Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Faktor-faktor yang memengaruhi keputusan petani bawang merah di Kabupaten Brebes menjual secara tebasan dan non tebasan

    No full text
    Bawang merah merupakan salah satu komoditas holtikultura unggulan di Indonesia. Beberapa tahun terakhir produksi bawang merah digiatkan untuk mencapai swasembada bawang merah. Kabupaten Brebes merupakan salah satu daerah penghasil bawang merah utama di Indonesia. Petani bawang merah di Kabupaten Brebes biasara menjual bawang merahnya secara tebasan. Penjualan secara tebasan adalah saah satu metode penjualan dimana perjanjian penjualan dilakukan sebelum panen bawang merah, sehingga aktivitas panen diakukan oleh pembeli. Penjualan dengan cara ini seringkali membuat petani rugi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang memengaruhi keputusan petani bawang merah menjual secara tebasan dan non tebasan. Faktor yang dianalisis diambil dari karakteristik petani, usahatani dan penjualan yang dilakukan. Analisis deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi ada tidaknya pola penjualan (tebasan dan non tebasan) pada tiap karakteristik. Kemudian dilakukan analisis quantitatif untuk mengetahui faktor mana yang secara signifikan memengaruhi keputusan penjualan petani. Hasil dari metode ini menunjukkan bahwa jarak antara lahan tanam dengan pusat kota brebes, produksi dan volume penjualan memengaruhi keputusan penjualan petani

    Pengembangan Back-end pada Aplikasi Control Monitoring Perkebunan Inagrow.

    No full text
    Perkebunan merupakan komoditas yang memiliki potensi besar dalam meningkatkan perekonomian. Namun, hasil perkebunan masih kurang optimal dikarenakan proses pengawasan perkebunan saat ini masih dilakukan secara konvensional. Hal ini menyebabkan kurang transparannya proses pelaporan perkebunan oleh farm manager kepada pemilik lahan. Aplikasi Control Monitoring Perkebunan Inagrow merupakan sistem yang akan memudahkan proses pengawasan lahan perkebunan dan diskusi dengan ahli praktisi. Pengembangan aplikasi ini terbagi menjadi 2 bagian yaitu aplikasi front-end dan aplikasi back-end. Penelitian ini fokus pada bagian back-end REST-API yang dikembangkan dengan framework Laravel dan basis data MySQL. Metode penelitian yang digunakan adalah prototyping dengan dua iterasi. Tahap communication menghasilkan proses bisnis serta user story. Tahap quick plan menghasilkan usecase diagram dengan total 15 usecase. Tahap modelling quick design menghasilkan class diagram dengan total 9 class. Tahap construction of prototype menghasilkan aplikasi back-end dengan total 28 REST API. Tahap terakhir yaitu deployment, delivery, feedback, hasilnya adalah aplikasi back-end telah berhasil di deploy kedalam server dengan domain inacrop.com dan telah diuji coba pada iterasi satu dan dua oleh tim pengembang front-end menggunakan metode black box dan sudah berjalan sesuai dengan kebutuhan tim pengembang front-en

    Analisis Kesempurnaan Pengeluaran Darah Paha Broiler Berbasis Kolorimetri dengan Pengolahan Citra Digital.

    No full text
    Meningkatnya minat konsumen terhadap daging ayam menyebabkan para pedagang bersaing untuk memperoleh keuntungan yang besar. Banyak diantara mereka yang dengan sengaja menjual daging ayam bangkai agar mendapatkan keuntungan lebih. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menentukan hewan yang mati sebelum disembelih adalah melalui pengukuran kadar darah dalam daging menggunakan pengolahan citra dengan aplikasi ImageJ. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi citra scanner dan mobile camera menggunakan ImageJ yang dibandingkan dengan spektrofotometer untuk mengukur konsentrasi darah berbasis kolorimetri pada daging ayam broiler. Ekstrak sampel daging yang direaksikan dengan Malachite Green dan H2O2 dianalisis menggunakan spektrofotometer, scanner dan mobile camera. Konsentrasi darah pada daging ayam yang disembelih disertai penggantungan, tanpa penggantungan dan bangkai 8 jam memiliki perbedaan yang nyata (P0.05) baik diukur dengan spektrofotometer, scanner dan mobile camera. Koefisien korelasi absorbansi larutan standar spektrofotometer dengan pengolahan citra scanner dan mobile camera bernilai 0.98 dan 0.97. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa citra scanner dan mobile camera dapat digunakan untuk menganalisis kesempurnaan pengeluaran darah pada daging ayam

    Perbandingan Model InceptionV2 dan MobileNet pada CNN untuk Implementasi Algoritme SSD dalam Pencarian Korban Longsor.

    No full text
    Longsor merupakan salah satu ancaman utama bencana alam yang terjadi di Indonesia dan diperlukan penanganan yang cepat dalam pencarian korban untuk mengurangi jumlah korban yang meninggal. Penelitian ini mengimplementasikan algoritme single shot multibox detector (SSD) pada Android untuk pencarian korban yang terjebak longsor dengan quadcopter. Selain itu, penelitian ini juga membandingkan model convolutional neural network inceptionV2 dan MobileNet. Set data gambar yang berisi objek manusia kemudian dilatih menggunakan algoritme SSD untuk setiap model konvolusi yang kemudian digunakan sebagai model pendeteksi objek untuk program Android yang dikembangkan. Hasil simulasi pengujian menunjukkan model MobileNet memiliki akurasi pendeteksian 92.72% dan mampu menginferensikan objek dalam waktu ± 150 ms. Sementara model inceptionV2 memiliki akurasi 85.93% dengan kecepatan inferensi objek dalam waktu ± 300 ms. Berdasarkan hasil pengujian tersebut, implementasi algoritme SSD pada Android untuk pencarian korban pascabencana longsor dengan model MobileNet menunjukkan kemampuan yang lebih baik dari segi perangkat dengan kemampuan komputasi terbatas

    Keragaan Hasil serta Interaksi Genotipe dan Lingkungan pada Ketahanan terhadap Penyakit Karat Daun Galur-galur Harapan Sorgum IPB

    No full text
    Target pengembangan varietas sorgum adalah produktivitas tinggi. Sejak tahun 2018, selain produktivitas tinggi, ketahanan terhadap penyakit karat daun telah menjadi salah satu syarat pelepasan varietas. Calon varietas harus memiliki sifat minimal agak tahan hingga tahan terhadap penyakit karat daun yang disebabkan oleh cendawan Puccinia purpurea. Oleh karena itu, identifikasi ketahanan penyakit karat daun sangat penting dalam program pemuliaan sorgum. Penelitian pada gandum melaporkan bahwa keparahan penyakit karat daun dipengaruhi oleh interaksi genetik dan lingkungan (G × E). Galur yang sama memiliki respon ketahanan yang berbeda di lingkungan yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi G × E tidak dapat diabaikan karena dapat menyebabkan kekeliruan dalam memberikan rekomendasi varietas. Penelitian ini melaporkan keragaan hasil galur-galur harapan sorgum, pengaruh interaksi G × E terhadap ketahanan penyakit karat daun pada galur-galur harapan sorgum IPB di dua lingkungan yang berbeda dan korelasi tingkat ketahanan dengan produktivitas. Percobaan pertama yaitu keragaan agronomi galur-galur harapan sorgum IPB. Genotipe memiliki pengaruh yang nyata terhadap karakter tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, panjang malai, bobot malai, bobot biji/malai, bobot 1000 biji, bobot malai ubinan, bobot biji ubinan, umur berbunga, umur panen, periode pengisian biji, dan produktivitas. Ideotipe sorgum yang diinginkan yaitu memiliki bobot biji/malai yang tinggi, produktivitas yang tinggi, tinggi tanaman minimal setara atau mirip dengan varietas nasional Numbu, dan memiliki biji berwarna terang (kuning atau putih keabuan). Hasil penelitian ini berhasil mengidentifikasi dua galur yang memenuhi ideotipe tersebut, yaitu N/UP-4-3 dan N/UP-118-3. Percobaan kedua yaitu interaksi G × E ketahanan penyakit karat daun galurgalur harapan sorgum IPB di dua lingkungan. Hasil analisis ragam gabungan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata dari interaksi G × E terhadap keparahan penyakit karat daun galur-galur sorgum yang diuji. Pengaruh interaksi G × E yang menyebabkan perubahan respon ketahanan penyakit antar lingkungan uji. Terjadi penurunan persentasi keparahan penyakit karat daun di Bogor, sehingga galur-galur sorgum yang diuji di Bogor menunjukkan respon yang lebih tahan dibandingkan di Maros. Varietas Kawali dan galur N/UP-159-9 menunjukkan respon yang tetap pada kedua lingkungan tersebut. Galur-galur sorgum hasil pemuliaan IPB memiliki respon sangat rentan, rentan, dan moderat terhadap penyakit karat daun. Galur N/UP-139-5, N/UP-48-2, dan N/UP-89-3 ditemukan moderat di lingkungan uji Bogor

    Pengembangan Dehidrasi Bioetanol dengan Adsorben Karbon aktif Bambu Petung (Dendrocalamus asper).

    No full text
    Bambu telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia dan dipergunakan dalam kehidupan keseharian berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Bambu merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan memiliki beberapa potensi sebagai bahan bangunan, kerajinan, dan bahan industri seperti pulp, arang dan karbon aktif. Bambu petung merupakan salah satu jenis bambu yang cukup banyak terdapat di wilayah Indonesia. Bambu petung memiliki kemampuan tumbuh yang cukup cepat dimana bambu dapat dipanen dengan waktu berkisar 3-4 tahun. Komposisi kimia bambu meliputi selulosa, lignin, pentosan, abu dan silika. Berdasarkan komposisi kimia yang dimiliki tersebut, bambu memiliki kriteria sebagai bahan dasar dalam pembuatan karbon aktif yang mudah didapat di wilayah Indonesia. Beberapa penelitian karbon aktif berbahan dasar dari bambu telah dilakukan salah satunya adalah pembuatan karbon aktif dari bambu dengan activating agent H3PO4 menghasilkan luas permukaan rata-rata 2123 m2/g. Bambu petung memiliki karakteristik yang unik, diantaranya yaitu pada proses karbonisasi pada suhu 500oC, karakter karbon dari bambu petung sudah homogen dan nilai kalor tertinggi yang dihasilkan pada bambu petung dengan atmosfer argon pada temperatur 500oC adalah 10924 Cal/g. Luas permukaan yang cukup besar yang diperoleh ini memperlihatkan bahwa bambu sangat baik sebagai bahan baku karbon aktif. Pemanfaatan karbon yang terbuat dari bambu telah banyak digunakan sebagai agen remediasi tanah dan adsorben logam berat untuk meningkatkan kinerja adsorpsi. Pengembangan teknologi karbonasi perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas karbon dan industri produk bambu di Indonesia. Kualitas karbon yang baik menentukan kualitas karbon aktif yang dihasilkan. Salah satu fungsi karbon aktif adalah sebagai adsorben pada dehidrasi etanol. Selain karbon aktif, adsorben lain yang biasa digunakan pada dehidrasi etanol adalah zeolit alam, zeolit sintetis 4A dan membran silika. Dehidrasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara kimia dan fisika. Dehidrasi yang dilakukan secara kimia kurang efisien dibandingkan secara fisika sehingga pengembangan teknik dehidrasi secara fisika berkembang dengan pesat. Beberapa penelitian tentang dehidrasi khususnya dehidrasi etanol sudah banyak dilakukan; antara lain adalah pemisahan campuran etanol air dengan membran silika pada pervaporasi. Pemisahan etanol air juga dikembangkan dengan bahan karbon aktif dan alumina aktif pada kondisi non polar dimana kondisi ini dianggap paling efektif untuk pemisahan etanol air. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu meliputi : (1) proses pembuatan karbon aktif bambu petung, (2) menganalisis karakteristik karbon aktif bambu petung dan (3) dehidrasi etanol pada kolom adsorben menggunakan karbon aktif bambu petung sebagai adsorben. Tahap pertama bertujuan untuk memodifikasi metode aktivasi fisik pembuatan karbon aktif dengan bambu petung. Bambu yang digunakan dalam penelitian ini adalah bambu yang sudah kering dengan ukuran sisi 1 cm dengan kadar air rata-rata 9.96%. Tahapan pembuatan karbon aktif bambu petung dilakukan dua tahap yaitu tahap pertama proses karbonasi dan tahap kedua proses aktivasi. Hal ini dilakukan untuk memperoleh karbon aktif yang lebih baik (Pari et al. 1996). Proses karbonasi dilakukan pada suhu 300oC selama 3 jam dengan tujuan menghilangkan zat-zat volatile yang terdapat pada bambu dan meningkatkan pembentukan karbon. Proses pencucian dilakukan untuk memisahkan karbon yang dihasilkan dengan abu pada proses karbonasi. Karbon bambu yang diperoleh setelah pemisahan dilakukan pengecilan ukuran dengan cara ditumbuk dan diayak dengan ukuran 80 mesh (bubuk kasar) dan 200 mesh (bubuk halus). Proses aktivasi dilakukan pada alat atmospheric fixed bed reactor dengan menambahkan activating agent H2O. Proses aktivasi dilakukan pada suhu 600oC dalam tabung reaktor dengan mengalirkan gas nitrogen dengan tujuan untuk membantu membersihkan pori karbon aktif dan membantu mengurangi unsur oksigen kompleks pada permukaan karbon dalam proses aktivasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengurangan massa karbon bambu petung setelah proses karbonasi mencapai 69.91%. Pengurangan massa karbon setelah proses aktivasi dengan ukuran karbon 80 mesh dan 200 mesh masing-masing adalah 27.97% dan 53.73%. Bulk density kedua sampel adalah 0.323 g/cm3 dan 0.328 g/cm3. Kesimpulan penelitian ini yaitu karbon bambu petung setelah dilakukan proses aktivasi mengalami pengurangan massa akibat masih adanya zat volatile yang mengalami penguapan yang terdapat pada karbon bambu petung. Penelitian kedua dilakukan untuk menganalisis karakteristik fisik karbon aktif bambu petung dengan ukuran 80 mesh dan 200 mesh. Pengukuran struktur pori karbon aktif bambu petung dilakukan dengan menggunakan alat scanning electron microscopy (SEM) sedangkan luas permukaan karbon aktif diukur dengan bilangan iodin. Khusus karbon aktif ukuran 200 mesh yang dipeletkan, perhitungan luas permukaan karbon aktif diukur dengan metode BET dan Langmuir pada alat micromeritic. Hasil penelitian diperoleh kandungan unsur C pada ukuran 80 dan 200 mesh masing-masing adalah 86.11% dan 95.40% dengan luas permukaan masing-masing adalah 1516.34±84.38 m2/g dan 1954.95±184.97 m2/g. Diameter pori karbon aktif dengan ukuran 80 mesh berkisar 1-10.9 μm dan 200 mesh berkisar 1- 7.5 μm. Luas permukaan karbon aktif bambu petung yang dipeletkan kembali memiliki luas permukaan sebesar 217.738 m2/g. Kesimpulan pada tahap ini adalah ukuran pori karbon aktif memiliki luas permukaan yang cukup tinggi pada ukuran 80 dan 200 mesh. Luas permukaan dan kandungan unsur C pada karbon direkomendasikan sebagai adsorben pada dehidrasi etanol. Penelitian tahap ketiga dilakukan untuk pengembangan dehidrasi etanol pada kolom adsorpsi untuk memperoleh konsentrasi etanol yang memenuhi syarat sebagai bahan baku energi terbarukan. Karbon aktif yang digunakan sebagai adsorben adalah karbon aktif dengan ukuran 80 dan 200 mesh. Pada tahap ini persiapan apparatus uji untuk dehidrasi etanol dibuat dari kaca kuarsa dimana pada kolom kondensasi dilengkapi pompa airasi untuk menjaga suhu kolom berkisar 28-30oC dengan tujuan mempercepat proses kondensasi etanol menuju tangki penampung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi etanol yang diperoleh pada dehidrasi etanol menggunakan adsorben dengan ukuran 80 dan 200 mesh masing-masing adalah 98.32% dan 99.65%. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan luas permukaan karbon aktif kedua sampel mempengaruhi hasil konsentrasi etanol yang diperoleh. Kapasitas adsorpsi karbon aktif bambu petung dengan ukuran 80 mesh dan 200 mesh masing masing adalah 0.08 g/g dan 0.12 g/g dengan efisiensi adsorpsi 58% dan 91.25%. Kesimpulan pada penelitian ini adalah vi karbon aktif bambu petung dengan ukuran 200 mesh mampu memurnikan etanol sampai 99.65% dan memenuhi persyaratan sebagai bahan baku energi terbarukan yang dapat menggantikan bahan bakar minyak khususnya bensin. Secara keseluruhan penelitian ini menunjukkan bahwa karbon aktif bambu petung dengan proses aktivasi menggunakan activating agent H2O mampu mendapatkan luas permukaan karbon aktif yang cukup tinggi dengan kandungan unsur C sampai 95.40%. Karbon aktif dengan kondisi seperti ini sangat baik sebagai adsorben pada dehidrasi etanol. Hal ini ditunjukkan dengan tercapainya konsentrasi etanol di atas 99.5% sebagai syarat minimum bioetanol sebagai bahan baku energi terbarukan

    Analisis Model Stokastik SIS-SI dengan Menggunakan CTMC pada Penyebaran Penyakit Malaria

    No full text
    Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang memiliki dampak ekonomi, sosial, dan kesehatan terutama di negara-negara yang beriklim tropis. Penyakit malaria disebabkan oleh parasit protozoa dari genus Plasmodium: Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae, Plasmodium ovale, dan Plasmodium vivax. Plasmodium falciparum adalah yang paling sering menjadi penyebab umum infeksi di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Plasmodium tersebut bertanggung jawab untuk sekitar 80% dari semua kasus malaria dan sekitar 90% kematian. Parasit tersebut membutuhkan dua penghuni untuk menyelesaikan siklus hidupnya yaitu vektor nyamuk Anopheles betina dan manusia (Mandal et al. 2011). Model matematika untuk transmisi malaria pertama kali diperkenalkan oleh Ross (1916) yang memodelkan penyebaran penyakit malaria dengan menggunakan persamaan diferensial deterministik dengan membagi populasi manusia menjadi ... ds

    Pengaruh Sharia Conformity, Modal Finansial dan Modal Sosial terhadap Efisiensi Bank Syariah di Indonesia

    No full text
    Efisiensi masih menjadi isu penting dan menarik pada negara berkembang terutama sejak terjadinya krisis keuangan di tahun 1997. Efisiensi dapat dipengaruhi berbagai faktor. Ditinjau dari aspek conformity, bank syariah memiliki prinsip syariah yang harus dipenuhi dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat terhadap bank. Sharia conformity merupakan pembeda antara bank syariah dengan bank konvensional. Semakin conform bank terhadap prinsip syariah dapat mendorong semakin banyak masyarakat yang memilih bank syariah sebagai lembaga keuangannya sehingga diduga semakin conform bank syariah terhadap prinsip syariah maka semakin tinggi pula tingkat efisiensi yang dapat dicapai. Selain adanya sharia conformity, faktor lainnya yang diduga dapat mempengaruhi efisiensi bank syariah yaitu modal. Bordieu (1983) membagi modal menjadi tiga bentuk yaitu modal ekonomi atau modal finansial, modal sosial dan modal kultural. Berkaitan dengan modal ekonomi atau modal finansial, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator memiliki ketentuan BUKU dimana bank syariah akan dikelompokkan menjadi BUKU 1,2,3,4 sesuai dengan jumlah modal inti tiap bank. Penggolongan BUKU selain menunjukkan seberapa besar jumlah modal inti yang dimiliki tiap BUS juga menunjukkan seberapa luas cakupan usaha tiap bank. Data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) terkait dengan pengelompokkan BUKU menunjukkan bahwa bank umum syariah dimulai dari terbitnya ketentuan tersebut tahun 2012 hingga tahun 2017 masih mendominasi pada kelompok BUKU 1 dan 2 dan hanya terdapat 1 bank yang mampu terklasifikasi naik peringkat menjadi BUKU 3 di tahun 2016 dan bertahan hingga 2017. Pergerakan BUKU bank dengan merujuk pada data SPI menunjukkan pergerakan yang lambat sehingga diduga dibutuhkan adanya bentuk modal lainnya yang dapat dikembangkan guna mendorong perluasan cakupan usaha bank yang pada akhirnya diharapkan mampu meningkatkan efisiensi bank. Modal sosial dapat dijadikan alternatif bentuk modal lainnya mengingat bank syariah juga memiliki fungsi sebagai lembaga sosial selain sebagai lembaga keuangan. Penelitian ini menggunakan metode DEA untuk memproleh skor efisiensi tiap bank tiap triwulannya dimulai tahun 2012 hingga 2017. Kemudian setalah diperoleh skor tersebut, metode selanjutnya yang digunakan adalah structural equation modelling untuk menjawab hipotesis penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa syariah conformity merupakan pendorong tercapainya efisiensi intermediasi secara langsung. Hasil lainnya terkait dengan modal menunjukkan bahwa modal finansial mendorong terciptanya efisiensi teknis untuk kemudian bersama-sama mewujudkna efisiensi intermediasi sedangkan untuk modal sosial ditemukan tidak memiliki pengaruh terhadap efisiensi baik efisiensi teknis maupun intermediasi. Tidak berpengaruhnya modal sosial diduga karena masih rendahnya tingkat modal sosila pada masyarakat Indonesia. Namun demikian, pengaruh modal sosial terhadap efisiensi masih memerlukan penelitian lebih lanjut

    Pengaruh Bauran Promosi dan Destinasi Wisata terhadap Keputusan Berkunjung pada Wisata Taman Nasional Baluran

    No full text
    Taman Nasional Baluran merupakan salah satu wisata yang menarik untuk dikunjungi wisatawan nusantara maupun mancanegara yang terletak di Situbondo Jawa Timur. Sebuah promosi sangat dibutuhkan untuk memperkenalkan objek wisata yang ada agar mampu menjadi ikon wisata di daerah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bauran promosi dan destinasi wisata terhadap keputusan berkunjung pada wisata Taman Nasional Baluran. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik non probabilistik dengan metode purposive sampling dengan kriteria wisatawan yang pernah mengujungi wisata Taman Nasional Baluran dalam kurun waktu 2 tahun. Data primer diperoleh melalui wawancara dan kuesioner sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur yang relevan. Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan metode Structural Equation Modeling (SEM) dengan pendekatan Partial Least Square (PLS). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa periklanan dan promosi penjualan pada bauran promosi berpengaruh positif secara signifikan terhadap keputusan berkunjung sedangkan seluruh variabel pada destinasi wisata tidak berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan berkunjung

    Analisis Deteksi dan Identifikasi Kecurangan pada Skema Modifikasi (k,n) Mignotte.

    No full text
    Skema pembagian rahasia (secret sharing scheme) adalah salah satu metode untuk memecah kunci rahasia menjadi beberapa bagian. Hal ini dilakukan untuk menjaga keamanan pada kunci kriptografik. Skema threshold ...ds

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇