31665 research outputs found
Sort by
Desain Kebun Percobaan untuk Pengujian Alat Berat Pertanian di Kawasan Industri, Kabupaten Bekasi.
Kebun Percobaan merupakan area yang dibutuhkan oleh suatu perusahaan dalam menguji kualitas produk yang dihasilkan, terutama produk yang berkaitan dengan bidang pertanian dan pertanahan seperti produk alat berat yang diproduksi oleh PT. Komatsu Indonesia. Kebun percobaan ini dibangun untuk menunjang PT. Komatsu Indonesia dalam mengembangkan produk baru yang dihasilkan oleh perusahaan. Kebun percobaan ini dibagi menjadi empat area utama, yaitu area pertanian, area perkebunan, area pertambangan, dan area rekreasi. Dalam pengembangannya diperlukan konsep yang matang sehingga kebun percobaan yang dihasilkan dapat berkelanjutan dan dapat meningkatkan nilai kawasan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis potensi dan kendala serta merancang area kebun percobaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yang dibagi dalam 6 tahap, yaitu commission, research, analysis and syntesis, konsep, constructional drawing, dan penyusunan laporan (Simon 2006). Konsep dari kebun percobaan ini adalah menciptakan kebun percobaan yang sesuai dengan kondisi nyata di lapangan sehingga dalam pengujian alat berat dapat mewakili kondisi asli di lapangan. Luaran dari penelitian ini meliputi desain kebun percobaan yang dituangkan dalam gambar site plan dan gambar pendukung seperti potongan, perspektif, detail desain, dan ilustrasi
Keterlibatan pencarian informasi, persepsi nilai komplain, dan niat komplain lansia terhadap layanan kesehatan
Adanya ketidakpuasan terhadap suatu pelayanan kesehatan, seperti klinik, puskesmas, dan rumah sakit dapat menimbulkan perilaku komplain pada seorang konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh ketelibatan pencarian informasi, persepsi nilai komplain dan niat komplain lansia. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Perolehan data pada kuesioner dilakukan dengan cara wawancara tatap muka secara langsung dengan responden. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2019 hingga Agustus 2019, dengan lokasi penelitian terletak di Jakarta. Teknik pengambilan contoh dalam penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling dengan cara purposive sampling. Contoh pada penelitian ini berjumlah 200 yang didasarkan pada konsumen yang berusia 60 tahun keatas dengan kriteria menggunakan layanan kesehatan dalam 6 bulan terakhir dan dapat berkomunikasi dengan baik. Analisis data menggunakan metode SEM dengan menggunakan software Analisis of Moment Structure (AMOS) dan Statistical Product and Servicer Solution (SPSS). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi nilai komplain berpengaruh positif signifikan terhadap niat komplain lansia terhadap layanan kesehatan, sedangkan keterlibatan pencarian informasi tidak berpengaruh signifikan terhadap niat komplain
Karakteristik Papan Partikel Bambu Sembilang dengan Perendaman NaOH Menggunakan Perekat Fenol Formaldehida
Papan partikel merupakan salah satu produk panel yang terbuat dari bahan
berlignoselulosa kayu atau bukan kayu berbentuk partikel, selanjutnya direkat
menggunakan perekat kemudian dikempa panas. Penelitian ini bertujuan
menganalisis pengaruh kadar perekat dan perendaman NaOH 5% terhadap sifat
fisis dan mekanis papan partikel bambu sembilang. Papan partikel dibuat dengan
menggunakan perekat fenol formaldehida sebesar 6%, 8% dan 10%, kemudian
partikel direndam larutan NaOH 5% selama 0.5, 1 dan 2 jam. Karakteristik papan
partikel diuji secara fisis dan mekanis berdasarkan standar JIS A 5908:2003. Hasil
penelitian menunjukkan kadar air 9.13-11.47%, daya serap air 43.13-93.12%,
pengembangan tebal 17.69-44.10%, MOE 749-2400 N/mm2, MOR 11-28
N/mm2, keteguhan rekat 0.17-1.07 N/mm2, dan kuat pegang sekrup 170-561 N.
Hasil uji fisis dan mekanis papan partikel menunjukkan bahwa papan partikel
dengan perekat 10% dan perendaman NaOH 5% selama 2 jam memiliki sifat
paling baik
Dampak Program Pemberdayaan Dompet Dhuafa Terhadap Pengurangan Kemiskinan Petani (Studi Kasus: Kawasan Agrowisata Indonesia Berdaya Dompet Dhuafa Kecamatan Cijambe Subang).
Kemiskinan dan ketimpangan masih menjadi permasalahan yang terjadi di Indonesia, khususnya jika membandingkan antara kondisi di kota dan di desa. Sebagai solusi atas permasalahan ini, zakat dan wakaf merupakan instrumen pengentasan kemiskinan dan ketimpangan dalam ekonomi Islam. Akan tetapi, realisasi penghimpunan zakat dan wakaf yang belum efisien serta model pengelolaan dan pendistribusian yang masih tradisional serta belum produktif menjadi dua penyebab utama belum optimalnya peran kedua intrumen ini dalam mengatasi permasalahan sosial ekonomi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak program pemberdayaan zakat dan wakaf produktif Dompet Dhuafa sebagai pengurang kemiskinan terhadap 30 rumah tangga petani nanas sebagai penerima manfaat) atas program pemberdayaan Kawasan Agrowisata Indonesia Berdaya (IB) di Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang. Pengambilan dan penentuan jumlah sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dan sensus. Sedangkan alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini di antaranya Indeks Kemiskinan, Average Time Taken to Exit Poverty, CIBEST Model, Uji-T Dua Sampel Berpasangan dan Modifikasi IPM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pemberdayaan Dompet Dhuafa mampu mengurangi jumlah rumah tangga miskin, kedalaman dan keparahan kemiskinan. Selain itu, program pemberdayaan yang dilakukan Dompet Dhuafa juga mampu mengurangi persentase rumah tangga miskin baik secara material maupun spiritual serta mengurangi waktu rata-rata yang dibutuhkan oleh rumah tangga petani untuk keluar dari kemiskinan
Analisis Temporal Tingkat Kekeringan Lahan Kedelai Menggunakan Vegetation Health Index (Studi Kasus: Kabupaten Banyuwangi)
Kekeringan adalah kejadian dimana kurangnya ketersediaan air pada suatu daerah yang tidak cukup memenuhi kebutuhan air. Kekeringan dapat menggangu sistem pertanian di Indonesia. Kekeringan pertanian dianalisis berdasarkan 3 parameter, yaitu curah hujan, kondisi vegetasi, dan kelembaban tanah Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui indeks kekeringan lahan perkebunan kedelai serta menganalisis hubungan antara kekeringan lahan dengan produktivitas kedelai di Kabupaten Banyuwangi. Data yang digunakan adalah data LST dan EVI yang kemudian akan diolah menjadi data VCI serta TCI. Selanjutnya data VCI dan TCI diolah untuk mendapatkan nilai VHI. Nilai VHI dihitung sehingga didapatkan luas kekeringan lahan yang kemudian dianalisis keterkaitannya dengan tingkat produksi kedelai di Kabupaten Banyuwangi. Hasil menunjukkan kekeringan pertanian di Kabupaten Banyuwangi dimulai dari bulan Agustus dan mengalami puncak pada bulan Oktober kemudian menurun pada bulan Desember. Tahun 2015 merupakan tahun El Niño yang menunjukkan luas, tingkat serta durasi kekeringan yang lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Hal ini menyebabkan produksi kedelai di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2015 cenderung lebih sedikit dibanding dengan tahun lainnya
Pengaruh Aplikasi Bahan Amelioran Tanah dan MycoSilvi Terhadap Pertumbuhan Jabon (Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq.) pada Media Bekas Tambang Pasir Silika
Aktivitas pertambangan yang dilakukan secara terbuka meninggalkan masalah
terhadap lingkungan, khususnya menurunkan kesuburan tanah. Penggunaan bahan
amelioran tanah dan MycoSilvi pada media tanah bekas tambang diharapkan
mampu memperbaiki pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
respons pertumbuhan tanaman jabon pada media tanah bekas tambang pasir
silika yang diberi MycoSilvi, kompos, dan kapur. Rancangan penelitian yang digunakan
adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 3 faktor, yaitu
pemberian MycoSilvi, kompos, dan kapur. Hasil penelitian menunjukkan pemberian
MycoSilvi, kapur, dan kompos berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan,
biomassa, dan kolonisasi mikoriza pada tanaman jabon. Kombinasi perlakuan
terbaik bagi pertumbuhan semai jabon di media bekas tambang pasir silika adalah
kombinasi MycoSilvi Tipe 3 dengan kapur 7.2 g (C0K1M3). Semai jabon memiliki
ketergantungan mikoriza yang tinggi pada perlakuan MycoSilvi tipe 3 yaitu
kombinasi yang terdiri dari Glomus mosseae dan Gigaspora margarita
Efektivitas Dana Desa terhadap Pengentasan Kemiskinan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Dana Desa merupakan wujud pemenuhan hak-hak desa guna
menyelenggarakan otonominya agar tumbuh dan berkembang mengikuti
pertumbuhan dari desa itu sendiri. Program ini merupakan bagian dari Nawacita
pemerintah Jokowi dalam rangka mengurangi kesenjangan yang terjadi antara
perkotaan dan perdesaan dengan membangun daerah tertinggal dan kawasankawasan
perdesaan. Adanya Undang-Undang No.6 Tahun 2014 (UU Desa) yang
merupakan payung hukum dari Dana Desa diharapkan mampu mengurangi
kesenjangan yang terjadi. UU Desa ini mengamanatkan agar pemerintah desa untuk
lebih mandiri dalam mengelola pemerintahan dan berbagai sumberdaya alam yang
dimiliki, termasuk di dalamnya pengelolaan keuangan dan kekayaan milik desa.
Kabupaten Lebak merupakan salah satu kabupaten yang masuk ke dalam 122
kabupaten tertinggal di Indonesia. Persentase jumlah penduduk miskin di
kabupaten ini masih tergolong tinggi. Angka kemiskinan di Kabupaten Lebak
masih berada di bawah kabupaten/ kota dan Provinsi Banten. Dalam rangka
pengentasan kemiskinan, pemerintah telah mengeluarkan anggaran melalui
program Dana Desa. Penerimaan Dana Desa di Kabupaten Lebak dari tahun 2015-
2018 terus mengalami peningkatan dari 95 milyar rupiah menjadi 238 milyar
rupiah. Adanya Dana Desa ini diharapkan mampu meningkatkan pelayanan publik
di desa, pengentasan kemiskinan, memajukan perekonomian desa, mengatasi
kesenjangan pembangunan antar desa serta memperkuat masyarakat desa sebagai
subjek dari pembangunan. Dalam pelaksanaannya, penggunaan Dana Desa masih
dirasakan belum efektif dan masih belum diketahui dampaknya terhadap
pengentasan kemiskinan.
Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengidentifikasi
sebaran spasial persentase penduduk miskin seluruh desa di Kabupaten Lebak; (2)
Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kemiskinan di Kabupaten Lebak; (3)
Menganalisis efektivitas pengelolaan Dana Desa di Kabupaten Lebak; (4)
Menganalisis pengaruh implementasi penggunaan Dana Desa terhadap kemiskinan;
(5) Menyusun arahan kebijakan pengentasan kemiskinan di Kabupaten Lebak.
Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis indeks
Moran, regresi linier berganda, rasio efektivitas dan Geographically Weigthed
Regression (GWR).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola sebaran spasial penduduk miskin
di Kabupaten Lebak bersifat mengelompok (clustered) yang dipetakan ke dalam
empat kategori wilayah yakni kuadran I, desa yang memiliki persentase penduduk
miskin tinggi dan dikelilingi oleh desa dengan persentase penduduk miskin yang
tinggi juga (H-H) terdapat 17 desa; kuadran II, desa yang memiliki persentase
penduduk miskin rendah dan dikelilingi oleh desa dengan persentase penduduk
miskin yang tinggi (L-H) terdapat 13 desa; kuadran III, desa yang memiliki
persentase penduduk miskin rendah dan dikelilingi oleh desa dengan persentase
penduduk miskin yang rendah juga (L-L) terdapat 36 desa; dan kuadran IV, desa
yang memiliki persentase penduduk miskin tinggi dan dikelilingi oleh desa dengan
iii
persentase penduduk miskin yang rendah (H-L) terdapat 2 desa. Tingkat
kemiskinan di Kabupaten Lebak dipengaruhi oleh faktor jumlah penduduk, luas
desa, luas sawah, jumlah keluarga pengguna listrik PLN, jarak terdekat menuju
jenjang pendidikan SMA Negeri, jarak terdekat menuju RS Bersalin, jarak terdekat
menuju Polindes, Indeks Fasilitas Pendidikan, Indeks Fasilitas Kesehatan, jumlah
toko/ warung kelontong serta jumlah penginapan. Pengelolaan Dana Desa di 340
desa Kabupaten Lebak dapat dikatakan sudah efektif dengan rasio efektivitas 90-
100 persen. Hanya 3 desa yang berada pada kategori Cukup Efektif yaitu Desa
Malingping Selatan dan Desa Rahong dari Kecamatan Malingping, serta Desa
Parungsari dari Kecamatan Wanasalam.
Hasil analisis GWR untuk pengaruh Dana Desa terhadap kemiskinan
menunjukkan bahwa Dana Desa memberikan pengaruh yang beragam pada setiap
lokasi amatan. Dana Desa bidang pembangunan tidak berpengaruh terhadap
penurunan kemiskinan. Hal ini dapat terjadi karena penggunaan Dana Desa
berfokus pada pembenahan dan pembangunan infrastruktur desa sehingga
dampaknya baru bisa dirasakan lima hingga sepuluh tahun mendatang. Dana Desa
bidang penyelenggaraan pemerintahan desa memberikan pengaruh terhadap
pengurangan tingkat kemiskinan di seluruh desa yang ada di Kabupaten Lebak
dengan nilai koefisien yang beragam. Dana Desa bidang pemberdayaan masyarakat
desa mampu menurunkan tingkat kemiskinan pada desa-desa yang berada di bagian
Tengah-Selatan Kabupaten Lebak, sementara desa-desa yang berada pada bagian
Tengah-Utara Kabupaten Lebak, Dana Desa belum efektif dalam menurunkan
tingkat kemiskinan, hal ini terjadi karena program pemberdayaan masyarakat lebih
ditekankan pada kegiatan yang bersifat pertanian, sementara wilayah bagian
Tengah-Utara Kabupaten Lebak merupakan pusat pemerintahan dan ekonomi
dimana masyarakatnya lebih banyak bekerja pada sektor industri. Dana Desa
bidang pembinaan kemasyarakatan desa efektif dalam mengurangi tingkat
kemiskinan di hampir seluruh desa di Kabupaten Lebak, hanya ada beberapa desa
di Kecamatan Warunggunung yang tidak efektif dalam menurunkan tingkat
kemiskinan, hal ini disebabkan beberapa desa tersebut tidak/ sedikit dalam
mengalokasikan Dana Desanya untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Pemanfaatan Dana Desa sebaiknya memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh
secara lokal terhadap pengentasan kemiskinan. Adanya heterogenitas karakteristik
setiap wilayah amatan dan pengaruh yang berbeda dari faktor-faktor kemiskinan
menunjukkan bahwa pendekatan program kemiskinan harus bervariasi sesuai
dengan kekhasan masing-masing wilayah
Potensi Sumberdaya Bulu Babi dengan Pendekatan Spasial untuk Pengelolaan di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
Bulu babi merupakan biota laut yang banyak ditemukan di ekosistem
terumbu karang dan lamun dan sangat umum dijumpai di perairan dangkal Pulau
Pramuka. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis potensi ekologi dan
sebaran spasial sumberdaya bulu babi dengan kaitannya dengan faktor fisik
lingkungan untuk pengelolaan yang kelanjutan di Pulau Pramuka. Hasil
menunjukkan bahwa bulu babi yang banyak ditemukan di Pulau Pramuka
merupakan jenis dari Diadema setosum yang hidup berkoloni di bagian barat dan
timur Pulau Pramuka dengan kepadatan rata-rata total yaitu sebesar 20 individu/m2.
Tipologi habitat bulu babi terdiri dari pecahan karang, pasir kasar, pasir sedang, dan
pasir halus. Terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk melakukan
pengelolaan bulu babi yang berkelanjutan, yaitu (1) merancang usulan desain
kawasan perlindungan dan pemanfaatan bulu babi, (2) melaksanakan sosialisasi
tentang pengelolaan bulu babi, (3) melaksanakan monitoring secara berkala
terhadap sumberdaya bulu babi, (4) menyusun program penelitian dengan objek
kaji utama bulu babi
Sifat Fisik, Kimia dan Biologis Ransum Mengandung Indigofera zollingeriana yang Diberi Enzim NSP
Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi pegaruh pemberian ransum
yang mengandung Indigofera zollingeriana dengan penambahan enzim NSP pada
pakan ayam broiler terhadap nilai Energi Metabolis (EM) serta mengetahui sifat
fisik dan kimia pakan yang diberikan. Ternak yang digunakan adalah ayam broiler
yang berumur 5 minggu sebanyak 20 ekor. Penelitian ini menggunakan
Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dua puluh ekor ternak dibagi ke dalam 3
perlakuan dan 5 ulangan. Setiap ulangan terdiri dari 1 ekor ayam. Perlakuan yang
diberikan pada penelitian ini adalah R0 = Ransum mengandung 20% bungkil
kedelai, R1 = Ransum mengandung 8% bungkil kedelai dan tepung pucuk
Indigofera zollingeriana 19.10%; R2 = Ransum R1+Enzim NSP. Data yang
diperoleh dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan uji lanjut
Duncan menggunakan program SPSS. Hasil pengukuran kerapatan tumpukan,
kerapatan pemadatan tumpukan, konsumsi, energi metabolis dan retensi nitrogen
pada ransum R1 dan R2 menunjukan bahwa ransum R0 nyata (p<0.05) lebih
tinggi dibandingkan ransum R1 dan R2. Penambahan Indigofera zollingeriana
pada ransum dapat menurunkan nilai sifat fisik (kerapatan tumpukan serta
kerapatan pemadatan tumpukan), kimia (protein kasar) dan biologis (energi
metabolis serta retensi nitrogen). Penambahan enzim NSP pada ransum dapat
meningkatkan nilai biologis (energi metabolis serta retensi nitrogen)
Peningkatan Keefektifan Larutan Umbi Tepung Teki dengan Penambahan Surfaktan dalam Menekan Perkecambahan Biji Tumbuhan
Hasil-hasil penelitian sebelum ini menyatakan bahwa larutan umbi tepung
teki berpotensi sebagai bioherbisida pratumbuh untuk mengendalikan gulma
berdaun lebar. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat konsentrasi larutan
tepung umbi teki yang efektif, mencari informasi jenis surfaktan yang efektif
digunakan untuk campuran larutan tepung umbi teki dalam menghambat
perkecambahan, dan mengetahui interaksi antara larutan umbi teki dengan
penambahan surfaktan terhadap perkecambahan biji tumbuhan. Percobaan ini
dilakukan pada bulan Februari – April 2019 dilakukan di Green House Kebun
Percobaan Cikabayan IPB. Peneliti menggunakan rancangan acak lengkap (RAL)
dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu perlakuan Surfaktan yang
terdiri dari ���������0 (Tidak memakai surfaktan), ���������1 (Tween 80), ���������2 (TEA), dan ���������3
(NP10) pada konsentrasi 2%. Faktor kedua yaitu perlakuan konsentrasi larutan
antara lain ���������0 (kontrol), ���������1 (45 g l−1), ���������2 (90 g l−1) dan ���������3 (135 g l−1). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa larutan umbi tepung teki berpengaruh nyata
terhadap beberapa parameter perkecambahan. Selain menekan persentase benih
yang berkecambah, larutan umbi tepung teki dapat menghambat kecepatan tumbuh
dan meningkatkan persentase kecambah abnormal. Untuk diimplementasikan di
media tanah, konsentrasi yang digunakan masih linier, belum efektif menekan
perkecambahan biji tumbuhan. Pada penelitian ini jenis surfaktan yang digunakan
tidak dapat meningkatkan keefektifan larutan umbi tepung teki sebagai
bioherbisida, Tween 80 lebih baik dibandingkan dengan dua jenis lainnya.
Tumbuhan berdaun lebar selada dan Asystasia gangetica lebih peka terhadap
perlakuan umbi tepung teki dibandingkan dengan padi