31665 research outputs found
Sort by
Nilai Eigen, Spektral Norm, dan Determinan dari Matriks Circulant dengan Entri Bilangan Generalized.
Pada karya ilmiah ini akan dibahas tentang matriks circulant yaitu matriks
yang memiliki urutan bilangan sesuai dengan baris pertama. Matriks circulant
memiliki nilai eigen, spektral norm, dan determinan. Karya ilmiah ini bertujuan
mengkaji secara teoritis tentang mencari nilai eigen, spektral norm, dan determinan
dari matriks circulant. Dari hasil pembuktian diperoleh bahwa spektral norm adalah
nilai maximum dari nilai eigen. Sedangkan determinan dipengaruhi oleh perkalian
nilai eigen pada matriks circulant. Selanjutntya diberikan contoh – contoh aplikasi
dengan entri bilangan Generalized Tribonacci dan Generalized Pell untuk
menunjukkan bahwa teorema berlaku
Analisis Keberlanjutan Usahatani Minapadi di Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung.
Kecamatan Pacet merupakan salah satu daerah di Kabupaten Bandung yang
menerapkan konsep usahatani minapadi. Usahatani minapadi menggunakan inputinput
yang berbeda dengan usahatani monokultur karena usahatani ini memerlukan
lebih banyak biaya faktor produksi. Beragam aspek dapat ditinjau dalam penelitian
pada usahatani minapadi, terutama aspek ekonomi karena sangat erat kaitannya
dengan kesejahteraan masyarakat dan manfaat ekologi. Potensi usahatani minapadi
sudah banyak diteliti namun analisis pendapatan dan status keberlanjutan usahatani
tersebut belum diketahui secara lebih rinci. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan:
(1) Menganalisis pola usahatani minapadi. (2) Menganalisis pendapatan pada
usahatani minapadi di Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. (3) Mengetahui
besarnya indeks keberlanjutan usahatani minapadi di Kecamatan Pacet, Kabupaten
Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif,
analisis pendapatan, dan Multi-Dimensional Scalling (MDS). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pola usahatani minapadi pada dasarnya memiliki kesamaan
dengan usahatani monokultur, namun yang membedakannya yaitu pada proses
pengolahan lahan yang terdiri dari kegiatan pembuatan caren untuk tempat tinggal
ikan. Penerimaan yang diperoleh pada usahatani minapadi yaitu sebesar Rp
21.716.560,0 per hektar per musim tanam. Pendapatan atas biaya tunai yang
diperoleh sebesar Rp 9.180.524,1 per hektar per musim tanam dan pendapatan atas
biaya total sebesar Rp 7.888.605,6 per hektar per musim tanam. Nilai R/C rasio atas
biaya tunai sebesar 1,73 dan nilai R/C rasio atas biaya total sebesar 1,57. Nilai
indeks keberlanjutan usahatani minapadi di Kecamatan Pacet adalah 54,88 yang
menunjukkan status cukup berkelanjuta
Sistem Dinamik Penyebaran Penyakit Tuberkulosis dengan Kompartemen Lost Sight
Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberkulosis, yang dapat menyerang berbagai organ terutama paru-paru. Penyakit ini bila tidak diobati atau pengobatannya tidak tuntas dapat menimbulkan komplikasi berbahaya hingga kematian. Penularan tuberkulosis terjadi melalui udara saat penderita aktif tuberkulosis batuk atau bersin. Di seluruh dunia, tuberkulosis masih merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian tertinggi sekaligus merupakan penyebab kematian tertinggi dalam hal infeksi tunggal. Di Indonesia sendiri diperkirakan ada 1.020.000 kasus, namun baru terlaporkan ke Kementerian Kesehatan sebanyak 420.000 kasus. Penanganan kasus tuberkulosis di Indonesia dilakukan dengan beberapa strategi. Dimulai dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-Course) pada tahun 1995-2005, starategi Stop TB (2006-2015), eliminasi TB (2016-sekarang). Salah satu tantangan yang dihadapi dalam pengobatan Tuberkulosis adalah MDR-TB atau multi-drug resistance tuberkulosis yaitu keadaan dimana tubuh menjadi resisten terhadap pengobatan tuberkulosis sehingga semakin memperparah keadaan penderita dan meningkatkan risiko penularan. MDR-TB ini dapat terjadi karena pemberian obat yang tidak tepat atau pasien yang tidak menyelesaikan pengobatan hingga tuntas karena faktor biaya, akses ke fasilitas kesehatan, efek samping obat dan pasien yang merasa tidak perlu melanjutkan pengobatan lagi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk memodelkan penularan tuberkulosis dengan mempertimbangkan kasus penderita yang tidak berobat dengan tuntas. Studi sebelumnya memperkenalkan sebuah model dengan kompartemen multi laten dan lost sight. Sementara studi lain memperkenalkan model penyebaran tuberkulosis dengan vaksinasi. Modifikasi model pada penelitian ini dilakukan dengan menggabungkan kedua model tersebut. Modifikasi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari pengobatan dan kepatuhan pengobatan serta vaksinasi dalam menekan penyebaran penyakit tuberkulosis.
Dari model tersebut ditentukan titik tetap dan bilangan reproduksi dasar dan dilakukan analisis kestabilan. Juga dilakukan simulasi numerik untuk melihat dinamika populasi dan analisis sensitivitas untuk melihat pengaruh masing-masing parameter terhadap nilai ℛ0. Dari analisis yang dilakukan terhadap model diperoleh dua titik tetap, yaitu titik tetap tanpa penyakit dan titik tetap endemik. jika ℛ01 titik tetap endemik bersifat stabil asimtotik lokal. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa parameter yang berpengaruh positif pada nilai ℛ0 adalah γ,��������,��������,��������,��������,��������, dan ��������. Sedangkan parameter yang berpengaruh negatif terhadap kenaikan nilai ℛ0 adalah ����������������,��������,��������,��������,�������� dan ��������. Hasil simulasi menunjukkan kenaikan nilai parameter lost sight (��������) dapat menaikkan nilai harapan terjadinya infeksi. Sedangkan jumlah individu terinfeksi menular dapat menurun dengan adanya terapi yang ditunjukkan oleh parameter ��������
Induksi Pematangan Gonad Belut Sawah Monopterus albus Menggunakan Oodev Melalui Penyuntikan
Permasalahan dalam pengembangan budidaya belut sawah Monopterus
albus adalah memproduksi benih. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi induksi
hormonal menggunakan hormon oodev yang mengandung Pregnant Mare Serum
Gonadothropine (PMSG) dan Antidopamin (AD) untuk merangsang pematangan
gonad belut sawah dalam wadah terkontrol. Rancangan acak lengkap terdiri dari
perlakuan oodev dosis 0,25 mL/Kg induk (A), oodev dosis 0,5 mL/Kg induk (B),
dibandingkan dengan kontrol NaCl 1 mL/Kg induk (K). Setiap perlakuan
menggunakan 18 ulangan individu dengan ukuran panjang 28-29 cm dan bobot
tubuh 17-19 g . Penyuntikan hormon dilakukan secara intramuskular sebanyak
tiga kali dengan selang waktu penyuntikan tujuh hari. Belut dipelihara dalam
media air tanpa substrat dengan salinitas 6 ppt. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa penyuntikan oodev dengan dosis 0,5 mL/Kg induk menghasilkan
kebuntingan 80% dengan indeks gonadosomatik 1,92% atau empat kali lipat lebih
tinggi dibandingkan perlakuan lainnya, indeks hepatosomatik 2,66%, dan tingkat
kelangsungan hidup 65%
Pengolahan Fruit Caviar Buah Jeruk Medan (Citrus sinensis) dengan Teknik Cold Oil Spherification
Pengolahan fruit caviar secara cold oil spherification dilakukan dengan
cara pembentukan sol sari buah melalui pemanasan campuran sari buah dan agaragar
yang homogen pada suhu gelatinisasi agar-agar (>90 oC) kemudian penetesan
ke minyak dingin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kondisi proses
pengolahan dan karakteristik fruit caviar buah jeruk medan dengan teknik cold oil
spherification serta mengevaluasi perubahan karakteristik fruit caviar sebelum
dan setelah penyimpanan selama 24 jam dalam berbagai kondisi penyimpanan.
Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak
Lengkap (RAL) satu faktor (konsentrasi agar-agar 1, 1.2, dan 1.4%) dan RAL
blok dua faktor, yaitu konsentrasi agar-agar (1, 1.2, dan 1.4%) sebagai blok dan
kondisi penyimpanan (penyimpanan dalam chiller pada suhu 7 – 10 oC selama 24
jam dengan kondisi tanpa perendaman, direndam dalam air mineral, dan direndam
dalam larutan asam sitrat 0.5%). Analisis uji organoleptik dilakukan dengan
pendekatan statistik non-parametrik Kruskal Wallis. Fruit caviar segar dengan
konsentrasi agar-agar 1.4% paling disukai panelis berdasarkan uji rating hedonik.
Karakteristik fisik dan kimia pada konsentrasi tersebut memiliki nilai kadar air,
kadar vitamin C, dan total gula berturut-turut sebesar 90.45%, 7.26 mg/100 g, dan
3.28%. Konsentrasi tersebut juga menempati peringkat pertama kesukaan panelis
berdasarkan parameter aroma, rasa, tekstur, dan after taste. Perlakuan yang terbaik
memiliki bentuk bulatan padat stabil dan memiliki aroma, rasa, serta after taste
khas buah jeruk medan
Analisis Pengaruh Bentuk Tajuk Pohon dan Jenis Lantai di bawah Tajuk Pohon terhadap Kenyamanan Termal
Perkembangan kota belakangan ini sudah semakin pesat seiring bertambahnya jumlah penduduk baik penduduk asli maupun penduduk hasil urbanisasi. Hal ini menyebabkan timbul masalah lingkungan, seperti masalah iklim mikro yang dapat mempengaruhi kenyamanan termal saat manusia beraktifitas. Dampak permasalahan iklim mikro dapat dikurangi dengan adanya vegetasi terutama pohon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bentuk tajuk pohon yang berbeda dan jenis lantai di bawah pohon terhadap kenyamanan termal di taman. Terdapat lima spesies pohon yang mewakili bentuk tajuk yang berbeda, yaitu Maniltoa grandiflora (bulat), Ficus benjamina L (kubah), Agathis Dammara Foxw. (kolumnar), Pinus merkusii Jungh (piramidal), Samanea saman (Menyebar). Pengukuran faktor iklim mikro suhu dan kelembaban dilakukan di bawah naungan pohon dan di area terbuka pada ketinggian 1.5 meter di atas permukaan tanah. Data pendukung seperti letak, tinggi, diameter dan kerapatan tajuk pohon diperlukan untuk mengetahui kondisi eksisting. Kenyamanan termal diketahui melalui indeks THI (Temperature Humidity Index). Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang nyata antara bentuk tajuk pohon yang direpresentasi oleh Leaf Area Index (LAI) dengan suhu dan kelembaban. Suhu udara di bawah pohon dengan tajuk bulat lebih rendah, sedangkan kelembaban tinggi dibandingkan pohon dengan bentuk tajuk yang lainnya. Tutupan permukaan berupa rumput di bawah tajuk pohon memiliki suhu udara yang lebih rendah, sedangkan kelembaban lebih tinggi dibandingkan dengan tutupan perkerasan. Semua jenis pohon yang diteliti termasuk dalam kategori tidak nyaman berdasarkan metode THI, namun Maniltoa grandiflora dengan tajuk bulat memiliki nilai THI terendah yaitu 27.9
Analsis Kesejahteraan Keuangan Keluarga Usia Pensiun
BPS memproyeksikan bahwa Indonesia pada tahun 2020-2025 mencapai rata-rata angka harapan hidup 71,5 tahun. Hal ini memiliki arti bahwa jumlah penduduk lansia di Indonesia akan meningkat. Berdasarkan BPS (2017) penduduk yang telah memasuki usia pensiun (≥65 tahun) lebih merasa tidak bahagia dengan indeks kepuasan hidup personal terkait pendidikan, pekerjaan, pendapatan rumah tangga, kesehatan, dan kondisi rumah dibandingkan kelompok usia sebelumnya (20-64 tahun). Selain itu, penduduk di perkotaan (67,88) lebih merasa puas dengan kehidupan personalnya dibandingkan penduduk di perdesaan (63,72). Indeks literasi keuangan di Indonesia pada umumnya masih rendah (29,66) (OJK 2016c). Selain itu, tujuan keuangan masyarakat Indonesia pada umumnya hanya bertujuan jangka pendek. Menurut OJK (2016e), selama lima tahun terakhir jumlah Dana Pensiun mengalami penurunan. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis perbedaan karakteristik individu, karakteristik keluarga, literasi keuangan, perencanaan keuangan hari tua, kepemilikan aset, serta kesejahteraan keuangan keluarga usia pensiun di perkotaan dan perdesaan; 2) menganalisis hubungan karakteristik individu, karakteristik keluarga, literasi keuangan, perencanaan keuangan hari tua, kepemilikan aset, dengan kesejahteraan keuangan keluarga usia pensiun; 3) menganalisis pengaruh karakteristik individu, karakteristik keluarga, literasi keuangan, perencanaan keuangan hari tua, dan kepemilikan aset terhadap kesejahteraan keuangan pada keluarga usia pensiun. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Lokasi penelitian Kota Bandar Lampung sebagai perwakilan wilayah perkotaan dan Kabupaten Pringsewu sebagai perwakilan wilayah perdesaan. Populasi penelitian ini adalah seluruh keluarga usia pensiun yang bertempat tinggal di Kota Bandar Lampung dan Kabupaten Pringsewu. Responden penelitian ini adalah suami atau istri dari keluarga usia pensiun (55-65 tahun), berjumlah 120 orang. Teknik penarikan contoh menggunakan teknik purposive sampling. Data primer dikumpulkan secara langsung menggunakan teknik wawancara kepada contoh dengan bantuan kuesioner terstruktur. Terdapat empat variabel dalam penelitian ini, yaitu literasi keuangan diacu dari Lusardi dan Mitchell (2007), perencanaan keuangan hari tua diacu dari Amelia (2017), kepemilikan aset diacu dari Xiao (1996), dan kesejahteraan keuangan diacu dari Consumer Financial Protection Bureau (CFPB) (2015). Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif, uji beda independent sample t-test, uji korelasi Pearson dan uji regresi linier berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari lima puluh persen responden adalah laki-laki. Tingkat pendidikan ditemukan berbeda statistik, bahwa tingkat pendidikan di perkotaan lebih tinggi (Sarjana) dibandingkan di perdesaan (Sekolah Dasar). Status bekerja ditemukan lebih tinggi di perkotaan lebih tinggi (98,3%) dibandingkan di perdesaan (63,3%). Status pernikahan pada umumnya sekitar 80% berstatus menikah. Besar keluarga tergolong keluarga kecil
(≤4 orang) di kedua wilayah. Berdasarkan rata-rata, pendapatan di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan. Berdasarkan statistik, terdapat perbedaan nyata literasi keuangan, perencanaan keuangan hari tua, kepemilikan aset, dan kesejahteraan keuangan. Indeks literasi keuangan di perkotaan 46,4 lebih tinggi dibandingka di perdesaan dengan indeks 30,4. Responden di perkotaan lebih banyak yang memiliki perencanaan keuangan hari tua (73,3%) dibandingkan responden di perdesaan (26,7%). Rata-rata kepemilikan aset di perkotaan lebih banyak (6 jenis) dibandingkan di perdesaan (4 jenis). Rataan indeks kesejahteraan keuangan di perdesaan lebih rendah (45,5) dibandingkan di perkotaan (63,2). Uji korelasi menunjukkan bahwa literasi keuangan berhubungan signifikan dengan perencanaan keuangan hari tua, kepemilikan aset, dan kesejahteraan keuangan. Perencanaan keuangan hari tua diketahui berhubungan signifikan dengan literasi keuangan, kepemilikan aset, dan kesejahteraan keuangan. Kepemilikan aset berhubungan signifikan dengan literasi keuangan, perencanaan keuangan hari tua, dan kesejahteraan keuangan. Kesejahteraan keuangan juga diketahui berhubungan signifikan dengan literasi keuangan, perencanaan keuangan hari tua, dan kepemilikan aset. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan, literasi keuangan, perencanaan keuangan hari tua, dan kepemilikan aset berpengaruh positif signfikan terhadap kesejahteraan keuangan keluarga usia pensiun. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, saran yang dapat diberikan adalah: 1) masyarakat sebaiknya untuk menghadapi masa pensiun dan memeroleh kesejahteraan keuangan meningkatkan literasi keuangan dan perencanaan keuangan hari tua; 2) Literasi keuangan dan perencanaan keuangan hari tua yang kurang baik dapat ditingkatkan melalui bantuan penyuluhan atau edukasi dari LSM serta lembaga terkait; 3) Pemerintah atau instansi terkait diharapkan dapat memberikan program untuk peningkatan kesejahteraan keuangan untuk pensiunan seperti program investasi untuk pensiun; 4) Penelitian selanjutnya dapat dikembangkan lebih lanjut seperti difokuskan pada jenis pekerjaan dan pengembangan lebih lanjut untuk variabel kepemilikan aset
Hubungan Konsentrasi Kontaminan 3-MCPD dalam Makanan Siap Saji Hasil Penggorengan/Pemanggangan dengan Komposisi Kimianya.
Senyawa 3-monokloropropana-1,2-diol (3-MCPD) merupakan salah satu
jenis kloropropanol yang bersifat karsinogenik dan banyak ditemui dalam
makanan siap saji hasil penggorengan atau pemanggangan. Pembentukan senyawa
3-MCPD pertama kali diidentifikasi dalam proses pembuatan hydrolyzed
vegetable protein (HVP) dari kedelai dengan cara hidrolisis asam. Namun
selanjutnya diketahui pula bahwa 3-MCPD ditemukan dalam berbagai makanan
yang tidak mengandung HVP hasil hidrolisis asam. Peningkatan kadar
kontaminan 3-MCPD pada makanan disebabkan oleh adanya lemak dan garam
selama proses pemanasan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk
mengevaluasi pengaruh komposisi kimia dalam makanan siap saji hasil
penggorengan/pemanggangan terhadap konsentrasi 3-MCPD.
Makanan siap saji yang digunakan dalam penelitian ini merupakan sampel
komposit dari tiga porsi makanan yang diperoleh dari tiga rumah makan berbeda
di satu daerah untuk satu menu makanan. Terdapat sebanyak 60 sampel makanan
siap saji dari 30 menu yang diperoleh dari dua daerah berbeda yaitu Bogor dan
Jakarta sebagai ulangan sampel. Analisis 3-MCPD dilakukan dengan metode GCMS
menggunakan sistem matrix solid phase dispersion (MSPD) dan
diderivatisasi dengan pereaksi heptafluorobutyric anhydride (HFBA) pada tahap
persiapan sampelnya. Analisis komposisi kimia yang dilakukan meliputi kadar air
dengan metode gravimetri menggunakan oven, kadar abu dengan metode
gravimetri menggunakan tanur, kadar protein dengan metode Kjeldahl, kadar
lemak dengan metode Soxhlet, kadar karbohidrat dengan metode by difference,
dan kadar NaCl dengan metode Mohr. Evaluasi hubungan konsentrasi 3-MCPD
dalam makanan siap saji dengan komposisi kimianya dilakukan menggunakan
Partial Least Squares (PLS) pada aplikasi XLSTAT dan Principle Component
Analysis (PCA) pada aplikasi SIMCA. Keseluruhan data yang dianalisis
didasarkan pada bobot kering sampel. Konsentrasi 3-MCPD yang tidak terdeteksi
dalam sampel makanan siap saji dalam analisis statistiknya dihitung sebagai
konsentrasi setengah dari nilai limit deteksi metode yaitu 6 ng/g basis basah.
Sampel makanan siap saji memiliki konsentrasi 3-MCPD dan komposisi
kimia yang beragam. Berdasarkan basis basahnya, konsentrasi 3-MCPD berkisar
antara n.d.–523 ng/g dengan sampel steak sapi yang memiliki konsentrasi 3-
MCPD tertinggi, kadar air sampel berkisar antara 4.82–70.59%, kadar abu sampel
berkisar antara 1.03–3.93%, kadar protein sampel berkisar antara 2.53–34.57%,
kadar lemak sampel berkisar antara 5.14–37.53%, kadar karbohidrat sampel
berkisar antara 0.45–48.83% dan kadar NaCl sampel berkisar antara 0.18–2.74%.
Berdasarkan basis keringnya, konsentrasi 3-MCPD berkisar antara n.d.–1269
ng/g, kadar air sampel berkisar antara 5.07–244.93%, kadar abu sampel berkisar
antara 2.10–8.76%, kadar protein sampel berkisar antara 4.28–76.15%, kadar
lemak sampel berkisar antara 11.05–62.86%, kadar karbohidrat sampel berkisar
antara 0.98–76.07% dan kadar NaCl sampel berkisar antara 0.33–4.58%.
Perbandingan antara nilai tengah dari konsentrasi 3-MCPD dengan komposisi
kimia dalam makanan siap saji belum dapat menunjukkan pengaruh yang
signifikan sehingga data dievaluasi menggunakan Partial Least Squares (PLS)
dan Principle Component Analysis (PCA).
Hasil PLS menunjukkan kadar air, kadar abu, kadar protein, dan kadar
lemak memiliki korelasi yang positif terhadap konsentrasi 3-MCPD dalam
makanan. Sebaliknya, kadar karbohidrat dan kadar NaCl memiliki korelasi yang
negatif terhadap konsentrasi 3-MCPD dalam makanan. Berdasarkan hasil analisis
PCA diketahui bahwa konsentrasi 3-MCPD memiliki hubungan yang relatif kuat
dengan kadar protein dan lemak dalam makanan. Makanan yang memiliki kadar
protein dan lemak yang tinggi serta menunjukkan konsentrasi 3-MCPD yang
tinggi pula diantaranya adalah tempe goreng, telur goreng, sate ayam, dan sate
kambing. Selain itu dapat diketahui pula bahwa konsentrasi 3-MCPD juga
memiliki hubungan yang relatif kuat dengan kadar air karena berada dalam satu
kuadran yang sama
Sistem Manajemen Pengetahuan Perlindungan Anak (Studi Kasus: Sakti Peksos di Kementerian Sosial).
Menurut Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Indonesia merupakan salah satu negara yang telah meratifikasi Konvensi Hak Anak melalui Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990. Hal ini merupakan perwujudan atas upaya perlindungan terhadap anak, agar tumbuh kembang anak menjadi lebih baik. Sebagaimana yang diamanatkan UUD 1945 setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Dalam kenyataannya masih banyak anak-anak yang belum terpenuhi hak-haknya dalam mendapatkan perlindungan, dan mengalami berbagai masalah yang menyebabkan terampasnya hak-hak anak. Kementerian sosial merupakan salah satu lembaga pemerintah yang memiliki tugas merespon permasalahan kekerasan terhadap anak. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, Kementerian sosial menugaskan Pekerja Sosial (Sakti Peksos) untuk melakukan pendampingan terhadap anak yang mengalami tindak kekerasan. Sakti Peksos adalah tenaga kesejahteraan sosial anak yang ditunjuk dan diangkat oleh Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak sebagai pendamping anak dan ditempatkan pada Dinas Sosial Kabupaten/Kota di Indonesia. Sebelum melaksanakan tugas pendampingan, Sakti Peksos diberikan pembekalan pengetahuan berupa bimbingan teknis oleh Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak dan Pedidikan dan Pelatihan (Diklat) perlindungan anak yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejateraan Sosial (BBPPKS) Regional I-VI yang ada di Indonesia.
Hasil observasi dan wawancara awal yang dilakukan kepada Sakti Peksos, pasca Diklat yang telah dilakukan di BBPPKS Regional I Sumatera, ternyata masih banyak dari Sakti Peksos mengalami kesulitan dalam penanganan kasus anak di lapangan. Penyebabnya adalah (1) kurangnya pendidikan dan pelatihan dalam penanganan masalah, terutama masalah yang belum pernah mereka kenal; (2) adanya Sakti Peksos yang mengundurkan diri atau rotasi penugasan dari satu wilayah ke wilayah yang lain menyebabkan hilangnya pengetahuan dari Sakti Peksos yang telah berpengalaman, sebelum pengetahuan tersebut dapat disimpan dan didokumentasikan dengan baik; (3) minimnya kesempatan berbagi pengetahuan dan pengalaman antara Sakti Peksos yang sudah memiliki pengetahuan dengan yang masih baru. Hal ini disebabkan karena saling sibuk menangani kasus ataupun rentan jarak wilayah penugasan yang jauh sehingga menjadi penghambat untuk melakukan transfer knowledge.
Hal ini menyebabkan pentingnya melakukan pengelolaan terhadap pengetahuan yang ada, maka tujuan penelitian ini adalah mengembangan sistem manajemen pengetahuan perlindungan anak bagi Sakti Peksos di Kementerian Sosial yang didasarkan pada penerapan aplikasi berbasis web. Web dapat mempermudah Sakti Peksos dalam mengelola pengetahuan secara online berdasarkan pengalaman yang mereka miliki agar dapat dibagikan kepada Sakti
iii
Peksos yang lain. Penelitian ini dilakukan dengan mengadopsi metode Knowledge Management System Life Cycle (KMSLC). Ada empat tahapan yang diterapkan dalam penelitian ini yaitu: (1) menangkap pengetahuan; (2) mendesain blueprint sistem manajemen pengetahuan; (3) melakukan proses verifikasi dan validasi sistem manajemen pengetahuan; (4) mengimplementasikan sistem manajemen pengetahuan. Hasil dari penelitian ini adalah terciptanya sistem manajemen pengetahuan perlindungan anak dengan menggunakan motode yang diadopsi dari KMSLC. Metode perancangan sistem menggunakan pendekatan berorientasi objek, yang diimplementasikan menggunakan framework CakePHP dengan bahasa pemrograman PHP didukung dengan Relational Database Management System (RDBMS) MySQL. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem berfungsi dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Saran untuk pengembangan penelitian selanjutnya, pengetahuan yang dibuat tidak hanya dalam bentuk tulisan namun dapat berbentuk visual seperti video tutorial tentang bagaimana tahapan penanganan kasus anak yang telah ditangani dan disesuaikan dengan etika pekerja sosial
Faktor-faktor yang Memengaruhi Keputusan Pembelian Generasi Z Muslim Terhadap Produk Kosmetik Berlabel Halal MUI (Studi Kasus Kota Bogor).
Seluruh produk yang masuk, beredar dan diperdagangkan di wilayah
Indonesia harus terjamin kehalalannya dan memiliki sertifikat halal tidak
terkecuali produk kosmetik. Kosmetik saat ini telah digunakan oleh remaja wanita
atau generasi Z. Produk kosmetik yang beredar di Indonesia sangat banyak tetapi
tidak semua memiliki label halal MUI. Pada tahun 2018 jumlah produk kosmetik
yang sudah berlabel halal hanya sebanyak 2 115 produk dari 49 557 produk
kosmetik yang telah mendapat izin edar dari BPOM. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengidentifikasi karakteristik generasi Z dan mengetahui faktorfaktor
yang memengaruhi keputusan pembelian generasi Z muslim terhadap
produk kosmetik berlabel halal. Penelitian dilakukan di Kota Bogor dengan
mengambil sampel sebanyak 70 responden dengan menggunakan teknik
purposive sampling. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini
adalah analisis regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
pengetahuan halal, halal awareness, dan media sosial berpengaruh positif
signifikan terhadap keputusan pembelian generasi Z muslim terhadap produk
kosmetik berlabel halal