31665 research outputs found
Sort by
Analisis Kelayakan Usaha dalam Sistem Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) di KPH Bandung Selatan
KPH Bandung Selatan melalui kegiatan PHBM melakukan penanaman
komoditas kopi arabika di kawasan hutan lindung Perum Perhutani di bawah
tegakan pinus dan rimba campuran untuk meningkatkan ekonomi masyarakat hutan
serta bersama Perhutani menjaga kelestarian ekologi. Tujuan dari penelitian ini
adalah mengetahui tingkat kelayakan finansial skema PHBM, memperoleh data dan
informasi jenis produk dari kegiatan PHBM dan penghasilan petani dari produk
tersebut, serta mengetahui kontribusi pendapatan dari skema PHBM terhadap
pendapatan total rumah tangga petani. Berdasarkan analisis finansial yang
dilakukan dengan metode Discounted Cash Flow, program PHBM usaha kopi
arabika di LMDH Cempaka Bentang lebih menguntungkan dibandingkan usaha
skema PHBM kopi arabika di LMDH Mandalagupakan, LMDH Bukit Monteng,
dan LMDH Cibuliran dengan nilai NPV sebesar Rp 141.091.728,03/ha, BCR
sebesar 2,16 dan nilai IRR terbesar yaitu 35%. Kegiatan usaha kopi “Wanoja Kopi”
oleh Kelompok Tani Hutan menguntungkan dengan NPV sebesar Rp
1.255.648.343,87, BCR sebesar 1,69 serta nilai IRR sebesar 102%. Kontribusi ratarata
pendapatan dari program PHBM usaha kopi arabika terbesar pada LMDH
Mandalagupakan 76,38% dan terkecil pada LMDH Cibuliran 43,17%
Daya Inhibisi Ekstrak Pegagan (Centella asiatica) terhadap Aktivitas Angiotensin Converting Enzyme (ACE) sebagai Antihipertensi secara in Vitro.
Pegagan (Centella asiatica) merupakan salah satu tanaman obat tradisional
yang memiliki potensi sebagai antihipertensi. Senyawa yang diduga memiliki
aktivitas penghambatan angiotensin converting enzyme (ACE) pada tumbuhan ini
ialah flavonoid. Penelitian ini bertujuan menentukan daya inhibisi ekstrak dan
fraksi ekstraknya terhadap aktivitas ACE secara in vitro serta potensinya sebagai
antihipertensi menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Sampel diekstraksi dan
dipartisi menjadi 3 fraksi, yaitu non polar (n-heksana), semi polar (CH2Cl2), dan
polar (n-BuOH). Hasil uji daya inhibisi menunjukkan bahwa ekstrak memiliki daya
inhibisi 88%. Daya inhibisi fraksi dari yang tertinggi hingga terkecil, ialah fraksi n-
BuOH (82%), n-heksana (81%), dan CH2Cl2 (78%). Daya inhibisi ketiga fraksi
mendekati daya inhibisi kaptopril (kontrol positif) yaitu 94% yang artinya
berpotensi sebagai antihipertensi. Fraksi n-BuOH memiliki daya inhibisi tertinggi
diantara fraksi yang lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa fraksi n-BuOH sebagai
fraksi polar mengandung senyawa flavonoid yang mampu menghambat aktivitas
ACE paling tinggi
Aktivitas Antiproliferasi Fraksi Angkak terhadap Sel Kanker Payudara MCM-B2.
Angkak merupakan salah satu pangan hasil fermentasi beras dengan menggunakan Monascus purpureus. Salah satu kandungan bioaktif dari angkak adalah pigmen hasil fermentasi. Pigmen tersebut memiliki kandungan zat antosianin dari golongan flavonoid. Golongan ini memiliki sifat sebagai antioksidan dan diketahui dapat berperan dalam pencegahan kanker. Penelitian ini bertujuan menganalisis aktivitas antiproliferasi fraksi angkak terhadap sel kanker payudara MCM-B2. Penentuan aktivitas antiproliferasi angkak dilakukan dengan metode direct counting. Aktivitas antiproliferasi fraksi angkak terhadap sel kanker MCM-B2 berkorelasi positif dengan meningkatnya konsentrasi. Persentase aktivitas antiproliferasi fraksi etil asetat-angkak dan fraksi air-angkak pada konsentrasi 350 ppm tidak berbeda nyata dengan kontrol positif (doksorubisin). Persentase antiproliferasi fraksi etil asetat-angkak lebih besar dibandingkan dengan fraksi air-angkak, ditunjukkan dengan selisih persentase penghambatan proliferasi sel MCM-B2 pada konsentrasi 87.5 ppm dan 1400 ppm dari fraksi etil asetat sebesar 43.42%, sedangkan pada fraksi air selisihnya sebesar 21.51%
Potensi Regenerasi Alami Shorea pinanga Scheff dan Shorea platyclados Slooten ex Endert. di Hutan Penelitian Gunung Dahu, Leuwiliang, Kabupaten Bogor
Pendugaan potensi regenerasi alami pada hutan tanaman penting dilakukan, karena proses regenerasi alami merupakan salah satu faktor yang dapat merubah struktur tegakan di hutan dari waktu ke waktu. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis potensi dan tingkat regenerasi alami S. pinanga dan S. platyclados, serta menganalisis faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi tingkat regenerasi alami pada jenis S. pinanga dan S. platyclados di Hutan Penelitian Gunung Dahu. Potensi regenerasi alami anakan pada tegakan S. pinanga di Hutan Penelitian Gunung Dahu sangat rendah, hanya ditemukan 4 anakan pada 2 petak pengamatan. Potensi regenerasi alami anakan pada tegakan S. platyclados di Hutan Penelitian Gunung Dahu cukup optimal. Total anakan S. platyclados yang ditemukan di Hutan Penelitian Gunung Dahu sebanyak 1874 anakan dari total 4 petak tanam. Kondisi lingkungan Hutan Penelitian Gunung Dahu mampu memberikan stimulus untuk regenerasi S. platyclados pada tingkat semai
Pendugaan Curah Hujan Harian melalui Pemodelan Dua Tahap dengan Klasifikasi Bagging dan Boosting pada Statistical Downscaling.
Indonesia merupakan salah satu negara yang berada di wilayah khatulistiwa
dan mempunyai iklim yang tropis, dimana bidang pertanian memiliki peranan besar
dalam perekonomian penduduknya. Penelitian tentang pendugaan curah hujan
dapat dimanfaatkan untuk menunjang keberhasilan perekonomian pada bidang
pertanian di Indonesia. Pendugaan curah hujan salah satunya dapat dilakukan
dengan teknik Statistical Downscaling (SD). SD adalah teknik untuk mendapatkan
model yang dapat menganalisis hubungan antara data global skala besar dan data
lokal skala kecil. Teknik SD dapat digunakan untuk memprediksi data curah hujan
lokal dengan menggunakan data keluaran Global Clmate Model (GCM) sebagai
data global berskala besar.
Pendugaan curah hujan bulanan menggunakan teknik SD melalui pemodelan
dua tahap dengan metode klasifikasi telah dilakukan sebelumnya. Metode
klasifikasi yang telah digunakan antara lain yaitu regresi linier gerombol, CART,
regresi logistik biner, dan regresi logistik ordinal. Hasilnya, pendugaan curah hujan
bulanan dengan pemodelan dua tahap menghasilkan nilai Root Mean Square Error
of Prediction (RMSEP) yang lebih kecil jika dibandingkan dengan pemodelan
langsung menggunakan Regresi Kuadrat Terkecil Parsial (RKTP), namun akurasi
klasifikasi yang dihasilkan masih berkisar antara 55% sampai dengan 60%.
Dalam penelitian ini, teknik SD dalam pemodelan dua tahap dengan
klasifikasi digunakan untuk memprediksi data curah hujan harian. Tahap pertama,
kekuatan metode Bagging dan Boosting dalam klasifikasi digunakan untuk
menentukan kelompok curah hujan. Tahap kedua, RKTP digunakan untuk
memprediksi curah hujan di setiap kelas. Kemampuan model diuji di empat stasiun
yang terletak di Provinsi Jawa Barat, yaitu Bandung, Bogor, Citeko dan Jatiwangi.
Metode klasifikasi Bagging dan Boosting merupakan metode Ensemble
Learning, dimana dalam pengambilan keputusannya menggunakan konsep
majority vote, sehingga akurasi yang dihasilkan lebih besar. Bagging membuat
pohon klasifikasi lengkap pada setiap iterasinya dengan mengambil contoh acak
dengan pengembalian (bootstrap) yang kemudian melakukan agregasi
(aggregating) pada pengambilan keputusan akhir. Boosting melakukan
pembobotan dengan merubah weak learner menjadi strong learner pada setiap
iterasinya. Dengan meningkatnya nilai akurasi, diharapkan nilai kebaikan model
yang didapat menjadi semakin baik. Ukuran kebaikan model yang digunakan yaitu
RMSEP sebagai ukuran penyebaran dan Koefisien Keragaman (KK) sebagai
ukuran pemusatan. Semakin kecil nilai RMSEP dan KK yang dihasilkan maka
model pendugaan curah hujan yang didapat akan semakin baik.
Hasil awal pendugaan dua tahap dengan akurasi 100% menghasilkan nilai
RMSEP dan KK yang lebih kecil jika dibandingkan dengan hasil pendugaan satu
tahap langsung dengan RKTP. Terdapat empat tipe pengelompokan yang
digunakan pada penelitian ini, yaitu pengelompokan hujan dan tidak hujan, curah
hujan (CH) ≤ 5 mm/hari dan CH > 5 mm/hari, CH ≤ median dan CH > median,
serta CH ≤ rataan dan CH > rataan. Pada pendugaan dua tahap dengan klasifikasi,
terdapat kasus ketidakseimbangan data di beberapa pengelompokan curah hujan.
Oleh karena itu, terlebih dahulu dilakukan penanganan data tidak seimbang
menggunakan metode Synthetic Minority Oversampling Technique (SMOTE).
Hasilnya, SMOTE dapat lebih menyeimbangkan jumlah amatan dan proporsi pada
setiap kelompok dengan data tidak seimbang. Selisih antara sensitivitas dan
spesifisitas juga menjadi lebih kecil.
Hasil yang diperoleh dari validasi silang 5 lipatan dengan 2 pengulangan
menunjukkan bahwa pengelompokan hujan dan tidak hujan memiliki hasil
klasifikasi yang lebih unggul, meskipun pada pemodelan dua tahap awal,
pengelompokan yang lebih unggul adalah kategori kelompok dengan batas rataan.
Pemodelan klasifikasi Boosting lebih unggul di area Bandung dan Citeko, yaitu
dengan akurasi, RMSEP, dan KK masing-masing bernilai 0.76, 13.76 dan 166.79%
pada area Bandung, serta 0.76, 16.71 dan 164.63% pada area Citeko. Metode
Bagging lebih unggul di area Bogor dan Jatiwangi, yaitu dengan akurasi, RMSEP,
dan KK masing-masing bernilai 0.75, 20.56 dan 160.79 pada area Bogor, serta 0.76,
16.96 dan 214.26% pada area Jatiwangi
Akses dan Reselensi Komunitas dalam Pengelolaan Rawa Lebak
Rawa lebak merupakan lahan sub-optimal yang dapat dimanfaatkan
sebagai alternatif pangan dengan sistem pertanian terpadu (SPT) dan juga untuk
lahan sawah, peternakan, dan budidaya ikan. Lahan rawa lebak memiliki potensi
yang besar untuk dikembangkan sebagai lahan usahatani dengan potensi daya
saing yang dapat diusahakan (Waluyo et al. 2012). Pengelolaan rawa lebak
melalui pendekatan Pengelolaan Sumberdaya Tanaman Terpadu (PTT), mampu
menjadi potensi yang dapat dikembangkan dan diharapkan, serta mampu menjadi
penyumbang produksi beras yang cukup signifikan (Helmi 2015). Hal ini sejalan
dengan hasil penelitian Kristanto et al. (2000) yang mengatakan bahwa, di lahan
rawa pasang surut telah berkembang pula budi daya ikan.
Potensi sumberdaya ikan ini dapat dimanfaatkan ketika terjadi musim
hujan yang mengakibatkan genangan air yang cukup luas pada lahan rawa lebak.
Berdasarkan hasil penelitian Noor et al. (2015), biodiversitas tanaman pangan di
lahan rawa pasang surut (lebak) cukup luas meliputi padi dan non-padi yang dapat
ditingkatkan baik produktivitas, intensitas pertanaman, maupun diversivikasi serta
integrasi dengan ternak atau ikan. Berbagai macam potensi yang ada di rawa lebak
menjadikan rawa lebak memiliki fungsi ganda dalam satu lahan. Fungsi ganda
yang ada di rawa lebak dipengaruhi oleh perubahan musim yang terjadi sepanjang
tahun.
Pengelolaan rawa lebak di Provinsi Sumatera Selatan memiliki sistem
yang berbeda dan akses yang berbeda juga. Pada saat musim kering, rawa lebak
dikelola secara privat (property right). Sementara pada saat banjir, rawa lebak
dikelola secara komunal berdasarkan peraturan pemerintah. Pengelolaan seperti
ini bertujuan untuk menekan konflik yang ada antar pemilik lahan yang tidak jelas
batasannya pada saat musim banjir (Yanti 2015). Pengelolaan yang dilakukan
pemerintah pada saat banjir yaitu melakukan lelang hasil ikan yang ada di rawa
lebak sesuai dengan peraturan daerah tentang sistem L3 (Lelang Lebak Lebung).
Di sisi lain aturan ini mulai berubah yang semula untuk menekan konflik
berdasarkan rasionalitas sosial sekarang menjadi rasinalitas ekonomi dengan hasil
lelang ditujukan untuk pendapatan daerah (PAD). Belakangan perubahan iklim
yang tidak menentu yang mempengaruhi pada perubahan musim membuat
masyarakat kesulitan untuk menentukan waktu tanam padi, bahkan air datang
diluar prediksi masyarakat. Perubahan iklim yang tidak menentu diikuti dengan
sistem L3 yang memperketat ruang akses masyarakat menjadi sebuah ancaman
bagi masyarakat.
Berdasasarkan fenomena tersebut penting untuk menganalisis bagaimana
(1) sistem nilai dalam pengelolan rawa lebak, sosial dan politik; (2) menganalisis
dinamika akses dalam pengelolaan rawa lebak; (3) menganalisis sikap komunitas
terhadap pengelolaan rawa lebak; dan (4) menganalisis resiliensi komunitas
terhadapa kondisi rawan pangan di rawa lebak. Penelitian ini menggunakan
metode mix method dengan melakukan observasi, wawancara mendalam, dan
penyebaran kuesioner. Lokasi penelitian di Desa Tapus, Kecamatan Pampangan,
Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan.
Hasil penelitian menunjukan bahawa sistem nilai yang dilihat berdasarkan
norma yang berlaku dalam pengelolaan rawa lebak, terdapat norma ekonomi dan
politik yang tinggi dalam aturan pengelolaan rawa lebak menjadikan norma sosial
mulai memudar. Hal ini ditunjukan dengan hasil rawa lebak yang tinggi dimana
pada saat musim kering produksi padi mencapai 3 ton GKG dan pada saat musim
banjir panen ikan mencapai 100 kg per hari menunjukkan potensi ekonomi rawa
lebak yang tinggi. Tingginya potensi rawa lebak ini dimanfaatkan oleh aktor yang
memiliki otoritas yang didasarkan kepentingan politik, sehingga aturan yang
dibuat dalam pengelolaan tidak memihak untuk kesejahteraan masyarakat. Realita
seperti ini membuat terjadinya kerenggangan hubungan sosial diantara masyarakat
yang berakibat masyarakat mulai menjadi individual satu sama lain.
Munculnya sistem L3 yang bertujuan untuk menekan terjadinya konflik
dimulai pada tahun 1830. Pada awalnya sistem pengelolaan ini diatur oleh masing
desa yang pada saat itu dipimpin oleh pesirah. Semenjak munculnya UU No. 5
tahun 1979 yang mengaruskan pembentukan desa diseluruh Indonesia menjadikan
sistem pesirah menjadi lemah yang membuat berakhirnya sistem L3 dibawah
pengelolaan pesirah. Sejak tahun 1981, kewenangan mengenai sistem lelang lebak
lebung diberikan kepada pemerintah kabupaten dan kecamatan. Akan tetapi,
potensi konflik kembali muncul ketika masyarakat tidak diberikan akses sama
sekali terhadap rawa lebak pada musim banjir. Pembatasan akses ini menimbulkan
sikap yang cenderung negatif terhadap pengelolaan rawa lebak.
Masyarakat Desa Tapus melakukan sebuah upaya untuk mengubah
peraturan sistem L3 yang diberlakukan selama ini. Setelah melakukan diskusi
dengan pihak pemerintahan kabupaten, akhirnya Desa Tapus pun diberikan hak
khusus dalam sistem L3. Sistem L3 di Desa Tapus akan selalu dimenangkan oleh
kepala desa, dan kepala desa membebaskan masyarakat untuk mengakses secara
bebas lahan rawa lebak pada musim hujan. Peraturan mengenai penangkapan ikan
masih sama dengan sistem L3 pada sebelumnya. Dibalik semua itu, tenyata kepala
desa hanya memanfaatkan lahan rawa lebak sebagai alat untuk mendapatkan
simpati masyarakat serta untuk menghimpun suara politik pada pemilihan
legislative, hal ini menjadikan nilai politik pada rawa lebak.
Motif pembebasan akses rawa lebak yang bermuatan politis menjadikan
rawa lebak tidak terkontrol dengan baik, sehingga potensi kerusakan lahan cukup
tinggi. Persaingan untuk mendapatkan hasil dari rawa lebak menjadi kuat
ketergantungan masyarakat Desa Tapus yang tinggi pada rawa lebak membuat
mereka kurang memiliki sumberdaya cadangan lain yang dapat dimanfaatkan.
Masyarakat Desa Tapus yang cenderung kurang kreatif menyebabkan mereka
hanya bisa pasrah dalam menghadapi berbagai guncangan, seperti perubahan
musim dan dinamika kebijakan pengelolaan rawa lebak. Saat tak ada apapun yang
bisa dimanfaatkan, mereka hanya mengandalkan bantuan raskin dari pemerintah,
atau bekerja di perusahaan sebagai buruh dengan memanfaatkan relasi terhadap
patron. Dengan demikian tingkat resiliensi komunitas Desa Tapus masih berada
pada tingkat resiliensi sebagai stabilitas (Macguire dan Cartwright 2008)
Pandangan Nelayan Gillnet Milenium terhadap Konsep Ikan Layak Tangkap di Pangkalan Pendaratan Ikan Karangsong Indramayu
Minimnya informasi tentang persepsi nelayan merupakan salah satu faktor
penghambat untuk menyusun tindakan pengelolaan perikanan, khususnya terkait
pengaturan ukuran ikan layak tangkap. Persepsi dikalangan nelayan belum tentu
sama, tergantung pada berbagai faktor, salah satu di antaranya adalah aspek posisi
mereka dalam usaha penangkapan ikan. Informasi ini penting bagi pengelola
perikanan dalam merancang cara menangani kelompok sasaran dari kalangan
nelayan yang berbeda. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui keadaan perikanan
gillnet milenium di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Karangsong, menganalisis
pengetahuan, persepsi, dan tindakan nelayan gillnet milenium di PPI Karangsong
terhadap konsep legal size, dan membandingkan ketiga hal tersebut di antara
nelayan-nelayan pemilik, nakhoda, dan ABK. Sampel nelayan dipilih dengan
menerapkan metode accidental sampling dan sampel ikan dipilih dengan metode
random sampling. Informasi tentang unit penangkapan ikan, pengetahuan, persepsi,
dan tindakan nelayan diperoleh melalui wawancara terhadap 30 orang nelayan.
Perikanan gillnetmilenium di PPI Karangsong menggunakan kapal dengan kategori
ukuran 30 GT. Alat tangkap gillnet milenium yang
dioperasikan memiliki panjang 120 m/piece dengan mesh size 4 inci. Pengetahuan,
persepsi, dan tindakan nelayan secara umum masuk ke dalam kategori “sedang”,
mereka umumnya mencoba mematuhi peraturan yang ada namun pengetahuan
nelayan terhadap konsep ukuran ikan layak tangkap atau legal size masih kurang.
Nelayan pemilik memiliki skor tertinggi pada pengetahuan dan persepsi nelayan,
sedangkan yang memiliki skor tertinggi pada tindakan nelayan yaitu nelayan
nakhoda. Secara umum, Pemerintah perlu melakukan penyuluhan, dengan materi
yang mencakup dampak penangkapan ikan secara berlebihan, ukuran ikan layak
tangkap, dan pengenalan konsep ukuran ikan layak tangkap dan penerapannya
Respons Ketahanan Tanaman Cabai terhadap Penyakit Daun Keriting Kuning dan Identifikasi Resistance Gene Analogs
Cabai (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas hortikultura unggulan
di Indonesia karena nilai ekonomi dan kandungan gizi yang tinggi. Penyakit daun
keriting kuning mampu menyebabkan kehilangan hasil yang cukup tinggi pada
cabai. Penyakit daun keriting kuning cabai tersebut disebabkan oleh Begomovirus
dan ditularkan melalui serangga vektor kutukebul (Bemisia tabaci). Genotipe
tahan merupakan salah satu satu cara yang efektif dalam menanggulangi
kehilangan hasil akibat penyakit daun keriting kuning. Perakitan genotipe tahan
dapat dilakukan melalui serangkaian proses pemuliaan tanaman. Penelitian ini
mencakup dua kegiatan yaitu (1) menguji respons ketahanan 28 genotipe tanaman
cabai terhadap penyakit daun keriting kuning, dan (2) mengisolasi dan
mengidentifikasi Resistance Gene Analogs (RGA) asal cabai yang tahan penyakit
daun keriting kuning.
Kegiatan pertama bertujuan memperoleh kandidat tanaman tahan dari 28
genotipe cabai Indonesia. Pengujian dilakukan menggunakan metode inokulasi
menggunakan serangga vektor kutukebul (Bemisia tabaci) di rumah kaca dengan
rancangan kelompok lengkap teracak, satu faktor, dan tiga ulangan. Parameter
pengamatan meliputi periode inkubasi, insidensi penyakit, dan keparahan penyakit.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa genotipe cabai yang diamati memiliki
respons ketahanan yang beragam terhadap penyakit daun keriting berdasarkan
parameter keparahan penyakit. Genotipe cabai yang diamati terbagi kedalam
empat kategori ketahanan yaitu sangat rentan, rentan, agak tahan, dan tahan.
Genotipe IPBC2, IPBC5, Yuni, Seroja, F7-145291-14-9-3-12-1, F7-
1200005-141-16-2-9-4, F7-1200005-120-7-1- 7-8, F7-1200005-141-16-3-5-4
tergolong kedalam genotipe sangat rentan. Genotipe Bara, SSP, F3-74 x Hot
Chilli, F7-145291-10-7-1-1-1-1, F5-145291-14-9-3 termasuk genotipe rentan.
Genotipe Gada, Genie, Giant, Ayesha, Seloka, Anies, Ungara, F4-012328-1AB-2,
F3-Elegance x 74-2, F3-74 x Biola, F7-160291-4-13-9-8-1, F7-145293-19-8-3-
113-1, F7-145174-9-3-1-5-3 tergolong kedalam genotipe agak tahan. Genotipe
IPB C12 dan F3-012328-6-3 merupakan genotipe yang tergolong tahan. Kedua
genotipe tersebut dapat dikembangkan menjadi cabai yang tahan terhadap
penyakit daun keriting kuning atau sebagai sumber genetik bagi karakter
ketahanan terhadap penyakit daun keriting kuning. Analisis sekuen fragmen DNA
Begomovirus yang diamplifikasi menggunakan primer SPG1/SPG2
mengkonfirmasi bahwa penyakit daun keriting kuning cabai di rumah kaca
berasosiasi dengan infeksi Pepper yellow leaf curl virus (PYLCV). Sekuen isolat
PYLCV tersebut memiliki homologi 94.23% dengan Pepper yellow leaf curl
Indonesia virus-[Ageratum] (AB267838).
Kegiatan kedua bertujuan mendapatkan fragmen RGA sebagai kandidat
gen ketahanan terhadap penyakit daun keriting kuning. Primer degenerate telah
dirancang untuk mengamplifikasi daerah antara motif p-loop dan GLPL dari area
RGA kelas NBS. Hasil percobaan kedua menunjukkan terdapat 15 fragmen yang
mengandung daerah NBS yaitu CARGA1 - CARGA15. Fragmen CARGA1 -
CARGA15 mempunyai kesamaan identitas dengan 5 jenis protein yang tersedia di
Genbank, yaitu White fly resistance protein Mi-1,2, Begomovirus resistance
protein, Pvr9-like protein 2, TRGA15, dan Resistance protein RGA13. Hasil
analisis konsensus prediksi asam amino menunjukkan terdapat empat struktur
konservatif NB-ARC yang merupakan ciri khas daerah NBS. Keempat struktur
konservatif asam amino yaitu motif P-loop/kinase-1a (GKTT), kinase-2
(LVVLDDV), RNBS-B/kinase-3a (IILTTR) dan asam amino hidrofobik (GLPL).
Analisis filogenetik menunjukkan semua fragmen tergabung dalam kelompok
NON-TIR-NBS-LRR. Genotipe IPB C12 dan F4-012328-6-3 merupakan genotipe
tahan terhadap penyakit daun keriting kuning.
Informasi tingkat ketahanan terhadap penyakit daun keriting kuning dan
keragaman genetik genotipe cabai dapat membantu dalam pemilihan genotipe
untuk materi genetik dalam perbaikan sifat ketahanan tanaman terhadap penyakit.
Isolasi RGA dari penelitian ini diharapkan dapat mendukung akselerasi pemuliaan
tanaman cabai secara efisien
Analisis Keputusan Bisnis dalam Pembelian Produk Makanan Halal di Kota Ho Chi Minh, Vietnam
Populasi muslim yang meningkat setiap tahunnya di Vietnam berdampak pada peningkatan permintaan produk halal. Produk makanan yang berada di pasar saat ini sangat beragam dan bisa jadi mengandung bahan yang tidak boleh dimakan oleh umat muslim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik konsumen muslim Vietnam di kota Ho Chi Minh, menganalisis pengaruh theory of planned behavior dan daya saing produk terhadap keputusan bisnis dalam pembelian produk makanan halal. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 66 responden yang dipilih dengan teknik convenience sampling. Analisis faktor dilakukan dengan menggunakan metode SEM-PLS, sedangkan karakteristik konsumen muslim Vietnam dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa theory of planned behavior dan daya saing produk berpengaruh signifikan dan memengaruhi pengambilan keputusan pembelian. Variabel dengan hasil pengaruh terbesar adalah sikap dan variasi produk
Formulasi Emulsi Minyak Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) dengan Flavor Orange sebagai Food Supplement
Seiring dengan meningkatnya industri pengolahan ikan air tawar, maka volume minyak ikan juga akan meningkat. Produk emulsion merupakan salah satu bentuk sediaan minyak ikan yang bisa diaplikasikan terhadap pemanfaatan minyak ikan sebagai suplemen makanan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan formulasi emulsi minyak ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) dengan flavor orange sebagai food supplement. Desain penelitian ini adalah experimental study menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga taraf perbandingan substitusi minyak ikan lele dengan air berupa F1 (31:69), F2 (43:57), dan F3 (56:44). Formula catfish oil emulsion yang terpilih adalah F1.
Hasil uji hedonik menunjukkan formula catfish oil emulsion terpilih dapat diterima oleh panelis. Hasil analisis sifat kimia pada formula terpilih adalah kadar air 52.5% (bb), kadar abu 0.4% (bb), kadar protein 1.0% (bb), kadar lemak 32.2% (bb), dan kadar karbohidrat 13.8% (bb). Kandungan energi pada formula terpilih adalah 349 kkal per 100 ml. Kandungan SFA formula terpilih yang dominan adalah asam palmitat 17.49%, kandungan MUFA yang dominan adalah asam oleat 30.04%, dan kandungan PUFA yang dominan adalah asam linoleat (Omega-6) 11.02%. Kandungan asam-asam lemak esensial pada formula terpilih ialah asam linolenat (Omega-3) 1.37%, EPA 0.10%, dan DHA 0.57%. Formula catfish oil emulsion terpilih memiliki nilai viskositas (cP) sebesar 660, bau normal, warna kuning kemerahan, rasa sedikit manis, dan tekstur kental. Satu takaran saji catfish oil emulsion (15 ml) ditujukan sebagai suplemen makanan anak usia sekolah berdasarkan kontribusi %ALG kelompok umum. Formula catfish oil emulsion terpilih berpotensi menjadi suplemen makanan anak sebagai sumber alternatif Omega-6 dan Omega-3 bagi anak usia sekolah