31665 research outputs found
Sort by
Uji Patogenisitas dan Pengendalian Cendawan Terbawa Benih Bawang Merah (Allium cepa var. aggregatum).
Bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) adalah salah satu komoditas
rempah-rempah unggulan Indonesia. Penggunaan benih botani dalam budidaya
bawang merah yang disebut true shallot seed (TSS) saat ini sedang
dikembangkan. Keuntungan TSS yaitu dapat meningkatkan produktivitas
tanaman, tetapi TSS juga memiliki kelemahan, yaitu adanya cendawan terbawa
benih bersifat patogenik. Hot water treatment, aplikasi PGPR, dan Trichoderma
harzianum dilaporkan dapat mengurangi infeksi cendawan terbawa benih.
Penelitian ini bertujuan mengetahui patogenisitas cendawan terbawa TSS pada
skala rumah kaca dan pengaruh hot water treatment, aplikasi PGPR, dan T.
harzianum untuk mengendalikannya. Ada empat varietas benih yang digunakan
yaitu Bauji, Bima, Brebes, dan Tuk tuk. Penelitian ini dibagi menjadi dua bagian,
uji patogenisitas cendawan dan perlakuan benih, berupa hot water treatment,
aplikasi PGPR, dan T. harzianum, dilanjutkan dengan evaluasi keefektifan
masing-masing perlakuan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa Aspergillus
terreus, Fusarium moniliforme, Fusarium semitectum, dan Penicillium sp. bersifat
patogenik terhadap benih bawang merah dan mengurangi persentase
perkecambahan benih pada semua varietas. Hot water treatment dengan suhu 47
°C selama 60 menit dengan perendaman awal pada 37 °C selama 10 menit dapat
mengurangi tingkat infeksi cendawan terbawa benih, tetapi menurunkan
perkecambahan benih. T. harzianum dengan kerapatan konidia 106 dapat
menurunkan tingkat infeksi cendawan terbawa benih, tetapi menurunkan
perkecambahan benih. Aplikasi PGPR dapat mengurangi tingkat infeksi cendawan
terbawa benih dan meningkatkan perkecambahan benih pada semua varietas
Kandungan Fitokimia dan Aktivitas Antibakteri Jus Silase Berbasis Daun Herbal Tropis
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan dan mengevaluasi jus silase berbasis daun herbal tropis dalam melawan bakteri patogen berdasarkan kandungan fitokimia dan antioksidan.. Daun yang digunakan adalah daruju (Acanthus ilicifolius Linn.), kenikir (Cosmos caudatus), insulin (Smallanthus sonchifolius), kupu-kupu (Bauhinia purpurea), mangkokan (Polyscias scutellaria), hanjuang (Cordyline terminalis) dan waru (Hibiscus tileaceus) yang dikombinasikan dengan tanaman jagung (50:50 dalam BK) dan difermentasi dalam waktu yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif untuk uji fitokimia kuantitatif, kualitatif, uji total bakteri asam laktat dan aktivitas antioksidan, rancangan acak lengkap faktorial untuk uji aktivitas antimikroba. Variabel yang diamati dibagi menjadi dua fase, yaitu fase pertama adalah uji kualitatif fitokimia dan total bakteri asam laktat, serta karakteristik fisik dan tahap kedua adalah kandungan antioksidan dan uji penghambatan. Fase pertama digunakan untuk menentukan daun tropis terbaik dan diuji dalam fase kedua.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan fitokimia jus silase terbaik adalah kombinasi tanaman jagung dengan daun hanjuang, diikuti oleh daun insulin, mangkokan, daruju, kenikir, kupu-kupu dan waru. Total bakteri asam laktat, jus silase terbaik adalah kombinasi tanaman jagung dikombinasi dengan kenikir diikuti oleh kupu-kupu, hanjuang, daruju, insulin, waru, mangkokan. Sehingga tiga daun herbal tropis terbaik berdasarkan metode weighted product adalah hanjuang, daruju dan insulin. Periode ensilase membuat kandungan fitokimia jus silase berubah dan meningkatkan aktivitas antioksidan. Uji antibakteri menunjukkan bahwa jus silase berbasis daun hanjuang adalah yang terbaik dalam proses ensilase 10 hari. Tidak ada interaksi antara periode ensilase dan jenis daun herbal tropis. Disimpulkan bahwa kandungan fitokimia dan antioksidan dipengaruhi oleh perlakuan fermentasi dan jus silase berbasis hanjuang dengan 10 hari ensilase dengan total fenol, flavonoid, tanin dan antioksidan masing-masing 0,28 ml l-1, 995,48 mg l-1, 0,1 ml l-1 dan 764,1 ppm
Identifikasi Genus Python menggunakan Gen Cyt β sebagai Marka Spesifik.
Pengembangan teknik identifikasi tingkat genus pada produk asal hewan
dapat menjamin keaslian produk dan melindungi konsumen dari pemalsuan.
Polymerase Chain Reaction adalah teknik genetika molekuler yang terjadi secara
in vitro yang memungkinkan sintesis enzimatik dalam jumlah besar dari wilayah
DNA yang ditargetkan secara eksponensial. Penelitian ini bertujuan melakukan
pembuktian spesies ular menggunakan marka spesifik berbasis gen cytochrome β
(Cyt β). Sumber DNA yang digunakan dalam penelitian ini berupa sampel darah
dan daging yang berasal dari Python reticulatus, Ahaetulla prasina, Gallus gallus,
Ovis aries, Capra hircus, Bos indicus, dan Bubalus bubalis. Perancangan primer
menggunakan software MEGA 7 dan ekstraksi dilakukan dengan metode fenol
kloroform. Primer python hasil rancangan terbukti spesifik dengan
teramplifikasinya DNA python sepanjang 195 pb dan tidak teramplifikasinya
DNA Ahaetulla prasina, Gallus gallus, Ovis aries, Capra hircus, Bos indicus, dan
Bubalus bubalis. Hierarki taksonomi python dan ahaetulla sudah dapat dibedakan
sampai pada tingkat genus dengan menggunakan primer hasil rancangan berbasis
gen cytochrome β
Fasilitasi Perdagangan dan Ekspor Manufaktur Unggulan Indonesia ke RCEP
Manufaktur adalah salah satu produk ekspor yang memiliki peran sangat
penting bagi perekonomian Indonesia. Namun perkembangan nilai ekspor
manufaktur Indonesia ke RCEP selama periode 2012-2016 mengalami penurunan.
Di samping itu, fasilitasi perdagangan telah menjadi perhatian berbagai negara dan
berperan peran penting dalam meningkatkan efisiensi perdagangan. Tujuan
penelitian ini untuk menganalisis ekspor manufaktur unggulan Indonesia dan
menganalisis dampak fasilitasi perdagangan terhadap ekspor manufaktur unggulan
Indonesia ke RCEP. Data yang digunakan adalah data sekunder periode 2012-2016
dengan metode analisis Revealed Comparative Advantage (RCA), Export Product
Dynamic (EPD) dan gavity model. Hasil analisis menunjukkan ekspor manufaktur
unggulan Indonesia ke RCEP adalah kayu, barang dari kayu dan anyaman. PDB
RCEP, Populasi RCEP, Burden of Customs Procedures (BOCP) RCEP, e-business
RCEP dan dummy contiguity memiliki pengaruh positif dan signifikan, sedangkan
jarak, nilai tukar dan Service Sector Infrastructure (SSI) RCEP berpengaruh negatif
dan signifikan terhadap ekspor kayu, barang dari kayu dan anyaman Indonesia
Respons Rajungan (Portunus pelagicus, Linnaeus 1758) Terhadap Warna Cahaya yang Berbeda
Portunus pelagicus Linnaeus 1758 merupakan salah satu spesies dari kelas krustase, masyarakat biasanya menyebut rajungan. Nelayan dapat menangkap rajungan dengan menggunakan bubu (trap) atau jaring rajungan (bottom gillnet). Kelemahan dari bubu adalah performa umpan yang semakin menurun seiring dengan lamanya perendaman, sedangkan kelemahan pada jaring rajungan adalah masih dioperasikan secara trasidional oleh nelayan atau belum terdapat sentuhan teknologi alat bantu pada alat tangkap tersebut.
Penggunaan teknologi lampu berkembang bukan hanya untuk spesies pelagis, juga turut menyebar pada spesies demersal, seperti krustasea. Penelitian respons rajungan terhadap cahaya berbeda belum pernah dilakukan di Indonesia. Pendekatan penelitian yang dilakukan secara tingkah laku dan histologi yang didalamnya membahas mengenai pola dan laju respons merupakan bagian dari tingkah laku sebagai dasar dalam pengembangan penangkapan rajungan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pola respons rajungan terhadap cahaya berbeda, menentukan laju respons rajungan terhadap warna LED berbeda dan menganalisis struktur mata rajungan terhadap warna LED berbeda diantaranya warna ungu, biru, hijau, oranye, merah dan putih serta menganalisis mata rajungan berdasar histologi mata.
Pengamatan pola dan laju respons serta adaptasi fisiologis mata rajungan dilakukan di laboratorium. Adaptasi fisiologis retina mata rajungan ditentukan berdasarkan perpindahan screening pigment dari hasil histologi mata. Software surfer analysis digunakan untuk menentukan sebaran cahaya pada bak perlakuan, pola dan laju diketahui dari garis bantu pengamatan yang dibuat di dasar bak dengan ukuran 10x10 cm serta CCTV sebagai alat perekam uji.
Pola rajungan terhadap cahaya berbeda terbagi menjadi dua kategori, yaitu menuju cahaya secara langsung dan tidak secara langsung. Laju rajungan tercepat mendekat menuju lampu pada warna biru sebesar 0.081 m/s dan terlama pada warna merah 0.026 m/s. Laju tercepat dapat disarankan sebagai alat bantu bottom gillnet dan pada laju terlama dapat digunakan pada alat tangkap bubu. Meskipun demikian, lampu warna merah juga dapat juga digunakan pada bottom gillnet sebagai upaya peningkatan hasil tangkapan
Suplementasi Chitosan Oligosaccharide (COS) dan L-arginine terhadap Performa, Profil Darah, dan Ekspresi Gen TLR4 pada Ayam Broiler.
Antibiotic growth promotor (AGP) telah dilarang penggunaannya untuk peternakan unggas mulai Januari 2018. Kebijakan ini dapat mempengaruhi status kesehatan dan produktivitas hewan ternak di negara-negara beriklim tropis termasuk Indonesia. Alternatif pengganti AGP sangat diperlukan untuk menjaga dan meningkatkan status kesehatan hewan ternak. Studi tentang suplementasi Chitosan Oligosaccharide (COS) dan L-arginine dilakukan untuk mengevaluasi performa, profil darah, dan ekspresi gen TLR4 pada ayam broiler.
Total 300 DOC ayam broiler Lohmann dengan berat badan rata-rata awal 46 ± 0.7 g, secara acak ditempatkan ke dalam 5 perlakuan dan 6 ulangan (10 ekor per ulangan) dan dipelihara selama 35 hari. Pakan perlakuan yang diberikan adalah basal diet (BD) tanpa suplemen (P0), BD + AGP (Zinc Bacitracine 200 mg kg-1) (P1), BD + COS 100 mg kg-1 (P2), BD + L-arginine sampai 1,9% (P3), BD + COS mg kg-1 + L-arginine sampai 1,9% (P4).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi COS dan L-arginine serta kombinasinya meningkatkan konsumsi pakan, bobot badan, pertambahan bobot badan dan menurunkan feed conversion ratio (FCR) pada fase starter (P0.05) terhadap profil darah ayam broiler. Suplementasi COS mampu menekan level ekspresi mRNA TLR4 dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Suplementasi COS menghasilkan Indeks performa tertinggi dan income over feed and chick cost (IOFCC) sebanding dengan perlakuan yang diberi AGP.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah suplementasi COS dan L-arginine serta kombinasinya dapat meningkatkan performa ayam broiler dan tidak berpengaruh terhadap profil darah ayam broiler. Suplementasi COS mampu menekan level ekspresi mRNA TLR4 dan menghasilkan indeks performa dan IOFC yang setara dengan perlakuan AGP
Persepsi Masyarakat terhadap Pengelolaan Sungai Cikapundung Berbasis Waterfront Landscape
Dahulu, orientasi pembangunan di daerah sungai menghadap ke badan sungai
(waterfront), namun kini menjadi membelakangi badan sungai, seperti yang terjadi di
Sungai Cikapundung. Pengelolaan berbasis waterfront landscape diperlukan untuk
keberlanjutan Sungai Cikapundung. Analisis persepsi dilakukan untuk menilai tingkat
pemahanan dan sikap masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar Sungai
Cikapundung terhadap pengelolaan sungai berbasis waterfront landscape. Di samping
itu, analisis penerapan pengelolaan Sungai Cikapundung berbasis waterfront
landscape dilakukan untuk menyusun rekomendasi pengelolaan. Masyarakat di
Bandung Raya masih memiliki pengetahuan yang rendah mengenai pengelolaan
Sungai Cikapundung berbasis waterfront landscape, sedangkan sikap masyarakat
tergolong tinggi (84,17%), dan mayoritas responden (70,55%) menyatakan penerapan
waterfront landscape yang ada tergolong sedang. Hasil analisis menunjukkan bahwa
persentase pengetahuan 120 responden berdasarkan kategori rendah, sedang, dan
tinggi, adalah 65,83%, 28,33%, dan 5,83%. Berbeda dengan pengetahuan, sikap
masyarakat yang tinggi menjadi salah satu faktor kekuatan internal yang dapat
dimanfaatkan oleh pemerintah dalam pengelolaan Sungai Cikapundung berbasis
waterfront landscape. Pengetahuan dan sikap masyarakat dipengaurhi oleh beberapa
faktor. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan yakni pendidikan, latar belakang
ekonomi, dan karakteristik permukiman, sedangkan faktor yang mempengaruhi sikap
yakni usia dan jenis kelamin. Setelah dilakukan analisis persepsi, disusun rekomendasi
pengelolaan melalui analisis SWOT. Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa
pengelolaan Sungai Cikapundung berbasis waterfront landscape berada pada kuadran
II yang berarti diversifikasi strategi. Matriks SWOT yang disusun menghasilkan tujuh
alternatif strategi
Profil Sel Leukosit Kucing Terinfeksi Skabies yang Diberi Asam Boswellik (Boswellia serrata).
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau dan hidup di jaringan kulit. Ternak dan hewan kesayangan di Indonesia jika terkena tungau Sarcoptidae dan Psoroptidae dapat menyebabkan terjadinya skabies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sel leukosit pada kucing yang terinfeksi skabies dan diberi cream Boswellia serrata. Penelitian ini menggunakan lima ekor kucing domestik (Felis catus) yang menderita skabies yaitu adanya infestasi tungau Sarcoptes scabiei pada kulit. Kucing diberi terapi dengan cream Boswellia serrata. Pemberian cream dilakukan dengan dua kali pengolesan setiap hari. Kucing diambil darahnya pada vena cephalica antebrachii setiap lima hari sekali selama 3 kali untuk pembuatan preparat ulas darah untuk pengamatan sel leukosit. Kucing skabies memperlihatkan gambaran leukogram berupa kondisi leukositosis, neutrofilia, dan eosinofillia. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa profil leukosit pada kucing yang terinfeksi scabies setelah diberi asam Boswellik selama 15 hari menunjukan perbaikan profil leukosit pada nilai total leukosit, neutrofil, dan eosinophil serta memperlihatkan persembuhan luka pada kucing skabies. Hasil ini menggambarkan asam Boswellik memiliki potensi dan dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif untuk kasus skabies yang bersifat zoonotik
Eksplorasi dan Potensi Cendawan Dark Septate Endophyte Sebagai Agens Biokontrol Fusarium oxysporum Penyebab Penyakit Layu Tanaman Tomat.
Penelitian mengenai dark septate endophyte (DSE) di Indonesia masih terbatas, baik terkait dengan keanekaragaman, fungsi maupun perannya secara ekologi dalam mendukung produksi tanaman. DSE salah satu kelompok cendawan endofit yang mampu mengolonisasi akar tanpa menyebabkan gejala penyakit. Karakteristik DSE ditandai dengan adanya pigmentasi gelap pada media agar, memiliki hifa gelap bersepta, memiliki konidia atau hifa steril, dan membentuk mikrosklerotia di dalam jaringan akar. Potensi DSE diketahui mampu meningkatkan performa tanaman, menekan penyakit dan cekaman abiotik seperti gersang, dan asam. Layu fusarium pada tanaman tomat merupakan salah satu penyakit penting yang memengaruhi produksi tomat. Patogen layu fusarium tomat yaitu Fusarium oxysporum f.sp lycopersicii (Fol) mampu bertahan di tanah dalam waktu puluhan tahun.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengevaluasi potensi cendawan DSE asal tanaman tomat sebagai agens pengendali patogen Fol. Penelitian dilakukan dari bulan Desember 2017 sampai November 2018. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Nematologi, Mikologi Tumbuhan Departemen Proteksi Tanaman IPB dan Balai Penelitian Tanah BBSDLP Cimanggu Bogor. Pengambilan sampel diperoleh dari Goalpara-Sukabumi, Pacet-Cianjur, Cisurupan-Garut, Citapen-Bogor, dan Cisarua-Bogor. Tahapan Penelitian terdiri atas beberapa tahap yaitu (1) eksplorasi dan seleksi DSE; (2) evaluasi potensi DSE terhadap Fol; (3) deteksi senyawa metabolit DSE terpilih; (4) aplikasi DSE di rumah paranet untuk melihat pengaruh DSE dalam menekan perkembangan penyakit layu fusarium, pemacu pertumbuhan tomat dan respons fisiologi tomat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa DSE yang berhasil diisolasi dari perakaran tomat sebanyak 49 isolat. Isolat DSE yang berpotensi menghambat Fol dengan daya hambat tertinggi sebesar 76.11% dan 71.07% yaitu isolat DS08-Ic dan DS08-Ib. Potensi kedua isolat tersebut mampu mendegradasi senyawa karbon, nitrogen, fosfor, siderofor (mengkelat besi) dan aktivitas katalase. Terdapat senyawa metabolit berupa hexadecanoic acid dan linolenic acid yang bersifat antimikrobial. Pengaruh isolat DS08-Ic dan DS08-Ib dalam aplikasi rumah paranet mampu menekan perkembangan penyakit layu fusarium dan pemacu pertumbuhan tomat berupa panjang tajuk. Respons fisiologis juga ditunjukkan berupa adanya aktivitas peroksidase yang dihasilkan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kolonisasi DSE dan patogen memberikan respons tanaman sebagai bentuk ketahanan. Manfaat penelitian yaitu diperoleh informasi baru bahwa DSE dapat diisolasi dari perakaran tomat asal Indonesia. DSE yang diperoleh memiliki potensi yang dapat dikembangan sebagai agens biokontrol dan pemacu pertumbuhan
Integrasi Pasar dan Spillover Volatilitas Harga Minyak Nabati Dunia dan Dampaknya Terhadap Market Power Ekspor Minyak Sawit Indonesia
Minyak sawit, minyak kedelai, minyak rapeseed dan minyak bunga matahari
merupakan empat minyak utama yang diproduksi dan diperdagangkan di pasar
dunia minyak nabati. Isu penting dalam perdagangan minyak nabati adalah
bagaimana pasar minyak sawit sebagai produsen dan eksportir terbesar minyak
nabati merespon perubahan harga dunia minyak nabati lainnya ataupun sebaliknya.
Hal ini berdasarkan kondisi perdagangan dunia minyak nabati yang
memperlihatkan persaingan antar jenis minyak nabati sehingga pembentukan harga
dunia diduga memiliki keterkaitan antar minyak nabati. Dampak dari pasar minyak
nabati yang terintegrasi akan menyebabkan fluktuasi harga minyak nabati di tingkat
dunia akan ditransmisikan ke harga minyak sawit Indonesia. Upaya untuk
memahami transmisi harga antar minyak nabati dunia dan spillover volatilitas yang
terjadi menjadi penting seiring makin meningkatnya integrasi pasar minyak nabati.
Hal ini dilatarbelakangi transmisi harga yang tinggi belum tentu ditandai dengan
terjadinya volatilitas yang tinggi. Akan tetapi,volatilitas yang semakin meningkat
mengakibatkan munculnya risiko dan ketidakpastian harga di masa mendatang
menjadi semakin tinggi.
Berkembangnya pasar minyak sawit memunculkan indikasi hadirnya
keberadaan market power sehingga akan memengaruhi harga serta memunculkan
masalah asimetri dalam transmisi harga antara eksportir dan importir dan semakin
kompetitifnya persaingan di pasar minyak nabati dunia. Namun, dari sisi
permintaan sebagian besar negara importir utama minyak sawit juga merupakan
produsen minyak kedelai, minyak rapeseed dan minyak bunga matahari yang
menjadi kompetitor minyak sawit serta memiliki market power untuk mengatur
impor baik dalam kualitas dan kuantitas dengan membuat instrumen yang dapat
melemahkan permintaan minyak sawit.
Secara khusus penelitian ini bertujuan (1) menganalisis dinamika integrasi
pasar dan transmisi harga asimetris di pasar minyak nabati dunia; (2) menganalisis
transmisi harga eksportir dan importir pasar minyak sawit dunia; (3) menganalisis
dinamika transmisi asimetris harga minyak sawit dan tandan buah segar (TBS) di
pasar domestik; (4) menganalisis keterkaitan pasar minyak nabati dunia dengan
pasar energi; (5) menganalisis persistensi volatilitas minyak nabati dan spillover
guncangan faktor fundamental terhadap volatilitas harga minyak nabati dunia; (6)
menganalisis market power ekspor minyak sawit di pasar dunia
Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini menggunakan data time series
bulanan Januari 2004-Juni 2017. Analisis data mencakup Threshold Vector Error
Corection (TVECM), Non linear Autoregressive Distributed Lag (NARDL) dan
Vector Autoregression Model nonlinear GARCH (Generalized Autoregressive
Conditional Heteroscedasticity ) seperti EGARCH, TGARCH, GJR-GARCH, dan
APARCH serta Generalized Impulse Response Function (GIRF) dan Forecast
Error Variance Decomposition(FEVD)serta Regresi Intrumental dengan Two
Stage Least Square (2SLS)
Hasil yang dicapai untuk tujuan pertama menunjukkan dalam jangka panjang
harga minyak nabati akan lebih cepat merespon untuk melakukan penyesuaian
terhadap penyimpangan positif (kenaikan) yang relatif besar dari nilai threshold
menuju keseimbangan pasar. Hasil ini mengindikasikan dalam jangka panjang
harga sawit Malaysia leader terhadap harga minyak sawit Indonesia, minyak
kedelai dan minyak bunga matahari. Kekuatan pasar minyak sawit hanya pada
penurunan harga dalam jangka panjang. Sebaliknya besarnya kekuatan harga
minyak kedelai dan minyak rapeseed dalam peningkatan harga minyak nabati
lainnya. Hasil tujuan kedua menunjukkan kuatnya pengaruh pasar importir terhadap
pasar ekspor Indonesia dan Malaysia. Namun ada peluang untuk ekspor Indonesia
dan Malaysia mengembangkan kekuatan pasar ekspor di China dan India. Hasil
tujuan ketiga menunjukkan harga minyak sawit domestik dan tandan buah segar
sangat dipengaruhi harga ekspor dan perkembangan harga pasar Malaysia dan
Rotterdam. Hasil ini membuktikan masih lemahnya kemampuan Indonesia dalam
menetapkan harga dan masih mengacu pada harga internasional.
Selanjutnya, hasil tujuan keempat menunjukkan terdapat kointegrasi jangka
panjang antara harga minyak bumi dan minyak nabati dan menemukan dampak
asimetris jangka panjang terhadap perubahan harga minyak sawit malaysia dan
minyak bunga matahari. Dalam kaitannya dengan pasar biodiesel ditemukan dalam
jangka panjang respon simetris harga biodiesel terhadap perubahan harga minyak
sawit, inti sawit, kedelai, kelapa dan harga minyak bumi. Respon asimetris harga
biodiesel hanya ditemukan pada perubahan harga minyak rapeseed dengan
intensitas respon kenaikan lebih besar dibandingkan penurunan.
Hasil tujuan kelima menunjukkan efek guncangan berita persisten dan
terdapat asimetris di pasar minyak nabati kecuali untuk minyak kedelai. Persistensi
dan leverage effect terbukti untuk kelompok minyak sawit, minyak bunga matahari,
minyak inti sawit dan minyak kelapa yang merespon lebih besar guncangan bad
news dalam meningkatkan volatilitas sedangkan inverse leverage effect merespon
lebih besar guncangan good news terhadap peningkatan volatilitas return harga
minyak rapeseed. Dalam kaitannya dengan spillover volatilitas ditemukan
hubungan dua arah dan efek positif dalam jangka panjang. Faktor fundamental
seperti peningkatan stok, produksi dan ekspor berkontribusi kecil dalam
menjelaskan volatilitas harga minyak nabati. Namun, untuk peningkatan produksi
minyak kedelai berkontribusi cukup besar pada volatilitas harga minyak sawit
Indonesia. Dalam jangka panjang, pertumbuhan GDP berkontribusi besar dalam
menjelaskan volatilitas harga minyak nabati. Sedangkan kontribusi aktivitas
spekulan minyak kedelai maupun minyak sawit dapat menjelaskan volatilitas
minyak nabati dari mulai dari periode kedua dan terus meningkat sampai akhir
periode, namun besaran kontribusi aktivitas spekulan dalam pasar minyak sawit
masih kecil. Hasil penelitian bagian terakhir menunjukkan Indonesia dan Malaysia
merupakan pasar yang saling bersaing di pasar importir utama minyak sawit.
Indonesia dan Malaysia memiliki sedikit market power atas ekspor minyak sawit
untuk tujuan India, China, Pakistan, dan Amerika Serikat. Namun, ekspor minyak
sawit secara keseluruhan tidak memiliki market power di pasar Uni Eropa