong yang Berbeda di TPH Bens Farm Sentul
Umur yang optimal akan menghasilkan produksi karkas dan non karkas
yang optimal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi karakteristik karkas dan non
karkas domba ekor gemuk betina pada umur potong yang berbeda. Rancangan
yang digunakan yaitu menggunakan RAL pola searah dengan jumlah ternak
sebanyak 250 domba ekor gemuk : 172 ekor berumur I0, 61 ekor berumur I1, dan
17 ekor berumur I2. Metode yang digunakan yaitu dengan cara menimbang bagian
karkas dan non karkas domba. Hasil menunjukan domba ekor gemuk yang
disembelih berdasarkan umur potong yang berbeda mempunyai pengaruh yang
nyata terhadap bobot potong. Pengaruh perbedaan umur mempunyai pengaruh
yang beragam terhadap persentase non karkas yang dihasilkan. Domba ekor
gemuk yang berumur I2 menghasilkan bobot potong yang lebih tinggi
dibandingkan domba yang berumur I0 dan I1 pada pemotongan di TPH Bens Farm
Sentul. Perbedaan umur potong domba ekor gemuk betina (I0, I1, dan I2) tidak
terlalu berpengaruh terhadap komponen karkas, komponen non karkas, dan
persentase non karkas yang dihasilkan
Perilaku Pelaku Wisata di Sembalun terhadap Bahaya dan Bencana di Taman Nasional Gunung Rinjani
Gunung Rinjani adalah gunung api tertinggi kedua yang memiliki kaldera,
kawah, danau, mata air panas, savana, dan keindahan lainnya serta menjadi salah
satu destinasi utama di Lombok yang dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun
internasional. Di balik keindahannya, kawasan Gunung Rinjani berada pada
kawasan bahaya alam (ntural hazards) baik bencana hidrometeorologi maupun
geologi sehingga menjadi wilayah rawan bencana. Mengingat pentingnya peran
pelaku wisata terhadap keberlangsungan kegiatan wisata yang aman, maka
diperlukan kesadaran akan wilayah rawan bencana. Kesadaran ini terbentuk melalui
persepsi, sikap kewaspadaan, dan perilaku kesiapsiagaan. Penelitian ini bertujuan
untuk mengidentifikai persepsi, sikap, dan perilaku pelaku wisata terhadap bahaya
dan bencana. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara,
observasi lapang, dan studi pustaka. Persepsi pelaku wisata terhadap bahaya secara
umum tergolong dalam kategori sedang, hal ini ditunjukan dengan pelaku wisata
sudah mengetahui keberadaan bahaya akan tetapi kurang menyadari risikonya.
Persepsi terhadap bencana secara umum tergolong dalam kategori baik yaitu pelaku
wisata sudah mengetahui potensi bencana dan menyadari risikonya. Sikap pelaku
wisata terhadap bahaya secara umum tergolong dalam kategori sedang karena
pelaku wisata kurang mewaspadai bahaya. Sikap terhadap bencana tergolong dalam
kategori baik untuk instansi karena sudah mewaspadai bencana sedangkan untuk
masyarakat pelaku wisata tergolong dalam kategori sedang karena masih kurang
mewaspadai bencana. Terdapat faktor yang menyebabkan ketidak selarasan antara
persepsi, sikap, dengan perilaku yaitu pengalaman dan pekerjaan
Sintesis N-palmitoiletanolamida dan Kinerjanya sebagai Antioksidan dengan Metode Penyapuan Radikal DPPH.
N-palmitoiletanolamida adalah senyawa amida lemak yang dapat digunakan sebagai surfaktan, aditif pelumas, dan lainnya. Tujuan penelitian ini adalah menguji kinerjanya sebagai antioksidan menggunakan metode penyapuan radikal (DPPH) serta menentukan kinetika reaksinya. N-palmitoiletanolamida disintesis dari reaksi esterifikasi dan amidasi dengan rendemen 79%. Persen penyapuan DPPH naik dari 27% menjadi 30%, serta penyapuan oleh standar (BHT) naik dari 40% menjadi 59%. Hasil ini menunjukkan bahwa hasil sintesis dapat berfungsi baik sebagai antioksidan meskipun belum lebih baik daripada standar BHT dalam menyapu radikal DPPH. Evaluasi kinetika reaksinya menunjukkan bahwa N-palmitoiletanolamida dengan konsentrasi setara mengikuti orde reaksi ke-2 dengan tetapan laju reaksi (k2) 306 M-1 menit-1, dengan konsentrasi berlebih mengikuti orde pertama semu dengan tetapan laju reaksi (k1) 0.0095 menit-1
Perbandingan Daya Saing dan Determinan Ekspor Minyak Sawit dan Produk Turunannya dari Indonesia ke Asia Selatan, Timur Tengah, dan Asia Tengah
Asia adalah kawasan potensial bagi ekspor minyak sawit dan produk turunan
Indonesia. Namun, distribusi ekspor komoditi terkait yang belum merata menjadi
salah satu masalah ekonomi nasional. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis daya saing serta determinan ekspor minyak sawit dan produk
turunan Indonesia ke Asia Selatan, Timur Tengah dan Asia Tengah. Hal ini
bertujuan untuk menentukan wilayah yang dapat dijadikan pasar non-tradisional.
Metode analisis yang digunakan yaitu Revealed Comparative Advantage (RCA),
dan gravity model. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Timur Tengah
memiliki daya saing yang paling kuat. Hasil gravity model menunjukan faktor
yang signifikan memengaruhi ekspor adalah populasi dan PDB Nominal negara
tujuan, jarak ekonomi, nilai tukar riil, dan ekspor harga CPO