31665 research outputs found
Sort by
Analisis Perilaku Ekonomi Masyarakat dan Alternatif Pengelolaan Sampah Pemukiman (Studi Kasus: Pemukiman Desa Lawangrejo, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah).
Pertambahan jumlah penduduk secara langsung dapat mengakibatkan
peningkatan jumlah timbulan sampah. Meningkatnya jumlah timbulan sampah
akan menimbulkan eksternalitas negatif apabila tidak dilakukan pengelolaan
dengan baik. Salah satu daerah yang menghadapi permasalahan sampah yaitu Desa
Lawangrejo, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Sebelum adanya sistem kumpulangkut-
buang sampah pada bulan Februari 2019, masyarakat Desa Lawangrejo
membuang sampah di tempat pembuangan, sungai atau membakarnya di halaman
rumah. Selain berpotensi menimbulkan eksternalitas negatif, sampah juga dapat
menghasilkan nilai ekonomi apabila dilakukan pengelolaan dengan baik. Namun,
untuk memperoleh nilai tersebut tidak hanya cukup dengan sistem kumpul-angkutbuang.
Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis perilaku masyarakat dalam
menangani sampah dan faktor-faktor yang memengaruhinya, (2) mengestimasi
potensi timbulan sampah yang dihasilkan dari pembuangan sampah rumah tangga,
(3) mengestimasi nilai ekonomi sampah yang dihasilkan dari timbulan sampah
rumah tangga, dan (4) menganalisis alternatif pengelolaan sampah pemukiman
yang dapat dilakukan oleh Desa Lawangrejo. Metode analisis yang digunakan yaitu
metode analisis deskriptif, regresi logistik biner, dan Multi Criteria Decision
Analisis (MCDA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perubahan
perilaku masyarakat yang semula membuang sampah di sungai atau membakarnya
di halaman rumah menjadi ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Namun,
sebagian besar masyarakat belum melakukan pemilahan sampah. Faktor-faktor
yang signifikan memengaruhi perilaku masyarakat dalam menangani sampah yaitu
usia, lama pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, dan lama jam bekerja. Potensi
timbulan sampah yang dihasilkan yaitu 612,32 ton/tahun dengan potensi nilai
ekonomi sebesar Rp67.032.022/tahun. Alternatif pengelolaan sampah pemukiman
yang dapat dilakukan Desa Lawangrejo yaitu pengelolaan sampah anorganik dan
organik melalui bank sampah
Pengaruh Pola Asuh Emosi Orangtua dan Kontrol Diri Remaja terhadap Perilaku Bermain Game Online Remaja Laki-laki dan Perempuan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pola asuh emosi orangtua dan kontrol diri remaja terhadap perilaku bermain game online pada anak remaja. Penelitian ini melibatkan 60 responden sebagai sampel berusia 16-18 tahun dari SMK Negeri di Kota Bekasi. Pemilihan sekolah dilakukan secara purposive sedangkan pemilihan contoh dilakukan secara non-proportional random sampling. Data dikumpulkan dengan teknik self-report menggunakan kuesioner. Terdapat perbedaan jenis kelamin pada kontrol diri remaja, remaja perempuan memiliki kontrol diri lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Pada perilaku bermain game online, remaja laki-laki memiliki perilaku bermain game online yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Hasil uji korelasi menemukan adanya hubungan antara jenis kelamin remaja, pendidikan ibu, dan kontrol diri remaja, dengan perilaku bermain game online pada remaja. Terdapat pengaruh secara langsung oleh kontrol diri remaja dan secara tidak langsung oleh pola asuh emosi melalui kontrol diri terhadap perilaku bermain game online
Evaluasi Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Gunung Sejahtera PT Pertiwi Agro Sejahtera Landak, Kalimantan Barat.
Kegiatan magang dilaksanakan di Kebun Gunung Sejahtera PT Pertiwi Agro Sejahtera, Landak, Kalimantan Barat pada tanggal 13 Februari 2019 hingga 15 Mei 2019. Kegiatan magang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan pengalaman kerja secara nyata dalam aspek budidaya tanaman kelapa sawit baik secara teknis di lapangan maupun aspek manajerial. Tujuan khusus kegiatan magang ialah mempelajari dan mengevaluasi kegiatan pemupukan pada tanaman kelapa sawit berdasarkan efektivitas pemupukan yang terdapat di Divisi I PT PAS. Metode yang dilaksanakan selama kegiatan magang yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif dengan metode analisis deskriptif, rata-rata, dan uji t-student menggunakan Minitab 16. Pengamatan dilakukan terhadap efektivitas pemupukan meliputi kaidah 6T (tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara, tepat tempat, dan tepat alat), prestasi kerja, dan gejala defisiensi hara. Hasil pengamatan gejala defisiensi unsur hara secara visual menunjukkan tanaman kelapa sawit masih mengalami kekurangan unsur Magnesium, Kalium, Boron, dan Nitrogen
Identifikasi dan Analisis Ekspresi Gen Lisozim pada Ikan Lele Dumbo Clarias gariepinus yang Diinfeksi Aeromonas hydrophila
Lisozim adalah enzim anti-mikroba yang memiliki peran penting dalam sistem imun. Lisozim mengkatalis proses hidrolisis ikatan β-(1,4)-glycosidic yang merupakan bagian dari penyusun dinding sel bakteri. Sistem ini menjadi salah satu bentuk respons awal ikan terhadap serangan bakteri patogen. Secara umum, lisozim ditemukan dalam bentuk tipe-c dan tipe-g pada ikan. Namun, belum ada laporan mengenai sekuens gen dan analisis ekspresi dari lisozim tipe-c (CgLysC) dan tipe-g (CgLysG) pada ikan lele dumbo. Selain informasi sekuens gen, informasi terkait ekspresi gen juga penting untuk diketahui dan dievaluasi. Sebaran ekspresi gen pada berbagai jaringan akan membantu evaluasi fungsi dan distribusi gen pada spesies terkait. Respons imun juga dapat dievaluasi pascainfeksi bakteri dengan melihat pola ekspresi gen pada rentang waktu tertentu. Sebagai tambahan, informasi terkait studi ontogenetik pada perkembangan awal larva akan membantu peneliti untuk mengetahui perkembangan sistem imun ikan pada berbagai stadia ikan. Informasi-informasi tersebut menjadi penting untuk diketahui sebagai usaha manajemen penyakit pada ikan lele. Berdasarkan kepentingan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sekuens CgLysC dan CgLysG, menganalisis ekspresi kedua gen lisozim tersebut di berbagai jaringan ikan dan pascauji tantang bakteri Aeromonas hydrophila, serta menganalisis profil ontogenetik gen pada berbagai stadia ikan.
Identifikasi gen dilakukan dengan metode polymerase chain reaction (PCR) dilanjutkan dengan kloning gen dan sekuensing. Analisis ekspresi gen dilakukan dengan metode realtime-PCR (qPCR) pada berbagai jaringan ikan sehat, serta pascauji tantang bakteri A. hydrophila. Analisis ontogenetik dilakukan dari telur yang belum dibuahi hingga larva 10 hari pascatetas. Hasil penelitian berhasil mengidentifikasi sekuens CgLysC sepanjang 594 pasang basa yang terdiri dari 387 coding region yang mentranslasikan 129 asam amino dan CgLysG sepanjang 608 pasang basa yang terdiri dari 383 coding region dan mentranslasikan 119 asam amino. Struktur asam amino kedua gen memiliki homologi dan kedekatan evolusi yang tinggi dengan spesies ikan yang lain. Ekspresi CgLysC dan CgLysG terdistribusi diseluruh jaringan uji dengan ekspresi tertinggi pada jaringan imun seperti ginjal depan dan limpa. Pascauji tantang, ekspresi kedua gen termodulasi pada seluruh jaringan uji dengan peningkatan tertinggi berada 12 jam pascauji tantang, menunjukkan peranan penting lisozim bagi respons imun anti-bakteri pada ikan lele dumbo. Profil ontogenetik menunjukkan kedua gen bersifat maternal, ditransmisikan dari induk ke anak. Ekspresi mRNA lisozim pada larva meningkat mulai dari hari kelima pascatetas. Diduga gen lisozim ikan lele mulai stabil terekspresi dan siap memberikan perlindungan bagi ikan sebagai innate immunity mulai dari hari kelima hingga kesepuluh pascatetas
Optimasi Sintesis Bioplastik dari Protein Sorgum dan Nanosilika untuk Aplikasi Pengemas Pangan
Bioplastik merupakan plastik ramah lingkungan yang tersusun dari senyawasenyawa
organik. Bioplastik memiliki waktu degradasi yang lebih cepat
dibandingkan plastik konvensional. Kecepatan bioplastik terdegradasi dapat
dijadikan solusi dari permasalahan lingkungan yang ditimbulkan oleh penggunaan
plastik konvensional. Bioplastik yang diaplikasikan sebagai pengemas pangan
harus memiliki kualitas atau performa yang baik dalam melindungi pangan.
Parameter yang biasa diteliti untuk melihat performa bioplastik meliputi ketebalan,
kuat tarik, elongasi dan WVTR. Bioplastik dengan performa yang baik didapatkan
dari komposisi yang optimal. Pada penelitian ini bahan utama penyusun bioplastik
adalah protein, sorbitol dan nanosilika. Sorbitol berperan dalam meningkatkan daya
elastis film bioplastik. Nanosilika berperan dalam meningkatkan kuat tarik film
bioplastik.
Salah satu cara untuk mendapatkan komposisi yang optimal adalah
menggunakan rancangan I-optimal yang berfokus pada ketepatan prediksi.
Berdasarkan rancangan I-optimal, rancangan percobaan yang didapatkan sebanyak
15 rancangan. Variabel independen yang digunakan pada rancangan I-optimal
meliputi volume protein, konsentrasi sorbitol, dan konsentrasi nanosilika. Pada
penelitian ini, bioplastik disintesis dalam bentuk film atau lembaran. Film
bioplastik yang berhasil dicetak hanya 12 dari 15 formula. Film bioplastik yang
berhasil dicetak memiliki warna kecokelatan dan transparan. Komposisi bahan
penyusun berpengaruh pada warna dan keberhasilan film bioplastik untuk dicetak.
Film bioplastik dengan komposisi rancangan I-optimal memiliki performa yang
lebih baik dibandingkan komposisi pada penelitian sebelumnya. Film bioplastik
optimal didapatkan pada komposisi 50 ml volume protein, 4 % konsentrasi sorbitol
dan 1.25 % konsentrasi nanosilika. Parameter ketebalan dari komposisi tersebut
memiliki nilai 0.20 mm, kuat tarik mencapai 0.513 N/mm2, elongasi mencapai
18.552 % dan WVTR mencapai 1.954 g/m2/jam.
Berdasarkan nilai jumlah kuadrat desain I-optimal variabel independen yang
memberikan pengaruh terbesar terhadap ketebalan, elongasi dan WVTR film
bioplastik adalah protein. Berdasarkan nilai jumlah kuadrat desain I-optimal
variabel independen yang memberikan pengaruh terbesar terhadap kuat tarik adalah
sorbitol. Citra SEM menunjukan adanya granula pada permukaan film. Adanya
granula menunjukan bahwa film memiliki permukaan yang kasar. Berdasarkan
hasil karakterisasi FTIR, gugus baru tidak ditemukan pada pola spektra FTIR. Hal
ini menunjukan bahwa pencampuran bahan penyusun terjadi secara pencampuran
fisik
Pengembangan Produk Bee Pollen Snack Bar untuk Anak Usia Sekolah
Pollen atau serbuk sari merupakan alat penyebaran dan perbanyakan dari
generatif tanaman berbunga. Bee pollen yang merupakan kumpulan serbuk sari
tanaman yang bercampur dengan nektar, air liur dan senyawa fermentasi pada
pintu masuk sarang lebah. Umumnya produk hasil lebah yang seringkali terdengar
manfaatnya bagi kesehatan adalah madu dan propolis (Nakajima, 2009), padahal
bee pollen juga termasuk produk lebah yang kaya manfaat (Campos, 2008). Bee
pollen merupakan sumber makanan bagi para lebah pekerja, oleh karena itu
komposisi bee pollen sangat kaya zat gizi (Dong et al. 2014). Bee pollen telah
terbukti tidak mengandung zat yang berbahaya sebagai bahan makanan (Estevinho
et al. 2011).
Potensi bee pollen sebagai makanan yang dapat menunjang kesehatan dan
gizi, terutama gizi anak-anak karena mengandung asam amino yang tinggi. Anakanak
membutuhkan banyak energi untuk aktivitasnya, peran camilan sangat
penting dalam memberikan kontribusi energi pada kebutuhan harian anak (Candra
et al. 2013). Salah satu jenis camilan dengan kandungan padat energi adalah snack
bar (Rachmawati et al. 2017). Snack bar yang memiliki sebutan lain yaitu energy
bar atau protein bar merupakan sejenis camilan yang padat energi atau protein
yang merupakan campuran dari berbagai bahan makanan yang dipadatkan dalam
bentuk batang, umumnya adalah bahan makanan yang digunakan adalah kacangkacangan,
buah-buahan dan sereal.
Anak-anak seringkali mengonsumsi camilan atau jajanan yang tidak sehat
(Husby et al. 2009). Keberadaan camilan yang sehat sangat diperlukan untuk
membantu anak-anak dalam membuat pilihan jajanan yang lebih baik. Hal ini
didukung oleh pernyataan World Health Organization yang menyarankan industri
makanan untuk lebih banyak mengembangkan makanan yang sehat dan
terjangkau bagi konsumen (WHO 2004). Pengembangan produk bee pollen snack
bar merupakan suatu langkah yang tepat sebagai alternatif camilan anak sekolah
sehat yang dapat meningkatkan asupan gizi, imunitas dan berpotensi dalam
meningkatkan performa belajar anak.
Tujuan umum dari penelitian ini adalah melakukan pengembangan bee
pollen snack bar untuk anak usia sekolah. Tujuan khusus penelitian ini adalah 1)
membuat formulasi bee pollen snack bar, 2) melakukan uji organoleptik yang
meliputi uji hedonik dan mutu hedonik dari bee pollen snack bar, 3) menganalisis
kandungan gizi, ketersediaan mineral Fe dan Zn dan komposisi asam amino bee
pollen snack bar, 4) mengetahui daya terima anak usia sekolah terhadap bee
pollen snack bar, 5) menghitung kontribusi zat gizi per takaran saji dan estimasi
harga produk.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian Experimental dengan
menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor perlakuan adalah
penambahan bee pollen pada lima formula yaitu F0, F1, F2, F3 dan F4. Penentuan
taraf penambahan bee pollen dilakukan berdasarkan pertimbangan trial and error
yang dilakukan sebelum penetapan formula. Lima formula diuji daya terimanya
pada uji organoleptik. Terdapat lima formula yang merupakan F0 (kontrol) yaitu
formula snack bar tanpa penambahan bee pollen, F1 yaitu formula dengan
penambahan bee pollen sebesar 3%, F2 merupakan formula dengan penambahan
5% bee pollen, F3 merupakan formula dengan penambahan 10% bee pollen dan
F4 adalah formula dengan penambahan 15% bee pollen. Uji organoneptik
dilakukan pada 30 panelis semi terlatih untuk menentukan formula terpilih dan
kesan panelis terhadap produk. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan
Microsoft Excel 2010 dan SPSS 16.0 for Windows. Analisis ini diperuntukan
untuk mengetahui pengaruh perlakukan dan tingkat kesukaan panelis terhadap
formula produk. Data hasil organoleptik dianalisis dengan menggunakan uji
Kruskal Wallis yang dilanjutkan dengan melakukan uji beda menggunakan
prosedur Dunn.
Uji organoleptik yang dilakukan adalah uji hedonik dan uji mutu hedonik.
Formula terpilih dari hasil uji organoleptik adalah formula F2 yang merupakan
formula snack bar dengan penambahan 5 % bee pollen, akan tetapi penambahan
5 % bee pollen pada snack bar tidak cukup untuk memenuhi rekomendasi bee
pollen per hari, sehingga formula terpilih untuk tahapan penelitian selanjutnya
adalah formula F3 yang merupakan formula snack bar dengan penambahan 10 %
bee pollen. Uji daya terima snack bar juga dilakukan pada anak usia sekolah pada
30 orang siswa dengan menggunakan facial hedonic scale. Snack bar dengan
penambahan 10 % bee pollen mendapat respon yang positif dari anak usia sekolah.
Sebanyak 96 % dari siswa, yang merupakan anak usia 9-10 tahun menyukai
produk snack bar.
Tahapan penelitian selanjutnya adalah analisis kandungan zat gizi,
ketersediaan mineral Fe dan Zn, kapasitas antioksidan dan komposisi asam amino
dari snack bar dengan penambahan 10 % bee pollen. Kandungan gizi dari snack
bar memenuhi syarat mutu kue kering (cookies) SNI 01-2973-2011. Kandungan
kadar air snack bar adalah 5.91 %, abu 1.72 %, protein 11.30 %, lemak 16.52 %
dan karbohidrat 64.52 %. Aktivitas antioksidan dari snack bar dianalisis
menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyil-2pycrylhydrazyl-radical-scavenging),
hasilnya adalah 10.77 mg ascorbic acid g-1, hal ini dapat diartikan bahwa 1 gram
produk dapat menghambat aktivitas radikal bebas setara dengan 10.77 miligram
asam askorbat (vitamin C). Ketersediaan mineral Fe dan Zn dianalisis dengan
menggunakan metode in vitro, hasil yang diperoleh adalah 17.02 mg kg-1 dan
6.84 mg kg-1. Analisis total asam amino menyatakan bahwa produk snack bar
memiliki kandungan asam amino yang lengkap, asam glutamat merupakan asam
amino dengan skor tertinggi, disusul oleh leusin dan arginin. Setelah melakukan
serangkaian tahapan penelitian yang meliputi uji daya terima, analisis kandungan
gizi, dan penerimaan anak usia sekolah, turut dihitung pula kontibusi zat gizi
berdasarkan Acuan Label Gizi (ALG). Berdasarkan perhitungan kontribusi
kecukupan zat gizi terhadap ALG, rekomendasi konsumsi snack bar yang dapat
mencukupi kebutuhan akan selingan per hari adalah sebanyak 4 batang. Estimasi
harga yang dilakukan pada snack bar lebih tinggi dibandingan dengan harga snack
bar komersil yaitu Rp 8130
Pengaruh Budaya Organisasi dan Motivasi terhadap Work Engagement Karyawan Millenial Perum BULOG Divisi Regional DKI Jakarta
Bonus demografi mengakibatkan angkatan kerja di Indonesia didominasi
oleh Generasi Millenial. Adanya perubahan visi, misi dan nilai budaya organisasi
yang diterapkan Perum BULOG pada tahun 2016 diharapkan dapat memotivasi
generasi millenial serta meningkatkan work engagement kepada perusahaan.
Salah satu yang memiliki peranan penting dalam menjaga ketahanan pangan ibu
kota Indonesia adalah Perum BULOG Divisi Regional DKI Jakarta. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis pengaruh serta mengetahui persepsi karyawan
mengenai budaya organisasi, motivasi dan work engagement generasi millenial.
Responden dalam penelitian ini sebesar 67 karyawan. Metode analisis dalam
penelitian adalah analisis deskriptif dan analisis regresi berganda dengan
menggunakan Software SPPS 25. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa
budaya organisasi dan motivasi berpengaruh signifikan secara simultan terhadap
work engagement. Secara parsial, budaya organisasi memiliki pengaruh terhadap
work engagement dan motivasi berpengaruh terhadap work engagement. Budaya
organisasi memiliki pengaruh paling dominan terhadap work engagement
Penapisan Fitokimia dan Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Biji Salak Suwaru (Salacca zalacca) terhadap Streptococcus pneumoniae
Pemanfaatan salak yang ada saat ini paling banyak adalah pada bagian daging buahnya saja, sedangkan pemanfaatan biji nya masih kurang mendapat perhatian. Beberapa penelitian telah membuktikan adanya aktivitas farmakologi pada biji buah salak. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas antibakteri dari ekstrak bertingkat biji buah salak suwaru (Salacca zalacca) terhadap bakteri Streptococcus pneumoniae. Proses ekstraksi simplisia biji salak dilakukan dengan menggunakan teknik maserasi bertingkat dengan beberapa pelarut diantaranya n-heksana, etil asetat, dan etanol 96%. Penapisan pertama menggunakan metode difusi cakram dengan konsentrasi 200 mg/mL, kemudian pengukuran konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi bunuh minimum (KBM) menggunakan metode mikrodilusi dan subkultur pada media agar. Hasil uji difusi cakram menunjukkan bahwa hanya ekstrak n-heksana dan etil asetat yang mempunyai aktivitas antibakteri. Nilai KHM ekstrak n-heksana dan etil asetat adalah 0.31 mg/mL dan 1.25 mg/mL, sedangkan nilai KBM ekstrak n-heksana dan etil asetat adalah 0.63 mg/mL dan 1.25 mg/mL. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ekstrak n-heksana memiliki aktivitas antibakteri yang cukup kuat terhadap Streptococcus pneumoniae
Kinerja Pertumbuhan dan Respons Imun Ikan Lele (Clarias sp.) yang Diberi Probiotik Bacillus megaterium PTB 1.4 dan Pediococcus pentosaceus E2211
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk pengendalian penyakit
Motile Aeromonad Septicaemia (MAS) pada ikan lele adalah dengan memperbaiki
respons imun inang dengan pemberian probiotik. Probiotik B. megaterium PTB
1.4 yang diisolasi dari saluran pencernaan ikan lele telah diuji efektif mampu
meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan lele. Probiotik P. pentosaceus E2211
yang diisolasi dari hasil fermentasi spontan tepung jagung telah diuji mampu
meningkatkan daya tahan ikan lele terhadap infeksi Aeromonas hydrophila.
Pemberian bersama kedua bakteri probiotik tersebut diharapkan dapat berperan
sinergis untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan dan respons imun ikan lele
terhadap infeksi A. hydrophila. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi
efektivitas pemberian probiotik B. megaterium PTB 1.4 dan P. pentosaceus
E2211 terhadap kinerja pertumbuhan dan respons imun ikan lele terhadap infeksi
A. hydrophila.
Penelitian ini dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan
lima perlakuan, yaitu: K- (tanpa probiotik dan tanpa diinjeksi A. hydrophila), K+
(tanpa probiotik dan diinjeksi A. hydrophila), Bm (diberi B. megaterium PTB 1.4
dan diinjeksi A. hydrophila), Pp (diberi P. pentosaceus E2211 dan diinjeksi A.
hydrophila), dan Bm+Pp (diberi B. megaterium PTB 1.4 dan P. pentosaceus
E2211 dan diinjeksi A. hydrophila). Ikan lele dengan bobot rata-rata 7.36±0.21 g
dipelihara selama 30 hari dengan pemberian pakan perlakuan secara at satiation
pada kolam beton yang diberi waring berukuran 100x30x80 cm3 dengan
kepadatan 30 ekor waring-1. Uji tantang A. hydrophila dilakukan pada hari ke-31
dan dilanjutkan dengan pengamatan pada hari ke-35 dan hari ke-40. Parameter uji
pada penelitian ini yaitu kinerja pertumbuhan meliputi laju pertumbuhan harian,
biomassa panen, dan rasio konversi pakan, total bakteri probiotik pada saluran
pencernaan, analisis aktivitas enzim protease dan amilase saluran pencernaan,
serta parameter respons imun meliputi tingkat kelangsungan hidup pasca uji
tantang, total eritrosit, kadar hemoglobin, kadar hematokrit, total leukosit,
aktivitas respiratory burst, aktivitas fagositik, dan aktivitas lisozim, serta total A.
hydrophila pada organ target.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan Bm, Pp, dan Bm+Pp dapat
meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan lele meliputi aktivitas enzim pencernaan,
laju pertumbuhan harian, rasio konversi pakan, dan biomassa panen, dengan hasil
terbaik pada perlakuan Bm+Pp. Penambahan B. megaterium PTB 1.4 dan P.
pentosaceus E2211 diduga mampu meningkatkan daya cerna ikan lele karena B.
megaterium PTB 1.4 merupakan bakteri yang bersifat proteolitik dan amilolitik
sedangkan P. pentosaceus E2211 merupakan bakteri yang bersifat amilolitik.
Aplikasi kedua bakteri tersebut memberikan sinergi yang positif bagi kinerja
pertumbuhan ikan lele. Total bakteri pada saluran pencernaan meningkat pada
perlakuan Bm, Pp, dan Bm+Pp dibandingkan kontrol. Hal ini menunjukkan
bahwa bakteri B. megaterium PTB 1.4 dan P. pentosaceus E2211 mampu
memodifikasi dan mendominasi total bakteri saluran pencernaan. Respons imun
ikan lele baik sebelum maupun setelah uji tantang meliputi total eritrosit, kadar
hemoglobin, kadar hematokrit, total leukosit, aktivitas fagositosis, aktivitas
respiratory burst, dan aktivitas lisozim perlakuan Bm, Pp, dan Bm+Pp lebih baik
(P<0.05) dibandingkan kontrol. Total eritrosit, hemoglobin, dan hematokrit ikan
lele yang terus meningkat di semua perlakuan di hari ke-35 dibanding hari ke-30
dan hari ke-0 serta menurun di hari ke-40 menunjukkan bahwa probiotik dapat
menstimulasi produksi eritrosit pada ikan lele untuk digunakan sebagai alat
transpor oksigen. Peningkatan total leukosit, aktivitas fagositik, dan aktivitas
respiratory burst terjadi pada hari ke-35 dibandingkan pada hari ke-30 dan hari
ke-0, hal ini menunjukkan bahwa ikan lele mengalami perlawanan serangan
bakteri patogen, dan menurun di hari ke-40 yang menunjukkan ikan lele
berangsur-angsur pulih. Bakteri patogen A. hydrophila ditemukan pada organ
ginjal dan hati ikan lele pada hari ke-30 di semua perlakuan, kemudian meningkat
pada hari ke-35. Pada hari ke-40, total bakteri A. hydrophila pada ginjal dan hati
ikan lele menurun menandakan ikan lele mengalami masa pemulihan pasca
infeksi A. hydrophila. Nilai total A. hydrophila terendah diperoleh pada perlakuan
Bm+Pp.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian kombinasi probiotik B.
megaterium PTB 1.4 dan P. pentosaceus E2211 pada pakan dapat bekerja sinergis
dalam meningkatkan kinerja pertumbuhan dan respons imun ikan lele terhadap
infeksi A. hydrophila
Penambahan Surfaktan Natrium Dodesil Sulfat pada Komposit Hidroksiapatit-Kitosan sebagai Material Implan Tulang.
Komposit hidroksiapatit-kitosan (HAp-kitosan) sebagai material implan
tulang dengan distribusi ukuran partikel yang seragam diperlukan untuk
mempercepat proses perbaikan tulang. Distribusi ukuran partikel yang seragam
dapat dimodifikasi, salah satu-nya dengan menambahkan surfaktan natrium
dodesil sulfat (NDS) pada saat sintesis HAp. Konsentrasi NDS yang digunakan
sebesar 4.2% dan 12.5% dari konsentrasi misel kritis (KMK). Penelitian ini
bertujuan membandingkan pengaruh tambahan NDS pada HAp dan pada
komposit HAp-kitosan. Berdasarkan penganalisis ukuran partikel, distribusi
ukuran partikel HAp-NDS 4.2% KMK tampak seragam dengan sebaran distribusi
ukuran 291 nm, 327 nm, dan 380 nm. Spektrum inframerah dari HAp-NDS 4.2%
KMK-kitosan menyerupai gugus fungsi pada HAp tanpa NDS. Difraksi sinar-X
menunjukkan telah terbentuk fase HAp. Berdasarkan hasil foto mikroskop
payaran elektron (SEM), ukuran partikel komposit HAp-NDS 4.2% KMK-kitosan
lebih kecil dibandingkan dengan komposit HAp-kitosan. Tambahan surfaktan
NDS pada HAp terbukti memengaruhi distribusi ukuran partikel dan tambahan
pada komposit HAp-kitosan hanya memengaruhi ciri foto SEM