31665 research outputs found
Sort by
Gambaran Kondisi Kesehatan Anjing Pelacak Narkoba dan Pelacak Umum Melalui Analisis Nilai Blood Urea Nitrogen dan Kreatinin.
Unit K-9 Direktorat Polisi Satwa Kepolisian Republik Indonesia (Polri)
memanfaatkan indra pembau anjing yang sangat baik untuk menjadi pelacak
narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) dan pelacak umum. Pelatihan
kelompok anjing pelacak narkoba (caknar) dan pelacak umum (cakum) yang
intensif berisiko menyebabkan penurunan status kesehatannya. Uji biokimia darah
dengan nilai blood urea nitrogen (BUN) dan kreatinin dilakukan untuk
mengetahui kondisi kesehatan ginjal kelompok anjing caknar dan cakum. Data
diperoleh dengan mengoleksi sampel darah dari 24 ekor anjing yang terdiri dari
kelompok anjing caknar dan cakum diambil dan diukur menggunakan instrumen
Dialab Photometer DTN-410® dengan parameter urea dan kreatinin. Data
kuantitatif yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif
pada Microsoft Excel 2010. Hasil yang diperoleh adalah rataan nilai BUN
kelompok anjing caknar adalah 45.75 ± 9.523 dan nilai BUN kelompok anjing
cakum adalah 50.2 ± 7.598. Nilai ini melewati batas normal. Rataan nilai kreatinin
kelompok anjing caknar adalah 1.16 ± 0.108 dan rataan nilai kreatinin kelompok
anjing cakum adalah 1.0067 ± 0.098. Nilai ini termasuk dalam rentang normal,
namun cenderung tinggi. Nilai BUN yang tinggi disebabkan oleh pemberian
pakan yang tinggi protein (32%) dan tidak dilatih dengan proporsi yang sesuai.
Nilai BUN yang tinggi dapat diasosiasikan dengan pre-renal azotemia,
menurunnya fungsi imun tubuh, stress oksidatif, dan heart failure. Semua
kelompok anjing mengalami pre-renal azotemia atau kenaikan konsentrasi nilai
BUN dan kreatinin
Analisis Keragaman Genetik 24 Genotipe Kakao Lokal Berdasarkan Marka InDel Berbasis Genom
InDel merupakan salah satu marka molekuler yang memiliki potensi dalam
menganalisis keragaman genetik. Tujuan dalam penelitian ini adalah menguji
kemampuan 19 primer InDel dalam menganalisis keragaman genetik 24 genotipe
kakao lokal. Hasil skoring pita-pita hasil ampifikasi DNA kakao menunjukkan dari
19 primer IDCc, 18 primer bersifat polimorfis dan 1 primer monomorfis (IDCc 7.2).
Nilai rata-rata polymorphism information content (PIC) dari 19 primer IDCc yang
digunakan cukup rendah (0.369), frekuensi alel utama sebesar 0.665, jumlah alel
terdeteksi sebesar 2.563, diversitas gen sebesar 0.435, dan heterozigositas sebesar
0.050. Primer IDCc dengan nilai PIC terbaik terdapat pada primer IDCc 8.2 (0.624),
IDCc 9.1 (0.531), dan IDCc 10.1 (0.549). Analasis filogenetik 24 genotipe kakao
lokal menghasilkan tiga kelompok pada koefisien kemiripan sebesar 0.56,
kelompok pertama terdapat 7 genotipe, kelompok kedua 16 genotipe, dan kelompok
ketiga terdapat 1 genotipe. Jarak terjauh dimiliki oleh genotipe TSH 858 dan DRC
16. Semakin jauh jarak genetik setiap genetik, maka potensi untuk dijadikan sebagai
tetua dalam pemuliaan tanaman semakin besa
Kinerja Microbial Fuel Cell Pembangkit Biolistrik dengan Variasi Rasio Luas Elektroda dan Volume Limbah Cair Perikanan.
Limbah cair perikanan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan jika tidak
dikelola dengan baik. Pengolahan limbah cair perikanan secara konvensional
memerlukan biaya dan energi yang cukup tinggi. Microbial fuel cell (MFC) dapat
membangkitkan energi listrik dari penguraian bahan organik pada limbah dengan
memanfaatkan mikroorganisme. Penelitian dilakukan menggunakan MFC satu
bejana dengan rasio luas elektroda dan volume limbah cair perikanan yang berbeda
yaitu 1:80 cm2/cm3, 1:40 cm2/cm3 dan 1:8 cm2/cm3. Tegangan listrik tertinggi
terdapat pada perlakuan rasio 1:80 cm2/cm3 sebesar 428.98 mV. Arus listrik
tertinggi terdapat pada perlakuan 1:40 cm2/cm3 sebesar 3.26 mA. Rapat daya listrik
tertinggi terdapat pada perlakuan 1:40 cm2/cm3 sebesar 1 185.87 mW/m2. Nilai
chemical oxygen demand (COD) mengalami penurunan sebesar 62% pada
perlakuan rasio 1:8 cm2/cm3 dan biochemical oxygen demand (BOD) mengalami
penurunan sebesar 42% pada perlakuan rasio 1:80 cm2/cm3. Nilai mixed liquor
suspended solids (MLSS) dan mixed liquor volatile suspended solids (MLVSS)
mengalami peningkatan sebesar 1 471% dan 1 725% pada perlakuan rasio 1:40
cm2/cm3. Nilai pH mengalami meningkat menjadi 7.5-8.4. Nilai total amonia
nitrogen (TAN) mengalami penurunan sebesar 89-93%
Analisis Karakteristik Infiltrasi Tanah Berbagai Tekstur di Perkebunan Kelapa Sawit (Studi Kasus di PT. Bumitama Gunajaya Agro, Kalimantan)
Produksi kelapa sawit dipengaruhi oleh ketersediaan air tanah. Ketersediaan air bagi tanaman dipengaruhi oleh laju peresapan air ke dalam tanah (infiltrasi), sehingga perlu adanya pengkajian mengenai infiltrasi dan pengaruh sifat-sifat tanah terhadap infiltrasi. Penelitian berlokasi di Area 3, 5 dan 6 kebun sawit PT. Bumitama Gunajaya Agro. Penetapan kapasitas infiltrasi dilakukan dengan alat double ring infiltrometer bulan Januari-Februari 2019, sedangkan penetapan sifat fisika dan kimia tanah dilakukan dengan pengambilan contoh tanah utuh dan terganggu yang dianalisis di laboratorium Balai Penelitian Tanah Bogor dan Departemen Riset Bumitama Gunajaya Agro Group Kotawaringin Timur. Tanah Spodosol memiliki kapasitas infiltrasi konstan tertinggi sebesar 8,67 cm/jam yang tergolong kelas sedang-cepat, sedangkan tanah Inseptisol sebesar 4,5 cm/jam tergolong sedang dan tanah Ultisol sebesar 4 cm/jam tergolong sedang. Perbedaan kapasitas infiltrasi konstan disebabkan oleh perbedaan karakteristik tanah. Tingginya kapasitas infiltrasi konstan pada tanah Spodosol dipengaruhi oleh tekstur yang didominasi oleh fraksi pasir, sehingga terciptanya pori drainase (PD) yang lebih tinggi dibandingkan tanah lainnya. Kapasitas infiltrasi konstan tanah Inseptisol sedikit lebih tinggi dibandingkan tanah Ultisol yang dipengaruhi oleh kadar bahan organik. Kadar bahan organik yang tinggi pada tanah Inseptisol menciptakan pori drainase lebih tinggi dibandingkan tanah Ultisol. Hasil analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa pori drainase (PD) berpengaruh sangat nyata terhadap permeabilitas pada taraf kepercayaan 99% dengan model : Permeabilitas = 0,51PD – 6,12; R = 0,63, sedangkan permeabilitas (P) berpengaruh sangat nyata terhadap kapasitas infiltrasi konstan pada taraf kepercayaan 99% dengan model : Kapasitas Infiltrasi Konstan = 0,16P + 4,79; R = 0,24
Arahan dan Strategi Pengembangan Komoditas Perkebunan Rakyat untuk Pengembangan Wilayah di Kabupaten Aceh Barat
Salah satu sumber pendapatan daerah Kabupaten Aceh Barat diperoleh dari subsektor perkebunan. Subsektor perkebunan memberikan kontribusi besar terhadap PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Kabupaten Aceh Barat. Nilai tambah dari subkategori PDRB menurut lapangan usaha perkebunan yaitu sebesar 39.85%, namun pengembangan perkebunan saat ini diharapkan mampu meningkatkan perekonomian wilayah dan kesejahteraan untuk petani, maka diperlukan arahan dan strategi pengembangan komoditas perkebunan rakyat. Tujuan utama penelitian ini adalah menyusun arahan dan strategi rencana pengembangan wilayah berbasis komoditas unggulan perkebunan rakyat di Kabupaten Aceh Barat. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh yang mencakup seluruh kecamatan yang ada yaitu 12 kecamatan selama 10 bulan mulai bulan September 2018 sampai Juli 2019. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah, analisis Location Quotient (LQ) dan Shift Share Analysis (SSA). Lahan berpotensi untuk pengembangan komoditas unggulan dianalisis menggunakan sistem informasi geografis. Kelayakan usaha tani pengembangan komoditas unggulan perkebunan menggunakan analisis finansial. Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana wilayah dianalisis menggunakan metode skalogram. Arahan pengembangan komoditas perkebunan rakyat didasarkan atas lahan yang tersedia dan sesuai, kelayakan usaha tani, dan tingkat ketersediaan sarana dan prasarana wilayah. Strategi pengembangan komoditas unggulan perkebunan rakyat ditentukan menggunakan analisis A’WOT. Hasil penelitian menujukkan bahwa komoditas unggulan utama untuk perkebunan rakyat di Kabupaten Aceh Barat yaitu tanaman karet, kelapa, kelapa sawit. Tanaman karet terdapat di Kecamatan Woyla Timur dan Sungai Mas. Tanaman kelapa terdapat di Kecamatan Kaway XVI dan Pante Ceureumen sedangkan tanaman kelapa sawit terdapat di Kecamatan Johan Pahlawan, Samatiga dan Panton Reu. Berdasarkan lahan berpotensi dialokasikan untuk tanaman karet di Kecamatan Woyla Timur seluas 603 ha dan Sungai Mas seluas 38 ha. Tanaman kelapa di Kecamatan Kaway XVI seluas 3,990 ha dan Pante Ceureumen seluas 3,677 ha sedangkan untuk tanaman kelapa sawit di Kecamatan Johan Pahlawan seluas 2,833 ha, Samatiga seluas 6,133 ha dan Panton Reu seluas 913 ha. Ketiga komoditas unggulan tersebut layak untuk diusahakan.
Arahan pengembangan komoditas tersebut diarahkan pada Kecamatan Johan Pahlawan, Samatiga, Panton Reu, Woyla Timur, Kaway XVI, Pante Ceureumen dan Sungai Mas sedangkan yang menjadi prioritas I diarahkan pada Kecamatan Johan Pahlawan dengan komoditas unggulan kelapa sawit, prioritas II diarahkan pada Kecamatan Samatiga dan Kaway XVI dengan komoditas unggulan kelapa sawit dan karet sedangkan prioritas III diarahkan pada Kecamatan Pante Ceureumen dengan komoditas unggulan kelapa, Panton Reu dengan komoditas unggulan kelapa sawit, Woyla Timur dan Sungai Mas dengan komoditas unggulan karet. Strategi pengembangan komoditas perkebunan rakyat
di Kabupaten Aceh Barat adalah dengan Strength-Opportunities melalui perluasan jaringan pemasaran serta membangun pabrik-pabrik agar terciptanya nilai tambah dari hasil perkebunan yang ada saat ini
Efek Pemberian Minyak Ikan Lele (Clarias gariepinus) yang diperkaya Omega 3 terhadap Penanda Stres Oksidatif pada Lansia.
Usia lanjut merupakan rentang usia yang secara alami mengalami
penurunan fungsi fisiologis tubuh. Proses penuaan akan terjadi seiring dengan
meningkatnya usia, termasuk bertambahnya senyawa radikal bebas di dalam
tubuh. Salah satu masalah kesehatan yang sering dialami kelompok lansia adalah
dislipidemia. Stres oksidatif yang terjadi pada kondisi dislipidemia karena
produksi ROS (reactive oxygen species) akan meningkatkan produk hasil
peroksidasi lipid, yaitu LDL teroksidasi (oxidized-LDL) dan F2-Isoprostan. Ikan
lele dumbo merupakan salah satu jenis ikan budidaya yang banyak dikembangkan
oleh masyarakat Indonesia. Salah satu pemanfaatan ikan lele adalah minyak ikan
lele yang ditujukan untuk kesehatan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengkaji
efek pemberian minyak ikan lele (Clarias gariepinus) yang diperkaya omega 3
terhadap penanda stres oksidatif (LDL teroksidasi dan F2-isoprostan) pada
kelompok lanjut usia. Desain penelitian yang digunakan adalah
randomized-controlled trial (RCT) secara single blind dan melibatkan 29 subjek
lansia. Penelitian dilakukan pada Juni 2016-Januari 2017, dengan lama intervensi
selama 90 hari di pos pembinaan terpadu (Posbindu) lansia Kelurahan Ciherang,
Dramaga Bogor.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kapsul lunak (softgel)
berisi minyak kedelai dan minyak ikan lele serta vitamin E dengan bobot bersih
1000 mg/kapsul. Untuk minyak ikan lele yang diperkaya omega 3, sebelum
mengalami proses kapsulasi, minyak ditambahkan omega 3 sebanyak 8.8 g/100 g
minyak ikan lele. Dosis konsumsi yang diberikan yaitu sebanyak 1 kapsul/hari
selama 90 hari. Perlakuan yang diterapkan dalam penelitian ini sebanyak 3
kelompok, yaitu : kelompok kontrol (minyak kedelai, MIK), kelompok minyak
ikan lele (MIL) dan kelompok minyak ikan lele + omega 3 (MIL+omega 3).
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data primer yaitu data
karakteristik subjek, status gizi, aktivitas fisik, asupan makanan, profil lipid
(kolesterol total, trigliserida, LDL dan HDL), F2-isoprostan dan LDL teroksidasi
(ox-LDL). Pengumpulan data karakteristik subjek diperoleh melalui wawancara
langsung dengan menggunakan kuesioner, status gizi menggunakan indeks massa
tubuh (IMT) dan mini nutritional assessment (MNA), aktivitas fisik menggunakan
metode PAL, serta asupan makanan menggunakan metode food recall 2x24 jam.
Pengukuran profil lipid dilakukan menggunakan metode enzymatic colorimetric
test dan LDL teroksidasi serta F2-isoprostan diukur dengan metode enzyme-linked
immunosorbent assay (ELISA).
Subjek yang terlibat dalam penelitian ini sebagian besar berjenis kelamin
perempuan, baik dari kelompok MIK (80%), MIL (90%) dan MIL+omega 3
(66.67%). Sebagian besar subjek berada pada rentang usia 60-74 tahun dan
menyelesaikan pendidikan akhirnya pada tingkat sekolah dasar (51.72%).
Sebagian besar subjek tidak bekerja (72.41%), sebanyak 68.96% berstatus cerai
mati, mayoritas subjek berasal dari suku Sunda (75.86%) serta sebagian besar
subjek lebih banyak tinggal bersama anak (62.07%). Sebagian besar subjek
memiliki status gizi normal (51.72%) berdasarkan indeks massa tubuh dan status
gizi baik (93.10%) berdasarkan mini nutritional assessment. Sebagian besar
subjek memiliki tingkat aktivitas ringan. Indeks massa tubuh memiliki korelasi
negatif dengan aktivitas fisik subjek (p=0.018; r=-0.437) dan memiliki korelasi
positif dengan kolesterol subjek (p=0.020, r=0.430).
Intervensi minyak ikan lele yang diperkaya omega 3 secara keseluruhan
meningkatkan asupan zat gizi subjek. Perlakuan minyak ikan lele yang diperkaya
omega 3 (MIL+omega 3) secara signifikan dapat menurunkan kadar kolesterol
total subjek sebesar -39,67 mg/dl (p<0.05), menurunkan kadar trigliserida sebesar
-4.67 mg/dl, menurunkan kadar LDL sebesar -14.11 mg/dl serta mempertahankan
kadar HDL subjek pada kondisi normal (≥40 mg/dl). Perlakuan minyak ikan lele
yang diperkaya omega 3 dapat menurunkan kadar ox-LDL subjek secara
signifikan yaitu sebesar -374,07 pg/ml (p<0.05) serta dapat menahan laju
peningkatan F2-isoprostan pada subjek
Aktivitas Antioksidan dan Bioaktivitas Kombinasi Fraksi Polifenol Daun Syzygium polyanthum dengan Guazuma ulmifolia.
Senyawa polifenol dalam daun salam (Syzygium polyanthum (Wight.) Walp.) dan daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lam.) berkhasiat sebagai antioksidan alami dan berkorelasi positif dengan aktivitas antikanker yang menunjukkan adanya bioaktivitas. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas antioksidan kombinasi fraksi polifenol daun salam (SLM) dengan jati belanda (JBL) dan potensi bioaktivitasnya. Tiga kombinasi komponen digunakan dalam penelitian ini, yaitu: SLM=JBL (A), SLMJBL (C). Fraksi polifenol diperoleh melalui fraksinasi ekstrak kasar etanol dengan n-heksana dan kloroform. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH) pada λ 516 nm. Potensi bioaktivitas ditentukan dengan Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) melalui analisis Probit. Semua kombinasi memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat (IC50 ≤ 50 μg/mL) dengan nilai IC50 18.05 μg/mL (C), 24.61 μg/mL (A), dan 40.56 μg/mL (B). Peningkatan kekuatan antioksidan berbanding lurus dengan peningkatan jumlah salam dalam kombinasi. Semua kombinasi bersifat sitotoksik dan memiliki potensi bioaktivitas (LC50<1000 μg/mL) dengan rentang nilai LC50 antara 55.05-153.76 μg/mL
Pengukuran Similaritas Penyakit Daun Jabon Berbasis Discrete Wavelet Packet Transform Menggunakan Metode Template Matching
Jabon (Anthocephalus sp.) adalah salah satu spesies pohon tropis yang sering
dikembangkan di hutan tanaman industri karena memiliki karakteristik
pertumbuhan yang cepat. Namun usaha budidaya jabon menghadapi kendala
berupa penyakit daun yang mengganggu jabon di persemaian, yaitu bercak daun
dan hawar. Untuk menentukan pencegahan dan pengendalian yang tepat, perlu
dilakukan identifikasi penyakit pada daun jabon. Namun terdapat tiga kendala yang
membuat identifikasi secara manual menjadi sulit dilakukan, yaitu terdapat
kemiripan ciri antar penyakit, terdapat keberagaman jenis gejala pada suatu
penyakit, dan dapat ditemukan lebih dari satu gejala pada satu daun. Dengan
bantuan pengolahan citra digital, proses identifikasi ini dapat menjadi lebih mudah.
Metode ekstraksi fitur Discrete Wavelet Packet Transform dipilih karena cocok
menganalisis karakteristik gejala penyakit yang beragam. Selain itu, metode
Template Matching dipilih karena dapat mengidentifikasi gejala penyakit yang
berbeda pada suatu daun. Penelitian ini sudah dapat mengidentifikasi gejala
penyakit berserta lokasinya pada citra daun dengan akurasi sebesar 87.40%
Karakteristik Fisik dan Kimia Produk Samping Ulat Hongkong sebagai Bahan Pakan Alternatif
Produk samping ulat hongkong terdiri atas sisa pakan, kotoran dan kulit ulat
hongkong. Penelitian ini bertujuan untuk menguji karakteristik fisik dan kimia,
derajat keasaman (pH) dan kelarutan produk samping ulat hongkong sebagai
bahan pakan alternatif. Penelitian menggunakan 2 perlakuan dan 3 kelompok,
yaitu berdasarkan kapasitas produksi besar, kecil dan sedang. Perlakuan penelitian
ini adalah pemisahan sisa kulit ulat hongkong yaitu, P1 : produk samping ulat
hongkong sebelum pemisahan sisa kulit dan P2 : produk samping ulat hongkong
sesudah pemisahan sisa kulit. Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan
uji T test. Peubah yang diamati adalah kelarutan total dan protein, derajat
keasaman, kualitas kimia dan kualitas fisik produk samping ulat hongkong. Hasil
penelitian menunjukkan proses pemisahan sisa kulit berpengaruh nyata (P<0.05)
terhadap nilai peubah yang diamati. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
pemisahan sisa kulit ulat hongkong dapat memperbaiki kualitas fisik dan kimia
produk samping ulat hongkong. Produk samping ulat hongkong sesudah
pemisahan memiliki ukuran partikel berkisar antara 379.90 ± 1.15 μm – 385.97 ±
1.15 μm dan Bulk Density antara 652.22 kg m-3 – 662.93 kg m-3. Secara kimia,
produk samping ulat hongkong memiliki kadar abu 12.15% - 15.39%, kadar
protein kasar 11.73% - 14.40%, kadar lemak kasar 0.92% - 3.72%, kadar serat
kasar 15.16% - 18.69% dan kadar BETN 51.46% - 57.65%. Berdasarkan
komposisi tersebut, maka produk samping ulat hongkong dapat digunakan sebagai
pakan ternak khususnya untuk ternak ruminansia
Pengaruh Perlakuan Air Panas Terhadap Mortalitas dan Kerusakan Morfologi Nematoda Aphelenchoides besseyi Christie
Aphelenchoides besseyi merupakan nematoda parasit penting padi dan bersifat terbawa benih. A. besseyi dikenal sebagai penyebab penyakit pucuk putih (white tip) dengan gejala batang kerdil dan nekrotik ujung daun berwarna putih. Salah satu pengendalian yang dapat dilakukan yaitu perlakuan secara fisik dengan perendaman benih dalam air panas. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perlakuan air panas terhadap mortalitas dan kerusakan morfologi nematoda. Benih yang digunakan untuk diekstraksi yaitu varietas Pak Tiwi-1. Perlakuan air panas dimulai dengan melakukan uji pendahuluan terhadap suhu 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, dan 59 °C dengan tiga ulangan selama 20 menit tiap perlakuan. Setelah menemukan suhu optimum dilakukan uji waktu optimum dengan masing-masing waktu perlakuan yaitu 5, 10, dan 15 menit dengan ulangan sebanyak 3 kali. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap dengan analisis ragam dan jika berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Tukey (α=5%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perendaman air panas terhadap nematoda pada suhu 53 °C selama 20 menit efektif dalam menurunkan populasi A. besseyi, dengan mortalitasnya 100% tanpa mengganggu viabilitas benih. Pengaruh perendaman terhadap kerusakan morfologi terlihat meningkat mulai suhu 45 °C hingga 59 °C, terjadi lisis pada dinding tubuh, stilet, bulbus median, saluran esofagus, alat kelamin, anus, dan mukro