31665 research outputs found
Sort by
Pengaruh Gaya Belajar terhadap Prestasi Mahasiswa Generasi Z Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB.
Generasi Z mendominasi di perguruan tinggi dan memiliki karakteristik
yang unik yaitu cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Perguruan
tinggi merupakan salah satu tempat pembelajaran untuk mempersiapkan
sumberdaya manusia yang berkualitas era revolusi industri 4.0. Penelitian ini
bertujuan untuk (1) mengidentifikasi karakteristik mahasiswa generasi Z (2)
menganalisis pengaruh gaya belajar terhadap prestasi mahasiswa generasi Z.
Responden pada penelitian ini adalah mahasiswa Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB angkatan 52-55. Metode pengambilan
sampel yaitu Nonprobability Sampling dengan teknik Purposive Sampling. Alat
analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan SEM-PLS menggunakan
Smart Pls 3.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden
merupakan bagian dari generasi Z berusia 18-22 tahun dan gaya belajar auditori
memengaruhi prestasi secara signifikan
Pemasaran Digital dalam Membangun Brand Awareness (Kasus: Bridestory).
Perkembangan dunia digital ini tak hanya dimanfaatkan untuk
berkomunikasi, namun juga untuk mengembangkan bisnis. Berbagai bisnis di
Indonesia memanfaatkan pemasaran digital sebagai salah satu metode pemasaran
baru. Salah satu bisnis tersebut adalah Bridestory. Bridestory melakukan kegiatan
pemasaran digital untuk meningkatkan brand awareness pada target pasarnya.
Adapun tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi strategi penerapan digital
marketing yang dilakukan Bridestory untuk membangun brand awareness, (2)
menganalisis tingkat brand awareness pada Bridestory, dan (3) merumuskan
solusi strategi pemasaran digital pada Bridestory. Penelitian ini menggunakan
pendekatan campuran dengan teknik bauran pemasaran 4C dan analisis piramida
brand awareness. Hasil dari penelitian yaitu mengetahui strategi pemasaran
digital Bridestory melalui internet marketing tools, yaitu Google dan Facebook,
tingkat brand awareness Bridestory yang belum efektif dan empat solusi
perbaikan yang berbeda-beda dengan atribut yang harus diperbaiki meliputi cocreation,
currency, communal activation dan conversation
Analisis Ekonomi dan Daya Dukung Kawasan Wisata Panorama Pabangbon (Studi Kasus: Desa Pabangbon, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor).
Deforestasi tertinggi terjadi di Indonesia pada kawasan hutan produksi
sebesar 200,7 ribu ha sehingga terdapat kebijakan untuk mengatasi permasalahan
tersebut yaitu alih fungsi hutan dari hutan produksi menjadi hutan lindung
(Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2018). Perubahan status hutan
menyebabkan penurunan pendapatan masyarakat. Trade off antara kepentingan
ekonomi dan ekologi dapat diatasi dengan cara pemanfaatan jasa lingkungan hutan
menjadi tempat rekreasi atau wisata, sehingga pada kawasan BKPH Jasinga,
Perhutani dan LMDH Tunas Karya mendirikan Wisata Panorama Pabangbon pada
tahun 2017. Pengembangan objek wisata yang tidak memperhatikan daya dukung
lingkungan akan menurunkan kualitas lingkungan sehingga menyebabkan wisata
menjadi unsustainable. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengidentifikasi
karakteristik Wisata Panorama Pabangbon, (2) Menganalisis kelayakan secara
ekonomi dari pengembangan wisata di Wisata Panorama Pabangbon, dan (3)
Mengestimasi daya dukung kawasan terhadap kegiatan wisata di Wisata Panorama
Pabangbon. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis
kelayakan ekonomi, dan analisis Daya Dukung Kawasan (DDK). Metode yang
digunakan dalam pengambilan sampel adalah non probabilty sampling. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa Wisata Panorama Pabangbon telah mengalami
perkembangan baik dalam segi tarif tiket masuk, fasilitas, maupun atraksi wisata,
sehingga wisata ini mampu memberikan manfaat sosial bagi masyarakat. Wisata
Panorama Pabangbon layak secara ekonomi untuk dikembangkan. Daya dukung
kawasan sebanyak 11.887 orang/hari dan berada dibawah ambang batas daya
dukung kawasan
Pengembangan Aplikasi Back-end REST API Sahabat Tutor untuk Bimbingan Belajar Mahasiswa PPKU IPB
Sejumlah 2 933 dari 3 727 mahasiswa Program Pendidikan Kompetensi Umum (PPKU) mendapatkan nilai indeks prestasi kumulatif dibawah 3.5. Sahabat Tutor hadir sebagai layanan bimbingan belajar yang mempermudah PPKU dalam pemesanan bimbingan belajar sesuai materi, waktu, dan tempat yang diinginkan. Pengembangan Sahabat Tutor dikerjakan dengan pembagian aplikasi android, aplikasi situs web, dan aplikasi back-end. Penelitian ini fokus pada bagian aplikasi back-end. Metode pada penelitian ini menggunakan metode prototyping yang terdiri dari dua iterasi dan pada setiap iterasi tersebut mempunyai lima tahapan. Tahap pertama menghasilkan sebanyak 19 user story dengan empat actors. Pada tahap kedua menghasilkan 16 use case. Tahap ketiga menghasilkan 10 class pada class diagram. Tahap keempat dilakukan implementasi Representational State Transfer Application Progamming Interfaces (REST API) menggunakan NodeJs dan basis data menggunakan MongoDb. Tahap terakhir merupakan tahap meletakkan kode programdi server dan meminta feedback kepada tim pengembang dan klien. Feedback yang diterima dari tim pengembang dan klien sudah sesuai setelah melakukan dua iterasi. Aplikasi back-end REST API telah berhasil dikembangkan dan diintegrasi dengan aplikasi android dan aplikasi situs web
Faktor-faktor Rumah Tangga yang Mencirikan Tingkat Kerawanan Pangan.
Kerawanan pangan masih menjadi masalah krusial di Indonesia. Dalam
Indeks Kelaparan Global 2017, Indonesia meraih peringkat ke-72 dari 119 negara.
Pada 2017, untuk pertama kali Survei Sosial Ekonomi Nasional mengadopsi
pertanyaan Food Insecurity Experience Scale (FIES). Menggunakan FIES,
penelitian ini mengkaji prevalensi kerawanan pangan dan peubah-peubah rumah
tangga (RT) dengan memanfaatkan metode klasifikasi baru untuk data ordinal,
ordinal forest (OF). OF yang dikenalkan pada 2017 akan dibandingkan dengan
metode klasifikasi yang umum digunakan untuk data ordinal, yaitu regresi logistik
ordinal (RLO).
Tujuan dari penelitian ini adalah (i) mengukur kekuatan asosisasi sejumlah
peubah rumah tangga dengan tingkat kerawanan pangan, (ii) membandingkan
mutu klasifikasi OF dan RLO dalam mengklasifikasikan rumah tangga menurut
tingkat kerawanan pangan dan menentukan peubah-peubah yang nyata atau
penting, (iii) menentukan faktor-faktor rumah tangga yang dapat mencirikan
tingkat kerawanan pangan.
Hasil Cramer’s V dan Kendall’s tau-c menunjukkan bahwa peubah yang
berkaitan dengan penanggulangan kemiskinan (penerimaan Kartu Perlindungan
Sosial [KPS] dan beras miskin [raskin]) merupakan peubah dengan asosiasi kuat.
Asosiasi yang kuat juga ditunjukkan oleh peubah yang berkaitan dengan
pendapatan (banyaknya pemilik rekening tabungan dan persentase pengeluaran
untuk makanan) serta peubah pendidikan kepala rumah tangga (KRT). Status
kerja KRT, ukuran RT, dan umur KRT ditemukan memiliki asosiasi yang sangat
lemah.
Dalam hal klasifikasi RT ke dalam kategori FIES, OF mencatat kinerja
lebih baik daripada RLO. Kinerja RLO buruk karena data didapati tidak seimbang
dan RLO terlalu mengutamakan kelas mayoritas. Setelah data diseimbangkan
dengan Synthetic Minority Oversampling Technique (SMOTE) dan random
undersampling, akurasi seimbang OF dan RLO menjadi tidak jauh berbeda, tetapi
OF memiliki nilai kappa terbobot linear yang relatif lebih tinggi daripada RLO.
OF yang diterapkan pada data hasil SMOTE mencatat kinerja terbaik. Lima
peubah terpenting hasil metode terbaik secara berurutan adalah penerimaan KPS,
banyaknya ART dengan rekening tabungan, persentase pengeluaran untuk
makanan, pendidikan KRT, dan penerimaan raskin.
Analisis korespondensi berganda mendapati bahwa faktor-faktor utama
yang mencirikan rumah tangga rawan pangan adalah menerima KPS, tidak
menabung di lembaga keuangan, membelanjakan lebih dari 60% pengeluaran
untuk kebutuhan makanan, memiliki KRT yang tidak/belum pernah sekolah atau
maksimal hanya tamat SD, dan menerima raskin
Formulasi dan Analisis Kandungan 2-Karoten Biskuit Stik Tepung Komposit Labu Kuning dan Galohgor untuk Ibu Menyusui
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan formula biskuit stik
tepung komposit labu kuning (Cucurbita moschata) dan galohgor. Rancangan
percobaan pada penelitian ini yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan
empat taraf penambahan galohgor, yaitu F0 (0 g), F1 (2 g), F2 (4 g), dan F3 (8 g).
Biskuit stik formula terpilih (F1) mempunyai tingkat daya terima terhadap atribut
warna, aroma, tekstur, dan rasa masing-masing sebesar 92.1%, 86.8%, 89.5%, dan
89.5%. Produk terpilih (F1) mengandung 3.8%bb air, 2.8%bb abu, 9.1%bb
protein, 27.3%bb lemak, 1.6%bb serat kasar, 57.0%bb karbohidrat, dan 171.0
mcg/100 g 2-karoten. Biskuit stik formula teripilih (F1) sebanyak 40 gram/takaran
saji mengandung 204 kcal energi, 3.6 g protein, 10.9 g lemak, 22.8 g karbohidrat,
68.4 mcg 2-karoten, dan 5.7 Retinol Activity Equivalent (RAE) vitamin A serta
dapat menyumbang 7.9% energi dari AKG ibu menyusui usia 19-29 tahun, dan
8.2% energi dari AKG ibu menyusui usia 30-49 tahun
Variasi Gen Cytochrome C Oxidase 1 (COX1), Cytochrome C Oxidase 2 (COX2) dan Intergenic Spacer (IGS COX1/COX2) DNA Mitokondria Apis cerana asal Jawa dan Sumatra
Apis cerana (Hymenoptera: Apidae) merupakan spesies lebah madu yang distribusinya luas di Asia dan memiliki diversitas yang tinggi. DNA mitokondria (mtDNA) dapat digunakan untuk menganalisis variasi pada A. cerana karena memiliki laju mutasi yang tinggi. Penelitian mengenai variasi genetik A. cerana di Indonesia yang telah dilakukan adalah pada intergenic spacer (IGS) gen cytochrome c oxidase subunit 1 (COX1)/ cytochrome c oxidase subunit 2 (COX2), COX1 dan COX2. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis variasi genetik A. cerana asal Jawa dan Sumatra menggunakan gen COX1, gen COX2, dan IGS COX1/COX2. Ekstraksi, amplifikasi, dan DNA sequencing A. cerana dilakukan untuk 5 koloni lebah Sumatra (Jambi, Belitung) dan Jawa (Banten, Bogor, Sukabumi) yang dilanjutkan dengan analisis bioinformatik dan filogenetik. Hasil penelitian menunjukkan ketiga gen memiliki rata-rata nukleotida Adenin dan Timin sebesar 82%. Tiga haplotipe baru asal Indonesia ditemukan pada penelitian ini masing-masing berdasarkan COX1, IGS COX1/COX2 dan COX2. Gen COX1 dan COX2 mampu menunjukkan variasi nukleotida yang membedakan COX1 berdasarkan lokasi lebah. Variasi nukleotida ini didukung dengan analisis filogeni yang menunjukkan gen COX1 dan gen COX2 dapat memperlihatkan pola distribusi lokasi A. cerana di pulau yang berbeda, sedangkan IGS COX1/ COX2 tidak dapat menunjukkan pengelompokkan berdasarkan lokasi
Model Kebijakan Aksesibilitas Angkutan Umum yang Berkelanjutan di Kota Sukabumi.
Studi tentang teknik, strategi, kebijakan, serta rencana aksi guna
pengembangan angkutan umum khususnya aksesibilitas angkutan umum telah
banyak dilakukan, namun hingga saat ini kondisi angkutan umum khususnya
angkutan perkotaan masih banyak menghadapi permasalahan yang sampai saat ini
belum terselesaikan. Kondisi pelayanan yang dapat dilihat dari karakteristik
operasional masih menunjukkan kinerja yang kurang baik. Tingkat operasi,
frekuensi, usia kendaraan, kecepatan masih dibawah standar minimal.
Pengembangan aksesibilitas angkutan umum tentunya harus mempertimbangkan
tingkat keberlanjutannya, bukan saja aspek ekonomi yang menjadi bahan
pertimbangan, namun aspek sosial, aspek lingkungan, dan aspek kelembagaan dan
hukum juga perlu dipertimbangkan. Pengembangan aksesibilitas angkutan umum
merupakan kepentingan yang dirasakan oleh berbagai pihak, seperti: masyarakat
sebagai pengguna, operator angkutan, dan pemerintah sebagai regulator, sehingga
diperlukan suatu model kebijakan aksesibilitas angkutan umum secara menyeluruh
dan dinamis dengan mempertimbangkan berbagai dimensi pembangunan
berkelanjutan.
Tujuan utama penelitian ini adalah merumuskan kebijakan aksesibilitas
angkutan umum yang berkelanjutan, dengan 4 (empat) tujuan khusus. Tujuan
pertama menganalisis status keberlanjutan aksesibilitas angkutan umum dengan
menggunakan kriteria dan indikator aksesibilitas transportasi berkelanjutan, tujuan
kedua merumuskan aksi-aksi kegiatan prioritas aksesibilitas angkutan umum di
Kota Sukabumi, tujuan ketiga merancang model kebijakan aksesibilitas angkutan
umum dengan sistem dinamis dan tujuan keempat menyusun arahan kebijakan
peningkatan aksesibilitas angkutan umum yang berkelanjutan.
Penelitian ini mengambil studi kasus di Kota Sukabumi, yang merupakan
salah satu kota dengan pertumbuhan yang cukup pesat di Provinsi Jawa Barat.
Lingkup penelitian aksesibilitas angkutan umum yang diamati dibatasi pada
aksesibilitas angkutan umum. Penelitian dilaksanakan selama 30 bulan (September
2016 sampai dengan Maret 2019). Alat yang digunakan antara lain: komputer,
kuesioner, Microsoft Excel 2016, Expert Choice 2000, Super Decisions dan
Powersym Studio 2005.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan
pendekatan kesisteman dengan menggunakan metode analisis Multi Dimensional
Scalling (MDS) yang terdiri dari aplikasi Rapfish (Rapid Apraisal for Fisheries)
dan Pairwise Comparison Analysis (PCA). Teknik pengambilan sampel
menggunakan metode expert survey dengan melakukan wawancara mendalam (indepth
interview) kepada 15 responden yang telah ditentukan secara sengaja
(purposive sampling). Focus Group Discussion (FGD) dilakukan di Kota Bekasi
dan Kota Sukabumi sebanyak 2 (dua) kali yaitu Bulan Januari 2017 dan Agustus
2017.
v
Hasil FGD menghasilkan 4 (empat) kriteria dan 19 indikator aksesibilitas
angkutan umum berkelanjutan. Indikator aksesibilitas tersebut digunakan untuk
mengukur status keberlanjutan aksesibilitas angkutan umum Kota Sukabumi. Hasil
analisis status keberlanjutan aksesibilitas angkutan umum di wilayah penelitian
dengan menggunakan MDS adalah termasuk kategori kurang berkelanjutan dengan
nilai indeks multikriteria sebesar 49,07. Nilai indeks multikriteria adalah rata-rata
dari 4 kriteria yaitu ekonomi (nilai indeks 46,14), sosial (nilai indeks 23,58),
lingkungan (nilai indeks 82,95), serta kelembagaan dan hukum (nilai indeks 43,61).
Kriteria sosial memiliki nilai indeks keberlanjutan yang paling rendah atau tidak
berkelanjutan, sedangkan kriteria lainnya yaitu kriteria ekonomi serta kelembagaan
dan hukum masuk kategori kurang berkelanjutan. Kriteria lingkungan termasuk
satu-satunya kriteria dengan status indeks keberlanjutan baik. Hasil analisis dengan
Rapfish mengidentifikasi 19 indikator kunci untuk pengembangan aksesibilitas
angkutan umum berkelanjutan berdasarkan penilaian stakeholders.
Identifikasi terhadap 19 indikator kunci keberlanjutan tersebut untuk masingmasing
kriteria kemudian dijabarkan dalam sub-sub kriteria dan masing-masing sub
kriteria diuraikan kedalam aksi kegiatan priorits guna meningkatkan indeks tingkat
keberlanjutan masing-masing kriteria. Analisis dengan menggunakan pairwise
comparison akan diketahui kegiatan-kegiatan yang wajib dilaksanakan
sebagaimana bobot masing-masing kegiatan.
Perancangan model dinamik pengembangan aksesibilitas angkutan umum
berkelanjutan kota menggunakan simulasi 20 tahun. Model dinamik pengembangan
aksesibilitas angkutan umum berkelanjutan terdiri dari 5 (lima) sub model yaitu:
sub model biaya operasi kendaraan, sub model tarif angkutan umum, sub model
jumlah penduduk orang dewasa, sub model tingkat penggunaan angkutan umum,
dan sub model konsumsi bahan bakar. Nilai indeks keberlanjutan tersebut dapat
ditingkatkan sejalan dengan program atau aksi yang akan pemerintah lakukan untuk
peningkatan keberlanjutan aksesibilitas angkutan umum. Peningkatan nilai indeks
keberlanjutan sejalan dengan simulasi model dilakukan untuk 4 (empat) skenario,
yaitu: skenario do nothing, pesimis, moderat, dan optimis. Beberapa parameter
model yang dintervensi adalah peningkatan persentase orang menggunakan
angkutan umum, faktor muat kendaraan, kapasitas angkut kendaraan, kecepatan
lalu lintas, dan frekuansi angkutan umum. Skenario terpilih adalah skenario optimis
dengan berbagai intervensi kebijakan yang sangat mungkin dilaksanakan.
Arah kebijakan prioritas pengembangan aksesibilitas angkutan umum
berkelanjutan adalah: kebijakan bidang ekonomi melalui optimalisasi biaya operasi
kendaraan melalui subsidi bahan bakar minyak untuk angkutan umum dan juga
subsidi suku cadang angkutan umum. Sedangkan kebijakan bidang sosial lebih
menitikberatkan peningkatan jumlah pengguna angkutan umum melalui
peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan angkutan umum dengan menerapkan
Standar Pelayanan Minimal pengelolaan angkutan umum
Evaluasi Kualitas Berbagai Jenis Pakan dan Efisiensi Bentuk Pakan untuk Transportasi Laut
Penggunaan rumput kering ataupun hay jerami padi selama trasportasi ternak melalui jalur laut adalah hal yang tidak mungkin, karena kualitas nutrisi yang rendah dan dapat menurunkan berat badan ternak. Hay jerami padi memiliki nilai keaambaan yang tinggi, sehingga efisiensinya rendah. Penambahan konsentrat dan pemilihan jenis serta bentuk pakan yang tepat sangat diperlukan untuk meningkatkan penyimpanan selama transportasi laut. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap, rancangan acak kelompok, dan independent t test dengan 5 ulangan. Penelitian ini menggunakan dua tahap penelitian, tahap pertama adalah perbedaan berbagai jenis pakan (A): hay jerami padi (A0), pelet Australia (A1), dan pakan formulasi (A2) untuk mengukur kualitas fisik, kimia, dan biologis pakan. Tahap kedua yaitu perbedaan berbagai bentuk pakan dari pakan Australia dan pakan formulasi: mash (B1), pelet (B2), dan wafer (B3) untuk menentukan kualitas fisik, palatabilitas, dan peningkatan efisiensi penyipanan pakan. Penelitian tahap pertama menunjukan bahwa kandungan nutrisi pada pakan formulasi adalah yang terbaik dibandingkan jenis pakan lainnya, dapat dilihat dari protein, energi, dan kecernaannya, sedangkan pemberian hay jerami padi sebagai pakan tunggal adalah hal yang tidak mungkin karena kualitas nutrisi serta kecernaan yang rendah. Pakan B2 secara fisik adalah yang terbaik dapat dilihat dari berat jenisnya yang tinggi, sehingga dapat meningkatkan efisiensi penyimpanan sampai 91.79%. Pakan B3 berupa wafer lebih disukai oleh ternak. Kesimpulannya pakan formulasi bentuk pelet dapat meningkatkan kualitas dan efisiensi penyimpanan selama transportasi ternak di laut
Pengaruh Pemupukan P dan Populasi Jagung terhadap Tumpang Sari Kedelai dan Jagung pada Budidaya Jenuh Air di Lahan Pasang
Kedelai dan jagung merupakan tanaman pangan utama di Indonesia setelah padi. Saat ini untuk memenuhi kebutuhan kedelai dan jagung nasional sebagian besar diperoleh melalui impor. Hal tersebut karena masih rendahnya produktivitas kedelai dan jagung di Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain seperti Amerika Serikat dan Cina. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas jagung dan kedelai adalah dengan pengaturan populasi tanaman dan pemupukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemupukan P dan populasi jagung terhadap tumpang sari kedelai dan jagung di lahan pasang surut. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai Agustus 2019 di Desa Karyabakti, Kecamatan Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. Tipe lahan pasang surut yang digunakan adalah tipe B. Penelitian dilakukan dengan menggunakan dua faktor yaitu pemupukan P (0 kg P2O5 ha-1, 46 kg P2O5 ha-1, 92 kg P2O5 ha-1, 138 kg P2O5 ha-1) dan populasi jagung (50,000, 63,000 dan 73,000 tanaman ha-1). Sistem tumpang sari menunjukkan hasil tertinggi pada populasi jagung 63,000 tanaman ha-1 dengan dosis pemupukan P 46 kg P2O5 ha-1. Nisbah kesetaraan lahan tertinggi 2.3 menunjukkan sistem tumpang sari 130% lebih efektif dibandingkan dengan menanam secara monokultur