31665 research outputs found
Sort by
Pemberian Daun Ubi Kayu (Manihot esculenta) Olahan terhadap Performa, Kecernaan Zat Makanan dan Metabolit Darah Kambing PE Jantan
Ubi kayu (Manihot esculenta) merupakan produk pertanian utama di Lampung. Daun ubi kayu digunakan sebagai pakan kambing di peternakan rakyat. Pada musim panen ketersediaan daun ubi kayu sangat melimpah, sedangkan daun ubi kayu memiliki sifat yang mudah busuk apabila hanya ditumpuk dalam keadaan segar, sehingga perlu dilakukan pengolahan fisik pakan. Pengolahan dapat dilakukan dengan cara pengeringan atau biofermentasi (ensilase). Metode pengeringan sangat bergantung pada cuaca. Kelemahan pada pengeringan daun ubi kayu, daun akan menjadi remah dan mudah hancur sehingga akan banyak biomasa daun yang hilang terutama pada saat penjemuran, pengangkutan, dan penyimpanan. Sedangkan silase, pembuatannya dapat dilakukan setiap saat tanpa dipengaruhi oleh musim, sehingga pembuatan silase merupakan alternatif metode pengawetan daun ubi kayu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pemberian daun ubi kayu segar, kering atau silase terhadap performa, kecernaan, dan blood urea nitrogen (BUN) kambing PE jantan.
Penelitian dilakukan di peternakan rakyat yang berlokasi di Desa Harapan Rejo, Lampung, Indonesia. Dua belas ekor kambing PE jantan (rataan bobot badan 21 ± 1.4 kg) yang dikelompokkan pada kandang individu dengan 90 hari percobaan (14 hari untuk adaptasi ransum perlakuan dan 7 hari koleksi feses). Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan menggunakan metode rancangan acak kelompok dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan: konsentrat + daun ubi kayu segar (P0); konsentrat + daun ubi kayu kering (P1); dan konsentrat + silase daun ubi kayu (P2). Konsentrat diberikan sebanyak 50% (3.5% BB) dan hijauan diberikan secara ad libitum masing – masing untuk setiap perlakuan. Peubah yang diamati meliputi uji karakteristik fisik daun ubi kayu kering dan silase, kandungan HCN, konsumsi nutrien, kecernaan nutrien, pertambahan bobot badan harian ternak (PBBH), blood urea nitrogen (BUN), pertambahan bobot badan, dan efisiensi ransum. Data dianalisis menggunakan sidik ragam. Apabila perlakuan menunjukkan pengaruh yang nyata maka dilakukan uji jarak berganda Duncan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengolahan daun ubi kayu meningkatkan konsumsi bahan kering, protein kasar, total digestible nutrient (TDN), kecernaan, blood urea nitrogen (BUN), pertambahan bobot badan, dan efisiensi ransum. Kesimpulannya, Pengolahan daun ubi kayu dengan menggunakan metode pengeringan dan ensilase dapat menghasilkan kecernaan dan blood urea nitrogen yang lebih baik tanpa mempengaruhi performa pada kambing PE jantan
Rekayasa Plasmid Rekombinan pNZ8148 dengan Gen Penyandi Interferon α-2b pada Lactococcus lactis.
Inang ekspresi genhuman interferon α-2b (IFN) saat ini masih memiliki
tingkat keamanan yang rendah serta proses ekspresi yang rumit. Lactococcus
lactisdan vektor pNZ8148 bersifat aman dan mutu-pangansehinggacocok sebagai
kandidat inang ekspresi gen IFN. Penelitian ini bertujuan mengintroduksi gen IFN
pada Lactococcus lactis menggunakan vektor pNZ8148 dengan metode
elektrotransfer. Gen IFN berhasil diisolasi dan dikonstruksi dengan plasmid
pNZ8148 menjadi plasmid pNZ8148-IFN. Sel transforman Escherichia coli
sebagai inang kloning dan Lactococcus lactis sebagai inang ekspresi berhasil
disisipi plasmid pNZ8148-IFN.Plasmid pNZ8148-IFN memiliki ukuran 4028 bp.
Sekuens protein dari gen IFN pada plasmid pNZ8148-IFN menunjukkan tidak
terjadinya mutasi
Sistem Evaluasi Mutu Minyak Cengkeh (Syzigium aromaticum) Portabel Berbasis Spektroskopi Fluoresensi
Evaluasi mutu minyak cengkeh diperlukan untuk menentukan kadar eugenol (C₁₀H₁₂O₂) dalam bahan. Namun, pengujian kualitas minyak cengkeh menggunakan GC-MS memakan waktu lama, mahal, dan harus dilakukan di laboratorium. Diperlukan metode yang lebih akurat dan kuantitatif, sehingga penentuan kualitas minyak cengkeh bisa lebih mudah, murah, dan sederhana. Metode yang bisa dikembangkan yaitu dengan spektroskopi fluoresensi. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang prototipe sistem evaluasi mutu minyak cengkeh portabel berdasarkan spektroskopi fluoresensi. Bahan yang digunakan adalah minyak cengkeh sebanyak 24 sampel. Komponen penting yang digunakan yaitu Hamamatsu micro-spectrometer, Arduino Uno, UV laser 405 nm, dan kuvet 4 sisi bening. Pengambilan data menggunakan metode right angle. Metode kalibrasi dan validasi menggunakan Partial Least Square (PLS) dan Multiple Linear Regression (MLR). Pra-perlakuan smoothing Savitzky-Golay diperoleh sebagai hasil terbaik dengan nilai R=0.943, R²=0.89, SEC=1.268, SEP=1.499, CV=1.865%, RPD=2.851, dan konsistensi 84.62 %. Bobot koefisien regresi PLS menghasilkan enam panjang gelombang optimum yaitu 430 nm, 448 nm, 473 nm, 483 nm, 510 nm, dan 536 nm. Nilai RPD dan konsistensi meningkat menjadi 3.122 dan konsistensi 105.007 %. Didapatkan persamaan yaitu Y = 0.1022 X1 – 0.1335X2 + 0.1955 X3 – 0.2109 X4 + 0.1649 X5 – 0.0668 X6 + 70.7. Persamaan tersebut diaplikasikan di Arduino dan ditampilkan oleh LCD display berupa kandungan eugenol dan mutu minyak cengkeh
Identifikasi Gen Responsif Kekeringan Melalui Analisis Profil Ekspresi Gen-Gen pada Tanaman Padi.
pada tanaman padi diunduh dari basis data NCBI,
dilakukan pra-pemrosesan untuk mendapatkan EST dengan kualitas baik, dan
dikelompokkan menjadi beberapa contig untuk analisis fungsional. Analisis
ontologi gen menunjukkan bahwa sebagian besar dari contig tersebut diprediksi
terlibat dalam proses metabolisme dan seluler, terkait dengan fungsi katalitik dan
pengikatan, dan terletak di nukleus, membran sel, dan organel endomembran.
Pemetaan fisik juga menunjukkan bahwa EST responsif kekeringan terdistribusi di
dalam 12 kromosom tanaman padi, baik pada utas plus maupun minus. Contig yang
teranotasi responsif terhadap cekaman, kemudian dilakukan analisis in silico lebih
lanjut untuk proses seleksi secara bertahap. Seleksi diawali dengan memilih
beberapa contig yang teranotasi di dalam terminologi respon terhadap cekaman
pada kategori proses biologis. Seleksi tahap selanjutnya dilakukan dengan
mengidentifikasi posisi contig terhadap lokus gen dan melakukan analisis
fungsional dengan menentukan kemiripan antara sekuen asam amino deduksi
contig dengan protein di dalam basis data faktor transkripsi. Peran gen yang
teridentifikasi berasosiasi dengan contig terpilih kemudian ditentukan dengan
menginkorporasikan gen-gen tersebut ke dalam peta fisik QTL untuk toleransi
kekeringan pada genom tanaman padi.
Sepuluh kandidat gen yang berpotensi terlibat dalam regulasi toleransi
cekaman kekeringan telah teridentifikasi dan terlokalisasi pada kromosom padi
nomor 1, 2, 3, 4, 6, 9, dan terletak di dalam peta fisik QTL untuk sifat toleransi
kekeringan. Ekspresi gen dari masing-masing lokus terpilih selanjutnya dievaluasi
pada tanaman padi cv Hawara Bunar dan IR64 di bawah perlakuan cekaman
kekeringan. Serangkaian proses dalam analisis in silico dan ekspresi menggunakan
qRT-PCR berhasil menentukan empat kandidat gen responsif kekeringan. Gen
Os03g0160100, Os03g0815100, Os06g0601000, dan Os09g0553100 diusulkan
sebagai kandidat gen yang diduga berperan sebagai regulator dan responsif
terhadap cekaman kekeringan pada tanaman padi
Sitotoksisitas Fraksi Teraktif Biji Mahoni Berdaun Lebar (Swietenia macrophylla) terhadap Sel Kanker MCF-7
Tanaman mahoni (Swietenia macrophylla) memiliki aktivitas antikanker, terutama pada bagian biji. Penelitian ini bertujuan mendapatkan fraksi paling toksik terhadap larva Artemia salina pada biji mahoni, menentukan sitotoksisitasnya terhadap sel kanker payudara MCF-7, dan mengidentifikasi senyawa dugaan menggunakan liquid chromatography-mass spectrometry. Sampel dikeringudarakan dan digiling, kemudian diekstraksi dan menghasilkan ekstrak etil asetat yang mengandung golongan senyawa triterpenoid yang berperan sebagai antikanker. Ekstrak etil asetat selanjutnya difraksionasi menggunakan kromatografi cair vakum yang menghasilkan 10 fraksi. Fraksi ke-7 paling toksik terhadap A. salina dengan LC50 43.94 μg/mL. Fraksionasi kembali pada fraksi 7 menghasilkan 3 fraksi teraktif, yaitu fraksi 7a, 7b dan 7i dengan nilai LC50 berturut-turut sebesar 23.55, 34.14, dan 19.93 μg/mL. Hasil ini menunjukkan bahwa fraksi teraktif berpotensi sebagai antikanker. Fraksi 7b dengan rendemen 5.93% menunjukkan sitotoksisitas terhadap sel MCF-7 dengan persen inhibisi sebesar 76.49% pada konsentrasi 50 μg/mL. Profil kromatogram fraksi 7b diduga menunjukkan adanya golongan senyawa limonoid yang diduga berperan dalam antikanker
Optimasi Konsentrasi dan Waktu Aplikasi PGPR untuk Pengendalian Penyakit Antraknosa pada Bibit Pepaya
Penyakit antraknosa disebabkan oleh Colletotrichum gloeosporioides merupakan penyakit penting pada pepaya (Carica papaya). PGPR merupakan agen antagonis terhadap patogen tanaman, penggunaan PGPR KM1 dapat menekan penyakit antraknosa pada batang bibit pepaya. Tujuan penelitian ini adalah seleksi konsentrasi dan waktu aplikasi PGPR KM1 yang paling efektif untuk mengendalikan antraknosa pada bibit pepaya. Isolat PGPR KM1 dan inokulum C. gloeosporioides yang digunakan merupakan koleksi Klinik Tanaman, Departemen Proteksi Tanaman, IPB. Pengujian aplikasi dilakukan dengan penanaman bibit pepaya di dalam polybag. Pengujian dilakukan dengan mengkombinasikan tiga konsentrasi PGPR KM1 105 cfu/ml (K1), 106 cfu/ml (K2), dan 107 cfu/ml (K3) dan waktu aplikasi perlakuan pada benih (P1), penyiraman dengan isolat bakteri pada 18 dan 36 HST (P2), perlakuan benih dan penyiraman bakteri pada 18 HST (P3), perlakuan benih dan penyiraman bakteri pada 36 HST (P4), dan perlakuan benih dan penyiraman bakteri pada 18 and 36 HST (P5). Pengujian secara in vivo dilakukan dengan inokulasi C. gloeosporioides pada batang bibit pepaya. Penelitian di rumah kaca menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Semua data hasil pengamatan diolah menggunakan aplikasi SPSS. Uji lanjut menggunakan uji Tukey pada taraf nyata α=0.05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi PGPR KM1 dapat meningkatkan pertumbuhan bibit pepaya paling efektif dengan konsentrasi 106 cfu/ml dan dengan aplikasi perlakuan benih dan penyiraman 18 HST. Aplikasi PGPR KM1 yang paling efektif untuk menekan penyakit antraknosa pada batang bibit pepaya adalah perlakuan benih dan penyiraman 36 HST dengan konsentrasi 105 cfu/ml
Solusi Geometri Schwarzschild untuk Dimensi 4+1 dengan Invarian Rotasi Isotropik.
Metrik Schwarzschild merupakan solusi eksak pertama dari persamaan
medan Einstein dengan mangasumsikan metrik statik dan simetris. Metrik
Schwarzschild yang ditemukan oleh Karl Schwarzschild masih dalam dimensi 3+1,
namun seiring dengan teori-teori terbaru yang menunjukkan bahwa alam semesta
tidak hanya di dimensi 3+1. Maka melalui penambahan dimensi, tujuan penelitian
ini memperoleh solusi pada geometri Schwarzschild untuk dimensi 4+1 dengan
memodifikasi koordinat bola yang invarian rotasi isotropik dan melalui penurunan
rumus seperti koordinat bola, simbol Christoffel, dan tensor Ricci. Selain
mendapatkan solusi ini, metrik Schwarzschild dimensi 4+1 dapat digunakan
sebagai metrik dasar untuk memperoleh solusi blackhole dan wormhole pada
dimensi 4+1. Hasil akhirnya, dengan memanfaatkan modifikasi koordinat bola,
metrik Schwarzschild dapat dibentuk sehingga diperoleh solusi geometri
Schwarzschild untuk dimensi 4+1
Hubungan Peran Pemimpin Adat dengan Modal Sosial dan Tingkat Kesejahteraan (Kasus: Masyarakat Adat Kampung Mahmud, Desa Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat
Masyarakat adat merupakan penduduk yang hidup dalam satuan komunitas berdasarkan asal-usul leluhur secara turun-temurun di atas suatu wilayah adat. Modal sosial menjadi salah satu faktor penting bagi keberlangsungan dan eksistensi masyarakat adat dalam menjaga adat istiadatnya. Hubungan peran pemimpin adat dengan modal sosial masyarakat penting untuk diketahui agar pemimpin adat dapat memaksimalkan perannya dalam membentuk modal sosial masyarakat. Adanya modal sosial masyarakat yang kuat dinilai dapat meningkatkan kesejahteraan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan peran pemimpin adat dengan modal sosial masyarakat dan tingkat kesejahteraan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif. Data dianalisis dengan menggunakan tabel frekuensi dan tabel tabulasi silang, lalu dilakukan uji korelasi Rank Spearman untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan peran pemimpin dengan modal sosial masyarakat dengan nilai koefisien korelasi 0.555, namun tidak terdapat hubungan signifikan antara modal sosial dengan tingkat kesejahteraan. Hal ini dikarenakan peran pemimpin adat tidak dapat dipisahkan dengan aktivitas kehidupan sehari-hari. Sedangkan tingkat kesejahteraan tidak ditentukan oleh kekuatan modal sosial
Strategi Pengembangan Bisnis Kosmetik PT Adev Natural Indonesia
PT Adev Natural Indonesia merupakan perusahaan kosmetik yang menawarkan jasa maklon kosmetik dan produk mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran model bisnis berdasarkan business model canvas serta dilakukan pengembangan model bisnis baru terkait masalah yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berupa observasi lapangan, wawancara, dan dokumentasi serta pengembangan model bisnis menggunakan cara berpikir business model canvas. Berdasarkan hasil penelitian, PT Adev Natural Indonesia mempunyai produk yang belum dipasarkan meskipun mempunyai izin edar dari BPOM, ketergantungan pada promosi daring, dan pelayanan customer service yang kurang responsif. Hasil penelitian yang didapat berupa strategi pengembangan yang direkomendasikan yaitu memberlakukan sistim promosi berbayar pada pengenalan produk maklon dan pelacakan proses berdasarkan ID pemesanan, serta menspesifikasi konsumen yang ada dengan pengembangan produk yang didukung dengan layanan umpan balik konsumen. Perusahaan perlu mengembangkan desain model bisnis untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan aliran pendapatan yang diperoleh
Deskripsi Serangga yang Berasosiasi Puru Tumbuhan di Bogor dan Sekitarnya
Puru merupakan pertumbuhan tidak normal pada tumbuhan yang disebabkan
oleh patogen atau serangga yang ditandai dengan adanya hiperplasi atau
hipertrofi. Aktivitas makan serangga pradewasa dan peletakan telur oleh betina
dapat menyebabkan terbentuknya puru di berbagai bagian tumbuhan seperti
batang, tunas, bunga, buah, dan daun. Serangga penyebab puru mampu
memodifikasi pola pertumbuhan dan mengubah struktur jaringan, mendorong dan
menghasilkan sumber makanan yang kaya nutrisi, sehingga menjadi habitat yang
sesuai untuk serangga. Penelitian terkait serangga penyebab puru tumbuhan di
Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi,
mengidentifikasi, dan mendeskripsikan serangga yang berasosiasi dengan puru
dan mendeskripsikan puru yang terbentuk pada berbagai tumbuhan.
Penelitian ini telah dilakukan dari Bulan Agustus 2017 hingga Mei 2018
pada berbagai tumbuhan di wilayah Bogor, Cianjur dan Sukabumi. Pengambilan
sampel dilakukan dengan metode purposive sampling pada berbagai tumbuhan.
Sampel merupakan bagian tumbuhan yang berpuru. Pengamatan terhadap
morfologi puru dilakukan secara menyeluruh pada setiap wilayah. Posisi geografi
dan ketinggian tempat pengambilan sampel diukur dengan menggunakan alat
Global Positioning System (GPS). Sampel kemudian dimasukkan dalam kantung
plastik Ziplock dipelihara di Laboratorium Biosistematika IPB dengan rentang
suhu 23-25 0C. Sebagian sampel dibedah di bawah mikroskop stereo untuk
mendapatkan serangga pradewasa, sebagian lainnya dipelihara untuk
mendapatkan serangga dewasa. Pengamatan morfologi puru yang dilakukan
meliputi bentuk, warna, letak, ukuran, dan jenis puru. Serangga dewasa hasil
pemeliharaan yang didapatkan, dibuat koleksi kering menggunakan kertas segitiga
sama kaki dengan ukuran alas dan tingginya adalah 0.3 mm dan 1 mm. Karakterkarakter
tertentu seperti antena, kepala, sayap, genitalia, dan tungkai serangga
dibuat dalam bentuk preparat mikroskop untuk memudahkan identifikasi.
Karakter morfologi Famili Cecidomyiidae, digambar di bawah mikroskop yang
terhubung dengan kamera lucida. Karakter ini digambar garis (line drawing)
karena memiliki ukuran yang sangat kecil dan bertumpuk antara bagian satu
dengan yang lainnya sehingga gambar hasil foto tidak jelas. Identifikasi serangga
dilakukan dengan menggunakan kunci identifikasi dikotomi and multi akses.
Voucher spesimen disimpan di Laboratorium Biosistematika Serangga
Departemen Proteksi Tumbuhan, Institut Pertanian Bogor.
Hasil penelitian didapatkan terdapat 64 bentuk puru yang berasal 47 spesies
dari 25 famili tumbuhan. Selain 25 famili tumbuhan yang dapat teridentifikasi,
terdapat tiga spesies tumbuhan berpuru yang tidak dapat teridentifikasi. Terdapat
tiga jenis puru yang didapatkan yaitu puru tertutup sebanyak 45 puru, puru
terbuka sebanyak 4 puru, dan puru yang menggulung atau melipat sebanyak 15
puru, dengan berbagai karakteristik yang khas pada setiap purunya. Bentukbentuk
puru yang ditemukan adalah bulat, lonjong, tabung, kerucut, dan
membentuk kantong yang tidak beraturan. Puru pada tumbuhan yang ditemukan
terdiri atas 78% puru daun, 6% puru tangkai, 5% puru batang, dan 6% puru tunas.
Puru daun lebih dominan dibandingan dengan puru lainnya, dan dan paling
banyak ditemukandi permukaan atas daun. Berbagai puru yang telah didapatkan,
25 bentuk puru sudah pernah dilaporkan di Indonesia, sedangkan 39 bentuk puru
merupakan laporan baru di Indonesia.
Hasil pemeliharaan puru, didapatkan lima ordo serangga yaitu Ordo
Hemiptera, Thysanoptera, Coleoptera, Diptera dan Hymenoptera. Serangga yang
muncul dari puru dapat digolongkan menjadi 3, yaitu serangga penyebab puru,
serangga parasitoid, dan inquilines. Inquilines merupakan serangga bukan
pembuat puru utama, akan tetapi menempati puru yang telah terbentuk pada
jaringan tumbuhan, beberapa memakan jaringan tersebut. Serangga penyebab
puru paling banyak berasal dari Famili Cecidomyiidae (Diptera), Triozidae
(Hemiptera), dan Phlaeothripidae (Thysanoptera). Sedangkan Famili Eulophidae
(Hymenoptera) merupakan serangga yang paling banyak ditemukan menjadi
parasitoid. Serangga Famili Sciaridae (Diptera) kemungkinan berperan sebagai
inquilines. Hasil identifikasi didapatkan 10 spesies serangga Ordo Hemiptera dan
10 spesies Diptera, kemungkinan besar merupakan serangga penyebab puru yang
baru dilaporkan di Indonesia. Selain itu terdapat 34 spesies Ordo Hymenoptera
yang ditemukan berasosiasi pada puru tumbuhan yang didapatkan. Sebagian besar
identifikasi serangga yang berasosiasi dengan puru hanya bisa dilakukan sampai
pada tingkat genus, oleh karena itu perlu dilakukan konfirmasi identifikasi oleh
ahli taksonomi, terutama Ordo Hymenoptera. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa keanekaragaman puru tumbuhan dan serangga yang berasosiasi dengan
puru tumbuhan di Bogor dan sekitarnya cukup tinggi. Berbagai informasi tentang
puru tumbuhan dan serangga yang berasosiasi dengan puru tumbuhan dapat
dimanfaatkan dalam program manajemen hama tanaman