31665 research outputs found
Sort by
Peran Penambahan Enzim dalam Pakan Buatan untuk Pertumbuhan Larva Ikan Lele Afrika Clarias gariepinus
Salah satu faktor kunci keberhasilan dalam kegiatan budidaya ikan lele
adalah kualitas benih yang baik. Dalam proses produksi benih ikan lele Afrika
(Clarias gariepinus) ini, memerlukan cacing sutra (Tubifex sp.) sebagai pakan
awal untuk larva sampai dengan ukuran benih. Cacing sutra dapat menjadi faktor
pembatas bagi kegiatan produksi benih ikan lele. Cacing sutra tidak tersedia
sepanjang tahun, terutama pada musim penghujan dimana ketersediaan di alam
berkurang. Kurangnya cacing sutra akan meningkatkan harga dan akan menjadi
sangat penting bagi daerah-daerah yang ketersediaan cacing sutranya terbatas.
Upaya untuk mengatasi ketersediaan cacing sutra sebagai pakan alami adalah
dengan memberikan pakan buatan yang ditambahkan dengan multienzim dengan
nama komersial Superzyme dari PT. Bright International agar nutrien dalam
pakan dapat dimanfaatkan oleh ikan secara maksimal. Oleh karena itu, penelitian
ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis efektivitas penambahan enzim
pada pakan buatan terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup larva
ikan lele Afrika.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – April di BBPBAT
Sukabumi, dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap, terdiri dari
empat perlakuan dan empat kali ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah
pemberian pakan pada larva ikan lele dengan cacing (K), pakan tanpa enzim
(ME0), pakan dengan penambahan enzim dosis 1 g kg-1 (ME1) dan pakan dengan
penambahan enzim dosis 2 g kg-1 (ME2) dengan metode coating. Larva ikan lele
berumur 3 hari ditebar pada akuarium kaca ukuran 80x60x40 cm yang diisi air
150 L dan diberi aerasi. Kepadatan larva 9 ekor L-1. Cacing sutra dan pakan
buatan diberikan sebanyak 4 kali sehari, pada pukul 07.00, 12.00, 17.00 dan 22.00
WIB selama 12 hari. Parameter uji yang dievaluasi dalam penelitian ini adalah
bobot tubuh akhir, panjang tubuh akhir, tingkat kelangsungan hidup, distribusi
ukuran panen, jumlah konsumsi pakan, efisiensi pakan, rasio efisiensi protein,
faktor kondisi, aktivitas enzim (amilase, protease, tripsin, kimotripsin) dan
panjang vili usus.
Akhir penelitian ini menunjukkan data pertumbuhan panjang dan bobot
akhir ikan yang diperoleh, secara signifikan nilai tertinggi yaitu pada pakan
perlakuan cacing dibandingkan perlakuan lainnya, sedangkan pada perlakuan
pakan ME0, ME1, dan ME2 tidak berbeda nyata. Pertumbuhan ikan lele pada
perlakuan cacing berdampak pada distribusi ukuran panen yang hanya memiliki
dua ukuran, yakni ukuran sedang (70.47%) dan besar (29.53%), sedangkan pada
perlakuan pakan buatan, ikan terdistribusi di ukuran kecil, sedang dan besar,
dengan mayoritas di ukuran sedang (98.25-99.52%). Ikan pada perlakuan cacing,
mengkonsumsi pakan 13 kali lebih banyak dari perlakuan pakan buatan. Di sisi
lain, pemberian pakan buatan memberikan nilai efisiensi pakan yang lebih baik
dari perlakuan cacing. Efisiensi pakan pada setiap perlakuan pakan buatan
nilainya tidak berbeda nyata. Parameter rasio efisensi protein tidak berbeda nyata
antara perlakuan cacing dan ME0, namun kedua perlakuan tersebut berbeda nyata
dengan perlakuan ME1 dan ME2. Untuk parameter tingkat kelangsungan hidup
dan faktor kondisi dari masing-masing perlakuan tidak menunjukkan hasil yang
berbeda nyata. Pada pengukuran aktivitas enzim pada hari ke-18 setelah menetas,
aktivitas enzim amilase dan kimotripsin rata-rata meningkat, sedangkan aktivitas
enzim protease dan tripsin rata-rata menurun jika dibandingkan dengan aktivitas
enzim pada larva hari ke-4 setelah menetas (sebelum diberi perlakuan). Perbedaan
penambahan dosis pada pakan memberikan pengaruh yang berbeda pada panjang
villi usus ikan lele. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan benih ikan lele yang
diberi pakan cacing, sedangkan nilai yang terendah ada pada perlakuan ME0.
Peningkatan enzim pada pakan, dapat meningkatkan panjang vili usus (ME1 dan
ME2).
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penambahan enzim
dengan dosis sampai 2 g kg-1 pakan dapat meningkatkan panjang villi usus,
namun belum mampu meningkatkan pertumbuhan ikan sebagaimana penggunaan
cacing. Saran yang dapat disampaikan adalah perlu dilakukan evaluasi lanjutan
terkait peningkatan jumlah pemberian pakan harian melalui peningkatan frekuensi
pemberian pakan agar jumlah konsumsi pakan buatan setara dengan cacing
Evaluasi Pemberian Tepung Daun Singkong dan Daun Ubi Jalar terhadap Persentase Karkas dan Non Karkas Itik Petelur Pajajaran.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pemberian tepung daun singkong dan daun ubi jalar terhadap persentase karkas dan non karkas itik petelur pajajaran. Penelitian ini menggunakan 180 ekor itik petelur betina umur 20 minggu yang dipelihara hingga umur 30 minggu. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 3x2 dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan. Faktor I adalah penggunaan tepung daun singkong (0%, 5%, 10%) dan faktor II penggunaan tepung daun ubi jalar (0%, 5%). Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dengan software Minitab versi 17.0, jika terdapat perbedaan nyata dilakukan uji lanjut menggunakan uji Tukey. Peubah yang diamati adalah bobot karkas, persentase karkas, persentase potongan karkas (punggung, dada, sayap, paha), persentase potongan non karkas (kepala dan leher, kaki) dan rasio daging tulang (dada dan paha). Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian tepung daun singkong 0% dan daun ubi jalar 5% berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap bobot karkas, persentase dada, dan rasio daging tulang (dada dan paha). Simpulan dari penelitian ini adalah perlakuan kombinasi 0% tepung daun singkong dan 5% daun ubi jalar pada pakan mampu menghasilkan daging dada dan paha terbaik
Inventarisasi Jenis Kumbang Pengurai Kotoran (Dung Beetle) dan Pemakan Daun (Flea Beetle) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung melakukan berbagai upaya perlindungan seluruh keanekaragaman hayati yang ada di ekosistem hutan. Salah satunya meliputi kegiatan monitoring untuk kelompok serangga kumbang pengurai kotoran (dung beetle) dan pemakan daun (flea beetle). Tujuan dari penelitian ini adalah menginventarisasi jenis kumbang pengurai kotoran dan pemakan daun di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Metode penelitian yang digunakan adalah pengamatan dan pengukuran, penangkapan menggunakan pitfall trap dan sweep net kemudian identifikasi dan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan kumbang pengurai kotoran memiliki nilai kelimpahan 851 individu terbagi ke dalam 22 jenis, 5 tribe dan 3 sub famili sedangkan kumbang pemakan daun memiliki nilai kelimpahan 56 individu terbagi ke dalam 11 jenis, 3 tribe dan 2 sub famili. Nilai kelimpahan, kekayaan dan keanekaragaman kumbang pengurai kotoran lebih tinggi dibandingkan dengan kumbang pemakan daun, namun nilai kemerataannya lebih rendah. Faktor lingkungan yang berkorelasi signifikan dengan kumbang pengurai kotoran adalah tutupan tajuk dan suhu sedangkan pada kumbang pemakan daun adalah tutupan tajuk, suhu dan kelembapan
Pengendalian Kebakaran Lahan Berbasis Tinggi Muka Air di Areal Gambut.
Provinsi Riau memiliki lahan gambut yang sering sekali terbakar, kebakaran
gambut pada bagian bawah permukaan dapat menyebabkan dampak yang begitu
merugikan secara ekonomi, ekologi, kesehatan manusia, dan sosial. Penelitian ini
bertujuan menganalisis teknik pengendalian tinggi muka air untuk menurunkan
dampak kebakaran lahan gambut meliputi perubahan perilaku api. Metode yang
dilakukan menganalisis perilaku api pada plot 1, plot 2 dan plot 3. Ketiga plot
dilakukan analisis keragaman untuk mengetahui faktor-faktor tersebut terhadap
parameter yang diuji, apabila terdapat pengaruh yang nyata dari faktor yang diuji,
dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan pada selang kepercayaan 95%. Hasil penelitian
ini menunjukan plot 2 yang memiliki tinggi muka air 41 cm dengan jumlah bahan
bakar (9.3 Ton/ha) yang paling rendah serta kadar air bahan bakar daun (16%) dan
batang (16.37%) menghasilkan intensitas kebakaran (250.92 kW/m) dan pemanasan
perunit area (49.68 Kj/m2) yang rendah dibandingkan plot 1 dan plot 3. Plot 2
memiliki waktu terbakar yang singkat, dengan intensitas kebakaran yang rendah dan
waktu yang singkat dapat mengurangi dampak kebakaran
Serangga yang Berasosiasi dengan Puru pada Beberapa Klon Eukaliptus di Gunung Mutis, Nusa Tenggara Timur
Eucalyptus merupakan tanaman endemik Australia, Papua, dan Indonesia
bagian timur. Namun, tanaman tersebut saat ini sudah banyak ditanam di daerah
lain di seluruh dunia. Tanaman eukaliptus dapat dimanfaatkan kayunya, minyak,
karet, damar, dan sebagai tanaman hias. Banyak klon eukaliptus telah
dikembangkan dan ditanam sebagai hutan tanaman industri di Pulau Sumatera.
Klon eukaliptus umumnya berasal dari hibrida beberapa spesies seperti Eucalyptus
urophylla, E. grandis, E. pellita, E. alba, dll. Beberapa puru yang disebabkan oleh
serangga dikenal sebagai hama serius pada tanaman eukaliptus yang dapat
mengurangi kualitas dan kuantitas produksi kayu. Penelitian ini bertujuan
mengidentifikasi penyebab puru dan mendeskripsikan jenis puru pada beberapa
klon eukaliptus yang ditanam di Gunung Mutis, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2017 hingga Juli 2018. Sebanyak 855 bibit
yang terdiri dari 57 klon (15 tanaman per klon) ditanam di Gunung Mutis.
Pengamatan dilakukan dua minggu sekali. Bagian yang bergejala diamati secara
langsung bentuk, jumlah, letak, dan warna puru. Selain pengamatan mengenai jenis
puru yang terbentuk, pengamatan juga dilakukan terhadap intensitas infestasi,
penyebab puru dan parasitoidnya. Daun yang bergejala diambil pada akhir
pengamatan dan diletakkan di kantung plastik berklip untuk melihat serangga yang
keluar dari bentuk puru yang selanjutnya serangga tersebut diidentifikasi.
Identifikasi dilakukan di Laboratorium Biosistematika Serangga, Departemen
Proteksi Tanaman, IPB.
Puru adalah keadaan abnormal pada bagian tanaman karena adanya
pembengkakan pada jaringan tanaman. Hasil yang diperoleh dari penelitian
pengamatan puru adalah ditemukannya empat jenis puru yang terbentuk pada klon
selama pengamatan. Jenis puru yang diperoleh termasuk ke dalam jenis puru
tertutup. Puru terbentuk pada bagian daun dan ranting tanaman. Serangga yang
keluar dari puru, yaitu berasal dari Ordo Hymenoptera dan Ordo Diptera. Serangga
penyebab puru tersebut adalah Ophelimus sp. (Hymenoptera: Eulophidae),
Leptocybe invasa (Hymenoptera: Eulophidae), dan Fergusonina sp. (Diptera:
Fergusoninidae).
Jenis puru yang paling banyak banyak menginfestasi klon tanaman adalah
jenis puru daun bintil besar yang disebabkan oleh Fergusonina sp. (Diptera:
Fergusoninidae). Jenis puru daun bintil besar memiliki ciri-ciri bulat, berwarna
pink, bergerombol, dan menginfestasi bagian daun atau pucuk. Puru jenis ini
termasuk puru tertutup karena puru yang terbentuk pada bagian permukaan bawah
daun terdapat jaringan sel baru sehingga membentuk bulat dan berwarna pink
seperti bagian permukaan atas daun. Sedangkan jenis puru lain yang banyak
menginfestasi tanaman adalah jenis puru daun bintil kecil yang disebabkan oleh
Ophelimus sp. (Hymenoptera: Eulophidae). Selain pada daun, puru juga ditemukan
terbentuk pada bagian ranting tanaman yang disebabkan oleh Leptocybe invasa
(Hymenoptera: Eulophidae). Puru ranting hanya terbentuk pada klon C47 dan C48.
Ciri-ciri dari puru ranting ini adalah termasuk puru tertutup karena terdapat bentuk
bulat pipih di bagian yang berlawanannya pada bagian ranting. Jenis puru yang
iii
disebabkan oleh Ophelimus sp. (Hymenoptera: Eulophidae) mirip dengan puru
yang pernah dilaporkan di Sumatera, namun tiga jenis puru yang lainnya belum
dilaporkan di Indonesia.
Tingkat infestasi puru yang reltif tinggi terjadi pada dua klon, yaitu: C48, dan
C53. Terdapat 27 klon tanaman yang tidak terinfestasi oleh puru. Tiga jenis
parasitoid ditemukan selama pengamatan Eurytoma sp. pada Fergusonina sp. dan
Ophelimus sp., Bracon sp. pada Fergusonina sp., dan Megastigmus sp. pada
Ophelimus sp. Klon-klon tanaman yang tidak terserang puru merupakan kandidat
tanaman resisten yang dapat dikembangkan dalam upaya pengendalian hama puru.
Informasi tentang jenis parasitoid yang ditemukan sangat berharga untuk
pengembangan pengendalian hayati terhadap serangga penyebab puru di masa yang
akan datang
Evaluasi Keberhasilan Persemaian Permanen Dramaga dalam Membangun Hutan Rakyat di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor.
Pembangunan Persemaian Permanen Dramaga bertujuan menyediakan bibit
berkualitas untuk merehabilitasi hutan dan lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum,
Ciliwung dan Cisadane, dengan memproduksi dan mendistribusikan bibit baik dengan tujuan
penelitian, seremonial, maupun dalam pembangunan hutan rakyat. Faktor teknis dan sistem
distribusi berpengaruh terhadap keberhasilan pembangunan hutan rakyat. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis keberhasilan pembangunan hutan rakyat yang memperoleh bibit
dari Persemaian Permanen Dramaga. Hasil penelitian dari 5 lokasi, terdapat 2 lokasi
penanaman yang tidak berhasil ditemukan dan 3 lokasi penanaman berhasil ditemukan, 1
lokasi penanaman dengan tujuan penghijauan dan 2 lokasi penanaman dengan tujuan hutan
rakyat. Dengan demikian dari 5 lokasi distribusi bibit tahun 2016 hanya 3 lokasi yang berhasil
ditemukan lokasi penanamannya. Keberhasilan evaluasi pertumbuhan pohon di Desa Bojong
Jengkol, dapat dilihat dari persentase jadi, tinggi dan diameter pohon. Kampung Bojong
Nyamplung memiliki persentase jadi 86.58%, rata-rata tinggi 8.80 m dan diameter 14.60 cm,
sedangkan Kampung Cikirang memiliki persentase jadi 55.72%, rata-rata tinggi 5.40 m dan
diameter 8.52 cm. Dengan demikian Kampung Bojong Nyamplung memiliki persentase jadi,
rata-rata tinggi dan diameter pohon lebih tinggi dari Kampung Cikirang
Efektivitas Paparan Spektrum Lampu LED terhadap Kualitas Warna dan Kinerja Pertumbuhan Ikan Rainbow Praecox Melanotaenia praecox
Ikan rainbow praecox Melanotaenia praecox merupakan ikan endemik Irian Jaya dengan warna tubuh biru keperakan dan sirip berwarna merah. Tujuan penelitian ini adalah mengukur perubahan kualitas warna ikan dan kinerja pertumbuhan rainbow praecox Melanotaenia praecox dengan paparan spektrum cahaya lampu LED pada media pemeliharaan. Ikan rainbow praecox yang digunakan untuk penelitian selama 28 hari memiliki ukuran 2,74±0,261 cm dengan bobot 0,346±0,061 gram dan dipelihara di dalam akuarium dengan ukuran 25x25x25 cm. Pakan yang diberikan adalah cacing sutra dengan frekuensi 3 kali sehari secara ad satiation. Perlakuan yang diberikan adalah penyinaran lampu LED dengan 5 perlakuan dan masing-masing 3 kali ulangan yaitu B (LED biru), M (LED merah), P (LED putih), H (LED hijau), dan K (kontrol). Hasil pengukuran kualitas warna biru pada ikan yang terbaik pada perlakuan B sebesar 0,423±0,029%, sedangkan kualitas warna merah terbaik pada perlakuan M sebesar 0,435±0,049%. Perlakuan M memberikan kinerja pertumbuhan terbaik dengan bobot mutlak 0,013±0,002 gram, laju pertumbuhan harian sebesar 2,642±0,261%, dan efisiensi pakan 0,061±0,009%
Pengaruh Pemberian Air Cutter dan Standardisasi Level Air dalam Upaya Meningkatkan Pick-up Chicken Nugget di PT So Go Food Manufacturing, Tangerang.
Chicken nugget merupakan salah satu produk yang dihasilkan oleh PT So Good Food Manufacturing. Tujuan dari kegiatan magang ini adalah meningkatkan pick-up chicken nugget dan menganalisis sumber penyebab tidak tercapainya pick-up chicken nugget selama proses produksi. Dalam proses produksi chicken nugget, tahapan pencetakan dan pelapisan merupakan tahap yang dianalisis dalam penentuan pick-up chicken nugget. Metode kerja yang digunakan sebagai usaha untuk melakukan perbaikan mutu proses produksi adalah dengan menerapkan siklus deming (PDCA) serta melakukan 8 langkah dan 7 alat bantu (seven tools). Aanalisis yang dilakukan menujukkan terjadinya penurunan viskositas di dalam batter applicator dan viskositas milkwash yang tidak konsisten di dalam batter mixer merupakan faktor utama penyebab tidak tercapainya pick-up chicken nugget pada mesin Hiwell. Oleh karena itu, dibuat rencana penanggulangan perbaikan dengan pemberian air cutter pada mesin forming dan standarisasi level air pada batter mixer. Hasil perbaikan dapat meningkatkan pick-up mikwash chicken nugget dari 11,23% menjadi 15,08% serta meningkatkan pick-up breading chicken nugget dari 26,66% menjadi 28,83%
Manajemen Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) pada Tanaman Menghasilkan di Kebun Sei Batang Ulak, PT. Ciliandra Perkasa, First Resources Group, Kampar, Riau
Kegiatan magang dilaksanakan pada tanggal 4 Februari sampai dengan 21
Mei 2019 di PT Ciliandra Perkasa, Riau. Kegiatan magang bertujuan untuk
mengetahui dan mempelajari aspek teknis dan manajerial pengelolaan tanaman
kelapa sawit. Pengamatan aspek khusus dilakukan pada kegiatan pemupukan yaitu
perencanaan, organisasi, pelaksanaan dan kontrol aplikasi pupuk di lapang.
Pemupukan harus dilaksanakan secara efektif dan efisien untuk memenuhi
kebutuhan unsur hara tanaman. Pengamatan yang dilakukan pada manajemen
pemupukan di lapang dilakukan berdasarkan kaidah 5T (tepat jenis, tepat dosis,
tepat tempat, tepat waktu dan tepat cara), gejala defisiensi hara dan efisiensi
tenaga kerja. Hasil pengamatan aspek khusus pemupukan menunjukkan PT
Ciliandra Perkasa sudah menerapkan manajemen pemupukan sesuai dengan
standar operasional perusahaan. Pengamatan pemupukan tepat jenis, tepat waktu
dan tepat cara dilakukan dengan membandingkan standar operasional prosedur
(SOP) perusahaan dengan pelaksanaan di lapangan. Hasil pengamatan
menunjukkan bahwa kaidah 5T sudah memenuhi ketentuan dan standar yang
berlaku di PT Ciliandra Perkasa. Hasil pengamatan gejala defisiensi hara
dilakukan menunjukkan bahwa tanaman kelapa sawit pada perusahaan ini hanya
sedikit yang menunjukkan gejala kekurangan unsur hara dan kekurangan unsur
hara yang paling banyak ditemukan adalah kekurangan unsur Kalium (K)
Analisis Biaya Produksi Minyak Kayu Putih Studi Kasus di Pabrik Minyak Kayu Putih RPH Tonjong Perum Perhutani KPH Kuningan Unit III Jawa Barat Dan Banten
Minyak kayu putih (MKP) merupakan produk hasil hutan bukan kayu yang
memiliki potensi besar di Indonesia. Pabrik minyak kayu putih (PMKP) Tonjong KPH
Kuningan merupakan salah satu perusahaan Perum Perhutani yang memproduksi MKP
di Jawa Barat. Produksi MKP yang dihasilkan dari PMKP Tonjong pada tahun 2018
sebesar 7.675 ton dengan penggunaan daun kayu putih sebesar 1 108.09 ton dan harga
jual sebesar Rp250 000/kg MKP. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya
produksi, break even point (BEP), profitabilitas yang ditunjukan oleh persentase return
on investment (ROI) serta menganalisis harga pokok MKP yang diproduksi di PMKP
Tonjong Perum Perhutani KPH Kuningan Unit III Jawa Barat dan Banten. Hasil
penelitian menunjukkan total biaya produksi pada tahun 2018 sebesar Rp1.52 milyar.
Biaya produksi MKP sebesar Rp198 517/kg.Komponen biaya produksi terbesar adalah
biaya variabel sebesar Rp957 juta atau sebesar Rp124 765/kg (62.86%). Nilai BEP
yang dihasilkan sebesar 4519 kg yang menunjukan bahwa perusahaan mampu
memproduksi MKP di atas titik impas. Nilai ROI yang dihasilkan sebesar 29.69% yang
menunjukan kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan lebih besar
daripada investasi dalam bentuk deposito berjangka. Harga pokok MKP pada tahun
2018 sebesar Rp238 220/kg yang menunjukan bahwa pengusahaan MKP di KPH
Kuningan menguntungkan