31665 research outputs found
Sort by
Gambaran Histopatologi Otak dan Paru-Paru Mencit Setelah Infeksi Toxoplasma gondii dan Pemberian Ekstrak Etanol Jahe Merah
Zingiber officinale rubrum (Red Ginger) in Indonesia is used as an herbal
medicinal plant to treat various diseases, one of which is anti-microbial.
Toxoplasmosis is an intracellular obligate parasite that infects many pregnant
women, causing miscarriage. Treatment using antibiotics can cause resistance so
red ginger is used as a candidate for Spiramycin replacement. The aim of the
study was to determine the effectiveness of red ginger as an antibiotic to treat
toxoplasmosis. Research using 12 mice was divided into 4 treatments into KN
(Mice not infected and not treated), SP (Mice infected with T. gondii and given
Spiramycin), EJ (Mice infected with T. gondii and given red ginger extract), and
KP ( Infected and untreated mice. Mice were infected with Txoplasma at a dose of
1��104 /head intraperitoneally. On the 6th day mice were necropped and
histopathic preparations were made with HE staining. The results showed that red
ginger extract had an effect as an anti-Toxoplasma gondii, as evidenced by a
decrease in the percentage of takhizoit, lymphocytes and macrophages in the brain
organs of 89%, 18% and 15% respectively and the percentage decrease in
takhizoite, lymphocytes and macrophages in skeletal muscles of 53%, 15% and
21% respectively
Analisis Pengaruh Struktur Modal Bank terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia
Kinerja bank sangat dipengaruhi oleh struktur modalnya. Hal ini karena
dalam permodalan suatu usaha atau bisnis, utang dapat menjadi sumber utama
pertumbuhan atau sebaliknya meningkatkan risiko kebangkrutan/kesulitan
keuangan (financial distress). Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh struktur
modal Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia dan pengaruhnya terhadap
profitabilitas. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data empiris 5
bank selama tahun 2008-2017. Kinerja bank diukur dengan rasio profitabilitas
yaitu Rasio Laba terhadap Aset (ROA) dan Rasio Laba terhadap Ekuitas (ROE).
Variabel struktur modal yang digunakan adalah Rasio Ekuitas terhadap Aset
(EAR). Penelitian ini juga menggunakan variabel dependen Ukuran Perusahaan,
Tingkat SBIS Riil, dan Pertumbuhan Ekonomi. Secara umum struktur modal
berpengaruh signifikan negatif terhadap ROA/ROE. Pertumbuhan ekonomi
sebagai salah satu variabel makroekonomi berpengaruh signifikan dan positif
terhadap ROA maupun ROE
Pengaruh Jenis Pelarut dan Suhu Terhadap Pemurnian Mono-Diasilgliserol.
Mono-Diasilgliserol (M-DAG) adalah emulsifier yang diperoleh dari hasil
esterifikasi gliserol dan PFAD (Palm Fatty Acid Destilate). M-DAG hasil
esterifikasi memiliki kemurnian rendah yang disebabkan oleh pengotor seperti
asam lemak bebas dan triasilgliserol, sehingga diperlukan saponifikasi dan
pengkritalan untuk menghasilkan M-DAG murni. Tujuan penelitian ini adalah
mencari jenis pelarut dan suhu terbaik pada proses kristalisasi M-DAG.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 1
faktor, yaitu jenis pelarut yang digunakan (etanol 96%, etanol 70%, isopropil
alkohol 95%) dan suhu dengan taraf (2oC, 5oC, 10oC). Parameter analisis yang
dilakukan meliputi rendemen, kadar asam lemak bebas, stabilitas emulsi dan
penampakan. Hasil penelitian menunjukan jenis pelarut berpengaruh terhadap
rendemen dan asam lemak bebas, tetapi tidak berpengaruh terhadap stabilitas
emulsi. Sedangkan pengaruh suhu juga menghasilkan hasil yang sama, suhu
berpengaruh terhadap rendemen dan kadar asam lemak bebas, tetapi tidak
berpengaruh terhadap stabilitas emulsi. Jenis pelarut terbaik adalah etanol 96%
dengan rendemen 24,2%, kadar asam lemak bebas 29,6% dan stabilitas emulsi
49,5%,.Suhu terbaik adalah kristalisasi pada suhu 2oC dengan rendemen 16,23%,
kadar asam lemak bebas sebesar 3,80% dan stabilitas emulsi 100%
Pengembangan Aplikasi Penggajian Berbasis Web di Peternakan Al-Baqoroh Menggunakan Metode Incremental.
Al-baqoroh merupakan salah satu peternakan sapi perah di kabupaten Bogor. pencatatan dan perhitungan gaji pegawainya masih dilakukan sacara konvensional. Hal itu menyebabkan tidak efektifnya ruang penyimpanan serta tidak efisiennya waktu perhitungan, sehingga dibuatlah suatu aplikasi penggajian menggunakan metode incremental yang terdiri dari 13 kebutuhan fungsional yang dikerjakan dalam 2 increment yaitu untuk fungsi pencatatan dan perhitungan. Terdapat 5 tahapan pengerjaan pada setiap increment yaitu komunikasi, perancangan, pemodelan, konstruksi, dan penyerahan sistem. Terdapat 8 fungsi yang dikerjakan pada increment pertama dan 5 fungsi pada increment kedua. Setiap fungsi pada setiap increment telah berhasil terapkan dan diuji oleh pemilik peternakan dengan total kasus uji 86 kasus untuk increment pertama dan 22 kasus untuk increment kedua. Pengembangan aplikasi penggajian ini dilakukan dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP, RDBMS MariaDB, dan framework codeIgniter. Penelitian ini menghasilkan suatu aplikasi penggajian yang dapat membantu dalam melakukan pencatatan dan perhitungan gaji pegawai di peternakan Al-baqoroh
Pengaruh Suplementasi Asam Glutamat dalam Pakan terhadap Kinerja Pertumbuhan Ikan Patin Pangasius hypophthalmus pada Media Pemeliharaan Amonia yang Berbeda
Ikan patin di Indonesia banyak dibudidayakan di kolam tadah hujan dan
jarang dilakukan penggantian air selama masa budidaya sehingga menyebabkan
tingginya akumulasi amonia dalam perairan. Hal ini diduga menyebabkan
kebutuhan asam glutamat sebagai pengikat amonia dalam tubuh meningkat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi suplementasi asam glutamat pada
pakan ikan patin terhadap kinerja pertumbuhan pada kondisi media pemeliharaan
dengan kadar amonia tinggi.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat
perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan ini terdiri dari dua level total ammonia
nitrogen (TAN) yaitu konsentrasi A17 (17.24 ± 1.57 mg L-1) dan A120 (120.29 ±
3.37 mg L-1), dan dua level asam glutamat GLU0 dan GLU1.5 (0% dan 1.5%).
Ikan patin diberi makan tiga kali sehari secara at satiation. Ikan patin yang
digunakan bobot 5,87±0,03 g per-individu yang diaklimasi selama 10 hari dan
ditebar dengan kepadatan 30 ekor per-akuarium pada ukuran 40x50x50 cm3.
Pemeliharaan dilakukan dengan sistem resirkulasi dengan range pH, suhu dan DO
adalah 7.5-7.8, 29.5-30 oC dan 3.8-4.3 ppm. Penambahan amonium klorida
(NH4Cl) untuk mendapatkan dosis amonia perlakuan, serta menambahkan sodium
bikarbonat (NaHCO3) untuk menstabilkan pH air. Ikan patin dipelihara selama 60
hari. Parameter penelitian yang diamati meliputi parameter kinerja pertumbuhan
(jumlah konsumsi pakan, bobot ikan akhir, laju pertumbuhan harian, rasio
efisiensi protein, dan tingkat kelangsungan hidup ikan) dan parameter kimia tubuh
(akumulasi amonia dalam plasma dan hati, aktivitas enzim aspartate
aminotransaminase (AST) dan alanine aminotransaminase (ALT) plasma,
akumulasi glutamin di hati dan aktivitas enzim protease usus).
Berdasarkan hasil penelitian pada kondisi A17 menunjukkan bahwa
suplementasi asam glutamat 1.5% dalam pakan tidak mempengaruhi jumlah
konsumsi pakan pada ikan patin, sehingga tidak mempengaruhi bobot individu
akhir dan laju pertumbuhan harian. Disisi lain suplementasi asam glutamat ini
dapat menimbulkan dampak negatif berupa rusaknya lamela insang pada ikan
patin berupa adanya pengangkatan (lifting) dan hiperplasia. Hal ini diduga terkait
peningkatan peranan insang dalam mensekresikan amonia hasil metabolisme,
melalui deaminasi atau oksidasi asam glutamat. Pernyataan tersebut juga
didukung dari hasil pengujian nilai rasio efisiensi protein pada penelitian ini yang
menurun (2.36±0.11), sehingga meningkatkan nilai rasio konversi pakan
(1.25±0.08). Selain itu, suplementasi asam glutamat 1.5% tidak mempengaruhi
penurunan kadar amonia plasma (11.48±3.06) dan hati (13.33±0). Hal ini diduga
terkait rendahnya peranan asam glutamat dalam mengikat amonia hati pada
kondisi A17. Hal ini didukung dengan hasil pengujian enzim protease yang
memiliki nilai hampir sama dengan perlakuan tanpa suplementasi asam glutamat
(4.09±1.64 dan 3.97±0.97).
Berdasarkan hasil pengamatan ikan patin yang dipelihara pada kondisi
amonia lebih tinggi (A120) menunjukkan kerusakan pada insang, tetapi dengan
suplementasi asam glutamat 1.5% dapat menurunkan tingkat kerusakan insang.
Namun ikan patin memiliki swimbladder sebagai organ respiratori tambahan.
Karakteristik tersebut berpeluang pada A120 tidak mempengaruhi proses
metabolisme tubuh. Pemeliharan ikan patin pada kondisi A120 dengan
suplementasi asam glutamat 1.5% menunjukkan adanya peningkatan jumlah
konsumsi pakan (31.83±3.46). Hal ini didukung dengan meningkatnya tingkat
kelangsungan hidup (96.67±3.33) dan biomassa akhir ikan patin (1024.35±27.78).
Disisi lain semakin tingginya amonia di lingkungan menyebabkan semakin
meningkatnya amonia dalam plasma dan hati. Hasil pengujian aktivitas enzim
transaminase menunjukkan bahwa seiring meningkatnya amonia dalam perairan
maka semakin meningkat pula aktivitas enzim transaminase dalam plasma
terutama enzim ALT, tetapi aktivitas enzim AST tidak menunjukkan perbedaan
yang signifikan antar perlakuan. Peningkatan sintesa asam glutamat merupakan
proses detoksifikasi endogenous amonia, yang berperan dalam mengikat amonia
di dalam tubuh dan diubah menjadi glutamin.
Hal ini selaras dengan hasil pengujian amonia tubuh, suplementasi asam
glutamat 1.5% dapat menurunkan kadar amonia plasma berkisar 39% pada
kondisi A120, namun tidak dapat menurunkan nilai amonia di hati. Hal ini
didukung juga dengan aktivitas enzim protease pada usus ikan patin (A120) yang
meningkat (4.61±0.03), sehingga mengindikasikan bahwa asupan asam glutamat
melalui pakan dapat dimanfaatkan secara optimal dan mampu menekan efek
toksik dari amonia yang tinggi dan ikan dapat bertahan hidup lebih baik dengan
nilai tingkat kelulushidupan 96.67±3.33%. Berdasarkan hasil pengujian kadar
gutamin di hati, tidak terdapat nilai yang berbeda antar perlakuan masing-masing
23.49±1.10, 21.94±1.53, 21.53±0.93 dan 20.23±2.21. Hal ini mengindikasikan
bahwa pemeliharaan pada kondisi A17 dan A120 tidak mempengaruhi sintesa
glutamin di hati. Sintesa glutamin dari reaksi glutamat dengan amonia, memiliki
peranan utama dalam menjaga keseimbangan nitrogen tubuh. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa suplementasi asam glutamat 1.5% pada amonia 17.24±1.57
mg L-1 dapat menyebabkan kerusakan insang (lifting lamela dan hiperplasia),
meningkatkan rasio konversi pakan dan menurunkan rasio efisiensi protein.
Sementara itu suplementasi asam glutamat 1.5% pada amonia 120.29±3.37 mg L-1
dapat meningkatkan biomasa akhir dan tingkat kelulushidupan ikan patin
(Pangasius hypophthalmus)
Analisis Keberlanjutan Program Ecovillage di Desa Bendungan, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor
Ecovillage adalah desa berbudaya lingkungan dimana masyarakat mampu
mengelola lingkungannya sesuai dengan kaidah keberlanjutan meliputi
konservasi, pemanfaatan dan pemulihan lingkungan. Ecovillage Desa Bendungan
memunculkan keselarasan pada aspek ekologi, ekonomi, dan sosial. Namun dalam
pelaksanaannya, program ecovillage masih mengalami hambatan karena
kurangnya pendanaan untuk pengembangan sehingga berpotensi pada
ketidakberlanjutan program. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan: (1)
menganalisis status keberlanjutan secara ekologi, ekonomi, dan sosial program
ecovillage di Desa Bendungan dan; (2) mengestimasi besar nilai Willingness to
Pay (WTP) masyarakat terhadap keberlanjutan program ecovillage di Desa
Bendungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Multidimensional Scalling (MDS) dan analisis Willingness to Pay (WTP) dengan
Dichotomous Choice Contingent Valuation Method (DC-CVM). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa status keberlanjutan program ecovillage di Desa Bendungan
secara multidimensi yaitu cukup berkelanjutan (60,75). Pada dimensi ekologi
(63,95), dimensi ekonomi (55,31), dan dimensi sosial (62,99), ketiganya termasuk
cukup berkelanjutan. Atribut yang sensitif dalam keberlanjutan adalah
pengelolaan sampah dan pemeliharaan drainase; peluang peningkatan ekonomi
masyarakat dalam menerapkan potensi yang ada dan usaha berbasis lingkungan;
dan dukungan aparat desa berupa pembuatan kebijakan terkait lingkungan
sehingga akan berdampak kepada peningkatan keterlibatan masyarakat dalam
melakukan kegiatan lingkungan. Nilai total WTP responden sebesar Rp 2.070.000
dengan rataan (EWTP) sebesar Rp 9.000/KK/bulan
Strategi Pemulihan Hutan di KHDTK Samboja, Kalimantan Timur
KHDTK Samboja adalah ekosistem hutan dataran rendah campuran
Dipterokarpa yang masih tersisa di Kalimantan Timur. Kawasan hutan ini dikenal
sebagai habitat spesies-spesies pohon endemik Kalimantan seperti spesies dari
keluarga Dipterokarpa dan ulin (Eusideroxylon zwageri). Keragaman tipe tutupan
lahan di KHDTK Samboja sebagai akibat langsung kebakaran hutan (30% dari luas
kawasan), aktivitas manusia dalam menggarap lahan (64% dari luas kawasan) dan
hutan primer sisa di Rintis Wartono Kadri (6% dari luas kawasan) menarik untuk
diteliti. Rehabilitasi hutan dan lahan yang telah dilakukan sejak tahun 1988
menunjukkan tidak berhasil. Konflik penguasaan lahan oleh masyarakat karena
perluasan hutan penelitian dan tidak adanya organisasi yang bertanggung jawab
terhadap program kemungkinan menjadi faktor penyebab ketidak-berhasilan.
Strategi pemulihan hutan perlu dikembangkan berdasarkan kondisi biofisik, sosial
dan kelembagaan di KHDTK Samboja saat ini.
Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengkaji komposisi spesies pohon pada
petak contoh permanen 1.8 ha pasca kebakaran berulang, (2) mengkaji konflik
penguasaan lahan dan pengorganisasian program rehabilitasi dan (3) membangun
strategi pemulihan hutan KHDTK Samboja berdasarkan hasil kajian komposisi
spesies, keberadaan masyarakat penggarap lahan, pengorganisasian dan potensi
pendanaan.
Analisis pada petak contoh 1.8 ha menunjukkan bahwa pemulihan biomasa
hutan di KHDTK Samboja diperkirakan memerlukan waktu 50 – 60 tahun. Namun
pemulihan komposisi spesies kecil kemungkinannya untuk bisa dicapai karena
adanya kelangkaan spesies asli. Dari 273 spesies pada luasan 1.8 ha sebelum
kebakaran, hanya 90 spesies asli yang berkembang kembali, 183 spesies lainnya
tidak ditemukan setelah kebakaran berulang, tetapi ditemukan 101 spesies yang
sebelum kebakaran tidak ditemukan. Penanaman spesies asli untuk mengembalikan
komposisi spesies memungkinkan dilakukan pada hutan sekunder bekas terbakar
dan belukar yang tidak digarap oleh masyarakat dengan memilih spesies prioritas.
Konflik penguasaan lahan oleh masyarakat masih belum ada solusi dan organisasi
pemulihan hutan juga belum terbentuk. Analisis para pihak yang memungkinkan
dilibatkan dalam pemulihan hutan di KHDTK Samboja menemukan lima lembaga
sebagai pelaku kunci yaitu BPTKSDA, UPTD Tahura Bukit Soeharto, Dinas
Kehutanan Kalimantan Timur, BLI Lingkungan dan Kehutanan serta Universitas
Mulawarman.
Berdasarakan kajian komposisi spesies, konflik penguasaan lahan dan
pengorganisasian program pemuliahan hukan, maka ditemukan empat strategi yang
memungkinkan untuk dikembangkan dalam pemulihan hutan di KHDTK Samboja,
yaitu:
1. Teknologi pemulihan hutan dikembangkan dengan mempertimbangkan tutupan
lahan dan keberadaan masyarakat penggarap lahan dengan target capaian yang
berbeda. Restorasi ekosistem dilakukan untuk memulihkan komposisi spesies
pada hutan sekunder bekas terbakar yang beregenerasi alami dan belukar,
rehabilitasi dengan agroforestri untuk memperoleh produk tanaman pada lahan
garapan masyarakat dan reklamasi untuk mengembalikan produktivitas lahan
pada lahan alang-alang.
2. Pemilihan spesies prioritas restorasi dilakukan dengan mempertimbangkan lima
kriteria yaitu jumlah individu spesies dalam petak contoh 1.8 ha, kerentanan
spesies terhadap perubahan lingkungan, karakter reproduksi spesies, potensi
regenerasi spesies. Teridentifikasi 51 spesies sebagai prioritas pertama, 123
spesies prioritas kedua dan 54 spesies prioritas ketiga dalam restorasi di
KHDTK Samboja
3. Pengoragisasian program pemulihan hutan dilakukan oleh para pihak yang
teridentifikasi sebagai pemain kunci yaitu BPTKSDA, UPTD Tahura Bukit
Soeharto, Dinas Kehutanan Kalimantan Timur, BLI Lingkungan dan Kehutanan
serta Universitas Mulawarman. Kelima lembaga tersebut memungkinkan
bekerja dalam suatu konsorsium dan membentuk organisasi pemulihan hutan di
KHDTK Samboja. Selanjutnya, masing-masing lembaga berkerja sesuai
dengan tugas pokok dan fungsinya.
4. Pendanaan dalam pemulihan hutan di KHDTK Samboja memungkinkan berasal
dari sumber-sumber dana potensial seperti donor internasional, pemerintah
daerah dan pusat serta sektor swasta
Penentuan Perlakuan Insektisida yang Berpengaruh terhadap Kemampuan Kutukebul Menularkan Penyakit Kuning pada Tanaman Cabai.
Pepper yellow leaf curl virus (PYLCV) merupakan penyebab penyakit
kuning dan dilaporkan menyebabkan kehilangan hasil pada tanaman cabai. Virus
ini ditularkan melalui serangga vektor kutukebul, Bemisia tabaci (Hemiptera:
Aleyrodidae). Salah satu strategi pengendalian penyakit ini adalah dengan
mengendalikan serangga vektornya melalui aplikasi insektisida. Tujuan penelitian
menentukan jenis dan waktu aplikasi insektisida yang berpengaruh terhadap
kemampuan serangga vektor B. tabaci menularkan virus daun keriting kuning
(PYLCV) pada tanaman cabai. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak
lengkap (RAL). Perlakuan terdiri atas kombinasi dari bahan aktif (karbofuran,
imidakloprid, dan pimetrozin); waktu aplikasi insektisida (pada saat pindah tanam,
1, 4, 6 hari setelah pindah tanam) dan waktu inokulasi (7 dan 14 hari setelah
pindah tanam). Inokulasi virus pada tanaman cabai dilakukan menggunakan
serangga vektor B. tabaci. Infeksi virus dikonfirmasi menggunakan metode
polymerase chain reaction (PCR). Berdasarkan pengamatan gejala, periode
inkubasi bervariasi di antara jenis insektisida, yaitu berkisar 2 sampai 6 minggu
setelah inokulasi. Secara umum, aplikasi insektisida pada awal tanam tidak
mengganggu pertumbuhan tanaman. Karbofuran, pimetrozin, dan imidakloprid
yang diaplikasikan pada saat tanam, 1 hari setelah pindah tanam, dan 6 hari
setelah pindah tanam mampu menekan insidensi dan keparahan penyakit.
Insidensi penyakit terendah (44.44%) ditunjukkan oleh perlakuan PS1I7 dan
KaTI7; sedangkan keparahan peyakit terendah yaitu 25.00%, 30.56%, dan 38.89%
ditunjukkan oleh perlakuan PS1I7, KaTI7, dan PS6I7. Aplikasi insektisida
berpengaruh terhadap kemampuan serangga vektor dan selanjutnya
mempengaruhi penularan penyakit
Aktivitas Antimalaria secara in Vitro, Toksisitas Akut, dan Profil Fitokimia Ekstrak Kayu Bidara Laut
Indonesia merupakan negara yang kaya akan tanaman obat yang sangat
potensial untuk dikembangkan. Kekayaan alam tumbuhan di Indonesia meliputi 30
000 jenis tumbuhan dari total 40 000 jenis tumbuhan di dunia, dimana 940 jenis
diantaranya merupakan tumbuhan berkhasiat obat (jumlah ini merupakan 90% dari
jumlah tumbuhan obat di kawasan Asia) (Dephut 2010). Salah satu tumbuhan yang
dapat dikembangkan sebagai tanaman obat yaitu bidara laut (Strychnos ligustrina
Bl). Kayu bidara laut merupakan tumbuhan obat antimalaria bagi masyarakat Nusa
Tenggara Barat (NTB) (Setiawan et al. 2014). Kasus malaria di Indonesia terdapat
di Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, dan Maluku Utara
sebanyak 82% dengan Annual Parasite Incidence (API) per 1 000 penduduk
tertinggi yaitu Papua (31.93), Papua Barat (31.29), NTT (7.04), Maluku (5.81), dan
Maluku Utara (2.77) (Kemenkes 2017). Untuk pengobatan malaria dengan
menggunakan obat ACT (Artemisinin based Combination Therapy) dapat
menggunakan senyawa antimalaria berupa zat ekstraktif. Pengembangan obat
antimalaria berbahan aktif alami dari ekstrak kayu bidara laut potensial dilakukan.
Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap. Pertama adalah menentukan
rendemen dari ekstrak kayu bidara laut dengan menggunakan pelarut etanol 100%
(E100), etanol 75% (E75), etanol 50% (E50), etanol 25% (E25), dan pelarut air
suling (E0). Kedua adalah pengujian toksisitas akut untuk menentukan dosis aman
penggunaan ekstrak berdasarkan OECD (2008). Ketiga adalah menganalisis profil
fitokimia secara kualitatif dan kuantitatif yang terdapat dalam ekstrak
menggunakan LCMS/MS dan karakteristik senyawa dilakukan menggunakan FTIR.
Rendemen hasil ekstraksi kayu bidara laut tertinggi diperoleh pada ekstrak terlarut
E50 (5.30%), diikuti E75 (5.19%), E25 (4.70%), E100 (4.32%), dan E0 (3.62%).
Ekstrak kayu bidara laut terlarut E50, E25, E0, dan E75 memiliki aktivitas
antimalaria yang tergolong aktif dengan IC50 berturut-turut 22.878 μg mL-1, 23.078
μg mL-1, 25.878 μg mL-1, dan 40.372 μg mL-1. Namun, ekstrak terlarut E100
tergolong tidak aktif dengan IC50 613.333 μg mL-1. Hasil uji toksisitas akut pada
mencit menunjukkkan bahwa semua ekstrak uji torgolong tidak toksik karena
hingga dosis 5 120 mg kg-1 BB tidak ada mencit yang mati dan tidak menunjukkan
gejala klinis pada mata, kulit, bulu, tremor, dan diare hingga hari ke 14 pengujian
(LD50 lebih dari 5 120 mg kg-1 BB). Hasil analisis fitokimia kualitatif menunjukkan
semua ekstrak terdeteksi mengandung alkaloid dan senyawa fenolik dengan
intensitas yang berbeda. Hasil analisis LCMS/MS menunjukkan bahwa senyawa
utama semua ekstrak adalah brusin dengan konsentrasi relatif berturut-turut untuk
ekstrak terlarut E100, E75, E50, E25, dan E0 adalah 11.62%,11.79%, 21.33%,
24.55%, dan 24.96%
Integrasi Algoritme N-GCPSO dengan Algoritme Eksplorasi Partikel untuk Sistem Multirobot Pencari Target.
Neighbourhoods with the Guaranteed Convergence Particle Swarm Optimization (N-GCPSO) adalah algoritme optimasi yang bekerja dengan sekumpulan partikel yang memiliki batasan komunikasi lokal untuk menemukan nilai optimum. N-GCPSO dapat diterapkan untuk sistem multirobot pencari target dengan merepresentasikan partikel sebagai robot dan titik optimum sebagai lokasi target. Algoritme N-GCPSO cenderung mengelompok terlalu dekat pada satu titik optimum, sehingga memperkecil kemungkinan untuk menemukan titik optimum yang lain. Algoritme eksplorasi partikel diintegrasikan dengan N-GCPSO agar dapat menemukan lebih banyak titik optimum. Penelitian ini melakukan integrasi antara algoritme N-GCPSO dengan algoritme eksplorasi partikel dan mempertimbangkan parameter robot e-Puck. Algoritme eksplorasi partikel yang digunakan adalah random bouncing dan simple velocity-line bouncing. Hasil simulasi menunjukkan pada 7 (tujuh) dari 9 (sembilan) skenario rata-rata jumlah target yang ditemukan paling banyak adalah ketika menggunakan N-GCPSO dengan algoritme eksplorasi partikel. Selain itu N-GCPSO dengan algoritme eksplorasi partikel juga meningkatkan keefektifan algoritme N-GCPSO dengan mengurangi jumlah tabrakan antar robot