31665 research outputs found
Sort by
Kualitas Semen Beku Ikan Mas (Cyprinus carpio) dalam Berbagai Jenis Pengencer.
Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan salah satu ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi di Indonesia. Produksi ikan mas dapat ditingkatkan dengan teknik inseminasi buatan. Inseminasi buatan dapat dilakukan melalui semen segar, semen cair ataupun semen beku yang telah dikriopreservasi. Faktor yang memengaruhi keberhasilan kriopreservasi adalah jenis pengencer yang digunakan. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan kualitas semen beku ikan mas pada tiga jenis pengencer semen. Sebanyak 7 ekor induk jantan ikan mas dikoleksi semen segarnya dengan cara stripping. Semen segar dievaluasi secara makroskopis dan mikroskopis. Semen dibagi ke dalam 3 tabung dan masing-masing diencerkan dengan pengencer A, B dan C yang mengandung DMSO 15%. Semen yang telah diencerkan dikemas ke dalam straw 0.25 mL, diekuilibrasi selama 30 menit dan dibekukan dalam uap nitrogen cair selama 10 menit. Semen yang telah beku disimpan dalam kontainer nitrogen cair untuk pengujian lebih lanjut. Semen beku dievaluasi dengan cara melakukan thawing selama 30 detik dalam air hangat (37 oC). Evaluasi semen beku dilakukan terhadap motilitas, lama hidup, dan recovery rate (RR) sperma. Data dianalisis secara statistik menggunakan analisis varian (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95%. Pengencer semen beku ikan mas yang terbaik adalah pengencer B dengan nilai motilitas sperma 65.26 ± 1.73%, RR sebesar 78.07% dengan lama hidup 746 ± 70 detik paling tinggi (p < 0.05) dibandingkan dengan dua pengencer lainnya. Pengencer B merupakan pengencer terbaik untuk semen beku ikan mas. Pengencer B secara nyata dapat mempertahankan motilitas dan meningkatkan lama hidup semen beku ikan mas lebih baik dari pengencer A dan pengencer C
Deteksi Ion Timbal(II) dengan Teknik Stripping Voltammetry pada Elektrode Karbon Termodifikasi Biofilm Lysinibacillus fusiformis
Timbal merupakan salah satu pencemar lingkungan yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Tujuan penelitian ini adalah memodifikasi screen printed carbon electrode (SPCE) menggunakan biofilm Lysinibacillus fusiformis serta mengevaluasi kinerjanya dalam deteksi ion logam Pb2+ dengan teknik stripping voltammetry. Bakteri dibiakkan dalam media agar padat dan diuji menggunakan metode cakram. Bakteri L. fusiformis memiliki zona bening terkecil dan menunjukkan paling tahan akan larutan ion Pb2+. SPCE digunakan sebagai tempat pelekatan biofilm. Kondisi pengukuran yang digunakan ialah 0.1 M bufer asetat pH 4.5 pada jendela potensial -1200 hingga -200, potensial deposisi -1300 mV (vs Ag/AgCl), waktu deposisi 120 s, dan kecepatan payar 100 mV/s. Linearitas diperoleh dengan nilai R2 sebesar 0.992. Arus puncak yang dihasilkan linear terhadap konsentrasi ion logam
Analisis Kesetimbangan Sumber (Source) dan Rosot (Sink) Gas Rumah Kaca (GRK) di Kota Bogor
Penelitian tentang Analisis Kesetimbangan Sumber (Source) dan Rosot (Sink) Gas Rumah Kaca (GRK) di Kota Bogor ini sebagai upaya untuk menerapkan kebijakan pengurangan emisi GRK yang diamanatkan oleh Protocol Kyoto. Negara Indonesia telah meratifikasi Protocol Kyoto to the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC) melalui penetapan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2004 tentang Pengesahan Protokol Kyoto Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa bangsa tentang Perubahan Iklim. Protokol Kyoto memuat kewajiban bagi negara industri maju mengurangi emisi GRK. Perwujudan komitmen Indonesia terhadap kebijakan GRK dilaksanakan melalui penyelenggaraan inventarisasi GRK Nasional berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional. Kebijakan tersebut mengamanatkan setiap pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota) termasuk Pemerintah Kota Bogor wajib melaksanakan inventarisasi GRK. Hal ini sejalan dengan pedoman inventarisasi GRK (IPCC 2006) bahwa inventarisasi GRK dilakukan dari tingkat bawah (bottom up).
Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi sumber (source) emisi dan rosot (sink) GRK di Kota Bogor; (2) menganalisis kesetimbangan sumber emisi dan rosot GRK di Kota Bogor melalui perhitungan kuantitas emisi dan rosot GRK yang tersedia; (3) merumuskan langkah-langkah strategis dalam upaya mitigasi dan adaptasi GRK di Kota Bogor. Penelitian dilakukan melalui 4 tahap kegiatan utama, yaitu (1) identifikasi sumber emisi dan rosot GRK; (2) kuantifikasi nilai emisi dan rosot GRK; (3) perhitungan total emisi dan rosot GRK; (4) kajian strategi mitigasi emisi dan adaptasi dampak GRK.
Hasil studi penelitian ini menunjukkan bahwa sumber emisi dan rosot GRK di Kota Bogor disebabkan oleh 3 sektor utama, yaitu sektor pengadaan dan penggunaan energi, sektor pertanian kehutanan dan penggunaan lahan lainnya, serta sektor limbah dengan total emisi GRK adalah 1.81 Mt (2014), 1.81 Mt (2015) dan 1.39 Mt (2016) sedangkan total rosot GRK 0.15 Mt (2014), 0.13 Mt (2015) dan 0.13 Mt (2016). Dari hasil analisis kesetimbangan sumber emisi dan rosot GRK di Kota Bogor pada tahun 2014-2016 diperoleh sebesar 1.66 Mt (2014), 1.68 Mt (2015) dan 1.25 Mt (2016) emisi GRK yang tidak dapat diserap oleh rosot. Berdasarkan hasil analisis kesetimbangan sumber emisi dan rosot GRK tersebut selanjutnya dirumuskan upaya mitigasi emisi dan adaptasi dampak GRK di Kota Bogor
Deteksi Kualitatif Cronobacter spp. Menggunakan PCR Simpleks.
Cronobacter spp adalah patogen bawaan pangan oportunistik yang telah dikaitkan dengan kasus meningitis, necrotizing enterocolitis dan bacteremia pada bayi kelompok tertentu melalui susu formula yang tercemar. Keberadaan Cronobacter spp dalam pangan umumnya dideteksi secara kultur konvensional dan uji biokimia. Deteksi tersebut memerlukan waktu lama dan media khusus yang relatif mahal, oleh karena itu, metode deteksi yang lebih cepat banyak dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) simpleks untuk mendeteksi Cronobacter spp. dengan target gen yang diharapkan cukup spesifik yaitu hfq, ompA dan grxB. DNA C. sakazakii diisolasi dengan metode Chelex 100, diamplifikasi dengan satu dari tiga primer untuk target gen hfq, ompA dan grxB yang berturut-turut menghasilkan amplikon dengan ukuran 309 bp, 1099 bp dan 378 bp. Spesifisitas yang baik dihasilkan oleh primer HFQ yang mengamplifikasi gen hfq dan primer CGB untuk target gen grxB. Primer HFQ dan CGB hanya mengamplifikasi DNA dari Cronobacter sakazakii dan tidak mengamplifikasi non-Cronobacter. Optimasi kondisi running PCR dilakukan dengan memvariasikan suhu annealing pada 50 °C dan 52 °C untuk HFQ; 52 °C, 55 °C dan 57 °C untuk CGB dan konsentrasi primer 0.5 μM, 0.3 μM dan 0.1 μM. Kondisi yang dipilih yaitu suhu annealing 52 °C dan konsentrasi primer 0.1 μM. Metode deteksi PCR simpleks dilakukan dengan kondisi denaturasi pada suhu 95 °C selama satu menit, annealing pada suhu 52 °C selama satu menit dan ekstensi pada suhu 72 °C selama satu menit. Limit deteksi PCR menggunakan primer HFQ dan CGB adalah DNA dengan konsentrasi 0.1 ng/μL
Pengaruh Sertifikasi Terhadap Kinerja Usahatani Kopi Lintong Sumatera Utara.
Kesadaraan konsumen kopi akan mutu kopi semakin meningkat.
Konsumen domestik dan internasional mulai meyakini bahwa kopi yang
berkualitas adalah kopi yang memiliki sertifikat. Oleh karena itu sertifikasi kopi
merupakan strategi penting untuk dapat meningkatkan ekspor kopi Indonesia.
Sumatera utara merupakan penghasil kopi arabika terbesar di Indonesia. Salah
satu jenis kopi arabika dari Sumatera Utara yang telah dikenal secara mendunia
yaitu Kopi Lintong yang berasal dari Kabupaten Humbang Hasundutan. Pada
kabupaten Humbang Hasundutan terdapat penerapan sertifikasi kopi C.A.F.E.
(Coffee and Farmer Equity) Practices.
C.A.F.E. Practices merupakan kerjasama yang dijalin antara Starbuck dan
Conservation International (CI) untuk mengembangkan dan menerapkan tata
kelola lingkungan yang berkelanjutan, pedoman sosial dan ekonomi untuk
mendapatkan kopi yang berkualitas. Insentif petani yang mengikuti sertifikasi
akan mendapatkan harga yang lebih baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk:
(1) manganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keikutsertaan petani dalam
sertifikasi, (2) Menganalisis pengaruh sertifikasi terhadap kinerja usahatani Kopi.
Penelitian ini dilakukan menggunakan data primer dengan jenis data cross section.
Total jumlah petani kopi yang menjadi sampel penelitian ini 162 petani dengan
kriteria 81 petani yang mengikuti sertifikasi dan 81 petani yang tidak mengikuti
sertifikasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini untuk mencapai tujuan
pertama adalah regresi logit dan metode propensity score matching (PSM) untuk
mencapai tujuan kedua. PSM dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
psmatch2 dan metode the nearest neighbor.
Berdasarkan analisis Logit faktor umur petani, luas lahan, jumlah
tanggungan keluarga dan pendapatan selain kopi secara signifikan mempengaruhi
keikutsertaan petani kopi dalam sertifikasi. Petani dengan umur yang lebih muda
cenderung lebih memilih mengikuti sertifikasi. Petani yang memiliki lahan kopi
yang lebih luas lebih memilih mengikuti sertifikasi. Petani dengan jumlah
tanggungan yang lebih banyak memilih mengikuti sertifikasi. Petani dengan
pendapatan selain kopi yang lebih besar memilih mengikuti sertifikasi.
Pengaruh sertifikasi berdasarkan analisis psmatch2 dengan metode the
nearest neighbor setelah balancing test didapat bahwa sertifikasi meningkatkan
biaya variabel sebesar Rp 4.154 juta/ha/thn, meningkatkan produktivitas sebesar
0.103 ton/ha/thn serta meningkatkan pendapatan kopi sebesar Rp 2.37 juta/ha/thn.
Hasil uji statistik menunjukkan sertifikasi meningkatkan biaya variabel secara
signifikan, sedangkan peningkatan produktivitas kopi dan pendapatan kopi tidak
signifikan. Implikasi kebijakan yang dapat diambil adalah peningkatan harga kopi
sertifikasi untuk dapat meningkatkan motivasi petani dalam menerapkan budidaya
berkelanjutan dan menutupi biaya variabel yang meningkat dikarenakan
sertifikasi
Keawetan Bambu Lapis Andong yang Direndam Menggunakan Kapur 7.5% dengan Modifikasi Core Kayu Sengon
Bambu lapis dari bambu andong yang telah diawetkan dengan larutan kapur 7.5% dengan modifikasi core menggunakan kayu sengon berpotensi untuk dikembangkan karena memiliki sifat fisis dan mekanis yang telah memenuhi standar JAS 234:2003. Akan tetapi bambu lapis ini belum diketahui ketahanannya terhadap rayap kayu kering dan rayap tanah di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketahanan bambu lapis dengan modifikasi core dan orientasi serat terhadap serangan rayap kayu kering Cryptotermes cynocephalus secara laboratorium, terhadap serangan rayap tanah pada uji lapang, dan mengetahui jenis rayap tanah yang menyerang serta sebarannya pada uji lapang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bambu lapis termasuk dalam kelas awet I terhadap serangan rayap kayu kering dengan nilai kehilangan berat sebesar 0.26 – 0.58 %, sementara itu bambu lapis memiliki keawetan yang rendah berdasarkan hasil uji lapang yaitu 100% contoh uji terserang rayap dengan nilai 0 (rusak). Jenis rayap yang ditemukan menyerang contoh uji adalah Odontotermes sp., Microtermes sp., Macrotermes sp., dan Capritermes sp
Kajian Peluang Implementasi Produksi Bersih pada Industri Kertas di PT X.
Kajian peluang implementasi produksi bersih di industri kertas perlu dilakukan untuk meminimalkan limbah yang dihasilkan dan meningkatkan pemanfaatan limbah. Penelitian ini mengkaji peluang implementasi produksi bersih melalui identifikasi tahapan proses, identifikasi permasalahan, identifikasi peluang produksi bersih, analisis kelayakan alternatif dari aspek teknis, lingkungan dan finansial serta pemilihan prioritas peluang produksi bersih dengan Metode Perbandingan Eksponensial (MPE). Proses yang terjadi pada pembuatan sack kraft yaitu proses penyiapan bahan, pembentukan lembaran, pengepresan, pengeringan, penggulungan dan pemotongan. Skala produksi sack kraft pada kasus ini adalah menggunakan 110 ton afval kardus per hari yang rata-rata menghasilkan sack kraft 90.742 ton, kertas gagal 3.65 ton, sisiran 2.443 ton, kertas cacat 4.915 ton dan 8.25 ton limbah padat. Berdasarkan hasil penelitian teridentifikasi permasalahan yaitu sering terjadi jam henti mesin, mesin mengalami kerusakan, terbentuknya limbah padat yang belum termanfaatkan, kertas gagal, sisiran kertas dan kertas cacat. Alternatif yang direkomendasikan adalah pembuatan pelet sebagai subtitusi bahan bakar (PBP 0.1 tahun dan B/C ratio 8.31), pembuatan dan pelatihan Standar Operasional Prosedur (SOP) maintenance mesin (PBP 3.9 tahun dan B/C ratio 1.3), dan pelatihan Good Manufacturing Practice (GMP) (PBP 0.63 tahun dan B/C ratio 2.58). Urutan penilaian prioritas peluang produksi bersih menggunakan MPE yaitu pembuatan dan pelatihan SOP maintenance mesin, pelatihan GMP dan pembuatan pelet sebagai substitusi bahan bakar
Fisiologi reproduksi pada pematangan gonad dan pemijahan siput gonggong (Laevistrombus turturella) dari Tanjungpinang di wadah budidaya
Siput gonggong adalah sejenis siput laut Kelas Gastropoda, Famili
Strombidae, Genus Laevitrombus, yang terkenal di Kepulauan Riau (Kepri)
sebagai makanan laut (seafood) bercita rasa enak dan mengandung protein yang
tinggi sekitar 46.65%. Harga siput gonggong hidup yang berukuran 27–32 ekor
per kilogram adalah Rp 35,000. Permintaan siput gonggong diperkirakan terus
meningkat seiring dengan pertambahan penduduk Tanjungpinang dari 202,215
orang pada tahun 2015 menjadi 205,735 orang di tahun 2016. Kenaikan
permintaan siput gonggong menyebabkan eksploitasi terhadap siput ini semakin
intensif dilakukan. Eksploitasi intensif menimbulkan tekanan terhadap populasi
siput ini sehingga stok siput gonggong di alam diperkirakan menyusut. Tidak
menutup kemungkinan suatu saat siput gonggong akan sulit ditemukan Kepri.
Upaya produksi siput gonggong melalui budidaya dan pelestarian di alam perlu
dilakukan. Upaya budidaya siput gonggong dihadapkan pada terbatasnya
informasi tentang aspek reproduksi siput ini. Keberhasilan budidaya siput
gonggong ditentukan oleh penguasaan pengetahuan dan teknologi reproduksinya.
Berdasarkan pada tahapan kegiatan pembenihan biota akuatik, maka penelitian ini
dirancang sesuai dengan alur tersebut yang diawali dengan identifikasi spesies
siput gonggong Madong-Tanjungpinang untuk kepastian taksonomi.
Tujuan umum penelitian ini adalah mengkaji fisiologi pematangan gonad
dan pemijahan siput gonggong melalui rekayasa hormonal untuk produksi benih
siput gonggong. Hasil penelitian ini dapat menyediakan informasi guna
pengembangan IPTEK budidaya siput gonggong. Penelitian ini dibagi menjadi
empat tahap, yaitu: (1) identifikasi spesies siput gonggong berdasarkan morfologi
dan karakterisasi profil genotipe siput gonggong Madong-Tanjungpinang, (2)
mengevaluasi perkembangan gonad siput gonggong yang diberi perlakuan
stimulasi hormon 17β-estradiol, (3) mengembangkan teknik penentuan jenis
kelamin siput gonggong dengan paparan suhu air yang berbeda, dan mengevaluasi
pemijahan siput gonggong (L. turturella) secara semibuatan dengan induksi
kombinasi hormon LHRH-a dan antidopamin pada induk, dan (4) mengevaluasi
paparan suhu air yang berbeda terhadap perkembangan embrio dan larva siput
gonggong (L. turturella).
Penelitian tahap pertama bertujuan untuk mengidentifikasi spesies siput
gonggong Madong-Tanjungpinang berdasarkan morfologi cangkang dan
genotipenya. Morfologi cangkang yang diamati antara lain adalah bentuk
penebalan bibir luar cangkang, takik/notch dan pengukuran morfometrik
cangkang. Morfologi cangkang siput gonggong yang diukur mengadopsi metode
morfometrik Cob. Identifikasi mengacu pada MolluscBase/WoRMS
(www.marinespecies.or.com). Genotipe siput gonggong dianalisis menggunakan
gen parsial histon H3. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa gonggong Madong-
Tanjungpinang termasuk spesies Laevistrombus turturella, dengan kerabat
terdekat adalah Strombus canarium. Genotipe gonggong Madong-Tanjungpinang
tersusun atas 343-378 bp basa penyusun sekuen gen histon H3.
Penelitian tahap kedua bertujuan untuk mendapatkan siput gonggong
matang gonad melalui manipulasi hormonal. Percobaan pada evaluasi
perkembangan gonad siput gonggong dengan stimulasi 17β-estradiol dilakukan
dengan tiga analisis, yaitu: analisis konsentrasi estradiol hemolimfa dengan
metode ELISA, karakterisasi berat molekul vitelogenin hemolimfa menggunakan
SDS-PAGE, dan pemeriksaan histologi gonad. Hasil percobaan menunjukkan
bahwa pemberian suntikan larutan 17β-estradiol pada siput gonggong (L.
turturella) menstimulasi perkembangan gonad siput gonggong yang dibuktikan
dengan ukuran diameter oosit gonad, nilai pertumbuhan bobot gonad total dan
GSI gonggong perlakuan suntikan larutan17β-estradiol (P3) lebih besar dibanding
perlakuan lainnya. Analisis SDS-PAGE menunjukkan hemolimfa gonggong
memiliki beberapa jenis protein dengan berat molekul bervariasi. Vitelogenin
siput gonggong diprediksi memiliki berat molekul 54-55 kDa.
Penelitian tahap ketiga bertujuan mendapatkan kriteria ukuran induk siput
gonggong Madong-Tanjungpinang matang gonad, penentuan jenis kelamin, serta
memijahkan induk dengan stimulasi kombinasi hormon LHRH-a dan
antidopamin, sebagai upaya pemijahan secara terkontrol dalam rangka
pembenihan spesies ini. Analisis kriteria ukuran induk gonggong Madong-
Tanjungpinang dilakukan menggunakan uji student t-test. Penentuan jenis
kelamin induk dilakukan dengan paparan suhu yang berbeda, yaitu 15 °C, 20 °C
dan 30 °C. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan uji Kruskal
Wallis. Percobaan evaluasi pemijahan siput gonggong (L. turturella) secara
semibuatan dengan induksi kombinasi hormon LHRH-a dan antidopamin pada
induk pilihan dilakukan dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan
terdiri atas: tanpa suntikan hormon, dosis 0.57μL/g bobot tubuh lunak (BB),
0.7μL/g BB dan 0.9μL/g BB. Data jumlah induk yang memijah dan jumlah telur
yang dikeluarkan induk dianalisis dengan ANOVA dan uji Duncan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ukuran panjang cangkang induk gonggong jantan
dan betina asal Madong-Tanjungpinang berbeda nyata (P<0.05), masing-masing
adalah 63.45±5.35 mm dan 66.95±5.88 mm. Penentuan jenis kelamin induk dapat
dipercepat dengan paparan suhu air sebesar 20 °C. Pemberian suntikan kombinasi
hormon LHRH-a dan antidopamin dengan dosis berbeda menunjukkan bahwa
dosis hormon yang rendah 0.5μL/g BB (P1) menghasilkan persentase jumlah siput
gonggong yang memijah 34.48%, lebih tinggi daripada dosis 0.7μL/g BB (P2,
27.59%), dosis 0.9 μL/g BB (P3, 20.69%), dan tanpa suntik (TS, 17.24%). Jumlah
telur yang dikeluarkan induk adalah 10.874-63.489 butir/ekor, dan rerata
39.347±16.667 butir/ekor. Waktu latensi paling cepat adalah 0.42 hari pada dosis
0.7 μL/g BB, dan paling lambat sebelas hari pada perlakuan 0.5 μL/g BB dan 0.9
μL/g BB.
Penelitian tahap keempat bertujuan mendapatkan suhu air yang optimal
untuk perkembangan embrio dan larva siput gonggong. Percobaan dilakukan
dengan rancangan acak lengkap tiga perlakuan dan dua ulangan. Paparan suhu
yang digunakan terdiri atas: suhu 27 °C, 29 °C dan 31 °C. Hasil percobaan
menunjukkan bahwa paparan suhu air 31 °C memberikan hasil tercepat untuk
perkembangan embrio dan larva gonggong (L. turturella)
Karakteristik Pasien dengan Risiko Malnutrisi pada Awal Masuk Rawat Inap Dewasa di RSPAD Gatot Soebroto
Malnutrisi rumah sakit merupakan keadaan kekurangan, kelebihan, atau ketidakseimbangan energi atau zat gizi pada pasien yang dirawat di rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik pasien rawat inap dewasa yang berisiko malnutrisi dan mengidentifikasi gambaran faktor-faktor determinan dari pasien rawat inap dewasa yang berisiko malnutrisi. Penelitian berlangsung pada Maret – Juni 2019 dengan jumlah subjek 124 orang. Hasil penelitian menunjukkan secara umum subjek menderita penyakit non-infeksi 87.1%, status gizi normal 58.1%, tidak memiliki riwayat penyakit dahulu 54%, tidak memiliki riwayat penyakit keluarga 59.7%, dan memiliki riwayat rawat inap 57.3%. Uji hubungan dengan Chi-Square memperlihatkan tidak terdapat hubungan antara jenis penyakit, riwayat penyakit, riwayat penyakit keluarga, riwayat rawat inap, tingkat kecukupan protein dan tingkat kecukupan lemak terhadap risiko malnutrisi (p>0.05). Sebaliknya status gizi, tingkat kecukupan energi, dan tingkat kecukupan karbohidrat berhubungan secara signifikan dengan risiko malnutrisi (p<0.05)
Strategi Peningkatan Kinerja dan Keberlanjutan Rantai Pasok Agroindustri Kopi Robusta di Kabupaten Tanggamus
Agroindustri kopi Robusta terbesar kedua di Indonesia terletak di Provinsi
Lampung dengan jumlah produksi sebesar 18.35% (Kementerian Pertanian 2016).
Produksi agroindustri kopi Robusta di Lampung 96% berasal dari perkebunan
rakyat (Direktorat Jenderal Perkebunan 2016). Provinsi Lampung adalah
penghasil kopi Robusta kedua di Indonesia dengan volume produksi sebesar 110
325 ton pada tahun 2017 (BPS Kabupaten Tanggamus 2018). Kegiatan rantai
pasok agroindustri kopi Robusta di Kabupaten Tanggamus melibatkan beberapa
stakeholder didalamnya yaitu, petani, pengumpul, dan KUB. Keberlanjutan rantai
pasok tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan keuntungan dan kinerja pelaku
rantai pasok , tetapi secara bersamaan meminimasi dampak ekonomi, sosial,
lingkungan dan teknologi dalam rangka memenuhi permintaan konsumen serta
mewujudkan kesejahteraan yang ramah lingkungan.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis mekanisme rantai
pasok, menganalisis nilai tambah, mengukur kinerja dan indeks keberlanjutan
rantai pasok agroindustri kopi Robusta serta merancang strategi peningkatan
kinerja dan keberlanjutan rantai pasok pada agroindustri kopi Robusta. Hasil
identifikasi rantai pasok menghasilkan struktur rantai pasok kopi Robusta di
Kabupaten Tanggamus terdiri dari petani, pengepul, kelompok usaha bersama
(KUB), dan eksportir. Ruang lingkup penelitian membahas aliran barang produk,
aliran keuangan dan aliran informasi pada stakeholder antara pelaku petani,
pengepul dan KUB.
Nilai tambah rantai pasok pada aktor rantai pasok dianalisis dengan metode
Hayami dengan beberapa modifikasi penyesuaian variabel dan satuan hitung nilai
tambah. Berdasarkan analisis hasil kuesioner dan survei di lapangan, rasio nilai
tambah yang diperoleh petani adalah 45.59%, pengepul 70.30%, dan KUB
85.34%. Hal ini membuktikan rasio nilai tambah pada KUB lebih tinggi daripada
pengepul dan petani. Rasio nilai tambah yang tinggi pada KUB juga dapat
dipengaruhi oleh input dan kegiatan produksi yang di lakukan. Terdapat 14 metrik
kinerja dengan lima atribut kinerja yang ditetapkan untuk mengukur kinerja rantai
pasok agroindustri kopi Robusta. Hasil pembobotan metrik pengukuran kinerja
rantai pasok yang penting untuk diperhatikan berdasarkan pendapat pakar melalui
teknik SCOR-AHP. Melalui hasil perhitungan kinerja, maka kondisi kinerja
petani berada pada kondisi kurang, pengepul dalam kondisi sedang dan KUB
masuk dalam kategori sedang. Hasil pengukuran kinerja menunjukkan bahwa
kinerja rantai pasok kopi perlu ditingkatkan dengan memperhatikan metrik kinerja
yang rendah pada tingkat pelaku petani, yaitu waktu siklus budidaya dan
pengiriman. Penilaian status keberlanjutan rantai pasok kopi Robusta dihitung
melalui empat dimensi keberlanjutan, yaitu eknomi, sosial, lingkungan, dan
teknologi. Indikator dalam dimensi keberlanjutan terdapat 24 indikator yang
dihitung melalui pendekatan Rapcoffee dan penggunaan software R. Berdasarkan
penilaian pakar, telah diperoleh nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi
sebesar 77.39%, hasil ini mengindikasikan bahwa status keberlanjutan
berdasarkan aspek ekonomi adalah hampir berkelanjutan. Berdasarkan analisis
leverage menunjukkan bahwa dari enam indikator yang dianalisis terdapat dua
indikator sensitif terhadap keberlanjutan dimensi ekonomi, yaitu (1) responsif
terhadap pelanggan (1.40) dan (2) efisiensi biaya (0.98).
Dimensi sosial memiliki enam indikator yang dinilai dalam keberlanjutan.
Status keberlanjutan yang paling tinggi terdapat pada indikator dalam penegakan
hukum sengketa lahan dan ketenagakerjaan, masing-masing mempunyai nilai 1.32
dan 1.31. Nilai ini menunjukkan bahwa kedua indikator ini sangat penting dalam
mendukung proses keberlanjutan dimensi sosial pada rantai pasok kopi Robusta.
Status berkelanjutan dimensi lingkungan berada pada status hampir berkelanjutan
dengan nilai 78.62. Indikator yang paling berpengaruh adalah pengolahan limbah
dan konsumsi energi dengan nilai masing-masing 1.37 dan 1.36. Analisis
Indikator keberlanjutan teknologi pada dimensi teknologi menunjukkan hasil
hampir berkelanjutan dengan nilai 66.67. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi
yang digunakan dalam agroindustri kopi Robusta belum menggunakan teknologi
yang modern.
Penilaian status keberlanjutan dilakukan dengan agregasi indeks
keberlanjutan yang telah diperoleh pada empat dimensi keberlanjutan, yaitu
dimensi ekonomi, sosial, teknologi, dan lingkungan. Agregasi indeks
keberlanjutan rantai pasok kopi Robusta dilakukan berdasarkan rata-rata indeks
keberlanjutan dari keempat dimensi. Adapun nilai rata-rata indeks keberlanjutan
untuk keempat dimensi adalah sebesar 77.71. Nilai ini mengindikasikan bahwa
secara keseluruhan, status keberlanjutan rantai pasok kopi Robusta di Kabupaten
Tanggamus berada pada status hampir berkelanjutan. Peningkatan kinerja dan
keberlanjutan rantai pasok kopi Robusta dirumuskan dengan beberapa alternatif
strategi yang di usulkan dan belum terstruktur untuk kemudian dapat dibobotkan
berdasarkan pendapat para pakar yang dinilai dapat mempresentasikan kondisi
yang paling prioritas dari setiap alternatif strategi tersebut.
Teknik pengolahan AHP diperuntukkan untuk mengetahui alternatif strategi
keberlanjutan melalui metode perbandingan berpasangan pada setiap hierarkinya.
Aternatif strategi yang dihasilkan menurut yang paling di prioritaskan adalah
membangun kemitraan petani dengan agroindustri, kemudian penerapan dan
pengawasan GAP (Good Agricultural Practices) dan GHP (Good Handling
Practices) komoditi kopi, lalu pemberdayaan kelompok tani untuk pengolahan
pulp kopi Robusta menjadi produk bernilai tambah, dan penerapan dan
pengawasan refraksi harga kopi berdasarkan kualitas