31665 research outputs found
Sort by
Model Pendugaan Biomassa Atas Permukaan Tanah dengan Pendekatan Digital dan Visual Menggunakan Citra SPOT-6 di DTA Waduk Wonorejo
Biomassa mempunyai hubungan yang erat dengan cadangan karbon, yakni
sebesar 47% biomassa hutan adalah stok karbon. Daerah Tangkapan Air Waduk
Wonorejo mempunyai fungsi penting sebagai tata air. Oleh karena itu, perlu
dilakukan monitoring dengan menggunakan data citra SPOT-6 yang dapat
menginterpretasikan citra secara visual dan digital. Tujuan penelitian ini adalah
untuk membangun model penduga biomassa atas permukaan tanah pada tutupan
lahan hutan dengan pendekatan digital dan visual. Pendugaan biomassa atas
permukaan tanah diklasifikasikan menjadi dua jenis tutupan lahan hutan yaitu
biomassa hutan pinus dan biomassa hutan daun lebar. Hasil model biomassa hutan
pinus dengan pendekatan digital adalah (B = 685.398 GNDVI1.185) dengan R2
sebesar 62.00%, sedangkan hasil model biomassa hutan daun lebar adalah (B =
8.158 e(0.694 SRVI)) dengan R2 sebesar 59.96%. Model biomassa dengan pendekatan
visual untuk biomassa hutan pinus adalah (B = 0.049 CC1.967) dengan R2 sebesar
71.74%, sedangkan untuk biomassa hutan daun lebar adalah (B = 35.623
e(0.02606 CC)) dengan R2 sesar 72.82%
Emisi Gas Rumah Kaca pada Produksi Asap Cair Tempurung Kelapa dengan Pendekatan Life Cycle Assessment
Asap cair tempurung kelapa merupakan co-product yang dihasilkan dari produksi arang tempurung kelapa. Meskipun teknologi pengolahan asap cair dikembangkan untuk mengurangi pencemaran udara dari produksi arang, produksi asap cair juga menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK). Tujuan penelitian ini antara lain untuk menganalisis besarnya dampak lingkungan yang dinyatakan dalam nilai emisi GRK, menganalisis besarnya efisiensi penggunaan energi, dan memberikan alternatif proses pada produksi asap cair untuk menurunkan nilai emisi GRK sehingga siklus hidup produk lebih ramah terhadap lingkungan. Life Cycle Assessment (LCA) merupakan pendekatan yang digunakan dalam menentukan besarnya emisi GRK dari siklus hidup produk yang dihasilkan. Berdasarkan analisis, nilai emisi GRK untuk produk asap cair grade 3, asap cair grade 2, dan asap cair grade 1 berturut-turut yaitu sebesar 0.66 kg CO2-eq/L, 1.11 kg CO2-eq/L, dan 1.57 kg CO2-eq/L. Analisis energi menunjukkan bahwa nilai NEV sebesar 11.4 MJ/kg asap cair grade 1 dan nilai NER sebesar 1.5. Alternatif perbaikan yang dapat dilakukan antara lain mengunakan teknlogi HIDiC (reduksi 42%), mengganti supplier bahan baku yang lebih dekat dari lokasi pabrik (reduksi 9%), subtitusi bahan bakar bensin menjadi BBG (LNG) (reduksi 8%), dan subtitusi jenis kemasan botol gelas menjadi kemasan HDPE (reduksi 20%)
Kesiapan Karyawan terhadap Implementasi EBusiness di PT Indonesia Kendaraan Terminal.
PT Indonesia Kendaraan Terminal merupakan satu-satunya terminal
kendaraan di Indonesia yang bertujuan untuk mengimplementasikan bisnis
elektronik (e-business) dalam pekerjaannya. Kesiapan karyawan merupakan salah
satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengimplementasian e-business. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesiapan karyawan terhadap implementasi
e-business di PT Indonesia Kendaraan Terminal Jakarta dan penelitian prioritas
action plan dalam rangka menyukseskan implementasi e-business. Pengukuran
tingkat kesiapan digunakan metode analisis tabulasi silang dan analisis deskriptif
menggunakan metode sensus. Hasil dari pengukuran tingkat kesiapan karyawan
menunjukkan bahwa penguasaan teknologi telah mendukung untuk implementasi
e-business. Penelitian prirotas action plan menggunakan metode Analytical
Hierarchy Process menjelaskan prioritas tindakan paling utama yaitu perlunya
peningkatan fitur e-business dan integrasi sistem pada e-business
Manajemen pemanenan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Sungai Kupang, PT Sinar Kencana Inti Perkasa Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Kegiatan magang di Kebun Sungai Kupang Estate, PT Sinar Kencana Inti
Perkasa, Kotabaru, Kalimantan Selatan bertujuan melatih keterampilan dan
kemampuan dalam bidang perkebunan, serta memperoleh pengalaman kerja secara
langsung dengan mempelajari aspek teknis dan manajerial di lapangan. Hal yang
diamati dalam manajemen panen adalah sistem panen, kriteria panen, AKP,
kebutuhan tenaga panen, kehilangan hasil, mutu buah dan transportasi panen. Hasil
pengamatan menunjukkan bahwa efektifitas pelaksanaan panen mencapai 98.36%,
hasil tersebut sudah sesuai dengan standar. Sistem panen menggunakan DOL C1R1
yang terdiri dari dua orang karyawan panen dalam satu tim (cutter dan picker).
Aspek pemanenan yang perlu mendapat perhatian adalah kurang sadarnya pemanen
terhadap pentingnya penggunaan alat pelindung diri. Hasil pengamatan
menunjukkan bahwa manajemen panen ini cukup efektif meningkatkan mutu buah
dan kapasitas panen. Sementara upaya menekan kehilangan hasil dan pengawasan
di lapangan masih perlu ditingkatkan
Estimasi Produktivitas Sekunder Krustacea Kecil, Neosesarma sp. di Pulau Bintan, Kepulauan Riau.
Neosesarma sp. merupakan salah satu jenis Decapoda dan masuk dalam
famili Sesarmidae. Pengambilan contoh Neosesarma sp. menggunakan substrat
buatan yang telah dimodifikasi. Tujuan penelitian ini adalah mengestimasi
produktivitas sekunder dari Neosesarma sp. berdasarkan rasio produksi dan
biomassa. Penelitian dilakukan pada tiga stasiun di Pulau Bintan, Kepulauan Riau.
Penelitian pendahuluan dilakukan pada bulan Agustus 2018, dilanjutkan dengan
pengambilan contoh di bulan September, Oktober, dan November. Analisis
panjang dan bobot dilakukan di Laboratorium Biologi Mikro 1, Manajemen
Sumberdaya Perairan, Institut Pertanian Bogor. Analisis yang dilakukan adalah
sebaran frekuensi panjang, hubungan panjang bobot dan estimasi produktivitas
sekunder. Sebaran ukuran panjang Neosesarma sp. 1,2 sampai dengan 5,2 mm.
Neosesarma sp. jantan dan betina memiliki pola pertumbuhan alometrik negatif.
Produtivitas sekunder pada Stasiun 2 adalah yang tertinggi karena stasiun ini
berdekatan dengan habitat asli Neosesarma sp., yaitu ekosistem mangrove,
sedangkan produktivitas sekunder terendah pada Stasiun 3, yang terletak di dekat
ekosistem lamun
Pola Pemencaran dan Pengelolaan Hama Babi Hutan (Sus scrofa L.) di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh
Sektor pertanian yang meliputi tanaman pangan, perkebunan, perikanan,
peternakan, dan kehutanan memainkan peran penting dalam pembangunan
ekonomi suatu negara. Hama, penyakit, dan gulma merupakan beberapa kendala
yang dihadapi dalam usaha budi daya pertanian yang dapat menurunkan kualitas
dan kuantitas produk pertanian. Salah satu hama penting dalam tanaman
perkebunan adalah babi hutan (Sus scrofa L.). Penelitian ini bertujuan (1)
memelajari pola pemencaran babi hutan dengan mengamati jejak aktivitas seperti
jejak kaki, sarang, feses, kubangan, runway, rooting, dan kerusakan/serangan, (2)
menilai kerugian ekonomi akibat serangan babi hutan, (3) memelajari preferensi
umpan, (4) pengelolaan secara kimiawi dan mekanis, dan (5) pengelolaan babi
hutan dengan menggunakan perangkap hidup di Kecamatan Peulimbang dan
Peudada, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh.
Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer
yang dikumpulkan meliputi letak dan posisi kubangan, sarang, jejak kaki, feses,
runway, rooting, kerusakan/serangan, tingkat kerusakan tanaman, jumlah umpan
yang dimakan, perlakuan racun dan umpan berpancing yang dimakan, jumlah babi
hutan yang tertangkap, hasil wawancara, dan dokumentasi. Sementara itu, data
sekunder meliputi peta wilayah, data curah hujan, dan data pendukung lainnya yang
didapatkan dari dinas terkait. Rancangan percobaan yang digunakan adalah
rancangan acak kelompok (RAK) untuk perlakuan umpan yang meliputi perlakuan
ubi kayu, buah pisang, dan buah nangka dan perlakuan lokasi/desa yaitu Desa
Puuek, Jambo Dalam, Blang Beururu, dan Ara Bungong. Analisis data
menggunakan program Minitab v.16 for Windows 8. Nilai tengah masing-masing
perlakuan diuji lebih lanjut dengan uji Tukey pada taraf α = 5%.
Hasil penelitian menunjukkan pola pemencaran di Peulimbang di dominasi
penyebaran secara acak (random). Populasi babi hutan yang tinggi menyebabkan
kerugian hingga sebesar Rp5 000 000-Rp10 000 000. Pada pengujian preferensi
umpan di Kecamatan Peulimbang, babi hutan lebih menyukai umpan ubi kayu,
sedangkan di Kecamatan Peudada umpan nangka. Umpan nangka lebih banyak
dikonsumsi dibandingkan umpan ubi kayu. Pada pengujian kimiawi dan mekanis,
penggunaan umpan nangka untuk umpan beracun dan mata kail sangat baik dalam
pengelolaan babi hutan dibandingkan umpan lain. Jumlah konsumsi nangka di
Kecamatan Peudada lebih banyak dibandingkan dengan ubi kayu di Kecamatan
Peulimbang. Pada pengujian perangkap, jumlah tangkapan di Kecamatan
Peulimbang lebih banyak dibandingkan dengan Kecamatan Peudada
Tetraploidisasi Kejut Suhu Dingin pada Ikan Patin Siam (Pangasianodon hypophthalmus) dengan Suhu dan Umur Zigot yang Berbeda
Ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus) merupakan salah satu
komoditas ikan air tawar yang memiliki nilai prospektif dari segi pembenihan,
pembesaran, pengolahan serta luasnya wilayah produksi budidaya. Sentra usaha
ikan patin telah banyak dikembangkan di beberapa daerah di Indonesia
seperti Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat dan Jawa Barat.
Pengembangan budidaya ikan patin siam telah berhasil dilakukan,
namun ikan patin siam memiliki pertumbuhan yang relatif lambat. Sehingga
biaya operasional produksi menjadi tinggi sementara harga jualnya rendah,
yang mengakibatkan budidaya ikan patin tidak efisien.
Perbaikan mutu genetik melalui rekayasa set kromosom (poliploidisasi)
yaitu menghasilkan ikan triploid (3n) steril, diharapkan dapat mengatasi masalah
tersebut. Pada ikan triploid (3n) steril memungkinkan peralihan energi metabolisme
untuk perkembangan gonad digunakan untuk pertumbuhan somatik sehingga
pertumbuhannya lebih cepat. Produksi secara massal dapat dilakukan melalui
perkawinan ikan diploid (2n) dengan ikan tetraploid (4n). Ikan tetraploid dihasilkan
dengan proses pencegahan pembelahan mitosis pada telur yang telah terfertilisasi
dengan pemberian kejutan suhu, sehingga telur yang mempunyai dua set kromosom
(2n) akan mengalami penggandaan menjadi empat set kromosom (4n). Kejutan
suhu dapat dilakukan dengan kejutan dingin (cold shock). Penelitian ini bertujuan
untuk mengevaluasi kondisi optimum tetraploidisasi menggunakan kejutan dingin
pada suhu dan umur zigot berbeda pada ikan patin siam (Pangasianodon
hypophthalmus).
Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan enam perlakuan
dan lama kejutan selama 30 menit, yaitu (P1) suhu 8 oC umur zigot 29 (menit
setelah fertilisasi), (P2) suhu 8 oC umur zigot 31 (msf), (P3) suhu 12 oC umur
zigot 29 (msf), (P4) suhu 12 oC umur zigot 31 (msf), (P5) 16 oC umur zigot
29 (msf), (P6) suhu 16 oC umur zigot 31 (msf), dan satu kontrol (P0) tanpa
pemberian perlakuan kejutan suhu. Setiap perlakuan menggunakan tiga kali
ulangan.
Pemijahan ikan dilakukan dengan perangsangan hormonal menggunakan
hormon human chorionic gonadotropin (hCG) dan Ovaprim (sGnRH +
Domperidone) pada induk betina, sedangkan pada induk jantan menggunakan
Ovaprim. Telur dan sperma yang telah di stripping dicampur dan diaduk
menggunakan bulu ayam, setelah itu diaktivasi dengan menambahkan 100 mL air
mineral dan umur zigot mulai dihitung. Telur yang telah terfertilisasi dicuci
menggunakan suspensi tanah untuk menghilangkan daya rekat telur, kemudian telur
dimasukkan dalam pipa PVC untuk selanjutnya diberi kejutan suhu pada wadah
perlakuan. Wadah perlakuan yang digunakan yaitu styrofoam yang telah diisi air
dan suhu dingin diatur menggunakan es batu sesuai dengan masing-masing
perlakuan. Setelah perendaman telur diangkat dan diinkubasi dalam setiap
akuarium sebanyak ±1500 butir. Larva ikan hasil penetasan dipelihara selama 15
hari di dalam toples yang telah dicuci dan diisi air serta dilengkapi sistem aerasi,
dengan kepadatan 100 ekor/toples. Pakan yang diberikan berupa Artemia dan
cacing sutra sesuai dengan umur larva. Pergantian air media pemeliharaan
dilakukan saat larva umur 6 hari, sedangkan sisa-sisa pakan dibuang dengan cara
penyifonan dan pengamatan kualitas air dilakukan 2 kali sehari dengan parameter
suhu, pH dan oksigen terlarut.
Identifikasi tetraploid dilakukan dengan penghitungan jumlah maksimum
nukleolus yang dikonfirmasi dengan penghitungan jumlah kromosom dilakukan
pada 30 sampel untuk setiap perlakuan. Parameter penelitian yang diamati pada
penelitian ini adalah derajat pembuahan, derajat penetasan, abnormalitas,
kelangsungan hidup dan persentase tetraploid. Data hasil penelitian dianalisis
secara statistik dengan uji ANOVA (analysis of variance) dan menggunakan uji
Duncan, pada parameter derajat pembuahan dan persentase tetraploid dianalisis
secara deskriptif.
Hasil pengamatan derajat pembuahan diperoleh nilai rata-rata sebesar
65.20%. Berdasarkan hasil uji statistik derajat penetasan dan abnormalitas
menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0.05) antar perlakuan, namun
kelangsungan hidup tidak berbeda nyata (P>0.05) antar perlakuan. Hasil derajat
penetasan menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas suhu yang diberikan maka
hasil yang diperoleh semakin rendah, sedangkan hasil abnormalitas menunjukkan
bahwa semakin tinggi intensitas suhu yang diberikan maka persentase abnormalitas
semakin tinggi. Hasil pengamatan pada ikan tetraploid diperoleh jumlah maksimum
nukleolus yaitu empat per sel dan pada ikan diploid diperoleh jumlah maksimum
nukleolus yaitu dua per sel, sedangkan pada pengamatan kromosom diperoleh
jumlah kromosom tetraploid 112 (4n=112) dan jumlah kromosom diploid yaitu 56
(2n=56). Hasil pengamatan persentase tetraploid menunjukkan bahwa semakin
tinggi intensitas suhu yang diberikan maka persentase tetraploid yang diperoleh
semakin tinggi, sedangkan semakin lama umur zigot maka persentase tetraploid
yang diperoleh semakin rendah.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kondisi optimum tetraploidisasi
menggunakan kejutan dingin pada ikan patin siam yaitu pada suhu 12 oC, umur
zigot 29 msf dengan lama kejutan 30 menit menghasilkan ikan tetraploid 66.67%
Induksi Mutasi Fisik Pada Torbangun (Coleus amboinicus Lour.) untuk Meningkatkan Keragaman Kandungan Metabolit Sekunder
Torbangun atau Coleus amboinicus Lour merupakan tanaman herbal dari
famili Lamiaceae yang memiliki rasa pahit, getir dan aroma khas dari daunnya,
memiliki banyak cabang dan batang berair banyak (succulent). Tanaman ini
banyak digunakan sebagai tanaman obat dan dikonsumsi untuk meningkatkan
produksi ASI oleh masyarakat Batak, Sumatera Utara. Keragaman genetik tanaman
torbangun perlu ditingkatkan sebagai plasma nutfah unggul. Pemuliaan mutasi
dilakukan pada tanaman dapat meningkatkan keragaman genetik serta keragaman
kandungan metabolit sekunder. Keragaman kandungan metabolit sekunder dapat
menghasilkan tanaman unggul yang bermanfaat khususnya pada tanaman obat.
Tujuan dari penelitian ini untuk (1) mengamati radiosensivitas dan
menentukan LD50 planlet torbangun terhadap iradiasi sinar gamma, (2)
mengevaluasi keragaman genetik dan sifat morfologi planlet torbangun yang
ditimbulkan oleh iradiasi sinar gamma pada generasi MV2 hingga MV3, (3)
mengevaluasi kandungan metabolit sekunder pada mutan putatif hasil iradiasi
gamma, serta pendugaan senyawa penyebab rasa pahit, getir dan aroma tanaman
torbangun. Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap teracak
(RKLT) dengan tiga ulangan di laboratorium kultur jaringan, Institut Pertanian
Bogor. Terdiri dari 6 taraf dosis iradiasi 0, 10, 20, 30, 40, dan 50 Gray (Gy) dengan
iradiasi tunggal. Setiap satuan percobaan menggunakan 35 planlet, sehingga total
jumlah planlet yang digunakan sebanyak 630 planlet torbangun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan iradiasi gamma dapat
menghasilkan keragaman karakter kuantitatif dan kualitatif planlet torbangun, serta
menghasilkan keragaman metabolit sekunder. Keragaman karakter kuantitatif
tinggi meliputi tinggi planlet, jumlah daun, tunas dan akar, sedangkan karakter
kualitatif ditemukan perubahan warna pada daun menjadi ungu, variegata hijau
kuning dan albino. Hasil analisa nilai LD50 (Lethal Dose 50) planlet torbangun
sebesar 44 Gy. Keragaman genetik tinggi sekitar LD50 pada jumlah akar, tunas,
daun serta tinggi planlet. Hasil iradiasi sinar gamma dengan kultur in vitro juga
menghasilkan dua galur yang memiliki rasa pahit lebih rendah dibandingkan
kontrol yaitu Galur HT30.16 dan HT40.64, akan tetapi hanya HT30.16 yang
memiliki rasa pahit dan aroma lebih rendah dibandingkan kontrol. Rasa getir tidak
mengalami penurunan pada semua galur uji. Senyawa neophytadiene dan
stigmasterol memiliki korelasi dengan rasa pahit, getir, dan aroma pada tanaman
torbangun
Pengembangan Konstruksi Trammel Net
Hasil tangkapan trammel net terkonsentrasi pada posisi bawah jaring karena jaring
lapis dalamnya yang kendur menumpuk di permukaan dasar perairan. Upaya untuk
memperbaikinya dilakukan dengan mengurangi satu jaring lapis luar, membagi
kekenduran jaring menjadi dua bagian, dan mengubah jaring bagian atas dengan
satu lapis multifilament polyethylene (PE). Tujuannya agar jaring membentuk
kantong permanen dan memudahkan badan jaring membentuk kelengkungan. Uji
coba penangkapan dilakukan di Palabuhanratu pada bulan April 2018. Hasilnya
menunjukkan bahwa trammel net perlakuan menangkap organisme sebanyak 1.090
individu, atau 2,1 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan trammel net kontrol
(528 individu). Hasil analisis sidik ragam juga (ANOVA) RAL menunjukkan
bahwa trammel net perlakuan lebih unggul secara nyata dengan nilai Fhitung = 9,73
atau lebih besar dibandingkan dengan Ftabel = 4,06 pada taraf kepercayaan 95%
Respon Pertumbuhan Bibit Ylang-Ylang (Cananga odorata forma genuina) terhadap Pemberian Pupuk Daun
Ylang-ylang (Cananga odorata forma genuina) merupakan tanaman dengan
daya adaptasi tinggi namun produksi bibit ylang-ylang masih terbatas dan benih
yang dihasilkan juga tidak dapat disimpan lama. Salah satu teknik pemupukan
dalam skala besar untuk memacu pertumbuhan tanaman yaitu pemupukan dengan
pupuk daun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon bibit ylang-ylang
terhadap pemberian dua jenis pupuk daun yang berbeda pada dosis dan waktu
penyemprotan yang berbeda. Penelitian ini menggunakan pola faktorial dengan
tiga faktor dalam rancangan acak lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penggunaan jenis pupuk daun yang berbeda dengan dosis tertentu pada dua waktu
yang berbeda tidak menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Perlakuan 4 g/L
air pupuk daun Komersial A dan 6 g/L air pupuk daun Komersial B memberikan
pengaruh lebih baik terhadap pertumbuhan bibit ylang-ylang