Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Karakteristik Papan Partikel dari Campuran Batang Sorgum dan Alang-alang dengan Perekat Asam Sitrat dan Isosianat

    No full text
    Papan partikel merupakan salah satu jenis panel yang memiliki beberapa kelebihan dibandingkan panel lainnya yang dapat memanfaatkan kayu berkualitas rendah sebagai bahan baku dan bahan baku berlignoselulosa lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh komposisi bahan baku dan jenis perekat terhadap sifat fisis dan mekanis papan partikel dari campuran batang sorgum dan alang-alang sebagai bahan baku alternatif pembuatan papan partikel. Papan partikel dibuat dengan mencampurkan perekat dan bahan baku berupa batang sorgum dan alang-alang dengan komposisi bahan baku 100:0, 75:25, 50:50, 25:75 dan 0:100. Karakteristik papan partikel diuji secara fisis dan mekanis berdasarkan standar JIS A 5908:2003. Papan partikel dibuat menggunakan perekat asam sitrat dengan kadar 20% dan isosianat dengan kadar 8%. Nilai kadar air 5.90-8.95%, daya serap air 25.58-29.42%, pengembangan tebal 9.15-12.66%, keteguhan lentur 1611-3724 N/mm2, keteguhan patah 6-37 N/mm2, keteguhan rekat internal 0.05-1.64 N/mm2, kuat pegang sekrup 44.53-464.86 N. Hasil uji sifat fisis dan mekanis papan partikel menunjukkan bahwa papan partikel dengan perekat isosianat pada semua rasio batang sorgum dan alang-alang memenuhi standar JIS A 5908:2003

    Variasi Genetika Pepper yellow leaf curl virus Yang Menginfeksi Tanaman Cabai di Provinsi Bali dan Pengaruh Silika Terhadap Keparahan Penyakit.

    No full text
    Penyakit daun keriting kuning merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman cabai di Jawa dan Sumatera karena dapat menyebabkan kehilangan hasil yang tinggi. Agens penyebab penyakit daun keriting kuning pada cabai telah diidentifikasi sebagai Pepper yellow leaf curl virus (PYLCV), anggota genus Begomovirus. Penularan secara alami Begomovirus hanya terjadi melalui peran serangga vektor, Bemisia tabaci secara persisten sirkulatif. Gejala penyakit daun keriting kuning pada cabai di Bali pertama kali ditemukan pada tahun 2012 tetapi hingga sekarang identitas virus penyebabnya belum diteliti. Seiring dengan peningkatan keparahan dan luas penyakit daun keriting kuning, produksi cabai di daerah ini menurun secara nyata. Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya, diketahui bahwa tingkat keparahan penyakit daun keriting kuning dipengaruhi oleh respons varietas cabai dan virulensi strain virus. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengonfirmasi infeksi PYLCV pada tanaman cabai di Bali yang menunjukkan gejala daun keriting kuning. Pengendalian PYLCV perlu diupayakan untuk mengurangi tingkat keparahan penyakit dan kerugian yang diakibatkannya. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengendalikan penyakit daun keriting kuning pada cabai diantaranya memodifikasi lingkungan pertumbuhan tanaman dengan beberapa teknik budidaya dan penggunaan insektisida sintetik, meskipun belum memberikan hasil yang memuaskan. Kutukebul dapat menjadi target dalam strategi pengendalian penyakit daun keriting kuning karena infeksi PYLCV hanya dapat terjadi melalui aktivitas makan serangga vektor. Salah satu alternatif untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama dan virus adalah melalui aplikasi silika. Aplikasi silika perlu dievaluasi karena penelitian sebelumnya melaporkan bahwa perlakuan silika dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangga hama. Penelitian dilakukan dengan tujuan mengetahui keragaman strain PYLCV yang menginfeksi tanaman cabai di Provinsi Bali dan mengidentifikasi efek aplikasi silika pada tingkat keparahan penyakit daun keriting kuning cabai. Kegiatan penelitian dimulai dengan mengumpulkan sampel lapangan dari beberapa daerah penanaman cabai di Bali (Karangasem, Bangli, Tabanan, dan Gianyar). Identifikasi Begomovirus dari sampel lapangan dilakukan dengan polymerase chain reaction menggunakan primer universal untuk Begomovirus (SPG1/SPG2) dilanjutkan dengan analisis sikuensing. Hasil penelitian menunjukkan insidensi penyakit daun keriting kuning di semua lokasi mencapai 100% dengan tingkat keparahan penyakit berkisar antara 18% sampai 87%. Tanaman yang terinfeksi mudah dikenali di lapangan karena memiliki gejala yang unik, yaitu mosaik kuning, belang, keriting, mosaik hijau, daun melengkung ke atas dan/atau ke bawah, serta tanaman kerdil. Fragmen DNA spesifik berukuran 912 pb telah berhasil diamplifikasi dari semua sampel lapangan. Dua puluh empat dari 120 sampel lapangan yang mewakili dua belas lokasi survei yang berbeda di Bali kemudian dianalisis melalui sikuensing. Sembilan belas sikuen telah diperoleh dan analisis lebih lanjut menunjukkan homologi tertinggi (> 98%) dengan beberapa isolat Pepper yellow leaf curl Indonesia virus (PYLCIV) (DQ083765); sedangkan homologi terendah (65% sampai 70%) dengan PYLCV dari Thailand (KX943290) dan India (JN663870). Percobaan di rumah kaca dilakukan pada dua kultivar cabai (cv Pelita 8 dan cv Seret) secara terpisah menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan 2 faktor, yaitu strain PYLCV (Bali dan Jawa) dan silika (dengan dan tanpa). Data yang diamati diantaranya gejala penyakit, periode inkubasi, insidensi dan keparahan penyakit, jumlah sillika total dan anatomi sel tumbuhan. Gejala yang muncul pada cabai cv Pelita 8 berupa daun keriting, menguning, dan tanaman kerdil; sementara cabai cv Seret menunjukkan gejala daun yang menguning dan keriting. Infeksi PYLCV telah dikonfirmasi dari sampel daun bergejala melalui amplifikasi menggunakan primer SPG1/SPG2 dan dilanjutkan dengan sikuensing fragmen DNA hasil amplifikasi. Periode inkubasi PYLCV berkisar antara 7 sampai 28 hari setelah inokulasi (hsi). Aplikasi silika secara nyata berpengaruh terhadap insidensi penyakit daun keriting kuning pada cv Pelita 8 dan cv Seret. Tingkat keparahan penyakit daun keriting kuning pada semua perlakuan meningkat secara bertahap setiap minggu, tetapi dengan persentase keparahan yang berbeda. Belum diketahui secara pasti mekanisme kerja silika menghambat perkembangan penyakit daun keriting kuning pada cabai, walaupun terbukti bahwa kadar silika total pada tanaman meningkat setelah aplikasi silika, yaitu 2.39% dan 1.92% pada minggu pertama, berturutturut pada cv Pelita 8 dan pada cv Seret. Berdasarkan pengukuran kadar silika total menggunakan metode gravimetri, diketahui bahwa kandungan silika total pada batang berkisar antara 0.11% sampai 1.22% dan pada bagian daun berkisar antara 0.06% sampai 1.04%. Hasil identifikasi Begomovirus yang berasosiasi dengan penyakit daun keriting kuning cabai mengonfirmasi PYLCV sebagai virus utama yang menginfeksi cabai di Bali. Berdasarkan analisis sikuen nukleotida diketahui bahwa PYLCV asal Bali memiliki hubungan kekerabatan yang erat dengan Pepper yellow leaf curl Indonesia virus (PYLCIV) yang telah dilaporkan sebelumnya menginfeksi cabai di Jawa. Hasil identifikasi tersebut memberikan pengetahuan yang penting untuk pengembangan varietas cabai tahan PYLCV maupun strategi pengendalian penyakit yang lainnya. Pengendalian penyakit daun keriting kuning cabai melalui aplikasi silika perlu dipelajari lebih lanjut, karena aplikasi silika memiliki potensi menekan perkembangan penyakit

    Pengembangan Sistem Inventory Report berbasis Service Oriented Architecture sesuai dengan Kebijakan Kawasan Berikat (studi kasus: PT.XYZ)

    No full text
    Pemerintah khususnya Dirjen Bea dan Cukai (DJBC) bertugas mengamankan kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan lalulintas barang yang masuk dan keluar daerah pabean, pajak bea masuk dan cukai serta pajak lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Terdapat beberapa regulasi yang diterapkan oleh DJBC untuk perusahaan-perusahaan yang melakukan expor dan impor terhadap produksinya. Salah satu perusahaan yang berada di bawah naungan DJBC adalah perusahaan kawasan berikat. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 204/PMK.04/2017 menerangkan bahwa perusahaan Kawasan Berikat telah menggunakan sistem informasi persediaan (IT Inventory) dan sistem Closed Circuit Television (CCTV) yang dapat diakses secara realtime dan daring (dalam jaringan) oleh DJBC dan Direktorat Jenderal Pajak. Penelitian ini bertujuan mengintegrasikan sistem-sistem pada kawasan berikat berbasis layanan menggunakan Service Oriented Architecture (SOA) dan mengimplementasikan untuk menghasilkan sistem yang diminta oleh DJBC secara realtime dan online. PT. XYZ adalah perusahaan yang tergolong dalam kawasan berikat (Bonded Zone) yang bergerak di bidang industri kimia, yang terletak di Karawang Industri Internasional City (KIIC). PT. XYZ telah memiliki beberapa sistem dan beberapa server dalam mendukung teknologi informasinya. Salah satunya adalah sistem inventory berbasis web application yang mencatat persedian barang, dimulai dari masuknya raw material ke warehouse, diproses oleh production menggunakan bill of material (BOM) sehingga menjadi work in process (WIP), finished good (FG) dan no good (NG). Sistem export-import (Exim) berbasis desktop application untuk mencatat dan memeriksa dokumen yang berhubungan dengan export-import barang perusahaan. SOA merupakan salah satu solusi untuk mengintegrasikan sistem yang berbeda-beda dan tidak terikat kepada vendor tertentu melalui layanan dan dapat diakses secara online. Penelitian ini berhasil menerapkan metode SOA dengan model Service Oriented Architecture Framework (SOAF) untuk mengintegrasikan beberapa sistem yang ada pada PT. XYZ. Generate Report System PT. XYZ dikembangkan berbasis web online. Integrasi sistem berhasil dilakukan terhadap sistem inventory dan sistem export-system pada PT. XYZ dengan dua platform yang berbeda, yaitu web application and desktop application. Selain itu untuk pengembangan sistem yang telah dibuat menggunakan metode metode rekayasa perangkat lunak atau System Development Life Cycle (SDLC) model pendekatan Extreme Programming. Berdasarkan hasil uji dengan unit test sistem yang telah dikembangkan layak untuk digunakan. Selain itu berdasarkan hasil uji acceptance testing sistem telah terimplementasi dengan baik dan tepat guna sebagai sistem pengelolaan data laporan PT.XYZ terhadap DJBC

    Transisi Desa Agraris: Deagrarianisasi dan Ketahanan Agraria di Pedesaan Jawa Tengah.

    No full text
    Jawa dengan reputasinya sebagai pulau terpadat di Indonesia, pada tahun 2018 tercatat dihuni tidak kurang dari 149 juta jiwa. Situasi ini menjadi sebuah catatan penting karena di pulau yang dihuni oleh 57% populasi di seluruh Indonesia inilah terdapat desa-desa agraris yang sedang terancam oleh ekspansi pembangunan berbasis lahan. Tekanan manusia terhadap lahan (kepadatan agraris) berhadapan dengan tekanan manusia terhadap kompleksitas hubungan didalam bentang agrarianya. Deagrarianisasi merupakan ekses dari modernisasi dan pembangunan yang mengancam ketahanan agraria karena lanskap produktif berganti menjadi lanskap konsumtif. Penurunan desa-desa agraris (desa persawahan) yang terjadi selama satu dekade terakhir menunjukkan kegentingan untuk melihat situasi terkini desa-desa agraris khususnya di pedesaan Jawa yang secara terus menerus mengalami pemburukan pada lajur sosial dan ekologis. Koridor ekonomi Jawa merupakan pusat kegiatan nasional dan sumber pendapatan nasional yang meniscayakan berbagai peruntukkan pembangunan terjadi di wilayah ini. Ancaman deagrarianisasi terjadi sejalan dengan gejala makro yang ditunjukkan melalui penurunan Produk Domestik Bruto, penurunan tenaga kerja di sektor pertanian, penurunan populasi di pedesaan, dan penurunan luas lahan pertanian. Dalam konteks global, deagrarianisasi telah mengubah berbagai wilayah pedesaan di dunia. Benang merah dari persoalan ini adalah peluruhan eksistensi desa-desa agraris atau desa-desa pertanian karena ditinggalkan oleh para petaninya ataupun aktivitas pertanian yang tidak lagi menjadi prioritas bagi masyarakat di pedesaan. Penelitian ini secara spesifik bertujuan untuk: 1) menganalisis ciri deagrarianisasi yang mempengaruhi eksistensi desa agraris berkaitan dengan pengaruh deagrarianisasi dalam mereduksi ketergantungan komunitas terhadap cara hidup agraris serta bentuk-bentuk ketergantungan baru bagi komunitas agraris di pedesaan; 2) menganalisis faktor kesadaran kolektif dalam mendukung eksistensi dan keswadayaan komunitas agraris; dan 3) menganalisis dimensi-dimensi ketahanan agraria yang dimiliki komunitas serta strategi yang digunakan komunitas untuk mempertahankan bentang agrarianya dari deagrarianisasi. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan mengkombinasikan metode studi kasus komunitas dan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui: studi dokumen, wawancara terfokus, wawancara terbuka, observasi partisipasi dan life history. Jawa Tengah menjadi situs riset yang diperdalam melalui penelitian ini dengan mengacu pada cirikhas ekologi persawahannya untuk mendukung upaya memahami situasi terkini dari desa-desa agraris. Komunitas Sedulur Sikep merupakan komunitas yang dipilih untuk memberikan penggambaran dari ‘lapis dalam’ dari komunitas agraris di Jawa Tengah, sementara itu komunitas Jongso merupakan komunitas yang dipilih untuk memperoleh penggambaran’ lapis luar’ dari komunitas agraris di Jawa Tengah. Keduanya juga mencirikan komunitas dalam tipologi desa primer dan desa tersier. Penelitian dilakukan pada akhir tahun 2017 dan dilanjutkan pada awal tahun 2018, dan awal 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deagrarianisasi telah mendorong desa-desa agraris menjadi semakin terintegrasi dengan aktivitas non pertanian. Deagrarianisasi pada satu sisi, mereduksi ketergantungan komunitas pedesaan pada tanah dan pertanian sebagai sumber penghidupan. Sementara itu pada sisi lain, deagrarianisasi menyebabkan desa agraris kehilangan keswadayaan karena berhentinya regenerasi petani dan berubahnya siklus pertanian yang tidak lagi dikelola oleh petani sendiri namun dominan dikelola oleh tenaga upahan. Pertanian yang dikelola secara aktif berhenti pada generasi kedua. Deagrarianisasi menciptakan ketergantungan pada impor tenaga kerja pertanian dari luar desa. Gejala deagrarianisasi ternyata dominan terjadi pada tipologi desa tersier. Sebaliknya gejala deagrarianisasi hampir tidak terjadi pada tipologi desa primer. Pada tingkat komunitas, deagrarianisasi disikapi secara berbeda. Komunitas Sedulur Sikep merupakan komunitas agraris yang menunjukkan kemampuannya membentengi diri dari pengaruh deagrarianisasi. Kesadaran kolektif mendukung komunitas untuk mempertahankan militansinya melindungi bentang agraria dan aktivitas pertaniannya. Ketahanan agraria penting untuk memastikan keberlanjutan komunitas pertanian di pedesaan. Ketahanan agraria adalah kemampuan komunitas agraris untuk mempertahankan bentang agrarianya dalam menghadapi ancaman deagrarianisasi yang menyebabkan peluruhan cirikhas desa agraris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan agraria memungkinkan tekanan deagrarianisasi terdeselerasi (mengalami perlambatan). Laju deagrarianisasi dapat dikendalikan ketika komunitas agraris mampu membangun ketahanan agraria yang kuat. Ketahanan agraria dibangun dari empat dimensi utamanya yaitu: ketersediaan lahan pertanian, akses terhadap lahan, orientasi penggunaan lahan, dan stabilitas komunitas. Dimensi ketahanan agraria menghasilkan 4 tipologi desa agraris yaitu: desa agraris yang eksis dan terkonsolidasi, desa agraris yang bertahan, desa agraris yang memudar (senjakala) dan desa agraris yang punah. Komunitas agraris yang memiliki ketahanan agraria yang kuat merupakan fondasi penting bagi desa agraris di masa depan

    Perbaikan Konstruksi Lampu HPL (High Power LED) untuk Meningkatkan Hasil Tangkapan Bagan

    No full text
    Cahaya merupakan sebuah alat bantu dalam bidang penangkapan yang banyak digunakan selain rumpon. Jenis sumber cahaya yang digunakan sebagai alat bantu penangkapan ikan pada bagan sangat beragam, mulai dari lampu petromaks, pijar, neon dan mercury. Jenis lampu lain yang kemungkinan dapat dikembangkan pada bagan adalah light emitting diode (LED). Penggunaan lampu LED sebagai alat bantu penangkapan pada perikanan bagan masih sebatas riset. Kajian menggunakan LED jenis HPL pernah diakukan dan mendapatkan hasil 80% dibandingkan dengan bagan milik nelayan yang memakai lampu fluorence. Hasil pengamatan terhadap kontruksi lampu HPL atau HPL-S menunjukkan ada beberapa bagian yang masih perlu disempurnakan. Penelitian mencoba untuk memperbaiki dua diantaranya, yaitu penggunaan peredampanas berbahan aluminiumdan perbaikan posisi lampu. Peredam panas digunakan untuk mengurangi resiko lampu cepat putus. Adapun perbaikan posisi lampu dilakukan dengan cara memposisikan lampu agar area yang tersinari menjadi semakin luas. Lampu hasil perbaikan disebut sebagailampu HPL modifikasi, atau HPL-D. Tujuan yang ingin dicapai adalah membuktikan bahwa pencahayaan lampu HPL-D yang lebih menyebar akan meningkatkan jumlah hasil tangkapan bagan, tanpa mengurangi komposisi jenisnya. Penelitian menggunakan metode experimental fishing dengan mengoperasikan dua unit bagan secara bersamaan. Uji coba lampu HPL-S dan HPL-D masing-masing menggunakan 1 unit bagan apung yang berjarak sekitar 100 m. Waktu pengoperasian bagan selama 20 hari. Jumlah setting dalam satu hari sebanyak 2 kali. Dengan demikian, jumlah total setting mencapai 40 kali ulangan. Adapun metode analisis datanya adalah deskriptif-komparatif dengan uji statistik non parametrik Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukan bahwa bagan yang mengoperasikan lampu HPL-S mendapatkan berat hasil tangkapan yang lebih rendah dibandingkan dengan lampu HPL-D. Rincian berat hasil tangkapan HPL-S adalah teri putih 152 kg, teri jengki 102 kg, hitam 90 kg, teri paku 87 kg, cumi-cumi 92 kg, pepetek 95 kg, selar kuning 89 kg dan tembang 79 kg dengan berat total keseluruhan sebesar 786 kg. Hasil yang berbeda didapatkan oleh bagan yang menggunakan lampu HPL-D dengan berat total hasil tangkapann mencapai 1494 kg. Rinciannya adalah teri putih 308 kg, teri jengki 182 kg, teri hitam 180 kg, teri paku 177 kg, cumi-cumi 189 kg, pepetek 160 kg, selar kuning 155 kg dan tembang 143 kg. Pengujian statistik non parametrik Mann-Whitney dilakukan pada hasil tangkapan bagan apung yang mengoperasikan lampu yang berbeda. Tujuannya adalah untuk mengetahui adanya pengaruh penggunaan lampu terhadap peningkatan hasil tangkapan. Hasilnya adalah nilai Asymp. Sig. 0,000, atau lebih kecil dari nilai α=0,05. Kesimpulannya adalah lampu yang digunakan dalamoperasi penangkapan ikan dengan bagan apung memberikan pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan jumlah hasil tangkapan. Pengujian dilanjutkan dengan membandingkan lampu HPL-S dan HPL-D dalam meningkatkan hasil tangkapan bagan. Metode yang digunakan adalah statistik non parametrik Mann-Whitney

    Analisis Kestabilan Model Epidemik HIV/AIDS dengan Pengobatan

    No full text
    AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus), yaitu sejenis virus yang menyerang atau menginfeksi sel darah putih. HIV/AIDS merupakan penyakit menular. Penularan HIV/AIDS dapat terjadi dengan beberapa media, seperti melakukan kontak seksual dengan individu positif HIV, penggunaan jarum suntik secara bergantian tanpa disterilkan, proses transfusi darah yang tidak melalui uji saring, serta penularan HIV dari ibu ke anak saat proses kehamilan dan pemberian ASI. Tindakan pencegahan penularan penyakit ini yaitu dengan pemberian pengobatan antiretrovial dan perubahan perilaku berisiko. Tujuan dari penelitian ini adalah memodifikasi model penyebaran penyakit HIV/AIDS dari model terdahulu. Model yang telah dimodifikasi ditentukan titik tetap dan bilangan reproduksi dasarnya (ℛ0). Kemudian dilakukan analisis kestabilan serta dilakukan simulasi numerik untuk melihat dinamika populasi yang terjadi. Selanjutnya, dilakukan analisis sensitivitas parameter untuk melihat seberapa besar pengaruh parameter tersebut terhadap ℛ0. Pada penelitian ini, ukuran populasi terbagi menjadi lima kompartemen, yaitu individu rentan, individu yang positif HIV, individu yang terpapar AIDS, individu yang diobati, dan individu imun. Pada penelitian ini dilakukan modifikasi model matematika, yaitu dengan cara menambahkan satu parameter yakni laju penularan dari individu terpapar AIDS ke individu yang rentan. Analisis yang dilakukan terhadap model menghasilkan dua titik tetap, yaitu titik tetap tanpa penyakit dan titik tetap endemik. Titik tetap tanpa penyakit bersifat stabil asimtotik lokal jika ℛ01. Hasil simulasi numerik menunjukkan hasil yang sama dengan hasil analitik. Analisis sensitivitas parameter terhadap ℛ0 menunjukkan bahwa laju kelahiran , laju penularan dari individu yang terinfeksi HIV kepada individu yang rentan, laju pengobatan dan laju perubahan perilaku berisiko memiliki nilai mutlak indeks sensitivitas yang paling besar. Simulasi dilakukan dengan melihat pengaruh laju penularan dari individu yang terinfeksi HIV kepada individu yang rentan, laju pengobatan, dan laju perubahan perilaku berisiko terhadap dinamika populasi manusia. Laju penularan dari individu yang terinfeksi HIV kepada individu yang rentan memiliki pengaruh positif terhadap kenaikan ℛ0, sedangkan laju pengobatan dan laju perubahan perilaku berisiko memiliki pengaruh negatif terhadap kenaikan ℛ0

    Pengetahuan Kesejahteraan Hewan pada Mahasiswa Strata 1 di Jabodetabek

    No full text
    Kesejahteraan hewan merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan hewan baik hewan ternak dan hewan peliharaan lainnya. Mahasiswa program strata 1 merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki tingkat pengetahuan lebih dan sebagai agen perubahan, sehingga mampu menularkan pengetahuannya pada masyarakat. Pengetahuan kesejahteraan hewan perlu diketahui oleh mahasiswa baik sebagai pemilik hewan maupun tidak agar dapat menularkan pengetahuannya pada masyarakat dilingkungannya. Pengetahuan kesejahteraan hewan pada mahasiswa strata 1 di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) belum pernah ada informasinya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan kesejahteraan hewan dari mahasiswa strata 1 dan hubungan antara program studi mahasiswa strata 1 atau sederajat dengan pengetahuan dalam penerapan kesejahteraan hewan pada kalangan mahasiswa strata 1 di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Data diperoleh melalui kuesioner yang disebarkan dengan Google forms selama satu bulan dan dianalisis secara deksriptif serta di uji Chi Square. Sampel yang berhasil dikumpulkan sebanyak 56 responden mahasiswa yang dibagi 2 kelompok program studi yaitu eksakta yang terdiri dari sains dan teknik dan sosial yang terdiri dari humaniora dan bisnis. Pengetahuan kesejahteraan hewan dengan skor penilaian tertinggi pada prinsip bebas dari rasa haus dan lapar, bebas dari ketidaknyamanan, dan bebas dari rasa sakit, terluka, dan penyakit diperoleh dari mahasiswa program studi humaniora. Kriteria penilaian tertinggi pada prinsip bebas dari rasa takut dan tertekan diperoleh dari mahasiswa program studi teknik, sedangkan kriteria penilaian tertinggi pada prinsip bebas untuk mengekspresikan perilaku alami diperoleh mahasiswa program studi bisnis. Latar belakang pendidikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pengetahuan kesejahteraan hewan

    Analisis Ekspresi Gen c-lisozim dan Ketahanan Kentang Kultivar Jala Ipam Transgenik terhadap Ralstonia solanacearum Penyebab Penyakit Layu Bakteri.

    No full text
    Salah satu penyebab penurunan produksi kentang di dunia adalah bakteri Ralstonia solanacearum yang menyebabkan penyakit layu bakteri. Penyakit ini masuk ke dalam lima penyakit utama yang menyerang perkebunan kentang di Indonesia. Kehilangan produksi yang ditimbulkannya mencapai 33% - 90%. Upaya perbaikan teknik budidaya dan pengendalian penyakit layu bakteri menggunakan biokontrol, fusi protoplas dan persilangan konvensional belum berhasil mengatasi masalah ini. Oleh karena itu, pendekatan rekayasa genetik dengan menyisipkan gen c-lisozim ke dalam genom tanaman kentang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Lisozim merupakan enzim yang memiliki kemampuan untuk mendegradasi dinding sel bakteri sehingga bakteri mengalami lisis. Enzim ini dapat menghidrolisis ikatan β-1,4 glycoside di antara N-acetylmuramic dan N-acetylglucosamin pada peptidoglikan. Kemampuan ini dapat digunakan untuk menanggulangi penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Gen c-lisozim telah berhasil diintroduksikan ke genom tanaman kentang kultivar Jala Ipam. Uji in vitro menunjukkan bahwa kentang transgenik yang mengandung gen c-lisozim resisten terhadap R. solanacearum. Akan tetapi, analisis ekspresi gen c-lisozim dan ketahanan tanaman transgenik di lapangan secara langsung belum dilakukan, sehingga penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis ekspresi gen c-lisozim di tanaman kentang transgenik dan resistensi tanaman kentang transgenik terhadap penyakit layu bakteri. Penelitian ini menggunakan dua tanaman transgenik yaitu JCL2 dan JCL3 dan tanaman non-transgenik (NT), sebagai kontrol. Bahan tanaman yang digunakan adalah umbi generasi G0. Uji ketahanan terhadap penyakit layu bakteri menggunakan bakteri Ralstonia solanacearum Ras 3. Semua kentang kultivar Jala Ipam transgenik lebih tahan terhadap R. solanacearum dari pada kentang non-transgenik. Klon JCL2 merupakan klon yang paling tahan dengan frekuensi penyakitnya hanya sebesar 8.33 %. Kentang Jala Ipam transgenik memiliki produktivitas umbi yang lebih tinggi dibandingkan klon non-transgenik. Analisis stabilitas menunjukkan bahwa gen c-lisozim tetap ditemukan pada tanaman generasi G1. Ekspresi gen c-lisozim di antara klon berbeda-beda. Kentang non-transgenik tidak mempunyai ekspresi gen c-lisozim. JCL2 merupakan klon dengan ekspresi c-lisozim tertinggi dibandingkan klon yang lainnya. Ekspresinya 4.83 kali terhadap NT dan 2.34 kali terhadap JCL 3. Klon JCL 3 memiliki ekspresi 2.06 kali terhadap NT. Semakin tinggi ekspresi gen c-lisozim pada kentang cv. Jala Ipam maka ketahanan terhadap penyakit layu bakteri semakin tinggi, dan produksi umbinya semakin tinggi pula. Tanaman transgenik yang mengandung gen c-lisozim pada penelitian sangat potensial digunakan dalam pertanian untuk mengurangi serangan R. solanacearum

    Analisis Pengelolaan Waduk Berdasarkan Kualitas Air dan Beban Pencemaran di Jakarta

    No full text
    Jakarta sebagai Ibukota Negara Indonesia memiliki tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi. Perkembangan infrastruktur perkotaan menyebabkan perkembangan fisik perkotaan yang pesat, hal ini berimplikasi pada beberapa ruang terbuka biru seperti waduk yang kurang dikelola dengan baik. Waduk sebagai salah satu ruang terbuka biru dapat berfungsi sebagai area tampungan air sehingga tidak terjadi banjir ketika musim penghujan, dan kekeringan ketika musim kemarau. Manfaat lain yaitu sebagai sumber air, dimana air sendiri merupakan kebutuhan dasar. Menyadari akan pentingnya waduk, Pemerintah DKI Jakarta melakukan tindakan yaitu dengan merevitalisasi beberapa waduk yang tidak terawat. Oleh karena itu dibutuhkan penilaian kualitas air dan beban pencemaran pada waduk. Faktor pendukung untuk menjaga kualitas air dan beban pencemaran agar tetap dapat digunakan adalah dengan menyusun rencana pengelolaan yang lebih baik sehingga waduk dapat memiliki fungsi yang berkelanjutan. Rencana pengelolaan ini disusun berdasarkan hasil penilaian kualitas air dan beban pencemaran pada waduk di Jakarta. Penyusunan rencana pengelolaan dimulai dengan mengevaluasi kualitas air waduk dengan menggunakan Metode Storet. Hasil dari analisis kualitas air waduk berdasarkan parameter fisika, berada pada rentang kelas A dan Kelas B. Berdasarkan parameter kimia dan biologi, air waduk berada pada rentang kelas C dan D. Hasil yang didapat dari evaluasi kualitas air waduk secara keseluruhan yaitu berada pada kelas D dengan kategori buruk untuk ketiga waduk tersebut. Selanjutnya, melakukan penilaian tingkat pencemaran dengan menggunakan metode indeks pencemaran. Hasil yang didapatkan yaitu, ketiga waduk berada pada tingkat tercemar berat. Setelah mendapatkan hasil kualitas air dan beban pencemaran, kemudian menyusun rekomendasi dengan menggunakan analisis Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT) sehingga didapatkan delapan alternatif strategi

    Estimasi dan Validasi Kandungan TDN (Total Digestible Nutrient) Hijauan dari Data Analisis Komposisi Kimia Pakan

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan dan memvalidasi keakuratan estimasi kadar TDN (total digestible nutrient) dalam hijauan berdasarkan komposisi kimia pakan. Data tentang komposisi nutrien untuk perkiraan diperoleh dari basis data BR-CORTE yang terdiri dari 86 jenis hijauan dan data primer dari pengamatan yang terdiri dari 19 jenis hijauan. Analisis data menggunakan korelasi Pearson, regresi linear berganda, koefisien determinasi (R2), root mean square error (RMSE), uji varians (ANOVA), dan uji-T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hijauan TDN memiliki korelasi negatif dengan NDF (P <0.01) dan lignin (P <0.05), tetapi berkorelasi positif dengan NFC (P <0.01) dan LK (P <0.01). Oleh karena itu, kandungan TDN dapat diperkirakan dari komposisi kimia pakan. Persamaan regresi yang akan digunakan untuk memperkirakan kandungan TDN hijauan adalah TDN = 0.482 NDF + 1.538 LK + 0.699 NFC + 0.718 PK (R2 = 0.994). Persamaan ini divalidasi dan dibandingkan dengan persamaan Hartadi dan Wardeh. Hasil uji-T menunjukkan bahwa nilai estimasi TDN tidak berbeda nyata dengan TDN Hartadi untuk sapi (P> 0.05)

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇