Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Anatomi Otot-Otot Tubuh Trenggiling Jawa (Manis javanica).

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui susunan otot tubuh yang meliputi daerah leher, punggung, dada, dan abdomen trenggiling jawa (Manis javanica) beserta origo dan insersionya untuk menduga fungsi dari otot-otot tersebut. Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah dua ekor kadaver trenggiling yang telah difiksasi dalam formalin 10%. Pengamatan dilakukan dengan mengamati otot-otot lapis superfisial hingga profundal. Identifikasi letak origo dan insersio dilakukan dengan mempreparir otot-otot tersebut. Penamaan otot didasarkan pada Nomina Anatomica Veterinaria 2017. Hasil penelitian kemudian dibandingkan dengan literatur mengenai anatomi tubuh hewan yang mirip secara filogenetik seperti karnivora. Otot-otot yang ditemukan beberapa mirip dengan mamalia dan sudah dilakukan pada penelitian sebelumnya. Beberapa otot di daerah ventral tubuh ditemukan lebih berkembang. Otot daerah ventral leher yang berkembang tebal, yaitu m. rectus capitis ventralis major. Otot pada daerah epaxial, seperti m. longissimus dorsi dan m. semispinalis thoracis et lumborum memanjang hingga daerah ekor. Otot dinding dada m. serratus dorsalis cranialis berkembang lebih tebal, pada sebelah ventral terdapat m, rectus thoracis tebal memanjang ke daerah abdomen menjadi m. rectus abdominis. Struktur otot yang berkembang di daerah tersebut mempengaruhi perilaku unik yang dimiliki trenggiling

    IPB (Bogor Agricultural University)

    No full text
    Tingginya populasi babi hutan Sumatera (Sus scrofa vittatus) atau yang dikenal dengan celeng menyebabkan tingginya angka perburuan yang mengakibatkan berlimpahnya daging babi hutan dengan harga yang sangat murah. Daging celeng merupakan daging yang sering dipalsukan sebagai daging sapi. Pengujian otentikasi spesies dapat dilakukan dengan beberapa metode, dan salah satunya adalah ELISA karena metode ini memiliki keunggulan seperti teknik pengerjaan yang sederhana, ekonomis, dan memiliki sensitivitas yang cukup tinggi. Kit ELISA komersial pendeteksi spesies daging yang umum digunakan di beberapa laboratorium pengujian di Indonesia merupakan produk impor, harga kit yang relatif mahal, serta perlu waktu indent untuk mendatangkan kit merupakan beberapa kendala. Belum adanya kit uji khusus untuk mendeteksi daging babi hutan Sumatera telah mendorong penulis untuk meneliti dan sekaligus mengembangkan kit uji pendeteksi daging babi hutan Sumatera berbasis sandwich ELISA. Hal ini perlu dilakukan karena studi untuk mengidentifikasi daging harus terus dikembangkan sebagai upaya untuk melindungi konsumen dari mengkonsumsi pangan yang aman, sehat, utuh, dan halal. Tujuan penelitian ini adalah melakukan otentikasi terhadap daging babi hutan Sumatera, untuk memproduksi dan mengkarakterisasi antibodi poliklonal spesifik terhadap daging babi hutan, untuk mengembangkan sandwich ELISA pendeteksi daging babi hutan Sumatera, dan untuk membandingkan antara sandwich ELISA pendeteksi daging babi hutan Sumatera yang sudah dikembangkan dengan kit ELISA komersial. Otentikasi daging babi hutan Sumatera dalam penelitian ini menggunakan metode polimerase chain reaction-restriction fragment length polymorphism (PCR-RFLP) dengan menggunakan primer cytochrome b dan menggunakan enam enzim restriksi endonuklease AluI, BsaJI, HindIII, RsaI, HaeIII, dan TaqI. Tiga ekor kelinci New Zealand White digunakan untuk produksi antibodi, antigen yang digunakan adalah ekstrak daging babi hutan Sumatera. Setiap kelinci diimunisasi dengan antigen yang diemulsikan dalam complete freund adjuvant (CFA) secara subkutan. Booster dilakukan tiga kali dengan waktu interval 14 hari, menggunakan antigen. Purifikasi antibodi dilakukan dengan menggunakan ammonium sulfate precipitation dan kit protein A. Keberadaan antibodi spesifik ditentukan dengan menggunakan agar gel precipitation test (AGPT) dan enzyme linked immunosorbent assay (ELISA), sementara IgG spesifik yang telah dipurifikasi dikarakterisasi menggunakan metode sodium dodecyl sulfatepolyacrylamide gel electrophoresis (SDS PAGE). Sandwich ELISA yang dikembangkan pada penelitian ini menggunakan poliklonal antibodi spesifik babi hutan Sumatera yang telah berhasil diproduksi pada kelinci dan juga pada marmot. Perbandingan antara sandwich ELISA dan kit ELISA komersial ELISA-TEK dilakukan dengan menggunakan tujuh jenis sampel daging yang berbeda. Enam enzim restriksi endonuklease digunakan dan dari keenam enzim restriksi endonuklease tersebut, HaeIII merupakan enzim yang sesuai untuk mengotentikasi spesies daging babi hutan Sumatera. Metode PCR-RFLP menggunakan HaeIII merupakan metode yang sederhana, cepat, dan akurat untuk mengidentifikasi daging babi hutan Sumatera yang dipalsukan sebagai daging sapi yang umum dilakukan di Indonesia. Antibodi spesifik terhadap babi hutan Sumatera dapat diproduksi pada kelinci dan antibodi dihasilkan mampu untuk mendeteksi ekstraks daging babi hutan Sumatera dalam uji ELISA. Sandwich ELISA pendeteksi daging babi hutan Sumatera yang dikembangkan pada penelitian ini mampu membedakan antara daging sapi, daging kerbau, daging kambing, daging ayam, daging itik, daging babi, dan daging babi hutan Sumatera. Limit deteksi san dwich ELISA pendeteksi daging babi hutan Sumatera yang dikembangkan pada penelitian ini adalah sebesar 0.0025 gr/ml. Sandwich ELISA menggunakan antibodi poliklonal spesifik daging babi hutan Sumatera mampu membedakan antara daging babi hutan Sumatera dengan daging babi dan daging spesies lainnya, sehingga dapat direkomendasikan untuk dapat dipalikasikan sebagai salah satu metode otentikasi daging pada laboratorium pengujian

    Perancangan Model Bisnis Jajanan Sehat “Mashita Stick”.

    No full text
    Makanan jajanan yang dikonsumsi anak sekolah masih banyak yang termasuk golongan tidak memenuhi syarat akibat penggunaan bahan berbahaya, bahan tambahan pangan berlebih, dan terkena pencemaran mikroba. Namun, ketersediaan pilihan jajanan sehat di lingkungan sekolah masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan, merancang produk dan merancang model bisnis pangan jajanan sehat yang sesuai dengan kebutuhan anak sekolah di Kota Depok. Penelitian ini menggunakan metode customer development hingga tahap pengujian penjualan pada customer validation dan dilakukan dari bulan April hingga Agustus 2019. Hasil akhir penelitian adalah kanvas model bisnis yang telah terverifikasi dan produk jajanan sehat berupa camilan olahan sayur wortel dan bayam Mashita stick dengan citarasa gurih, tanpa pengawet, bahan tambahan pangan berlebih, bahan berbahaya, serta melalui proses pembuatan yang higienis. Segmen konsumen dari produk ini adalah anak sekolah dan orang tua murid yang peduli kesehatan. Saluran penjualan akhir adalah kantin sekolah, katering sekolah, kantin tempat les, dan lokasi yang sering didatangi orang tua murid

    Karakteristik Mutu Fisik Mi Jagung dengan Penambahan Emulsifier dan Telur

    No full text
    Proses pemisahan antar untain mi ketika keluar dari ekstruder sulit dilakukan karena kelengketan mi jagung yang tinggi. Mi jagung yang telah dimasak memiliki karakteristik kekerasan, cooking loss, dan kelengketan yang tinggi. Penggunaan emulsifier dan telur pada mi terigu dapat memperbaiki mutu mi sebagai reological modifier. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penambahan emulsifier dan telur terhadap mutu fisik mi jagung. Emulsifier sebanyak 0.5, 1.0, 1.5, dan 2.0% (basis bobot tepung) ditambahkan ke dalam 300 gram tepung jagung. Telur utuh, putih telur, dan kuning telur yang digunakan adalah 3, 6, dan 9% dari basis bobot tepung. Mi jagung dibuat dengan menggunakan ekstruder pemasakpencetak pada suhu 90°C dengan kecepatan ulir 130 rpm. Mi jagung dikeringkan menggunakan tray dryer tanpa panas selama 24 jam. Analisis dilakukan pada enam respon yaitu, kelengketan ketika keluar dari ekstruder secara subjektif, derajat gelatinisasi pati, dan mutu fisik mi setelah dimasak diantaranya adalah, cooking loss, elongasi, kekerasan, dan kelengketan. Uji tingkat kesukaan panelis terhadap mi jagung hasil perlakuan terpilih, dilakukan dengan metode rating hedonik terhadap 70 panelis tidak terlatih. Hasil penelitian menunjukkan, penggunaan emulsifier mampu mengurangi kelengketan ketika keluar dari ekstruder namun memberikan tekstur adonan mi yang lebih kering. Penambahan telur kuning telur mampu mengurangi kelengketan dengan menghasilkan tekstur agak kering dan lembut pada permukaan mi jagung. Penggunaan emulsifier 0.5 sampai 2.0% menghasilkan mi dengan cooking loss yang lebih rendah dibanding kontrol, tetapi semakin tinggi konsentrasinya, nilai cooking loss akan meningkat. Semakin tinggi konsentrasi kuning telur yang digunakan semakin tinggi nilai cooking loss mi jagung. Penggunaan telur utuh 6% menghasilkan mi dengan cooking loss rendah. Elongasi mi jagung ketika ditambahkan emulsifier di semua level konsentrasi tidak memberikan pengaruh yang signifikan, akan tetapi penggunaan putih telur 3, 6, dan 9% serta kuning telur 6% membuat mi jagung mudah putus setelah dimasak dan elongasi mi jagung menurun. Penggunaan emulsifier dan telur baik putih dan kuning telur maupun telur utuh menurunkan kekerasan dan kelengketan mi jagung. Penggunaan emulsifier 2.0% memberikan nilai kekerasan mi jagung terendah, selain itu penggunaan telur utuh 9% mampu menghasilkan nilai kelengketan mi jagung paling rendah. Emulsifier dan telur baik putih telur, kuning telur, dan telur utuh yang ditambahkan tidak mempengaruhi derajat gelatinisasi pati mi jagung. Hasil uji sensori metode rating hedonik menunjukkan bahwa formula emulsifier 0.5% dengan kuning telur 3% merupakan formula yang paling disukai oleh panelis

    Efek Intervensi Minuman Rosela Ungu terhadap Kadar Superoksida Dismutae dan Malondialdehid Serum Laki-laki Dewasa Gemuk

    No full text
    Kegemukan merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus, penyakit kardiovaskuler, dan kanker. Peningkatan risiko penyakit degeneratif karena kelebihan akumulasi lemak dalam jaringan adiposa sehingga memicu terjadinya stres oksidatif. Stres oksidatif menggambarkan ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dengan antioksidan yang dihasilkan oleh tubuh. Kondisi tersebut ditandai dengan peningkatan kadar malondialdehid dan penurunan antioksidan enzim, salah satunya adalah superoksida dismutase. Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) merupakan salah satu tanaman yang telah lazim dikonsumsi oleh masyarakat baik sebagai minuman seduhan maupun dimanfaatkan untuk kesehatan karena kandungan antioksidan yang tinggi, salah satunya adalah antosianin. Manfaat kesehatan dari rosela, diantaranya memperbaiki status oksidatif dengan menurunkan kadar MDA dan meningkatkan aktivitas antioksidan enzim dalam tubuh. Pembuatan minuman rosela diharapkan dapat meningkatkan penerimaan konsumen sehingga dapat menjadi alternatif pilihan produk pangan fungsional dalam upaya pencegahan penyakit degeneratif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh intervensi minuman rosela ungu terhadap kadar superoksida dismutase dan malondialdehid serum laki-laki dewasa gemuk. Penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimental dengan rancangan pre-post test. Skrining tahap pertama berdasarkan persepsi pegawai UKK terhadap satpam yang mengalami kegemukan. Ditemukan sebanyak 82 satpam dengan nilai IMT dalam kategori overweight dan obesitasitas. subjek tersebut diwawancara untuk mendapatkan data karakteristik sosial ekonomi, status gizi berdasarkan antropometri, tingkat pengetahuan gizi, gaya hidup, dan pola konsumsi. Skrining kedua berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi ditemukan sebanya 30 subjek gemuk yang selanjutnya dikelompokkan menjadi kelompok kontrol (n=15) dan kelompok intervensi (n=15). Kelompok intervensi diberikan minuman dari ekstrak rosela ungu yang dibuat dengan mencampurkan 10 g ekstrak rosela, 0.05 g sukralosa, dan 0.2 g garam dengan 229.75 mL air serta mengandung 40.58 mg/240 mL antosianin. Sementara, kelompok kontrol diberikan minuman plasebo, dibuat dengan menggunakan sirup yang memiliki warna serupa dengan produk intervensi namun tidak mengandung ekstrak rosela. Seluruh subjek mendapatkan minuman plasebo/intervensi sebanyak 480 mL/hari selama 6 minggu. Jumlah subjek yang mengikuti penelitian hingga akhir sebanyak 18 orang. Data yang dikumpulkan meliputi data karaktersitik sosial ekonomi menggunakan kuesioner, data antropometri yaitu tinggi badan menggunakan microtoice, berat badan, persen lemak dan lemak viseral menggunakan Bioelectrical impedance analysis (BIA), dan lingkar pinggang menggunakan pita ukur. Data pola konsumsi menggunakan food frequency questionnaire (FFQ) dan food recall 2x24h. Data gaya hidup meliputi tingkat aktivitas fisik menggunakan form recall aktivitas selama 1x24 jam dan kebiasaan merokok. Data parameter biokimia menggunakan sampel darah vena. Analisis data menggunakan SPSS, Microsoft excel, dan nutrisurvey. Data dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran umum subjek. Uji beda menggunakan paired t-test untuk mengetahui perubahan sebelum dan setelah intervensi serta independent t-test untuk mengetahui perbedaan perubahan antar kelompok intervensi dan kontrol. Karakeristik satpam yang mengalami kegemukan menunjukkan, sebesar 77.8% subjek berada pada kategori dewasa madya, 96.3% subjek lulus SMA/sederajat dan 59.3% memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang. Sebanyak 75.3% memiliki ukuran keluarga kecil dan 45.7% memiliki pendapatan 1 500 000 – 2 500 000/bulan. Gaya hidup satpam dilihat berdasarkan kebiasaan tingkat aktivitas fisik dan kebiasaan merokok. Sebanyak 85.4% subjek memiliki tingakt aktivitas fisik ringan dengan nilai 1.40≤PAL≤1.69. Sementara, 82.7% subjek memiliki kebiasaan merokok dan 44.8% merokok dengan jumlah ≥ 21 batang/hari. Berdasakan IMT, dari 81 subjek yang mengalami kegemukan, sebanyak 86.4% satpam tergolong obesitasitas dan 13.6% overweight. Persen lemak tubuh menunjukkan 79.0% tergolong sangat tinggi dan 67.9% lemak viseral dalam kategori tinggi. Sementara itu, tingkat kecukupan energi dan zat gizi sebagian besar tergolong defisit. Karakteristik subjek yang mengikuti tahap intervensi menujukkan tidak ada perbedaan secara statistik (p > 0.05) sebelum intervensi. Asupan energi dan zat gizi makro subjek pada kedua kelompok masih di bawah angka kecukupan gizi, namun nilai asupan lebih tinggi pada kelompok kontrol. Begitupun untuk asupan vitamin dan mineral lebih tinggi pada kelompok kontrol. Pemberian intervensi minuman rosela ungu selama 6 minggu signifikan meningkatkan kadar SOD (0.89 U/mL) pada kelompok intervensi. Namun tidak menunjukkan penurunan pada kadar MDA. Di akhir intervensi menunjukkan adanya perubahan nilai antropometri pada kedua kelompok. Penurunan berat badan (1.08 kg), IMT (0.39 kg/m2), lingkar pinggang (2.88 cm) dan lemak viseral (0.58%) pada kelompok intervensi. Sementara, kelompok kontrol mengalami penurunan berat badan (0.14 kg), IMT (0.06 kg/m2), lingkar pinggang (1.77 cm), dan lemak viseral (0.07%). Rata-rata persen lemak tubuh di kedua kelompok cenderung mengalami penurunan meskipun tidak signifikan secara statistik (p>0.05). Perubahan asupan energi, protein, lemak, karbohidrat, tembaga, seng, vitamin A, C, dan E tidak berbeda signifikan antar kelompok selama intervensi (p>0.05)

    Analisis Daya Saing dan Keberlanjutan Desa Wisata Cibuntu Kabupaten Kuningan Jawa Barat

    No full text
    Desa Wisata Cibuntu adalah salah satu destinasi wisata yang terletak di Kabupaten Kuningan. Persoalan yang dihadapi dalam pengembangan Desa Wisata Cibuntu diantaranya infrastruktur, sarana dan prasarana yang belum memadai, terbatasnya sumberdaya manusia, dan promosi wisata yang belum maksimal. Apabila hambatan ini tidak dapat diatasi dengan baik maka dapat menurunkan daya saing pariwisata Desa Wisata Cibuntu terhadap desa wisata terdekat yaitu Desa Wisata Bantaragung. Pengelolaan Desa Wisata Cibuntu juga perlu memperhatikan sisi keberlanjutan sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi sekarang generasi yang akan datang. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing, status keberlanjutan dan strategi pengelolaan Desa Wisata Cibuntu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah competitiveness monitor, multidimensional scalling, dan weighted sum model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Wisata Cibuntu memiliki nilai daya saing lebih tinggi dari Desa Bantaragung kecuali infrastuctur development indicator dan social development indicator. Nilai keberlanjutan Desa Wisata Cibuntu sebesar 71.06 dengan status cukup berkelanjutan. Nilai ini diperoleh dari kelima dimensi keberlanjutan yaitu dimensi sosial budaya (79.53%), dimensi ekonomi (83.75%), dimensi kelembagaan (77.72), dimensi sarana prasarana (63.81%) dan dimensi ekologi (50.49). Prioritas strategi pengelolaan Desa Wisata Cibuntu adalah peningkatan infrastruktur dan fasilitas sarana prasarana

    Analisis Tingkat Produktivitas dan Efektivitas Sumberdaya Air di Kota Bogor Berdasarkan Indeks Kota Sensitif Air.

    No full text
    Kota Bogor mengalami permasalahan genangan air pada musim hujan, dan kesulitan air bersih di musim kemarau. Agar permasalahan tersebut dapat diselesaikan maka perlu diterapkan konsep kota ideal yang dikenal dengan istilah water sensitive city atau kota yang sensitif terhadap air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan tingkat produktivitas dan efektivitas sumberdaya air Kota Bogor serta arahan rencana strategis menuju ke arah kota sensitif air. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah dengan melakukan observasi lapang untuk mengetahui kondisi sumberdaya air di Kota Bogor, menganalisis data, dan membuat kesimpulan untuk digunakan dalam membuat arahan rencana strategis. Berdasarkan analisis data yang diperoleh, nilai indeks Kota Bogor untuk tingkat produktivitas dan efektivitas sumberdaya air sebesar 3,55. Arahan rencana strategis produktivitas dan efektivitas sumberdaya air di Kota Bogor sebaiknya berfokus untuk mengatasi pencemaran di wilayah sekitar Sungai Ciliwung dan Cisadane, manajemen sumberdaya air terintegrasi, ketersediaan air, serta sanitasi

    Metode Pengaturan Hasil berdasarkan Jumlah Pohon dalam Pengelolaan Hutan Rakyat pada Tingkat Pemilik Lahan

    No full text
    Pengelolaan hutan rakyat bersifat individual sesuai keputusan pemilik lahan dan belum memiliki metode pengelolaan yang baku. Karakteristik hutan rakyat memiliki keragaman yang tinggi pada tingkat pemilik lahan. Pengembangan hutan rakyat pada tingkat pemilik lahan merupakan suatu pekerjaan yang berat mengingat tingginya keragaman pada hutan rakyat, namun perlu dikembangkan oleh berbagai pihak karena memiliki peranan yang besar secara ekonomi, ekologi, dan sosial. Kelestarian hutan rakyat dapat dilihat dari struktur tegakannya. Struktur tegakan hutan yang diharapkan memenuhi syarat bagi tercapainya kelestarian adalah lebih kurang menyerupai hutan normal. Keadaan hutan normal dalam penelitian ini dicirikan oleh jumlah pohon yang cukup banyak dan menyebar secara proporsional sesuai kenaikan kelas diameternya dan jumlah penebangan yang kurang lebih sama setiap tahunnya. Penelitian ini menggunakan luas hutan rakyat pada tingkat pemilik lahan sebagai satuan terkecil pengelolaan. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh gambaran dan model struktur tegakan horizontal untuk setiap satuan kepemilikan lahan hutan serta menyusun metode pengaturan hasil untuk setiap satuan kepemilikan lahan hutan rakyat. Informasi mengenai tegakan hutan rakyat di Desa Cidokom, Kecamatan Rumpin diperoleh secara eksploratif dan metode pengaturan hasil dianalisis menggunakan metode deskriptif. Struktur tegakan di semua hutan rakyat menggunakan persamaan eksponensial negatif. Metode pengaturan hasil dilakukan dengan cara memodifikasi metode pengaturan hasil Karminarsih (2012). Bagian yang dimodifikasi adalah persen kematian tegakan dan jatah tebang tahunan yang dapat disesuaikan dengan keputusan setiap petani. Struktur tegakan eksponensial negatif pada hutan rakyat diperoleh nilai konstanta “k” berkisar antara 39.71 sampai 2318.99 dan nilai konstanta “a” diperoleh berkisar -1.58 sampai 0.01. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur tegakan setiap pemilik lahan hutan bervariasi. metode pengaturan hasil mampu memberikan hasil yang konsisten setiap tahunnya setelah mencapai kondisi stabil. Metode pengaturan hasil dapat digunakan oleh pemilik hutan rakyat sesuai keputusan tebang dan kondisi lahannya masing-masing untuk mencapai hutan rakyat yang lestari

    Pengaruh Penerapan Karakter Profetik pada Diri Seseorang terhadap Kualitas Pembiayaan (Studi Kasus: Nasabah PT. BPRS Bina Rahmah)

    No full text
    Pembiayaan bermasalah merupakan salah satu risiko yang dihadapi oleh perbankan termasuk BPRS. Pembiayaan bermasalah dapat disebabkan oleh faktor internal dan eksternal bank. Dari kedua faktor tersebut, faktor karakter nasabah merupakan salah satu faktor dominan penyebab pembiayaan bermasalah. Penelitian ini melihat karakteristik nasabah UMKM seperti usia, pendapatan, lama usaha dan modal awal terhadap kualitas pembiayaan serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kualitas pembiayaan dengan menggunakan karakter profetik dan karakteristik nasabah studi kasus di PT. BPRS Bina Rahmah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel karakter trustworthiness, karakter wisdom, karakter empathy, usia nasabah, pendapatan, lama usaha, dan modal awal secara signifikan memengaruhi kualitas pembiayaan nasabah

    Pemetaan Area Prioritas Restorasi Habitat Elang Jawa di Taman Nasional Gunung Halimun Salak

    No full text
    Elang jawa (Nisaetus bartelsi) adalah jenis burung raptor endemik pulau Jawa. Keberadaannya sangat terancam karena jumlah populasinya yang menurun, tingkat reproduksinya yang rendah, perburuan liar, dan fragmentasi habitat. Taman Nasional Gunung Halimun Salak merupakan salah satu kawasan yang memiliki populasi elang jawa tertinggi namun juga menjadi kawasan yang mengalami tingkat fragmentasi yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi area prioritas yang perlu direstorasi untuk pergerakan elang jawa menggunakan aplikasi MaxEnt dan Condatis. Variabel yang digunakan untuk peta kesesuaian habitat adalah ketinggian, suhu, curah hujan, jarak dari sungai, jarak dari jalan, tipe tutupan lahan, tingkat reproduksi dan jarak dispersal. Area prioritas yang diperoleh merupakan perbandingan antara kecepatan kolonisasi elang jawa antara dua skenario yang disebut dengan skenario Bussiness as Usual dan tutupan hutan. Perbedaan kecepatan kolonisasi elang jawa menjadi dasar dalam menentukan area prioritas restorasi

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇