31665 research outputs found
Sort by
Preparasi Cangkang Undur-Undur Laut Emerita Emeritus sebagai Bahan Baku Fluorapatit
Undu-undur laut adalah salah satu jenis crustacea kecil yang ditemukan di perairan Indonesia. Khususnya di Jawa berhasil ditemukan tiga spesies yang ditemukan dan salah satunya adalah E. emeritus yang menjadi fokus penelitian ini. Tujuan utama penelitian ini adalah identifikasi peluang pemanfaatan cangkang E. emeritus sebagai bahan baku fluorapatit. Secara garis besar penelitian ini meliputi (1) Preparasi dan identifikasi, kandungan, unsur, struktur, dan morfologi cangkang undur-undur laut E. emeritus; (2) Analisis komposisi, struktur, dan morfologi cangkang E. emeritus setelah proses pemanasan; dan (3) Preparasi material fluorapatit dengan metode MAS berbasis cangkang undur-undur laut E. emeritus.
Eksplorasi komposisi, unsur, dan mikrostruktur pada tubuh dan cangkang Emerita emeritus menunjukkan tubuh E. emeritus (dengan cangkang) memiliki komposisi terbesar pada kadar abu, asam glutamate, omega-9 dan omega-3. Secara mikrostruktur cangkang E. emeritus menunjukkan terdapat empat lapisan utama yang terdiri dari lapisan epicuticle, exocuticle, endocuticle, dan epidermis, dengan kandungan unsur penyusunnya meliputi O, C, Ca, N, Mg, Al, P, dan Na, yang didominasi oleh fasa magnesium kalsit.
Selama proses pemanasan cangkang, menunjukkan adanya proses penurunan massa hingga 56% dan diindikasi membentuk fasa baru. Sifat termal pada kurva TGA dan DTA menunjukkan adanya respon termal yang cukup besar pada wilayah suhu 300 °C – 450 °C yang menunjukkan proses endotermis dan 600 °C – 800 °C yang menunjukkan proses eksotermis. Sehingga, titik suhu 200 ºC, 300 ºC, 450 ºC, 600 ºC, 700 ºC, dan 800 ºC menjadi paramater analsisi selanjutnya. Hasil SEM-EDX menunjukkan adanya penurunan persentase massa karbon yang diikuti pelepasan unsur CO2 dan terlihat dengan jelas pada hasil morfologinya. Hasil XRD menunjukkan mulai terbentuknya fasa CaCO3 pada suhu 600 °C, dengan ketepatan parameter kisi yang dihasilkan adalah lebih dari 99%. Hal tersebut juga diperlihatkan pada hasil FTIR puncak gugus karbonat untuk struktur C-O stretching, CO32- stretching, dan CO2 stretching yang membentuk fasa kalsium karbonat.
Pada kasinasi cangkang E. emeritus menunjukkan fasa kalsium hidroksida (Ca(OH)2) dengan nilai persentase kandungan kalsium 57% dengan ukuran kristalit 197.41 nm dan parameter kisi menunjukkan ketepatan diatas 98%. Pada proses sintesis, kondisi optimal rasio molaritas P/F yang membentuk fasa fluorapatit adalah P/F= 4, dimana hasil XRD menunjukkan dengan ukuran kristalit 110.01 nm dan parameter kisi menunjukkan ketepatan diatas 99%. Selain itu, memiliki hasil morfologi dengan bentuk tidak beraturan dan terbentuknya aglomerasi. Karakteristik gugus fungsi juga menunjukkan adanya interaksi dengan senyawa fluor (C-F) pada bilangan gelombang 1122 cm-1
Penambatan Molekuler Senyawa Fenolik Kangkung (Ipomoea aquatica) terhadap Protein Fat Mass and Obesity Related (FTO).
Obesitas menjadi ancaman kesehatan global yang lumrah dan tinggi
prevalensinya. Salah satu faktornya adalah faktor genetik, yakni fat mass and
obesity-related protein atau protein FTO. Tujuan penelitian ini adalah menguji
penambatan protein FTO (4IE6) sebagai reseptor dengan senyawa-senyawa fenolik
kangkung (Ipomoea aquatica) sebagai ligan uji dan inhibitor. Senyawa-senyawa ini
adalah N-cis-feruloyl tiramin, N-trans-feruloyl tiramin, asam isoklorogenat A, asam
isoklorogenat B dan asam isoklorogenat C. Senyawa pembanding sebagai acuan
adalah inhibitor FTO UN9. Obat obesitas orlistat digunakan sebagai pembanding
sekunder ligan uji. Berdasarkan hasil penambatan, semua senyawa fenolik Ipomoea
aquatica memiliki potensi yang baik inhibitor protein FTO. Hasil pengujian
menunjukkan nilai afinitas terbaik sebesar -9.6 kkal/mol dan jumlah ikatan
hidrogen terbanyak sebanyak 8 ikatan diperoleh oleh asam isoklorogenat A dengan
kemiripan residu sebesar 50% terhadap UN9
Kombinasi Induksi Hormon PMSG, Antidopamin, Kunyit dan Kuda Laut pada Pakan terhadap Reproduksi Ikan Botia Chromobotia macracantus.
Ikan botia Chromobotia macracanthus sebagai komoditas unggulan ikan
hias air tawar yang mempunyai pertumbuhan yang lambat dan masih tergolong
ikan yang sulit dibudidayakan. Reproduksi pada ikan diatur oleh kelenjar endokrin
yang terdiri dari hipotalamus, pituitary dan gonad. Dalam proses reproduksi
selain kelenjar endokrin, sinyal lingkungan memegang peranan penting untuk
mengaktivasi hormon reproduksi gonadotropin. Namun dalam sistem budidaya
sinyal lingkungan dapat menjadi faktor pembatas pada sistem reproduksi sehingga
dapat menghambat proses pematangan gonad dan tidak dapat memijah secara
alami. Untuk meminimalisasi peran sinyal lingkungan dalam sistem reproduksi
ikan di wadah budidaya, rekayasa hormonal dengan induksi hormon dan
suplementasi nutrisi merupaka salah satu cara untuk mempercepat proses
reproduksi.
Perkembangan pasar botia tidak sejalan dengan perkembangan teknologi
reproduksi ikan botia, sehingga saat ini pasar dipenuhi dengan hasil tangkapan
dari alam. Hal ini mengakibatkan terjadinya kelangkaan populasi ikan botia di
alam apabila teknologi dan aspek reproduksi ikan botia tidak segera diatasi.
Produksi berkelanjutan terhadap ikan botia telah menjadi hal yang penting untuk
dilakukan. Manipulasi hormonal dan suplementasi pakan dapat meningkatkan
kinerja reproduksi ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran induksi
hormonal PMSG+Antidopamin, suplementasi kunyit dan kuda laut dalam
mempercepat pematangan gonad ikan botia
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap
(RAL) Faktorial dengan menggunakan tiga faktor yaitu faktor hormon PMSG+
Antidopamin (Oodev® 0.5 mL kg-1 bobot ikan), faktor tepung kunyit (0; 2.5; 5 g
kg-1 pakan) dan faktor tepung kuda laut (0; 2.5; 5 g kg-1 pakan). Ikan uji yang
digunakan adalah 135 ekor ikan botia betina dengan panjang 10-15 cm berasal
dari koleksi BPBAT Sungai Gelam Jambi. Masing-masing perlakuan diulang
sebanyak 15 ulangan individu. Pemeliharaan induk botia di dalam jaring
70x60x50 cm sebanyak 9 unit untuk masing-masing perlakuan dan ditempatkan
dalam bak terpal ukuran 300x200x70 cm. Pemberian pakan dilakukan secara
restricted sebanyak 5% bobot tubuh dan diberikan pada pagi dan sore hari.
Kualitas air dijaga pada kondisi optimal dengan sistem resirkulasi dan secara
berkala dipaparkan sinar ultraviolet untuk sterilisasi bakteri sebagai pencegahan
penyakit. Manipulasi lingkungan dibuat dengan kondisi ruangan tertutup dengan
intensitas cahaya yang redup dan pemberian lampu warna merah 5 watt untuk
menyesuaikan kondisi seperti di alam.
Hasil penelitian menunjukan pada hari ke-84 merupakan puncak
konsentrasi estradiol dalam plasma darah dan perlakuan tertinggi terdapat pada
perlakuan Oodev 0.5 mL kg-1 bobot tubuh dengan kombinasi kunyit 2.5 g kg-1
pakan dan kuda laut 2.5 g kg-1 pakan (K2.5KL2.5) sebesar 326.50±9.52 pg mL-1
meningkat 1027.27% dari konsentrasi awal. Puncak hormon testosteron terjadi
pada hari ke-42 dengan perlakuan Oodev, kunyit 2.5 g kg-1 dan kuda laut 5 g kg-1
dalam pakan (K2.5KL5) sebesar 3.215±0.013 ng mL-1. Pemberian perlakuan
Oodev, kunyit 2.5 g kg-1 dan kuda laut 2.5 g kg-1 menunjukkan hasil tertinggi
pada Hepatosomatik Indek (HSI) sebesar 1.36±0.12 % dan Gonadosomatik Indek
(GSI) sebesar 3.593%. Perlakuan Oodev 0.5 ml kg-1 bobot tubuh, kunyit 5 g dan
tepung kuda laut 2.5 g kg-1 dalam pakan memiliki diameter telur tertinggi
0.72±0.12 mm. Dari hasil pengukuran diameter, perkembangan oosit dan histologi
telur telah memamasuki fase Vitellogenic dan menuju tahap maturasi (TKG IV).
Pertumbuhan harian (GR) ikan botia selama pemeliharaan 105 hari
menunjukkan perlakuan pemberian suplementasi kunyit pada pakan tidak
memberikan perbedaan yang signifikan (P>0.05), sedangkan pemberian kuda laut
berpengaruh terhadap pertumbuhan harian ikan botia dengan selang kepercayaan
95% dengan kisaran pertumbuhan harian (0.3-0.4 g hari-1). Laju pertumbuhan
spesifik (SGR) antara 0.14–0.17 % hari-1 dan efisiensi pakan pada ikan botia
menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada setiap perlakuan (P>0.05)
antara 3.12-6.25%.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa induksi Oodev 0.5
mL kg-1 bobot tubuh, suplementasi kunyit 2.5 g kg-1 dan kuda laut 2.5 g kg-1
dalam pakan dapat meningkatkan respon hormon reproduksi dan mempercepat
pematangan gonad ikan botia Chromobotia macracanthus
Aplikasi Prebiotik Madu terhadap Kinerja Produksi Budidaya Udang Vaname (Litopaneus vannamei) di Tambak Udang Pinang Gading Lampung
Budidaya udang vaname dengan sistem intensif dapat berdampak terhadap penurunan pertumbuhan dan meningkatnya resiko terserang penyakit. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja produksi adalah dengan meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang dengan pemberian prebiotik. Penelitian bertujuan menguji efektivitas pemberian prebiotik madu melalui pakan terhadap kinerja produksi budidaya udang vaname di tambak. Penelitian ini terdiri dari dua perlakuan yaitu kontrol (tanpa prebiotik) dan prebiotik madu dengan dosis 0.5%, masing-masing dengan dua ulangan. Sebanyak empat petak tambak masing-masing berukuran 2400 m2 dan 3800 m2 untuk perlakuan prebiotik, serta 2900 m2 dan 2700 m2 untuk perlakuan kontrol. Padat penebaran masing-masing petak adalah 80, 50, 81 dan 62 ekor/m2. Udang diberi pakan dengan kandungan protein 35% dan frekuensi pemberian pakan sebanyak empat kali sehari pada pukul 07.00, 10.00, 14.00, dan 17.00 WIB. Pemberian pakan sesuai perlakuan dimulai pada day of culture (DOC) 20 hingga panen (DOC 80). Parameter yang diukur meliputi tingkat kelangsungan hidup (TKH), laju pertumbuhan harian (LPH), rasio konversi pakan (RKP), biomassa panen, bobot rata-rata, size, total haemocyte count, total bakteri dan jenis Vibrio serta analisis biaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup, RKP, pertumbuhan harian, dan bobot rata-rata udang pada perlakuan prebiotik madu lebih tinggi dibanding dengan perlakuan kontrol. Sedangkan pada biomassa panen perlakuan kontrol lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan prebiotik. Total haemocyte count (THC), total bakteri dan jenis Vibrio pada perlakuan prebiotik lebih baik dibanding dengan perlakuan kontrol. Pemberian prebiotik madu dengan dosis 0.5 % dapat meningkatkan kinerja produksi budidaya udang vaname di tambak
Kajian Pemanfaatan FMA dan Pengurangan Pupuk N, P untuk Meningkatkan Pertumbuhan, Produksi, dan Kadar Metabolit Jintan Hitam (Nigella sativa L.).
Jintan hitam (Nigella sativa L.) merupakan tanaman obat yang berasal dari
daerah Asia Barat dan Mediterania yang beriklim sub-tropis. Berbagai penelitian
menunjukkan jintan hitam yang ditanam di Indonesia mampu bereproduksi dan
menyelesaikan siklusnya secara lengkap. Penggunaan pupuk anorganik yang
masih tinggi menjadi kendala pengembangan jintan hitam di Indonesia. Inokulasi
Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) adalah salah satu solusi alternatif untuk
mengembangkan jintan hitam di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk
mempelajari dan mendapatkan genus FMA dari berbagai aksesi jintan hitam yang
ditanam di Indonesia dan juga mendapatkan kombinasi terbaik antara berbagai
sumber FMA dan pupuk N, P terhadap pertumbuhan, produksi, dan kadar
timokuinon serta timol jintan hitam.
Percobaan lapang telah dilakukan pada bulan September 2017 dan
dilanjutkan kembali pada bulan April – September 2018 di Kebun Pecobaan Pasir
Sarongge, Cianjur dan Percobaan laboratorium dilakukan pada bulan Oktober-
Desember 2017 dan dilanjutkan kembali pada bulan September – Desember 2018.
Analisis Aspek biokimia dilakukan di Laboratorium Departemen Ilmu dan
Teknologi Pangan IPB. Analisis jumlah spora dan kolonisasi FMA dilakukan di
Laboratorium Teknologi Mikoriza dan Kualitas Bibit Departemen Silvikultur IPB.
Percobaan pertama ada 72 sampel tanah dan akar dari enam aksesi jintan hitam.
Percobaan kedua, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor.
Faktor 1 yaitu, berbagai inokulum mikoriza arbuskula, yang terdiri kontrol,
inokulum dari rizosfer jintan hitam, Inokulum FMA koleksi SEAMEO
BIOTROP, inokulum FMA koleksi Pusat Pengembangan Sumberdaya Hayati dan
Bioteknologi (PPSHB). Faktor kedua yaitu pemupukan N dan P yang terdiri dari:
kontrol, dosis anjuran, ¾ dosis anjuran, ½ dosis anjuran, ¼ dosis anjuran. Peubah
yang diamati meliputi: tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, jumlah bakal
bunga, jumlah bunga, jumlah kapsul, bobot biji pertanaman, bobot 100 biji,
jumlah kapsul hampa, estimasi produksi, berat akar segar, berat tajuk segar, berat
akar kering, berat tajuk kering, volume akar, jumlah spora FMA, kolonisasi FMA,
kadar timokuinon dan kadar timol.
Hasil percobaan pertama menunjukkan FMA dapat berasosiasi denga jintan
hitam, yang ditandai dengan ditemukan kolonisasi dan ditemukan enam genus
FMA di rizosfer jintan hitam (Glomus, Gigaspora, Acaulospora, Scutellospora,
Dentiscutata, dan Entrophospora). Hasil percobaan kedua menunjukkan inokulasi
FMA asal Biotrop menghasilkan pertumbuhan dan produksi jintan hitam paling
baik. Pengurungan pupuk N, P 75 % tidak menurunkan pertumbuhan dan
produksi jintan hitam. Kombinasi inokulum FMA koleksi Biotrop dan
Pengurangan dosisi pupuk N, P 75 % mampu meningkatkan pertumbuhan,
produksi, dan kadar timokuinon serta timol jintan hita
Isolasi dan Identifikasi Escherichia coli Resistan Antibiotika dari Ayam Broiler di Salah Satu Peternakan Kabupaten Cianjur.
Escherichia coli merupakan mikroflora normal pada saluran pencernaan manusia dan hewan. Bakteri ini dapat menjadi patogen pada kondisi tertentu dan menimbulkan penyakit yang berakibat fatal. Penggunaan antibiotik masih menjadi pilihan dalam upaya pencegahan dan pengobatan penyakit akibat infeksi bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat resistansi bakteri E. coli yang berasal dari swab kloaka ayam broiler terhadap beberapa antibiotika, yaitu ampisilin-sulbaktam, asam nalidiksat, eritromisin, gentamisin, kloramfenikol, oksitetrasiklin, dan siprofloksasin. Pengujian resistansi E. coli terhadap antibiotika dilakukan dengan metode Kirby Bauer yang didasarkan pada hubungan ukuran zona hambat dan sensitivitas bakteri. Hasil yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan Clinical Laboratory Standards Institute (CLSI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa E. coli memiliki tingkat resistansi yang bervariasi terhadap setiap antibiotika. Tingkat resistansi E. coli paling tinggi terjadi pada asam nalidiksat, eritromisin, dan oksitetrasiklin, yaitu sebesar 100%, siprofloksasin 56%, kloramfenikol 39%, gentamisin 33%, dan ampisilin 28%. Escherichia coli telah bersifat resistan terhadap seluruh antibiotik yang digunakan dengan persentase yang berbeda
Kontribusi Sektor Kehutanan Terhadap Ekonomi Provinsi Jawa Barat.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan suatu tolak ukur
pendapatan suatu daerah. Peran sektor kehutanan merupakan salah satu faktor yang
dapat meningkatkan pendapatan dan pembangunan suatu daerah yang memiliki
sektor kehutanan. Provinsi Jawa Barat memiliki luas kawasan hutan 816.000 Ha
yang terbagi atas 3 fungsi kawasan hutan. Hasil penelitian yang dilakukan
menunjukan bahwa kontribusi sektor kehutanan pada tahun 2007-2016 sebesar
1.28% hingga 1.80%. Sektor kehutanan Jawa Barat merupakan nonbasis karena
nilai Loqation Quotient sebesar 0.39-0.76. Nilai Multiplier Effect berkisar 55.7
hingga 77.9. Sektor kehutanan Jawa Barat berada dalam kondisi memiliki peluang
dan kekuatan yang tinggi, namun masih dibutuhkan strategi untuk mendukung
pertumbuhan yang lebih agresif. Kebijakan strategi berdasarkan prioritasnya
diurutkan dari Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Hutan, Peningkatan
pengelolaan hutan bersama masyarakat, Pengembangan Ekowisata, dan Penguatan
Teknologi Industri Pengolahan Hasil Hutan
Pengaruh Waktu dan Suhu Steam terhadap Sifat Fisis dan Mekanis Oriented Strand Board Bambu Betung
Bambu merupakan salah satu jenis bahan berlignoselulosa dengan banyak
manfaat dan potensi. Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan
bahwa bambu cocok dijadikan sebagai bahan baku Oriented Strand Board (OSB).
Penelitian terdahulu meliputi perlakuan steam pada suhu yang relatif rendah dan
waktu yang relatif singkat sudah banyak dilakukan, namun kombinasi waktu dan
suhu steam optimum yang menghasilkan sifat-sifat OSB yang baik belum
diketahui. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh waktu
dan suhu steam terhadap sifat-sifat OSB yang dihasilkan. Penelitian bertujuan
untuk mengevaluasi pengaruh waktu dan suhu steam terhadap sifat fisis dan
mekanis OSB bambu. Strand bambu diberi perlakuan steam selama (1, 2, dan 3)
jam pada suhu (115, 120, dan 126) °C kemudian dibilas dengan larutan NaOH
1%. OSB bambu dibuat dengan ukuran (30x30x0.9) cm3 dengan kerapatan target
0.7 g cm-3. Pengujian sifat fisis dan mekanis mengacu pada standar CSA 0437.0
(Grade O-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi waktu dan suhu
steam memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap sifat fisis dan
mekanis OSB yang dihasilkan. Kombinasi waktu dan suhu 2 jam 126 °C
menghasilkan sifat fisis dan mekanis OSB yang paling baik dibandingkan
perlakuan lainnya
Pelabelan Total Even Vertex Magic pada Graf Matahari dan Disjoint Union dari Graf Cycles
simpul adalah pelabelan total vertex magic dengan memasangkan himpunan simpul
ke himpunan bilangan bulat genap {2,4,6, … , 2���������}. Karya ilmiah ini menunjukkan
syarat cukup dari graf matahari ���������������������������( ���������) memiliki pelabelan total even vertex magic
adalah ��������� ≥ 3, dan menunjukkan syarat cukup dan syarat perlu pada disjoint union
dari graf cycles ��������������������������� memiliki pelabelan total even vertex magic adalah ��������� dan ���������
bilangan bulat ganjil
Status Kondisi Habitat Hiu Berjalan (Hemiscyllium halmahera Allen & Erdmann, 2013) di Pesisir Selatan Pulau Ternate, Maluku Utara.
Hiu berjalan (Hemiscyllium halmahera) merupakan hiu endemik yang dapat dijumpai di perairan Maluku Utara. Akan tetapi terkait kondisi habitat spesies tersebut masih belum diketahui, terutama di pesisir selatan Pulau Ternate. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik habitat hiu berjalan secara deskriptif kuantitatif. Data yang dikumpulkan meliputi jumlah kemunculan hiu berjalan, kualitas lingkungan perairan, serta kondisi padang lamun dan terumbu karang. Diperoleh jumlah kemunculan hiu berjalan sebanyak 16 kali dari seluruh stasiun pengamatan. Kondisi kualitas lingkungan perairan tergolong baik dan memenuhi baku mutu yang ditetapkan pemerintah. Akan tetapi analisis korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kualitas lingkungan perairan dengan jumlah kemunculan hiu tersebut. Kondisi padang lamun sudah tergolong rusak dan miskin, sedangkan kondisi terumbu karang masih cukup baik