31665 research outputs found
Sort by
Strategi Pengembangan Usaha Kreatif Kerajinan Berbahan Dasar Kertas Daur Ulang di Kecamatan Bogor Utara
Terdapat perubahan kebutuhan masyarakat karena transformasi pola pemenuhan kebutuhan. Salah satu bentuk transformasi terdapat pada sektor industri kreatif. Produk industri kreatif di indonesia menunjukkan keragaman tren pertumbuhan. Sepanjang 2013-2015, kontribusi produk ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional bertambah dari 7.02% menjadi 7.38%.
Subsektor kerajinan menunjukkan tren positif 7% jika dibandingkan dengan lima subsektor dengan nilai ekspor tertinggi. Tren positif ini perlu disambut dengan strategi yang tepat. Strategi peningkatan jumlah industri kreatif yang homogen tidak berpengaruh nyata pada peningkatan PDB dan volume ekspor industri kreatif nasional. Hal ini menunjukkan perlunya strategi pengembangan usaha kerajinan dari usaha yang terbukti berhasil.
Salam Rancage adalah usaha kerajinan unggulan di Kota Bogor, kota di provinsi dengan kontribusi terbesar pada ekspor industri kreatif nasional. Inovasi strategi dengan kemitraan dan pemberdayaan bahan baku kertas daur ulang mendorong Salam Rancage untuk menembus pasar ekspor. Strategi Salam Rancage dapat menjadi acuan bagi usaha kerajinan di Indonesia yang menghadapi tantangan dari ASEAN Economic Community dan Sustainable Development Goals.
Tujuan penelitian adalah: (1) menganalisis faktor internal dan eksternal yang memengaruhi usaha kerajinan berbahan dasar kertas daur ulang, (2) menganalisis strategi pengembangan usaha kerajinan berbahan dasar kertas daur ulang, dan (3) menyusun strategi yang dipilih untuk mengembangkan usaha kerajinan berbahan dasar kertas daur ulang.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) analisis internal dan eksternal menggunakan matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE), (2) analisis alternatif strategi menggunakan Internal-External (IE) dan Strengths Weaknesses Opportunities Threats (SWOT), dan (3) prioritisasi strategi menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP).
Hasil skor matriks IFE dengan kekuatan utama mutu produk dan kelemahan utama dependensi pada pimpinan usaha adalah 2.6032. Hasil skor matriks EFE dengan peluang utama pasar ekspor dan tantangan utama inovasi pesaing adalah 2.4551. Hasil matriks IE adalah blok V sehingga Salam Rancage perlu memosisikan strategi untuk memelihara dan mempertahankan posisi usahanya.
Tiga prioritas strategi utama dari analisis SWOT dan AHP adalah (1) pengembangan pasar ekspor dan domestik berbasis penelitian pasar bersama pelanggan loyal dengan skor 0.1970; (2) Kemitraan inti-plasma triple helix dengan wilayah lain melalui pemberdayaan SDM dan mutu produk dengan skor 0.1614; dan (3) Diversifikasi bahan baku bernilai tambah lingkungan dengan skor 0.1510. Implikasi manajerial dari penelitian ini adalah usaha ini perlu memperkuat kerjasama untuk penetrasi pasar ekspor dan diversifikasi bahan baku produk
Pengaruh Industrialisasi Pertanian terhadap Tingkat Pendapatan dan Keberdayaan Ekonomi Masyarakat (Kasus: PT Perkebunan Nusantara VIII Pabrik Pengolahan Cikasungka, Desa Mekar Jaya, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Jawa Barat).
Proses industrialisasi yang menyentuh sektor pertanian dikenal dengan
industrialisasi pertanian. Industri pertanian merupakan salah satu penggerak utama
perkembangan sektor pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
implementasi industrialisasi pertanian dan pengaruhnya terhadap tingkat pendapatan
dan keberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah kerja industri. Metode yang
digunakan adalah metode penelitian dengan pendekatan kuantitatif yang
dikombinasikan dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan
implementasi industrialisasi pertanian yang terdiri dari kesempatan kerja, peningkatan
nilai tambah produk dan dampak terhadap lingkungan tidak mempengaruhi tingkat
pendapatan masyarakat. Akan tetapi, penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi
industrialisasi pertanian mempengaruhi tingkat keberdayaan ekonomi masyarakat di
sekitar wilayah industri
Metode Alternatif dalam Pencarian Peringkat E-commerce di Indonesia Berdasarkan Penilaian Pelanggan.
Keberadaan internet memunculkan sistem perdagangan secara online
menggunakan aplikasi. Maraknya sistem perdagangan secara online memicu
muculnya berbagai e-commerce di Indonesia yang menyediakan berbagai macam
kebutuhan pelanggan. Hal ini juga menimbulkan permasalahan bagi pelanggan
yaitu kesulitan dalam memilih e-commerce yang berkualitas. Upaya yang
dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah membuat peringkat e-commerce di
Indonesia berdasarkan dari penilaian pelanggan. Metode yang umum digunakan
untuk pemeringkatan adalah metode Analytical Hierarchy Process (AHP) tetapi
dalam praktiknya terdapat beberapa peubah yang tidak terdapat di e-commerce
sehingga metode AHP tidak bisa digunakan. Metode alternatif yang dipilih adalah
metode optimasi Ant Colony Optimation (ACO). Pengujian kelayakan metode
ACO dalam pencarian peringkat untuk data e-commerce perlu dilakukan karena
tidak semua peubah terdapat di e-commerce. Simulasi untuk pencarian peringkat
dilakukan menggunakan 2 skenario data bangkitan dengan metode AHP dan ACO.
Hasil simulasi didapatkan kesimpulkan metode ACO layak digunakan untuk
pemeringkatan yang terdapat data kosong sampai 15%, selanjutnya dilakukan
penerapan metode ACO untuk data e-commerce di Indonesia dengan kondisi data
kosong 6.25%. Hasil tabu terbaik berdasarkan nilai peluang tertinggi, feromon
terendah, dan koefisien korelasi tertinggi yaitu pada tabu ke-2, dengan tiga
peringkat teratas yaitu JD, SP, dan TP
Infestation of Tropical Fowl Mites and Feather mites in Layer poultry farm in Kuningan, West Java
Poultry is a domesticated animal that are using for meat, eggs and their
feathers for human purposes. The problem that often found in the poultry is the
presence of ectoparasites such as ticks, fleas, mites and louse on their body. The
aim for this study is identify and estimate the prevalence of ectoparasites on layers
in several poultry farms in Kuningan, West Java. Total of 80 layer hens were
randomly selected from different four layer farms as sample for mite’s collection
without consideration for age. The mites were collected from 5 different regions
of hen at head and neck, wings, thorax and abdomen, tail and legs. The result
shows that 70 out of 80 layer hen had been infested by mites. Total of 1842 mites
had been found in 70 infested layer hens. Farm 4 had the highest prevalence of
mites which is 100% and the least prevalence with 60% is found in farm 3.
Prevalence of mite’s infestation that occurs on layer hen in Kuningan is around
87.5%. Type of mites that had been found consists of two species which are
Ornithonyssus bursa (3.80%) and Megninia ginglymura (96.20%). Thorax and
abdomen are recorded as highest infestation of mites with 30.35%. Type of mites
that dominates in this study is Megninia ginglymura in thorax and abdomen
region (29.42%) and least dominate region is wings (10.26%)
Komunikasi Ritual dalam Hibridisasi Budaya pada Pembudidayaan Padi Ladang untuk Pengembangan Pertanian Berkelanjutan.
Kearifan lokal (local wisdom) memiliki peran penting untuk pengembangan dan keberlanjutan kehidupan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam, seperti pada bidang perikanan, perubahan iklim, kehutanan, mitigasi dan pertanian. Peran kearifan lokal di Indonesia telah memberikan dampak positif, misalnya pamali di Jawa Barat, subak wangaya betan di Bali, sasi di Maluku dan mapalus di Minahasa. Khususnya dalam bidang pertanian, kearifan lokal digunakan petani untuk mengambil keputusan dalam memulai waktu produksi, yaitu musim menanam, meningkatkan konservasi air dan tanah, serta meningkatkan adaptasi tanaman terhadap kekeringan dan digunakan dalam praktik pertanian berkelanjutan. Kearifan lokal merupakan aktualisasi kebudayaan sebuah kelompok masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari komunikasi, karena melalui komunikasi maka kebudayaan akan eksis. Komunikasi tidak hanya diarahkan untuk perluasan pesan di suatu tempat, tetapi merupakan proses simbolis tempat realitas dihasilkan, dipelihara, diperbaiki dan ditransformasikan. Juga merupakan kreasi, representasi dan perayaan keyakinan bersama suatu komunitas.
Komunitas Sahu Jio Tala’i Padusua merupakan salah satu suku asli di Kabupaten Hamahera Barat (Halbar). Rion-rion dan orom sasadu adalah kearifan lokal yang dimiliki komunitas ini, dalam praktik budi daya padi ladang. Praktik budi daya padi ladang dengan kearifan lokal merupakan tradisi yang telah diwariskan nenek moyang Suku Sahu sejak dahulu. Eksistensi praktik budi daya padi ladang mulai tergerus akibat pengaruh faktor internal dan eksternal komunitas, untuk itu perlu dilakukan usaha pelestariannya di dalam masyarakat, sehingga dapat menunjang pembangunan daerah di Kabupaten Halbar. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis pemaknaan Suku Sahu terhadap praktik budi daya padi ladang berbasis rion-rion dan orom sasadu sebagai identitas budaya; (2) Menjelaskan proses signifikasi, dominasi dan legitimasi yang terjadi pada hubungan dualitas agensi dan struktur dalam budi daya padi ladang oleh Suku Sahu; (3) Mengungkapkan peran struktur dan agensi para pihak (petani, tokoh-tokoh masyarakat, pemerintah daerah dan DPRD Halbar) dalam mengembangkan perilaku masyarakat untuk mendukung budi daya padi ladang di Kabupaten Halbar; (4) Mengkonstruksi pendekatan komunikasi pembangunan yang dapat dikembangkan untuk menunjang pengembangan pertanian berkelanjutan, khususnya budi daya padi ladang di Kabupaten Halbar .
Penelitian ini dirancang secara kualitatif dengan metode analisis etnografi komunikasi model SPEAKING, dengan bantuan software Nvivo pro 12. Para informan yang berjumlah 28 orang merupakan partisipan budaya, yaitu petani padi ladang, Kades, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, tokoh masyarakat, ketua dewan adat Suku Sahu, pemerintah daerah dan DPRD Halbar. Lokasi penelitian pada Desa Cempaka di Kecamatan Sahu Timur, yang masih
rutin melakukan budi daya padi ladang dan orom sasadu, dan merupakan kelompok Tala’i, sedangkan Desa Worat-Worat di Kecamatan Sahu, yang mulai berkurang melakukan budi daya padi ladang tetapi, rutin merayakan syukuran panen orom sasadu, dan merupakan kelompok Padusua. Metode etnografi komunikasi digunakan untuk menganalisis pola komunikasi pada praktik budi daya padi ladang secara rion-rion dan perayaan syukuran panen orom sasadu, sehingga dapat diketahui pemaknaan komunitas petani Sahu terhadap praktik sosial tersebut. Selain itu dapat digunakan peneliti untuk menganalisis hubungan dualitas agensi dan struktur dengan kombinasi teori strukturasi dan hibridisasi budaya sebagai teori komunikasi pembangunan, selanjutnya peran-peran agensi dan struktur untuk pelestarian budi daya padi ladang serta mengkonstruksi pendekatan komunikasi pembangunan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan di Kabupaten Halbar.
Penelitian ini menemukan pemaknaan Suku Sahu Jio Tala’i Padusua tentang budi daya padi ladang secara rion-rion dan orom sasadu yaitu: (1) Pelestarian nilai-nilai historis, tradisi, kerjasama, tolong-menolong, kekeluargaan, kerukunan; (2) Nasi adalah makanan pokok dan istimewa; (3) Perayaan syukuran panen dan berkat Tuhan selama setahun. Rion-rion dan orom sasadu merupakan bentuk komunikasi ritual karena terdapat ritual doa sebelum dan sesudah penanaman padi ladang, kebiasaan meletakkan bambu tempat benih dan sasapu secara vertikal di tanah, sedangkan pada orom sasadu,terdapat juga ritual doa, penyampaian pesan adat (bobita), nyanyian berbalas pantun (ma’io) dan ritual diskusi adat (kokonofu) serta tari-tarian. Hubungan agensi dan struktur dalam praktik budi daya padi ladang secara rion-rion dan orom sasadu merupakan hubungan dualitas, dimana struktur maupun agen dengan agensinya memiliki pengaruh seimbang dalam praktik budi daya padi ladang. Pengaruh faktor internal dan eksternal komunitas menyebabkan telah terjadi perubahan atau tranformasi struktur, yang merupakan hibridisasi budaya. Selanjutnya para agen dengan agensinya melakukan peran-peran sebagai pelaku praktik budi daya padi ladang dan para tokoh masyarakat melakukan peran advokasi pelestarian budi daya padi ladang pada kebijakan pemerintah daerah Halbar.
Penelitian ini menemukan transformasi struktur merupakan hibridisasi budaya dimana terjadi perpaduan dua budaya, yaitu budaya lokal Sahu (rion-rion, orom sasadu) dengan kebijakan pemerintah daerah melalui program kerja khususnya untuk budi daya padi ladang sebagai budaya lain atau budaya modern (teknologi pertanian), sehingga membentuk struktur hibrid dalam pendekatan komunikasi pembangunan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan, khususnya budi daya padi ladang di Kabupaten Halbar
Rancang Bangun Sistem Rantai Pasok Agroindustri Kakao Berdaya Saing Tinggi Menggunakan Sistem Dinamik.
Kakao sebagai salah satu komoditas perkebunan penyumbang devisa negara
mengalami penurunan produksi yang mengganggu pemenuhan pasokan industri
pengolahan. Penurunan produksi disebabkan umur tanaman tua, pola budidaya
belum sesuai, serangan OPT, dan perubahan iklim. Penanganan pascapanen
khususnya fermentasi belum menjadi prioritas, pemasaran belum kolektif,
kemitraan petani dan industri belum terjalin baik, harga fluktuatif dan rantai pasok
yang cukup panjang menyebabkan petani tidak mengutamakan mutu biji kakao
yang dihasilkan. Luas area tanaman kakao petani yang rata-rata 0.25-1 ha dan
desakan kebutuhan ekonomi mendorong petani menjual hasil panen kakao dalam
bentuk biji basah dan biji kering asalan kepada pengumpul lokal. Kondisi ini
mengakibatkan mutu kakao rendah dan tidak mampu bersaing dengan kakao dari
Afrika.
Rendahnya produksi kakao mendorong pengumpul lokal dan pedagang
sebagai agen perantara membeli biji kakao sebelum panen melalui pinjaman uang
kepada petani. Pendekatan ini dilakukan untuk memperoleh bahan baku yang
diperlukan industri pengolahan kakao. Disisi perdagangan, biji kakao Indonesia
diekspor ke negara-negara Eropa dan Amerika untuk diolah menjadi produk antara
dan produk jadi. Ketimpangan pasokan dan kebutuhan dalam negeri mengharuskan
industri mengimpor biji kakao dari negara produsen lainnya.
Penelitian ini mengkaji sistem rantai pasok agroindustri kakao di kabupaten
Gunung Kidul provinsi DIY, sebagai salah satu penghasil kakao dan menjadi
kawasan pengembangan kakao nasional. Tujuan yang ingin dicapai adalah
kontinuitas pasokan industri pengolahan kakao, peningkatan mutu biji kakao dan
harga yang layak. Model yang dikembangkan terdiri dari sub sistem ketersediaan
kakao di petani yang dihasilkan dari kebun eksisting, pembukaan kebun baru, dan
pengendalian OPT. Sub sistem distribusi biji kakao melibatkan petani, pengumpul
UFPBK, TTP Nglanggeran dan Cokelat nDalem berdasarkan permintaan
konsumen. Dinamika permintaan dan ketersediaan (stok) di setiap pelaku
mempengaruhi keuntungan masing-masing pelaku. Sub subsistem peningkatan
mutu biji kakao melalui program penerapan SOP. Mutu yang dihasilkan petani
menentukan harga yang secara langsung mempengaruhi pendapatan petani. Mutu
biji kakao menurut SNI 2323:2008 terdiri dari Mutu I, II, dan III. Biji kakao yang
dihasilkan kelompok tani Sidodadi terdiri dari tiga level mutu dan harga yaitu mutu
I harga Rp40 000 per kg, mutu II harga Rp35 000 per kg dan mutu III harga Rp28
000 per kg. Harga menjadi stimulan petani untuk menghasilkan biji kakao bermutu
baik. Terpenuhinya mutu yang baik dan harga yang baik akan meningkatkan
peluang daya saing kakao Indonesia.
Metode yang digunakan untuk melihat pengaruh dan saling keterkaitan antara
variabel-variabel sistem rantai pasok agroindustri kakao ini adalah sistem dinamik.
Perubahan perilaku model sistem rantai pasok kakao dibangun melalui skenario
yaitu (1) upaya peningkatan produksi kakao dengan variabel dinamik pupuk,
perawatan, fraksi pengendalian, target losses, dan kebun baru; (2) upaya perbaikan
mutu dengan variabel dinamik manajemen, saprodi dan teknologi; (3) upaya
peningkatan produksi kakao dan perbaikan mutu dengan variabel dinamik pupuk,
perawatan, fraksi pengendalian, target losses, kebun baru, manajemen, saprodi dan
teknologi.
Hasil skenario pertama terjadi peningkatan pasokan biji kakao di Kel Tani
sebesar 2.61% dari eksisting, penurunan defisit neraca pasokan dan permintaan biji
kakao sebesar 0.7%, dan belum terjadi peningkatan mutu. Skenario kedua
menghasilkan percepatan pencapaian mutu I pada tahun 2022, sedangkan pasokan
biji kakao di Kel Tani sama dengan eksisting. Skenario ketiga menghasilkan
peningkatan pasokan biji kakao di Kel Tani 2.61%, penurunan defisit neraca
pasokan dan permintaan biji kakao sebesar 0.7%, pencapaian mutu I tahun 2022,
dan meningkatkan akumulasi keuntungan Kel Tani 29.31%, maka skenario ketiga
menjadi skenario terpilih.
Rekomendasi implementasi kebijakan operasional sebagai tindak lanjut
skenario terpilih disesuaikan dengan program pengembangan kawasan kakao dan
kondisi lapang. Kebijakan operasional menitikberatkan pada variabel pengungkit
peningkatan produksi kakao dan perbaikan mutu biji kakao. Dukungan seluruh
pelaku rantai pasok agroindustri kakao seperti Dinas yang membidangi perkebunan,
Ditjen Perkebunan, lembaga riset, lembaga penyuluhan, penyedia saprodi, dan
lembaga keuangan sangat diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan teknis. Pola
kemitraan Kel Tani dengan industri pengolahan kakao memudahkan penjualan biji
kakao berkualitas terbaik dan harga terbaik untuk peningkatan pendapatan petani.
Industri pengolahan akan menghasilkan produk hilir berkualitas dan mampu
bersaing di pasar domestik dan global
Implementasi Sistem Jaminan Halal dan Higiene Sanitasi di Rumah Makan Bakmi GS Bogor
Bakmi GS merupakan sebuah rumah makan yang belum menerapkan sistem
jaminan halal dan higiene sanitasi dalam proses bisnisnya. Oleh karena itu,
diperlukan penyusunan manual Sistem Jaminan Halal (SJH) yang berisi panduan
teknis bagi perusahaan dalam menerapkan SJH dan terintegrasi dengan
persyaratan higiene sanitasi. Penelitian ini bertujuan menyusun dan
mengimplementasikan manual SJH di Bakmi GS, serta merumuskan rekomendasi
perbaikan terhadap implementasi yang telah dilakukan. Manual SJH yang disusun
memuat kebijakan halal, tim manajemen halal, pelatihan dan edukasi, bahan,
menu, fasilitas, prosedur, kemampuan telusur, penanganan produk tidak sesuai
kriteria, audit internal, dan kaji ulang manajemen. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa manual SJH dapat diimplementasikan seluruhnya, kecuali kriteria bahan
dan fasilitas. Berdasarkan kelemahan tersebut, rekomendasi perbaikan yang
diusulkan kepada Bakmi GS adalah melengkapi dokumen pendukung bahan, audit
supplier, mengganti bahan yang belum memiliki sertifikat halal, memasang
beberapa fasilitas sanitasi, mengikuti kursus higiene sanitasi, dan melakukan
pemeriksaan kesehatan karyawan secara rutin
Pemodelan Regresi Kuantil Bayes untuk Pendugaan Curah Hujan Ekstrim di Jawa Barat
Regresi linear sederhana sering digunakan untuk mendapatkan hubungan
fungsional antar dua peubah atau lebih dan juga dapat memprediksi pengaruh
peubah respon terhadap peubah penjelas. Ketika data yang digunakan tidak
simetris, regresi linear sederhana kurang tepat digunakan dikarenakan nilai dugaan
sensitif terhadap pencilan. Oleh karena itu dikembangkan metode regresi kuantil
(RK) yang dapat digunakan menganalisis sejumlah data yang tidak simetris.
Pendugaan parameter RK dapat ditentukan dengan metode Bayes, regresi
kuantil Bayes (RKB). RKB berdasarkan sebaran Laplace asimetrik sehingga untuk
mendapatkan pendugaan paramater dari sebaran posterior menggunakan metode
Markov Chain Monte Carlo (MCMC).
RK dapat diterapkan pada statistical downscaling (SD) untuk menganalisis
data-data curah hujan ekstrim karena RK dapat mengukur efek peubah penjelas
tidak hanya di pusat sebaran data, tetapi juga pada bagian atas dan bawah ekor
sebaran. SD merupakan suatu teknik yang menggunakan metode statistika untuk
melihat hubungan data yang berskala global dengan data berskala lokal. Data
berskala global yaitu data luaran global climate model (GCM) dan data berskala
lokal yaitu data curah hujan bulanan. Data luaran GCM yaitu berdimensi banyak
sehingga terjadi multikolinearitas yang akan menyebabkan dugaan parameter
untuk setiap model menjadi bias. Hal ini dapat diselesaikan dengan least absolute
shrinkage and selection operator (LASSO).
Jawa Barat memiliki luas sebesar 35 ribu km2 dengan kawasan utara
merupakan daerah dataran rendah dan kawasan selatan merupakan daerah dataran
tinggi. Rata-rata curah hujan bulanan di Jawa Barat sebesar 184.7 mm/bulan pada
tahun 2016. Adanya perbedaan ketinggian mengakibatkan perbedaan intensitas
curah hujan, sehingga dibutuhkan sebuah analisis untuk memperoleh prediksi
curah hujan yang akurat untuk mencegah kejadian ekstrim yang dapat
mengakibatkan kerugian di bidang pertanian.
Data yang digunakan pada tahun 1981-2009. Data curah hujan
dikelompokan berdasarkan ketinggian dataran yaitu dataran rendah memiliki
ketinggian 0-200 mdpl dan dataran tinggi memiliki ketinggian lebih dari 200 mdpl
sebagai peubah respon. Data luaran GCM adalah data presipitasi bulanan Climate
Forecas System Reanalysis (CFSR) dengan ukuran grid 2:50 2:50 pada domain
5 8 grid atau 40 grid sebagai peubah penjelas.
Curah hujan ekstrim yaitu intensitas curah hujan bulanan lebih besar dari 400
mm/bulan. Oleh karena itu, di Jawa Barat, curah hujan ekstrim terjadi pada bulan
Januari dan Februari di dataran rendah. Di dataran tinggi, curah hujan ekstrim terjadi
di bulan Oktober - April.
Model RKB di dataran rendah memiliki nilai RMSE terkecil dari pada nilai
RMSE dari model RKB di dataran tinggi. Model RKB di dataran rendah memiliki
nilai korelasi tertinggi dari pada nilai korelasi dari model RKB di dataran tinggi.
Oleh karena itu, model RKB di dataran rendah lebih baik dari pada model RKB di
dataran tinggi.
Untuk prediksi model RKB di dataran rendah memiliki nilai RMSEP terkecil
dari pada nilai RMSEP dari model RKB di dataran tinggi. Model RKB di dataran
rendah memiliki nilai korelasi tertinggi dari pada nilai korelasi dari model RKB di
dataran tinggi. Oleh karena itu, model RKB di dataran rendah lebih baik dari pada
model RKB di dataran tinggi dalam hal prediksi.
Di dataran rendah, curah hujan di bulan Januari dapat diprediksi dengan
model kuantil 0.95. Curah hujan ekstrim di bulan Februari dapat diprediksi dengan
model kuantil 0.99. Di dataran tinggi, Curah hujan ekstrim di bulan Januari dan
November dapat diprediksi dengan model kuantil 0.99. Curah hujan ekstrim di
bulan Febuari dan April dapat diprediksi dengan model kuantil 0.95. Curah hujan
ekstrim di bulan Maret dan Desember dapat diprediksi dengan model kuantil 0.90.
Model RKB di dataran rendah dan tinggi memiliki akurasi yang relatif lebih baik
dalam menghasilkan nilai prediksi dalam satu tahun ke depan
Rasio Neutrofil- Limfosit sebagai Indikator Stres pada Kejadian Diare Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
Diare merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada manajemen
penangkaran satwa primata terutama pada monyet ekor panjang (Macaca
fascicularis). Salah satu penyebab diare pada satwa primata adalah stres yang dapat
dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Tujuan penelitian ini
adalah mengidentifikasi respon stres pada monyet yang mengalami diare dengan
mengukur rasio neutrofil per limfosit (rasio N/L) sebagai indikator stres
berdasarkan faktor jenis kelamin, umur, dan populasi kandang. Penelitian ini
dilakukan dengan cara membuat sampel ulas darah monyet yang mengalami diare
dan mengukur rasio N/L berdasarkan hasil perhitungan diferensial leukosit. Nilai
rata-rata rasio N/L dibandingkan berdasarkan beberapa faktor, yaitu jenis kelamin,
perbedaan kelompok umur muda (1–4 tahun) dan kelompok umur tua (lebih dari 6
tahun), dan populasi kandang dengan jumlah kurang sama dengan 10 ekor, 10
sampai 20 ekor, dan lebih dari 20 ekor. Nilai rata-rata rasio N/L yang lebih tinggi
terdapat pada monyet dengan jenis kelamin betina, monyet pada kelompok umur
lebih tua, dan monyet pada populasi kandang dengan jumlah lebih dari 20 ekor
Analisis Kinerja Waktu dengan Precedence Diagram Method pada Proyek Pembangunan Apartemen T Plaza, Jakarta
Proyek konstruksi pada umumnya mempunyai rencana penjadwalan yang
telah dipertimbangkan secara matang. Akan tetapi, sering dijumpai pelaksanaan di
lapangan yang tidak sesuai dengan rencana yang telah dibuat sehingga
mengakibatkan keterlambatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja
waktu pada pembangunan Apartemen T Plaza, mengidentifikasi pekerjaan kritis,
serta menentukan faktor penyebab keterlambatan. Metode yang digunakan untuk
identifikasi pekerjaan kritis adalah precedence diagram method pada program
Microsoft Project 2013. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa proyek secara
keseluruhan mengalami keterlambatan. Nilai deviasi pada bulan April 2017 ialah -
0.44% dan pada bulan Mei 2017 sebesar -1.79%. Beberapa pekerjaan yang
termasuk kategori pekerjaan kritis, yakni pekerjaan persiapan, pekerjaan struktur,
dan beberapa pekerjaan arsitektur. Faktor utama penyebab keterlambatan pada
proyek ialah pendanaan. Tindakan perbaikan yang diusulkan ialah memprioritaskan
pekerjaan-pekerjaan yang bersifat kritis untuk lebih cepat diselesaikan