31665 research outputs found
Sort by
Penambahan Tanin asal Ekstrak Gambir (Uncaria gambir) terhadap Proteksi Protein dan Sintesis Protein Mikroba Rumen
Penggunaan pakan konsentrat protein tinggi dapat meningkatkan degradasi
protein di rumen akibat aktivitas mikroba rumen yang merombak protein. Salah
satu teknologi yang dapat digunakan untuk melindungi protein pakan (by pass
protein) dari degradasi rumen yang berlebihan adalah melalui suplementasi tanin.
Tanin merupakan senyawa antinutrisi pada tanaman yang memiliki kemampuan
mengikat protein. Tanin yang digunakan berasal dari ekstrak gambir (Uncaria
gambir). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan ekstrak gambir
sebagai tanin dalam mengikat protein serta pengaruhnya terhadap proteksi protein
pakan, sintesis protein mikroba rumen serta parameter fermentasi invitro lainnya.
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak
Kelompok (RAK) pola faktorial dengan faktor pertama yaitu perlakuan level
penambahan tanin asal ekstrak gambir yang terdiri dari 0%, 2%, 4% dan 6% ekstrak
gambir dalam ransum campuran. Faktor kedua yaitu waktu inkubasi 2 dan 4 jam
dan kelompok pengambilan cairan rumen sapi dengan bobot badan yang berbeda.
Percobaan untuk mengevaluasi kinetika produksi gas disusun dalam Rancangan
Acak Lengkap (RAL) dengan faktor perlakuan level penambahan ekstrak gambir.
Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Data yang diperoleh dianalisis
sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji Least Significant Differences (LSD) serta
uji Polinomial Ortogonal.
Uji pengikatan protein bovine serum albumine (BSA) oleh tanin asal ekstrak
gambir menunjukkan hasil yang sangat signifikan (P<0.05). Persentase protein
BSA yang berhasil diikat semakin meningkat seiiring dengan peningkatan level
ekstrak gambir yang ditambahkan yakni sebesar 50.46% protein BSA pada level
ekstrak gambir 6%. Pola fermentasi rumen menunjukkan bahwa perlakuan level
penambahan ekstrak gambir dan waktu inkubasi yang berbeda meningkatkan
konsentrasi ammonia (N-NH3) (P<0.05) serta terdapat interaksi. Namun tidak
berpengaruh terhadap produksi VFA total dan populasi protozoa.
Konsentrasi Sintesis Protein Mikroba (SPM) dipengaruhi oleh perlakuan
level ekstrak gambir (P<0.05). Namun tidak dipengaruhi oleh waktu inkubasi serta
tidak terdapat interaksi antara kedua faktor tersebut. Penggunaan tanin asal ekstrak
gambir dalam ransum mampu meningkatkan SPM, SPM mampu meningkatkan
protein endapan, namun kontribusinya belum optimal. Bobot protein endapan tidak
dipengaruhi oleh perlakuan level penambahan tanin asal ekstrak gambir. Perlakuan
waktu inkubasi memiliki pengaruh (P<0.05) terhadap bobot protein endapan,
namun tidak terdapat interaksi antara level ekstrak gambir dan waktu inkubasi
(P>0.05). Peningkatan lama proses fermentasi dalam rumen, dapat menurunkan
jumlah protein endapan (protein lolos degradasi). Degradasi bahan kering dan
bahan organik tidak dipengaruhi oleh level penambahan ekstrak gambir yang
berbeda. Produksi gas total dan laju produksi gas terdapat kecenderungan menurun
secara nyata seiring dengan peningkatan level ekstrak gambir
Studi Mekanisme Reaksi Brominasi Metileugenol
Podofilotoksin merupakan senyawa yang dapat digunakan sebagai
antikanker yang dapat disintesis secara kimia. Metode dari jalur ini melibatkan
beberapa langkah reaksi, salah satunya brominasi metileugenol. Brominasi
metileugenol menghasilkan beberapa produk yang menunjukkan keberadaan
produk samping yang menurunkan rendemen produk utama, yaitu 1-bromo-2-
(1,2-dibromoisoprop-2-il)-4,5-dimetoksibenzena. Dengan meragamkan ekuivalen
bromin yang ditambahkan dalam reaksi tersebut, dapat ditentukan mekanisme
reaksinya serta kondisi optimum untuk mendapatkan rendemen 1-bromo-2-(2,3-
dibromopropil)-4,5-dimetoksibenzena terbaik. Reaksi dilakukan dengan penangas
es, dan bromin diteteskan. Senyawa 1-bromo-2-(1,2-dibromoprop-2-il)-4,5-
dimetoksibenzena terbentuk sebagai produk utama sejak awal reaksi sedangkan 1-
bromo-2-(2,3-dibromopropil)-4,5-dimetoksibenzena baru menjadi produk utama
setelah metileugenol habis bereaksi. Br2 2.6 ekuiv menghasilkan 1-bromo-2-(2,3-
dibromopropil)-4,5-dimetoksibenzena dengan rendemen tertinggi (71%)
Karakterisasi dan Ulasan Potensi Limbah Darah Sapi serta Polistirena Tersulfonasi sebagai Komponen Dye Sensitized Solar Cell
Dye sensitized solar cell (DSSC) merupakan perangkat sel surya yang terdiri atas elektrode kerja, pewarna yang sensitif cahaya tampak, elektrolit, dan elektode lawan. Pewarna yang digunakan ialah hemoglobin dari limbah darah sapi, sedangkan elektrolit yang digunakan ialah, campuran larutan I-/I3- dan polistirena tersulfonasi (PSS). Kadar hemoglobin dalam darah dan derajat sulfonasi PSS ditentukan dengan percobaan, sedangkan potensinya sebagai DSSC dianalisis dengan studi pustaka. Protoporfirin IX (PPIX) dan beberapa pewarna yang disisipi logam Fe(II) atau Fe(III) dijadikan acuan dalam penelitian ini, karena PPIX memiliki struktur yang sama dengan hemoglobin, tetapi tidak memiliki logam Fe di cincin porfirin. Hasilnya menunjukkan bahwa kadar hemoglobin mendekati nilai normal, yaitu 7 g/dL dan diperkirakan dapat meningkatkan lebih dari 50% efisiensi DSSC dengan PPIX. Derajat sulfonasi PSS sebesar 50% menunjukkan nilai yang baik untuk transfer elektron pada lapisan elektrolit. Penggunaan PSS dengan derajat sulfonasi 30% diperkirakan dapat meningkatkan lebih dari 80% efisiensi DSSC dibandingkan yang hanya menggunakan elektrolit I-/I3-
Konsumsi dan Karakteristik Fermentasi Rumen Domba Lokal yang Diberi Pakan dengan Bentuk Berbeda
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh bentuk pakan terhadap karakteristik fermentasi rumen, amonia (NH3) dan volatile fatty acid (VFA) total, serta nilai pH rumen domba lokal (garut silangan priangan) jantan. Rancangan percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan terdiri dari ; P1 = 30% hijauan + 70% konsentrat dalam bentuk mash, P2 = 30% hijaun + 70% konsentrat dalam bentuk pellet dan P3 = 30% hijauan + 70 konsentrat dalam bentuk wafer. Peubah yang diamati meliputi konsumsi nutrien, pH, amonia (NH3) dan volatile fatty acid (VFA) total cairan rumen. Peubah dianalisis dengan ANCOVA (analisis kovarian) dan jika hasilnya berbeda secara signifikan akan dilanjut dengan uji Duncan. Hasil penelitian ini tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (P>0.05) terhadap konsumsi total bahan kering (BK), protein kasar (PK), lemak kasar (LK), Karbohidrat, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), pH rumen, konsentrasi NH3 dan konsentrasi VFA total cairan rumen. Konsumsi total serat kasar (SK) pada penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (P<0.05)
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keputusan Petani Terhadap Penjualan Hasil Panen Lada putih (Studi Kasus : Petani Lada Putih di Desa Bukit Layang Kecamatan Bakam Kabupaten Bangka).
Lada (Pipper nigrum L.) merupakan tanaman tahunan yang tumbuh
memanjat. Sifat tanaman lada yang tahunan menyebabkan terjadinya over supply.
Adanya over supply pada hasil panen lada sedangkan demand tetap
mengakibatkan harga lada putih turun. Sehingga respon petani lada putih adalah
dengan melakukan tunda jual terhadap hasil panennya, namun ada juga yang
melakukan langsung jual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola
penjualan petani lada putih berdasarkan karakteristik petani, usahatani dan
penjualannya dan faktor yang memengaruhi keputusan petani terhadap penjualan
hasil panen lada putih. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey.
Pengambilan sampel dilakukan dengan simple random sampling dengan jumlah
sampel sebanyak 60 petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik
petani yang melakukan langsung jual adalah memiliki usia yang lebih muda
dengan lama pengalaman cukup berpengalaman dan konsumsi pangan yang
tinggi. Sedangkan berdasarkan karakteristik usahatani, petani yang memiliki
produksi sedikit, memiliki penerimaan non lada putih kecil dan luas penguasaan
lahan kecil cenderung melakukan langsung jual. Selain itu, petani yang memiliki
karakteristik penjualan dekat dengan tempat penjualan cenderung melakukan
langsung jual. Berdasarkan hasil analisis regresi logistik, faktor yang signifikan
memengaruhi keputusan petani terhadap penjualan hasil panen lada putih adalah
harga, konsumsi dan jarak ke tempat penjualan
Development of Halal Assurance System for Halal Shoyu Product Line in Kamada Soy Sauce Inc
The number of Muslim population in Indonesia is predicted to reach 214 million people by 2019, which is a very lucrative market from the business point of view. Muslim people have protected rights to obtain and consume halal food products. Food and beverages must come from halal raw materials and processed in a certain way that can assure its halal status. Shoyu is a Japanese export product that is widely consumed by Indonesian people. Shoyu is a traditional Japanese soy sauce made from a mixture of wheat and soybean through a fermentation process in two stages. Non-halal soy sauce itself may contain brewery or khamr alcohol and pork-derived substances that are added as flavoring ingredients. The halal assurance system HAS 23000 is developed by LPPOM MUI that aims to assure the halal status of a product so that it is free of contamination possibilities from haram or najis materials. Development of halal assurance system is done by conducting preliminary audit beforehand using gap analysis method. The development is specifically done for halal shoyu product line based on findings of the gap analysis and is considered done when all eleven of the HAS 23000 principles are fulfilled. Post audit will be done using the same gap analysis method to compare the conditions before and after development. Risk analysis using failure mode and effect (FMEA) method will be conducted afterwards based on the audit findings and brainstorming with the company regarding the parameters. A fishbone diagram will be constructed based on the risk probability number calculated during the FMEA risk analysis
Evaluasi Sistem Lingkungan pada Pendederan Intensif Ikan Gabus Channa striata menggunakan Teknologi Akuaponik
Ikan gabus merupakan salah satu komoditas ikan yang memiliki nilai
ekonomi yang cukup tinggi, baik dalam bentuk ikan segar maupun olahan. Pangsa
pasar saat ini juga mulai berkembang ke arah pemanfaatan dalam bidang kesehatan.
Pendederan ikan gabus dapat dilakukan secara intensif dengan padat tebar tinggi.
Pendederan intensif berkontribusi terhadap peningkatan penggunaan pakan buatan,
dalam hal ini kebutuhan protein pakan ikan gabus sebagai ikan karnivora mencapai
38-44%. Konsekuensi dari pendederan ikan gabus secara intensif adalah buangan
limbah yang dihasilkan berupa bahan organik yang berasal dari sisa pakan yang
tidak termakan dan sisa metabolisme ikan gabus. Arah kebijakan Kementerian
Kelautan dan Perikanan (KKP) saat ini lebih mengarah pada manajemen
sumberdaya budidaya berkelanjutan, dan salah satu strategi yang dapat dilakukan
adalah implementasi teknologi ramah lingkungan. Teknologi akuaponik merupakan
teknologi pengelolaan limbah akuakultur ramah lingkungan, gabungan antara
sistem akuakultur dan hidroponik yang menghasilkan ikan dan sayuran dalam satu
sistem produksi. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan penelitian untuk
mengatasi permasalahan berkaitan dengan penanganan limbah pendederan intensif
ikan gabus dengan teknologi akuaponik. Tujuan umum penelitian ini adalah
mengevaluasi sistem lingkungan pada pendederan intensif ikan gabus
menggunakan teknologi akuaponik, yang terdiri dari 3 tahap yaitu: 1) Penentuan
padat tebar pada pendederan intensif ikan gabus Channa striata dengan sistem
resirkulasi, 2) Evaluasi penggunaan tanaman sayur pada pendederan intensif ikan
gabus C. striata dengan teknologi akuaponik, 3) Evaluasi peningkatan kapasitas
tanaman selada Lactuca sativa pada pendederan intensif ikan gabus C. striata
dengan teknologi akuaponik.
Penelitian tahap pertama bertujuan menentukan padat tebar ikan gabus
dengan sistem resirkulasi (RAS). Disain penelitian menggunakan rancangan acak
lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan padat tebar yang
digunakan adalah: A). 2 ekor L-1, B). 4 ekor L-1, C). 6 ekor L-1. Ikan yang digunakan
adalah benih ikan gabus (Channa striata) dengan rerata bobot 1.82±0.07 g dan
rerata panjang 6.07±0.10 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TKH, LPS,
pertambahan panjang, pertambahan berat, dan biomassa tertinggi diperoleh pada
kepadatan 4 ekor L-1. Limbah TAN dan nitrat menunjukkan nilai yang signifikan
meningkat pada hari ke-45 dan ke-60. Dari semua perlakuan padat tebar ikan gabus
yang diterapkan dalam RAS ini, terlihat bahwa kelimpahan bakteri amonifikasi,
nitritasi, nitratasi dan denitrifikasi yang berperan dalam siklus N cukup tinggi.
Keberadaan bakteri dalam RAS sangat penting dalam merubah nutrien menjadi
bentuk yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman, yakni NH4
+ dan NO3
-.
Penelitian tahap kedua bertujuan mengevaluasi penggunaan berbagai jenis
tanaman sayur dalam pendederan intensif ikan gabus dengan teknologi akuaponik.
Desain penelitian menggunakan rancangan acak lengkap yaitu penggunaan
teknologi akuaponik, terdiri atas 3 perlakuan jenis tanaman sayur yaitu: selada L.
sativa, caisim Brassica juncea L., dan pakcoy Brassica rapa. Setiap perlakuan
dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali. Ikan yang digunakan berukuran rerata
bobot 1.76±0.34 g dan rerata panjang 5.79±0.47 cm, dengan padat tebar ikan
sebanyak 4 ekor L-1. Penggunaan tanaman selada pada teknologi akuaponik
menunjukkan tingkat kelangsungan hidup tertinggi (90.67%) dan berbeda
signifikan (P<0.05) dibandingan tanaman pakcoy (85.33%) dan caisim (86.33%).
Demikian halnya dengan laju pertumbuhan spesifik, pertambahan panjang dan
bobot mutlak antara penggunaan tanaman selada berbeda signifikan (P<0.05) dan
lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman pakcoy dan caisim. Penggunaan
tanaman selada juga menghasilkan biomassa akhir ikan gabus, retensi nitrogen dan
retensi fosfor yang lebih tinggi serta konversi pakan yang lebih rendah, dan berbeda
signifikan (P<0.05), daripada tanaman pakcoy dan caisim. Efisiensi penyisihan
limbah TAN, nitrit dan nitrat tertinggi pada tanaman selada masing-masing sebesar
38.69%, 6.99% dan 52.07%. Biomassa akhir, retensi N dan retensi P pada tanaman
tertinggi ditunjukkan pada perlakuan selada. Limbah yang dihasilkan dari
pendederan intensif ikan gabus diserap oleh tanaman, dan bakteri berperan dalam
siklus N yang terjadi di dalam teknologi akuaponik, sehingga terjadi keseimbangan
N yang menjaga kualitas air tetap stabil selama masa pemeliharaan.
Penelitian tahap ketiga bertujuan mengevaluasi kapasitas tanaman selada
dalam pendederan intensif ikan gabus dengan teknologi akuaponik. Desain
penelitian menggunakan rancangan acak lengkap yaitu 3 perlakuan biomassa
tanaman selada L. sativa, yaitu: 50 selada m-2, 100 selada m-2, dan 150 selada m-2.
Setiap perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali. Ikan yang digunakan
berukuran rerata bobot 7.36±0.48 g dan rerata panjang 10.02±0.36 cm. Pada tahap
ini, perlakuan 50 selada m-2 menunjukkan hasil performa ikan gabus tertinggi. Hal
ini ditunjukkan oleh hasil tingkat kelangsungan hidup sebesar 94.67%, laju
pertumbuhan spesifik sebesar 1.87%, konversi pakan sebesar 1.92, pertambahan
bobot tubuh sebesar 11.49 g, pertambahan panjang sebesar 3.34 cm, biomassa akhir
sebesar 451 g. Hasil terbaik ini berkaitan dengan efisiensi penyisihan limbah (total
ammonia nitrogen (TAN), nitrit, nitrat dan ortofosfat) di dalam sistem. Efisiensi
penyisihan terbaik diperoleh pada kepadatan 50 selada m-2 untuk konsentrasi TAN,
nitrit, nitrat dan ortofosfat masing-masing sebesar 37.80%, 12.04%, 53.66%,
52.26%. Perhitungan biomassa akhir tanaman selada, retensi N dan retensi P
menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar perlakuan (P>0.05),
namun perlakuan 50 selada m-2 menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan
perlakuan 100 selada m-2 dan 150 selada m-2. Pengamatan terhadap kelimpahan
bakteri siklus N menunjukkan bahwa bakteri amonifikasi diantara semua perlakuan
terlihat sangat tinggi selama penelitian.
Berdasarkan hasil dari ketiga tahap penelitian di atas dapat disimpulkan
bahwa penggunaan padat tebar pada pendederan intensif ikan gabus sebanyak 4
ekor L-1 dan penggunaan tanaman selada sebanyak 50 tanaman m-2 merupakan
keseimbangan optimal yang dapat meningkatkan produktivitas pendederan ikan
gabus
Sifat Kemonotonan pada Darboux Sums
Darboux sums untuk fungsi di , - terbagi menjadi dua yaitu, upper
Darboux sum dan lower Darboux sum. Untuk setiap partisi yang membagi
interval , - menjadi subinterval dengan jarak yang sama, dibentuk
suatu pendekatan dari nilai integral atau luas di bawah kurva yakni, upper
Darboux sum ( ) yang mendekati dari atas kurva dan lower Darboux sum
( ) yang mendekati dari bawah kurva Tujuan penelitian ini adalah
menunjukkan kemonotonan pada barisan { ( )} dan { ( )} tidak umum terjadi
di , -. Setiap di , - dapat dihampiri oleh fungsi linear sesepenggal di
, - sehingga barisan lower Darboux sum { ( )} dan upper Darboux sum
{ ( )} dari secara umum, berturut-turut tidak monoton turun dan naik. Tetapi,
ekor barisan { ( )} dan { ( )} dari berturut-turut bersifat monoton turun
dan naik. Kemudian, untuk kasus monoton naik di , -, sifat di atas juga
berlaku untuk yang juga monoton naik. Demikian pula halnya bila monoton
turun yang dihampiri oleh yang juga monoton turun
Evaluasi Ketahanan Penyakit Bulai Jagung Hibrida (Zea mays. L) di R&D PT Syngenta Kediri
Jagung (Zea mays L.) merupakan tanaman karbohidrat penting selain gandum dan padi. Produksi benih jagung hibrida di Indonesia perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mengurangi impor. Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil jagung adalah melalui program pemuliaan tanaman. R&D PT Syngenta merupakan salah satu perusahaan benih multinasional yang mengembangkan varietas jagung hibrida unggul. Penyakit bulai (downy mildew) merupakan penyakit utama pada tanaman jagung yang sangat penting untuk dikendalikan dengan baik. Magang ini bertujuan ikut berpartisipasi dalam pengembangan inovasi bidang pertanian dengan mengikuti rangkaian kegiatan perakitan varietas jagung hibrida di R&D PT Syngenta, Kediri. Genotipe uji merupakan hibrida Stage-5 PT Syngenta dari program Tropical Rainfed/Highland Tropical Rainfed. Pengamatan dilakukan pada umur 14 HST, 20 HST, 30 HST dan 40 HST. Data insidensi penyakit yang diamati pada umur 40 HST dianalisis menggunakan model rancangan kelompok lengkap teracak faktor tunggal dengan dua ulangan. Insidensi penyakit terbagi menjadi lima kategori, yaitu sangat tahan, tahan, agak rentan, rentan, dan sangat rentan. Pengujian melibatkan tiga genotipe kontrol, yaitu kontrol tahan, kontrol agak tahan, dan kontrol rentan, serta enam varietas kompetitor, dan 28 genotipe uji PT Syngenta Insidensi dengan tingkat keparahan paling rentan (98.5%)terdapat pada genotipe SYN00031. Genotipe ini memiliki rata-rata daya tumbuh 98%, tinggi tanaman 190.75 cm, dan diameter batang 1.54 cm. Genotipe yang sangat tahan adalah SYN00015 dengan tingkat keparahan sebesar 22.5%, daya tumbuh 98%, tinggi tanaman 226.5 cm, dan diameter tanaman 1.70 cm. Setiap genotipe uji memiliki tingkat ketahanan yang berbeda yang ditunjukan dengan insidensi penyakit-nya
Identifikasi Bakteri Burkholderia glumae Penyebab Busuk Bulir Padi dan Perlakuan Benih dengan Asap Cair untuk Pengendaliannya
Penyakit busuk bulir bakteri pada padi disebabkan oleh bakteri Burkholderia glumae. Bakteri ini merupakan patogen yang dapat terbawa benih. Salah satu komponen pengendalian penyakit tanaman adalah mengurangi jumlah inokulum awal melalui perlakuan benih. Asap cair merupakan salah satu alternatif yang potensial dalam perlakuan benih untuk mengeliminasi patogen dari benih. Penelitian ini bertujuan mengisolasi dan mengidentifikasi B. glumae dari benih padi dan mengetahui keefektifan asap cair untuk mengendalikan B. glumae pada benih padi tanpa menurunkan viabilitas benih. Penelitian ini terdiri atas tiga tahapan, yaitu: (1) isolasi dan identifikasi B. glumae pada benih padi berdasarkan karakteristik morfologi dan konfirmasi PCR menggunakan primer spesifik, (2) perlakuan asap cair pada benih padi untuk menentukan treatment window, dan (3) perlakuan asap cair untuk mengeliminasi bakteri terbawa benih pada sampel benih acak, tanpa gejala, dan bergejala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa B. glumae dapat dideteksi pada benih bergejala dan tanpa gejala melalui konfirmasi PCR. Perlakuan asap cair konsentrasi 4% dan 5% dengan lama waktu perendaman 30 menit dapat menurunkan populasi B. glumae hingga 100% pada kondisi in vitro. Perlakuan asap cair pada sampel benih yang diambil secara acak menunjukkan bahwa seluruh tingkat konsentrasi tidak menurunkan viabilitas benih secara signifikan. Daya berkecambah benih tertinggi terdapat pada perlakuan asap cair dengan lama waktu perendaman 45 menit, yaitu >90%. Treatment window menunjukkan bahwa perlakuan asap cair konsentrasi 4% dan 5% dengan lama waktu perendaman 45 menit dapat menurunkan populasi B. glumae secara signifikan tanpa menurunkan viabilitas benih. Hasil treatment window kemudian digunakan untuk mengeliminasi B. glumae pada benih acak, tanpa gejala, dan bergejala. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan asap cair konsentrasi 5% dengan lama waktu perendaman 45 menit dapat menurunkan populasi B. glumae pada seluruh jenis sampel benih hingga 100% pada kondisi in vivo tanpa menurunkan viabilitas benih secara signifikan. Indeks vigor dan daya berkecambah benih dari seluruh sampel benih masih di atas 80%