31665 research outputs found
Sort by
Pemantau Otomatis Aktivitas Lebah Madu Apis cerana Keluar-Masuk Sarang Menggunakan Pemrosesan Citra
Lebah madu Apis cerana adalah serangga sosial yang hidup berkoloni.
Kelimpahan dari lebah dipengaruhi kondisi lingkungan. Lebah pekerja dari Apis
cerana bertugas untuk mencari pakan untuk koloninya. Pengamatan aktivitas
keluar-masuk dari lebah pekerja diperlukan untuk mendeteksi fenomena Colony
Collapse Disorder (CCD). Pada penelitian ini telah dibuat alat yang dapat
menghitung secara otomatis banyaknya aktivitas keluar-masuk sarang dari lebah
pekerja A. cerana yang telah ditandai dengan cat minyak berwarna merah, hijau,
biru, dan kuning pada bagian toraks. Pendeteksian obyek lebah tersebut dilakukan
dengan pemrosesan citra menggunakan modul kamera dan mini-komputer
Raspberry Pi yang diprogram dengan bahasa pemrograman Python dan dibantu
dengan library OpenCV. Selain untuk mendeteksi lebah, alat ini juga dilengkapi
oleh sensor suhu, kelembaban, serta intensitas cahaya untuk mengetahui kondisi
lingkungan di sekitar sarang lebah.. Citra yang diperoleh berkorelasi dengan dengan
intensitas cahaya yang masuk ke dalam lorong di depan sarang. Pengamatan
dilakukan pukul 08.00 – 17.00. Aktivitas keluar-masuk dari setiap kelompok lebah
yang telah ditandai menunjukkan pola yang berbeda yang berkorelasi juga dengan
kelembaban lingkungan. Aktivitas keluar-masuk tertinggi terjadi sekitar pukul
08.00 hingga 09.00, kemudian pada waktu berikutnya aktivitas menurun dan
meningkat kembali sekitar pukul 13.00 hingga 14.59
Pengelolaan Pemangkasan Tanaman Kopi Arabika (Coffea arabica L.) di Kebun Kalisat Jampit, PT Perkebunan Nusantara XII (Persero), Bondowoso, Jawa Timur
Kegiatan magang bertujuan menganalisis dan mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan pemangkasan kopi. Selain itu, melatih keterampilan kerja dan menambah pengetahuan terkait budidaya kopi. Kegiatan magang telah dilaksanakan di Kebun Kalisat Jampit, PT Perkebunan Nusantara XII, Bondowoso, Jawa Timur pada bulan Januari sampai bulan Mei 2019. Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Salah satu teknik budidaya tanaman kopi yang penting adalah pemangkasan. Pengamatan dilakukan pada aspek pemangkasan yang meliputi tinggi tanaman, komposisi cabang, dan pertumbuhan tunas. Sampel tanaman diambil dari 5 blok kebun dan terdiri atas 3 tanaman per blok. Data sekunder diperoleh dari laporan manajemen perusahaan. Analisis data yang dilakukan secara deskriptif, rata-rata, dan persentase. Pemangkasan tanaman kopi yang dilakukan di Kebun Kalisat Jampit termasuk pemangkasan pemeliharaan/produksi. Komposisi cabang produktif yang merata (±33%) akan berpengaruh terhadap hasil taksasi produksi. Berdasarkan sampel yang diamati, tidak satu blok pun memiliki proporsi cabang B0, B1, dan B2 yang relatif seimbang. Cabang yang dipangkas merupakan cabang yang sudah tua, terserang penyakit, dan produksinya sudah menurun. Cabang yang sudah dipangkas akan menumbuhkan tunas-tunas produktif yang baru. Pelaksanaan pemangkasan di Afdeling Kampung Baru hampir sesuai dengan standar kebun dilihat dari tinggi tanaman kopi yang tidak lebih dari 170 cm
Pengaruh Variasi Laju Aliran Udara terhadap Proses Pembakaran dan Hasil Produk Pirolsis pada Kompor Biomassa
Pirolisis membutuhkan energi panas untuk memanaskan biomassa menjadi arang. Pemenuhan energi panas dapat dilakukan dengan mengoptimalkan proses pembakaran. Salah satu faktor penentu dalam proses pembakaran adalah jumlah udara yang dialirkan selama proses pembakaran. Kompor biomassa dari Pangala et al. (2018) akan dicoba diuji dengan memberikan variasi laju aliran udara menggunakan blower dan dianalisis pengaruhnya terhadap proses pembakaran dan hasil produk pirolisis. Laju aliran udara 0.033 kg/s, 0.035 kg/s, dan 0.038 kg/s mampu dioperasikan oleh kompor yang telah dilengkapi dengan blower menghasilkan suhu maksimum, yaitu 1178oC, 802.6oC, dan 891.5oC berturut-turut. Semakin besar laju aliran udara, semakin sedikit konsumsi bahan bakar dengan waktu pemicuan dan waktu autotermal yang relatif lebih singkat. Biochar yang dihasilkan adalah sebesar 26.33%, 27.86%, dan 29.10% untuk masing-masing variasi laju aliran udara. Hasil tertinggi biochar dipengaruhi oleh laju pemanasan pirolisis dan suhu maksimum pirolisis masing-masing sebesar 0.145oC/s dan 336.7oC
Analisis Saluran Pemasaran Sepatu Kulit di Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor.
Penelitian ini telah dilaksanakan pada Mei 2019 hingga Desember 2019. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pemasaran dan efisiensi pemasaran sepatu kullit di Kecamatan Ciomas. Penelitian ini dilakukan di Desa Mekarjaya dan Desa Pagelaran sebagai sentra UMKM alas kaki di Kecamatan Ciomas. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 3 lembaga pemasaran dan 6 saluran pemasaran sepatu kulit. Saluran 1 pengrajin ke instansi ke konsumen, saluran 2 pengrajin ke reseller ke konsumen, saluran 3 pengrajin ke konsumen, saluran 4 pengrajin ke pedagang grosir ke konsumen, saluran 5 pengrajin ke pedagang grosir ke pedagang pengecer ke konsumen dan saluran 6 pengrajin ke koperasi ke konsumen. Margin pemasaran terendah terdapat pada saluran 3 sebesar Rp 0. Producer’s share pada masing-masing saluran berturut-turut sebesar 89.06 persen, 83.33 persen, 100 persen, 70.37 persen, 57.58 persen dan 42.70 persen. Saluran pemasaran yang paling efisien untuk diterapkan adalah saluran 1
Perbedaan Umur Panen terhadap Kualitas Buah Rambai Merah (Baccaurea motleyana Muell. Arg.)
Rambai (Baccaurea motleyana) merupakan salah satu buah lokal yang memiliki berbagai manfaat. Kulit pohon buah rambai dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri, obat tradisional, dan dapat berpotensi sebagai antikanker. Buah rambai mengandung beberapa nutrisi seperti vitamin C, vitamin B, dan fosfor. Selain penampilan fisik, kandungan nutrisi yang terdapat dalam buah juga akan mempengaruhi kualitas buah. Salah satu faktor yang mempengaruhi kandungan nutrisi yaitu umur panen. Perbedaan umur panen menyebabkan perbedaan kandungan nutrisi dan senyawa yang terdapat dalam buah. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kualitas fisik dan kimia pada buah rambai merah yang dipanen pada umur panen berbeda. Pengambilan sampel penelitian dilaksanakan di Taman Buah Unggul Mekarsari, Kecamatan Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Pengamatan penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pascapanen dan Laboratorium Seed Center Leuwikopo, Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB. Dalam penelitian ini menggunakan perlakuan umur panen dengan tiga taraf perlakuan yaitu umur panen 13 MSA, 16 MSA, dan 19 MSA. Tingkat kemanisan buah diukur dari rasio padatan terlarut total (PTT) dan asam tertitrasi total (ATT), kemudian pengukuran glukosa, fruktosa, dan sukrosa diukur menggunakan metode enzimatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemanisan buah rambai merah meningkat dari umur 13 MSA ke 19 MSA tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan pada parameter yang diamati kecuali pada kekerasan buah, nilai ATT, dan rasio PTT/ATT diantara ketiga umur panen tersebut berdasarkan uji lanjut Tukey atau uji BNJ. Jenis gula yang dominan pada buah rambai ini adalah glukosa, diikuti fruktosa dan sukrosa
Uji Coba Lampu Light Emitting Diode Jenis Chip on Board pada Bagan Apung.
Keberhasilan operasi penangkapan bagan apung sangat ditentukan oleh banyak
faktor. Salah satunya adalah cahaya. Sumber cahaya yang digunakan nelayan
adalah lampu compact flouresecent light bulb (CFL). Konstruksi lampu CFL tidak
dibuat khusus sebagai alat bantu penangkapan ikan. Jenis lampu yang mungkin
dapat dikembangkan adalah light emitting diode (LED). Penelitian tentang lampu
LED sebagai alat bantu penangkapan ikan pada bagan pernah dilakukan dengan
menggunakan LED jenis high power LED (LED-HPL). Penggunaan LED-HPL
mampu meningkatkan hasil tangkapan bagan. Namun demikian, lampu LED-HPL
memilki kekurangan, diantaranya rangkaian lampu HPL agak rumit, lampu mudah
panas dan cepat rusak ketika digunakan secara terus menerus serta harganya relatif
mahal. Lampu LED chip on board (LED-COB) dapat dijadikan solusi sebagai alat
bantu penangkapan ikan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan komposisi hasil
tangkapan bagan menggunakan lampu CFL dan LED-COB dan membuktikan
bahwa lampu LED-COB lebih baik digunakan sebagai alat bantu penangkapan ikan
pada bagan apung. Penelitian menggunakan metode experimental fishing. Dua unit
bagan digunakan pada penelitian. Masing-masing bagan mengoperasikan lampu
LED-COB dan CFL. Hasil tangkapan utama bagan apung terdiri atas udang rebon,
dan teri. Adapun hasil tangkapan sampingan meliputi cumi-cumi, pepetek, bilis,
tembang, dan selar. Hasil penelitian menunjukan bahwa bagan yang memakai
lampu LED-COB mendapatkan hasil tangkapan seberat 1.749 kg, sedangkan hasil
tangkapan bagan yang menggunakan lampu CFL hanya seberat 754 kg. Hasil uji
statistik menggunakan uji-t menyatakan bahwa terdapat perbedaan hasil tangkapan
antara bagan yang menggunakan lampu LED-COB dan bagan dengan lampu CFL
Penentuan Kandidat Panjang Gelombang Alat Ukur Glukosa Darah Non Invasive dengan Spektrofotometer UV-VIS dan Analisis Transisi Elektron.
Glukosa darah merupakan tingkat glukosa didalam darah. Pengecekan kadar gula darah saat ini masih menggunakan metode invasive yaitu dengan pengambilan darah. Oleh karena itu dibutuhkan alat yang dapat mengetahui kadar gula darah secara non invasive agar memudahkan manusia dalam mengetahui kadar gula darah. Berdasarkan hasil analisis spektrum UV-VIS 190-900 nm, kandidat panjang gelombang LED yang dapat digunakan yaitu 490 nm, 505 nm, dan 525 nm. Penentuan tersebut didasarkan oleh nilai standar deviasi terkecil pada panjang gelombang 510 nm dan nilai korelasi pearson tertinggi pada panjang gelombang 511 nm. Pada panjang gelombang 490 nm, 505 nm, dan 525 nm memiliki nilai serapan UV-VIS yang rendah, sehingga pembuatan alat ukur glukosa darah non invasive dapat dilakukan dengan menggunakan sensor reflektansi
Intensitas Kabut Asap di Atas Pertanaman Kelapa Sawit ditentukan Berdasarkan Transmisivitas Atmosfer (Studi Kasus: PT Perkebunan Nusantara VI, Batanghari, Jambi)
Kabut asap menjadi salah satu hasil kebakaran hutan yang dapat dilihat secara langsung dan memberikan dampak negatif bagi visibilitas atmosfer. Keberadaan kabut asap dapat diestimasi menggunakan berbagai metode baik menggunakan satelit, pengukuran menggunakan alat, maupun perhitungan matematis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisis intensitas kabut asap adalah dengan perhitungan transmisivitas atmosfer. Transmisivitas atmosfer didapatkan dari rasio antara radiasi global yang terukur oleh alat pada permukaan bumi dengan radiasi global di puncak atmosfer. Hasilnya didapatkan rata-rata transmisivitas atmosfer di PT. Perkebunan Nusantara VI (PTPN VI), Batanghari, Jambi pada tahun 2015 adalah 0,28. Kondisi tersebut menunjukkan sebagian besar kondisi cuaca pada tahun 2015 di PTPN VI Jambi memiliki turbiditas atmosfer yang tinggi. Adapun periode kebakaran hutan dan kabut asap berlangsung sejak September hingga pertengahan November, dimana puncak kebakaran terjadi pada bulan Oktober 2015. Kebakaran hutan menyebabkan nilai radiasi hambur meningkat hingga mencapai nilai tertinggi sebesar 33,8 MJ/m2/hari diikuti dengan penurunan radiasi global dibanding rata-ratanya. Kandungan partikulat berupa PM 10 dan Aerosol Optical Depth yang tinggi pada periode September hingga pertengahan November 2015 memperkuat adanya intensitas kabut asap yang tinggi di Jambi. Kabut asap juga berdampak terhadap kemampuan tanaman kelapa sawit untuk menyerap CO2 dari atmosfer. Batas fotosintesis yang masih dapat dilakukan tanaman kelapa sawit saat tertutupi oleh kabut asap adalah pada fraksi difus 0,55. Fraksi difus lebih dari 0,55 menunjukkan berkurangnya kemampuan kelapa sawit dalam menyerap CO2 dan mengakibatkan penurunan NEE. Kondisi ini menyebabkan tingginya konsentrasi CO2 di atmosfer
Pengujian Preferensi Pakan dan Rodentisida terhadap Cecurut Rumah (Suncus murinus L.).
Cecurut rumah merupakan jenis mamalia kecil yang keberadaannya sebagai hama permukiman perlu diwaspadai. Cecurut rumah menimbulkan gangguan kenyamanan karena memiliki perilaku defekasi sehingga fesesnya dapat mengotori rumah. Hewan ini juga dapat berperan dalam penyebaran penyakit menular pada manusia. Pada umumnya pengelolaan cecurut rumah belum banyak dilakukan. Informasi mengenai jenis umpan yang paling disukai dan jenis rodentisida yang efektif sebagai acuan dalam pengendalian cecurut rumah belum banyak diketahui. Pengendalian kimia menggunakan rodentisida cukup efektif, efisien, dan tidak membutuhkan waktu yang lama. Penelitian bertujuan mengetahui preferensi pakan cecurut rumah yang dapat digunakan sebagai umpan dalam pemerangkapan maupun umpan beracun dan menguji jenis rodentisida yang efektif dalam pengendalian cecurut rumah. Jenis pakan yang digunakan adalah nasi, beras, roti tawar, ulat hongkong, jangkrik, naget ayam, bakso ikan, dan ikan asin. Metode pilihan (choice test) digunakan dengan menyajikan delapan jenis pakan dalam satu kandang selama tujuh hari berturut-turut. Kemudian, dipilih empat pakan yang paling disukai dan diuji selama tujuh hari berturut-turut. Racun akut seng fosfida dan racun kronis kumatetralil masing-masing dicampur dengan pakan yang paling disukai. Kemudian, disajikan bersama dengan pakan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jangkrik merupakan pakan yang paling disukai oleh cecurut rumah sehingga dapat digunakan sebagai umpan pemerangkapan maupun umpan beracun. Selain itu, pakan yang banyak dikonsumsi setelah jangkrik yaitu ulat hongkong, bakso ikan, dan nasi yang dapat digunakan sebagai pakan alternatif jika jangkrik sulit ditemukan. Rodentisida berbahan aktif seng fosfida lebih efektif dalam mematikan cecurut rumah dibandingkan kumatetralil.
Kata kunci: hama permukiman, pemilihan umpan, pengendalian kimia, racun akut dan kronis
Manajemen Pemupukan Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Tandun, PTPN V, Kabupaten Kampar, Riau
Kegiatan magang dilaksanakan di Kebun Tandun, PTPN V, Kabupaten Kampar, Riau selama tiga bulan mulai tanggal 20 Januari hingga 14 April 2020. Pengelolaan pemupukan sangat penting untuk diperhatikan agar pemupukan berjalan secara efektif. Pengamatan dilakukan berdasarkan kaidah pemupukan 5T (tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara, dan tepat tempat) dan produksi pada demplot percobaan Precipalm. Hasil pengamatan menunjukkan pengelolaan pemupukan di Kebun Tandun berdasarkan kaidah 5T sudah sesuai dengan standar perusahaan, kecuali pada waktu pemupukan Dolomit tidak sesuai dengan rencana. Persentase ketepatan jenis, dosis, tempat, dan cara pemupukan di Afdeling III Kebun Tandun lebih dari 85%. Pengamatan pada demplot percobaan Precipalm dilakukan dengan menghitung bobot produksi, jumlah tandan, bobot tandan rata-rata, dan efisiensi pemupukan. Bobot total tandan dan bobot tandan rata-rata pada kedua perlakuan sudah melebihi standar produksi, sedangkan jumlah tandan masih di bawah standar produksi dari PPKS. Efisiensi pemupukan pada perlakuan precipalm sebesar 32.97% dan perlakuan kontrol sebesar 28.57%