Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Pengaruh Suhu, Kelembaban, dan Kecepatan angin terhadap Fluktuasi Konsentrasi SO2 dan NO2 (Studi Kasus : Kampus IPB Baranangsiang)

    No full text
    Faktor meteorologi merupakan faktor penting yang akan mempengaruhi proses transformasi dan transportasi polutan di atmosfer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor meteorologi dan konsentrasi polutan di udara ambien. Studi kasus dilakukan di Kampus IPB Baranangsiang. Metode penelitian ini adalah analisa data sekunder dengan plotting data faktor meteorologi (suhu udara, kelembaban dan kecepatan angin) dan data konsentrasi polutan (SO2 dan NO2) untuk mendapatkan pola fluktuasi, analisis korelasi dan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan memiliki pengaruh terhadap konsentrasi polutan. Konsentrasi polutan tinggi pada saat curah hujan yang rendah tetapi konsentrasi polutan rendah pada saat curah hujan tinggi. Hal ini disebabkan hujan sebagai unsur pencuci udara. Pada bulan Februari dan Agustus suhu dan kecepatan angin berbanding lurus terhadap konsentrasi pencemar SO2. Artinya semakin tinggi suhu dan kecepatan angin maka konsentrasi SO2 akan semakin tinggi dan untuk konsentrasi pencemar NO2 berbanding terbalik. Artinya semakin tinggi suhu dan kecepatan angin maka konsentrasi NO2 akan semakin rendah. Sedangkan untuk variabel kelembaban udara, didapatkan hasil bahwa kelembaban udara berbanding terbalik terhadap konsentrasi SO2. dan berbanding lurus dengan konsentrasi NO2

    Produksi Senyawa Metabolit Sekunder Tanaman Pegagan (Centella asiatica) pada Kondisi Cekaman Salinitas dan Kekeringan

    No full text
    Pegagan (Centella asiatica) adalah tanaman herbal tradisional yang telah dilaporkan memiliki berbagai aktivitas farmakologis, diantaranya antipenuaan, antikanker, antibakteri, antioksidan, antidiabetes, antijamur, antiinflamasi, mempercepat penyembuhan luka, dan pengobatan Alzheimer. Banyaknya aktivitas farmakologis tersebut disebabkan oleh tingginya kadar metabolit sekunder golongan triterpena dalam pegagan. Senyawa metabolit sekunder tersebut, yaitu madekasosida (MD), asiatikosida (AS), asam madekasat (AM), dan asam asiatat (AA). Cekaman adalah kondisi perubahan lingkungan yang tidak menguntungkan dan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Cekaman salinitas dan kekeringan merupakan cekaman abiotik yang paling memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Umumnya respons tersebut dapat diukur dari biomassa dan kandungan metabolit sekundernya. Cekaman yang sengaja diberikan pada suatu tanaman diharapkan dapat meningkatkan jumlah metabolit sekunder dalam tanaman tersebut sebagai respons pertahanan diri. Penelitian bertujuan menganalisis pengaruh cekaman salinitas dan kekeringan terhadap biomassa dan kadar senyawa metabolit sekunder golongan triterpena tanaman pegagan (C. asiatica). Penelitian dilakukan melalui beberapa tahap, meliputi penanaman, pemanenan dan pengukuran biomassa tanaman, ekstraksi, dan analisis KCKT. Media yang digunakan untuk penanaman adalah tanah andosol dan kompos dengan perbandingan 1:1 (v/v). Perlakuan yang diberikan yaitu kapasitas lapang (KL) 50 dan 100% serta kadar garam (KG) 1 000; 2 000; dan 3 000 ppm sehingga diperoleh 6 perlakuan. penyiraman dilakukan 2 hari sekali dan disesuaikan dengan kondisi tanaman. Kontrol diberikan dalam bentuk 60% KL tanpa cekaman garam. Tanaman dipanen pada umur 8 pekan setelah tanam. Pengukuran dilakukan terhadap produksi biomassa berupa bobot basah dan kering keseluruhan tanaman. Biomassa tertinggi diperoleh ketika tanaman diberi perlakuan 50% KL dan KG 1 000 ppm karena merupakan perlakuan yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Biomassa terendah diperoleh pada perlakuan dengan cekaman paling ekstrem, yakni 50% KL dan KG 3 000 ppm. Tanaman merespons kondisi tersebut dengan mengurangi pemanfaatan energi untuk pertumbuhan dan perkembangan sehingga energi tersebut dapat digunakan untuk penyesuaian kondisi ekstrem. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut metanol. Ekstraksi terhadap seluruh bagian tanaman pegagan menghasilkan rendemen 12.62−13.80%. Persentasi rendemen yang dihasilkan telah memenuhi syarat mutu herba pegagan menurut Depkes RI (2009), yakni rendemen tidak kurang dari 7.20%. Analisis kadar senyawa triterpena dilakukan menggunakan metode KCKT. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar MD dan AS tertinggi diperoleh pada kondisi 100% KL dan KG 1 000 ppm. Perlakuan tersebut merupakan perlakuan dengan cekaman paling “ringan” dan kondisi paling optimum tanaman untuk menghasilkan MD dan AS tertinggi. MD dan AS merupakan senyawa triterpena glikosida. Pada perlakuan lain yang lebih ekstrem, gula digunakan sebagai osmoprotektan, yakni senyawa hidrofilik yang diproduksi secara alami oleh tanaman untuk melindungi sel dari cekaman kekeringan dan salinitas. Penggunaan gula sebagai osmoprotektan mengakibatkan kadar MD dan AS pada cekaman lain menjadi lebih rendah. Kadar AM dan AA pada semua perlakuan tidak jauh berbeda dan relatif rendah. AM dan AA merupakan hasil dari hidrolisis AS dan MD. Suasana air yang hampir sama pada perlakuan yang diberikan mengakibatkan kadar AM dan AA yang dihasilkan tidak berbeda jauh

    Evaluasi Penambahan Daun Pepaya Jepang (Cnidoscolus aconitifolius) terhadap Kinetika Fermentabilitas dan Kecernaan In Vitro Pakan Ruminansia.

    No full text
    Penelitian bertujuan menganalisis efek daun pepaya jepang (Cnidoscolus aconitifolius) pada ransum mengandung Rumput Raja (Pennisetum hybrid) dan konsentrat terhadap produksi gas, nilai pH akhir, produksi volatile fatty acid (VFA), produksi amonia (NH3), estimasi metan (CH4), sintesis protein mikroba, popuasi protozoa, serta kecernaan bahan kering dan organik. Penelitian ini menggunakan rumput pangola (Digitaria decumbens) sebagai kontrol dan daun pepaya jepang sebagai hijauan sumber tanin. Perlakuan terdiri dari CA-0 (0% C. aconitifolius), CA-2.5 (2.5% C. aconitifolius), CA-5 (5% C. aconitifolius), CA-7.5 (7.5% C. aconitifolius), dan CA-10 (10% C. aconitifolius). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Data dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan uji lanjut LSD. Hasil menunjukkan penambahan daun pepaya jepang pada ransum mempengaruhi produksi gas, konsentrasi asam butirat, estimasi CH4, dan sintesis protein mikroba, tetapi tidak berpengaruh terhadap nilai pH akhir, produksi total VFA, produksi VFA parsial (asetat dan propionat), nilai NGR, produksi NH3, populasi protozoa, serta kecernaan bahan kering dan organik. Penambahan 5% tepung daun pepaya jepang meningkatkan produksi gas dari 46.11 mL 200 mg BK-1 hingga 47.87 mL 200 mg BK-1 (P<0.05). Dapat disimpulkan bahwa penambahan 5% daun pepaya jepang dapat meningkatkan produksi gas

    Identifikasi Toko Mainan Anak Edukatif pada Marketplace X Menggunakan Ensemble Clustering

    No full text
    Hadirnya berbagai toko digital pada berbagai marketplace membantu orang tua dalam pemenuhan kebutuhan akan alat permainan anak edukatif. Identifikasi terhadap toko-toko digital tersebut diperlukan agar mendapat informasi toko-toko yang bereputasi baik dan menjual produk yang lengkap. Penelitian ini bertujuan menggerombolkan toko-toko digital dengan pendekatan cluster ensemble based mixed data clustering (CEBMDC). Tipe data yang digunakan pada peubah reputasi toko adalah numerik dan kategorik, sedangkan peubah kelengkapan produk adalah biner. Analisis cluster ensemble yang diterapkan berbasis pada metode hirarki pautan lengkap pada data numerik, squeezer pada data kategorik, dan kesamaan simple matching untuk data biner. Penggerombolan terhadap 260 toko pada marketplace X menghasilkan tiga gerombol. Gerombol pertama berjumlah 76 toko, gerombol kedua 162 toko, dan gerombol ketiga 22 toko. Toko-toko yang terdapat pada gerombol pertama merupakan toko-toko yang memiliki reputasi lebih baik namun produk yang ditawarkan kurang lengkap. Gerombol kedua merupakan tokotoko yang memiliki reputasi lebih baik dan menawarkan produk yang lebih lengkap. Toko-toko pada gerombol ketiga memiliki reputasi yang kurang baik, namun menawarkan produk lebih lengkap

    Pengembangan Metode Penskoran untuk Klasifikasi Perkotaan-Perdesaan di Jawa Barat.

    No full text
    Klasifikasi perkotaan-perdesaan dihasilkan melalui metode penskoran. Metode penskoran telah digunakan sejak tahun 1980 dan diperbaharui tahun 2000 dan terakhir tahun 2010. Ada empat komponen penting dalam penyusunan metode penskoran yaitu peubah penentu klasifikasi (peubah prediktor), kriteria tiap peubah, skor tiap kriteria dan ambang kuantitatif (threshold). Keempat komponen tersebut menjadi faktor sensitif karena desa berkembang dari waktu ke waktu. Metode penskoran perlu selalu diperbaharui agar sesuai dengan perkembangan desa. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi metode penskoran yang digunakan oleh BPS saat ini dan mengembangkan metode penskoran dengan teknik optimasi. Data yang digunakan adalah data sekunder PODES 2008 dan 2014 dengan 17 peubah prediktor. Metode diskritisasi digunakan untuk memotong selang data menjadi sub-sub selang yang akan yang akan menjadi kriteria peubah. Pendekatan Weight of Evidence (WOE) dan normalisasi minimum-maksimum terhadap WOE menghasilkan skor tiap kriteria. Selanjutnya, teknik optimasi untuk menentukan ambang kuantitatif dan kombinasi peubah terbaik agar metode penskoran menghasilkan klasifikasi perdesaan-perkotaan yang meminimumkan jumlah transisi desa perkotaan menjadi desa perdesaan (konsep perkembangan desa) dan memaksimumkan indeks moran (konsep perkembangan kawasan). Metode enumerasi digunakan untuk menjawab permasalahan optimasi dengan menunjukkan semua kandidat solusi yang memenuhi kendala (constraints), kemudian dipilih solusi optimum diantara hasil enumerasi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode penskoran perlu dimodifikasi. Teknik optimasi menghasilkan dua metode penskoran alternatif yang lebih baik daripada metode penskoran 2010. Metode alternatif menggunakan jumlah peubah prediktor yang lebih sedikit daripada metode penskoran 2010. Metode alternatif 1 dipilih sebagai pengembangan metode penskoran terbaik dengan delapan jumlah peubah prediktor dan ambang kuantitatif 5. Peubah prediktor pada metode penskoran terbaik antara lain kepadatan penduduk, persentase rumah tangga pertanian, akses fasilitas Taman Kanak-kanak, pasar, rumah sakit, persentase rumah tangga telepon, keberadaan hotel dan jumlah minimarket

    Analisis Tekno-Ekonomi Produksi Benih TSS Bawang Merah pada Mini Plant Factory dengan Scale Up untuk Skala Produksi

    No full text
    Bawang merah (Allium cepa) merupakan komoditas sayuran umbi yang populer di kalangan masyarakat. Permintaan pasar yang tinggi terhadap bawang merah pada waktu tertentu seringkali menyebabkan terjadinya fluktuasi harga. Usaha pemenuhan permintaan pasar yang dapat dilakukan salah satunya melalui percepatan masa tanam dengan menyediakan benih bawang merah dalam bentuk biji atau dikenal dengan True Shallot Seed (TSS). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kelayakan finansial produksi benih TSS pada mini plant factory dan mengetahui skenario terbaik untuk usaha mini plant factory. Penelitian menggunakan dua skenario awal, yaitu skenario I dengan skala produksi menggunakan skala pilot plant dan skenario II dengan melakukan scale up produksi. Berdasarkan kajian time study diperoleh skala produksi yang optimum adalah 6 kontainer dengan 5 siklus per tahun untuk agroekosistem dataran tinggi dan temperatur kombinasi, sedangkan 6 siklus per tahun untuk agroekosistem dataran rendah. Masing-masing agroekosistem memerlukan 3 orang tenaga kerja tetap dan tambahan tenaga kerja lepas pada pekerjaan penanaman, polinasi, dan panen. Apabila Net Present Value (NPV) skenario II bernilai negatif, maka dilakukan skenario III yaitu dengan tingkat produksi yang dapat mencapai NPV bernilai positif. Analisis finansial yang dilakukan adalah menghitung Biaya Tetap dan Biaya Tidak Tetap, kemudian dilakukan analisis kelayakan finansial dengan menghitung NPV, Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio, dan Break Even Point (BEP). Berdasarkan analisis kelayakan finansial pada skenario II, baik pada agroekosistem dataran tinggi maupun dataran rendah dihasilkan NPV bernilai negatif. Produksi yang diperlukan dengan skenario III pada agroekosistem dataran rendah dengan siklus optimal (6 siklus/tahun) adalah 121 020 gram, sedangkan pada dataran tinggi dengan siklus optimal (5 siklus/tahun) adalah 118 310 gram. Nilai IRR skenario III pada kedua agroekosistem memiliki nilai yang sama dengan discount rate, sedangkan nilai B/C Ratio memiliki nilai lebih dari 1. Berdasarkan analisis finansial yang dilakukan, usaha ini tidak feasible. Tantangan besar dalam produksi benih TSS dengan menggunakan mini plant factory adalah mencapai tingkat produksi yang menghasilkan kelayakan finansial

    Kepadatan Transportasi terhadap Tingkah Laku Domba Ekor Tipis Betina pada Masa Recovery

    No full text
    Moda transportasi sangat penting untuk menunjuang usaha peternakan domba. Moda transportasi juga berdampak buruk bagi ternak domba ketika penanganan yang kasar selama bongkar muatan dan desain pengangkutan yang tidak sesuai dengan iklim. Stress pada domba dilihat dari pengamatan tingkah laku makan, minum, berdiri, istirahat, dan berjalan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengamati tingkah laku domba selama masa recovery setelah semua domba dilakukan transportasi. Data dianalisis menggunakan t test 2 sampel untuk mengetahui dampak dari pemberian 2 perlakuan kepadatan saat domba ditransportasikan (space allowance), yaitu 0.08 m2 ekor-1 dan 0.17 m2 ekor-1 yang dilakukan selama enam jam perjalanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengamatan tingkah laku domba selama masa recovery dari 2 kepadatan saat transportasi tidak signifikan untuk semua tingkah laku yang diamati. Pengamatan frekuensi paling sering dilakukan domba adalah tingkah laku berdiri yang memiliki rataan 42.76±3.33% dari 2 perlakuan dan pada pengamatan durasi paling sering dilakukan domba adalah tingkah laku istirahat yang memiliki rataan 125.91±32.16 menit dari ke-2 perlakuan kepadatan domba saat transportasi

    Aktivitas Ekstrak Daun Alpukat dan Tanaman Kumis Kucing terhadap Daya Luruh Kalsium Oksalat secara In Vitro.

    No full text
    Kalsium oksalat menjadi komponen utama penyebab batu ginjal, yaitu sekitar 80% dari mineral yang membentuk batu ginjal. Daun alpukat dan tanaman kumis kucing dipercaya sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan batu ginjal. Aktivitas daun alpukat dan tanaman kumis kucing dapat meluruhkan kalsium oksalat penyebab batu ginjal belum diketahui secara ilmiah. Tujuan penelitian ini adalah menguji aktivitas ekstrak daun alpukat dan tanaman kumis kucing terhadap daya luruh kalsium oksalat sebagai komponen utama penyusun batu ginjal secara in vitro. Ekstraksi dengan maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Rendemen ekstrak etanol daun alpukat sebesar 21.18%, sedangkan ekstrak etanol tanaman kumis kucing sebesar 12.88%. Hasil uji fitokimia menunjukkan adanya senyawa metabolit sekunder pada kedua ekstrak yang memiliki aktivitas terhadap daya luruh kalsium oksalat. Hasil uji kelarutan kalsium oksalat menunjukkan ekstrak tunggal daun alpukat memiliki aktivitas yang lebih baik dibandingkan ekstrak tunggal tanaman kumis kucing dan kombinasinya

    Pengembangan One Stop LPK Kabupaten Bogor menggunakan Metode Prototyping

    No full text
    One Stop LPK merupakan marketplace penyedia jasa pelatihan kerja yang sasaran penggunanya adalah masyarakat Kabupaten Bogor. Sistem ini dikembangkan menggunakan metode prototyping yang terdiri dari komunikasi, perencanaan cepat dan pemodelan perancangan cepat, pembuatan prototipe dan penyebaran, pengiriman, dan umpan balik. Pengembangan sistem menggunakan bahasa pemrograman PHP, framework CodeIgniter, dan Database Management System (DBMS) MySQL. Beberapa fitur yang berhasil dikembangkan antara lain form pencarian pelatihan, mengelola LPK, dan monitoring LPK. Pengujian dilakukan menggunakan metode user acceptance testing (UAT). Hasil pengujian menunjukan bahwa sistem informasi yang dibangun telah berhasil memenuhi kebutuhan pengguna

    Penggunaan Atraktor Umpan Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) terhadap Hasil Tangkapan Bagan Apung di Teluk Palabuhanratu.

    No full text
    Bagan apung merupakan alat tangkap yang menggunakan alat bantu berupa cahaya yang berfungsi untuk mengumpulkan ikan. Namun demikian pada saat hauling, ikan-ikan yang berkumpul di cakupan tangkapan (catchable area) melarikan diri, oleh karena itu, upaya untuk mempertahankan agar ikan tetap berada di lokasi penangkapan digunakan pemikat berupa umpan cacing tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi hasil tangkapan, frekuensi hauling dan pengaruh atraktor umpan cacing tanah terhadap hasil tangkapan bagan apung. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental fishing dengan melakukan kegiatan operasi penangkapan sebanyak 20 kali ulangan (trip) di lapangan. Analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat total hasil tangkapan bagan apung perlakuan yakni 1401,1 kg dengan 13 jenis ikan dan bagan apung kontrol tanpa atraktor umpan 545,5 kg dengan 8 jenis ikan selama 20 ulangan (trip). Selanjutnya untuk melihat adanya perbedaan frekuensi hauling antara kedua bagan apung digunakan uji statistik Mann Whitney yang menunjukkan nilai P value atau Asymp Sig. (2-tailed) (0.09 > 0,05). Hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak adanya perbedaan atau pengaruh yang signifikan terhadap hasil tangkapan kedua bagan apung pada taraf kepercayaan 95%. Penggunaan atraktor umpan cacing tanah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap berat hasil tangkapan bagan apung dengan nilai Asymp Sig. (2-tailed) (0,03 < 0,05) pada taraf kepercayaan 95%

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇