31665 research outputs found
Sort by
Pengetahuan dan Praktik Gizi Seimbang Siswa Sekolah Dasar pada Akhir dan Setelah Progas Di Kabupaten Cianjur
Masalah gizi merupakan masalah yang rentan pada anak usia sekolah. Pemerintah telah melakukan upaya untuk mencegah masalah gizi khususnya stunting dengan membiasakan anak sekolah sarapan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengetahuan dan praktik gizi seimbang, serta konsumsi pangan setelah PROGAS (Program Gizi Anak Sekolah) pada siswa Sekolah Dasar kelas 5 dan 6 di Kabupaten Cianjur. Penelitian menggunakan desain studi case series seminggu pada akhir November dan seminggu pada awal Desember 2018 di SDN Pamoyanan di Kabupaten Cianjur. Subjek yang digunakan adalah 22 siswa kelas 5 dan 20 siswa kelas 6. Hasil uji beda menunjukkan tidak terdapat perbedaan nyata (p>0.05) pada pengetahuan gizi subjek pada akhir dan setelah PROGAS. Tingkat kecukupan energi dan protein subjek pada akhir dan setelah PROGAS tidak berbeda nyata (p0.05) pada akhir dan setelah PROGAS. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan praktik gizi seimbang (p>0.05) terkait pilar gizi seimbang, pesan gizi seimbang, dan pangan sumber zat gizi. Praktik gizi seimbang, tingkat pendidikan ayah, tingkat pendidikan ibu, dan tingkat pendapatan orang tua juga tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi IMT/U (p>0.05) pada akhir dan setelah PROGAS. Hubungan tidak signifikan (p>0.05) juga ditunjukkan oleh variabel tingkat pendidikan ayah, pendidikan ibu, dan pendapatan orang tua dengan status gizi TB/U pada akhir, dan setelah PROGAS
Analisis Kebijakan Gizi Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam Upaya Penanganan Masalah Gizi
Masalah gizi saat ini masih menjadi masalah masyarakat yang menghambat
pembangunan manusia di seluruh dunia. Provinsi NTT merumuskan kebijakan gizi
sebagai upaya mendukung pembangunan manusia dalam menyelesaikan maslaah
gizi yang ada. Penyelenggaraan kebijakan gizi perlu didukung oleh perencanaan
dan implementasi yang baik agar masalah gizi yang dihadapi oleh masyarakat dapat
ditangani dengan baik oleh instansi terkait. Tujuan penelitian ini adalah: (1)
menganalisis sinkronisasi kebijakan gizi daerah Provinsi NTT terhadap kebijakan
gizi nasional; (2) menganalisis proses perumusan kebijakan gizi Pemerintah Daerah
Provinsi NTT dalam upaya penanganan masalah gizi; (3) menganalisis
implementasi kebijakan gizi Pemerintah Daerah Provinsi NTT dalam upaya
penanganan masalah gizi; (4) menganalisis hasil pencapaian kebijakan gizi
Pemerintah Daerah Provinsi NTT dalam upaya penanganan masalah gizi.
Penelitian ini merupakan penelitian kebijakan dengan desain observasional
deskriptif menggunakan data primer dan sekunder yang dilaksanakan di Dinas
Kesehatan Provinsi NTT dan puskesmas terpilih dari 2 kabupaten, yaitu Kabupaten
Manggarai dan Sikka. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam
dan studi dokumen, sebagai bentuk triangulasi untuk menjaga keabsahan data yang
diperoleh. Informan kunci berasal dari Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Badan
Perencanaan dan Pembangunan Daerah Provinsi NTT, Komisi V DPRD Provinsi
NTT, Inspektorat Daerah Provinsi NTT, Akademisi, Tenaga Kesehatan Puskesmas.
Data komitmen politik dan peluang pengembangan kebijakan gizi berupa hasil
skoring 1 bernilai positif dan 0 bernilai negatif, kemudian dikategorikan menjadi
komitmen politik baik dengan skor ≥15 dan peluang pengembangan kebijakan gizi
tinggi dengan skor ≥25. Analisis isi dilakukan terhadap dokumen kebijakan untuk
mengetahui kesinergian antara kebijakan daerah dengan kebijakan nasional, antara
penyelenggaraan program puskesmas, kabupaten dan provinsi. Analisis isi juga
dilakukan terhadap laporan, profil kesehatan dan artikel yang dipublikasi unutk
mengetahui isi dari topik-topik yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Analisis
kesenjangan antara target dan realisasi dari indikator evaluasi kebijakan dilakukan
untuk mengetahui pencapaian kebijakan gizi. Hasil analisis disajikan dalam bentuk
narasi, tabel, dan gambar.
Hasil penelitian menunjukkan gambaran situasi komitmen politik dan
peluang pengembangan kebijakan gizi di Provinsi NTT tinggi. Aspek komitmen
politik yang kurang adalah pada bagian alokasi anggaran yang masih rendah. Aliran
kebijakan pada peluang pengembangan kebijakan gizi dinilai masih rendah,
terutama pada kebijakan yang diusulkan yang belum layak diimplementasikan
akibat sumber daya yang masih kurang. Proses perumusan kebijakan gizi sudah
dilakukan sesuai dengan tahap-tahap yang diatur dalam Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 54 Tahun 2010. Kelemahan terdapat pada penetapan isu strategis,
yang mana analisis masalah dilakukan berdasarkan studi dokumen dan laporan
tanpa memperhatikan fakta permasalahan yang terjadi dalam masyarakat, sehingga
permasalahan yang benar-benar terjadi tidak menjadi perhatian pemerintah.
Implementasi kebijakan gizi dalam upaya penanganan masalah gizi dilakukan
oleh dinas kesehatan kabupaten dan puskesmas melalui program gizi. Analisis
sinkronisasi menunjukkan program yang diselenggarakan oleh Puskesmas Reo dan
Paga serta Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai dan Sikka sudah sesuai dengan
program yang dirancangkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi NTT. Kendala dalam
proses implementasi berupa keterbatasan dana dan kelemahan pada proses
perencanaan. Hasil pencapaian kebijakan gizi yang dilaksanakan oleh Provinsi
NTT menunjukkan sebanyak 3 indikator proses yang berhasil mencapai target dan
mengalami peningkatan realisasi dari tahun 2014 sampai 2016. Indikator tersebut
antara lain persentase penanganan balita gizi buruk, cakupan balita 6-59 bulan yang
mendapatkan vitamin A, dan jumlah rumah tangga berperilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS). Indikator hasil berupa prevalensi underweight pada balita
menunjukkan keberhasilan pencapaian target, namun angka prevalensi berfluktuasi
dari tahun 2015, meningkat kembali pada tahun 2016.
Hasil penelitian kebijakan gizi ini penting bagi Pemerintah Daerah Provinsi
NTT sebagai bahan informasi untuk lebih memperhatikan perencanaan kebijakan
gizi sesuai dengan permasalahan yang terjadi dalam masyarakat dan
mengalokasikan anggaran dan sumber daya lainnya yang sesuai dengan kebutuhan
daerah
Enkapsulasi Sel Punca Hematopoietik dengan Polimer Biokompatibel
Penyakit keganasan darah (blood malignancy) seperti leukemia, lymphoma,
dan myeloma merupakan jenis kanker yang menyumbang angka kematian cukup
besar di dunia. Hematopoietic stem cells transplantation (HSCT) adalah upaya
terakhir yang dapat dilakukan untuk meningkatkan tingkat kelangsungan hidup para
penderita penyakit keganasan darah. Pembatas utama dari HSCT adalah sulitnya
menemukan sumber donor Hematopoietic Stem Cells (HSC) yang mempunyai
kesesuaian Human Leukocyte Antigen (HLA) dengan resipien. Penelitian
multidisiplin dalam bidang stem cells dan tissue engineering perlu dilakukan untuk
mengoptimalkan HSCT. Penelitian ini memiliki tujuan untuk membuat prototipe
mikrokapsul berisi sel mononuklear dari bahan polimer biokompatibel seperti
alginat, menguji ketahanan mikrokapsul alginat di dalam medium kultur, serta
menguji toksisitas bahan polimer penyusun hidrogel terhadap sel di dalam maupun
di luar mikrokapsul. Visualisasi menggunakan propidium iodida membuktikan
bahwa sel mononuklear telah berhasil dienkapsulasi ke dalam mikrokapsul alginat.
Mikrokapsul alginat dapat bertahan di dalam medium kultur lebih dari 5 hari.
Indirect MTT assay menunjukkan bahwa medium yang direndam dengan
mikrokapsul alginat dapat menurunkan jumlah sel hidup dalam rentang 29-47%.
WST assay menunjukkan bahwa sel mononuklear masih hidup di dalam
mikrokapsul alginat
Penentuan Titik Transisi Kayu Juvenil ke Kayu Dewasa pada Kayu Ganitri (Elaeocarpus sphaericus Schum).
Ganitri (Elaeocarpus sphaericus Schum) merupakan salah satu jenis pohon cepat
tumbuh yang ditanam di hutan rakyat. Keunggulan pohon ini adalah waktu panen
yang singkat, memiliki diameter kayu yang besar, dan agak ringan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasi titik transisi kayu juvenil ke kayu dewasa pada
kayu ganitri (Elaeocarpus sphaericus Schum) umur 6 tahun yang berasal dari
Sukabumi. Sifat anatomi (panjang serat, tebal dinding sel, sudut mikrofibril
(MFA)), sifat fisis (kadar air, kerapatan, berat jenis) dan sifat mekanis (modulus of
elasticity (MOE), modulus of rupture (MOR) dan kekerasan) digunakan sebagai
parameter dalam menentukan titik transisi. Model regresi linier tersegmentasi
menggunakan PROC NLIN pada SAS digunakan untuk menentukan titik
transisinya. Panjang serat, tebal dinding sel, kerapatan, berat jenis, MOE, MOR dan
kekerasan meningkat dari arah empulur ke kulit. Berdasarkan model regresi linier
tersegmentasi menggunakan PROC NLIN pada SAS menunjukkan bahwa kayu
dewasa akan mulai terbentuk pada segmen ke-18 (berdasarkan panjang serat),
segmen ke-20 (berdasarkan tebal dinding sel) dan segmen ke-21 (berdasarkan
MFA). Dengan kata lain, proporsi kayu juvenil pada kayu ganitri umur 6 tahun
sebesar 100%. Panjang serat, tebal dinding sel dan MFA dapat digunakan sebagai
indikator penentuan titik transisi kayu juvenil ke kayu dewasa
Pengembangan Pedoman Keamanan Pangan untuk Siswa Sekolah Tingkat Menengah
Program keamanan pangan mandiri perlu diberikan kepada komunitas
sekolah sebagai bentuk pemberdayaan sumber daya manusia dalam menangani isu
keamanan pangan. Program keamanan pangan yang disusun harus dapat
dijalankan secara mandiri oleh sekolah dan dapat berintegrasi dengan sistem
kurikulum yang ada sehingga program dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keberadaan program keamanan pangan
di sekolah serta mengetahui respon pihak sekolah terhadap pedoman keamanan
pangan yang dikembangkan oleh Badan POM RI. Penelitian dilaksanakan dengan
cross sectional survey dengan menggunakan kuisioner dan wawancara untuk
mengonfirmasi jawaban responden. Survei dilaksanakan di 17 SLTP dan 16
SLTA di lima wilayah DKI Jakarta dengan responden mencakup kepala sekolah
dan guru pembina OSIS. Hasil survei menunjukkan program keamanan pangan
yang paling banyak dilaksanakan adalah program pelatihan keamanan pangan
kepada guru dan siswa, sedangkan program dengan frekuensi pelaksanaan paling
rendah adalah program pelatihan keamanan pangan kepada penjaja Pangan
Jajanan Anak Sekolah (PJAS). Pedoman kegiatan keamanan pangan yang disusun
berisi 8 program keamanan pangan yang dibagi menjadi 7 program untuk SLTA
dan 4 program untuk SLTP. Penyusunan pedoman keamanan pangan yang
mengacu pada kegiatan berbasis ekstrakurikuler diharapkan dapat berintegrasi
dengan kurikulum sekaligus mampu meningkatkan minat siswa. Survei minat
responden dalam melaksakanan program pada pedoman keamanan pangan
menunjukkan program pemilihan dan kampanye agent of change menjadi
program keamanan pangan dengan minat paling besar di SLTP dan SLTA.
Program dengan minat pelaksanaan paling rendah adalah penggunaan sarana
online untuk mengakses materi keamanan pangan di SLTP dan lomba pembuatan
film dokumenter di SLTA. Uji chi-square Pearson menunjukkan adanya
hubungan antara minat responden dalam melaksanakan program dengan
pembinaan keamanan pangan di SLTP dan SLTA. Keterbatasan waktu
pelaksanaan menjadi hambatan utama dalam pelaksanaan program penggunaan
sarana online untuk mengakses materi keamanan pangan di SLTP. Keterbatasan
sarana dan prasarana pendukung kegiatan menjadi hambatan utama pada program
lomba pembuatan film dokumenter di SLTA. Hasil uji penilaian responden
terhadap pedoman keamanan pangan menunjukkan komponen instruksi, bahasa,
serta tabel dan gambar pada pedoman dinilai mudah dipahami oleh mayoritas
responden. Keluhan pada istilah asing yang sulit dimengerti, penggunaan ilustrasi
yang minim warna, serta tabel yang tidak nyaman untuk dibaca menjadi poin
evaluasi bagi pedoman
Karakteristik Refined Carrageenan Hasil Hidrolisis Kappaphycus alvarezii menggunakan Kapang Endofit Laut dengan Pretreatment Panas.
Hidrolisis Kappaphycus alvarezii untuk menghasilkan karaginan secara
biologis dapat dilakukan menggunakan kapang laut EN, namun rendemen, derajat
putih dan kekuatan gel masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan
karakteristik refined carrageenan hasil hidrolisis biologis Kappaphycus alvarezii
segar dan kering dengan kapang EN dan RS 6A serta bantuan pretreatment panas.
Penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa tahap, yaitu kultivasi kapang EN dan
RS 6A, hidrolisis rumput laut K. alvarezii segar dan kering menggunakan kapang
dan analisis karakteristik karaginan. Perlakuan terbaik dalam menghasilkan
karaginan pada penelitian ini adalah RK20 (K. alvarezii kering dihidrolisis dengan
kapang RS 6A, pemanasan 20 menit). Rendemen yang dihasilkan sebesar 71.28%,
persentase hidrolisis selulosa 90.18%, dan persentase hidrolisis lignin 90.21%.
Karakteristik kimia dan fisik karaginan perlakuan KR20 cukup baik dan sudah
memenuhi persyaratan refined carrageenan. Nilai derajat putih yang didapat
sebesar 66.17 % dan nilai kekuatan gel yang dihasilkan sebesar 43.35 gf
Analisis Pengaruh Foreign Direct Investment (FDI) terhadap Produktivitas Perusahaan Industri Bahan Kimia di Indonesia
Industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia merupakan industri
yang memiliki prospek pada pasar domestik dan global. Permintaan produk
industri kimia yang terus meningkat mendorong perusahaan pada industri tersebut
melakukan peningkatan produktivitas melalui Foreign Direct Investment (FDI).
Penelitian ini bertujuan untuk menghitung dan menganalisis Total Factor
Productivity (TFP) perusahaan industri kimia di Indonesia serta pengaruh dari
adanya FDI pada produktivitas perusahaan industri kimia. Metode yang
digunakan adalah Levinshon Petrin dan regresi data panel Fixed Effect Model
(FEM). Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah TFP untuk variabel
dependennya, sedangkan untuk variabel independennya menggunakan FDI,
horizontal, backward, forward, intensitas modal, RnD, dan market share. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa variabel FDI, intensitas modal, dan RnD
berpengaruh signifikan terhadap produktivitas perusahaan industri kimia
sedangkan variabel horizontal, backward, forward dan market share tidak
memiliki pengaruh terhadap produktivitas industri kimia
Analisis Pengaruh Modal Fisik dan Natural Terhadap Perekonomian dan Mobilitas Tenaga Kerja
Pembangunan ekonomi merupakan proses yang terus menerus dilakukan di Indonesia, dimana salah satu indikator keberhasilannya ialah pertumbuhan ekonomi. Fokus utama pembangunan ekonomi Indonesia ialah perluasan ekonomi pedesaan dan pengembangan sektor pertanian. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan dukungan dari infrastruktur dan pemanfaatan sumberdaya alam (SDA) secara efektif dan efisien. Modal fisik merupakan tingkat infrastruktur yang menjadi indikator tingkat aksesibilitas masyarakat terhadap layanan publik. SDA yang melimpah merupakan modal natural yang penting sebagai input produksi bagi masyarakat. Modal fisik meliputi ketersambungan listrik, sanitasi, jumlah infrastruktur kesehatan, pendidikan, dan keagamaan, dan sarana transportasi. Modal natural tersusun atas lahan, sumber air untuk minum, dan bahan bakar. Tingkat modal fisik dan natural yang ideal akan mendorong peningkatan perekonomian berkelanjutan dan mengurangi perpindahan penduduk keluar daerah serta menjadi daya tarik agar penduduk dari wilayah lain melakukan imigrasi. Kecamatan Kubu dan Sungai Ambawang sebagai daerah tujuan transmigrasi memiliki potensi ekonomi yang besar dalam aspek modal natural. Lahan gambut yang mendominasi wilayah ini dapat dikembangkan sebagai modal natural yang potensial untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Mayoritas penduduknya yang tinggal di pedesaan bekerja di bidang pertanian, terutama perkebunan, menjadikannya sektor unggulan daerah. Kondisi tersebut membuat pemerintah lebih fokus terhadap pembangunan infrastruktur penunjang sektor pertanian. Proses pembangunan di masing-masing desa menjadikan tingkat modal fisik dan natural mengalami penurunan. Nilai indeks konversi, ketersambungan dan indeks natural merupakan faktor dominan yang berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi desa, sedangkan modal fisik, keberadaan agen TKI, kejadian bencana dan luas lahan pertanian memengaruhi tingkat mobilitas penduduk
Analisis Korelasi Jasa Lanskap Biodiversitas dan Karbon Tersimpan pada Sungai Ciliwung Kota Bogor.
Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung merupakan salah satu DAS yang berada di Kota Bogor selain DAS Cisadane. Sungai Ciliwung dengan vegetasi yang menyerap karbon berpotensi untuk mendukung fungsi mitigasi CO2 sehingga menjadikan masyarakat yang ramah lingkungan. Keanekaragaman hayati tanaman di Sungai Ciliwung menunjukan adanya jasa lanskap biodiversitas yang harus dilestarikan dalam mewujudkan masyarakat rendah karbon (low carbon society) yang berarti komunitas yang mendukung terciptanya lingkungan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung biodiversitas dan karbon tersimpan pada sungai ciliwung terhadap pengelolaan jasa lanskap, serta mengkorelasikan hubungan keduanya di 14 plot yang menjadi sampel penelitian sepanjang Sungai Ciliwung Kota Bogor. Plot-plot sampel tersebut memiliki 3 penggunaan lahan yaitu kebun campuran, talun, dan pekarangan. Persamaan alometrik digunakan untuk mengestimasi biomasa tanaman di atas permukaan tanah, sedangkan untuk menghitung nilai tinggi rendahnya keragaman pada setiap plot digunakan Indeks Shannon Wiener (H’) dan indeks Margalef (Dm) pada sampel 13 kelurahan. Rata-rata H’ pada ketiga penggunaan lahan yaitu kebun campuran, talun, dan pekarangan berturut turut adalah 2,08, 1,88, dan 1,65. Rata-rata Dm pada ketiga penggunaan lahan yaitu kebun campuran, talun, dan pekarangan berturut turut adalah 3,63, 4,32, dan 3,39. Dalam penelitian ini tidak ditemukannya hubungan yang signifikan antara biodiversitas dengan karbon tersimpan (R2 =0,60), atau biodiversitas pohon dengan karbon tersimpannya (R2 =0.54 ). Rekomendasi dari penelitian ini untuk membangun masyarakat rendah karbon adalah mengoptimalisasi penggunaan lahan menanam tanaman produktif, dan tanaman lokal dengan biomasa tinggi terhadap pengelolaan jasa lanskap yang berkelanjutan pada Sungai Ciliwung Kota Bogor
vAnalisis Efisiensi Bank Syariah di Indonesia Periode 2014-2018 dengan Metode Data Envelopment Analysis
Perkembangan bank syariah terus meningkat dan menimbulkan persaingan
ketat antara bank syariah maupun antara bank konvensional di Indonesia. Bank
syariah harus meningkatkan kinerjanya agar bank syariah tetap bertahan di
industri perbankan dan tetap terus mendapatkan keuntungan maksimal. Untuk
mengetahui kinerja bank syariah diperlukan analisis efisiensi. Tujuan penelitian
ini adalah menganalisis tingkat efisiensi perbankan syariah dari tahun 2014 hingga
2018. Penelitian ini, termasuk meneliti apakah terdapat perbedaan tingkat efisiensi
antara bank umum syariah dengan unit usaha syariah dan antara bank anak
perusahaan BUMN dan bank bukan anak perusahaan BUMN. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Data Envelopment Analysis (DEA) dengan
pendekatan intermediasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 1 (satu)
bank yang terus mengalami efisiensi dari tahun 2014 hingga tahun 2018.
Sementara itu, 14 (empat belas) bank lainnya mengalami efisiensi yang fluktuatif
disetiap tahunnya. Rata-rata tingkat efisiensi bank syariah dari tahun 2014 hingga
2018 tergolong cukup tinggi. Tidak terdapat perbedaan tingkat efisiensi yang
signifikan antara bank umum syariah dan unit usaha syariah begitu juga antara
bank syariah anak perusahaan BUMN dan bank syariah bukan anak perusahaan
BUMN