Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Pengaturan Hak Atas Hutan dalam Kerangka Kerja REDD+: Pembelajaran dari Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia

    No full text
    Kejelasan property rights yang dapat mengendalikan deforestasi merupakan syarat perlu bagi keberhasilan implementasi REDD+ di Indonesia. Namun, tidak ada argumen teoritis maupun empiris yang menyatakan bahwa rezim property rights tertentu lebih baik dari rezim yang lain dalam melestarikan hutan. Deforestasi sangat terkait dengan atau merupakan konsekuensi dari lemahnya hak atas hutan. Sayangnya, upaya untuk penurunan deforestasi dan hubungannya dengan penyiapan REDD+ di Indonesia melalui pendekatan pengaturan property rights sangat lemah. Pertanyaan penelitian utama dalam studi ini adalah bagaimana rezim property rights hutan saat ini sesuai untuk kerangka kerja REDD+. Oleh karena itu studi ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaturan hak atas hutan dalam peraturan perundang-undangan nasional Indonesia dan pengaruhnya terhadap deforestasi, (2) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penegakkan property rights pada kelembagaan pengelolaan hutan lokal dalam konteks penurunan deforestasi, dan (3) menilai efektivitas hak atas hutan yang berlaku saat ini untuk kerangka kerja REDD+. Penelitian dilakukan di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia, difokuskan di dua kelembagaan hutan lokal, yaitu: Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Berau Barat, dan Hutan Desa (HD) Merabu. Data dikumpulkan dengan pendekatan survey melalui wawancara mendalam terhadap informan kunci di tingkat kabupaten dan desa, serta survey rumah tangga di tiga desa terpilih. Deforestasi historis dihitung dengan analisis spasial menggunakan citra satelit. Data penutupan lahan yang digunakan adalah tahun 2000, 2006, 2009, 2012, dan 2015. Analisis data menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif, yaitu analisis isi, analisis kelembagaan, analisis mata pencaharian, analisis stakeholder, dan sistem skor dalam penilaian kemampuan pengendalian adisionalitas, kebocoran, dan kepermanenan. Sintesis dilakukan dengan pendekatan systematic review, yaitu metode untuk melakukan penarikan kesimpulan untuk menghasilkan temuan penelitian yang komprehensif. Studi ini memberikan tiga kesimpulan utama yang diikuti oleh masing-masing rekomendasi kebijakan. Pertama, kerangka hukum nasional Indonesia belum cukup bekerja untuk mengendalikan deforestasi. Sumber kelemahannya adalah isi peraturan perundangan itu sendiri, dan kontestasi aturan dengan tingkat tapak. Analisis isi pada 29 peraturan perundangan menemukan bahwa terdapat inkonsistensi dalam definisi hutan, kesalahan interpretasi pada penetapan hutan dan kawasan hutan, pearturan yang tidak dapat diimplementasikan dalam pengakuan hutan hak sebagai kawasan hutan, pembatasan akses yang tidak relevan, dan tidak adanya pengaturan pengelolaan hutan rakyat dan hak alterasi. Pengalaman dari tiga desa terpilih menunjukkan bahwa terdapat tiga pola tindakan masyarakat dalam memperlakukan hutan. Pertama adalah kongruensi antara de facto dan de jure bundle of rights. Hal tersebut mengindikasikan kuatnya hak atas hutan, dan menyebabkan hutan dapat terjaga dengan baik. Yang kedua v adalah lemahnya hak atas hutan, diindikasikan dengan klaim ganda kepemilikan yang disebabkan oleh ketidakjelasan peraturan perundangan dan hukum adat yang diakui oleh masyarakat. Yang ketiga adalah sangat lemahnya property rights, diindikasikan dengan sangat dekatnya dengan situasi open akses. Dua situasi terakhir menggambarkan ketidaksamaan de jure dan de facto bundle if rights, dan berpotensi menyebabkan deforestasi. Kedua, studi ini mengkonfirmasi bahwa property rights terhubung dengan deforestasi dimediasi oleh suatu interaksi yang kompleks diantara tiga faktor (hukum dan peraturan, pengaturan kelembagaan, dan preferensi ekonomi). Interaksi tersebut menghasilkan kondisi hutan tertentu. Kontestasi antara aturan formal dan informal memungkinkan dapat dicapainya kelestarian hutan, asalkan aturan lokal cenderung pada tujuan perlindungan dan konservasi. Hanya saja preferensi ekonomi memainkan peranan penting bagaimana property rights bekerja mengendalikan deforestasi. Ketiga, konstelasi hak atas hutan di HD Merabu cukup efektif dalam mencapai outcome kontekstual bagi kerangkan kerja REDD+, diindikasikan dengan kapasitasnya dalam mengendalikan aditionalitas, kebocoran, dan kepermanenan. Rezim property rights hutan yang sama menunjukkan perbedaan kapasitas dalam mendukung kerangka kerja REDD+, tergantung pada tipe manajemennya. Tipe kelembagaan pengelolaan hutan memainkan peran penting dalam dalam membentuk kapasitas pengendalian adisionalitas, kebocoran, dan kepermanenan. Hak atas hutan pada kelembagaan hutan lokal dalam bentuk devolusi lebih efektif bagi kerangka kerja REDD+ dari pada bentuk desentralisasi kelembagaan hutan. Namun demikian, kedua kelembagaan hutan lokal tersebut belum cukup untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengendalian adisionalitas, kebocoran, dan kepermanenan. Temuan tersebut berimplikasi pada rekomendasi kebijakan sebagai berikut: (1) perlunya perbaikan kebijakan nasional yang masih bersifat ambigu, kontradiktif, tidak relevan, dan mengusulkan pengaturan hak alterasi, serta percepatan pengakuan atau penyusunan program untuk menyesuaikan dengan berbagai aturan lokal terkait pelestarian hutan, (2) mengusulkan strategi prioritas untuk menyelesaikan masalah deforestasi melalui program devolusi dan pendekatan ekonomi bagi mata pencaharian masyarakat pedesaan, (3) untuk peningkatan KPH, penurunan luasan KPH merupakan pilihan yang rasional untuk melokalisir kepentingan para pihak dan preferensi ekonomi, mengelola rule-in-use, dan meningkatkan efektivitas pengaturan kelembagaan, dan (4) prioritas implementasi REDD+ adalah pada kelembagaan hutan yang bersifat devolutif. Studi ini juga berkontribusi bagi pengembangan teroritis maupun praktis, yaitu: (1) mengusulkan konsep baru, the Hole of Property Rights, terkait dengan faktor yang mempengaruhi property rights bagi kelestarian hutan, (2) memberikan standar bagi penyelidikan konseptual dan praktikal untuk REDD+ (atau skema jasa lingkungan lain yang berbasis lahan) untuk menyelesaikan issu hak atas hutan di tingkat tapak, dan (3) pengayaan empiris teori property rights yang difokuskan pada deforestasi dan implikasinya bagi penyiapan REDD+ di KPH dan Hutan Desa di Kabupaten Berau, Indonesia

    Pengaruh Store Atmosphere Terhadap Kepuasan dan Loyalitas Konsumen Kedai Mimicucu Bogor

    No full text
    Perkembangan bisnis kuliner pada saat ini berkembang pesat di Kota Bogor. Salah satunya adalah bisnis kedai, restoran, atau kafe yang bermunculan diberbagai tempat strategis. Kedai Mimicucu merupakan salah satu kedai modern sejenis kafe yang mampu bertahan di tengah persaingan kafe yang berada disekitar lingkungan bisnisnya. Sehingga harus menciptakan store atmosphere yang baik untuk memberikan kepuasan dan loyalitas konsumen. Hal tersebut menjadi alasan penelitian ini dengan tujuan untuk: (1) Mengidentifikasi karakteristik konsumen, (2) Menganalisis pengaruh store atmosphere terhadap kepuasan konsumen, (3) Menganalisis pengaruh store atmosphere terhadap loyalitas konsumen, (4) Menganalisis pengaruh kepuasan konsumen terhadap loyalitas konsumen Kedai Mimicucu. Metode yang digunakan ialah non probability sampling dengan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 100 responden dan data yang diperoleh diolah menggunakan analisis Structural Equation Modelling (SEM) dengan pendekatan Partial Least Squares (PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa store atmosphere memiliki pengaruh positif secara signifikan terhadap kepuasan konsumen, store atmosphere tidak berpengaruh signifikan terhadap loyalitas konsumen, dan kepuasan konsumen berpengaruh signifikan terhadap loyalitas konsumen

    Pengembangan Produk Biskuit Biji Labu Kuning (Cucurbita moschata) dan Oncom Hitam Sebagai Makanan Tambahan Ibu Hamil

    No full text
    Biji labu kuning dan oncom hitam merupakan bahan pangan yang mudah ditemui di masyarakat dan memiliki nilai gizi yang potensial untuk dikembangkan menjadi pangan camilan untuk ibu hamil. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengembangkan formula biskuit biji labu dan oncom hitam (Bilko) sebagai makanan tambahan bagi ibu hamil. Penelitian ini terdiri dari tiga formula dan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan unit percobaan yang terdiri dari tepung beras, tepung biji labu kuning, dan tepung oncom hitam. Formula terpilih yaitu formula F3 dengan perbandingan tepung beras, tepung biji labu, dan tepung oncom 70:15:15. Hasil uji orgenoleptik (hedonik) menunjukkan produk biskuit Bilko dapat diterima oleh panelis dengan nilai rata-rata skala 5 hingga skala 6 (biasa hingga agak suka). Karakteristik kimia formula terpilih dalam 100 gram yaitu mengandung kadar air 1.3%, kadar abu 3.1%, protein 12.7%, lemak 12.3%, karbohidrat 71.5%, zat besi 8.27 mg, seng 16.9 mg dan kalsium 324.95 mg. Sebanyak satu takaran saji biskuit (80 gram) berjumlah 4 keping. Satu takaran saji biskuit dapat memenuhi energi sebesar 14.5%, 13.30% protein, 11.60% lemak, 16.3% karbohidrat, 20% kalsium, 25% zat besi, dan 58.70% seng terhadap AKG ibu hamil dalam sehari. Biskuit Bilko memiliki mutu protein yang tinggi, ditunjukkan oleh skor asam amino dengan nilai lebih dari 100% untuk setiap asam amino esensial. Biskuit Bilko memiliki kandungan aflatoksin yang aman atau dibawah ambang batas yaitu 1.69 ppb (μg/kg)

    Pengujian Kemurnian Benih Padi dari Tiga Isolasi jarak Melalui Analisis Citra dengan Pemindaian Bidang Datar, Grow Out Test, dan Mikrosatelit.

    No full text
    Pengujian kemurnian benih padi pada umumnya dilakukan secara visual dengan tingkat subjektivitas yang tinggi. Analisis citra digital dengan pemindaian bidang datar atau Image Analysis-Flatbed Scanning (IA-FS) telah dimanfaatkan untuk mengidentifikasi ciri benih suatu varietas. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi tipe simpang benih padi berdasarkan karakter morfologi bentuk dan warna melalui metode IA-FS yang dikonfirmasi dengan grow out test (GOT); (2) mendapatkan informasi proporsi tipe simpang dari isolasi jarak yang berbeda melalui metode IA-FS, dan (3) mengkonfirmasi tipe simpang dari isolasi jarak yang berbeda melalui metode IA-FS dengan uji GOT dan mikrosatelit. Penelitian dilaksanakan dalam 2 percobaan. Percobaan pertama adalah pengembangan IA-FS sebagai teknik untuk pengujian kemurnian genetik benih. Sebanyak 1200 butir benih masing-masing dari varietas Aek Sibundong dan Sintanur dipindai dengan IA-FS. Benih dievaluasi tingkat kemurnian berdasarkan 5 parameter bentuk (circularity, feret, min feret, AR dan round) dan 3 parameter warna (red, green dan blue). Kemudian benih tersebut ditanam untuk pengujian kemurnian dengan GOT dan diamati ciri-ciri morfologi tanaman di lapangan. Pada percobaan kedua dilakukan pengujian kemurnian benih padi pada tiga isolasi jarak berdasarkan GOT, IA-FS dan mikrosatelit. Benih Aek Sibundong dan Sintanur ditanam berdampingan dengan isolasi jarak 1, 2, dan 3 m. Masingmasing varietas pada tiap isolasi jarak ditanam sebanyak 400 rumpun (4 baris tanaman) dengan jarak tanam 25 x 40 cm. Pengujian kemurnian benih secara GOT per varietas per isolasi jarak. Setelah pengujian GOT selesai, benih dipanen pada malai batang utama pada masing-masing rumpun. Benih dibagi menjadi 2 yaitu benih untuk pengujian IA-FS dan sebagai bahan tanam untuk pengujian mikrosatelit. Untuk IA-FS sampel benih diambil 1 butir benih per malai (100 butir per baris atau tergantung dari jumlah tanaman yang bisa dipanen sebagai benih). Benih dengan jumlah yang sama digunakan untuk pengujian kemurnian berdasarkan mikrosatelit, namun ditanam secara bulk pada masing-masing baris yang sama. Pengujian mikrosatelit menggunakan 3 primer yaitu RM224, RC12 dan Afrag. Hasil penelitian percobaan pertama menunjukkan bahwa metode IA-FS dapat mengkuantifikasi karakter bentuk dan warna benih serta menguji kebenaran varietas Aek Sibundong dan Sintanur. Tingkat akurasi identifikasi kebenaran varietas menggunakan IA-FS yaitu 99.7% pada saat mengkombinasikan parameter bentuk dan warna, 99.2% berdasarkan bentuk dan 93.6% untuk parameter warna saja. Hasil pengujian kemurnian benih berdasarkan IA-FS tidak berbeda nyata dengan pengujian kemurnian dengan GOT di lapangan. Hasil penelitian percobaan kedua menunjukkan bahwa pada isolasi jarak 1, 2, dan 3 m masih ditemukan tipe simpang yang diduga berasal dari penyerbukan yang tidak dikehendaki pada pertanaman Aek Sibundong dan Sintanur. Kemurnian benih berdasarkan IA-FS relatif sama dengan metode GOT pada ketiga isolasi jarak kecuali kemurnian benih pada pertanaman Sintanur dari isolasi jarak 2, 3, dan 3.4 m . Pengujian kemurnian dengan IA-FS relatif stabil untuk pengujian kemurnian berdasarkan bentuk dan warna. Kemurnian benih secara GOT mencapai 100% hanya terjadi pada pertanaman Sintanur dengan isolasi jarak 3-3.4 m. Namun rendahnya tipe simpang yang ditemukan bukan karena isolasi jarak yang semakin jauh sebagaimana ditunjukkan adanya tipe simpang yang lebih tinggi (6.82-7.14%) pada isolasi jarak 3.8-4.2 m. Tipe simpang lain pada Sintanur ditemukan sebanyak > 10% pada isolasi jarak 1-2.2 m, dan 0-16.67% pada isolasi jarak > 2.4 m. Pada pertanaman Aek Sibundong, sebanyak > 20% pada isolasi jarak 1.2-2 m dan 2-18.68% pada isolasi jarak > 2.4 m. Berdasarkan mikrosatelit dengan primer RM224 dan RC12 tidak dapat mengidentifikasi kemurnian benih dari semua isolasi jarak karena primer yang digunakan muncul pada lokus yang sama. Primer Afrag dapat dikonfirmasi bahwa tipe simpang masih ditemukan pada isolasi jarak 3 m

    Hubungan C-Organik dengan Respirasi Tanah dan Kelimpahan Makrofauna Tanah di Beberapa Tegakan Tahura Sultan Thaha Syaifuddin, Jambi.

    No full text
    C-organik tanah menunjukkan kadar bahan organik yang terkandung dalam tanah. Keberadaan C-organik dalam tanah akan mendukung kegiatan mikroorganisme tanah. Aktivitas mikroorganisme tanah dapat diamati melalui respirasi tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara C-organik dengan respirasi tanah dan kelimpahan makrofauna tanah. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel tanah pada empat tegakan yang berbeda yaitu hutan sekunder, kebun sawit, tegakan karet, dan tegakan ulin. Masing-masing plot dibuat dengan ukuran 20 cm x 20 cm dan ketebalan 5 cm. Sampel tanah di analisis sifat fisik, sifat kimia, dan laju respirasi tanah. Uji korelasi dilakukan pada C-organik, laju respirasi tanah, dan kelimpahan makrofauna tanah. Hasil penelitian menunjukkan C-organik tertinggi pada hutan sekunder (2.82%), laju respirasi tertinggi di tegakan karet (5.21 mg CO2/100 g tanah/hari), kelimpahan makrofauna tanah tertinggi di kebun sawit dengan 24 individu/plot. C-organik berkorelasi positif dengan kelimpahan makrofauna tanah dan berkorelasi negatif dengan laju respirasi tanah

    Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Produksi Usahatani Semangka di Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen.

    No full text
    Kecamatan Tanon merupakan sentra produksi semangka di Kabupaten Sragen. Kualitas buah semangka menentukan harga jual yang di terima petani, hal ini dapat menyebabkan variasi pendapatan usahatani. Sedangkan, Kualitas buah di pengaruhi oleh kombisasi beberapa faktor produksi. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi produksi usahatani semangka serta mengetahui kondisi pendapatan usahatani semangka. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Tanon dengan jumlah sampel sebanyak 30 petani. Teknik penarikan sampel menggunakan metode purposive sampling. Alat analisis yang digunakan yaitu model fungsi produksi Cobb-Douglass dan analisis pendapatan usahatani. Peningkatan penggunaan luas lahan, benih, pupuk N, P, K, pupuk kandang, pertisida, dan tenaga kerja secara bersama-sama berpengaruh terhadap produksi semangka. Hasil perhitungan R/C rasio atas biaya tunai yaitu senilai 2.12 rupiah dan perhitungan R/C rasio atas biaya total yaitu senilai 1.77 rupiah. Hal tersebut menunjukkan bahwa usahatani semangka di Kecamatan Tanon layak untuk diusahakan karena diperoleh nilai R/C lebih dari satu

    Nilai Dugaan Biomassa dan Karbon pada Bagian Atas Tegakan Meranti (Shorea spp.) di KHDTK Haurbentes Kabupaten Bogor.

    No full text
    Penelitian bertujuan menghitung potensi biomassa dan simpanan karbon di atas permukaan tanah pada tegakan meranti (Shorea spp.) di KHDTK Haurbentes Kabupaten Bogor. Metode perhitungan biomassa dan karbon menggunakan metode nondestruktif. Potensi simpanan karbon pada pohon Shorea spp. dihitung menggunakan persamaan alometrik yaitu B = exp (-1.533+2.294 ln D + 0.56 ln ρ). Simpanan karbon diperoleh dengan mengkonversi 0.5 dari dugaan biomassa. Nilai dugaan rata-rata simpanan biomassa diatas permukaan tanah di KHDTK Haurbentes adalah sebesar 274,59 ton/ha sedangkan nilai dugaan rata-rata simpanan karbon adalah 137.30 ton/ha. Potensi total simpanan biomassa di atas permukaan tanah di KHDK Haurbentes sebesar (5491.81 ± 4.42) ton dengan tingkat kesalahan penarikan contoh sebesar 7.5%. Potensi biomassa tersebut setara dengan potensi simpanan karbon sebesar (2745.91 ± 2.21) ton

    Analisis Kinerja BAZNAS Kota Depok.

    No full text
    Kemiskinan masih menjadi permasalahan di Indonesia termasuk di Kota Depok. Zakat merupakan instrumen dalam Islam yang dapat digunakan untuk mengentaskan kemiskinan. Potensi zakat, infak, sadakah (ZIS) di Kota Depok ± 50 milyar. Meski demikian dana zakat yang terkumpul hanya sebesar 3.6% dan sangat jauh dari potensi yang ada. Hal ini menunjukkan belum optimalnya pengelolaan zakat oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Depok sehingga diperlukan penelitian dan evaluasi terhadap kinerja lembaga tersebut. Metode yang digunakan untuk mengukur kinerja perzakatan dalam penelitian ini yaitu Indeks Zakat Nasional (IZN). Penilaian ini mencakup dimensi makro dan mikro. Teknik estimasi penghitungan yang digunakan untuk memperoleh nilai IZN yaitu metode Multi-Stage Weighted Index. Hasil penelitian menunjukkan nilai indeks dimensi makro sebesar 0.42475 dan nilai indeks dimensi mikro sebesar 0.58. Berdasarkan dua dimensi tersebut diperoleh nilai akhir IZN 0.52. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kinerja BAZNAS Kota Depok cukup baik (fairly good)

    Sistem Penunjang Keputusan Cerdas Pengembangan Bioenergi Kelapa Sawit Berkelanjutan di Indonesia

    No full text
    Keberlanjutan pengembangan bioenergi kelapa sawit di Indonesia, hingga saat ini belum memberikan manfaat yang maksimal bagi peningkatan pendapatan negara dan masyarakat Indonesia. Potensi kelapa sawit yang begitu besar, belum mampu memberikan kontribusi dalam penyediaan sumber energi terbarukan di tanah air. Hal ini ditandai dengan masih rendahnya pemanfaatan potensi yang ada, baik untuk kepentingan ekonomi ataupun kepentingan sosial. Berbagai pandangan negatif masih begitu besar terhadap upaya Indonesia dalam pengembangan dan pemanfaatan potensi kelapa sawit sebagai sumber alternatif bioenergi. Isu-isu keberlanjutan mulai praktek pembebasan lahan dan pengelolaan perkebunan, pengolahan minyak kelapa sawit hingga pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit, masih dianggap sebagai salah satu sumber kerusakan lingkungan seperti halnya deforestasi dan hilangnya keanekaragaman hayati di sekitar wilayah pengembangan. Berbagai isu keberlanjutan ini, telah pula menyebabkan terjadinya penolakan dunia internasional terhadap hasil-hasil industri berbasis kelapa sawit Indonesia. Oleh karenanya, menjadi penting bagi Indonesia untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa pengembangan bioenergi kelapa sawit di Indonesia telah memenuhi prinsip-prinsip keberlanjutan. Secara ekonomi, pengembangan bioenergi kelapa sawit diupayakan untuk mampu memberikan kontribusi yang positif terhadap upaya penghematan belanja negara akibat impor bahan bakar fosil yang terus meningkat dan sekaligus menjadi sumber peningkatan devisa negara melalui kegiatan ekspor bahan bakar nabati. Namun demikian, secara lingkungan dan sosial upaya pengembangan bioenergi kelapa sawit di Indonesia dipandang belum menunjukkan dampak yang menggembirakan. Isu-isu keberlanjutan yang diungkapkan pada berbagai literasi atau pertemuan secara internasional, banyak memberikan sentimen negatif terhadap pengelolaan perkebunan kelapa sawit nasional. Persoalan dampak lingkungan seperti halnya praktek pembebasan lahan yang tidak terkendali melalui pembakaran lahan yang memberikan dampak lebih lanjut terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca, menurunnya kualitas tanah dan udara, telah menyebabkan produk komoditas kelapa sawit di Indonesia belum begitu dapat diterima oleh pasar internasional. Begitu pula halnya dengan dampaknya secara sosial, dimana konflik perebutan lahan antara masyarakat dengan perusahaan, kesenjangan pendapatan dan kerusakaan infrastruktur akibat mobilisasi bahan baku bioenergi, turut pula menjadi pemicu munculnya sentimen negatif terhadap produk bioenergi kelapa sawit di Indonesia. Penelitian ini berupaya mengungkap secara lebih mendalam permasalahan keberlanjutan pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit di Indonesia. Tiga aspek utama yakni ekonomi, sosial dan lingkungan menjadi dasar dalam mengetahui status keberlanjutan pengembangan bioenergi kelapa sawit di Indonesia. Pada tahapan awal, melalui serangkaian kegiatan focus group discussion, para pakar yang terlibat telah merekomendasikan satu set standar keberlanjutan pengembangan bioenergi Indonesia, atau yang dikenal sebagai Indonesia Bioenergy Sustainability Indicators (IBSI). IBSI tersusun atas 10 indikator yang terdiri dari 2 indikator pada aspek lingkungan, 3 indikator pada aspek sosial dan 5 indikator penyusun aspek ekonomi. Melalui iii perancangan instrumen penilaian yang dikenal sebagai Rapid Appraisal Palm oil Bioenergy (Rap-pobio) dan dengan penerapan Metode Multidimensional Scaling telah dilakukan penilaian indeks keberlanjutan. Berdasarkan hasil penilaian indeks keberlanjutan dapat diketahui bahwa status keberlanjutan pengembangan bioenergi di Indonesia masih berada pada level kurang berkelanjutan. Secara lebih terperinci penelitian ini mendapatkan indeks keberlanjutan pada aspek lingkungan berada pada level cukup berkelanjutan, namun demikian untuk aspek sosial dan ekonomi justru masih berada pada level kurang berkelanjutan. Secara fakta, hasil ini dapat dibuktikan dengan masih rendahnya pemanfaatan potensi kelapa sawit di Indonesia, baik sebagai sumber energi bahan bakar nabati maupun untuk kelistrikan masyarakat. Potensi yang begitu maksimal belum mampu dimanfaatkan dikarenakan begitu kompleksnya permasalahan, mulai dari hulu pada level perkebunan, hingga tata niaga produk bioenergi Indonesia. Isu-isu keberlanjutan telah memberikan pengaruh begitu besar terhadap pengembangan bioenergi kelapa sawit di Indonesia. Pandangan dunia internasional yang terlanjur negatif terhadap komoditas kelapa sawit telah berimbas kepada produk bioenergi kelapa sawit yang semestinya memberikan dampak positif terhadap tiap aspek keberlanjutan. Isu lingkungan pada pengelolaan perkebunan kelapa sawit semestinya tidak dikaitkan dengan upaya pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit. Pemanfaatan biomasa kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif justru telah memberikan dampak positif terhadap penurunan berbagai dampak lingkungan. Namun demikian, pandangan negatif terhadap aspek lingkungan pada pengelolaan perkebunan kelapa sawit mengakibatkan dampak lebih lanjut kepada aspek-aspek lainnya. Oleh karenanya menjadi sangat penting untuk menelusuri permasalahan lebih lanjut dengan sekaligus mencari berbagai alternatif strategi yang mungkin dapat diterapkan. Pada penelitian ini, salah satu persoalan penting yang juga dianalisis adalah terkait tata kelola kelembagaan pengembangan bioenergi kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Melalui pendekatan soft system methodology (SSM) pada penelitian ini telah dilakukan pengidentifikasian permasalahan-permasalahan kelembagaan, baik dilihat dari aspek legalitas, koordinasi dan kemitraan serta hubungan peran antar para pihak berkepentingan yang ada disepanjang rantai pasok pengembangan bioenergi kelapa sawit. Melalui pendekatan CATWOE (customer, actors, tranformation, worldview, owner and environmental constrain), secara konseptual telah diperoleh potret permasalahan kelembagaan yang ada. Permasalahan yang ditemui seterusnya distrukturisasi ke dalam elemen-elemen kelembagaan yang terdiri dari elemen kebutuhan, elemen kendala, elemen aktor utama dan elemen faktor pendukung. Selanjutnya dengan penerapan Metode ISM, telah pula diperoleh elemen-elemen kunci yang memiliki relefansi dan memberikan dampak cukup besar terhadap pengembangan bioenergi kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Pada bagian akhir penelitian kelembagaan ini, melalui penerapan Metode Fuzzy AHP, berdasarkan hasil bobot yang telah peroleh, juga merekomendasikan suatu bentuk lembaga khusus yang diharapkan dapat melaksanakan program pengembangan dan pemanfaatan bioenergi kelapa sawit untuk kelistrikan masyarakat. Pengembangan bioenergi kelapa sawit perlu mendapat dukungan dari sisi kebijakan pemerintah. Namun demikian, persoalan yang begitu kompleks baik dari segi status keberlanjutan maupun dari segi kelembagaan membutuhkan perangkat yang mampu memberikan kemudahan dalam proses pengambilan keputusan khususnya dalam penentuan strategi kebijakan berdasarkan kondisi-kondisi yang ada. Untuk itu, pada penelitian ini telah pula dibangun suatu prototipe aplikasi berupa sistem penunjang keputusan (SPK) cerdas yang diberi nama Policy System for Bioenergy Sustainability (Polsysbios). Serangkaian aktivitas telah dilakukan untuk menghasilkan rancangan prototipe aplikasi ini, mulai dari penentuan basis data, pengelompokan data ke dalam himpunan fuzzy melalui proses fuzzyfikasi, penentuan aturan-aturan dalam format rulebase dan penalaran dengan Metode Fuzzy Inference System (FIS) Mamdani, hingga diperolehnya nilai output untuk setiap level, yang terdiri dari status keberlanjutan, status kelembagaan dan rekomendasi strategi kebijakan. Sebanyak 12 alternatif kebijakan telah direkomendasikan dalam penelitian ini. Keseluruhan model diintegrasikan ke dalam SPK cerdas kebijakan pengembangan bioenergi kelapa sawit. Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam upaya Indonesia mengetahui status keberlanjutan pengembangan bioenergi, mengetahui elemen-elemen kunci kelembagaan serta rekomendasi strategi kebijakan yang mungkin dapat diterapkan dimasa yang akan datang. Seterusnya, melalui kajian-kajian lebih lanjut diharapkan pula dapat memberikan kontribusi atas berbagai keterbatasan yang ada pada penelitian ini

    Hubungan Keberhasilan Program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Unilever dengan Keberdayaan Perempuan Pedesaan

    No full text
    Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih menyebabkan banyaknya pembangunan yang merujuk pada industrialisasi khususnya di sektor swasta. Pembangunan yang dilakukan di Indonesia, masih bias gender dan kurang mempertimbangkan peran perempuan. Banyaknya pembangunan termasuk perusahaan memiliki dampak bagi lingkungan dan masyarakat, maka pemerintah telah mewajibkan setiap perusahaan untuk melakukan kegiatan yang disebut dengan Corporate Social Responsibility (CSR). Program CSR merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat dan dapat pula diterapkan sebagai program pemberdayaan perempuan. Tujuan penulisan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara tingkat keberhasilan program CSR dengan tingkat keberdayaan perempuan pedesaan. Penelitian ini menggunakan kombinasi pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan metode sensus menggunakan instrumen kuesioner sedangkan pendekatan kualitatif menggunakan metode studi kasus dan didapatkan melalui panduan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat keberhasilan program CSR dengan tingkat keberdayaan perempuan pedesaan di Desa Sumbermulyo. Hal ini karena keberhasilan program CSR dan keberdayaan program CSR lebih kepada aspek sosial bukan ekonomi

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇