Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Karakteristik Kolagen dari Campuran Kulit Ikan Tuna Sirip Kuning dan Patin Menggunakan Metode Hidrolisis Asam Asetat

    No full text
    Campuran kulit ikan tuna sirip kuning dan patin dapat menjadi alternatif sumber kolagen. Penggunaan asam asetat dengan konsentrasi dan lama perendaman yang berbeda menghasilkan derajat pengembangan yang berbeda, sekaligus berpengaruh terhadap karakteristik kolagen yang dihasilkan. Penelitian bertujuan menentukan konsentrasi asam asetat dan lama perendaman yang terbaik terhadap derajat pengembangan kulit, serta karakteristik kolagen dari campuran kulit ikan tuna sirip kuning dan patin menggunakan enzim papain. Kulit ikan direndam dalam 0.1 M NaOH selama 14 jam, selanjutnya direndam menggunakan larutan asam asetat 0.5 M selama 12 jam. Ekstraksi dilakukan dengan enzim papain pada konsentrasi 7.000 U/mg/g kulit. Rendemen kolagen yang diperoleh 24.13% (bb) atau 1.38% (bk) dengan pH 4.16. Kolagen mengandung kadar air 18.6%, abu 4.47%, dan protein 43.61%. Analisis spektra FTIR menunjukkan wilayah penyerapan utama amida A, B, I, II, dan III masing-masing pada bilangan gelombang 3449, 2927, 1639.5, 1542.5, dan 1248 cm-1. Analisis asam amino menunjukkan bahwa kolagen memiliki gilisina, arginina, alanina, dan prolina. SDS-PAGE kolagen menunjukkan rantai β, α1 dan α2

    Pengelompokan Senyawa Aktif Obat dengan Algoritme Partitioning Around Medoids Berbasis Similaritas Analytic Therapeutic Chemical

    No full text
    Prediksi hubungan antara senyawa aktif dan protein target dengan pendekatan komputasi merupakan langkah yang penting dalam penemuan fungsi maupun jenis obat baru. Salah satu metode yang digunakan adalah pengidentifikasian similaritas senyawa aktif dalam obat. Ide utama dari metode tersebut adalah bahwa kumpulan senyawa yang memiliki similaritas yang tinggi akan berinteraksi dengan kumpulan protein target penyakit yang sama. Metode tersebut memiliki kelemahan yang disebabkan oleh jumlah data yang terbatas untuk melakukan prediksi. Sistem klasifikasi analytic therapeutic chemical (ATC) merupakan pendekatan perhitungan similaritas teruji yang dapat membantu meningkatkan performa dalam memprediksi interaksi senyawa dan protein. Ukuran Similaritas ATC dapat digunakan untuk mengelompokkan berbagai senyawa aktif, sehingga setiap kelompok memiliki potensi untuk berinteraksi dengan kumpulan protein target yang sama. Pengelompokan dengan algoritma partitioning around medoids memanfaatkan data yang terbatas pada similaritas ATC senyawa dalam penelitian ini

    Sistem Dinamik Penyebaran Penyakit HIV dengan Dua Tahapan Individu Terinfeksi pada Kelompok Perilaku Seksual Berisiko

    No full text
    AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (human immunodeficiency virus). Virus tersebut merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Individu yang terinfeksi virus HIV akan mengalami beberapa tahapan dalam perkembangan penyakit, mulai dari tahapan yang belum menunjukan gejala apapun (infeksi asimtomatik) hingga muncul gejala seperti radang saluran pernafasan, flu, diare kronik, komplikasi berbagai macam penyakit, sampai menjadi AIDS. Penularan penyakit ini bisa melalui pertukaran cairan tubuh berupa darah, asi, dan air mani dari seseorang yang terinfeksi HIV. Penelitian ini bertujuan memodifikasi model dengan membedakan populasi manusia terinfeksi menjadi dua, yaitu populasi manusia terinfeksi asimtomatik dan populasi tahapan pre-AIDS serta akan fokus pada kelompok dengan perilaku seksual yang berisiko. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk melakukan analisis kestabilan titik tetap dan juga analisis sensitivitas untuk menentukan parameter yang sensitif atau berpengaruh terhadap sistem dinamik. Akhirnya, diberikan beberapa simulasi numerik dari model untuk mengilustrasikan dinamika penyebaran penyakit HIV. Hasil analisis terhadap sistem dinamik ini menunjukkan bahwa terdapat dua titik tetap, yaitu titik tetap tanpa penyakit dan titik tetap endemik. Titik tetap tanpa penyakit akan bersifat stabil asimtotik lokal jika dan hanya jika ℛ01. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa proporsi keberhasilan kampanye penggunaan kondom dan laju transmisi seksual dari individu terinfeksi asimtomatik, adalah parameter yang sensitif pada sistem dinamik. Hasil simulasi menunjukkan bahwa semakin kecil laju transmisi seksual dari individu terinfeksi asimtomatik maka jumlah populasi individu terinfeksi asimtomatik, populasi individu pre-AIDS, dan populasi individu AIDS akan semakin menurun begitu juga sebaliknya. Sehingga, perlu adanya upaya untuk mengurangi laju transmisi seksual dari individu terinfeksi asimtomatik agar jumlah populasi individu terinfeksi asimtomatik, populasi individu pre-AIDS, dan populasi individu AIDS menurun atau bahkan tidak ada. Kemudian semakin besar proporsi keberhasilan kampanye penggunaan kondom semakin berkurang jumlah populasi individu terinfeksi asimtomatik, populasi individu pre-AIDS, dan populasi individu AIDS. Selanjutnya semakin besar laju individu rentan yang meninggalkan perilaku seksual berisiko, maka jumlah populasi individu terinfeksi asimtomatik, populasi individu pre-AIDS, dan populasi individu AIDS semakin berkurang. Kemudian pengaruh laju populasi pre-AIDS memasuki populasi terapi untuk populasi terinfeksi asimtomatik tidak terlalu signifikan, sedangkan untuk populasi pre-AIDS dan populasi AIDS semakin besar laju populasi pre-AIDS memasuki populasi terapi jumlah populasi pre-AIDS dan populasi AIDS semakin berkurang. Sehingga, perlu adanya upaya untuk meningkatkan keberhasilan kampanye penggunaan kondom, laju populasi pre-AIDS memasuki populasi terapi, dan laju individu rentan yang meninggalkan perilaku seksual berisiko agar jumlah populasi individu terinfeksi asimtomatik, populasi individu pre-AIDS, dan populasi individu AIDS menurun atau bahkan tidak ada

    Karakter Morfologi dan Anatomi Tanaman Tetraploid Stevia rebaudiana (Bertoni) Bertoni serta Kadar Steviosida dan Rebaudiosida-A.

    No full text
    Stevia rebaudiana (Bertoni) Bertoni merupakan tanaman golongan herba. Tanaman ini mempunyai nilai komersial tinggi karena mengandung bahan pemanis alami yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti gula tebu. Rasa manis tersebut dikarenakan stevia mengandung senyawa glikosida steviol. Dua senyawa glikosida steviol tertinggi adalah steviosida (4-13 %) dan rebaudiosida-A (2-4 %), terdapat pada daun stevia. Glikosida steviol dapat digunakan oleh penderita diabetes sebagai sumber rasa manis karena bersifat hipoglikemik. Glikosida steviol mempunyai rasa manis 70-400 kali lebih tinggi dibandingkan dengan gula sukrosa, namun bahan pemanis stevia mempunyai rasa pahit yang tertinggal di lidah setelah dikonsumsi. Rasa pahit aftertaste ini disebabkan oleh kandungan steviosida yang tinggi. Rebaudiosida-A memiliki rasa manis lebih tinggi dari steviosida dan sangat sedikit meninggalkan rasa pahit dibandingkan dengan steviosida. Oleh karena itu perbaikan genetik stevia dengan kandungan rebaudiosida-A lebih tinggi perlu dilakukan. Untuk meningkatkan produktivitas dan perbaikan kualitas tanaman serta hasilnya, perbaikan genetik tanaman stevia perlu dilakukan. Poliploidisasi adalah salah satu pilihan untuk meningkatkan keragaman genetik tanaman. Upaya ini telah dilakukan oleh kelompok peneliti sebelumnya, dan diperoleh sejumlah tanaman stevia tetraploid. Tetraploid merupakan salah satu bentuk variasi genetik dengan jumlah kromosom empat kali kromosom dasarnya. Tetraploid pada tanaman stevia menghasilkan 2n = 4x = 44 kromosom. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi karakter morfologi, anatomi, dan fisiologi tanaman S. rebaudiana serta menganalisis kadar steviosida dan rebaudiosida-A pada klon tetraploid dibandingkan dengan tanaman diploid. Dari karakter tersebut diperoleh informasi mengenai karakter tanaman stevia tetraploid unggul secara morfologi, anatomi, maupun fisiologi dengan kualitas senyawa pemanis yang lebih baik dibandingkan dengan tanaman diploid. Penelitian diawali dengan perbanyakan tunas stevia secara in vitro pada media Murashige dan Skoog tanpa penambahan zat pengatur tumbuh. Konfirmasi tingkat ploidi dilakukan menggunakan flositometer. Aklimatisasi dilakukan pada saat tanaman berumur 6 minggu setelah subkultur terakhir. Selanjutnya, untuk mendapatkan jumlah bahan tanaman yang cukup untuk ditanam di lapang, dilakukan perbanyakan tanaman melalui stek pucuk di rumah kaca. Pemeliharaan tanaman di lapang dilakukan selama 12 minggu. Karakter morfologi yang diamati meliputi karakter kualitatif, yaitu habitus tanaman, bentuk dan susunan daun, bentuk batang, akar, bunga, dan buah, serta karakter kuantitatif yang meliputi ukuran daun, diameter batang, panjang dan diameter akar. Karakter anatomi yang diamati meliputi stomata dan sayatan histologis daun, batang, dan akar. Karakter fisiologi meliputi analisis kadar klorofil dengan metode spektrofotometri, dan analisis kadar steviosida dan rebaudiosida-A dengan metode HPLC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman tetraploid klon B60.3H8, P1T22 dan P3T5 memiliki karakter morfologi dan anatomi, maupun fisiologi secara kualitatif serupa dengan klon diploid (kontrol). Akan tetapi ketiga klon tetraploid memiliki karakter kuantitatif secara umum lebih besar dibandingkan dengan klon kontrol (diploid) serta rasio kadar steviosida dan rebaudiosida-A beragam antara ketiga klon tetraploid dengan diploidnya. Karakter morfologi unggul terdapat pada klon P1T22 dibandingkan klon B60.3H8 dan klon P3T5 serta klon kontrol berdasarkan ukuran daun saat pertumbuhan in vitro, jumlah daun dan cabang, bobot basah daun dan akar, bobot kering daun, ukuran daun, diameter akar pada pertumbuhan di lapang. Karakter anatomi unggul terdapat pada klon P3T5 dibandingkan klon B60.3H8 dan klon P1T22, serta klon kontrol, berdasarkan indeks stomata pada adaksial, panjang dan lebar stomata, tebal daun, dan tebal jaringan penyusun akarnya. Kadar steviosida dan rebaudiosida-A tertinggi terdapat pada klon B60.3H8, sedangkan kadar steviosida terkecil pada klon P1T22, dan kadar rebaudiosida-A terkecil pada klon kontrol. Rasio kadar rebaudiosida-A terhadap steviosida lebih besar pada klon P1T22 dan klon B60.3H8, sehingga merupakan klon yang lebih unggul dan potensial untuk dikembangkan lebih lanjut, dibandingkan dengan klon P3T5 dan klon kontrol (diploid)

    Lalat Frugivor pada Buah Mentimun dan Peria di Wilayah Bogor dan Sekitarnya.

    No full text
    Lalat frugivor merupakan serangga ordo Diptera yang memakan buah-buahan, beberapa diantaranya masuk ke dalam famili Tephritidae, Muscidae, dan Lonchaeidae. Serangan lalat tersebut dapat menyebabkan buah menjadi busuk dan rusak sehingga dapat menurukan produksi dan mengakibatkan kerugian pada petani. Kerugian yang ditimbulkan oleh lalat frugivor sangat besar sehingga diperlukan tindakan pengendalian untuk mengurangi serangan lalat frugivor tersebut. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi berbagai jenis lalat frugivor yang menyerang mentimun dan peria serta mengetahui persentase infestasi tunggal oleh Atherigona orientalis Schiner dan Lonchaeidae. Penentuan lahan dan pengambilan sampel tanaman dilakukan dengan teknik purposive sampling di pertanaman mentimun dan peria. Ciri-ciri buah yang diambil untuk dijadikan sampel yaitu buah yang masih menempel pada tanaman dalam keadaan membusuk. Sampel buah kemudian dipelihara di dalam gelas plastik berisi serbuk gergaji, dan ketika lalat sudah menjadi imago, lalat dimasukkan ke tabung eppendorf 1.5 ml dan diberi alkohol 70%. Identifikasi lalat dilakukan dengan menggunakan mikroskop dan kunci identifikasi serangga. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa jumlah lalat terbanyak yang ditemukan pada buah mentimun dan peria yaitu spesies Zeugodacus cucurbitae Coquillett dengan persentase 83% dan 39.57%. Infestasi tunggal lalat frugivor tertinggi pada buah mentimun di lapangan yaitu Z. cucurbitae dengan persentase 57.14%, sedangkan pada buah peria yaitu A. orientalis dengan persentase 24.48%

    Model Penduga Volume Tegakan menggunakan Citra Resolusi Tinggi di Hutan Pendidikan Gunung Walat

    No full text
    Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) merupakan hutan tanaman yang didominasi beberapa tegakan seperti agathis, pinus, dan puspa. Data pendugaan volume tegakan yang akurat dapat diperoleh dengan pengukuran terestris, namun metode tersebut memerlukan waktu yang lama dan mahal. Teknologi penginderaan jarak jauh dapat dijadikan alternatif untuk mengatasi keterbatasan dari metode terestris. Penelitian ini bertujuan membangun model penduga potensi volume tegakan berbasis piksel dan berbasis visual dengan menggunakan citra resolusi tinggi. Hasil analisis berbasis piksel dan visual dengan menggabungkan semua stratum memiliki model regresi tidak nyata karena p-value ˃ α (α=5%). Penghapusan outlier untuk model regresi memiliki R2 yang rendah. Maka perlu dilakukan restratifikasi stratum per jenis tegakan. Hasil dari restratifikasi stratum terdapat 3 jenis tegakan yang akan dibuat model persamaan regresi, yaitu tegakan konifer, daun lebar, dan campuran (agathis-puspa). Pemilihan model terbaik didasarkan dari p-value, R2, dan nilai PRESS. Model berbasis piksel yang terpilih untuk tegakan konifer yaitu V= 47.5e7.02 GNDVI yang mempunyai nilai R2 sebesar 54.20% dan untuk tegakan daun lebar yaitu V= 3866.09GNDVI 2.85 dengan nilai R2 sebesar 53.40%. Model berbasis visual yang terpilih untuk tegakan konifer yaitu V= 1274.1CC3.38 dengan nilai R2 sebesar 61% dan tegakan daun lebar yaitu V= 26.959 e5.54CC dengan nilai R2 sebesar 60.60%. Model tegakan daun campuran tidak memiliki model regresi karena p-value ˃ α (α=5%)

    Preferensi Muzakki dalam Membayar Zakat Penghasilan Melalui OPZ di Kabupaten Sleman

    No full text
    Zakat merupakan salah satu instrumen Islam yang diyakini dapat mengurangi tingkat kemiskinan dan ketimpangan. Salah satu zakat kontemporer yang memiliki potensi untuk dikembangkan di masyarakat adalah zakat penghasilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi preferensi muzakki dalam membayar zakat penghasilan melaui OPZ di Kabupaten Sleman. Responden pada penelitian ini adalah muzakki yang telah membayar zakat penghasilan melalui Organisasi Pengelola Zakat maupun membayar secara langsung kepada mustahik. Analisis deskriptif digunakan untuk melihat karakteristik dan perilaku muzakki dalam membayar zakat penghasilan. Sedangkan metode analisis regresi logistik digunakan untuk mengetahui faktorfaktor yang memengaruhi muzakki dalam membayar zakat melalui OPZ. Hasil dari analisis regresi logistik menunjukkan bahwa variabel pengetahuan, organisasi, pendapatan, aksesibilitas dan instansi tempat bekerja berpengaruh signifikan terhadap preferensi muzakki dalam membayar zakat penghasilan melalui OPZ di Kabupaten Sleman

    Pengembangan Bioformulasi sebagai Perlakuan Benih untuk Mengendalikan Penyakit Hawar Daun Bakteri dan Meningkatkan Hasil Benih Padi

    No full text
    Hawar daun bakteri (HDB) merupakan penyakit penting pada tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo), terutama di daerah tropis seperti Indonesia. Penyakit ini dapat menyerang seluruh bagian tanaman padi mulai dari benih, bibit, dan tanaman dewasa, sehingga menurunkan hasil padi serta kerugian ekonomi. Potensi rizobakteri Bacillus subtilis 5B dan Pseudomonas diminuta A6 sebagai agens hayati telah dievaluasi dapat mengendalikan penyakit HDB. Formula agens hayati dengan bahan pembawa yang tepat dapat meningkatkan stabilitas produk dan daya hidup serta tidak mempengaruhi efikasi agens hayati. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan umum untuk mendapatkan formula agens hayati terbaik guna meningkatkan produksi benih padi serta menurunkan gejala serangan penyakit HDB. Penelitian ini terdiri atas tiga percobaan, yaitu: 1) pengembangan bioformulasi agens hayati Bacillus subtilis 5B + Pseudomonas diminuta A6 dalam tiga jenis bahan pembawa (gipsum, talk, dan zeolit); 2) pengujian pengaruh perlakuan benih dengan bioformulasi terhadap daya simpan benih padi IR64 selama 6 bulan penyimpanan, dan 3) pengujian pengaruh perlakuan benih dengan bioformulasi terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil benih padi di lapangan. Daya simpan agens hayati tergantung pada bahan pembawa yang digunakan dalam bioformulasi. Setelah disimpan selama 1 bulan, populasi agen hayati pada bahan pembawa talk tertinggi (43.0 x 107colony forming unit (cfu)) sedangkan pada zeolit (5.33 x 107 cfu) dan gipsum (0.47 x 107 cfu) lebih rendah dibandingkan kontrol (16.0 x 107 cfu). Namun, populasi agens hayati mulai menurun seiring dengan pertambahan periode simpan. Populasi agens hayati pada bioformulasi talk pada bulan ketiga (1.15 x 107cfu) nyata lebih tinggi dibandingkan kontrol (1.0 x 107cfu) dan perlakuan lainnya 0.25 x 107 cfu pada zeolit dan 0 pada gipsum. Benih yang telah diinokulasi dengan Xoo dan diberi perlakuan formula agens hayati serta disimpan selama 6 bulan mengalami penurunan populasi Xoo dari konsentrasi awal 4.9 x 108 cfu. Pengaruh perlakuan bioformulasi zeolit 2.5 g dapat meningkatkan daya berkecambah benih (89.11%) dibandingkan kontrol (79.72%). Perlakuan talk 5 g (daya berkecambah: 84.5%) dan gipsum 5 g (daya berkecambah: 85.67%) memberikan pengaruh yang tidak berbeda dengan zeolit 2.5 g dalam meningkatkan daya berkecambah. Perlakuan bioformulasi gipsum 5 g dapat meningkatkan indeks vigor benih (72%) dibandingkan kontrol (64%). Perlakuan bioformulasi talk 2.5 g (67.61%), talk 5 g (70.28%), gipsum 1 g (66.33%), zeolit 1 g (69.33%) dan zeolit 2.5 g (70.22%) memberikan pengaruh yang tidak berbeda dengan perlakuan gipsum 5 g dalam meningkatkan indeks vigor benih. Secara umum, perlakuan benih dengan bioformulasi belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit di persemaian. Namun, bibit yang diberikan perlakuan bioformulasi talk 1 g menghasilkan tinggi bibit dan panjang akar tertinggi dibandingkan kontrol dan perlakuan lainnya. Perlakuan benih dengan bioformulasi talk 5 g menghasilkan jumlah anakan tertinggi (26) dibanding kontrol dan perlakuan dengan bioformulasi lain. Keparahan penyakit HDB pada perlakuan benih dengan formula talk 5 g juga paling rendah, yaitu 0.25%. Perlakuan benih dengan bioformulasi berbahan pembawa talk 1 g dapat meningkatkan persentase gabah bernas sebesar 25.6% dari perlakuan kontrol

    Pengaruh Penambahan Kotoran Sapi sebagai Substitusi Semen terhadap Kuat Tekan Beton

    No full text
    Beton secara umum digunakan sebagai material utama dalam pembangunan. Semen menjadi salah satu komponen terpenting dalam pembuatan beton. Produksi semen merusak lingkungan karena adanya emisi gas polutan pada proses produksi semen, seperti CO₂ dan NO. Limbah peternakan adalah hasil buangan usaha peternakan yang bersifat tidak ramah lingkungan, salah satunya adalah kotoran sapi. Abu kotoran sapi diperoleh dari hasil pembakaran kotoran sapi. Penelitian ini bertujuan menghitung besarnya nilai kuat tekan beton dengan penambahan kotoran sapi, menganalisis komposisi kotoran sapi teroptimal, dan mengetahui pengaruh substitusi kotoran sapi. Material yang digunakan dalam penelitian ini adalah kerikil, pasir, semen, kotoran sapi, dan air. Jumlah dari abu kotoran sapi dalam mensubtitusi semen adalah sebesar 0%, 5%, 7%, dan 10%. Sampel yang digunakan adalah silinder beton 15x30 cm sebanyak 36 buah. Sampel beton di uji pada rentang waktu 7, 14, 28 hari. Komposisi substitusi kotoran sapi teroptimal adalah 5% dan nilai kuat tekan beton pada hari ke 28 sebesar 18.3 KN. Nilai kuat tekan dengan komposisi ini mencapai 88% dari kuat tekan beton rencana

    Pendugaan Umur Simpan Produk Coconut Aminos dengan Metode Accelerated Shelf-Life Testing (ASLT).

    No full text
    Coconut aminos adalah produk kecap asin yang dibuat dari pengolahan nira kelapa dengan proses moromi. Umur simpan (shelf life) produk pangan merupakan salah satu informasi yang sangat penting bagi konsumen. Pencantuman informasi umur simpan menjadi sangat penting karena terkait dengan keamanan produk pangan dan untuk memberikan jaminan mutu pada saat produk sampai ke tangan konsumen. Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan mutu produk, dan menduga umur simpan, dengan metode Accelerated Shelf-Life Testing (ASLT). Kemasan yang digunakan adalah botol kaca. Pengujian umur simpan dilakukan dengan menyimpan produk dalam tiga kondisi suhu yang berbeda, yaitu 30oC, 40oC, dan 50oC. Parameter yang diamati yaitu kecerahan (nilai L*), kadar protein kasar,dan pH. Parameter derajat keasaman atau pH dipilih sebagai parameter kritis karena memiliki konstanta k mutlak dan koefisien korelasi paling tinggi dengan batas kritis sebesar 3,5. pH pada produk coconut aminos selama penyimpanan pada suhu 30oC, 40oC, dan 50oC mengalami penurunan masing-masing sebesar 0.0075%, 0.0133%, 0.0227% per minggu. Umur simpan produk coconut aminos sebesar 66 minggu 2 hari (30oC), 37 minggu 4 hari (40oC), 22 minggu 1 hari (50oC

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇